Suara burung hantu mengisi kesunyian malam musim gugur di pinggiran Imladris. Derap kaki kuda turut mengisi malam yang sunyi. Boromir yang tengah menunggangi kudanya melirik ke kanan dan ke kiri, meningkatkan kewaspadaannya.
Tetapi saat pria yang juga bertubuh tegap itu merasa dirinya dilempari bekas apel, emosinya mulai tersulut. Kepalanya mendongak ke atas, lalu memicingkan kedua matanya. Kedua mata tajamnya menangkap pria berambut pirang kecokelatan yang tengah duduk di atas dahan pohon sambil makan anggur.
"Siapapun di situ, turunlah!" seru Boromir. Aranhil langsung melompat turun, dan sedikit terkejut saat melihat Boromir yang juga terkejut karena melihat Aranhil.
"Komandan, kenapa kau di sini?" tanya Aranhil. Boromir menepuk dahi.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Thorongol!"
"Tolong maafkan aku, Komandan. Tapi nama asliku itu Aranhil. Aku berkelana dengan memakai banyak nama."
Dahi Boromir langsung berkedut. Di bawah belaian lembut sinar perak rembulan, putra sulung Denethor itu tengah diterpa kebingungan sekarang. Karena dua tahun lalu, jelas orang di depannyalah yang mengirimkan surat pengunduran diri padanya.
Padahal sosok Thorongol adalah kandidat terkuat untuk calon Kapten Gondor selain adiknya, Faramir. Di awali dengan helaan napas yang penuh asap putih, Boromir bertanya tentang letak Imladris. Aranhil menjawab jika Imladris sudah sangat dekat. Boromir berterima kasih, tapi kudanya tak juga bergerak, membuat Aranhil sedikit bingung.
"Apa ada yang salah?" tanya Aranhil. Boromir menggeleng pelan, lalu mengarahkan kudanya untuk mendekati Aranhil.
"Kau sangat kurus, Aranhil. Lalu, tolong berhenti memanggilku Komandan, kau bukan anak buahku lagi," tutur Boromir. Aranhil tersenyum kecil, lalu mengikuti Boromir.
"Akan kuingat hal itu, sobat."
Boromir tersenyum dan membiarkan Aranhil mengikutinya. Pria berambut cokelat itu bertanya kenapa Aranhil bisa sampai ke Imladris. Aranhil mengatakan jika dirinya diserbu empat lusin orc saat ada di belantara, padahal sebenarnya dia bukan hanya diserbu empat lusin orc. Sebelah alis Boromir sempat terangkat.
Aranhil menambahkan jika itu adalah serangan kejutan. Boromir mengangguk. Jendral Gondor itu tahu betul kemampuan Aranhil, sehingga dirinya mengerti mengapa Aranhil sampai harus dirawat di Imladris.
Gerbang utama Imladris sudah terlihat. Wajah Boromir berubah cerah. Aranhil tertawa kecil, merasa lucu dengan respon Boromir. Tapi di sisi lain, Aranhil paham kenapa Boromir bisa secerah itu. Karena setahu dirinya, inilah kali pertama Boromir pergi sangat jauh dari Gondor.
Pagi mulai menyingsing. Sinar mentari menyembul dari balik tebing timur Imladris. Para elf mulai bersenandung ria dengan suara jernih, tidak peduli jika nyanyian mereka tertutupi gemuruh air terjun Imladris yang amat deras.
Di dekat sebuah pondok, di bawah Pohon Maple berdaun oranye, Sam sedang duduk bersandar pada batang pohon itu. Pikirannya dipenuhi oleh kabar -nya. Bagaimana keadaan lukanya, apa dia masih kesakitan, dan yang paling penting, apa sudah siuman?
Dirinya jelas tidak tahu dan nyaris kehilangan harapan. Tapi Lord Elf berambut gelap itu tetap meyakinkannya, jika kemampuan penyembuh yang dimilikinya adalah yang terhebat di antara elf lain.
