Sehun tersenyum dengan sangat cantik saat melihat Jongin yang sedang berdiri di pinggir mobil mewahnya. Jongin langsung masuk ke dalam mobil saat melihat Sehun menghampirinya. Membuat Sehun dengan kesal memajukan bibirnya.

Sepanjang jalan, Sehun hanya berbicara sendiri tanpa ada tanggapan dari Jongin. Dan itu jujur membuat Sehun kesal setengah mati. Tak biasanya suaminya tak menanggapi ocehannya yang panjang lebar.

Sehun makin tak mengerti pada Jongin saat Jongin malah membawanya ke rumah Omma dan Appanya. "Aku sudah menelpon Ommamu dan kebetulan Ommamu ada di rumah. Kau tinggal dulu di rumah Ommamu beberapa hari" putus Jongin final tanpa menatap Sehun.

Sehun hanya bisa terdiam saat mendengar ucapan Jongin yang sungguh menyakiti hatinya.

"Tapi...kenapa?"

"Tolong mengertilah Sehun..." suara Jongin semakin dingin dan tajam.

Sehun tahu bahwa Jongin sedang tidak ingin di gugat dan dengan terpaksa Sehun keluar dari mobil mewah Jongin dan hanya menatap Jongin dengan sedih. Sungguh Sehun ingin menangis saat ini. tapi lelaki itu mencoba bersabar dan berpikir positif.

"Jongin..." gumam Sehun dengan pelan dan sukses membuat Jongin yang akan menginjak pedal gas nya mengurungkan niatnya.

"Aku ingin bercerai" gumam Sehun sambil menghapus air matanya.

Jongin menatapnya tidak percaya.

.

.

.

DIVORCE

Jongin/Sehun

M

They are belongs to GOD, themselves and EXO.

PERINGATAN: YAOI/MPREG/TYPO's/AU/OOC/ANEH/CUMA FIKSI

GAK SUKA GAK USAH BACA

.

.

.

Sehun membuang nafas pelan. Lelaki berumur 20 tahun itu tidak menatap Jongin, lebih tepatnya lelaki itu enggan menatap mata Jongin yang selalu membuat hatinya berdesir. Sejujurnya sekarang pun hatinya tetap berdesir namun disertai dengan denyutan yang rasanya sangat menyakitkan.

Jongin tetap menatap Sehun dengan tatapan tidak percaya dan juga tatapan yang biasa menyiratkan bahwa dia tidak puas dengan sesuatu. Serigai tampak menghiasi ujung bibirnya.

"Kau mabuk, Hun?" tanya Jongin dengan intonasi yang rendah dan terkesan tenang. "Sekarang tidurlah dengan nyenyak. Lusa aku akan menjemputmu. Jika kau butuh sesuatu minta lah padaku, jangan minta pada mantan kekasihmu itu" Jongin menatap malas Sehun yang sekarang menatapnya dengan tatapan antara sedih dan kaget.

'Apakah tadi Jongin melihat Johnny bersamaku? Atau bahkan lebih dari itu?' Sehun akan mengutarakan pertanyaannya namun didahului Jongin yang berpamitan tanpa mengatakan apapun lagi.

Mobil mewah itu berlalu dengan sangat cepat dan hilang ditelan kegelapan malam. Sungguh Sehun melihat tatapan kesakitan dan kekecewaan di mata Jongin dan semua itu membuatnya tak tahan dan tanpa sadar kedua matanya mengeluarkan lagi air mata.

Sehun mengalihkan pandangannya ke bangunan mewah dengan desain klasik berwarna putih. Rumah orangtuanya. Jongin tadi berkata Ommanya ada di rumah kan? Mengingat itu membuat Sehun tersenyum sinis. 'bahkan kau benar-benar berniat memulangkanku ke rumah dengan membohongi Ommaku agar aku bisa tinggal dirumah untuk beberapa waktu' Sehun berkata dalam hati sambil memegang dadanya yang terus-terusan berdenyut dengan sangat menyakitkan. ' Jika kau melihat tadi apa yang aku lakukan dengan Johnny, seharusnya kau bertanya langsung padaku atau bahkan langsung pukuli saja aku atau Johnny. Jangan seperti ini'.

Sehun tahu bahwa Jongin sudah membohongi Omma-nya dengan suatu alasan yang sangat kuat hingga membuat Omma-nya yang teramat sibuk itu mau menyanggupi permintaan Jongin-sang menantu kesayangan- untuk tinggal dirumahnya beberapa hari untuk sekedar menemani dirinya.

