Fragile love Chapter two
main pair : chen x xiumin
genre : fantasy, romance, drama
credit : plot cerita milik saya, exo milik ortu dan SM ent.
WARNING! THIS IS A BOY X BOY STORY, IF YOU A HOMOPHOBIC PLEASE STAY AWAY! YOU'V BEEN WARNED.
TYPO IS EPELIWEL~ BUT TYPO IS ART, YES?
Preview chapter
Sudah sebulan berlalu dan xiumin tidak menunjukkan tanda tanda bahwa dia akan bangun. Dan di sebuah pagi yang cerah, saat chen datang lagi seperti biasa, sebuah kejadian sungguh membuat chen shock dan cemas. Saat itu, chen mengajak xiumin berbicara seperti biasa, dan xiumin tiba tiba kejang kejang dan dengan panik chen mencari dokter yang segera menindak lanjuti kondisi xiumin, chen menunggu dengan cemas di luar.
Dan rasanya nyawa chen ditarik begitu saja saat sang dokter mengatakan kalimat mengerikan yang terdengar hingga keluar.
" waktu kematian pasien yaitu 09.32 ."
.
.
Chen membuka matanya yang silau dan melihat bahwa dia sedang berada di apartementnya dalam keadaan berbaring di sofa, bukannya berada di rumah sakit tempat dia pingsan.
Mimpi? Batin chen bingung. Semuanya terasa begitu nyata, pekikan panik suho. Klakson mobilnya, suara tabrakan itu, kalimat sang dokter, dan xiumin!. Chen segera bangkit dan membuka pintu untuk mendapati xiumin masih berbaring disana dan tertidur dengan nyaman. Helaan nafas lega terdengar dari mulut chen. Namja tampan itu segera berjalan dan duduk di pinggiran tempat tidur. Jam menunjukkan bahwa sekarang masih tengah malam. Dia baru tertidur beberapa jam dan rasanya sangat lama. Mata chen yang sebenarnya masih terasa berat, menutup dan akhirnya tertidur lelap, disamping xiumin.
.
.
.
" ugh.. kepalaku pusing.." gumam xiumin sembari menggeliat pelan di tempat tidur.
Tunggu.. aku dimana? Ini bukan apartementku! Batin xiumin panik. Satu satunya hal yang dia ingat adalah dia meminum dua gelas red wine dan menjadi sangat mabuk.
" OH!" xiumin meredam teriakannya dengan tangannya begitu melihat sesosok namja tertidur di dekatnya. Dan semakin takut ketika melihat kemejanya terbuka.
" omo... apa ini.. bagaimana bisa.." sebisa mungkin xiumin tidak berisik, tapi tetap saja, namja disebelahnya terbangun dan membalikkan badannya. Sebuah senyum yang menghipnotis xiumin tersampir di wajah itu.
" kau sudah sadar? Baguslah.. apa masih pusing?" tanya namja itu yang tak lain adalah chen.
" ani. Tapi, apa yang terjadi?" xiumin bertanya takut takut.
" kau tertidur tadi malam begitu aku membawamu ke apartementku karena kau mabuk. Kau tidak mau mengatakan alamatmu jadi aku membawamu ke apartementku." Chen berkata setelah kesadarannya sudah sepenuhnya kembali.
Xiumin hanya mengangguk, bersyukur begitu mengetahui bahwa chen tidak melakukan yang iya-iya kepadanya, apapun yang tadi ada di pikirannya.
" mandilah, aku akan menyiapkan sarapan. Lalu aku akan mengantarmu pulang." Chen bangun dan bergerak ke luar kamar, dan sekali lagi xiumin hanya mengangguk patuh.
" makanan sudah siap!" chen berkata keras dari arah dapur. Tak lama sosok xiumin telihat, memakai sweater biru milik chen. Namja manis itu tertunduk, dan saat dia mendekat dan duduk di kursi, terlihat semburat merah di pipi gembulnya.
Dia malu, manisnya.. batin chen.
" makanlah.." begitu mendengar perintah chen, xiumin segera makan dengan patuh.
" a-aku meminjam sweater ini dulu ya.. nanti setelah aku cuci akan aku kembalikan." Gumam xumin, yang entah kenapa kini merasa canggung kepada chen. Mungkin karena dia baru saja terbangun di kamar apartement chen dengan kemejanya yang terbuka, dan kini dia duduk makan di meja yang sama dengan chen, memakai sweater biru milik chen, dengan kenyataan bahwa dia seorang omega dan chen seorang alpha, mungkin.
