Yooo! Kembali lagi dengan author gaje, Lavenz Aru.
Kali ini dengan tema hallowen. Tepok tangan doong! (READER : tepok tangan gak ikhlas)
Warning!
Lime! OOC! Tidak bermaksud untuk bashing chara. Namun demi kelancaran fic ini, maka saia buat seperti ini. AU!
Enjoy minna!
V v v v V
Lima hari menjelang festival hallowen
Tsuna berjalan lesu ke arah kelasnya. Tadi pagi Ia hampir terlambat gara-gara kejadian semalam yang membuatnya lagi-lagi tak dapat memejamkan matanya. Banyak pertanyaan berkecamuk di hatinya. Siapa sebenarnya Giotto? Mengapa Ia hadir di hidupnya? Apa yang sebenarnya Ia inginkan?
"Herbivore!"
Tsuna bergidik. Suara bariton milik seseorang yang seharusnya Tsuna usahakan agar tidak bermasalah dengannya, terdengar di belakang. Dengan kaku, Tsuna menggerakkan tubuhnya memutar ke arah suara tersebut.
Dan benar! Sang karnivore sedang menatapnya dengan tatapan deathglare, seolah siap menerkam Tsuna saat itu juga. Oh oh! Apa itu di tangannya? Tonfa? Masalah gawat nih sepertinya. Hawa di sekeliling orang itupun sangat gelap. Nampaknya Ia marah besar.
"Kemarin kau berlari di lorong, bukan? Dan sekarang kau terlambat namun kau memohon pada penjaga gerbang agar membukakanmu pintu, apa aku benar?"
Tsuna menelan ludahnya susah payah. Double gawat! Ternyata Hibari melihatnya saat Tsuna berlari di lorong kemarin dan pagi ini saat Tsuna terlambat namun dengan puppyeyesmemohon agar dibukakan pintu gerbang.
"I-Iya. Ma-Maaf. Aku-"
Hibari menghantamkan tonfanya ke tembok, tepat di samping leher Tsuna. Tsuna tersudut di tembok. Tinggal sedikit lagi saja Tsuna salah bergerak, lehernya pasti sudah terluka parah. Hibari menatap Tsuna dalam. Ada kekesalan dan kemarahan di sana.
"Kamikorosu, Sawada Tsunayoshi!"
"Hiiiii! Maaaafff!"
Tsuna memejamkan matanya erat. Percuma saja melawan sang karnivore yang lapar. Ia sebagai herbivore –Tsuna sadar–, hanya dapat berlari dari incaran sang karnivore. Namun jika Ia telah tertangkap, maka theend!
Tsuna merasa tangannya ditarik kasar oleh seseorang. Dengan takut-takut, Tsuna membuka matanya dan mendapati Hibari menggenggam (lebih tepatnya mencengkeram) tangan Tsuna dan menyeretnya ke ruang kedisiplinan. Dengan pasrah, Tsuna hanya dapat mengikuti.
BRUK!
Tsuna terpental di kursi saat dengan kasar Hibari melempar tubuh Tsuna yang kecil dan ringan itu ke sofa hitamnya. Tsuna meringis mendapati sofa itu menghantam tubuhnya cukup keras.
"Hmph! Kau sedang menggodaku, Sawada Tsunayoshi?" ujar Hibari dengan senyum dingin seperti biasa. Tsuna mengangkat sebelah alisnya. Menggoda?
"Hiii! Ma-Maaf!"
Tsuna segera membetulkan posisi duduknya dengan wajah memerah. Saat Hibari melemparnya, Tsuna jatuh di sofa dengan posisi tengkurap dengan kaki berlutut. Atau dalam bahasa ehemsexehem, doggystyle!
"Tetap saja, kamikorosu,Sawada Tsunayoshi!"
"Akh!"
Hal yang terjadi selanjutnya adalah Hibari kembali membuat Tsuna dalam posisi awal. Dan Hibari dengan cepat melepas pita dasinya dan mengikat tangan Tsuna di belakang. Membuat sang herbivore hanya dapat terbelalak lebar dan wajah memerah padam.
"Hi-Hibari-san? Me-Mengapa..."
