Title: AS I TOLD YOU
Cast: Jungkook, Jimin, Taehyung, Jin, Hoseok #KookMin #VMin
Lenght: Three Shoot (4 Chapter Include Teaser)
Rating: 15+
Author: Tae-V [Line KTH_V95, Twitter KTH_V95]
Senin pagi..
Hari yang paling dibenci Jungkook karena harus kembali belajar setelah libur selama dua hari di hari Sabtu dan Minggu.
Jungkook berlari dengan cepat, karena ia bangun kesiangan padahal jam sembilan pagi itu ia harus mengikuti quiz di mata kuliah sang dosen killer.
"Aigoo! Alarm bodoh! Mengapa bunyimu terlalu kecil hingga aku tak mendengar suaramu?" gerutu Jungkook sambil berlari, mencoba mencari sesuatu untuk disalahkannya atas keterlambatannya bangun pagi itu.
Jungkook terus berlari. Keringat sudah bercucuran membasahi wajah dan punggungnya, namun wajah sang dosen killer lebih mengerikan baginya ketimbang harus memperdulikan penampilannya pagi itu.
Dan tepat di depan gedung kampusnya..
BRUK!
"Ouch..." gerutu sebuah suara.
"Arghhh..." gerutu Jungkook.
Jungkook tidak sengaja menabrak seseorang sehingga keduanya jatuh terduduk di jalanan.
"Yaishhhh.. Mengapa ada saja kejadian menyebalkan setiap aku buru-buru?" gerutu Jungkook sambil memegang kepalanya yang sakit karena terbentur tiang listrik di belakangnya.
Jungkook menatap ke depan, menatap orang yang ditabraknya secara tidak sengaja itu.
Dan detik itu juga, wajah sang dosen killer seolah menghilang dari ingatannya...
Detik itu juga... Jungkook lupa akan rasa sakit di bagian belakang kepalanya yang terantuk tiang listrik...
Detik itu juga.. Jungkook lupa bahwa sebentar lagi kelasnya akan dimulai...
Sesosok pria yang sangat manis, dengan bibir tebal kemerahan, tengah meringis kesakitan karena telapak tangan kanannya berdarah, terluka ketika ia menahan tubuhnya waktu terjatuh barusan.
"Neo... Gwenchana?" tanya Jungkook sambil membelalakan kedua bola matanya, terpesona melihat betapa manis pria yang tengah terduduk dihadapannya itu.
Pria itu menatap Jungkook sambil menganggukan kepalanya, namun wajahnya tetap meringis kesakitan.
"Gwenchana... Bagaimana denganmu? Suara benturan kepalamu cukup keras... Pasti sakit..." tanya pria itu.
"Aniya.. Aku.. Aku... Uh... Aku.. Baik-baik saja... Hehehe.." sahut Jungkook sambil tersenyum kaku dan terbata-bata.
Jungkook segera bangun dan membantu pria manis itu berdiri, lalu Jungkook berjongkok dan merapikan buku-buku miliknya dan buku-buku milik pria itu yang terjatuh berserakan di jalanan.
"Ini buku-bukumu... Mian... Karena aku terburu-bur.. Dan.. Uh... Aku... Tidak melihatmu.. Uhm... Ada disana,,,," sahut Jungkook dengan wajah penuh rasa bersalah.
Pria manis itu menganggukan kepalanya. "Aku juga tidak terlalu memperhatikan jalan.. Mianhae..."
"Tanganmu..." sahut Jungkook sambil menatap telapak tangan pria manis itu.
"Ah, igo? Gwenchana~ Hanya akan perih sejenak..." sahut pria manis itu.
"Jinjja gwenchana?" tanya Jungkook dengan wajah penuh rasa khawatir.
Pria manis itu menganggukan kepalanya. "Aku masuk duluan, ya... Kelasku akan segera dimulai.."
Dan tiba-tiba saja wajah sang dosen killer kembali melintas di benak Jungkook.
"Ah, majjayo! Kelas! Aku duluan ya, sebentar lagi quiz di kelasku akan dimulai!" sahut Jungkook sambil membungkukkan badannya, lalu segera berlari menuju kelasnya.