" xiumin, kenapa kau bisa mabuk?" tanya chen berusaha memulai percakapan.
" a-ah, aku meminum dua gelas red wine..." gumam xiumin, sedikit malu dengan fakta yang baru saja dia kemukakan.
" dua gelas red wine? Hanya dengan itu dan kau mabuk seperti minum satu drum wine?" chen tersenyum tidak percaya.
" ck, aku kan tidak pernah minum minuman beralkohol sebelumnya.. jadi wajar saja, bukan?" geram xiumin, merasa dilecehkan dengan pernyataan chen yang memang meremehkannya. Muka xiumin semakin masam melihat chen yang terkekeh karena ekspresinya.
" kau seperti seorang yeoja. Sangat sensitif." Chen berkata sembari terkekeh. Sementara xiumin mendelik kesal kearahnya.
" oh ya, apartementmu dimana? Agar aku tau mengantarmu kemana nanti." tanya chen sambil kembali menekuni makanannya. Sementara xiumin hanya menjawab sopan.
" ah, mian. Aku bisa pulang sendiri, aku tidak bisa memberi taumu , terima kasih sudah menolongku. Aku tidak bisa bayangkan kalau aku diculik oleh namja namja mesum yang mungkin ada di luar sana."
" ya, sama sama. Tapi, kenapa kau tidak bisa memberi tauku alamatmu?"
" itu.. ada hubungannya dengan kepindahanku."
" ah, masalah sensitif.." xiumin mengangguk, untung namja di depannya peka. Batin xiumin lega, dia menatap jam dan melihat bahwa sudah jam sepuluh lewat, dan sakit kepalanya sudah mendingan. Xiumin mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan dan mengamati bagaimana ruangan tersebut rapidan tidak terlihat kotor.
" chen, apa kau sudah lama disini?" Tanya xiumin, memulai pembicaraan yang berhenti
" ya, sudah lumayan lama."
" apa pekerjaanmu?"
" pelukis, sudah lama aku memulai karirku sebagai pelukis disini." Bangga chen.
" benarkah? Apa saja karyamu?" xiumin menatap chen berseri seri.
" jika kau mau, aku bisa menunjukkan bengkelku, aku menyimpan karya karyaku disana." Senyum chen mengembang begitu melihat xiumin mengangguk. Dengan segera namja itu bangkit dan mengangkat piring kotor mereka dan meletakkannya di dishwasher.
Xiumin menatap ruangan di hadapannya kagum. Entah karena ruangan itu penuh dengan berbagai lukisan atau karena dindingnya ikut dilukis oleh chen dengan lukisan pemandangan situs situs bersejarah roma.
" he-hebat!" pekik xiumin girang, sementara chen tersenyum bangga. Chen menarik xiumin menuju salah satu lukisan yang berada di tengah tengah lukisan lainnya.
" ini lukisanku yang paling pertama. The boy.." ujar chen sembari menunjukkan sebuah lukisan berupa siluet seorang namja dengan latar belakang gereja saint andreas. Xiumin menatap lukisan itu dan merasa jantungnya berdebar cepat. Dia tidak ahli dalam menilai lukisan tapi dia dapat melihat bahwa lukisan itu dipenuhi cinta tapi, dia juga dapat merasakan semburat kesedihan, dan kerinduan di lukisan itu.
Semua perasaan itu menyeruak di dada xiumin, membuatnya merasa pusing dengan kombinasi perasaan yang dirasakannya. Xiumin segera mengalihkan pandangannya dari lukisan tersebut.
" kenapa? Apa lukisannya jelek ya?" chen mengernyit melihat xiumin yang mengalihkan pandangannya dan memilih menatap peralatan lukisnya yang dibiarkan tergeletak begitu saja.
" aniyo, lukisanmu sangat bagus." Xiumin mendekati peralatan lukis itu dan mengambilnya.
" aish, kenapa dibiarkan tergeletak begini.. kau seharusnya membersihkannya." Ceramah xiumin sembari membersihkan cat kering yang menempel di kuas kuas tersebut menggunakan aliran air mengalir dari wastafel di sana. Namja itu secara insting mulai mengomel panjang lebar mengenai bagaimana chen seharusnya memperlakukan alat lukisnya sebagai teman seperjuangan, karena alat alat lukis itu juga merupakan alasan lukisan lukisan indah chen ada disini, bukannya malah membiarkannya tergeletak begitu saja.
Chen hanya cengengesan menanggapi ocehan xiumin.
