Flashback chapter 1
Namun, satu hal yang ku tau. Aku mencintai orang itu.
Namanya adalah Heo Jun dan ia adalah seorang namja….
Aku?
Namaku Song Jaeho. Tapi sering dipanggil HO oleh temen-temenku dan aku juga seorang namja.
.
.
.
Iya. Aku gay. Hehe…
Tapi gimana bisa aku menjadi seorang gay?
Tak mungkinkan lahir-lahir saja didunia sudah menjadi gay…
Tentu tidak!
Karena setiap sesuatu kejadian pasti akan ada pemulaan. Begitu juga dengan orientasi seksualku.
Sama seperti orang lain, aku juga berharap mempunyai yeojacingu yang cantik seperti Kim So Hyun, punya tubuh yang tegap seperti Bang Yongguk- well walaupun tubuhku ketika ini bisa dibilang agak keren hehe… Pokoknya, aku dilahirkan sama seperti orang lain yang mempunyai impian yang kurang lebih sama.
Tapi semuanya berubah sejak dua tahun yang lalu…
Dimana sejak kejadian itu kehidupanku berubah 360 derajat. Aku, sebelum kejadian itu adalah seorang yang polos dan ngebosenin berubah menjadi seorang yang agak liar seperti sekarang. Diriku yang innocent hilang ketika saat pertama kali beradu pandang dengan orang itu.
Orang yang bisa membuat jantungku berdetak tak normal…
Orang yang membuat otakku tidak bisa berpikiran waras…
Tapi, orang itulah yang membuat diriku mengenal arti cinta
Dan seks tentunya… hehehe…
.
.
Aku masih ingat. Saat itu aku baru pulang dari les malem. Suasana pada malem itu sepi ditambah jalannya agak gelap dan aku malah lagi sendirian. Arloji menunjukkan jam 10 malem. Pada waktu sebegini kebiasaanya memang tidak ada orang yang lalu lalang. Malahan toko juga sudah mulai tutup pada waktu sebegini.
Aku melalui gang-gang sempit yang gelap gulita itu karena aku sudah biasa dengan laluan itu. Walaupun ini pertama kali aku melalui laluan itu pada malam hari. Tetapi, aku sudah cukup hafal dengan selok belok jalan itu. Boleh dibilang laluan ini merupakan laluan favoritku.
Aku menulusuri jalan itu dengan perasaan yang bercampur baur antara perasaan takut dan aneh. Mungkin perasaanku aja karena malem itu terasa sedikit dingin dari malem-malem sebelumnya. Sialnya, aku cuman memakai kaos tipis sleeveless dan celana jeans separas lutut. Jadi, cuaca yang dingin itu seakan menusuk tulang-belulangku.
Aku menggigil kedinginan tapi aku tetep meneruskan perjalananku. Hisshh, pasti enak kalau dapet berendam dalam air hangat diwaktu-waktu sebegini. Pikirku. Sedang aku lagi syiok berimajinasi berendem dalam air hangat, aku tidak sadar kakiku tersadung sesuatu yang agak keras sehingga membuat tubuh mungilku terpaksa mencium bumi.
BUKK!
Aaarrgghh!
Aku meringis kesakitan. Ada beberapa bagian tubuhku terluka dan berdarah tentunya. Tapi, itu bukanlah kesakitan yang membuatku meringis sekeras itu. melainkan kesakitan yang berpunca dari kakiku.
Aarrgghh!
Kakiku terseleo kali karena aku merasa sakit sekali saat menggerakkannya. Aigo! Gimana mau pulang? Berdiri aja tak bisa. Gerutuku seraya mengusap kaosku yang kotor terkena tanah.
Aku berusaha untuk bangkit tapi usahaku menemui titik sia-sia. Aku jatuh kembali ke posisi asal dan kakiku terasa semakin perih. Rasanya aku seperti mau menangis. Tapi ketimbang saat ini tiada orang yang berlalu lalang, jadi apa gunanya aku menangis dan berteriak?. Tidak akan ada yang datang untuk memberi pertolongan.
Ough! Ough! Ough!
Wait! Bunyi apa itu? apa ada keributan atau maling disekitar sini? Atau jangan-jangan!
Ough!
