UNCONDITIONALLY

By Kikomori Uzuka

Disclaimer : Naruto milik om Kishi

Umur Naruto-Hinata dkk disini 25 tahun yaa ^^

Warning! OOC, Typos, Wacky detected!


Previous

"H.. hinata?"

"Hai brengsek, lama juga tidak melihatmu.."

Sinar yang menandakan hari baru telah tiba itu berhasil membuat Hinata terbangun dari mimpi buruknya yang tak berujung. Amethyst yang tampak sayu itu mengejapkan matanya berkali-kali saat mendapati dirinya tak berbaring di futon tapi di ranjang. Itu berarti sang Hyuuga tidak kembali ke kamarnya.

'Kami-sama, jangan lagi!' batin Hinata berteriak histeris, namun bibir kunoichi muda itu masih tertutup rapat. Hanya raut wajahnya yang tampak sedikit gusar.

"Hinata-chan? Sudah bangun?" sahut sebuah suara lembut dari luar kamar.

"H..hai'," sahut Hinata ragu.

Perasaan lega meresap begitu saja dalam hatinya, 'untunglah bukan laki-laki'. Pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita cantik berambut merah, Namikaze Kushina. 'Sempurna' batin Hinata kesal, ternyata bukan sekedar mimpi buruk. Pria brengsek itu memang sudah benar-benar pulang.

"Ohayou, kelihatannya tidurmu nyenyak," ucap Kushina ramah. Hinata tersenyum kecut membalasnya.

"Aku hanya mencoba terbiasa Nyonya," balas Hinata asal.

Tangan mungil Hinata mulai menyendok bubur yang di sediakan untuknya. Wajah Hinata begitu tenang dan anggun, sekilas tak ada yang berbeda dengan Hinata saat ini. Namun Kushina bisa merasakan ketakutan kuoichi muda ini, sejak bangun tidur tadi ia bisa melihat tubuh Hinata yang bergetar takut.

"Maafkan aku, Hinata-chan.." ucap Kushina lirih dan mulai terisak.

Hinata memutar mata lavendernya dengan bosan. Jika kau melihat lebih dekat, kau bisa menangkap basah seorang Hinata menahan air matanya.

"Sudahlah nyonya Namikaze, jika anda menangis apa yang harus kulakukan."

Hinata mengulurkan tisu kepada Kushina, dengan segera Kushina menghapus air matanya. Ibunda Naruto itu menggantinya dengan seulas senyum. Hinata bernafas lega melihatnya.

Begini lebih baik, tidak boleh ada orang lain yang menangisinya lagi.

Hinata sama sekali tidak menginginkan kejadian sialan itu terjadi, tapi Kushina juga tidak menginginkannya bukan? Maka tidak ada yang salah disini. Namun Hinata butuh orang untuk meluapkan dendamnya dan Naruto adalah wadah yang sangat tepat untuk dendam itu.

Siang yang terik menyapa tiap sudut desa Konoha, tak luput jua tempat pemakaman shinobi di pinggiran desa. Dihadapan batu nisan bertuliskan 'Hyuuga Neji' terlihat dua pria sedang berdoa dalam khidmat. Si pria pirang yang bernama Naruto terlebih dulu memecah konsentrasi akibat saphire birunya menangkap hal yang baru. Sebuah nama yang asing, 'Namikaze You'.

"Teme, kau tahu siapa yang di kubur disini?" tanya Naruto memecah hening. Sasuke mengikuti arah telunjuk Naruto, lalu tersenyum miris.

"Namikaze You, anak Hinata.." jawab Sasuke lirih.

"E-eh! Kau bilang apa barusan teme? Siapa yang dikubur disini?" tanya Naruto memastikan sekali lagi apa yang baru saja ia dengar dari mulut Sasuke.

"Kubilang Na-mi-ka-ze Yo-u. Anak Hinata," balas Sasuke penuh penekanan saat mengatakan 'anak Hinata'

"Jadi maksudmu, Hinata sudah menikah dengan anggota klan Namikaze?" tanya Naruto memastikan, Sasuke mengangkat bahunya dengan asal.