" kau tidak pernah berubah.." gumam xiumin pelan.
" apa?" chen mengernyit mendengar gumaman xiumin yang tidak jelas.
" tidak ada apa apa, aku hanya membersihkan tenggorokanku.." elak xiumin karena dia sendiri tidak tau kenapa berkata demikian. Xiumin kembali mencari bahan pembicaraan dan menobrol kembali dengan chen.
Entah berapa lama mereka mengobrol di bengkel tersebut, tapi, saat mereka keluar langit sudah bewarna jingga yang menawan. Xiumin segera pamit dan berjalan pulang. Namja itu menolak saat chen menawarkan diri untuk menemaninya separuh perjalanan.
Selama di jalan xiumin mampir di pasar dan membeli berbagai bahan makanan untuk di apartementnya. Jalan setapak yang di lewatinya menimbulkan suara yang khas saat bertemu sepatu si namja manis yang berjalan sembari bersenandung.
Sesampainya di apartement miliknya, xiumin segera membereskan semua barang belanjaannya dan merapikan barang barang. Kulkas yang penuh makanan, apartement yang rapi, semuanya sudah terlihat memuaskan bagi xiumin. Namja manis itu berjalan menuju dapur dan mengambil gelas. Menuang susu untuk dirinya sendiri. Memutuskan untuk segera tidur, semua interaksi sosial yang dilakukannya hari ini sungguh membuatnya lelah.
Tempat tidur yang empuk dan selimut yang lembut segera membawa xiumin ke alam mimpi.
.
.
.
.
.
.
Kenyataan memang tidak seindah fanfiction. Saat xiumin bangun awan terlihat mendung dan rintik rintik hujan mengawali hari xiumin. Untungnya segelas hot chocolate, sekotak cookies dapat membuat hari xiumin menjadi lebih baik.
Xiumin sedang duduk di kursi saat sesuatu terasa seperti menghantamnya.
Tangannya memegang kepalanya yang terasa sangat sakit dan saat dia membuka matanya dia terlihat sedang berada di sebuah gedung yang menurutnya sebuah gedung sekolah.
Bagaimana aku bisa disini? batin xiumin bingung. Dia melihat ke sekeliling. Tempat ini terlihat familiar baginya. Namja itu mendekati sekumpulan siswa berniat bertanya dimana dia. Dan sebelum xiumin sempat berkata apapun sekumpulan siswa itu melewatinya begitu saja, bukan, bukan melewati seperti menghindari, tapi benar benar melewati seperti menembus tubuhnya, seakan akan tubuhnya hanya terbuat dari angin!.
Apa-apaan?! Pekik xiumin, tapi sepertinya tidak ada yang mendengarnya. Dia membalikkan tubuhnya dan membelalak melihat siapa yang berdiri di depan gerbang dengan sebuah senyum lebar di wajahnya.
Dia segera mendekati sosok itu dan semakin ternganga begitu menyadari bahwa sosok itu tidak hanya sama persis dengannya melainkan memang dirinya sendiri.
"akhirnya aku sudah SMA!" terdengar seruan senang sosok itu yang suaranya juga sama persis dengan suaranya. Xiumin semakin bingung dan akhirnya mengambil kesimpulan..
Aku pasti sedang bermimpi. Dan aku akan terbangun jika aku melakukan ini.. xiumin menampar dirinya sendiri cukup keras hingga meninggalkan bekas kemerahan yang terlihat menyakitkan. Namja mungil itu memekik sakit.
Oke, itu tidak berhasil. Sekali lagi.. xiumin kembali menampar pipinya dan kembali memekik sakit. Sambil menggerutu dia mengelus pipinya yang terasa sangat sakit dan perih. Dan saat itulah dia menyadari versi kecil dari dirinya yang masih dikenal sebagai minseok sudah menghilang. Dan pemandangan disekitarnya mengabur dan berubah menjadi sebuah lorong yang terlihat seperti lorong sekolah.
Xiumin melihat dirinya sendiri sedang berdiri di tengah tengah kerumunan siswa dan berada di hadapan seorang namja yang terlihat sangat mirip dengan chen.
Apa ini? Apa aku akan bertengkar dengan chen? Pikir xiumin absurb tapi ternyata yang terjadi adalah..
" jongdae.. apa apaan ini?" tanya minseok bingung dan xiumin sudah berdiri disamingnya mengangguk setuju, seakan akan mereka bisa melihat anggukannya.
" aku tau ini terdengar aneh, dan mungkin tidak mungkin.. mengingat kita berdua adalah namja.. tapi, banyak juga yang seperti ini.."