Pria manis itu memiringkan kepalanya melihat seberapa cepat Jungkook berlari. "Apa ia seorang sprinter? Larinya cepat sekali..."
.
.
.
Untunglah keberuntungan masih berpihak pada Jungkook.
Ketika Jungkook masuk, sang dosen belum ada di dalam kelas.
Dan tepat ketika Jungkook duduk di mejanya, sang dosen masuk ke dalam kelas, dan quiz segera dimulai.
Setelah quiz berakhir, Jungkook segera berjalan menuju UKM. Unit Kesehatan Mahasiswa.
"Jin hyeong, kau ada di dalam?" tanya Jungkook ketika membuka pintu UKM.
"Ne... Masuk saja..." sahut Jin, sang dokter yang bekerja sebagai dokter yang bertugas di UKM kampus itu.
"Hyeoooooong... Apa kau punya obat sakit kepala?" tanya Jungkook sambil mengusap kepala belakangnya.
"Uh? Kau kenapa? Apa kau merasa pusing? Kurang tidur? Kehujanan? Kebanyakan tidur?" tanya Jin, seperti biasa dengan cerewetnya, sambil bersiap memasukkan sesendok makan siangnya ke mulutnya.
"Tadi aku bertabrakan dengan seseorang dan kepalaku terbentur tiang listrik.." sahut Jungkook sambil duduk di kursi yang ada di depan kursi Jin.
"Jinjja? Kau pasti bangun kesiangan lagi.. Ckckckck..." sahut Jin sambil berdiri dan menuju kotak peralatannya untuk mengambil senter.
Jungkook mengambil sepotong sosis yang ada di kotak makan siang Jin, lalu memasukkan sosis itu ke mulutnya.
"Kau memang pintar masak, hyeong... Kau seharusnya menjadi chef, bukan dokter.." sahut Jungkook setelah sosis itu ditelannya.
"Siapa yang mengijinkanmu memakan makan siangku? Ckckckck..." sahut Jin sambil mengarahkan senter kecil ke kepala belakang Jungkook yang terbentur tiang listrik itu.
"Ouch.. Pelan-pelan, hyeong... Rasanya sakit..." sahut Jungkook.
Jin menggelengkan kepalanya sambil berdecak. "Ckckck~"
"Kenapa, hyeong?" tanya Jungkook.
"Kepala belakangmu memar... Pasti cukup keras benturannya..." sahut Jin.
"Lumayan..." sahut Jungkook.
Jin membuka kotak obat dan memberikan obat itu kepada Jungkook. "Ini akan membantumu mengurangi rasa nyeri dan pusing... Minumlah tiga kali sehari sampai rasa pusingnya hilang..."
"Ne.. Gumawo, hyeong.." sahut Jungkook.
Dan tia-tiba wajah pria manis itu kembali melintas di benak Jungkook.
Jin tengah melanjutkan makan siangnya ketika Jungkook tiba-tiba tersenyum sendiri.
"Kau kenapa? Tiba-tiba tersenyum seperti itu..." tanya Jin.
"Hyeong... Apa kau pernah... Jatuh cinta pada seseorang.. Padahal kau baru saja bertemu dengannya?" tanya Jungkook.
"Ne?" Jin terbelalak, tak menyangka mendengar kata cinta dari sahabat kecilnya itu.
"Hyeong... Aku rasa... Aku mulai beranjak dewasa..." sahut Jungkook.
"Maksudnya?" tanya Jin.
"Aku rasa... Aku menemukan cinta pertamaku..." sahut Jungkook sambil menatap Jungkook.
"Ah, jinjja?" Jin membelalakan kedua bola mata indahnya itu. "Kau serius?"
Jungkook memiringkan kepalanya. "Aku rasa iya..."
.
.
.
"Aigoo... Dasar pabo ya~ Mengapa kau bisa melukai tanganmu begini..." gerutu Taehyung ketika menyadari bahwa telapak tangan kanan sahabatnya terluka.
"Aku bertabrakan dengan mahasiswa lain ketika berjalan tadi..." sahut Jimin sambil memajukan bibirnya, kesal karena harus mendengarkan ceramah Taehyung lagi.