"Tidak juga,"

"Lalu? Ouh! Ceritakan semua padaku teme!" tuntut Naruto, Sasuke yang mulai jengah dengan tingkah bodoh sahabat kuningnya memilih untuk segera pergi dari tempat itu.

"Kenapa kau tiba-tiba jadi tertarik dengan Hinata?" tanya Sasuke tajam.

Naruto terdiam. Benar juga kata Sasuke, kenapa dia jadi tertarik dengan Hinata? Mungkin karna gadis itu banyak berubah, ah, Hinata bukan lagi seorang gadis. Mengingat kuburan di hadapan Naruto ini adalah anak Hinata.

"Hn, aku duluan. Ada misi," Sasuke terus menjauh tak menghiraukan sahabat dobenya yang masih termangu.

Naruto mengalihkan pandangannya dari Sasuke yang sudah menghilang. Matanya memandang nisan mungil bertuliskan Namikaze You ini. Anak Hinata dengan seorang Namikaze, tapi siapa?

"Hei! Apa kau tahu semalam si Hyuuga itu mengacaukan pesta penyambutan Naruto-sama?"

Bisikan pertama.

"Kudengar dia juga menggoda Naruto-sama semalam,"

Bisikan kedua.

"Hei, mungkin dia mencoba mendapatkan anak dari Naruto-sama lagi,"

Bisikan ketiga.

BRAKK

Semua orang memfokuskan pandangan ke arah keributan itu terjadi. Ternyata keributan itu berasal dari dua orang kunoichi yang menikmati makan siangnya.

"Oi, Bibi! Kenapa dango di tempat ini rasanya jadi sangat asam ya?!"

Teriak kunoichi berambut pirang dengan geram. Dihadapannya seorang kunoichi berambut indigo hanya bisa menggeleng pelan sambil melanjutkan mengunyah dangonya yang masih tersisa setengah.

Amethyst sayu itu bisa melihat tiga gadis yang menggosipkan dirinya sudah lari terbirit-birit meninggalkan toko. Yah, mana mungkin mereka tidak takut dengan teriakan seorang Yamanaka Ino. Kunoichi yang terkenal paling loyal jika menyangkut masalah teman-temannya.

"Hinata, kenapa kau tenang sekali sih disaat mereka menjelekkanmu!" geram Ino pada sahabat kunoichinya itu.

"Tidak apa, kan ada kau Ino.." sahut Hinata dengan santai.

Sudut bibirnya tertarik ke atas, menampilkan senyuman manis yang amat jarang terlihat kini. Ino menghembuskan nafas pelan, ia tak bisa berkata apa-apa lagi saat Hinata tersenyum seperti ini.

"Aku pergi dulu ya, murid-muridku mungkin sedang menunggu sekarang," Ino menatap Hinata yang sudah menghilang dengan shunshin-nya. Bisa Ino ketahui bukan itu alasan sahabat indigonya buru-buru pergi.

"Ino!"

Ino menghembuskan nafas kesal, inilah alasannya. Ino berusaha tersenyum seperti biasa saat melihat sahabatnya, Sakura berjalan dengan riang memasuki toko.

Senja mulai menyapa desa Konoha, di salah satu cabang pohon sang Namikaze muda tengah sibuk mengamati hiruk pikuk warga desa yang belum terhenti sedikitpun. Matanya bersinar cerah saat mendapati obyek yang dia cari sejak tadi pagi.

Seorang Hyuuga berambut indigo yang baru saja keluar dari onsen. Di belakang wanita itu sudah berbaris tiga orang remaja wanita yang merupakan murid asuhan Hinata. Naruto masih sibuk memperhatikan wanita yang banyak berubah itu.

Di ingatan Naruto, Hinata adalah gadis pemalu yang sangat sopan dalam bertingkah laku dan berdandan. Kini Hinata berubah 180 derajat, kunoichi muda itu seperti Anko kedua yang hanya menggunakan fishnet tipis dengan jaket tebal warna lavendernya.