"Omma bahkan lebih percaya dan sayang pada Ahjussi dari pada aku" Sehun mengusap air matanya yang tak henti-hentinya mengalir. Dengan langkah gontai, lelaki itu berjalan menuju pintu utama mansion mewah dan matanya langsung melihat sosok sang Omma yang sedang menelpon dengan seseorang yang Sehun yakini itu adalah Jongin.

"Nde, Sehunie pasti merepotkanmu sekali Jongin-i. Semoga perjalanannya lancar... Annyeong" wanita cantik berumur mencapai setengah abad itu langsung menutup panggilannya dengan Jongin dan langsung menatap Sehun yang berjalan dengan gontai.

"Omma..." Sehun berucap dengan pelan dan parau.

Wanita itu langsung menghampiri dan memeluk anak lelakinya itu dengan erat. "Lama tidak bertemu, Sehunie. Maafkan Omma ya..." wanita itu memberikan senyuman yang teramat cantik untuknya.

"Sehunie merindukanmu, Omma" Sehun memeluk Omma nya dan menenggelamkan kepalanya di bahu sempit sang Omma. Mata lelaki cantik itu menutup dan meresapi aroma parfum sang Omma yang sangat menenangkannya, meskipun begitu, menurut Sehun, bukan aroma parfum Omma nya yang begitu menenangkan, tetapi kerinduannya yang membuncah itu terobati 'bahkan meskipun kau berbohong, kau masih saja memberikan sesuatu yang membuatku bahagia dengan mempertemukanku dengan Omma'.

Sungguh, Sehun bukan seorang lelaki cengeng yang gampang menangis. Dia seorang lelaki dengan pertahanan diri yang begitu kuat. Semua sikap menyebalkan, mau menang sendiri, egois, bermulut pedas, keras kepala dan ketus, terkadang arogan, itu semua merupakan cara dirinya untuk mempertahankan diri. Cara dirinya untuk melindungi dirinya sendiri biar tak mudah tersakiti dan dianggap sangat lemah. Tetapi semenjak tahu bahwa dirinya sedang mengandung, sifatnya yang mau menang sendiri dan keras kepala itu mendadak hilang tak berbekas. Yang ada, hanya ada sifat dirinya yang sangat manja, begitu pasrah dan begitu sensitif.

.

Malam itu Sehun tidur bersama Omma nya di kamar miliknya yang ternyata masih dirawat dengan baik oleh kepala pembantu keluarganya. Sehun menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi oleh ukiran bohemian yang rumit namun terkesan apik dan indah. Tiba-tiba dirinya mengingat kunjungannya dengan mamanya Jongin ke rumah sakit.

Sepanjang jalan, Tae Hee tak henti-hentinya memuji ketampanan anak mantunya itu. Dan Tae Hee beberapa kali menahan tangannya untuk tak mencubit pipinya yang sering sekali memunculkan rona merah.

"Mama yakin kamu sedang mengandung, Sehunie sayang. Bagaimana jika kita langsung saja ke Rumah sakit yang dulu menjadi rumah sakit saat Mama melahirkan Jongin?" Tae Hee berkata dengan begitu semangat sambil tangannya mengusap-ngusap perut Sehun yang sebenarnya masih rata, tak menunjukkan ciri-ciri lelaki itu sedang mengandung.

"Mama... tapi bagaimana jika Sehunie tidak sedang mengandung?" Sehun menahan senyumnya saat membayangkan dirinya benar-benar sedang mengandung buah hatinya dengan Jongin. Sungguh dalam lubuk hatinya, lelaki berkulit putih itu ingin sekali dugaan Mamanya benar, bahwa dirinya sedang mengandung buah cintanya dengan Jongin

"Mama juga kan pernah mengandung dan tahu tanda-tanda seseorang sedang mengandung, sayangku" Taee Hee malah memeluk Sehun sambil menciumi sisi kepala lelaki berumur duapuluh tahun itu dengan gemas.

"Uhh.." Sehun menormalkan nafasnya karena sungguh! Dia sangat nervous sekarang.

.

Sehun dan Tae Hee sedang harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaan dokter kandungan yang sebenarnya juga merupakan bagian dari dokter-dokter keluarga besar Jongin. Sehun mengigit bibir bawahnya, tanda dirinya sedang was-was dan jari-jarinya diremas pelan oleh tangan halus Tae Hee yang sepertinya juga sedang was-was dan tak sabar mendengar penjelasan dari dokter.

