Disclaimer : SMEnt
Main cast : Byun Baekhyun Park Chanyeol
Supported cast: Sehun, Luhan. Kris, Tao. Kai, KyungSoo.
Gendre : Romance, Fantasy, Little bit Suspense
Theme : 4Season
Warning : DON'T LIKE DON'T READ. DO NOT COPY PASTE MY WORK. NO BASH my character in my fic.
dilarang memberi Flame, Konkrit diterima dengan open minded
Choco Momo
Presented
An AlhpaBethaOmega Universe Fanfiction
Monster
[Just Love Me Right ]
Story presented by © Sora Yagami
Inspired by © Monster_ EXO
Cast and anything in this story © belong to GOD
Debugging is anticipated with distaste, performed with reluctance, and bragged about forever.
– Anonymous
Bumi, Juni 3127 AD
Suara desahan. Dua tubuh saling bergumul berusaha mencapai kenikmatan seiring dengan hentakan yang bersahutan dengan geraman juga teriakan mengundang birahi.
Diatas peraduan yang menjadi saksi percintaan mereka panas di kala itu, napas keduanya saling bersahutan.
Chanyeol menggeram penuh kenikmatan ketika akhirnya mereka mencapai surga bersama-sama dengan tubuh mungil yang kemudian terkulai lemah di bawah kungkungan tubuhnya.
Memeluk erat tubuh itu ketika pelepasan menghampirinya. Memberikan seluruh inti sari tubuhnya hingga tidak ada lagi yang tersisa.
Baekhyun menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan tubuhnya bergetar dilanda kepuasaan.
Keringat membasahi tubuh keduanya namun senyuman tak pernah lekang dari bibirnya.
Chanyeol merunduk untuk meraup bibir merah yang tampak membengkak akibat perbuatannya, membawanya dalam sebuah lumatan yang panjang dan bergairah.
Baekhyun merengek dibawah tubuhnya, menginginkan lebih. Jemari tangannya bergerak untuk meremas tengkuk Chanyeol, seolah berusaha menahan agar apapun yang tengah mereka lakukan untuk tidak berakhir seiring dengan tautan lidah mereka yang menjadi semakin liar.
Baekhyun terengah-engah di bawah tubuhnya dan membuat Chanyeol dengan terpaksa melepaskan ciuman mereka.
Untuk sesaat yang terasa seperti selamanya, Chanyeol menatap wajah cantik dengan rona merah di bawahnya. Ini adalah apa yang selalu dia harapkan setiap hari.
Menatap wajah orang yang dia cintai dengan seluruh jiwa raganya.
"Aku mencintaimu," kata-kata itu terucap begitu saja dari bibirnya, membuat senyuman penuh kebahagiaan mengembang di wajah cantik pasangannya.
Baekhyun tersipu, memberikan kecupan singkat di sudut bibirnya sebagai balasan. "Aku juga mencintaimu."
Chanyeol menyatukan kening mereka sebelum kemudian menarik tautan tubuh mereka dibawah sana dan menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Baekhyun.
Memeluknya erat seolah tiada lagi hari esok untuk mereka saling melepaskan kerinduan dan berbagi cinta.
Baekhyun membawa tubuhnya untuk berbaring miring sembari menatap wajah Chanyeol. Kedua mata lelaki itu tengah terpejam dan napasnya teratur. Rupanya Chanyeol telah menyeberang ke alam mimpi sendirian tanpanya.
Chanyeol adalah segala yang di harapkan. Lelaki itu mungkin memang bukan berasal dari kalangan atas, dia hanyalah seorang pegawai kantoran biasa namun justru hal itulah yang membuat Baekhyun tanpa ragu untuk menerimanya.
Bahkan meski Chanyeol gelandangan sekalipun dia tetap akan mencintai lelaki itu sama banyaknya.
Lagipula, lelaki sepertinya yang hanyalah seorang penjaga toko bunga memang sudah seharusnya menjalin hubungan dengan lelaki yang memiliki derajat yang sama bukan?
Bukan berarti pula dia mengharapkan lebih, hanya saja hingga sekarang dia tidak tahu status dari lelaki yang selama dua tahun terakhir menjalin hubungan dengannya.
