"Baiklah kalau begitu, kau diberikan satu kesempatan untuk hidup, tapi bukan sebagai Hinata Hyuuga melainkan sebagai orang lain! Apa kau mau?" katanya pelan. Hinata melihatnya.

"Sebagai siapa?" kata Hinata bingung dan penasaran.

"Sebagai Sakura Haruno!" katanya yang langsung membuat Hinata kaget.

"Sakura? Kenapa dia?" kata Hinata semakin bingung. Orang itu berjalan menjauh.

"Ayo, ikut aku!" katanya sambil terus berjalan. Hinata berlari untuk menyamai langkah dengannya. Mereka berjalan pelan di koridor Konoha Hospital Center dan pastinya tak ada yang bisa melihat mereka. Tiba-tiba orang itu berhenti di depan sebuah kamar. Hinata yang mengikuti dari belakang jadi ikutan berhenti.

"Lihat dia!" katanya sambil menunjuk ke dalam. Hinata melihat dari jendela kamar itu.

Deg!

Jantung Hinata langsung berdegup cepat. Mungkinkah ia? Batin Hinata sambil menutup mulutnya tak percaya.


My Senpai is My Classmate

Desclaimer: Naruto it's Masashi Kishimoto, My Senpai is My Classmate it's Seina Hanagata.

Rate: T.

Genre: mungkin Romance, Friendship, sama Hurt/Comfort.

Warning: OC, OOC, AU, sedikit typo, sebagian dari fic ini ada yang dari kenyataan, dll.

Summary: Naruto, senpai yang dikagumi Hinata ternyata tidak naik kelas! Hinata ingin membantu Naruto, tapi kecelakaan terjadi dan Hinata meninggal. Hinata diberi kesempatan hidup sekali lagi, tapi sebagai... happy reading minna-san...


_Chap 2_

"Dia..." kata Hinata menggantung.

"Dia koma, Hinata! Jadi kau bisa memakai tubuhnya!" katanya lagi. Hinata menatapnya heran.

"Gimana caranya?" kata Hinata lagi. Orang itu hanya diam dan masuk ke dalam kamar tempat Sakura di rawat. Hinata mau tak mau harus mengikutinya lagi.

"Masuklah ke tubunya, maka kau akan menjadi Sakura!" katanya sambil menunjuk tubuh Sakura. Hinata menatap tubuh Sakura yang penuh dengan berbagai macam alat.

"Tapi bagaimana jika Sakura tiba-tiba kembali?" kata Hinata penuh dengan keraguan.

"Kau akan bertemu dengannya di sekolah!" katanya dengan pelan, tapi masih bisa di dengar Hinata.

"Hah? Maksudmu?" Hinata semakin bingung dengan apa yang di katakan orang itu.

"Sudahlah, cepat masuk! Kau tak memiliki banyak waktu, Hinata! Besok kau harus melakukan tugasmu dan menyelesaikannya dengan cepat!" perintahnya. Hinata hanya bisa mengangguk dan mematuhi kata-katanya. Hinata berusaha menyentuh tubuh Sakura.

Shiiiiiinnnngggg...

Tiba-tiba seberkas cahaya keluar dan menyilaukan Hinata. Hinata merasakan tubuhnya tertarik. Hinata memejamkan matanya dan menarik napas panjang. Hinata mencoba membuka matanya. Terlihat lampu-lampu yang menyala terang di atasnya.

"Selamat menjalankan tugasmu, Hinata! Ingat kau sekarang bukan lagi menjadi seorang Hinata Hyuuga, tapi seorang Sakura Haruno!" hanya itu yang dapat di dengar Hinata sebelum ia menghilang. Hinata hanya bisa terdiam di tempatnya. Tiba-tiba ia merasakan ada air yang mengalir dari matanya.

Cklek!

Seorang laki-laki berambut merah datang. Sepertinya ia adalah Nii-sannya Sakura, Sasori. Sasori terdiam melihat Sakura yang sepertinya sudah sadar.