Gandalf juga terus-terusan meyakinkannya, Merry dan Pippin jika perkataan Penguasa Imladris itu adalah sebuah kejujuran. Hobbit berambut pirang itu sudah tidak punya pilihan lagi selain pasrah.
Tapi jauh di dalam dirinya yang berperangai lembut, Sam bisa saja mengamuk. Terutama jika mereka, yang meyakinkan Frodo akan siuman membohonginya, Sam akan dengan senang hati meninju mereka satu persatu hingga babak belur.
Di antara gemuruh air terjun, Sam mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya. Saat dia menoleh ke belakang, matanya yang menyiratkan kesetiaan menangkap sosok Merry dan Pippin yang berwajah cerah.
Sam sempat tidak mengerti kenapa mereka berdua terlihat sangat bahagia. Tetapi penjelasan Pippin langsung membuatnya mengerti akan satu hal. Frodo sudah siuman. Tiga kata itu sangat cukup untuk membuatnya meloncat-loncat bahagia.
Sekalipun kini muncul banyak kekhawatiran baru dalam jiwanya. Tapi yang terpenting, kedua matanya harus melihat dulu Frodo secara langsung. Barulah hobbit bertubuh sedikit gemuk itu bisa yakin dengan semua keyakinan yang dia terima selama ini.
Frodo menatap Elrond dan Gandalf dengan tatapan bingung dan terkejut. Apa yang ada dalam ingatannya hanya rasa sakit nan menyengat dari bahunya. Tapi kini, dirinya sudah ada di Imladris, dan langsung dihujani ribuan pernyataan oleh dua orang di depannya.
Mulai dari awal mula kedatangannya yang tiba-tiba, masalah Pedang Morgul, masalah cincin, Nazgul, dan berbagai masalah lain yang saling berkaitan. Semua itu menghujani kepala kecil Frodo tanpa ampun.
Hobbit berambut gelap itu benar-benar tidak menyukai semua ini. Tapi Elrond mengatakan, hanya orang-orang berhati teguh yang bisa melalui semua ini. Lord Elf itu juga meyakinkan jika para hobbit tidaklah sendirian.
"Lalu, siapa yang akan membantuku?" tanya Frodo.
"Kita akan mengetahuinya setelah mengadakan pertemuan. Tapi aku punya banyak kandidat kuat yang bersedia ikut," tutur Elrond. Sebelah alis Frodo langsung terangkat.
"Maaf?"
"Gandalf, Pangeran Mirkwood dan dua Ranger Dunedain terbaik. Baru mereka yang muncul dalam benakku."
Ranger Dunedain terbaik? Frodo tidak yakin dengan maksud Elrond. Karena setahunya, para ranger tidak akan mau berurusan dengan hal rumit. Tetapi saat dirinya mengingat Strider, Frodo membuat pengecualian untuknya. Meski baru sebentar bersama ranger misterius itu, tapi Frodo yakin jika Strider adalah orang yang Elrond maksud.
"Dalam keadaan begini, mustahil Lord Elrond akan berbohong," tambah Gandalf. Frodo tidak mengatakan apapun.
Keheningan yang mencekik menyusup dalam kamar yang Frodo tempati. Hobbit itu bingung dengan apa yang akan dilakukannya. Tapi kedua orang di depannya seolah amat mengerti dengan situasi yang tengah berlangsung.
Di tengah keheningan itu, Sam, Pippin dan Merry memasuki kamar Frodo. Ketiga hobbit itu langsung memeluk Frodo. Lord Elrond dan Gandalf mohon diri untuk pergi. Meninggalkan keempat hobbit tersebut untuk saling bercengkerama.
"Nah, jadi bagaimana kelanjutan rencana kita?" tanya Pippin.
"Pippin benar. Kita sudah memenuhi permintaan Gandalf untuk membawa cincin ke Imladris," tambah Merry.