"Ckckckck~ Aku yakin kau juga tidak hati-hati..." sahut Taehyung sambil meneteskan obat merah ke telapak tangan Jimin yang terluka itu.
"Ouchhh! Perih, Kim Taehyung!" gerutu Jimin, kesakitan.
"Siapa suruh kau ceroboh lagi, Park Jimin?" sahut Taehyung sambil menatap Jimin seperti seorang kakak yang tengah memperingatkan adik kecilnya yang ceroboh.
"Araseo... Aigoo, mengapa aku harus berkuliah denganmu lagi? Belum cukupkah aku mendengarkan semua celotehan dan nasehatmu sejak kita SMP?" gerutu Jimin sambil memajukan bibirnya.
Taehyung mengacak pelan rambut Jimin. "Kau seharusnya bersyukur memiliki sahabat setia sepertiku yang tahan menghadapi sahabat seceroboh dirimu, imma.."
Jimin tersenyum. "Majjayo... Hanya kau yang tahan bersahabat dengan pria ceroboh sepertiku, hehehe..."
"Aigoo~" sahut Taehyung sambil menyentil pelan kening Jimin.
"Geumanhae, Kim Taehyung... Aku bukan anak kecil... Cih.." gerutu Jimin lagi.
Taehyung tertawa. "Entah mengapa, menggodamu begini selalu menjadi kebahagiaan tersendiri untukku... Hahaha..."
"Yaishhh..." sahut Jimin sambil memukuli bahu Taehyung.
.
.
.
Sudah empat hari berlalu, namun Jungkook belum juga berhasil menemukan sang pria manis yang ditabraknya pada Senin pagi itu.
"Aku yakin betul ia berkuliah disini! Ia waktu itu bilang kelasnya akan segera dimulai..." sahut Jungkook.
"Tapi, aku tidak pernah melihat ada mahasiswa dengan ciri-ciri yang kau ceritakan itu selama aku setahun bekerja menjadi dokter disini, Jungkook ah.." sahut Jin.
"Aku juga tidak pernah melihat hoobae seperti ciri-ciri yang kau ceritakan..." sahut Hoseok.
Siang itu Jungkook, Hoseok, dan Jin tengah berkumpul bertiga di taman belakang kampus.
Taman belakang kampus yang memiliki air mancur dan sebuah kolam ikan itu menjadi tempat favorit bagi mereka bertiga karena mereka bertiga sama-sama suka mendengarkan suara percikan air.
"Ngomong-ngomong, satu semester lagi kau akan lulus, hyeong.. Apa kau sudah tahu akan mulai mencari pekerjaan dimana?" tanya Jungkook.
"Aku rasa aku akan melanjutkan perusahaan milik ayahku.. Aku sama sekali tidak terpikirkan untuk mengerjakan hal lain..." sahut Hoseok.
"Kalau begitu kita tetap bisa sering bertemu... Perusahaan buku milik ayahmu bekerja sama dengan kampus kita kan?" sahut Jungkook.
Hoseok menganggukan kepalanya. "Kurasa kita memang masih akan sering bertemu... Toh tempat tinggal kita masih bersebelahan, imma..."
"Ah... Majjayo... Aku nyaris lupa kalau kamar kita bersebelahan saking jarangnya aku bertemu dengan kalian di tempat kos..." sahut Jungkook.
Ya, itulah awal kedekatan ketiga pria dengan jarak usia yang cukup berjauhan itu.
Kim Seokjin, berusia dua tahun di atas Hoseok, setelah lulus kuliah tahun lalu, ia langsung diterima bekerja di kampus it sebagai dokter jaga UKM.
Jung Hoseok, mahasiswa jurusan komunikasi semester akhir, berusia tiga tahun diatas Jungkook.
Jeon Jungkook, mahasiswa jurusan komunikasi tahun kedua.
Mereka bertiga bertempat tinggal di sebuah kos-kosan yang sama yang terletak tidak jauh dari kampus, dan pertama kali mereka saling mengenal adalah tahun lalu, ketika mereka bertiga bersamaan keluar dari kamar kosan mereka dan berjalan menuju ke arah yang sama.