" oh, ayolah! Langsung ke intinya saja!" koor murid muridnya yang lain, termasuk xiumin. Dan jongdae terlihat kesal tapi pipi namja muda itu bersemu merah.
" kim minseok.. maukah kau.. kau.."
" ya, aku mau! Tentu saja aku mau menjadi pacarmu kim jongdae bodoh.." potong minseok sembari memeluk jongdae yang terkejut. Sementara yang lain memekik bahagia.
" benarkah? Tapi, darimana kau tau? Aku bahkan belum selesai.." gumam jongdae bingung.
" kau sangat lamban. Aku sudah menyukaimu selama ini, bodoh.. kukira aku sudah sangat jelas menunjukkan perasaanku.." minseok melepaskan pelukannya dan menatap jongdae, pipinya merona hebat.
xiumin membekap mulutnya dan menahan haru.
Sial, bisa bisanya aku terharu dengan drama anak anak seperti ini.. gumam xiumin, tapi dia kembali ternganga ketika melihat jongdae mencium minseok di hadapannya. Minseok, dirinya di masa kecil dicium oleh seseorang di hadapan dirinya sendiri yang dating dari masa depan/?.
Ck, benar benarlah.. xiumin menggeleng geleng prihatin. Dan saat itu pemandangan kembali berubah. Kali ini xiumin berada di sebuah taman dengan minseok di sampingnya.
Minseok sedang mengintip dari balik pohon, dan xiumin mengikuti arah pandangannya. Dan disana, di bangku terlihat jongdae sedang duduk bersama seorang yeoja.
Xiumin mendekati jongdae, namja itu terlihat sedang berbicara dengan sang yeoja, tapi, xiumin tidak dapat mendengar pembicaraan merea walaupun dia berada tepat disamping jongdae.
Kurasa ini masuk akal, kalau yang sedang aku lihat ini adalah memoriku. Tapi kapan au mengalami amnesia? Eomma tidak pernah menyebutny-
Ucapannya xiumin terpotong begitu dia melihat jongdae dan yeoja itu berciuman. Memang yeoja itu yang duluan meciumnya, tapi bagaimana bisa, bukankah jongdae dan minseok berpacaran.
Dengan khawatir, xiumin menoleh kearah minseok. Namja muda itu terlihat bergetar dan xiumin dapat melihat kristal bening yang mengalir di matanya dan xiumin dapat mendengar bisikan minseok.
Beraninya dia! Bisikan itu terdengar sangat kecewa dan rasa sakit hati yang sangat besar tapi ada juga amarah di bisikan itu. Minseok mundur beberapa langkah dan berlari meninggalkan tempat itu.
Xiumin berusaha mengejar tapi sebelum dia bahkan mendekati minseok pemandangan kembali berubah. Sekarang dia berada di sebuah kamar tidur dengan minseok menangis di tempat tidurnya. Minseok tiba tiba bangkit dan mengambil sebuah buku dengan simbol simbol yang tidak dikenalnya. Xiumin hanya bisa melihat ketika minseok membuat sebuah simbol besar di lantai menggunakan cat hitam dan menyalakan lilin hitam disetiap sudut simbol itu.
Cat hitam tersebut berpendar di ruangan yang minseok matikan lampunya. Dengan ternganga xiumin menatap minseok yang berdiri di tengah tengah simbol sambil memegang buku itu dan namja itu membacakan sesuatu yang terdengar seperti mantra.
Xiumin berbalik mendengar gedoran di pintu. Itu jongdae, pikir xiumin begitu mendengar teriakan namja itu di luar.
Minseok, apa yang kamu lakukan? Berhenti! Jebbal! tapi minseok mengacuhkan teriakan putus asa itu dan tetap membaca mantra itu. Bola bola cahaya merah, biru, hijau, dan kuning mengelilingi tubuh minseok.
Xiumin menatap dengan takjub, ketika bola bola cahaya itu lenyap, begitu pula dengan minseok. Tidak ada jejak apa pun tentang keberadaannya kecuali buku yang dipegangnya dan simbol di lantai yang tak lagi berpendar. Semuanya kembali mengabur dan akhirnya benar benar hilang.
Xiumin sudah kembali lagi ke apartement dan memori apa pun yang dia lupakan sudah kembali. Memori yang sudah kembali lebih banyak dari pada yang dia lihat tadi. Tapi, masih ada yang kurang. Kenapa dia tidak ingat tentang masa kecilnya, kenapa memori yang kembali hanya memorinya yang dimulai dari saat dia berada di sebuah panti asuhan sampai saat dia mengucapkan mantra itu.
