Assalamu'alaikum Minna.

Yosh! Setelah dua minggu berlalu akhirnya saya bisa update.

Oke, buat yang sudah menunggu update, saya mohon maaf apa bila kalian telah menunggu lama. Dua minggu, yah? Saya juga agak sibuk, tapi saya sempatkan untuk menulis sesekali.

Selanjutnya... apa lagi yah? Ndak banyak sih buat sekarang, tapi saya ucapkan terima kasih buat para pembaca sekali yang sudah berkenan meluangkan waktunya untuk membaca fic saya.

Tanpa perlu banyak bicara lagi, saya persembahkan saja chapter selanjutnya dari fic ini dengan senang hati.

Selamat membaca.


.

.

.

.

.

"Kaito!"

"Eh, Miku? Ada apa?"

"Etto... Ano ne... jika sudah dewasa nanti, aku ingin menjadi pengantin wanita Kaito!"

"Haa? Tapi Miku terlalu bodoh dan anak yang ceroboh. Aku tidak mau."

"Uhmmm... kalau begitu, Miku akan berusaha untuk menjadi anak yang lebih pintar lagi! Dan jika saat itu sudah tiba, kau akan menikah denganku, bukan?!"

"Maa... jika saat itu tiba, aku akan memikirkannya lagi."

"Kau berjanji, Kaito?"

"Hm. Aku berjanji."

"Yaaaayyyyy!"

Kepingan-kepingan masa lalu terlintas di kepala Miku. Teringat beberapa kenangan manis akan dirinya bersama dengan Kaito di waktu yang sudah berlalu selama belasan tahun lamanya.

"Kenapa aku melakukan hal seperti itu dulu..." Miku menghela nafas. Walau memang apa yang ada dalam kenangannya benar-benar terjadi, tapi dia sendiri tidak habis kenapa dirinya mengatakan hal memalukan itu.

Bagi Miku, Kaito dulu yang ada di dalam kenangannya memang baik. Jauh lebih baik dari Kaito yang sekarang. Bukan tanpa alasan untuk seseorang seperti dia bisa sampai membenci Kaito. Hanya ada beberapa kejadian yang sebenarnya tidak ingin dia ingat di masa-masa sekolah.

"Dasar... bodoh..." gumam Miku sendiri. Walau tidak ada siapapun di ruangan itu selain dirinya, tapi sudah jelas ungkapan barusan ditujukan kepada siapa. "Padahal aku sudah berusaha sekeras ini..."

Hari-hari dimana Miku berusaha keras untuk menjadi seperti yang Kaito inginkan semua telah berlalu. Dia belajar sangat giat, walau tidak bisa melampai nilai Kaito setidaknya dia sudah berhasil mendekati. Tapi setelah dipikir kembali... entah kenapa ini menjadi sia-sia.

"Akkhhh!" Miku menggeleng cepat. Berusaha untuk menjauhkan kenangan-kenangan yang terus berdatangan dalam kepalanya. Gadis itu segera beranjak bangkit dari sofa. Daripada harus memikirkan masa lalu, lebih baik dirinya berendam saja. Mungkin bisa membuat pikiran lebih baik.

.

.

.

.

.


Vocaloid & Utauloid ©Crypton Future Media, Yamaha Corp, Etc.

Sweet & Sweet Marriage ©Rainessia Toumitsu.

Rate T.

Don't Like?, Don't Read!


.

.

.

.

.

*Tok *tok

Suara pintu berketok pelan. Len memberi isyarat kepada orang yang ada di dalam ruangan bahwa dirinya berada di luar. Tangannya meraih kenop pintu dan membukanya perlahan.

Terlihat Kaito yang sedang berkutat dengan tumpukan kertas-kertas laporan di atas meja. Sepertinya tugas pemuda itu sebagai penerus perusahaan sangat berat.

"Tidak 'kah kau terlalu memaksakan diri?" Len tersenyum kecut pada sahabat baiknya tersebut.