Waktu itu Jin dan Jungkook baru pindah ke kosan itu karena memang waktu itu adalah hari pertama Jin bekerja dan hari pertama Jungkook berkuliah.
Ketika mengetahui bahwa mereka berada di kampus dan temapt kos yang sama, mereka jadi sering mengobrol bertiga setiap hari Sabtu dan Minggu jika mereka tidak ada urusan, dan akhirnya mereka bertiga menjadi sangat dekat.
.
.
.
"Taehyung ah... Aku pulang duluan ya! Aku malas menunggumu.." sahut Jimin Jumat sore itu.
Setiap Jumat sore setelah kelas berakhir, Taehyung harus menghadiri kelas klub seni peran, sementara Jimin selalu bosan setiap disuruh menunggu Taehyung menghadiri kelas klub seni peran itu.
"Araseo... Hati-hati di jalan, imma... Kalau ada apa-apa hubungi aku, oke?" sahut Taehyung.
"Ne~ Ne~ Ne~ Ne~" sahut Jimin sambil menganggukan kepalanya. Ia sudah sangat bosan mendengarkan semua nasehat Taehyung setiap ia harus pulang duluan.
Taehyung dan Jimin sudah bersahabat sejak SMP karena mereka seumuran, dan Taehyung tahu betul betapa ceroboh dan lemahnya seorang Park Jimin, makanya Taehyung selalu berusaha menjaga Jimin dengan baik.
Namun, Jimin sering kali terlihat kesal setiap Taehyung berusaha menasehatinya.
"Annyeong, Kim Taehyung!" sahut Jimin sambil melambaikan tangannya, lalu berjalan menjauh dari Taehyung menuju pintu gerbang kampus.
Taehyung menatap punggung Jimin yang berjalan mejauh darinya. "Dasar kau, Park Jimin... Ckckck.."
Sebuah senyuman terbentuk di wajah Taehyung.
.
.
.
Jungkook berjalan bersama kedua sahabatnya itu, berencana untuk mampir ke toko buku terdekat sebelum mereka kembali ke kosan mereka.
Dan tiba-tiba saja, sosok itu terlihat tak jauh di hadapan Jungkook.
"Uh? Pria itu!" sahut Jungkook dengan wajah terkejut.
"Ne?" Jin dan Hoseok menatap Jungkook.
Jungkook segera berjalan cepat, meninggalkan kedua sahabatnya, lalu menghampiri pria manis yang sudah dicarinya dengan susah payah selama empat hari itu.
"Ehem... Selamat sore... Kita... Bertemu lagi..." sahut Jungkook, berusaha menyapa pria manis itu.
Pria manis yang tengah memainkan handphonenya itu segera mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya dan menatap ke arah Jungkook.
"Uh? Kau... Yang waktu itu kan?" sahut pria manis itu.
Jungkook menganggukan kepalanya. "Majjayo.. Aku yang kemarinan itu menabrakmu..."
"Ah... Kita bertemu lagi... Hehehe..." sahut pria manis itu sambil tersenyum.
DEG!
Detak jantung Jungkook seketika itu juga berdetak sangat sangat cepat.
"Uhm... Tanganmu... Sudah tidak apa-apa?" tanya Jungkook.
Pria manis itu menatap telapak tangan kanannya. Lukanya sudah mengering.
"Sudah tidak apa-apa... Bagaimana dengan kepalamu?" tanya pria manis itu.
Jungkook memegang kepala belakangnya. Sebenarnya masih agak nyeri, namun ia berbohong. "Gwenchana.. Aku pria yang kuat, jadi tiang listrik itu tidak bisa melukaiku, hehehe..."
"Aaaah..." sahut pria manis itu sambil tersenyum.
"Uhm... Ngomong-ngomong kau juga mahasiswa disini? Kenalkan, namaku Jeon Jungkook, mahasiswa semester tiga jurusan komunikasi..." sahut Jungkook sambil mengajak pria manis itu berjabat tangan.
"Iya, aku juga berkuliah disini.. Park Jimin imnida, semester tujuh jurusan sastra..." sahut pria manis bernama Jimin itu sambil tersenyum.
"Ah... Kau... Dua tahun diatasku?" Jungkook membelalakan kedua bola matanya.