"Sakura?" panggil Sasori pelan. Sakura hanya diam, tapi air matanya terus mengalir.

"Sakura, kau sudah sadar?" kata Sasori lagi dengan perasaan senang.

"Aku akan memanggil dokter, tunggu ya!" kata Sasori sambil berlari keluar. Kini Hinata benar-benar sudah menjadi seorang Sakura. Air mata yang terus mengalir itu menandakan bahwa ia sedih karena ia akan menolong Naruto bukan sebagai Hinata, tapi sebagai Sakura dan itu sama saja dengan ia mengingkari janjinya sendiri kepada Kurenai-sensei yang telah mempercayainya.

"Gomennasai, Kurenai-sensei..." kata Sakura pelan.

===\(^O^)/\(^v^)/===

Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, akhirnya ia di izinkan pulang walaupun sebenarnya tidak boleh, tapi karena besok adalah hari pertama sekolah, maka Sakura memaksakan untuk pulang. Sakura pulang bersama dengan Nii-sannya, Sasori dan Baa-channya, Chiyo. Setelah sampai di rumah, Sakura di suruh istirahat oleh Chiyo-baa kerena Sakura baru saja sadar dari komanya selama satu bulan itu. Sakura menurut dan langsung masuk ke kamar yang bertuliskan Sakura di pintunya. Sakura langsung merebahkan dirinya di kasur yang ada. Ia memejamkan matanya. Ia benar-benar tak tahu apa saja yang selalu di lakukan oleh Sakura Haruno.

"Apa yang harus aku lakukan?" katanya pelan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu.

Cklek!

Sasori masuk kedalam kamar Sakura dan langsung duduk di bangku yang ada. Sakura terbangun dari posisi tidurnya.

"Ada apa, Sasori-nii?" kata Sakura bingung.

"Kau yakin sudah sehat? Kalau masih sakit, lebih baik besok jangan masuk sekolah dulu!" kata Sasori yang sepertinya sangat mengkhawatirkan Sakura. Sakura tersenyum kecil.

"Ya, aku sudah baik kok! Hehehe..." kata Sakura sambil tersenyum gaje. Sasori ikut tersenyum.

"Entah perasaanku saja atau memang kamu agak sedikit berbeda dari biasanya?" kata Sasori pelan.

Deg!

Jantung Sakura berdegup kencang saat mendegar kata-kata Sasori tadi. Gawat! Apa yang harus benar-benar aku lakukan? Batin Sakura.

"A-ahahaha... hanya perasaan Nii-san aja kali!" kata Sakura dengan sedikit gugup.

"Ya, mungkin memang perasaanku saja! Ya udah, kamu istirahat ya, biar ga sakit lagi!" kata Sasori sambil mengusap kepala Sakura lembut dan pergi keluar.

Huft...

Sakura menghembuskan napasnya. Sasori sepertinya seorang Nii-san yang sangat perhatian sama Imotounya. Nii-san impian semua anak perempuan dan perlakuan Sasori mirip sekali dengan Neji. Maka dari itu, sebenarnya Sakura sedari tadi menahan air matanya yang sepertinya akan mengalir lagi. Jika ia menjadi Sakura, maka ia tak akan pernah bisa melihat Neji yang selalu mengkhawatirkannya, Hanabi yang selalu menjahilinya dan Tenten yang selalu ada untuknya juga Naruto yang selalu ada di pikirannya.

Hiks... hiks...

Tes... tes...

Air mata mulai jatuh membasahi wajahnya dan juga pakaiannya.

"Aku... aku ingin menjdai Hinata! Aku ingin menjadi diriku sendiri... hiks..." kata Sakura pelan sambil mengelap air matanya.

===\(^O^)/\(^v^)/===

"Sakura, Nii-san langsung ke kelas ya!" kata Sasori saat sampai di Konoha High School. Sakura mengangguk dengan yakin. Setelag Sasori pergi, Sakura menengok ke sana-sini. Tiba-tiba ia melihat keluar gerbang Konoha High School. Saat itu juga, ia ingat saat ia terakhir kalinya menjadi seorang Hinata Hyuuga. Saat ia dengan senangnya keluar dari Konoha High School karena bisa pindah kelas, tapi sayangnya terjadi kecelakaan yang membuatnya harus menjadi orang lain.