"Mah, kenapa tidak? Jika aku berhasil menyelesaikan semua masalah ini, kedepannya akan menjadi mudah."

"Ayolah Kaito. Setidaknya kau harus sedikit bersantai."

"Aku tidak akan bisa bersantai jika semua masalah ini belum selesai." Dengan cekatan, kedua iris Safir Kaito memeriksa setiap detail dari selembar laporan di tangannya. Setelah selesai dengan satu lembar, lembaran lain langsung dia kerjakan dengan teliti. Bahkan ketelitian pemuda itu sama sekali tidak memberikan celah untuk menatap hal lain, sekalipun itu lawan bicaranya.

Len hanya bisa menghela nafas dengan keseriusan Kaito. Yah mau bagaimana lagi dikatakan, sejak sekolah dulu, pemuda bermahkotakan surai indah biru gelap tersebut memang sudah seperti ini. Dalam bidang pelajaran apapun, Kaito selalu meraih peringkat teratas di sekolahnya. Dan yang membuatnya lebih kagum lagi, Kaito sangat rendah hati dan sangat bersahabat pada orang di sekitarnya.

Tapi yang menjadi kekhawatiran lain Len adalah, Kaito memiliki kehidupan yang kurang baik. Memang tidak bisa dibilang buruk karena Kaito sama sekali belum pernah bertengkar serius dengan Miku, hanya saja hari-hari Kaito yang menjadi berat.

"Kau ini memang tidak bisa diharapkan..." Len menggeleng pelan. "Aku sudah selesai dengan pekerjaanku. Biarkan aku sedikit membantumu di sini." Dengan insiatifnya sendiri, dia membagi tumpukan kertas itu dan mengambil sebagian untuk dikerjakannya.

"Eh? Kau tidak perlu melakukannya," ucap Kaito. Kali ini pandanannya teralihkan oleh tindakan Len.

"Jika bisa lebih cepat maka akan lebih baik. Dan setidaknya akan memberikanmu waktu untuk bersantai." Len segera mengambil sebuah kursi lain dan duduk di dekat meja Kaito.

Kaito hanya bisa membalas perbuatan Len dengan senyuman tipis. Cukup beruntung dirinya bisa memiliki sahabat yang sangat bisa diandalakan. Benar-benar menolong dalam keadaan genting seperti ini.

*Tuk *tuk *tuk

Derap langkah kaki yang begitu cepat terdengar dari arah lorong.

"NI! NO! NI! NO!"

Tidak hanya itu, diikuti pula dengan lengkingan suara seorang gadis yang terdengar seperti menirukan sebuah sirine.

"WAHAHAHAHAHAHAHA!"

Dan juga tawa girang yang seketika saja membuat dua pemuda yang sibuk dengan perkejaan mereka langsung memucat dan merinding dibeberapa bagian tubuh.

*BRAKKKK!

Pintu ruangan Kaito terbanting keras dan terbuka lebar. Seorang gadis muncul dari balik sana. Penampilannya sangat mirip dengan Len, memiliki rambut pirang manis seperti madu. Iris yang menyimbolkan akan keindahan biru laut. Dan wajahnya... tidak jauh berbeda dengan Len. Hanya dia seorang gadis.

"Hey lonely boy~" Gadis itu segera berjalan masuk menghampiri Kaito dan Len yang sedang terpelongo dengan tingkahnya. "Tidak ada siapapun di dunia ini yang bisa mengendalikan hidupmu. Jadi... kau bisa menjadi apapun yang kau inginkan dan tidak lebih! Nyahahahahaha!"

"A-apa yang kau katakan, Rin?" tanya Kaito. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang dilakukan adik kembar Len di sini.

"Hora. Itu, salah satu lagu yang pernah dibuat oleh Luka-nee dan Miku-nee di sekolah dulu," jelas Rin dengan tatapan polos.