"Sepertinya iya... Waeyo?" tanya Jimin sambil menatap Jungkook dengan eskpresi polosnya.
"Kukira... Kita seangkatan... Sunbae..." sahut Jungkook. "Kau terlihat... Jauh lebih muda dari usiamu..."
"Jinjja? Ahahahaha~ Kau bisa saja..." sahut Jimin sambil tertawa mendengar ucapan Jungkook.
Jungkook tersenyum sambil menggaruk kepalanya, masih tidak menyangka pria manis itu dua tahun lebih tua darinya.
"Uhm... Aku duluan ya, Jungkook-sshi... Ada yang harus kulakukan sore ini..." sahut Jimin, berpamitan.
"Ah.. Ne... Hati-hati ya, sunbae..." sahut Jungkook sambil membungkukkan badannya.
Jimin melambaikan tangannya, lalu berjalan menjauh dari Jungkook.
Jin dan Hoseok segera menghampiri Jungkook setelah Jimin berjalan menjauh.
"Dia itu? Pria yang kau ceritakan?" tanya Jin.
Jungkook menganggukan kepalanya. "Majjayo.. Ia... Sangat manis kan, hyeong?"
"Manis... Seleramu boleh juga, Jungkook ah..." sahut Hoseok. "Tapi, sepertinya aku belum pernah melihatnya..."
"Ia mahasiswa jurusan sastra.. Pantas saja kita tidak berhasil menemukannya selama empat hari ini.. Gedung fakultas sastra kan adanya di paling ujung kanan sana sedangkan gedung fakultas komunikasi di paling ujung kiri..." sahut Jungkook.
"Anak sastra? Rasanya ada beberapa anak sastra yang sering berobat ke UKM, tapi aku baru kali ini melihatnya..." sahut Jin.
"Dan ternyata... Usianya dua tahun diatasku..." sahut Jungkook.
"Jinjja? Tubuhnya kecil begitu tapi usianya dua tahun diatasmu?" tanya Jin.
"Majjayo.. Aku saja kaget waktu ia bilang ia semester tujuh!" sahut Jungkook.
"Berarti usianya setahun dibawahku? Mengapa tubuhnya sangat kecil?" sahut Hoseok.
"Mungil, bukan kecil..." sahut Jungkook, membela sang cinta pertamanya itu.
Jin dan Hoseok tertawa melihat sahabat mereka yang paling muda itu sudah bisa jatuh cinta.
.
.
.
"Park Jimin... Nama yang indah..." gumam Jungkook sambil memeluk gulingnya dengan erat malam itu.
Jungkook memejamkan matanya, dan semua adegan ketika ia berkenalan dengan Jimin sore tadi kembali terlintas di benaknya.
"Aigoo~ Ia benar-benar manis.. Dan senyumnya... Benar-benar membuat jantungku berdetak tidak karuan..." gumam Jungkook lagi sambil tersenyum dan terus memeluk erat gulingnya.
Suara Jimin.
Tawa dan senyuman Jimin.
Tubuh mungil Jimin.
Keramahan Jimin.
Semua itu membuat Jungkook tidak bisa berhenti tersenyum setiap Jungkook mengingat Jimin.
"Inikah yang namanya jatuh cinta?" gumam Jungkook sambil terus tersenyum.
"Benar yang dikatakan orang-orang.. Bahwa ketika kau jatuh cinta, kau akan seperti orang bodoh yang tersenyum sendirian... Hehehe..." sahut Jungkook pada dirinya sendiri.
Jungkook nyaris tidak bisa tidur malam itu karena wajah Jimin dan suara Jimin terus melintas di pikirannya.
Untung saja keesokan harinya adalah hari Sabtu, jadi Jungkook bisa bangun siang.
.
.
.
"Kau baru bangun? Ckckckck~" sahut Jin ketika jam sebelas siang Jungkook baru keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Jin yang berada di sebelah kanan kamar Jungkook.
Wajah Jungkook dan rambut Jungkook yang berantakan itu sangat menunjukkan bahwa Jungkook memang baru saja bangun tidur.
"Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan Jimin sunbae..." sahut Jungkook sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur Jin.