"Mereka berdua benar. Kita cukup melakukannya sampai sini, ," timpal Sam.
"Tidak. Aku akan melanjutkannya," ucap Frodo dengan penuh keyakinan.
Ketiga teman hobbitnya langsung mengeluh. Tapi Frodo dengan sabar meyakinkan teman-temannya, bahwa hanya para hobbit yang bisa. Hal ini sangat terbukti oleh Bilbo yang menyimpan cincin terkutuk tersebut selama puluhan tahun.
Merry langsung protes. Dia bilang jika Frodo tidak sama dengan Bilbo. Frodo membenarkan. Tapi dirinya adalah keponakan Bilbo, jadi hal ini sangat pantas untuk dicoba. Kini giliran Sam yang protes tentang pembawa cincin.
Frodo kemudian menceritakan kisah Isildur yang baru didengarnya dari Elrond sebagai petunjuk bagi teman-temannya. Pippin dan Merry menyerah untuk meyakinkan Frodo. Sam masih berkeras, tapi Frodo kembali menyatakan tekad, membuat Sam menyerah secara perlahan.
" , tapi kenapa?" tanya Sam dengan nada putus asa.
"Kau akan memahaminya seiring waktu, Sam. Hanya kita yang bisa," balas Frodo.
"Tapi kenapa bukan yang lain? Strider lebih cocok untuk ini."
"Bahkan ranger terbaik tidak akan mampu menahan godaannya. Cincin ini sudah pernah dipegang manusia, dan mereka gagal. Jadi Gandalf dan Lord Elrond tidak mempercayai manusia sebagai pembawa cincin."
Bahkan di siang hari saat musim panas, Imladris tetap sejuk dengan kehadiran air terjunnya. Suhu udara saat musim gugur juga akan sedikit lebih rendah dari wilayah lain. Hal ini jelas terbukti. Angin dingin berembus lembut, membelai seisi Imladris dan meninggalkan kesegaran yang khas.
Rerumputan di Imladris juga mulai menguning, mewarnai tanah Imladris dan sekitarnya dengan warna emas yang lembut. Hal ini yang paling Aranhil suka dari musim gugur. Sewaktu rambutnya menjadi satu dengan rumput musim gugur, dan saat dirinya bisa menjahili seseorang dengan bersembunyi di rumput lalu mengagetkannya.
Tapi pria beriris hijau rumput tersebut sedang tidak ingin menjahili seseorang. Hal yang kini diinginkannya hanya berbaring di atas rumput, lalu menikmati angin musim gugur yang menyegarkan.
Kedua telinganya menangkap derap kaki yang berat. Aranhil menoleh ke kanan, mendapati sosok pirang Balrog Slayer mendekatinya. Aranhil langsung duduk dengan mata sayu. Dari kejauhan, Sang Kapten Imladris itu tersenyum kecil saat melihat Aranhil. Dalam genggaman tangan kanannya yang kekar, Sang Balrog Slayer, Glorfindel, terlihat membawa sebuah bungkusan kain berwarna hijau tua.
"Tumben sekali, Lord Glorfindel," ucap Aranhil. Glorfindel tersenyum tipis dan duduk di sebelah kiri Aranhil.
"Apa kau mau?" tanya Glorfindel sambil menunjuk bungkusan kain yang dibawanya. Aranhil menggeleng pelan. Glorfindel membuka bungkusannya dan memakan satu apel di dalamnya. "Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu, Aranhil?"
"Aku sudah normal sekarang, Lord Glorfindel. Terima kasih banyak karena sudah menculikku dari sana."
"Kau salah alamat, Aranhil."
"Eh?"
"Haldir yang membawamu kemari dari Minas Morgul, bukan aku."
Aranhil langsung memalingkan wajah. Kalimat terakhir Glorfindel benar-benar membuatnya kaget dan bingung. Karena seingatnya, firasat dan insting Haldir tidak terlalu tajam. Namun jika Penguasa Lothlorien yang membongkar semuanya, hal itu baru bisa diterima oleh logikanya.
