My Choice

Chapter 2 : That Day

©2012

Disclaimer : Punya Crypton sama Yamaha!

Chara : Kagamine Twins, Shion Kaito, Hatsune Mikuo, Hatsune Miku

Genre : Romance/Humor

Rated : T

WARNING : fail humor. OOC (mungkin), typo(s).

A/N : - Normal POV

.

.

Rin tersenyum-senyum sendiri melihat layar handphone-nya.

"Hei," Len menepuk pundak Rin sampai yang ditepuk pundaknya berseru kaget dan mengagetkan sang penepuk /senjatamakantuan(?)/.

"Apaan sih?" kata Rin kesal, "mengagetkanku saja!"

Len mencibir, "Kau terlalu sibuk bertingkah aneh, makanya tidak menyadari kedatanganku!"

"Siapa yang bertingkah aneh?" balas Rin.

"Tidak usah kuberitahu, pasti kau sudah tahu, kan?"

Rin mengendikkan bahunya, tidak peduli lagi, "Terserah kau,"

"Berapa hari ini kau sibuk dengan handphone-mu!" tukas Len, kesal karena merasa tidak diacuhkan, "bahkan saat Mikuo datang membawakan kue kesukaanmu pun kau masih saja sibuk dengan handphone-mu! Sebenarnya kau kenapa sih?" omel Len.

"Kau yang kenapa, Makhluk Shota? Mengomeliku tanpa alasan," Rin mengerutkan keningnya, menatap Len dengan tatapan kesal karena diomeli, "bahkan kau menyebut nama Mikuo. Huh! Aku benci dengan nama itu, kau tau?"

Len balas menatap Rin, tapi dengan pandangan miris, "Kau masih ingat hari itu, kan?"

"Jangan ingatkan aku."

Len bangkit, lalu keluar dari kamar Rin.

Rin mendesah pelan saat melihat Len pergi dengan tampang kesal campur kasihan, "Len. Kumohon, jangan ingatkan aku. Jangan ingatkan aku," bisiknya.

.

.

Flashback

.

Rin membuka kotak surat. Lalu menemukan sebuah amplop tanpa perangko di dalamnya. Rin mengambil surat itu dengan pandangan heran. Ia membolak-balikkan surat itu, berharap ada nama sang pengirim surat. Tapi nihil. Yang ia temukan hanya namanya. Berarti, surat itu ditujukan kepadanya.

Akhirnya Rin membawa surat itu ke kamarnya. Sampai di kamar, Rin membuka surat itu dengan hati-hati dan membacanya dengan teliti.

Untuk Kagamine Rin.

Kau tahu apa yang lebih manis dari gula?

Kau tahu apa yang lebih cantik dari kupu-kupu?

Kau tahu apa yang dapat membuatku terbang tanpa sayap?

Senyumanmu lebih manis dari gula.

Kau lebih cantik dari kupu-kupu.

Suaramu bernyanyi dapat membuatku terbang tanpa sayap.

Rin serta merta blushing sebelum membaca seluruh isi surat itu.

"Siapa yang mengirimkan ini?" gumamnya, "siapa?" ia kembali membolak-balikkan amplop surat tersebut. Tapi hasilnya sama seperti sebelumnya.

Rin melanjutkan membaca.

Kau tahu sekarang tanggal berapa?

Kau tahu sekarang bulan apa?

Apa kau tahu aku siapa?

Apa kau tahu kenapa aku mengirimimu surat?

Sekarang tanggal satu, Rin.

Sekarang bulan April, Rin.

Aku adalah seseorang yang sudah mengenalmu sejak kecil. Tapi aku bukan Len.

Aku mengirimimu surat karena...

Aku...

Aku...

Aku...

MENIPUMU. April mop! Kena kau :P

Rin membulatkan matanya. Wajahnya memerah. Bukan, bukan malu. Tapi karena marah.

"MIKUOOOOO!" teriak Rin kesal. Dirobeknya surat itu. Lalu saat surat itu sudah menjadi robekan-robekan kecil, Rin mencampakkannya ke lantai. Lalu dengan ganas Rin menginjak-injak robekan-robekan surat itu.

