Wong Yukhei,
Lucas —begitu orang memanggilnya. Tampan; Kaya raya ; Jenius walaupun benci akan kata belajar . Tiga hal yang membuatnya berhak menyandang kata sempurna. Cassanova kampus.
Tindik tiga di telinga, rambut blonde yang dibiarkan berantakan dan gaya berpakaian serampangan adalah ciri khasnya. Namun hal tersebut tidak membuat sosok jangkung itu terlihat seperti preman.
Orang-orang yang bertatapan mata dengannya pasti akan merasakan debaran yang luar biasa. Belum lagi senyumnya yang dengan mudah terulas dari bibir tipisnya. Lucas adalah gambaran lelaki yang diidamkan semua orang untuk menjadi pasangan hidup.
Yeah.. Pemuda semacam ini lah yang telah menjadi sahabat seorang Lee Haechan selama dua belas tahun lamanya. Haechan —mahasiswa Bisnis semester empat yang dikenal kutu buku dan menjadi kesayangan dosen sejak ia menjadi peringkat satu paralel dalam penerimaan mahasiswa baru. Sudah pasti otaknya luar biasa cerdas. Sebelas dua belas dengan Lucas sendiri.
Selama dua belas tahun bersahabat, sikap manis dan lembut Haechan kepada Lucas bisa dihitung jari. Dia tidak suka memberi perhatian kepada pemuda itu secara terang-terangan. Apalagi sampai mengatakan kata 'sayang' padanya karena sanggup bertahan selama itu bersahabat dengan dirinya. Never! Menyiksa Lucas adalah kebahagiaan tersendiri untuk Haechan. Contoh kecilnya adalah seperti ketika dia ditugaskan untuk membangunkan pemuda itu oleh Bibi Baekhyun —mamanya Lucas. Haechan menyiramkan seember penuh air dingin yang ia kumpulkan dari kulkas hingga membuat Lucas terbangun dengan jeritan yang memekkan telinga. Kue ulang tahun yang selalu berakhir tragis di wajah tampannya, bekas biru atau merah akibat cubitan bahkan tendangan Haechan yang tidak main-main.
Melindungi Haechan? Bah! Omong kosong. Lucas lebih suka bertindak daripada hanya mengatakan 'aku akan melindungimu'. Seperti menendang bola ke muka teman cowoknya di sekolah dasar ketika Haechan dibuat menangis, menghajar kakak kelasnya di sekolah menengah atas karena berani membully Haechan yang mengakibatkan orangtuanya dipanggil ke sekolah, dan hal kecil lain yang tidak bisa disebutkan. Hobinya? Mengerjai Haechan tentu saja. Terlebih mereka berdua sudah memasuki masa legal dimana dia bisa mengatakan hal-hal yang berbau dewasa. Akan lebih menyenangkan menggoda sahabatnya itu. Sebab semburat merah di pipi tembam Haechan entah sejak kapan menjadi favoritnya.
Kalian pasti bertanya mengapa mereka bisa bersahabat selama itu,
Jawabannya sangatlah sederhana.
Itu karena keduanya memahami, bahwa Lee Haechan dan Wong Yukhei ditakdirkan untuk menjadi sahabat selamanya.
.
.
.
GO
.
.
.
"BANGSAT!"
Semua yang ada di ruangan tersebut mematung. Lebih tepatnya memperhatikan sosok yang meneriakkan umpatan penuh amarah tersebut. Lalu mereka menjerit, beberapa menjauh agar tidak terkena imbas.
"ARGHHHH!"
Suara teriakan pilu menggema setelah satu tinjuan Lucas layangkan kepada pemuda bernama Daniel yang merupakan seniornya di kampus. Beberapa piring pecah dan kursi yang diduduki pemuda itu terlempar jauh. Puluhan pasang mata menyaksikan mereka berdua, apalagi kantin sedang ramai-ramainya karena jam istirahat menandakan waktunya untuk makan siang.
"Apa yang kau lakukan brengsek!"
Daniel menatap Lucas penuh kebencian. Mereka menatap marah satu sama lain. Bangkit dengan kecepatan penuh menuju Lucas untuk membalas apa yang sudah dia perbuat padanya.
BUGH!
Satu tinjuan Daniel bersarang di rahang Lucas hingga membuatnya terjengkang ke belakang. Hal itu membuat Lucas semakin emosi. Dia ganti melayangkan tinju dan sukses mengenai rahang Daniel.
Suara kemarahan, umpatan, jeritan kesakitan, piring - sendok- gelas yang pecah karena terjatuh, tendangan dan tinjuan, gesekan kaki dengan lantai, semuanya beradu menjadi satu. Disusul jeritan gadis-gadis yang takut melihat darah mulai menetes dari bibir keduanya.
"Kau siapa sampai berani meninjuku, HAH!"
Daniel yang marah datang kearahnya namun hanya dengan sekali bantingan dengan satu tangan, suara erangan pemuda itu terdengar begitu menyakitkan.
"Kalau kau berani menyentuh Haechan bahkan walau seinchi saja."