Fuck! Aku tau suara apa itu! itu suara anjing liar! Kyaa! Menyebalkan. Kenapa harus anjing! Teriakku dengan nada yang kedengaran seakan menangis. Shit! Aku memang sedang menangis saat ini. Tapi, aku menangis bukan karena kakiku yang sedang sakit tapi melainkan teriakan-teriakan anjing itu..
Sejak dari kecil aku punya fobia terhadap anjing karena aku pernah dikejar anjing gila sepanjang 2 kilometer dan berakhir dengan aku yang terpaksa terjun kedalam danau. Aku masih ingat dengan jelas memori buruk itu. Memori yang membuatku membenci anjing sampe sekarang.
TAP
TAP
TAP
Wait! Bunyi apa itu? jangan bilang kalau anjing itu menjumpaiku dan ingin membalas dendam kejadian 10 tahun yang lalu. Kejadianku dikejar sama anjing diwaktu aku berusia 7 tahun.
TAP
TAP
Bunyi itu semakin kedengaran dekat dan kuat. Aku memeluk kedua kakiku seraya menundukkan wajahku.
Hiks… Hiks…
Aku menangis ketakutan.
Tiba-tiba ada sesuatu merangkul tubuhku dan sukses membuatku tersentak saking kagetnya. Aku menoleh kearah sesuatu yang merangkulku dengan tatapan yang cemas.
Apa sosok dihadapanku ini pangeran dari negeri kayangan atau malaikat yang dihantar oleh tuhan untuk turun kebumi? Karena sosok dihadapanku ini sangat sempurna dimataku. Walaupun bibirku tidak mampu mengungkapkan kata-kata. Tapi aku tau ia sangat tampan. Ia sangat sempurna untuk sekadar dilihat. Belum cukup, Wajahnya yang bersinar dibawah cahaya lampu jalanan itu sempat membuatku berpikir ia bukanlah spesies manusia sepertiku. Melainkan sosok malaikat.
Ia memandangku dengan tatapan yang jelas khawatir tapi tetep kelihatan damai. Setelah itu, segaris senyuman tercetak indah dari sudut bibirnya. Entah kenapa, senyuman itu membuat jantungku berdetak kencang.
Aku pernah baca sebuah buku. Dalam buku itu mengatakan kalau jantung kita berdetak diluar batas normal saat melihat seseorang yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Berarti, kita sedang mengalami cinta pandang pertama. Well, ada benernya juga sih, karena aku pikir aku sedang jatuh cinta dengan sosok dihadapanku saat ini.
Sungguh memalukan! Namanya aja aku belum tau. Tapi aku berani bersumpah yang aku mencintai ia. Haha… keterlaluan! Oke, mungkin belum cukup kuat untuk dibilang aku jatuh cinta. Tapi, yang aku tau aku tertarik dengan namja didepanku ini. Bener! Aku menyukainya.
"Kau tidak kenapa-kenapa kan?" Tanya namja itu seraya mengibas-ngibas tangannya dihadapan wajahku.
Aku tersentak. "I-Iya. Siapa namamu?" selorohku tanpa sadar.
"Haha… Namaku Heo jun. kau mengelamun?" Tanya namja yang ketahuan bernama Heo Jun itu.
"T-Tidak. i-itu a-anu… kau tanya apa barusan?" Tanyaku seraya menggaruk kepala yang tak gatal. Sial! Sekarang ia malah memandangiku dengan tatapan yang terkesan nakal tetapi tampan.
"Bhuaahahaha! Kau ternyata lucu deh. Tidak, aku cuman mau menghantarmu pulang. Kan bahaya namja manis sepertimu sendirian malem-malem begini." Ucapnya seraya memicit hidungku. Sial, wajahku pasti memerah saat ini. Untung aja saat ini gelap. jadi, Heojun tidak nampak wajahku yang merona seperti tomat busuk!
"Ayo!"
Aku hanya mengangguk pasrah. Ia terlebih dahulu berjalan meninggalkanku sendirian dibelakangnya.
"Heo Jun-ah!" Aku memanggilnya seraya menunjukkan kakiku yang tercedara.
"Mau ku gendong tidak?" Ujarnya dengan seringai diwajahnya.