Lalu Rin keluar dari kamarnya, dan berlari menuju rumah Mikuo yang terletak persis di depan rumahnya. Dengan tidak sabar, Rin mengetuk-ngetuk pintu rumah Mikuo, "MIKUO! KELUAR KAU!"

Tidak lama setelah Rin berteriak menyuruh Mikuo keluar, seseorang berambut biru muda membuka pintu, dan bertanya, "Ada apa—eh? Rin? Tumben kau berkunjung?" Mikuo tersenyum manis.

Biasanya wajah Rin memerah melihat senyuman Mikuo itu, tapi kali ini Rin tidak peduli. Ditariknya baju Mikuo di bagian pundak, dan mendekatkan wajah Mikuo ke wajahnya, "Apa... maksudmu dengan surat itu?!" bentak Rin to the point.

"Surat? Surat apa?" Mikuo memasang wajah blo'on.

"Surat... yang kau taruh di kotak surat rumahku dan ditujukan padaku! Jangan bilang kau tidak tahu! Kubunuh kau!" Rin menuding wajah Mikuo yang jauh lebih tinggi darinya.

Mikuo menatap wajah Rin lekat-lekat, "Ah! Surat itu, ya? Maaf, aku bercanda. Lagipula ini kan April Mop. Aku berhak membohongimu, kan? Maaf," lirih Mikuo.

Rin menatap garang wajah Mikuo, lalu melepaskan cengkaramannya, "Oke. Aku terima permintaan maafmu," Rin berbalik, berniat pulang. Ia iba melihat wajah Mikuo yang seperti memelas.

"Rin!" Mikuo menggenggam tangan kanan Rin sebelum Rin menjauh.

Rin menoleh ke Mikuo, "Y-ya?" jawabnya gugup.

"Sebenarnya... aku... aku benar-benar menyukaimu, Rin! Jadilah pacarku!" Mikuo menundukkan kepalanya.

Rin sempurna memerah wajahnya. Ia memang suka dengan Mikuo dari kelas lima SD. Tidak disangkanya Mikuo ternyata menembaknya hari ini, "Na-nani?"

"Aku menyukaimu! Kau dengar atau tidak? Jangan-jangan kau sekarang tuli, hah?"

Rin menjitak Mikuo.

"Jadi... jawabanmu?"

"Eh—aku.. aku—" Rin tidak tahu ingin menjawab apa.

Mikuo menatap Rin yang gugup setengah coretmampuscoret mati. Lalu tiba-tiba Mikuo tertawa keras.

Rin terkejut dengan suara tawa Mikuo, "Ada apa?" tanya Rin.

"KENA KAU! Maaf, tadi aku hanya bohong! April Mop! Dua-kosong untukku, Ka-ga-mi-ne Ri-n!" Mikuo membuat wajah penuh kemenangan.

Rin marah. Benar-benar marah. Ditendangnya wajah Mikuo tanpa ampun.

"Kau menyebalkan, Mikuo. BENAR-BENAR MENYEBALKAN!" jerit Rin ke Mikuo yang sedang mengaduh memegangi wajahnya yang habis ditendang Rin dengan sekuat tenaga.

Rin berlari pulang, lalu membanting pintu rumahnya.

Mikuo memaksakan membuka matanya untuk melihat Rin, ia meringis. Lalu bergumam pelan, "R-Rin..."

.

Flashback end

.

.

Rin menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sehari setelah ia menendang wajah Mikuo saat itu, Mikuo tidak datang kesekolah selama seminggu. Bahkan setelah seminggu pun, wajah Mikuo masih terlihat bengkak.

"Huh. Itu salahnya. Kalau saja ia tidak membohongiku, dia tidak akan mendapat tendangan," cibir Rin. Tiba-tiba handphone miliknya bergetar, tanda ada sms masuk. Rin dengan bersemangat membuka pesan yang masuk.

From : Mikuo

Sub : Bukakan pintu.