Dia menduga Chanyeol adalah betha, karena hingga sekarang lelaki itu selalu berusaha menghindar ketika Baekhyun mencoba untuk menyinggung perihal tentang kelanjutan hubungan mereka.
Dia percaya pada Chanyeol tentu saja, hanya saja entah mengapa Baekhyun merasa bahwa seolah masih ada dinding pembatas di antara mereka dan lelaki itu tengah berusaha menyembunyikan sesuatu darinya dan setiap kali memikirkannya, sebersit firasat buruk melintas di benaknya.
Baekhyun menghela napas, apa yang sebenarnya tengah dia pikirkan?
Chanyeol mungkin hanya belum siap, lagipula dia juga tidak merasa perlu untuk mendesak lelaki itu.
Mereka akan berada dalam hubungan yang lebih serius jika memang waktunya tiba nanti, di waktu yang tepat dan itu jelas bukan sekarang.
Lagipula, memikirkan bahwa dia akan tinggal secara permanen bersama dengan Chanyeol di apartmen sederhana ini dan meninggalkan kedua saudaranya membuat Baekhyun tiba-tiba saja dilanda kecemasan.
Dia belum siap jika harus meninggalkan keduanya dalam waktu dekat dan dia bershukur karena Chanyeol juga sepertinya enggan untuk membicarakannya lebih jauh. Kadang-kadang dia merasa bershukur untuk itu.
Bakhyun beringsut dan membiarkan tubuhnya menjadi lebih rileks di dalam pelukan posesif Chanyeol kemudian jatuh kedalam tidur yang damai tanpa mimpi.
Saat terbangun, cahaya matahari merengsek masuk melalui jendela yang dibiarkan terbuka. Tirainya yang tipis dan sewarna madu bergerak perlahan saat tertiup angin.
Menatap wajah Chanyeol yang masih terlelap didalam tidurnya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untuknya. Lelaki ini begitu rupawan hingga kadang Baekhyun tidak dapat memercayai dirinya sendiri bahwa lelaki ini adalah miliknya.
Hidungnya layaknya busur panah. Bibirnya begitu sensual, mengecap bibirnya dengan penuh gairah. Seakan dewa tengah begitu bersuka cita ketika menciptakan sosoknya yang begitu sempurna dan menawan.
Baekhyun bergerak perlahan agar tidak membuat Chanyeol yang tengah beristirahat di dadanya terusik, memerhatikan jam dinding yang berdetak.
Jam sepuluh pagi. Mereka bangun begitu terlambat setelah bergumul hingga pukul empat pagi, itu jika dia tidak salah mengingatnya.
Dia harus bangun, dan itulah yang kemudian dia lakukan. Baekhyun bangkit dari posisi berbaringnya dengan sepelan mungkin, sedikit membetulkan letak selimut Chanyeol agar lelaki itu tidak terusik dalam tidurnya.
Mengusap kening Chanyeol dan mengecup bibirnya pelan.
Mengambil pakaiannya yang berceceran di lantai dan mengenakan kaus hitam Chanyeol yang kebesaran di tubuhnya, panjangnya mencapai pertengahan paha hingga mampu menutupi fakta bahwa dia tidak mengenakan apapun lagi dibaliknya.
Setelah meletakkan pakaiannya dan Chanyeol yang kotor di bak cuci, Baekhyun memutuskan untuk membuat sarapan.
Dia menemukan telur dan beberapa daging ham di dalam lemari pendingin. Ada jus jeruk yang mereka beli beberapa hari yang lalu, dia memutuskan untuk menghidangkannya sebelum membangunkan Chanyeol.
Membuat omlet dengan daging dan sayur. Menatanya diatas meja makan.
Dia tidak terlalu pandai memasak sebenarnya, Chanyeol jauh lebih berbakat melakukannya, tetapi dia harus bisa melakukannya jika dia ingin bertahan hidup dan menjadi suami yang baik kelak untuk mendampingi Chanyeol meski sebenarnya dia merasa tidak perlu untuk cemas jika menikah dengan lelaki itu.
Chanyeol terbukti jauh lebih mampu untuk mengurus dirinya sendiri.
Perutnya berbunyi, dia dan Chanyeol bahkan hingga melupakan makan malam mereka karena terjerat oleh birahi.