Plok!

Sakura merasakan bahunya di pegang seseorang. Sakura menengok untuk mencari tahu saiap yang memegangnya.

"Yo, Sakura! Kau sudah sehat?" kata seorang anak perempuan berambut pirang panjang dan di kuncir satu, Ino.

"Kalo belum sehat, kenapa aku bisa sekolah?" kata Sakura sambil tersenyum.

"Haha iya juga! Ya udah ke kelas yuk!" ajak Ino sambil menarik tangan Sakura.

"Tunggu, aku ga tau masuk kelas apa!" kata Sakura sambil berhenti berjalan dan menarik Ino untuk berhenti juga.

"Kita sekelas lagi! Di kelas 2-F!" kata Ino dengan senang.

"2-F? Serius?" kata Sakura ga percaya. Ino mengangguk dengan yakin. sakura tersenyum semakin lebar. Wah... beruntung banget aku jadi Sakura! Batin Sakura.

"Kalo gitu, ayo kita ke kelas!" teriak Sakura senang sambil menarik tangan Ino dan berlari ke kelas 2-F. Sesampainya di sana, ternyata kelas itu masih sepi. Sakura memilih bangku ke dua dari depan dan urutan ke dua dari pintu. Lama-lama kelas semakin ramai, tapi Sakura masih juga tidak menemukan seseorang yang ia nantikan, Naruto. Beberapa menit kemudian, bel tanda masuk berbunyi, tapi Naruto masih belum juga kelihatan bayangannya.

"Eh eh tau Hinata ga?" kata seorang anak perempuan yang ada di bangku belakang Sakura.

"Iya, katanya di meninggal gara-gara kecelakaan di depan gerbang sekolah kan?" kata yang lainnya.

"Iya, kasian banget ya! Padahal dia pinter lho!" kata yang lainnya lagi. Sakura menutup telinganya. Ia tak ingin mendengar semua itu. Itu cukup menyakitkan untuk di dengar oleh Sakura yang sebenarnya adalah Hinata.

Brak!

Semua orang langsung menengok ke sumber suara. Terlihat seorang anak laki-laki dengan rambut pirang berdiri dengan tangan yang terlihat habis menggebrak meja itu.

"Bisa ga sih kalian berhenti ngomongin Hinata? Dia juga butuh ketenangan!" kata anak itu sambil pergi keluar kelas. Semua yang ada di kelas hanya terdiam melihatnya keluar dari kelas. Sakura juga masih terdiam. Sejak kapan dia ada di kelas? Batin Sakura. Sakura hanya tersenyum kecil. Sepertinya kehadiran dari Naruto tak di sadarinya karena ia terlalu serius mendengar obrolan anak-anak tadi.

Tinut... tinut...

Terdengar speaker yang ada di kelas berbunyi menandakan akan ada pengumuman. Semua anak terdiam.

"Kepada seluruh murid yang ada di dalam kelas, di harapkan berkumpul di lapangan sekolah karena akan di adakan upacara penghormatan untuk melepaskan kepergian seorang murid Konoha High School bernama Hinata Hyuuga. Sekali lagi, semua murid di harapkan berkumpul di lapangan sekolah. Terimakasih atas perhatiannya."

Anak-anak langsung keluar dari kelas. Sakura masih teridam di tempatnya. Semua yang ada di Konoha High School akan mendoakan Hinata yang masih ada di sekitar mereka walaupun dengan tubuh orang lain. Itu jauh laebih menyakitkan lagi. Setelah menguatkan hatinya, Sakura berjalan menuju lapangan sekolah. Saat di luar kelas, Sakura melihat Naruto sedang berdiri di beranda yang ada di depan kelas sambil menatap kearah lapangan. Sakura memberanikan diri untuk mendekatinya.