"Yah. Kau tidak perlu menjelaskannya." Len menepuk keningnya pelan. "Apa yang sedang kau lakukan disini, Rin?"

"Eh? Aku? Yah, tidak alasan khusus." Tanpa merasa bersalah sedikitpun telah mengganggu dua pekerja yang sedang sibuk berkutat dengan urusan mereka, Rin langsung duduk di sebuah kursi dengan santainya. "Hoo! Kursi ini hebat!" Dan dengan seenaknya, gadis itu meluncur kesana kemari dengan kursi yang terpasang roda di bagian kaki.

Dengan kesal, Len langsung berdiri untuk menahan gadis itu. "Jika kau tidak ada urusan disini, sebaiknya kau pulang!" Tangannya dengan kuat mencengkram kerah baju Rin dan mengangkat adiknya sendiri seperti seekor anak kucing.

"Nyaa~" Bukannya jera, Rin malah menirukan suara seperti seekor kucing. "Mah mah. Tenang dulu. Mana mungkin aku berani datang ke tempat ini jika tanpa alasan."

Cengkraman tangan Len terlepas. Kali ini dia akan membiarkan Rin. Walau memang mengganggu, tapi dia sudah benar-benar bagaimana Rin sampai hal terkecil sekalipun.

"Jadi untuk alasan apa?" tanya Len ketus.

"Fufufu. Aku datang untuk menolong Kaito-nii."

"He? Aku?" Kaito yang merasa terpanggil ikut merespon.

Lalu tiba-tiba saja, entah dari mana berasal sebuah botol yang terbuat dari kaca muncul di tangan Rin. "Ini dia!"

"Maaf. Tapi aku tidak minum Sake." Belum sempat Rin menjelaskan apapun, sudah terlebih dulu Kaito menolaknya ketika melihat botol mencurigakan itu.

"No. No. No." Rin menggeleng. "Ini adalah apa yang kau butuhkan, Kaito-nii. Bukan Sake." Seringai mencurigakan muncul di wajahnya.

"Rin... kuharap kau tidak membawa barang aneh lagi." Sudah menjadi kebiasaan gadis super ceria itu untuk membawa benda-benda aneh, Len tahu betul karena sering menjadi korban keganasan Rin.

"Fufufufu. Apa Miku-nee masih membencimu?" tanya Rin. Dia berjalan menghampiri Kaito dan menyodorkan botol itu. "Maka isi dari botol ini adalah jawabannya... Kau percaya ramuan cinta... bukan?" Dia kembali menyeringai.

Kaito menatap botol yang ada di tangan Rin dengan seksama. Ramuan cinta katanya? Mana mungkin hal seperti itu ada. Jikalau memang ada, bukankah itu akan sangat berbahaya?

"Rin..." Len mengehela napas. "Tidak ada benda seperti itu, kau tahu?"

"Tentu saja benda seperti itu ada. Aku sering melihatnya di dalam Shoujo Manga dan Novel romansa komedi. Nyahahahaha!"

Kaito dan Len kehabisan kata-kata. Apa yang sebenarnya dilakukan gadis satu ini? Shoujo Manga? Memangnya kita berada di dunia mana?

"Memangnya selama ini apa saja yang kau lakukan dengan Luka?" tanya Len. Dia tahu siapa orang yang menyebabkan Rin sampai seperti ini.

"Luka-nee memberiku banyak bacaan bagus." Rin mengacungkan jempol. "Dan aku melihat kondisi yang sama dengan salah satu Shoujo Manga yang pernah kubaca. Jadi aku buat ini khusus untuk Kaito-nii dengan menggunakan kekuatan Gumi!"

Bukannya Kaito tidak mau percaya, hanya saja dia sedikit ragu dengan Rin. Pasalnya dia sama sekali belum pernah mendengar ada hal seperti ramuan cinta atau sejenisnya selama dirinya hidup.

"Err... kau yakin?"