Baekhyun tersentak dan nyaris menjatuhkan sendok yang berada di dalam genggaman tangannya lalu berlari kedalam kamar Chanyeol ketika dia mendengar suara teriakan dari dalam kamar dan terkejut saat menemukan lelaki itu tengah mengerang diatas tempat tidur.
Berteriak kesakitan. Meringkuk tanpa kesadaran.
Tanpa berpikir panjang, Baekhyun menjatuhkan dirinya disisi Chanyeol dan menarik lelaki itu hingga masuk kedalam pelukannya.
"Chanyeol, apa yang terjadi?"
Apa Chanyeol terluka?
Kedua mata Chanyeol sontak terbuka dan bola matanya tampak berbeda. Warna hitam yang semula menghiasi manik itu memudar hingga nyaris berubah menjadi abu-abu.
Menatapnya kosong namun penuh kesakitan.
"Baekhyun?"
Lelaki itu menyerukan namanya namun entah mengapa dia merasa Chanyeol berada begitu jauh darinya. Seolah lelaki itu kehilangan pegangan dan tidak benar-benar berada di sini bersamanya.
"Aku di sini." Atas dorongan hati, Baekhyun meraih wajah Chanyeol dan memaksa kedua mata Chanyeol yang tidak fokus untuk beralih menatapnya.
Chanyeol mendekapnya begitu erat hingga tulang-tulang mereka menyatu. Menghapus segala jarak yang tercipta.
"Kau darimana? Kau tidak boleh meninggalkanku," ucapnya putus asa sementara pelukannya menjadi semakin erat.
Baekhyun mengusap punggung Chanyeol perlahan untuk menenangkannya. Membuat lelaki itu benar-benar merasakan kehadirannya dan meyakinkan dirinya bahwa dia memang berada di sini. Tidak sekalipun terbersit didalam benaknya untuk meninggalkan lelaki ini, yang terlihat begitu kuat namun juga begitu rapuh di saat yang bersamaan.
"Aku tidak pergi kemanapun Chanyeol, aku hanya pergi sebentar." Untuk pergi menyiapkan makanan karena memang itulah yang dia lakukan.
"Bohong!" Tudingnya. Suaranya keras. Tatapan matanya kembali tidak fokus.
"Aku ada disini Chanyeol. Bersamamu."
Baekhyun membawa jemari Chanyeol ke wajahnya, membiarkan lelaki itu benar-benar merasa atensi dari kehadirannya ketika pelukan itu kemudian terlepas. Chanyeol terus berusaha merapat kearahnya dan tidak membiarkannya menjauh barang sedetikpun.
Chanyeol menjadi lebih tenang kemudian, deru napasnya tidak lagi memburu dan saat menatapnya, kedua bola mata abu-abu itu telah menghilang. Berganti dengan seulas tatapan mata ramah yang begitu dikenalnya.
Perlahan, Chanyeol mengusap permukaan wajahnya dengan begitu lembut. "Berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkanku." Suaranya terdengar begitu putus asa seakan Chanyeol benar-benar bergantung akannya. Akan jawaban darinya.
Melihat betapa lelaki itu sungguh sangat mencintainya dan takut ketika dia pergi, membuat sudut hatinya menghangat.
Tanpa sadar senyum lembut penuh pengertian mengembang di wajahnya. Baekhyun meletakkan tangannya diatas tangan Chanyeol.
"Memangnya, jika aku pergi apa yang akan kau lakukan? Mematahkan kedua kakiku?" Baekhyun bertanya dengan kilatan humor di kedua matanya, terkekeh kecil untuk mencarikan suasaan yang entah mengapa terasa begitu menegangkan, namun Chanyeol tidak menjawab. Lelaki itu menatap tepat di kedua manik matanya dan sekali ini Baekhyun tahu bahwa Chanyeol benar-benar serius akan kata-katanya.
Baekhyun balas menatap mata itu dan berkata, "aku tidak akan pergi Chanyeol dan aku berjanji."
Chanyeol benar-benar menjadi tenang setelahnya.
Jemari Baekhyun mengusap peluh di kening Chanyeol perlahan. "Aku akan menemamimu sarapan, setelah itu aku harus pergi."
Chanyeol tampak tidak senang mendengarnya. "Tidak bisakah kau tetap tinggal Baekhyun?"