Tsuna menoleh ke belakang, ke arah sang karnivore yang diselimuti hawa hitamnya. Nampaknya Hibari benar-benar marah. Tapi kenapa harus begini? Batin Tsuna dalam hati. Airmatanya sudah Ia usahakan agar tidak mengalir.
"Hukuman untukmu, herbivore!"
"Huku-Aakh!"
Suara jeritan Tsuna terdengar keras. Namun Hibari tak mempermasalahkannya karena tak ada seorangpun yang berani mendekati ruang kedisiplinan miliknya. Tsuna masih menoleh ke belakang, meski airmatanya sudah mengalir deras di wajahnya.
Hibari kembali menghujami tubuh Tsuna dengan tonfanya. Tsuna hanya dapat menjerit kesakitan tanpa dapat berbuat apa-apa. Siapa yang dapat melawan sang pemilik aura gelap Hibari? Tak ada! Apalagi Tsuna.
"Hi-Hibari-san. A-Ampun..." ujar Tsuna lirih. Ia meringis kesakitan. Dirasanya tubuhnya telah memar-memar di sana sini. Atau mungkin telah mengalir darah segar? Tsuna hanya dapat menerka-nerka saja tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Salahmu yang pertama! Karena berlari di lorong!"
Tsuna membenamkan wajahnya di sofa. Tak ingin melihat kemurkaan Hibari dan tak ingin melihat apa yang akan dilakukan selanjutnya. Namun sudah beberapa lama Tsuna menunggu, tangan kasar Hibari ataupun tonfanya tak hadir di tubuhnya.
"Kesalahan keduamu, terlambat!" terdengar lagi suara Hibari yang penuh marah. Oh ternyata dia masih di sini. Lalu apa yang Ia lakukan tadi? Kenapa Ia bungkam sesaat?
"Akh? Hi-Hibari-saaann?" jerit Tsuna kali ini berbeda. Kini nada suaranya bukanlah nada suara kesakitan. Namun nada memohon dan penuh tanya akan yang dilakukan Hibari.
Hibari tersenyum dingin. Tangannya dengan lihai telah melepas resleting dan sabuk Tsuna hingga celana panjang seragamnya dapat dengan mudah dilepas. Tsuna meronta-ronta dengan wajah semerah tomat. Sangat malu mendapati perlakuan berbeda Hibari.
"Hukumanmu kumulai, Sawada Tsunayoshi!"
"Hukuman? Bukankah.. Akh!"
Dengan sekali tarik, celana panjang Tsuna telah terlepas hingga mengekspos dengan bebas paha dan betisnya yang kurus. Dan tentu saja sedikit terlihat samar sesuatu yang ada di dalam celana boxernya. Tsuna kembali meronta namun dengan sigap tangan Hibari telah menahannya agar tidak dapat bergerak.
"Hi-Hibari-saann... Jangan!" airmata Tsuna menetes lagi. Ia memohon agar Hibari melepasnya. Namun alih-alih menuruti permohonannya, Hibari malah menghujamkan ujung tonfanya ke tengah bokong sang herbivore yang sukses membuatnya menjerit tertahan.
Tsuna semakin membasahi sofa dengan airmata. Ia merasa sesuatu yang besar memasuki tubuhnya. Tentu saja! Ujung tonfa itu besar! Dan lagi sejak kapan boxernya pun telah turun hingga pahanya?
"Hmm..." hanya gumamam yang terdengar dari belakang Tsuna. Tsuna tak kuasa melihat wajah Hibari dan lebih memilih membenamkan wajahnya di sofa. Rasa nyeri dan panas mengalir deras dari tubuh bagian bawahnya yang baru pertama kali Ia rasakan.
"Sa-Sakit sekali, Hibari-san. Ma-Maafkan aku. Kumohon.. Lepaskan aku..." Tsuna kembali memohon meski tak memandangi wajah lawan bicaranya.
Yang terjadi selanjutnya adalah, tonfa itu semakin didorong Hibari masuk lebih dalam ke tubuh Tsuna. Membuat sang punya tubuh menjerit keras sekali karena merasakan sakit dan perih berkepanjangan itu.