"Tenang saja. Cerita ini juga bergenre romansa komedi. Kurasa tidak apa-apa jika ada beberapa benda ajaib seperti ini muncul tiba-tiba."

"Yah, Rin. Kau seharusnya tidak mengatakan hal itu."

"Nyahahaha! Pokoknya kau coba saja dulu!"

Kaito mengambil botol tersebut. Sekali lagi, dia memperhatikan setiap detail dari benda kaca itu. Di dalam botol terisi penuh dengan cairan berwarna merah muda.

"Tapi jika aku menggunakannya, bagaimana dengan Miku? Bukankah itu sama saja dengan aku memaksa Miku untuk mencintaiku?" Entah kenapa Kaito merasa khawatir jika dia benar-benar menggunakannya.

Rin berpikir sejenak. Memang yang dikatakan Kaito ada benarnya. "Kaito-nii. Cinta itu adalah hal yang murni. Jika Miku-nee tiba-tiba jatuh cinta padamu, maka dia akan benar-benar melakukanya dari dalam hati. Nyahahahaha!"

Walau kau kata-kata itu ditujukan untuk menyemangati Kaito, tetapi itu sama sekali tidak menghilangkan keraguan dalam hatinya. Namun disaat yang sama juga, sebagian dari dirinya yang lain juga ingin merasakan dicintai oleh istrinya. Sekarang, hatinya malah menjadi bimbang.

"Mah, aku juga tidak memaksamu untuk menggunakannya. Untuk sekarang, kau simpan saja dulu sampai kau punya kepastian dalam hati."

Dan pada akhirnya, Kaito menuruti apa yang dikatakan Rin. Botol tersebut dia simpan di dalam tasnya untuk dibawa pulang. Tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi harapannya semoga saja bukan hal yang buruk.

"Jika kau sudah selesai, sebaiknya kau pergi. Kami sudah banyak membuang-buang waktu karena kau," perintah Len.

"Aye! Aye! Pak!" Rin langsung menurut pada kakaknya. Namun sebelum pergi, dia memberikan hormat kepada dua pemuda di hadapannya dan langsung mengambil langkah seribu dari ruangan itu.

"NI! NO! NI! NO!" Tidak lupa juga dengan suara sirinenya.

Akhirnya Len dapat bernapas lega. Adik yang sangat mengganggu telah pergi dan dia bisa kembali berkutik dengan pekerjaanya.

Di tengah-tengah kesibukaan mereka, Len melihat raut wajah Kaito yang masih menyiratkan keraguan. Sepertinya ulah Rin benar-benar mengganggu pikiran orang itu.

"Kau mau menggunakannya?" tanya Len meyakinkan.

"Ah... yah... sebenarnya tidak juga." Namun Kaito masih bimbang.

"Anak itu selalu saja membuat masalah."

"Kau tidak perlu memarahinya juga. Dia sudah berbaik hati membantuku. Walau memang dengan cara yang sedikit ekstrim."

"Sebaiknya kau tidak menyesali perbuatanmu nanti."

"Aku mengerti..."

.

.

.

.

.

Seluruh makanan telah tertata rapi di atas meja. Kaito telah selesai mempersiapkan makan malam di rumah. Tentu saja makanan itu sudah dicampurkan dengan barang pemberian dari Rin. Pada akhirnya dia jatuh ke dalam rencana iblis kecil itu untuk membuat Miku jatuh cinta padanya walau dengan sedikit paksaan.

"Yosh!" Kaito mengangguk mantap, seperti seluruh keraguannya telah hilang dari hati. Sekarang yang perlu dilakukannya hanya menunggu sang target datang.

"Ah? Kau menyiapkan malam?" Baru saja dibicarakan, sang gadis sudah tiba di ruang makan.

"Ngg... tidak apa-apa, bukan? Sekali-sekali aku ingin makan malam bersamamu," jawab Kaito tersenyum sedikit ragu-ragu.

"Hee... kau boleh juga. Kupikir kau tidak bisa memasak."

