Wokeh... bagi yang merasa mereview chapter satu, silahkan baca balasannya di bawah ini :
sakurat235 : Ini udah lanjut kok, thanks for being my first reviewers
Yue aoi : Hounto ka ? *muka super excited* Arigatou gozaimasu atas pujiannya. Penasaran ya ? Sama saya juga *gampared*
bandung girl : Siapa hayo ? Yahiko ? Nggak! Dia orang baik disini xD Ini udah kilat belom ? wkwkwkwk /peluk cium balik dari pontianak/
Miura Kumiko : Penasaran ? Ikuti terus cerita Ayame kalau gitu *maunya xD*
ikalutfi97 : Interaksi SasoSaku ya? Itu udah Ayame bikin di chapter 3, tunggu aja apdettannya, mungkin kalau masih pada berkenan untuk baca bakalan Ayame apdet.
YOktf : Wokehhh (y)
Luca Marvell : Wah... kalau masalah itu nanti juga bakalan kejawab kok seiring berjalannya waktu *jiahhh*
Disclaimer :
-All Naruto Chara inside is belong to Masashi Kishimoto
-The Story is belong to Ayame Yumi
Warning :
-Sasori dalam cerita ini warna matanya biru bukan coklat.
-OOC, TYPO, Gaje, DLDR
-Apabila masih banyak kekurangan mohon dimaklumi.
.
.
Enjoy Reading minna-san~
.
.
.
.
The Story of The Second Heir
Pagi hari yang dingin di Bandara Internasional Haneda Tokyo terlihat beberapa orang tengah berlalu lalang. Ada yang mengantar kepergian, bersiap-siap untuk keberangkatan, ada juga yang baru tiba. Pesawat dari Amerika telah mendarat sejak beberapa menit yang lalu.
Kini Haruno Sakura dan Uchiha Itachi telah sampai di bandara, sudah hampir 30 menit mereka duduk di bangku tunggu untuk menunggu jemputan. Itachi sengaja meminta adiknya untuk menjemputnya 30 menit setelah sampai, ia ingin sarapan terlebih dahulu dan melihat-lihat sejenak pemandangan gedung pencakar langit yang ada di Jepang dari sudut pandang bandara.
"Lama sekali, kapan otoutomu itu akan tiba ?" tanya Sakura tanpa mengalihkan pandangan matanya dari tablet computer putih miliknya.
"Ayolah Sakura kita ini baru 30 menit di Jepang. Bersantailah sedikit dan nikmati udara segar, tinggalkan sejenak pekerjaan membosankanmu itu," keluh Itachi yang penat, karena sedari tadi Sakura mengabaikannya dan memilih memantau perusahaannya melalui gadget yang berukuran cukup lebar itu. 'Benar-benar workaholic' pikir Itachi.
"Aku baru bisa bersantai ketika mengetahui semua yang menjadi tanggung jawabku masih berada di dalam kendali" jawab Sakura kalem.
Itachi menghela nafas pasrah. Ia mengalihkan pandangannya ke arah beberapa manusia yang mondar-mandir di hadapannya sampai matanya tak sengaja menangkap siluet seorang pria yang memiliki model rambut bagaikan pantat ayam. Itachi yang tadinya terlihat lesu langsung menegakkan badannya dan melambaikan tangannya dengan semangat masa muda yang begitu membara.
"Oiiii! Baka otouto kami disini, kemarilah..." teriak Itachi.
Sakura yang melihat tindakan konyol Itachi memilih pindah ke tempat duduk yang berada tak terlalu jauh dari Itachi, berpura-pura tidak kenal terhadap Uchiha sulung yang bertindak konyol di hadapan umum itu.
'Memalukan' batin Sasuke dan Sakura.
Dengan wajah masam Sasuke menghampiri kakaknya yang terkadang memang suka konyol dan sok dramatis itu. Itachi berdiri dan berjalan cepat mendekati Sasuke lalu memeluknya erat.
Toeng!