Wanita paruh baya itu sangat yakin anak mantu tercintanya ini sedang mengandung cucu nya dan membayangkan sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang Halmonie dan menggendong seorang cucu membuatnya tak henti-henti tersenyum senang.

Seorang lelaki memakai seragam putih duduk dikursi di depan Tae Hee dan Sehun sambil menyerahkan sebuah berkas ke hadapan Tae Hee dan Sehun. Senyum lelaki itu tak lepas dari bibirnya dan membuat Tae Hee makin melebarkan senyumnya.

"Selamat, Kim Sehun-si, anda sedang mengandung dengan umur kandungan 40 hari. Dan selamat untuk anda, Tae Hee Samonim, sebentar lagi anda akan menjadi seorang Halmonie. Saya selaku bagian dari dokter-dokter kepercayaan keluarga Kim Sajangnim mengucapkan selamat. Semoga sehat hingga melahirkan nanti. Seklai lagi selamat" Lelaki itu tersenyum dengan begitu tampan dan menjabat tangan Sehun dan Tae Hee.

Tae Hee langsung memeluk Sehun yang sedang duduk membeku di sampingnya. Sehun masih tak percaya bahwa dirinya sedang mengandung buah cintanya dengan Jongin Ahjussinya. Benar-benar kabar baik dan tanpa sadar lelaki itu menangis dalam pelukan Mama tercintanya. Membayangkan mini Jongin yang akan menemani Mom dan Dad nya kemanapun mereka pergi, terbangun di malam hari dan menangis karena mengompol atau lapar membuat pipinya memerah.

"Maaf saya mengganggu, Samonim" sang Dokter mengintrupsi Sehun dan Tae Hee yang masih berpelukan dan menangis haru.

"Kandungan Sehun-si cukup lemah dan moodswing pasti akan sangat terasa sekali. Oleh sebab itu, saya mengaharapkan untuk tetap memperhatikan kandungan Sehun-si dan menjauhi sesuatu yang bisa membahayakan kandungan anda" dokter itu tersenyum pada Sehun dan mencoba memberi perhatian pada Sehun yang menurutnya masih begitu labil dan belum cukup dewasa.

"Terimakasih perhartiannya, Uisanim... saya akan menjaga kandungan saya dengan sebaik-baiknya" Sehun membalasnya dengan tenang dan senyum yang terpatri jelas dibibir merahnya.

.

Tae Hee mengantar Sehun membeli susu untuk ibu hamil di supermarket. Sehun hanya tersenyum kecil saat melihat kehebohan Mama nya itu saat memilih-milih Susu untuk ibu hamil dengan berbagai macam rasa.

"Sehunie... Dulu saat Mama mengandung Jongin-i, Mama sangat menyukai rasa coklat dan pisang ini. meskipun awalnya Mama sama sekali tidak menyukai pisang, tapi setelah Papa-nya Jongin meminta Mama untuk meminum susu rasa pisang, akhirnya Mama suka dan terbiasa" Tae Hee memasukan beberapa susu ibu hamil rasa pisang ke dalam troli dan terus-terusan bercerita tentang dirinya saat hamil Jongin dulu.

"Tapi dulu Mama baru mau minum susu saat yang menyeduh susu itu adalah Papanya Jongin. Awalnya Mama beralasan saja yang menginginkannya adalah bayi yang sedang Mama kandung itu, karena yeah, dulu Oppa-Papa Jongin- begitu sibuk dan Mama suka kesal sendiri karena Mama sangat kesepian dan ingin terus-terusan bermanja-manja dengan Oppa, tapi lama kelamaan, Oppa-Papa Jongin- sendiri yang menawarkan diri, hehehe" Tae Hee terkekeh sendiri sambil menggamit tangan Sehun yang bebas. Tangan kirinya yang bebas ia gunakan untuk mendorong troli yang berisi tumpukan susu ibu hamil.

"Apa menurut Mama, nanti Jongin Ahjussi akan melakukan hal seperti itu juga?" Sehun bertanya sambil menggaruk tengkuk nya yang sama sekali tak gatal. Membayangkan dirinya yang begitu manja dan Jongin yang tidak berangkat ke kantor karena terus-terusan menemani dirinya dan membuat Kim Corp mengalami kerugian membuatnya ngeri sendiri.