Rin, aku di depan pintu rumahmu. Len tidak ada dirumah ya? Tolong bukakan pintunya.

Rin mendengus kesal, menuju ke bawah untuk membuka pintu.

"Ah! Sudah lama kita tidak bertemu, ya? Tiap aku main kesini, Len selalu bilang bahwa kau sibuk," kicau Mikuo saat melihat wajah Rin.

"Apa tujuanmu?" balas Rin dingin, tanpa melihat wajah Mikuo. Ia menatap lurus kedepan. Ya, walaupun Rin menatap lurus, yang ditangkapnya bukannya wajah Mikuo, karena Mikuo jauh lebih tinggi darinya.

Mikuo agak menunduk untuk menyamakan tinggi wajahnya dengan wajah Rin, "Kau kenapa?"

Rin membuang muka, "Sudahlah. Apa tujuanmu kesini? Menggangguku? Menipuku lagi?"

Mikuo melongo, "Rin—jangan-jangan... kau masih ingat saat itu ya?"

Rin tidak menjawab.

"Rin. Maaf—aku.. aku tidak bermaksud.. ergh—aku.."

"Kalau kau tidak ada urusan, lebih baik kau pulang!" bentak Rin.

"Uwoh, galak sekali seperti biasanya. Aku hanya ingin mengantarkan tart jeruk ini. Buatanku," Mikuo menyodorkan sebuah kotak berisi tart jeruk kepada Rin.

Sekali ini Rin menatap Mikuo, "Maaf aku membentakmu. Terimakasih, kau baik sekali... Mikuo," Rin menerima kotak tart itu dari tangan Mikuo dengan tangan kanannya.

Mikuo tersenyum dan mengangguk. Lalu ia pamit.

Rin menatap punggung Mikuo yang semakin menjauh. Sesaat kemudian wajahnya menghangat dan memerah, "Uh! Rin, Rin! Jangan terpana dengan kebaikan Mikuo! Pikirkan Kaito. Kaaaaitooo," gumam Rin, menepuk pipinya dengan tangannya yang bebas. Lalu Rin berbalik dan masuk kembali kerumahnya. Tart dari Mikuo ia simpan di kulkas, untuk dimakan bersama Len saat Len pulang nanti.

"Oh ya. Ngomong-ngomong... Len kemana ya?" tanya Rin kepada dirinya sendiri, "kurasa dia tidak bilang padaku ia akan pergi hari ini? ... ah, sudahlah!" Rin mengendikkan bahunya tidak peduli.

Sementara itu, di rumah Mikuo.

Mikuo tersenyum kepada sosok di depannya, "Terimakasih sudah membantuku,"

"Oke! Panggil aku kapan saja kau butuh bantuanku,"

Mikuo mengacungkan jempolnya, "Siiip! Kau memang sahabatku!"

"Tentu saja!" sosok itu tertawa, "Oh ya, apa kau punya game baru? Aku akan disini sebentar lagi."

Mikuo mengangguk, menunjukkan kaset game-nya yang baru, "Kalahkan aku kalau kau bisa," tantang Mikuo kepada temannya itu.

"Menantang ya? Kalau kau kalah, traktir aku selama seminggu di toko burger depan stasiun, oke?"

Mikuo menyanggupi.

.

.

.

Lagi-lagi bersambung! xD

Hehee~ selesai sudah chapter ini.

Ohiya, sebenernya, chap ini udah lama selesai. Saya males banget ngapdetnya. /pluk. Enjoy reading ya.

.

.

Chapter 3 : Len

Rin menatap Len dengan tatapan membunuh. Len, yang ditatapi Rin, hanya bergerak-gerak gelisah di tempatnya duduk.

"Len... kau jahat!" jerit Rin.

"Ri-Rin! Maaf, aku hanya..." Len berusaha menjelaskan. Keringat membasahi wajahnya. Tapi Rin menggeleng, tidak mau mendengar penjelasan Len.

.

.

Len disebut jahat oleh kembarannya sendiri, Rin. Ada apa sih? Tunggu chapter berikutnya kelar! See ya!