Urat kekesalan muncul di dahi seorang Uchiha Sasuke. Ayolah ini tempat umum ia tak mau di cap sebagai lelaki gay dipagi hari hanya karena berpelukan dengan pria aneh seperti Itachi. Dengan segenap tenaga yang dimilikinya di pagi hari ia mendorong kuat Itachi dan membuatnya sedikit terhuyung namun senyuman lebar tak lepas dari wajah tampannya.
"Kata kaa-san kau datang dengan seorang temanmu yang bernama err... Sakuya itu" ucap Sasuke sambil sedikit mengingat-ingat nama teman Itachi tersebut, namun dia tidak begitu yakin mengingat ibunya saja lupa akan nama gadis itu.
Sakura yang mendengar namanya salah disebut oleh pemuda pantat ayam yang baru ditemuinya hari ini merasa sedikit kesal. Ia segera menghampiri pemuda itu.
"Maaf, aku sedikit koreksi! Mungkin yang kau maksud adalah Sakura. Namaku Haruno Sakura. Terima kasih telah meluangkan waktumu untuk menjemput kami" ucap Sakura dengan nada datar.
Rona tipis muncul di wajah Sasuke. Well pertama ia telah salah menyebutkan nama gadis dihadapannya dan yang kedua ia terpesona melihat gadis cantik dihadapannya. 'She's so damn hot' pikir Sasuke.
Ia mengeluarkan seringai yang dapat membuat setiap wanita meleleh apabila melihatnya. "Ah... maafkan aku nona cantik, namaku Uchiha Sasuke, panggil saja Sasuke" ia mengulurkan tangan kanannya agar dijabat oleh gadis manis dihadapannya.
Sakura membalas jabatan tangan itu."Hn, senang berkenalan denganmu Sasuke-san. Itachi banyak bercerita tentangmu padaku. Dan sebaiknya kau jangan mencoba merayuku di pagi hari ini, karena aku sedang tidak mood" ucap Sakura. Ia melepaskan jabatan tangan di antara mereka dengan sedikit paksaan, karena Sasuke menggenggam tangannya cukup erat.
"Oh ya ada kotoran di matamu" ucap Sakura santai yang seketika membuat Sasuke gelagapan dan langsung mengusap-usapkan tangannya di kedua matanya, Itachi yang melihat mereka langsung tertawa. 'Che, jangan samakan dia dengan wanita yang lainnya Sasuke, ia tak segampang itu untuk didapatkan' pikir Itachi.
"Maaf, aku hanya bercanda" ucap Sakura datar yang membuat Itachi semakin terbahak. Sedangkan Sasuke mengerut kesal karena telah dibohongi.
"Ayolah cepat pergi dari sini, kaa-san sudah tidak sabar untuk bertemu kalian" ucap Sasuke sambil melangkahkan kakinya menuju parkiran yang diikuti oleh kedua pengusaha sukses dibelakangnya dan juga beberapa pegawai bandara yang membantu membawakan barang-barang Itachi dan Sakura.
"Selamat datang kembali di Jepang, Sakura-chan" ucap Sasori yang telah melihat semua adegan yang terjadi di antara ketiga orang tersebut, sejak tadi ia duduk tidak jauh dari Itachi dan Sakura berada.
"Khu... khu... khu... Selamat datang di kota kehancuranmu Sakura kecil" ucap seseorang sambil menurunkan koran yang digunakan untuk menutupi wajahnya sampai sebatas hidung. Bibirnya memang tak terlihat namun dilihat dari wajahnya, jelas sekali pria ini tengah menyeringai licik.
-o-
"Tadaima" ucap Itachi dan Sasuke ketika memasuki kediaman keluarga Uchiha.
"Okaeri" sambut seorang wanita dengan senyum lembut di wajahnya. Ia berjalan cepat menghampiri Itachi dan memeluknya dengan erat.
"Aku merindukanmu Ita-kun" ucap Mikoto.
"Aku juga kaa-san" ucap Itachi memeluk Mikoto dengan tak kalah eratnya. Sasuke yang melihat kedua orang yang paling disayanginya saling melepas rindu menyunggingkan senyuman tipis.