"Karena Jongin mencintaimu dan menyayangi anak kalian, pasti Jongin juga akan melalukan hal tersebut" Tae Hee berkata mantap sambil menatap mata Sehun yang begitu berbinar cantik. "Dan kapan kau akan segera mengabari Jongin, Sehunie?"

"Aku ingin memberi kejutan padanya, Mama. Dan semoga Jongin-Ahjussi tak mempunyai jadwal yang begitu padat"

"Mama yakin, Jongin akan sangat senang sekali. Jaga cucu Mama ya sayangku..."

Dan Sehun tak bisa untuk tak tersenyum sambil mengusap perutnya yang di dalamnya bersemayam mini Jongin.

.

.

Sehun mengusap air matanya yang tak terasa mengalir dengan deras dan saat dirinya membuka mata, hal yang pertama yang dilihatnya adalah Sang Omma yang sedang menatapnya dengan khawatir.

"Ada yang sakit, Sehunie? Kau kenapa, Aegi?" Omma Sehun mengusap pipinya dan menghapus air mata Sehun yang membasahi bantal.

Sehun tak menyadari bahwa dirinya terisak hingga membuat Omma nya keheranan dan langsung memeluk Sehun yang terlihat begitu rapuh saat mata Sehun menatapnya langsung di mata.

"Omma... Aku... Aku" Sehun makin terisak dan makin erat memeluk tubuh Ommanya sambil mencoba melampiaskan denyutan sakitnya saat mengingat kunjungannya ke rumah sakit dan atas perlakuan Jongin yang menurutnya sangat menyakiti dirinya.

"Sehunie kenapa sayang? Ada yang sakit?" Suara Omma Sehun semakin terdengar bergetar dan tanpa sadar dirinya juga menangis.

"Omma, aku sedang mengandung anak Jongin, dan besok aku akan kembali padanya. Aku akan pulang ke apartemen meskipun aku tahu, Jongin Ahjussi tidak ada di sana. Tolong izinkan aku, Omma" Sehun berbicara dengan tegas namun suaranya nampak bergetar. Terlihat gugup dan Sehun tak mau bertatapan langsung dengan mata indah sang Omma.

"Sehunie kau sedang tidak bercanda, kan? Oh ya ampun... begitu senangnya Omma mendengar berita ini, sebentar lagi Omma akan menjadi Seorang Halmonie. Selamat sayangku, nanti Omma akan beritahu Appamu. Pasti dia sangat senang sekali. Omma kira, Jongin menyakiti dirimu" Sang Omma memeluk erat Sehun dan menciumi sisi kepala sang buah hati dengan gemas dan haru.

'Jongin memang sudah menyakitiku, Omma' Sehun berujar pelan dalam hati.

Sehun sudah memikirkan ide itu dengan matang dan sungguh, dirinya tidak bisa mundur lagi. Meskipun dirinya yakin, banyak orang yang akan kecewa dan bahkan membencinya.

.

.

.

.

.

Sehun menguatkan tekad.

Ini benar-benar pilihannya.

Dan dia memang sudah tidak bisa mundur lagi.

Sehun sungguh tidak mau seperti ini, tapi ada alasan mengapa dirinya melakukan hal ini.

Sehun beberapa kali menutup matanya dan menghela nafas pasrah.

TOK TOK

"Sehunie, Heenim Ahjussi sudah menunggumu di luar, sayang" Suara Omma nya mengalun merdu dan dengan itu, Sehun menegakkan badan. Dirinya langsung di sambut oleh senyuman menenangkan sang Omma. Ommanya sudah memakai baju rapi dan menenteng sebuah tas. Sehun yakin, Omma nya akan pergi lagi untuk urusan bisnis dan semua itu membuatnya merasa lega, jadi minimal, strategi dirinya akan berjalan lancar.

"Omma akan menemui Appa-mu dan memberitahunya tentang berita bahagia ini. Semoga kau selalu sehat, Sehunie. Sering-seringlah berkunjung ke rumah ini, dan Omma akan menyiapkan makanan jika terjadi apa-apa, segera hubungi Omma, okay"

Sehun menanggapinya dengan senyuman kecil. Lelaki itu langsung memeluk sang Omma dengan begitu erat dan mencium kedua pipi dengan durasi yang cukup lama.