"Kenapa ga turun?" kata Sakura sambil berdiri di samping Naruto. Naruto menengok.

"Untuk apa? Percuma saja melakukan hal itu! Kau sendiri kenapa ga turun?" kata Naruto sambil melihat ke lapangan lagi.

"Terlalu menyakitkan, aku takut aku akan menangis lagi jika melihat atau mendengar sesuatu yang berhubungan dengan Hinata!" kata Sakura sambil melihat ke lapangan juga.

"Kau sahabatnya?" kata Naruto sambil melihat Sakura.

"Mungkin!" jawab Sakura singkat.

"Gimana kalo kita ikut ke sana?" kata Naruto tiba-tiba.

"Hah?" kini Sakura menjadi bingung.

"Sudahlah, jarang-jarang kan kita mengadakan upacara seperti ini!" kata Naruto sambil berjalan menuju lapangan. Sakura semakin bingung dengan sikap Naruto, tapi Sakura mengikutinya dari belakang. Saat di lapangan, terlihat beberapa orang yang ia kenal sedang menangis termasuk Neji, Tenten dan juga Kurenai-sensei. Sakura jadi semakin merasa bersalah jika melihat mereka seperti itu karena ia pergi meninggalkan mereka begitu saja. Mata Sakura lagi-lagi terasa berair. Sakura mengambil setangkai bunga lavender yang telah disiapkan dan meletakkan bunga itu di depan foto Hinata yang ada di depan sana. Sakura terdiam melihat foto itu. Foto saat Hinata pertama kali masuk Konoha High School. Foto untuk rapot dan kartu pelajarnya.

Tes... tes...

Air mata Sakura jatuh membasahi bunga yang ia letakkan di depan foto Hinata. Sakura berjalan pelan ke bangku-bangku yang telah tersedia. Ia memilih bangku paling belakang karena ia tak ingin melihat foto itu. Foto saat ia menjadi Hinata, bukan Sakura. Sakura sangat ingin upacara ini selesai dengan cepat. Sakura melihat ke sampingnya, ternyata ada Naruto. Seandainya aku seperti ini saat menjadi Hinata, pasti akan lebih menyenangkan! Kenapa aku harus mati dulu baru aku bisa seperti ini? Apa kematian adalah satu-satunya jalan? Batin Sakura sambil menghapus air matanya.

"Naruto-senpai, menurutmu Hinata senang tidak di alam sana?" kata Sakura pelan. Naruto menengok.

"Mana aku tau? Mungkin dia sedih sama seperti orang-orang yang ia tinggalkan!" kata Naruto tanpa ekspresi.

"Sudahlah, tak ada gunanya aku di sini lama-lama!" kata Naruto sambil pergi meninggalkan Sakura sendiri. Sakura menundukkan kepalanya. Kau benar, Naruto! Aku jauh lebih sedih dari pada orang-orang itu, tapi apa yang bisa ku lakukan? Bahkan aku kini menjadi orang lain! Batin sakura. Sakura menghapus airmatanya lagi. Ia berdiri dan pergi meninggalkan upacara itu sama seperti yang di lakukan Naruto. Ia masih tak mengerti dengan jalan pikiran Naruto.

"Eh, Naruto tadi ke sini ga?" kata seorang anak laki-laki. Sakura langsung menghentikan langkahnya untuk mendengar sedikit obrolan itu.

"Dateng, tapi Cuma naro bunga terus pergi lagi!" kata yang lainnya.

"Kasian ya dia! Udah ga naik kelas, sekarang malah anak yang dia suka pergi!" kata yang lainnya lagi.

Deg!

Jantung Sakura lagi-lagi berdegup cepat. Apa maksudnya dengan anak yang dia suka? Batin sakura penuh tanya.

_To Be Continued_


Minna-san, gomen banget ya kalo sepertinya rada-rada gaje! Jujur aja data yang udah di binkin ngilang! Aku jadi bikin baru dan hasilnya sepertinya beda jauuuuuuhhh~ ya udah deh, review please...