Perubahan yang paling membekas dalam ingatan Naruto adalah tatapan dari amethyst itu pada malam penyambutan Naruto. Tatapan yang menunjukkan seorang Hinata sangat ingin membunuhnya.

"Sibuk mengintaiku, Namikaze-san?"

Sial! Sejak kapan Hinata ada di belakangnya? Naruto hanya bisa mengelus tengkuknya yang terasa dingin untuk sesaat. Sedangkan Hinata masih setia memberikan tatapan tajam terbaiknya untuk si Namikaze.

"K-konbanwa, Hinata-chan?" sapa Naruto kikuk. Yah, bayangkan saja jika kau tertangkap basah tengah mengintai seseorang.

"Tjh, sok kenal,"

Hinata bergumam lirih namun masih bisa di dengar dengan sangat baik oleh Naruto. Tawa garing yang keluar dari bibir Naruto membalas ucapan kasar Hinata barusan. Bertambah satu hal lagi yang berubah dari gadis bermata bulan itu, mulutnya sedikit pedas daripada tujuh tahun yang lalu.

"Hehe kau banyak berubah ya, Hyuuga-san?" balas Naruto dengan gigi yang bergeretak menahan amarah.

"Apa yang kau harapkan Namikaze-san? Aku sudah 25 tahun," sahut Hinata sengit. Naruto tersenyum meremehkan.

"Ya, tentu saja. Kau juga sudah menjadi seorang ibu bukan? Oh, aku turut berduka soal putramu Namikaze You," balas Naruto asal.

BUGH

Naruto meringis kesakitan saat merasakan aliran cakra di seluruh tubuhnya terasa meledak. Hinata masih berdiri di hadapannya dengan posisi siaga. 'Sialan, apa yang wanita itu lakukan hah? Naruto!' Naruto pun ingin menanyakan hal yang sama pada Kurama.

"Dengar ya brengsek! Jangan pernah menyebut nama You dengan mulut kotormu itu, kau sama sekali tidak berhak!" jerit Hinata histeris lalu berbalik menjauh.

Lalu sesaat setelahnya Hinata terjatuh dari salah satu dahan pohon. Mungkin kelelahan sekaligus kehabisan cakra, tentunya setelah menghantam dinding cakra bijuu yang melindungi tubuh Naruto hanya dengan juuken-nya.

"Hinata!"

Naruto menahan tubuh ramping Hinata yang hampir bertemu dengan tanah. Meski aliran cakra dalam tubuhnya belum stabil, paling tidak ia masih bisa menggunakan hiraishin untuk sampai di kediaman Hyuuga. Daripada dia meninggalkan seorang kunoichi yang tak sadarkan diri sendirian disini, amat tak etis untuk seorang pahlawan perang seperti Naruto.

tbc.


Ohayou minna! Chapter 1 sudah update, maaf banget kalo ngaret soalnya aselinya saya bukan hanya author di ffn tapi juga di wordpress k-pop *duhabaikancurhatanabal

terimakasih banyak buat yang sudah meninggalkan jejak berubah fav atau follow, terutama buat reviewnya saya mengucapkan *eh? hontoni arigatou ne~ ^^

buat:

Byakugan no Hime : Ohayou, ini udah di lanjut maaf ngaret ya ^^

Guest1 : terimakasih sudah meninggalkan jejak ^^

LeeJi : Sangkyuu, eumm sakura-sasuke lihat nanti ya, ^^

Guest2 : haii, sudah di update maaf ngaret ya ^^

KHC : Hemm, iya Hinata ada masalah sama Naruto meski bukan dengan Naruto secara langsung '?' Disini aku buat semi OOC, di manga pun Naruto agak tenang kan waktu udah dewasa atau itu cuman menurutku aja hihihi ^^

Chrizzle : Terupdate maaf ngaret silahkan dinikmati /? ^^

Koneko : Udah dilanjutin nih, ^^

Guest3 : Iya, disini Hinata mirip yang di RTN untunglah kalo kamu suka. terimakasih untuk semangatnya dan ini update-annya ^^

Minna, once again mind to review?

Regard,

Kiko