"Jaga kesehatan Omma dan titipkan salam kangen Sehunie pada Appa"

"Pasti akan Omma sampaikan. Appa mu pasti akan mempercepat urusannya dan segera menemuimu, sayang"

Sehun masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan Omma nya dan mobil itu keluar dari mansion mewah, disusul oleh mobil yang mengantarkan Omma nya menemui sang Appa.

.

.

.

Semalaman Jongin tidak bisa tidur.

Pikirannya dipenuhi oleh sang istri yang tidak ada di sampingnya untuk menemani tidurnya. Biasanya, saat membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah cantik dan menggemaskan istrinya yang juga masih terlelap dan hanya tertutupi oleh selimut yang menutupi sebagian badan keduanya. Kedua tangan kekar miliknya pasti melingkari tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat. Tak akan lupa, Jongin memberikan kecupan-jilatan dan hisapan di seluruh bagian wajah istrinya dan tak lupa mengemut dan menghisap bibir merah muda istrinya hingga membuat istrinya itu terbangun dan langsung menghadiahinya tatapan mengejek dan mencibirnya karena telah menggangu tidur nyenyak lelaki berumur 20 tahun itu.

Jongin akan menggendong Sehun dan membawanya ke kamar mandi. Dilanjutkan dengan mandi bersama sekaligus seks di pagi hari di kamar mandi hingga sering membuat keduanya terlambat.

Mengingat itu membuat kepala Jongin berdenyut sakit, namun bayangan Sehun-NYA yang pasrah saat disentuh dan dicium oleh mantan kekasih istrinya membuat hatinya pun ikut-ikutan berdenyut sakit.

Jongin masih kesal dan juga marah.

Namun lelaki itu belum memberi kesempatan pada istrinya untuk sekedar berbohong atas nama membela diri.

Nafasnya makin memburu saat mengingat perkataan Sehun yang ingin bercerai dengannya.

Jongin tak habis pikir apa yang ada di dalam pikiran Sehun saat mengatakan kalimat sialan itu. Pikirannya langsung dipenuhi dugaan-dugaan bahwa Johnny merayu Sehun dan memintanya untuk kembali pada pelukan lelaki sialan itu dan tinggal bersama di luar negeri sana. Atau bahkan, lelaki sialan bernama Johnny itu menawarkan sesuatu yang begitu fantastis dan luar biasa hingga membuat Sehun dengan suka rela berpaling darinya dan lebih memilih mantan kekasihnya itu.

"Jadi kau bahkan tak bia melupakannya, heh, Sehunie?" Jongin berucap sinis sambil memandangi sebuah frame dirinya yang sedang tersenyum ke arah kamera dan Sehun yang mengecup pipinya dari samping tanpa melihat ke arah kamera. Kedua lengan Sehun melingkari leher Jongin dan kedua tungkai jenjangnya melingkari tubuh tan Jongin dengan erat. Ia ingat, foto itu diambil saat dirinya sedang berbulan madu dengan Sehun.

Di sebuah pulau di Jepang. Dua minggu mereka habiskan untuk berbulan madu di pulau tersebut. Dan memang benar-benar berbulan madu. Tanpa gangguan dari keluarga, perusahaan, kertas-kertas yang menyebalkan maupun rekan bisnis Jongin yang sangat susah ditinggalkan.

Dan pada saat bulan madu itu juga, Jongin berhasil mengambil keperjakaan Sehun dan menjadikan Sehun sangat ketagihan dengan sentuhannya. Lelaki berusia 19 tahun itu tak akan puas jika tanpa dan bukan Jongin dan membuat Jongin senang bukan main. Begitupun dengan Jongin yang tak akan pernah bisa puas jika seseorang yang mendesah dibawahnya itu bukan Sehun.

Pijatan otot-otot rektum Sehun yang selalu memberikannya kenikmatan yang luar biasa, membuatnya tak pernah bosan untuk ingin selalu merasakannya dan mengulangnya setiap waktu. Begitupun dengan desahan menggairahkan saat Sehun dengan putus asa menyebut namanya saat memintanya untuk lebih keras atau pun saat Sehun klimaks.

Sungguh saat itu, dirinya merasa merupakan seorang lelaki yang teramat beruntung dan bahagia.

Lelaki berumur tigapuluh tujuh tahun itu mengecek ponsel pintarnya yang tadi malam ia lemparkan ke atas nakas di samping tempat tidurnya. Tak ada panggilan, tak ada sms, tak ada chat apapun dari Sehun-Nya. Jujur, Jongin kecewa.

