Parent.

####

Jongin menangis lagi malam itu . Tangannya dengan hangat merengkuh satu-satunya permatanya, memberi belaian sayang tanpa henti .

"Ibu, apa Sehun berbuat nakal?" Suara lirih menyadarkannya dari tangis, permata yang 7 tahun ini ia cintai. Laki-laki kecil itu mendongak menatap Jongin, ibunya.

"Tidak sayang. Sehun yang terbaik milik ibu, Sehun tidak nakal. Ibu hanya bahagia Sehun bersama ibu." Di kecupnya pipi kanan Sehun.

"Sehun sayang ibu , selamanya." Sehun kecil memeluk leher ibunya, semakin tenggelam dalam rengkuh sayang sang ibu.

"Ibu juga sangat menyayangi Sehun selamanya." Jongin belai lagi rambut halus Sehun. Warna rambut dan kulit yang bukan warisannya, itu dari sang ayah .

"Sehun, apa yang guru di sekolah katakan tentang orang tua?" Jongin melepas pelukannya terhadap Sehun. Manik mata cokelat jernih yang kecil menatapnya , mengingatkan Jongin pada Sehun lainnya.

"Guru bilang kita harus menyayangi orangtua kita , karena orangtua kita ada di dunia. Makanya Sehun sangat sayang pada ibu."

Jongin tersenyum lembut. "Sehun sayang ibu. Bagaimana dengan ayah?"

Sehun menundukkan kepala. "Ibu sayang Sehun, Sehun sayang ibu, tapi ayah tidak." Tangan kecil itu memainkan jemari Jongin.

"Bagaimana kalau ayah juga menyayangi Sehun?" Tangan kecil itu di kecupnya sayang.

"Apa ayah sayang dengan Sehun ?"

"Kenapa tidak bertanya pada ayah? Sehun, anak baik tidak mengabaikan orang tua."

Mata cokelat itu mulai berair. "Tapi ayah pernah bilang ingin mengajak Sehun pergi. Jika Sehun pergi, ibu akan sendirian. Sehun tidak mau ibu sedih, Sehun mau dekat dengan ibu terus."

Tangis keduanya pecah mengisi malam.

Apa yang dikatakan Sehun kecilnya benar. Tiga hari yang lalu ayah permatanya datang . Tuan Oh Sehun itu datang untuk meminta permatanya.

"Ibu sayang Sehun "

7 tahun yang ia lewati sendiri tidak mudah. Hanya Sehun kecil harta berharganya selama ini, tidak seperti Tuan Oh Sehun yang punya kehidupan mewah.

Hati Jongin tentu hancur jika permatanya dibawa pergi. Jongin ingin sekali mempertahankannya tapi Tuan Oh Sehun itu berkata akan membuat permatanya bersinar terus dan makin bersinar.

Jongin ingin sekali bersikap egois. Untuk apa Sehun mengambil lagi permata yang dulu ia tolak dan buang ?

Tapi melihat senyum bahagia Sehun kecilnya bertemu sang ayah menghancurkannya.

Senyum dan bahagia Sehun permatanya adalah segalanya.

"Sehun dengan ayah saja, ibu tidak apa-apa" air matanya makin deras jatuh.

"Ibu akan disini menunggu Sehun yang tumbuh jadi laki-laki tampan dan kuat."

"Apa ibu tidak akan sedih ?" Sehun kecil yang begitu perhatian, sama seperti masa indahnya bersama Sehun.

"Ibu tidak akan sedih, Sehun selalu menemani ibu disini" Jongin menggunakan tangan kecil Sehun untuk menepuk dadanya.

"Sehun sayang ibu." Sehun menggeleng kecil dalam pelukan Jongin.

"Sehun dengarkan ibu. Ayah ibu sama-sama sangat menyayangi Sehun, apa salahnya tinggal bersama ayah? Sehun nanti bisa punya banyak mainan dan pakaian bagus. Sehun bisa sekolah di sekolah yang ada lapangan luas juga banyak teman yang baik. Sehun bisa pergi membeli bubble tea kesukaan Sehun sepuas hati. Ayah akan mengajak Sehun tinggal di rumah besar yang hangat. Kenapa Sehun tidak mau?"

Jongin menangis mengatakannya. Ia terlihat seperti ibu yang mengusir anaknya. Tapi sungguh ia hanya ingin kehidupan lebih baik untuk Sehun.

"Karena ibu tidak di sana"

"Apa Sehun pernah berpikir kalau ayah juga sedih tidak bisa bersama Sehun? Sehun sudah bersama ibu lama sekali, tapi belum pernah bersama ayah. Ayahmu pasti sedih"

Jongin tidak tau apa yang ia katakan benar atau tidak. Ia tidak tau bagaimana Sehun setelah ia pergi.

"Sehun akan ikut ayah, tapi ibu janji akan selalu disini supaya nanti Sehun bisa datang bertemu ibu."

"Ibu janji. Ibu sayang Sehun" Dikecupnya puncak kepala Sehun, menghirup sebanyak-banyaknya aroma Sehun, permata indahnya.

'Sehun jadi anak laki-laki yang hebat. Jadilah orang yang jujur dan bertanggung jawab.'

Do'a dan tangis Jongin lah yang akhirnya mengisi sisa malam.