More Than That
Jaehyun x Taeyong
.
.
.
"Ini lebih lama dari seharusnya. Kemana dia?" Chanyeol berkata sambil melihat jam tangannya, kelima kalinya dalam tiga menit terakhir. Pembayaran, surat kepemilikan dan segala kontrak sudah ditandatangani tapi Taeyong belum muncul.
Yoonoh tidak keberatan menunggu, pikirnya Taeyong pasti butuh waktu untuk pamitan pada siapapun yang dekat dengannya di tempat ini.
"Aku harap ini tidak membuatmu mengubah keputusan untuk membelinya." Chanyeol terdengar khawatir. Ini menyangkut reputasi bisnisnya di mata pelanggan. "Tidak biasanya seperti ini." Katanya membuat alasan. "Aku tidak bohong saat aku bilang mendidik semua slave di sini dengan baik."
Yoonoh hanya mengangkat bahu. "Tidak. Tidak apa-apa. Aku akan memeriksanya barangkali dia butuh bantuan dengan barang-barangnya. Kau bilang tempat tinggal mereka di bagunan sebelah, kan?" Yoonoh berkata sambil berdiri untuk menuju pintu.
Chanyeol sedikit terkejut tapi tetap mengikutinya, menutup pintu kantor di belakangnya.
Bangunan tinggi tempat tinggal para slave itu dicat dengan warna abu-abu kusam. Bagian dalamnya berupa satu ruangan besar diisi perabotan sederhana. Rasanya belum cukup layak untuk dijadikan tempat tinggal berpuluh-puluh orang dari segi fasilitas.
Yoonoh merasa kasihan pada siapa pun yang harus tinggal di sini. Membayangkan betapa banyak orang yang tidur beralas kasur lipat tipis di lantai ruangan ini tiap malam.
Dia berjalan untuk melihat-lihat. Di sebelah dapur ada belokan menuju lorong yang diujungnya terdapat tangga kayu. Lorong itu minim pencahayaan membuat Yoonoh tidak bisa melihat jelas. Ada sesuatu di kaki tangga. Matanya melebar saat melihat itu adalah tubuh seseorang sedang terbaring.
"Hei! Kau baik-baik saja?!" Yoonoh berteriak sambil berjalan mendekat karena tak mendapatkan respon. Dia berlutut di samping sosok itu dan membalikkan tubuhnya. Seketika panik saat melihat jika itu adalah Taeyong. Tidak sadarkan diri dengan kepala terluka dan mengeluarkan darah.
"Chanyeol ssi!" Seru Yoonoh.
Chanyeol langsung mendekat matanya melebar. "Apa yang terjadi?"
"Aku menemukannya sudah seperti ini."
"Dia pasti jatuh dari tangga. Tunggu sebentar, akan aku panggilkan seseorang untuk memindahkannya-"
"Kita harus membawanya ke rumah sakit."
"Itu tidak perlu-"
Yoonoh tidak mau mendengar perkataan Chanyeol dan tetap membawa si slave malang dalam pelukannya. Berlari keluar sambil menggendong sosok kecil itu.
"Kita ke rumah sakit."
Supir Yoonoh yang setia menunggu di luar, langsung membantu tuannya tanpa banyak bertanya. Melaju ke tempat yang diperintakan secepat yang dia bisa. Meninggalkan Chanyeol yang berteriak memanggil-manggil namanya.
Yoonoh tadinya hanya ingin membantu Taeyong mempunyai kesempatan untuk hidup layak. Tapi dengan kejadian ini dia tahu dia tidak bisa melihatnya terluka lagi. Yoonoh mencengkeram bahu sosok yang masih tak sadarkan diri di pelukannya saat mobil mereka semakin mendekati rumah sakit.
.
.
.
Setelah sampai di rumah sakit semuanya terasa kabur untuk Yoonoh. Dia tidak bisa berpikir jernih saat itu. Dokter sudah memeriksa Taeyong, selain luka di kepalanya yang kini sudah dibalut dia juga mempunyai banyak luka memar di tubuhnya dan belum sadarkan diri.