"Sebenarnya, aku hanya membeli ini."

Miku terdiam. Sepertinya sia-sia dia memuji Kaito. Mah, tapi itu tidak menjadi pikirannya. Dia berjalan perlahan menuju meja. Iris Emerald miliknya melihat-lihat makanan yang tersedia di atas meja. Semuanya cukup menggiurkan, membuatnya menjadi lapar.

"Kau suka bukan? Ini adalah makanan kesukaanmu." Melihat ekspresi yang sepertinya senang membuat Kaito tersenyum.

"Ti–tidak juga," jawab Miku gugup. "Ta-tapi aku akan memakannya sebagai rasa terima kasih karena sudah bersusah payah menyiapkan ini semua untukku."

Tidak ingin membuang waktu lagi, Miku segera menarik kursi dan duduk di sana. Kaito juga mengambil tempat duduk yang berseberangan dengan gadis itu.

"Tapi kuharap kau tidak mencampurkan benda-benda aneh ke dalam makanan ini. Seperti ramuan cinta." Tatapan tajam penuh selidik mengarah langsung kepada Kaito.

Mendapat tatapan seperti itu, Kaito kembali merasa gugup seketika. Bagimana Miku bisa tahu? Apa Miku melihatnya saat dia mempersiapkan makan malam?

"Ahahahaha..." Kaito tertawa hambar dengan sedikit keringat mengucur di tubuhnya. "Ma-mana mungkin benda seperti itu ada, iyah bukan?" tanyanya berusaha mengelak.

"Tentu saja ada. Aku sering melihatnya di dalam Shoujo Manga dan Novel romansa komedi."

"Memangnya apa saja yang kau lakukan dengan Luka selama ini?"

"Luka-nee memberiku banyak bacaan bagus."

Kaito berhenti sejenak dari percakapan. Entah kenapa dirinya merasakan sebuah hal ganjil disini, merasakan sebuah Deja Vu. Seperti ada kejadian yang sama dia lihat sebelumnya seperti ini. Walau dia tidak tahu dimana dan kapan itu terjadi, tapi yang pasti itu bukan hal yang penting untuk dipikirkan.

"Kau tidak mau makan?" tanya Miku yang lebih dahulu makan. Aktifitasnya terhenti sejenak ketika melihat Kaito yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. "Kalau kau tidak mau, akan aku habiskan semuanya."

"Eh?" Mendengar Miku berbicara padanya, Kaito kembali dalam kesadaran. "Ah... Iyah. Tidak apa. Kau habiskan saja jika kau memang menginginkannya. Aku tidak masalah kok," tolaknya dengan senyuman.

Seperti hari ini adalah hari keberuntungannya bisa memakan makanan favorit, membuat Miku merasa sangat senang. Tapi dia harus menyembunyikannya. "He–heee... Ka–kau yakin? Ja–jangan sampai menyesal," ancamnya gugup karena menahan rasa senang terlalu banyak.

Pandangan Kaito terus melekat kepada Miku yang sedang melahap makanan dengan semangat. Dia menopang dagunya dan membuat senyuman kecil dibibirnya. Hanya dengan melihat Miku senang saja sudah bisa membuatnya ikut senang.

Oke, sejauh ini rencana Kaito sudah dengan berjalan baik. Sekarang yang perlu dilakukannya adalah menunggu Miku selesai makan dan efeknya bekerja.

Tiga puluh menit berlalu begitu saja di ruangan kecil itu. Miku telah selesai dengan aktifitas makannya. Seluruh piring di meja makan bahkan telah dibereskan oleh gadis yang cukup rajin itu.

"Akhirnya selesai," ucap Miku setelah selesai membersihkan seluruh peralatan makan yang dia gunakan. "Selanjutnya apa yah..."

Pandangan Kaito sama sekali belum terlepas dari Miku. Sepanjang waktu ini dia terus memperhatikan gerak-gerik istrinya, berharap ada sesuatu yang berbeda.