"Hmm... Kau cukup menggoda, herbivore."
"Ukh..." Tsuna kembali membenamkan wajahnya di sofa. Tangannya yang terikat kuat membuat Tsuna tak dapat bergerak apalagi kabur. Ditambah Hibari memang menahan tubuhnya dengan satu tangannya. Cukup satu tangan Hibari untuk membuat Tsuna tak dapat bergerak.
"Hmm..." Gumaman Hibari terdengar lagi. Tangannya mulai Ia gerakkan maju mundur dengan ritme teratur. Hingga membuat tonfa di tangannya ikut bergerak maju mundur di tubuh Tsuna.
Suara Tsuna yang awalnya terdengar bergetar karena sakit, kini berganti dengan desah pelan dengan nada memohon di dalamnya. ".. Ah... Hi-Hibari-san.. Jangan.. Aannhh.."
Dan saat Hibari menghujamkan tonfanya lebih dalam, Tsuna terbelalak dan tubuhnya menjadi tegang seketika. Melihat hal itu, Hibari tanggap. Ia tahu bahwa Ia telah melalui titik aman sekarang.
"Oh? Sepertinya aku telah menemukan bagian paling tersensitifmu, Sawada Tsunayoshi."
Tsuna membenamkan wajahnya yang memerah di sofa. Malu karena telah menyajikan pemandangan seperti itu dihadapan sang ketua komite disiplin. Ia menggeleng pelan. Berharap agar tonfa itu segera menjauh dari tubuhnya.
Bel masuk berbunyi. Terdengar decak kesal dari sang karnivore di sela-sela suara bel tersebut. Dengan kasar, Hibari mencabut tonfa tersebut dari dalam tubuh Tsuna. Tsuna menjerit dan akhirnya menarik nafas lega.
"Ini baru permulaan, herbivore!"
Hibari membalikkan tubuh Tsuna yang menyuguhkan pemandangan menggiurkan. Wajah Tsuna yang memerah dengan airmata masih menetes di wajahnya serta tatapan sayu dari sang herbivore yang tak dapat berbuat apa-apa.
"Pergilah! Jika kau terlambat masuk kelas, aku akan lebih banyak memberimu hukuman!"
Dan Tsuna langsung berlari cepat tanpa menghiraukan rasa sakit yang masih melanda tubuh bagian bawahnya.
"Hibari-san... Kau menakutkan.."
V v v v V
Malam harinya, Tsuna duduk sambil memeluk bantal di ranjang. Ia tak habis pikir atas perlakuan Hibari pagi itu. Mengapa Ia seperti itu? Ada apa gerangan?
"Ukh..." Tsuna meringis. Ia merasakan sakit saat Ia menggerakkan tubuhnya. Sakit di tubuhnya, juga di tubuh bagian bawahnya.
Malam ini Ia enggan berdiri di beranda lagi. Rasa sakit di seluruh tubuhnya membuat Tsuna tak dapat berdiri lama dan lebih memilih duduk di kasurnya yang empuk. Tsuna menutupi sebagian wajahnya dengan bantal. Samar, wajahnya merona merah.
Tsuna tahu itu hukuman baginya yang lalai. Namun hukuman macam itu bukanlah khas Hibari Kyouya. Lalu mengapa... mengapa Hibari akhirnya jadi yang pertama menyentuh tubuh Tsuna?
TOK TOK
Suara ketukan terdengar dari beranda. Tsuna berubah waspada. Siapa malam-malam begini mengetuk pintu berandanya?
"Tsunayoshi.."
Suara itu.. oh! Karena kejadian pagi itu, hampir saja bayangan orang itu hilang. Orang yang membuatnya penasaran atas kehadirannya di dunia ini. Dia... Giotto...
"Ada apa?" Tsuna berusaha berjalan normal dan membukakan pintu beranda kamarnya. Ia mendapati Giotto tersenyum. Pakaiannya seperti biasa. Jubah panjang hitam. Celana hitam. Vesthitam. Dan kemeja putih.
"Sesuai janjiku, aku datang. Ada apa denganmu?" mata Giotto menelusuri tubuh Tsuna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sepertinya Ia menemukan sesuatu yang janggal dari Tsuna.