"Ngomong-ngomong, Lord Elrond mengundangmu ke pertemuan besok," kata Glorfindel disela kunyahan apelnya.
"Pertemuan apa, Lord Glorfindel?" tanya Aranhil. Glorfindel menepuk dahinya.
"Demam tinggi dan infeksi parahmu tempo hari sepertinya sudah merontokkan memorimu."
Aranhil tetap diam. Pria yang juga berdagu licin tersebut tidak mengerti maksud Kapten Imladris tersebut. Sementara Sang Balrog Slayer berambut emas kembali menepuk dahi, berusaha untuk tidak frustasi, lalu mengatakan jika Aranhil dan Aragorn adalah sisa keturunan murni Isildur, yang secara otomatis membuatnya harus mengikuti pertemuan itu.
Aranhil sempat terkejut. Tapi setelah setengah jam berlalu, Aranhil bisa mengerti dengan nasib buruk yang belakangan ini menimpanya secara beruntun. Aranhil mengangguk pelan, menyanggupi undangan tersebut. Glorfindel langsung tersenyum cerah.
"Apa ingatanmu sudah kembali?" tanya Glorfindel. Aranhil mengangguk.
"Ya. Ingatan-ingatanku ini cukup untuk bekal petualangan baruku," ucap Aranhil.
Frodo berjalan dengan perlahan di bawah naungan banyak pohon. Semburat oranye menembus dedaunannya yang mulai berguguran, menciptakan suasana syahdu yang langka. Hobbit bertubuh kurus itu tengah mencari pamannya yang sudah lebih dulu pergi ke Imladris.
Matanya yang sayu berkeliaran ke sana ke mari, mencari sosok pamannya yang awet muda karena menjadi pembawa cincin selama puluhan tahun. Tapi menurut perkiraannya, pamannya, Bilbo, telah menua sesuai dengan umur aslinya. Jadi setidaknya, yang kini dicarinya hanya sosok mungil di antara para elf yang bertubuh tinggi.
Frodo terus berjalan, hingga matanya menemukan sosok renta pamannya. Bilbo, yang seluruh rambutnya telah memutih, tengah duduk di bangku sambil menulis di sebuah buku. Bilbo menoleh, tersenyum secerah mentari pagi, lalu menghampiri dan memeluk erat Frodo.
"Frodo, kau sampai juga!" sahut Bilbo gembira. Frodo hanya bisa mengangguk.
"Paman, bagaimana kabarmu?" tanya Frodo.
"Aku merasa sangat sehat sejak memberikan cincin itu padamu. Oh ya, apa kau akan menghancurkannya?"
"Ya, aku tidak punya pilihan lain. Gandalf sudah menceritakan semuanya padaku."
"Kalau begitu ikutlah dulu denganku."
Bilbo menarik tangan keponakannya itu ke kamarnya. Frodo hanya bisa pasrah, karena fokus utamanya kini adalah menghancurkan cincin yang mulai memakan pikirannya. Kedua hobbit beda generasi tersebut sampai di kamar Bilbo yang menghadap ke air terjun Imladris.
Hobbit tua itu langsung membuka tas ransel yang dia bawa dari Hobbiton. Frodo mengintip dari balik punggung pamannya. Kedua matanya sempat bercahaya saat melihat sebuah pakaian logam berwarna putih dan rantai perak yang sangat ringan. Bilbo berbalik menghadap Frodo sambil memperlihatkan pakaian putih dan rantai di tangannya.
"Pakailah baju ini," ujar Bilbo sembari menyerahkan pakaian lama dan rantainya pada Frodo yang terkejut saat menerimanya.
"Ringan sekali," kata Frodo. Bilbo mengangguk-anggukan kepala.