Namun bukan hasil dari rencana yang didapat, itu malah membuat Miku terganggu. "Ada apa apa kau terus menatapku seperti itu?" Dia balah menatap pada Kaito.

"Aaa... Etto... Tidak apa-apa..." Kaito tersenyum aneh mendapat tatapan seperti itu. "Itu... hanya saja apa kau tidak merasakan sesuatu yang berbeda setelah makan?"

"He? Uhmmm..." Miku berpikir sejenak. "Tentu saja. Aku menjadi tidak lapar lagi."

"Bukan itu yang aku maksud. Sesuatu yang beda dari biasanya."

"Aku tidak pernah mendengar ada seseorang yang berubah menjadi super setelah selesai makan."

"Ahahaha..." Memang Miku tidak salah menjawab itu, tapi itu bukanlah yang Kaito inginkan. Apa mungkin ini memang tidak bekerja?

"Ahh!" pekik Miku seperti sedang teringat sesuatu. "Pantas saja... aku merasa kekurangan..."

Seperti mendapat lampu hijau, Kaito langsung menatap Miku dengan harap-harap cemas. "Apa itu?"

"Aku lupa menonton Anime yang akan tayang malam ini." Tanpa memikirkan perasaan Kaito sedikitpun, Miku langsung berlari menuju ruang di mana televisi berada dan menyalakan. "Syukurlah belum terlambat." Dia langsung melemparkan tubuhnya untuk bersandar di sofa dengan perasaan lega.

Sedangkan pemuda yang ditinggalkan sendiri terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Apa ini? Kenapa tidak terjadi apapun? Apa dia sedang dibohongi oleh Rin?

Oke, mungkin yang terakhir sedikit berlebihan karena Kaito tahu bahwa adik kembar Len itu sama sekali tidak suka berbohong, walau sikap cerianya memang tidak bisa tertolong.

"Haaa..." Hela napas pasrah terhembus dari mulut Kaito. Sekarang apa yang harus dilakukannya setelah semua berjalan sejauh ini? Mungkin, dirinya harus menunggu sedikit lebih lama lagi.

Kaito sekali lagi melekatkan pandangannya pada Miku yang sedang asyik menonton televisi. Gadis itu hanya duduk di sana untuk beberapa waktu, dan bergerak hanya untuk mengambil camilan dan minuman untuk teman menonton.

Tidak ada pergerakan yang sepertinya akan mendukung rencana, membuat Kaito dilanda bosan. Hanya memperhatikan Miku tanpa melakukan apapun, terlihat seperti orang bodoh.

"Akhirnya selesai..." ucap Miku dengan wajah berbinar selesai dia menonton. "Sekarang aku ingin tidur." Dia beranjak dari sofa dan berjalan melewati Kaito begitu saja untuk pergi ke kamar.

"Ano... Miku?" panggil Kaito saat Miku hendak menaiki tangga.

"Hn? Apa?"

"Aku tidak ingin duduk sebentar dan minum teh bersamaku?"

"Tidak. Terima kasih. Aku ingin tidur." Miku kembali menaiki tangga. Namun sebelum sampai di atas, dia berhenti lagi sejenak dan menoleh ke belakang. "Oh iyah, hari ini kau terlihat sangat aneh. Sepanjang waktu terus menatapku dengan tatapan mesum... Aku tidak ingin kau menyentuhku. Malam ini kau tidur di luar!" Dan kemudian menghilang dengan suara pintu kamar yang tertutup dengan keras.

Kaito langsung membatu di tempat. Tanda mulutnya bisa berucap. Tatapannya kosong dan pikirannya melayang jauh entah kemana. Apa yang sedang menimpah dirinya hari ini? Bukan sesuatu yang baik yang dia dapatkan, malah menjadi semakin memburuk. Kita anggap saja ini adalah akibat dari orang yang berbuat curang, mungkin.

.

.

.

.

.