Aku menundukkan wajahku untuk menyembunyikan semburat merah yang menjalar dipipiku seraya mengganggukan kepalaku dengan malu. Dan entah sejak kapan aku sudah berada diatas punggungnya.
"Hangat…" Gumamku seraya menyandarkan kepalaku diatas pundak kekar milik Heo Jun.
Entah kenapa aku merasa enak sekali digendong Heo Jun. walaupun sedikit rasa bersalah menghinggap diriku karena telah merepotkan namja yang baruku kenal selama beberapa menit ini.
"Heo Jun-ah, aku berat iyakan?" Ucapku dengan nada yang tersirat khawatir.
"Ngomong-ngomong namamu siapa?" Ucap Heo Jun tanpa menjawab pertanyaanku.
"Song Jaeho. Tapi panggil saja aku Jaeho atau HO." Ujarku.
"Nama yang bagus untuk uke yang cantik. Apa yang kau makan saat tadi siang?" Ucap Heo Jun masih dengan nafas yang termengah.
"OMO! Aku belum makan apa-apa dari siang dan hey! Aku bukan uke dasar sok tau!" Bentakku dengan suara yang sengaja aku buat kedengaran cemberut.
"Mwo? Pantasan aja kau ringan. Rupanya kau belum makan dari siang." Kata-kata Heo Jun barusan kedengaran seperti menggodaku.
"Aku tak punya selera makan… lagian aku sedang diet."
"Kau bercanda? Kita kan baru saja ketemu. Aneh-aneh saja hahaha…" Tawa Heo Jun.
"Aku tidak ber-diet karena-mu bodoh! Percaya diri amat jadi orang… -_-" Ledekku seraya nge-jambak surai Heo Jun. aku kesel dengannya. Tapi, jauh dari dasar hatiku mengatakan aku seneng dengan perlakuannya.
"Yah! Jaeho-ah. Apa rumahmu masih jauh?" Tanya Heo Jun dengan nafas yang termengah-mengah. Apa dia lelah?
10 langkah lagi!
9
8
7
6
5
4
3
2
1
Welcome to my house!
Yeah… akhirnya kita sudah sampai!. Teriakku.
"Gomawo Heo Jun-ah karena sudah bersusah payah menghantar ku pulang." Ucapku seraya menundukkan tubuhku.
"Gwaechana… Tapi aku punya satu permintaan." Ucap Heo Jun seraya menampakkan seringai sumringah khasnya.
"BOO… dasar tak ikhlas. Kau mau minta apa?" Jawabku cemberut seraya mempout bibirku lucu.
"Nomer ponselmu. Bisakan?"
Tanpa perlu berpikir panjang aku langsung menganggukkan kepalaku. Lagi pula, tidak masalahkan sekedar bertukar nomer ponsel? Iya memang tidak masalah sih. Tapi aku baru aja mengenal Heo Jun 30 menit yang lalu. Tidak mustahil memang bagi ukuran uke-uke mesum. Tapi aku mah bukan seperti itu!
08xxxxxxxxxxx
"Gomawo Jaeho-ah! Have a Good night!" Ucap Heojun seraya membalikkan tubuhnya untuk pamit. Tapi sebelum itu, ia memposisikan tangannya ditelinga dengan ibu jari serta jari kelingking dibuka manakala tiga jari lainnya ditutup. Ops! Itu tanda-
Aku membalas Heo Jun dengan senyuman lima jari milikku seraya melambai-lambaikan tanganku.
Sepertinya aku bakalan bergadang sepanjang malem for the first time!
Walaupun Heo Jun seorang namja. Tapi aku tak mempermasalahkannya. Atau, aku sengaja tak mau mempermasalahkannya?
Who cares?
Asalkan aku seneng dengan apa yang berlaku sekarang. Itu sudah lebih daripada kata cukup!
Walaupun aku mungkin akan mempunyai perasaan lebih daripada temen biasa kepada Heo Jun. Aku tak peduli.
KARENA…
AKU SUDAH TERLANJUR MENYUKAINYA.
.
.
.
TBC/END
Kritik?
Saran?
Mau sequelnya atau di-end aja ff ini…
Terpulang kepada author… hehehe…