"Tentu saja. Bahan baju itu adalah Mithril, setebal sisik naga dan seringan bulu angsa. Aku mendapatkan ini saat berpetualang ke Erebor."
Sore berganti malam. Semburat oranye kian menggelap. Mentari telah turun dari singgasananya. Rembulan yang bersinar keperakan membelai lembut seisi Imladris yang cerah tanpa awan.
Aragorn berjalan santai di bawah sinar rembulan yang menembus sela-sela Pohon Elm. Wajahnya yang teguh karena ditempa cuaca tersinari oleh semburat perak rembulan, membuat kulitnya terlihat sedikit lebih cerah. Sebelah alis matanya sempat terangkat saat melihat Aranhil yang keluar dari Wilayah Penyembuhan Imladris.
Kedua Ranger Dunedain itu sempat saling bertukar tatapan untuk beberapa saat. Iris biru muda Aragorn menatap lurus ke dalam iris hijau rumput Aranhil, berusaha menggali identitas orang di depannya. Tetapi hanya keterkejutan yang dapat Aragorn lihat, membuat ranger berambut gelap itu terpaksa angkat bicara.
"Kukira hanya aku yang mewakili para ranger," ujar Aragorn. Aranhil hanya tersenyum. Aragorn sempat membulatkan kedua matanya saat melihat senyuman Aranhil.
"Aku ada di sini untuk penyembuhan. Maaf karena telah mengganggu," tutur Aranhil yang langsung pergi. Aragorn menahan tangan pria berambut pirang kecokelatan tersebut.
"Tunggu, apa kita pernah bertemu? Aku merasa tidak asing denganmu."
"Mungkin hanya perasaanmu saja. Aku hanya ranger biasa dan sebuah mesin pembunuh orc."
Ingatan lama Aragorn yang sangat berdebu kembali berputar. Serpihan ingatannya 46 tahun lalu, saat Aragorn dijebak seseorang di tengah belantara luas, kembali berkumpul menjadi satu ingatan yang utuh. Genggaman tangannya langsung melemah, membuat Aranhil bebas dari cengkeraman Aragorn.
Hal tunggal yang Aragorn ingat dari orang di depannya adalah kecepatan mengerikannya saat sudah memegang pedang. Iris birunya mendapati pedang yang sama dengan yang ada dalam ingatannya. Sepasang pedang kembar, sarung pedang sehitam langit malam dengan aksen tali emas yang mengelilingi sarung pedangnya. Aranhil terkekeh kaku saat menyadari arah mata Aragorn.
"Kau adalah orang itu, kan?" kata Aragorn memastikan. Aranhil mengangguk pelan. "Kalau begitu, aku yakin kau dalam keadaan terdesak sampai harus dirawat di sini."
"Ya, tapi tolong jangan ingatkan aku pada hal itu," pinta Aranhil. Aragorn terkekeh.
"Maaf, aku kelepasan. Ngomong-ngomong, siapa namamu? Kita belum sempat berkenalan saat itu."
"Aranhil, dan kau pasti Aragorn yang sangat terkenal di antara kita."
Aragorn tertawa. Padahal menurut dirinya sendiri, dia adalah ranger paling penyendiri. Aranhil bertanya pada ranger berambut gelap tersebut tentang kehadirannya dalam Pertemuan Cincin. Aragorn mengiyakan.
"Kalau begitu, sampai jumpa besok," ujar Aranhil. Sebelah alis Aragorn langsung terangkat.
"Itu berarti, apa kau juga akan ada di sana?" tanya Aragorn.
"Ya. Lord Elrond bilang jika wakil dari utara memang ada dua orang. Selamat malam, Aragorn."
Aranhil langsung berjalan lurus melewati Aragorn tanpa ekspresi berarti. Pria berambut pirang kecokelatan tersebut sebenarnya masih ingin mengobrol dengan Aragorn. Tapi saat melihat ekspresi muramnya, Aranhil memutuskan untuk tidak mengganggunya lebih jauh.