"HEE? AREEE?" Rin menggebrak meja kerja Kaito dengan kuat. "Tidak bekerja katamu?! Tidak mungkin!"

Kaito langsung mengembalikan botol yang dipinjamkan oleh Rin dengan isi yang masih tersisa setengah. "Aku tidak ingin mencobanya lagi. Dia malah semakin membenciku."

"Kenapa bisa begitu?! Alat-alat ajaibku tidak mungkin gagal!"

"Yah, yah. Untuk sekarang aku akan mengembalikan ini."

Rin mengambil botol itu dari Kaito. Gadis itu ingin memastikannya lagi bahwa tidak ada yang salah. Kedua matanya melihat seluruh botol dengan seksama. Dalam otaknya masih terngiang kata-kata 'gagal' atau 'tidak bekerja'. Karena memang dia tidak pernah gagal sebelumnya.

"Apa kemasan botol ini yang salah?" gumam Rin sambil mengecek seluruh bagian botol.

"Kurasa otakmu yang salah." Len yang baru saja tiba diruangan langsung menjawab. "Sudah kukatakan mana mungkin benda seperti itu ada."

"Tapi ini benar-benar ada!"

"Jika kau melihatnya di dalam Shoujo Manga, mungkin."

"Harusnya ini bisa bekerja dengan baik!?"

"Rin, kau tidak bisa membuat orang yang benci bisa langsung jatuh cinta begitu saja." Len mencoba menjelaskan kepada Rin dengan baik, berharap gadis itu bisa berhenti untuk melakukan hal yang mustahil.

Dan kata-kata Len barusan berhasil membuat Rin bungkam. Dia tersentak ketika Len mengatakannya, dan tidak membalas sama sekali.

"Bisakah kalian meninggalkanku sekarang? Banyak pekerjaan yang harus keselesaikan," pinta Kaito agar kedua orang di depannya mau memberinya waktu dan ruang untuk dirinya bekerja.

Tanpa perlu perintah lagi, Len menggangguk mengerti dan segera menyeret Rin yang tiba-tiba diam keluar dari sana.

Melihat gelagat aneh Rin yang sangat tidak terduga itu, membuat Len sedikit bingung. "Kau kenapa, Rin?" tanyanya ketika mereka sudah di luar.

Rin tidak menjawab, membuat Len semakin bingung. Biasanya, malah gadis ini tidak bisa diam sama sekali.

"Aku mengerti sekarang..." Setelah beberapa saat, akhirnya Rin mengeluarkan suara.

"Apa yang kau mengerti?"

"Len, benda ini sama sekali tidak bekerja pada Miku-nee."

"Sudah kubilang, bukan? Hal seperi itu–"

"Tidak." Belum sempat Len selesai berbicara, Rin langsung memotongnya sambil menyeringai penuh kemenangan. "Pada dasarnya, ini akan mengubah orang yang benci terhadap orang lain menjadi cinta. Tapi... ini tidak akan bekerja dua kali pada orang yang sudah jatuh cinta."

"Eh...? Jadi maksudmu..."

"Yah... tidak perlu dijelaskan lagi... AHAHAHAHAHAHAHA!"

.

.

.

.

.


~To Be Continued~


Dan, akhirnya selesai untuk chapter dua.

Pusing. #plakk.

Oke, bagaimana menurut para pembaca sekalian? Silahkan berikan kata-kata manis nan indah kalian di dalam kotak review yang sudah tersedia.

Saya sudah re-check sebelumnya untuk meminimalisir typo sebisa mungkin, tapi jika ada yang tidak terlihat oleh mata saya, mohon dimaafkan. Saya harap tidak terlalu mengganggu sih.

Dan, sekaian saja dari saya untuk kali ini. Do'akan saya yang terbaik untuk terus bisa menulis, saya bakalan update lagi jika sempat. Akhir kata saya ucapkan terima kasih, dan sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya atau mungkin di karya terbaru saya.

Jaa. Matta ne.