Chanyeol muncul tak lama setelah itu.
"Aku yakin kau satu-satunya orang yang membawa slavenya ke rumah sakit hanya karena luka ringan." Katanya dengan nada takjub.
Yoonoh yang sedang duduk langsung menatapnya tajam. Dia ingin menyangkal jika perkataannya sama sekali tidak masuk akal, bahwa luka itu sama sekali bukan luka ringan! Kepala Taeyong terluka dan mengeluarkan banyak darah demi tuhan! Tapi Yoonoh hanya diam saja karena menurutnya itu tidak perlu.
Bagaimanapun Chanyeol adalah orang yang tega menjadikan perdagangan manusia sebagai bisnis untuk mencari keuntungan.
Chanyeol meringis melihat tatapan itu seakan bisa membaca apa yang Jaehyun pikirkan. Dia menghela napas. "Kau mungkin berpikir jika aku adalah orang yang mengerikan dan kejam tapi ini adalah bisnis yang dibangun ayah dan kakekku. Aku tidak punya pilihan selain melanjutkannya kecuali aku ingin melihat mereka semakin menderita."
Yoonoh mendongak dan melihat ekspresi Chanyeol terlihat sedikit berbeda. Dia berpikir sejenak sebelum bertanya. "Kenapa kau tidak membiarkan saja mereka bebas?"
"Jika aku melakukan itu, kebanyakan dari mereka tidak akan punya tempat untuk pergi. Sebagian besar slave di tempatku adalah anak dari pasangan slave kami yang dinikahkan. Sebagian lagi dikirim atau dijual oleh keluarga mereka demi uang. Biasanya untuk melunasi utang. Jika mereka bebas, aku yakin mereka akan mempunyai kehidupan yang jauh lebih buruk dari hidup mereka saat ini. Setidaknya di tempatku mereka bisa makan teratur dan punya tempat tinggal. Aku memang tidak bisa membawa setiap slave yang sakit atau menderita luka ringan ke rumah sakit sepertimu ini, tapi ada dokter yang akan memeriksa kesehatan mereka setiap satu bulan sekali."
Hening sekali lagi membentang di antara keduanya. Yoonoh membiarkan informasi itu meresap dalam kepalanya.
Untuk sesaat Park Chanyeol terlihat tulus. Mungkin dia memang tidak seburuk itu dan benar-benar peduli pada keselamatan dan kesejahteraan para slavenya. Hanya saja dengan cara yang dia bisa.
Sama seperti Yoonoh.
"Semua orang layak bahagia. Taeyong layak bahagia." Chanyeol mengatakan itu setelah beberapa lama terdiam. "Jika boleh aku tahu, apa yang membuatmu memilihnya?"
Chanyeol hanya ingin tahu. Ada satu alasan yang hinggap di kepalanya. Tapi melihat pribadi Jung Yoonoh, itu membuatnya ragu. Yoonoh tidak tertarik untuk memiliki slave sebelumnya tapi kini justru membeli satu darinya.
"Aku tidak yakin. Aku hanya tertarik padanya saat aku melihatnya pertama kali." Yoonoh mencoba mengingat-ingat. "Mungkin karena dia terlihat... begitu rapuh dan butuh perlindungan?"
Chanyeol tersenyum tipis. "Sejujurkan aku senang. Taeyong anak yang cerdas, dia sedikit pemalu dan tidak banyak bertingkah tapi begitu peduli pada orang lain dan menggemaskan saat bersemangat. Perlakukan dia dengan baik, Prince." Chanyeol berkata sambil berdiri dari kursinya.
"Aku harus kembali ke pelelangan sekarang. Jika butuh sesuatu, jangan ragu untuk menghubungiku."
Itu kata-kata terakhirnya saat ia meninggalkan Yoonoh.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Mind to Review :)