"Yaishhh, kau kesini hanya untuk tidur lagi?" sahut Hoseok.
"Aniya~ Aku kesini untuk mencari makanan.. Hanya kulkas milik Jin hyeong yang penuh dengan makanan di kosan kita..." sahut Jungkook.
"Karena Jin hyeong paling hobi makan diantara kita, hehehe.." sahut Hoseok.
"Lalu, mengapa kau berbaring di kasurku, imma?" tanya Jin.
"Ah.. Majjayo.." Jungkook segera bangun dari kasur Jin dan berjalan menuju kulkas kecil milik Jin.
"Ckckckck... Kau benar-benar sedang jatuh cinta rupanya?" tanya Hoseok.
.
.
.
Senin itu, tidak seperti biasanya, Jungkook sangat bersemangat menuju kampus.
"Aku harus mencari alasan untuk berkunjung ke gedung sastra agar bisa bertemu dengan Jimin sunbae..." gumam Jungkook sambil berjalan menuju gedung kampus.
Jungkook mengenakan kaos ungu polos, jaket jeans biru muda, celana panjang jeans biru gelap, beanie hat berwarna ungu, dan sepatu timberland coklat muda. Dengan ransel hitam putih di punggungnya.
Membuat sosok Jungkook terlihat begitu tampan dan keren ketika tengah berjalan menuju kampusnya itu.
Sebenarnya, Jungkook cukup populer di fakultas komunikasi. Banyak sunbae, hoobae, dan teman seangkatannya yang menyukai Jungkook, tapi Jungkook menanggapi mereka dengan biasa-biasa saja karena Jungkook memang tidak ada perasaan lebih pada mereka semua.
Membuat Jungkook dikenal dengan julukan "The Coolest Boy in Communication Faculty".
Jungkook berjalan sambil bersenandung pagi itu. Tiba-tiba saja berangkat ke kampus menjadi hal yang sangat dinanti-nantinya agar bisa bertemu dengan cinta pertamanya.
Namun, semua semangatnya runtuh seketika... Ketika Jungkook melihat dua sosok itu dari kejauhan.
Jimin dan Taehyung berjalan tak jauh di hadapan Jungkook.
Tangan Taehyung terus mengusap pelan kepala Jimin dengan lembutnya.
Jimin terus tertawa kecil dengan semua perlakuan Taehyung atasnya itu.
Sesekali Jimin menyentil kening Taehyung sambil tertawa, sesekali tangan Taehyung mengusap pelan rambut Jimin.
Kedua pria itu terlihat sangat sangat dekat... Dan sangat bahagia...
Membuat kepercayaan diri Jungkook runtuh seketika.
"Apa ia... Sudah memiliki kekasih?" gumam Jungkook sambil menatap dengan terkejut ke arah Jimin dan Taehyung. "Siapa... Pria tampan itu?"
.
-TBC-
reply for review:
yongchan : salam kenal youngchan :) kayaknya baru liat namamu review ff saya :) thx for reading my ff :) iya emang bikin baper vmin mah waks
vhope shipper : JinHope? iya ya langka ya? kpn2 saya bikinin deh :)
mphiihopeworld : iya taetae tmnnya chimchim :) wah km gentle? halo gentle, saya tae-v :) iya ff baru, yg bloody nunggu fear street tamat ya :)
Vi Jiminie : here lanjutannya vi :) salam kenal btw, thx ya udah nyempetin baca ff saya :) semoga suka :)
ming: friendzone XD
jungie nuna : nunaaaaaaaaaaaaaa kemana aja! tae-v kangen :( wkwkw friendzone kok ngakak ya saya bacanya XD
Hwangnim27 : salam kenal hwang :) baru pertama kali liat idmu review ff saya kayaknya :) thx ya udah nyempetin baca :) here lanjutannya ya semoga suka :)
Arvhy : here lanjutnnya arvhy :)
taniaarmy19 : thx to mampir kesini tan! :) wkwkw abis baca reply for review saya di Our Youth itu ya? XD whoaaaa thx a lot buat pujiannya tan! saranghae :*
kumiko Ve : here lanjutannya ve :) we meet again btw :)