Tsuna menggeleng keras. Ia memaksakan diri tersenyum dan mengajak tamunya masuk ke dalam. Giotto mengikuti Tsuna yang berjalan di depannya dengan tatapan heran. Cara jalannya.. aneh..
"Ada perlu denganku, vampire Primo?"
Tsuna duduk di kasurnya dengan hati-hati. Hal itu semakin membuat Giotto heran. Tidak susah bagi Giotto menyadari keanehan Tsuna malam ini. Maka dari itu dengan cepat Giotto bergerak dan dalam beberapa detik saja, tubuhnya telah berada di atas tubuh Tsuna yang terbaring kaget di kasurnya.
"P-Primo?"
"Panggil aku Giotto, Tsunayoshi."
Tsuna menggeleng. Mata cokelatnya kini bertemu dengan manik biru sapphiremilik Giotto. Semburat merah kembali menghiasi wajah mungil Tsuna. "... kau 'kan lebih tua dariku. Tidak sopan jika aku memanggilmu begitu."
Giotto tersenyum hangat. Tangannya menyentuh pipi Tsuna. Tsuna yang berada di bawah hanya dapat memejamkan matanya karena kaget. Ia mengira jika Giotto akan melakukan sesuatu padanya. Namun sepertinya insting Tsuna benar karena setelah itu, tangan Giotto berpindah dengan cepat ke kerah baju Tsuna dan dengan sedikit kasar menurunkan kerah baju itu hingga mengekspos leher putih Tsuna.
"Kalau begitu, panggil aku Giotto-nii saja. Bagaimana?" tatapan Giotto berpindah dari bola mata Tsuna ke leher jenjang Tsuna. Ia sedikit menelan ludahnya. Ada hawa gelap muncul dari tubuh Giotto. Sama seperti tadi pagi. Tadi pagi? Jangan-jangan...
"Tsunayoshi..."
Tsuna membuka kedua matanya perlahan. Dilihatnya Giotto mengambil sesuatu dari sakunya. Jangan. Jangan dasi. Jangan tali. Mohon Tsuna dalam hati. Trauma akan kejadian tadi pagi membuat Tsuna sedikit ketakutan.
"Jawab panggilanku, Tsunayoshi."
"I-Iya?" suara Tsuna bergetar. Giotto menyernyitkan keningnya tidak paham atas keanehan Tsuna. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan memberikannya pada Tsuna.
"Bo-Botol?" Tsuna menggenggam botol pemberian Giotto dengan tatapan heran. Botol antik dengan tutup dari gabus.
"Ya. Kumohon berikan sedikit darahmu padaku..."
Tsuna terbelalak. Darah? Untuk apa? "... A-Aku..."
"Kumohon, Tsunayoshi." Ada nada memohon yang dalam dari suara Giotto. "... karena aku tak ingin menyakitimu..."
Bibir Tsuna bergetar. Airmatanya telah menggenang di pelupuk matanya. Tak ingin menyakiti? Oh betapa indahnya kata-kata itu. Seumur hidup, Tsuna baru pertama mendengar kata-kata itu ditujukan padanya.
"Ba-Baiklah. Akan kuberikan..."
Giotto tersenyum mendengar jawaban Tsuna. Ia segera berpindah dari tubuh Tsuna dan duduk di kasur. Tsuna ikut duduk sambil menggenggam botol itu erat dengan tangan gemetar. Memberikan darah, berarti Ia harus terluka dulu bukan?
Giotto melihat ketakutan itu dari mata Tsuna. Ia tersenyum dan menggenggam tangan Tsuna. Dikecup punggung tangan Tsuna dengan lembut, kemudian kembali menatap bola mata Tsuna. Kini wajah sang pemilik bola mata cokelat itu merona merah.
"Aku mengerti ketakutanmu. Ini tak akan lama. Dan hanya sedikit sakit. Bersabarlah, Tsunayoshi."
Tsuna mengangguk. Ia memejamkan matanya perlahan. Dan beberapa detik kemudian, Ia merasakan benda tumpul menusuk kulit telapak tangannya. Tsuna meringis pelan. Merasakan sesuatu merobek kulitnya dan mengaliri darah segar dari sana.