Dia butuh penjelasan, dan dia tau siapa yang bisa segera xiumin mengambil mantelya dan keluar dari apartementnya tanpa lupa mengunci pintu. Ingat, safety first.
Masih siang dan xiumin yakin kalau jongdae ada di bengkelnya. Untung baginya saat itu ada kereta api yang dijadwalkan menuju daerah tempat chen tinggal.
Bagaimana mungkin aku dan chen bertemu lagi setelah sekian lama..apa ini kebetulan, atau dia memang mengikutiku dan menunggu.. sibuk xiumin dengan batinnya, hampir saja melewati pemberhentiannya jika bukan karena seorang wanita eropa baik hati yang menyadarkannya dari lamunan itu.
Saat xiumin sudah berada di depan pintu bengkel chen, keraguan keraguan mulai muncul.
Bagaimana jika jongdae itu bukan chen, pasti dia melihatku sebagai orang aneh. Sudahlah, aku coba tanyakan saja. Lagipula aku sudah pergi sejauh ini. Xiumin mengetuk pintu bengkel itu, dari dalam terdengar suara ribut sebelum pintu di hadapan xiumin terbuka.
" xiumin? Ada apa?" chen menatap xiumin dari atas ke bawah seolah olah tidak mempercayai ke datangan xiumin.
" a-ada yang ingin aku tanyakan." Chen mengangguk dan mempersilahkan xiumin masuk. Mereka duduk di atas sofa yang ada di bengkel itu. Chen pergi sebentar dan kembali dengan dua gelas the ditangannya.
" apa yang ingin kau tanyakan?" chen menatap xiumin penasaran.
" sebelumnya, apa chen nama aslimu?" xiumin menggenggam gelas tehnya, merasa sangat gugup.
" ani, nama chen hanya nama panggilan. Nama asliku kim jongdae." Xiumin mengerjap beberapa kali, menyerap informasi tadi.
Ternyata memang dia! Xiumin meletakkan gelasnya dan menarik nafas.
" ingatanku sudah kembali." Namja mungil itu menatap chen serius, berusaha menerka nerka apa chen mengerti maksud perkataannya. Terjadi keheningan diantara mereka sebelum chen membelalak dan akhirnya merespon.
" jinjja?! Aku menunggumu sejak lama, akhirnya. Dan apa kau ingat siapa aku?" Tanya chen dengan semangat.
"ya, dan apa perbuatanmu." Xiumin menatap gelas dihadapan mereka. Sementara chen hanya menghela nafas antara lega dan sedih.
" yang terjadi itu hanya salah paham, sebelum aku menjelaskan kau sudah lebih dulu meninggalkanku."
" tidak apa apa, itu sudah sangat lama."
" jadi, apa hubungan kita kembali seperti dulu?" Tanya chen penuh harap. Tapi xiumin hanya menggeleng.
" aku tidak yakin. Itu sudah sangat lama dan aku tidak tau apa rasa yang aku miliki untukmu dulu masih ada. Tapi, terima kasih sudah menunggu selama ini." Chen merasa sangat kecewa, tapi tentu saja dia menyembunyikannya dari xiumin.
" ya. Aku pasti bisa memenangkan kembali hatimu."
" sebenarnya bukan itu yang ingin aku tanyakan. Aku ingin bertanya kenapa aku tidak memiliki ingatan tentang masa kecilku? Kenapa ingatan yang aku ingat kembali dimulai dari masa remajaku di sebuah panti asuhan?"
" ah, untuk pertanyaanmu yang itu aku bisa menjawabnya. Sebenarnya kita bukan manusia biasa. Setidaknya tidak lagi."
" apa maksudmu?" xiumin mengernyit bingung.
TO BE CON'
hola, saya kembali~
jujur, saya kecewa dengan reviewnya, yah, walaupun mungkin jelek dan gak bagus ffnya setidaknya dimohon meninggalkan jejak.
niat awal saya sih untuk update kalau review mencapai target, tapi karena ff ini adalah hasil kerja keras saya jadi saya ingin membagikannya sampai tamat nanti.
untuk endingnya belum tau bakalan sad atau happy, terserah kalian aja.. jd review sangat diharapkan walaupun melihat banyak orang yang membaca ff ini sangat sedikit...
tunggu cha selanjutnya minggu depan ya.. atau mungkin bahkan lebih awal, lap u all~