Sedangkan sosok yang terlihat paling mencolok diantara ketiga Uchiha itu melihat pemandangan di depannya dengan iri. Sejak ia berumur 17 belas tahun, ia tidak pernah lagi menerima pelukan dari sang ibu, karena kedua orang tuanya membiarkannya hidup sendirian di Seattle, ia dianggap telah mampu untuk hidup sendiri. Kedua orang tuanya kembali ke Jepang dan mengurusi pusat perusahaan.
Mikoto membuka matanya yang tadi terpejam, ia melirik ke arah gadis bersurai merah muda di hadapannya. Ia melepaskan pelukan Itachi dan menghampiri Sakura dengan wajah antusias, seperti seorang anak kecil yang menemukan barang yang disukainya.
"Kamu putri bungsu Haruno Mebuki dan Haruno Kizashi kan ?" tanya Mikoto, senyuman tak lepas dari wajahnya yang terlihat awet muda walau ada beberapa kerutan penuaan di wajahnya.
"Iya Mikoto-basan, Namaku Haruno Sakura, salam kenal" ucap Sakura sopan sambil membungkuk hormat.
Mikoto memegang tangan kiri Sakura dan menariknya untuk memasuki lebih dalam rumah keluarga Uchiha tersebut.
"Kau manis sekali, sudah lama sekali aku ingin anak perempuan. Ayo masuk, oba-san sudah membuatkan sarapan untuk kalian bertiga, kau suka tonkatsu? Pagi ini aku membuatkannya spesial untuk kalian," ujar Mikoto dengan wajah yang begitu antusias, Sakura yang berada digandengannya merasakan kehangatan yang sudah lama tak dirasakannya, bibirnya menyunggingkan senyuman lebar.
Sedangkan kedua putra kandung Mikoto ditinggalkan dibelakang. Posisi mereka telah tergeserkan oleh seorang gadis merah jambu yang sebenarnya ibu mereka saja awalnya lupa nama gadis tersebut. Dengan sedikit tidak bersemangat mereka mengikuti kedua perempuan yang ada di depannya, walaupun begitu mereka tersenyum begitu tulus melihat senyum kebahagiaan di wajah ibunya.
"Ayo tambah lagi dagingnya, kau kelihatan kurus" ucap Mikoto sambil menyumpitkan 2 daging tonkatsu ke piring Sakura.
"Arigatou oba-san" ucap Sakura. Ia merasa teramat senang, senyum tak pernah lepas dari wajah cantiknya. Itachi yang telah lama mengenal Sakura dibuatnya terkaget-keget. Pasalnya Sakura sudah lama sekali tidak tersenyum setulus itu, bahkan di depan kedua orang tuanya sendiri, setidaknya itu semua sejak semua kejadian itu.
-o-
Kini Sakura sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, ia diantar oleh Sasuke. Selama diperjalanan hening melanda keduanya.
"Bagaimana Seattle ?" tanya Sasuke mencoba basa-basi.
"Cukup bagus" jawab Sakura singkat, pandangan matanya lurus kedepan. Setelah itu suasana menjadi hening kembali, mereka tenggelam kedalam pikiran mereka masing-masing.
Mobil sport milik Sasuke kini berhenti di depan sebuah perumahan elite bergaya Eropa milik keluarga Haruno. Sasuke turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Sakura, gerakannya begitu luwes seolah sudah begitu terbiasa melakukannya.
"Sepertinya kau sering melakukan ini terhadap banyak gadis" tebak Sakura ketika melihat gelagat Sasuke.
Sasuke menyeringai mendegar tebakan gadis itu. "Kenapa? Kau cemburu?" tanya Sasuke.
"Tidak juga, lagipula tak mengherankan. Itachi bilang kau adalah seorang playboy jadi bukanlah suatu hal yang mengejutkan" ucap Sakura.
"Haha... kau benar" ucap Sasuke sambil membawakan beberapa barang Sakura masuk. Masih tersisa 1 Koper yang cukup besar, ketika Sakura akan mengambilnya Sasuke mencegahnya.