Tsuna tak sanggup menatap kejadian itu. Ia lebih memilih memasrahkan dirinya pada Giotto yang sebenarnya belum Ia kenal benar. Namun nalurinya berkata jika Giotto adalah orang yang dapat Ia percaya.
"Sudah. Bukalah matamu, Tsunayoshi."
Tsuna membuka matanya perlahan. Dilihatnya Giotto masih menggenggam tangannya yang mengalir darah. Botol kecil antik itu kini terisi cukup penuh oleh larutan merah. Darahnyakah itu? Tsuna bergidik melihat pemandangan di depannya. Giotto tersenyum. Namun tak dapat menyembunyikan dua taring panjang yang tajam dan sedikit darah di bibir Giotto.
"Manis sekali..." Giotto bergumam pelan. Tsuna menyernyitkan keningnya. Manis? Wajahnyakah? "...darahmu..."
"Ah?" Tsuna tersenyum malu-malu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak ingin Giotto mengetahui gejolak hatinya yang mengalir deras di tubuhnya.
"Kenapa?" Giotto tersenyum dan menutupi mata Tsuna dengan tangan kirinya yang dingin. "...sabarlah sedikit lagi, Tsunayoshi."
"Eh?"
Tsuna menjerit tertahan saat dirasa piyamanya telah terlepas dari tubuhnya. Tsuna meronta. Namun tangan kuat Giotto malah merangkul pundaknya dan mendekatkan tubuh Tsuna pada tubuh Giotto. "...Giotto...-nii?"
"Senang mendengarmu memanggilku seperti itu, Tsunayoshi. Aku tak akan menyakitimu."
"Ta-Tapi.. Aah!"
Tsuna merasa angin dingin menerpa kulitnya. Namun bukan itu yang membuat Ia terkejut hingga menjerit tertahan. Melainkan karena ada sesuatu yang basah dan lembut bergerak menyapu luka-luka di tubuhnya akibat hantaman tonfa Hibari.
"Kau sensitif sekali, Tsunayoshi?"
"Nggh..." Tsuna berusaha meredam suaranya agar tidak mendesah saat lidah Giotto menelusuri tiap inchi luka Tsuna yang membiru. "Gi-Giotto-nii... Apa yang..."
"Tenanglah. Dan lihat saja."
"Lihat? Tapi mataku ditutup olehmu. Aku tak dapat melihat... aahh.."
Tsuna bergerak pelan saat lidah Giotto kini menyapu luka di lengannya. Terus bergerak ke dadanya membuat sang punya tubuh terus berusaha untuk tidak mendesah keras. Tubuh Tsuna menjadi basah. Namun sedetik kemudian, Ia merasa sangat mengantuk hingga tubuhnya terjatuh dipelukan Giotto.
"Oya? Kau tidur, Tsunayoshi?" Giotto menjauhkan tangannya dan mendapati Tsuna telah terlelap. Senyum kembali tersungging dari wajah Giotto. Ia membaringkan Tsuna di kasur dan menyelimutinya perlahan. "Buonanotte, Tsunayoshi."
Dan satu kecupan lembut mendarat di kening Tsuna. Seperti malam kemarin. Giotto berjalan menjauh dan berdiri di beranda. "... kasihan sekali kau, Tsunayoshi. Tubuhmu sampai seperti itu. Aku harus lebih menjagamu lagi, TheBloodku."
Dan Giotto, seperti malam sebelumnya, terjun dari lantai dua dan menghilang tanpa jejak. Sementara Tsuna tak menyadari jika memar dan luka di telapak tangannya telah menghilang. Tsuna baru menyadari hal itu setelah keesokannya. Saat Ia terbangun dan mendapati tak ada seorangpun di sisinya.
"Giotto-nii sudah pergi ya? Ah?" Tsuna meraba dirinya. Rasa sakit di tubuhnya hilang. Saat Ia berkaca di kamar mandi, tak sedikitpun Ia menemukan luka memar itu di kulit putihnya. Dengan wajah memerah, Tsuna berbisik lirih, "... terimakasih, Giotto-nii..."
V v v v V