Dengan langkah gontai, Jongin berjalan ke arah dapur. Jongin meminum segelas air putih. Lelaki itu bermaksud untuk membuat sesuatu untuk sekedar sarapan, Jongin masih ingat dirinya masih harus menandatangani puluhan dokumen penting dan harus rapat dengan beberapa clientnya sebelum memjemput Sehun di rumah mertuanya.

Jongin akan menjemput langsung istrinya hari itu juga. Meskipun dirinya masih merasa kesal dan marah, dirinya akan tetap mendengar pembelaan istrinya. Yang terpenting istrinya kembali padanya. Kembali pada pelukannya.

Alisnya berkedut saat dirinya membuka lemari makanan atau cemilan dan menemukan lemari itu dipenuhi oleh kardus-kardus susu. Dan matanya makin membulat saat menyadari bahwa kardus-kardus itu berisikan susu formula untuk ibu yang sedang hamil.

Tangannya yang tiba-tiba bergetar mengambil satu karton susu yang sudah dibuka dan diamatinya dengan lamat-lamat. Rasa pisang. Dan tiba-tiba hatinya mencelos. Di apartemen mewah miliknya itu hanya berpenghuni dua orang. Dirinya dan Sehun. Ingat akan istrinya.

"Sehun hamil?" tanya Jongin entah pada siapa.

Senyum idiot langsung terkembang di bibir kissablenya. Dan tawa nyaring pun terdengar menggema di ruangan itu. Jongin sampai harus menutup mulutnya karena tawanya semakin teramat keras. Air mata keluar dari kedua matanya dan Jongin dengan kasar mengusapnya. Senyum bahagia tak lepas dari bibirnya.

"Sehunie-KU sedang mengandung?"

Jongin berjalan ke arah kamarnya. Lelaki itu bermaksud menghubungi Sehun. Namun pandangannya melihat sebuah map putih berukuran besar di samping tv LED 42 inch nya.

Jongin duduk di kursi depan tv sambil membuka isi map berwarna putih itu. Jongin mengernyit saat mendapati bahwa ada satu map lagi di dalam map itu. Nama rumah sakit langganan dan kepercayaan keluarganya tertera di dalam, juga dengan nama Sehun sebagai pasien.

Jongin buru-buru membuka isi map itu dan membaca nya dengan cepat.

Senyum yang sempat menghilang itu kembali dan sekarang senyumannya makin lebar dan tak bisa ia tahan. Semua dugaan dan prasangka terhadap istrinya yang 'tega' berselingkuh mendadak hilang tak berbekas. Jongin jadi ingat bahwa pagi hari itu Sehun memuntahkan sesuatu dan dengan bodohnya Jongin hanya menganggap itu merupakan gejala masuk angin. Tapi ternyata bukan masuk angin atau gejala asam lambung. Ada kehidupan lain yang merupakan bagian dari dirinya yang sedang tumbuh dalam perut istri tercintanya itu.

"Aku ingin bercerai, Kim-si" Sehun menundukkan kepalanya. Lelaki pucat itu tak sanggup melihat langsung mata pengacara Jongin. Sehun menggigit bibir nya dengan lumayan keras untuk mengalihkan sesuatu yang berdenyut menyakitkan di dalam hatinya.

Sehun berbohong pada Ommanya dengan bilang dirinya akan pulang ke apartemen miliknya dan Jongin. Meskipun benar, lelaki paruh baya yang ia sebut Heenim Ahjussi itu mengantarkannya sampai ke depan apartemennya tanapa tahu Sehun mencari taksi dan kemudian pergi. Dirinya pergi ke kantor pengacara handal milik Jongin.

Pengacara Jongin yang bernama lengkap Kim Jongdae itu menatap Sehun tak percaya. Jongdae sangat tahu bahwa meskipun hubungan Kim Jongin dan Kim Sehun sering tidak akur, Jongdae yakin Jongin dan Sehun saling mencintai. Tetapi Jongdae pun tidak menyangka istri dari atasannya ini akan memberitahunya kabar buruk ini. Bibir kissable lelaki yang sudah puluhan tahun bekerja pada Kim Jongin itu menutup rapat meskipun pikirannya dipenuhi oleh macam-macam pertanyaan yang sangat sulit ia tahan.