"Biar aku saja yang akan mengambilnya nanti setelah membawa barang-barang ini" ucap Sasuke dengan senyum kalemnya yang membuat rona tipis singgah di pipi Sakura.
'Ck, kenapa aku menjadi aneh seperti ini hanya karena melihat senyumannya' pikir Sakura.
"Aa... maaf merepotkanmu Sasuke-san" ucap Sakura, ia berusaha agar suaranya tidak tergagap.
"Bisakah kau memanggilku tanpa embel-embel san ?" tanya Sasuke, ia merasa agak risih setiap kali Sakura memanggilnya dengan terlalu formal.
"Anggap saja sebagai ucapan terima kasihmu untukku karena menjemputmu tadi pagi" ucap Sasuke.
"Baiklah, ayo masuk" ajak Sakura.
"Tadaima" ucap Sakura ketika pelayan membukakan pintu untuk Sakura.
Sasuke dan Sakura melangkah masuk. Sakura menyuruh Sasuke untuk menaruh barang-barang bawaannya di dekat tangga, beberapa pelayan dengan sigap langsung membawa barang bawaan nona muda mereka.
"Aku keluar mengambil kopermu dulu" ucap Sasuke yang dibalas anggukan oleh Sakura.
Sakura melihat rumah yang sudah beberapa tahun tak dikunjunginya, tak begitu banyak yang berubah dari rumah ini.
"Ah... Sakura akhirnya kau datang, kaa-san sangat merindukanmu" ucap Mebuki yang memeluk Sakura dari belakang.
Sakura berbalik dan melepaskan pelukannya, ia tersenyum memandang ibu yang telah melahirkannya. "Aku juga merindukan kaa-san" ucap Sakura sambil tersenyum tulus.
Mebuki tersentak, sudah lama ia tak melihat senyum itu di bibir anak bungsunya ini.
"Kau kelihatan bahagia, apa ada sesuatu yang membuatmu senang ? tak biasanya kau terlihat seperti ini" tanya Mebuki sambil mengelus helai merah muda gadis itu.
Sakura memejamkan matanya merasakan belaian itu, ia terlihat begitu haus akan kasih sayang.
"Bisa dibilang begitu" ucap Sakura.
"Permisi Mebuki-basan, Sakura, aku ingin pamit pulang" ucap Sasuke sambil membungkuk hormat ke arah Mebuki.
"Ah Sasuke kenapa terburu-buru ?, tidak mau minum atau makan dulu ?" tanya Mebuki.
"Tidak usah, tadi aku sudah sarapan di rumah" tolak Sasuke halus.
"Ah... baiklah kalau begitu. Terima Kasih telah mampir Sasuke" ucap Mebuki.
"Iya, sama-sama. Kalau begitu aku pamit oba-san, Sakura" pamit Sasuke.
"Hn"
"Iya, berhati-hatilah"
"Ah, kau pasti belum mandi, mau kaa-san siapkan air panas ?" tanya Mebuki.
Sakura mengerutkan alisnya. "Tidak usah bu, nanti aku minta pelayan saja" tolak Sakura.
"Biar kaa-san saja, kaa-san sangat ingin mengurusi semua keperluanmu sendiri tanpa bantuan pelayan seperti dulu, setidaknya biarkanlah kaa-san bisa kembali merasakan bagaimana mengurusimu, sudah lama sekali kaa-san tidak melakukannya" ucap Mebuki, senyum sedih terukir di bibirnya.
Ketika ia masih kecil semua keperluannya kaa-sannya lah yang mengurusi, tidak ada babysitter yang mengasuh Sakura, Mebuki sendirilah yang memberikan kasih-sayangnya dengan eksklusif kepada Sakura dan juga pada Sasori dulu. Sebagai seorang ibu, ia akan merasa sangat berguna apabila dapat mengurusi anaknya dengan tangannya sendiri. Tapi sejak kepergian Sasori, Kizashi melarang Mebuki untuk mengurusi Sakura, dengan pendapat Sakura tidak boleh dimanjakan seperti kakaknya.
"Bisa saja dia menjadi seperti Sasori yang membangkang jika kau terus memanjakannya" ujar Kizashi saat itu.