Baekhyun menggeleng. "Maafkan aku Chanyeol."
Dia ingin tinggal, namun dia tidak bisa meninggalkan saudaranya sendiri di rumah terlalu lama. Ini weekend, dan luhan tidak akan berada di rumah untuk menjaga Tao karena kedai tempat luhan bekerja justru dalam keadaain paling ramai ketika hari libur tiba.
Baekhyun membiarkan lelaki itu meraup bibirnya dan membawanya kedalam sebuah ciuman yang panjang. Melumat bibir bawah dan atasnya bergantian dalam keputusasaan, perlahan menenggelamkan mereka dalam napsu birahi.
Baekhyun adalah yang lebih dulu memutus pergulatan lidah mereka sebelum dia benar-benar terbuia dan membiarkan Chanyeol nendapatkan apa yang lelaki itu inginkan.
Agar dia tinggal lebih lama.
"Tunggu aku di meja makan."
Baekhyun berusaha mengabaikan tatapan penuh permohonan yang Chanyeol layangkan padanya dengan melangkah pergi ke dalam kamar mandi. Dia tahu lelaki itu memerhatikannya ketika dia berjalan membelakanginya.
"Kau terlihat menggairahkan dengan kaus itu. Dan aku suka mengetahui fakta bahwa kau mengenakan pakaianku setelah kita bercinta habis-habisan."
Baekhyun menoleh dan dengan sengaja memberikan tatapan menggoda. "Oh, kau tidak akan bisa membujukku kali ini sayang."
Chanyeol mendesah, meletakkan kedua lengannya di belakang kepala dan bersandar pada kepala ranjang. "Tidak ada salahnya untuk mencoba kan?" Senyumannya tampak begitu persuasif dan penuh oleh bujuk rayu, tapi Baekhyun tidak akan membiarkan dirinya terpengaruh.
"Jangan membuat ini menjadi sulit untukku Chanyeol, kau tahu aku tidak akan pernah bisa memilih antara kau atau saudaraku."
Chanyeol mendesah. Menyerah. "Aku tahu."
"Maafkan aku." Entah mengapa dia mengatakannya, dia hanya benci jika harus mengecewakan lelaki itu.
"Kurasa itu hanya karena aku terlalu merindukanmu, jadi aku tidak akan meminta maaf."
Baekhyun rasa itu lebih dari cukup.
Setelah menyegarkan diri di kamar mandi, Baekhyun melangkah ke dapur sudah dengan mengenakan pakaian lengkap. Dia memang acap kali menginap di apartmen Chanyeol ini sehingga dia sengaja meninggalkan beberapa pakaian untuk memudahkannya.
Dia menemukan Chanyeol hanya mengenakan celana olah raga abu-abu tengah berdiri di konter sembari menuang air kedalam gelas, meski dengan rambut yang acak-acakan, bekas cakaran di punggung dan hickey yang menyebar disekitar leher juga dadanya yang adalah hasil dari perbuatannya, entah mengapa dia tetap terlihat begitu panas dan menggairahkan.
"Suka dengan apa yang kau lihat sayang?"
Baekhyun hanya tersenyum mendengarnya, berjalan mendekat untuk mendapatkan ciuman di rahangnya.
Menikmati sarapan di pagi sembari mengobrol selalu menjadi saat-saat kesukaannya untuk menghabiskan waktu.
To be continued
BJM, 15 Juni 2017, 09:08:52
A/N: Secara resmi aku mengumumkan bahwa ini adalah Fanfic kesekian yang diposting untuk meramaikan akun ini tepat untuk merayakan enam tahun usia akun ini. Dan Fanfiction ChanBaek pertamaku. Aku senang bisa ikut meramaikan Fandom ini setelah sekian lama Vakum, dan Terimakasih Tuhan juga teman baiiku yang berhasil meracuni otakku setelah sempat memutuskan untuk rehat sejenak dari dunia Fanfic selama kurang lebih satu tahun.
NB: Kesamaan ide dan tema berkonsep ABO Universe adalah merupakan hal yang disengaja.
Ok, jadi cukup sampai disini dulu cuap-cuap kita kali ini.
so...
Enjoy the story!
and, let me know what you guys thinking about this story and give me some review.
Keep continue or deleted?