"Saya sudah pikirkan dengan matang" Sehun menghembuskan nafas keras "Tolong beritahu Kim Jongin bahwa saya mengajukan perceraian ini. Tapi saya akan memberikan pilihan kepadanya" Sehun mulai mengangkat kepalanya dan menatap langsung pada mata pengacara handal yang telah bekerja untuk Jongin puluhan tahun. "Saya akan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri dan jika dia benar-benar tidak ingin bercerai dengan saya, dia akan mengambil opsi itu. Dan dia juga pasti mengetahui 'tempat' tersebut di mana, dan menyusul saya untuk kembali padanya" Sehun berujar pasti.

"Namun, jika Kim Jongin itu benar-benar ingin bercerai dengan saya, dia pasti akan menyanggupi gugatan perceraian ini" suara Sehun makin mengecil hingga akhir kalimat.

Jongdae menghembuskan nafas dengan pelan. Diamatinya istri dari atasannya dan matanya sedikit membulat saat melihat Sehun yang sedang mengusap-ngusap perutnya yang sedikit menonjol.

"Saya akan menyampaikannya pada Kim Sajang, Samonim. Tapi sebagai teman dari Kim Sajang, saya berharap anda tidak melakukan sesuatu yang berakibat sangat fatal bagi keluarga anda dan Kim Sajang" Jongdae menuliskan sesuatu di atas kertas "Dan mengenai tempat itu, bagaimana jika Kim Sajang tidak mengetahui atau tidak mengerti?"

Sehun tersenyum sinis mendengar pertanyaan Jongdae.

"Itulah yang saya tunggu, Kim Jongdae-si"

Dan dengan ucapan itu, Jongdae selesai menuliskan sesuatu dan meminta Sehun untuk menandatanganinya.

.

.

.

Jongin tak henti-hentinya menebar senyum ke semua karyawannya dan sedikit banyak membuat kehebohan di setiap direksi dan devisi di perusahaannya itu. Meskipun perasaannya tetap tidak tenang karena Sehun sama sekali tidak mengaktifkan ponselnya dan membuat Jongin sedikit kekurangan info tentang istri cantiknya. Dan senyuman itu makin merekah saat dirinya baru mengingat bahwa Sehun berada di rumah mertuanya dan baru besok akan ia jemput. Namun sungguh, Jongin tidak sabar untuk segera bertemu dengan istrinya dan mencumbui istri cantiknya itu dengan sepenuh perasaannya.

Jongin memandangi pigura berukuran sedang yang tersimpan di meja kebesarannya. Foto Sehun yang diambil oleh dirinya sendiri saat lelaki berumur 20 tahun tersenyum dengan amat manis ke arah lensa kamera hingga eyes smilenya terlihat. Dengan pelan, Jongin mengusap pigura tersebut dan senyum tampan tersemat di bibirnya.

Tiba-tiba telpon berdering. Itu dari Seolhyun, sekretarisnya.

"Maaf Kim Sajang, pengacara Kim Jongdae ingin bertemu dengan anda"

"Persilahkan masuk"

Tak menunggu waktu lama Jongin menyambut Jongdae dengan senyuman tampan bak pangeran. Membuat Jongdae yang sebenarnya teman Jongin saat kulih dulu mengernyit tak suka yang dibuat-buat.

Namun senyumnya luntur saat Jongdae memberikannya sebuah kertas. Matanya makin memincing tajam saat melihat tanda tangan Sehun-NYA sebagai pemohon di atas kertas itu. Nafasnya memburu dan dirinya mencoba menenangkan diri yang semakin bergolak. Dengan cepat, Jongin merobek kertas-kertas itu, membuat Jongdae membulatkan matanya.

"Jongin- Sajang. Sungguh ini bukan wilayah saya untuk mengatakan ini, tetapi sebagai teman, saya ingin melihat anda dan Sehun-Samonim berbahagia dan mempunyai keturunan yang lucu-lucu. Jadi, cepatlah menyusul Sehun-si ke tempat itu"

Setelah mendengar pernyataan Jongdae, Jongin segera berlari kesetanan sambil mengambil kunci mobil dan pergi.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

Halo halo

Ketemu lagi yaaaa.

Aku ucapin banyak-banyak terimakasih pada teman-teman baruku yang sudah memberikan komentar, kritik dan saran ke dalam kolom reviews. Aq mah apa tuh duhh tanpa kalean semuanya. Muach muachh

Semoga chapter ini memuaskan yaaa...