-o-
Malam itu Keluarga Haruno sedang kedatangan tamu. Tamu tersebut merupakan kerabat dari ayah Sakura.
"Bagaimana kabar Rin di Paris, Kakashi ?" tanya Kizashi.
"Ya dia baik-baik saja disana, beberapa hari lagi dia akan melahirkan buah hati kami" jawab pria bernama lengkap Hatake Kakashi tersebut.
"Ah... sampaikan ucapan selamat dari kami" ucap Mebuki yang dibalas oleh sebuah anggukan dari Kakashi.
"Dia itu keinginannya ada-ada saja, ingin melahirkan di Paris, bahkan masih di dalam perut saja keinginan anak itu begitu menyeramkan" keluh Kakashi atas ngidam istrinya yang kelewat aneh dan menguras dompet itu.
"Tak apalah, lagipula ini anak pertama kalian setelah kalian lama sekali ingin punya momongan," ucap Kizashi.
"Tapi sekarang aku bingung harus mencari penggantiku, kau tau Konoha University benar-benar memilih setiap pegawainya, kemarin aku sudah mengajukan 3 orang namun mereka tak melampaui kriteria yang diberikan oleh universitas, mereka memang selektif apalagi untuk fakultas bisnis" keluh Kakashi.
"Well tak heran mereka bisa mencetak banyak pengusaha sukses disana, mereka begitu memperhatikan kualitas dari siapa yang mengajari murid-muridnya" ucap Kizashi.
"Yah..." tanggap Kakashi.
"Besok siang aku sudah harus berangkat, dan for god sake's aku belum menemukan penggantiku," ucap Kakashi sambil memijat pelipisnya.
Kizashi terlihat memikirkan sesuatu, beberapa kali matanya mengerling ke arah Sakura, meliriknya dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai. "Bagaimana kalau Sakura ? Well dia lulusan terbaik di Harvard University, kurasa ia layak untuk dicoba" ucapan Kizashi membuat ketiga makhluk berbeda warna rambut di ruangan tersebut memandangnya dengan tatapan bingung.
"Well, boleh juga, asalkan tidak menganggu pekerjaan Sakura saja" ucap Kakashi setelah menimbang-nimbang sebentar.
"Tentu saja, ia dalam masa cuti 3 bulan, jadi kurasa tak apa, bagaimana Sakura kau setuju ?" tanya Kizashi.
"Baiklah, kurasa juga tak masalah" ucap Sakura.
-o-
Di salah satu balkon hotel ternama, terlihat seorang pria berambut hitam tengah menerima telepon dari seseorang. "Begitu ya, jadi Sakura menjadi pengganti Kakashi di Universitas Konoha" ujarnya dengan suara mendesis seperti ular
"Iya tuan" ucap sebuah suara dari telepon yang sedang digenggam pria itu.
"Hubungi aku terus apabila ada perkembangan lainnya" perintah orang tersebut.
"Baik Tuan"
Klik! Sambungan diputus oleh pria itu.
"Well meminta bantuan kepada anak itu kurasa tidak ada salahnya" ujarnya.
"Welcome back to your hometown Haruno Sakura" seringai terkembang di wajah pria itu.
"Dan bersiaplah menghadapi kehancuranmu" Ia menjilati bibirnya sendiri, dengan gerakan seperti seorang pembunuh berdarah dingin.
~TBC~
[REVISED : 7/9/2016]
Author's Note :
Gimana chapter 2 ? Mengecewakankah ? Ancur ? Sampah ? Mohon banget kritik dan sarannya apabila ada kekurangan
Aku sengaja ngapdet kilat chapter ini, karena aku merasa seneng banget ngedapet respon positif dari ketujuh reader yang saya balas review-annya di atas.
Rencananya sih aku bakalan ngapdet 2 atau 1 chapter per minggunya, tergantung sikon aja ^_^
Semoga chapter ini gak mengecewakan, apabila ada kesalahan mohon dimaafkan ya minna-san '-'
and mind to RnR ? *muka imut*