Lucas menggeram rendah. Giginya bergemeletuk menahan amarah untuk tidak menghabisi sosok dibawahnya yang ia jamin tak akan bisa bergerak setelah ini.
"Aku benar-benar akan menghabisimu, senior!"
"Cih!"
Daniel terkekeh pelan dengan tubuh yang luar biasa remuk. Ia tidak menyangka seorang Wong Yukhei yang dielu-elukan akan menjadi sosok mengerikan seperti ini.
"Kau jatuh cinta pada sahabatmu sendiri huh?" ejek pemuda itu sambil meringis karena perutnya yang diinjak semakin kuat oleh Lucas.
"Menggelikan!"
Raut datar itu tak berubah sama sekali. Lucas memberikan peringatan terakhir.
"Aku tidak bermain-main dengan ucapanku. Patuhilah kalau kau masih ingin hidup!"
Suara dingin dan tatapan tajam Lucas menciutkan nyali Daniel.
Tanpa berkata apapun Lucas melangkah pergi. Meninggalkan berjuta juta pertanyaan di kepala orang-orang yang menyaksikan perkelahian mereka berdua.
.
.
.
Go
.
.
.
Nafas Lucas seolah terhenti. Kakinya yang semula berlari dengan perintah cepat kini melambat. Bahkan ia tak yakin motoriknya mampu mendekati sosok yang berdiri beberapa meter darinya.
"Lucas..."
Itu Na Jaemin, seseorang yang meminta bantuan padanya. Sahabat Haechan yang kini tengah menatapnya takut. Tapi fokus Lucas hanya pada sosok itu. Yang berdiri gemetar dengan muka tertunduk dalam. Seakan tak mau melihat kehadirannya disini.
"Bisakah kau tinggalkan kami Jaem..." pinta Lucas. Tenggorokannya seperti tercekat untuk berbicara. Maka yang bisa ia lakukan hanya memohon dengan suara lirih.
"Please..."
Melihat keraguan di mata pemuda itu. Lucas menatapnya sebentar —berharap akan pengertiannya.
Menyerah. Pemuda Na itu meninggalkan mereka berdua setelah sebelumnya membisikkan sesuatu di telinga Haechan.
Dan kini suasana toilet kampus itu begitu hening. Keduanya bungkam tak ada yang memulai pembicaraan. Atmosfer di sekitar mereka begitu gelap, seakan ada jutaan kabut yang menghalangi mereka berdua untuk menyapa satu sama lain.
"Hei..."
Tak tahan dengan kebisuan ini. Lucas memberanikan diri mendekati Haechan. Ia menyentuh lengan sahabatnya, berharap wajah tertekuk itu akan memberikan senyum yang ia sukai.
Namun kebalikannya, Ia membeku, seakan darah tidak mampu mengedarkan pasokan oksigen yang cukup hingga rasionalitasnya terganggu.
Haechan menangis tanpa suara. Tubuhnya gemetar hebat ketika Lucas menyentuhkan jarinya pada sosok yang sekarang terlihat begitu rapuh. Tidak ada makian yang keluar dari bibir itu seperti yang biasa ia lakukan ketika Lucas menyentuhnya.
Lucas merasakan tangannya bergetar, dengan lembut ia mengangkat dagu Haechan untuk menatap netra coklat kesukaannya. Sangat pelan dan hati-hati.
Namun hal tersebut semakin membuatnya kehilangan waras. Kedua pelupuk mata yang basah oleh airmata, pipi yang berkilauan oleh buliran bening yang tak berhenti menetes juga tatapan kosong sosok didepannya membuat jantung Lucas seolah terenggut dari tempatnya.
"Maaf." Suara Lucas terdengar begitu serak.
"Maafkan aku." Dua kali pemuda itu meminta maaf, namun Haechan terlalu susah untuk membalas ucapannya. Ia terlalu takut untuk membuka suara. Yang ia ingat hanyalah kejadian mengerikan yang menimpa dirinya hingga membuat lelehan bening itu mengalir semakin deras. Haechan kembali menunduk, takut bertemu pandang dengan siapapun karena ia tak ingin kejadian tadi terulang kembali.
Tanpa sadar ia bergerak pelan ke belakang, mundur teratur menjauhi Lucas.
"Kau takut padaku?" Lucas bertanya pelan, berhati-hati.
Diam.
Helaan napas tipis terlepas dari celah bibir Lucas ketika tak mendengar respon apapun dari sahabatnya. Maka ia kembali mendekat, mengangkat dagu itu untuk kembali terangkat. Memaksanya bersitatap dengan sepasang sorot mata Lucas yang tampak sengsara.
"Lihat mataku dan katakan, apa aku menakutimu?"
Lirih. Begitu lirih supaya pemuda didepannya ini tahu betapa menderitanya ia saat ini.
"Haechanie... Ini aku... Yukheimu..."
Telapak tangan Lucas membingkai wajah Haechan. Ia menghapus jejak air mata yang membekas di raut pucat itu dengan lembut. Seakan jika ia menyentuhnya teralu kasar, maka sosok itu akan terluka.
"Aku tidak akan menyakitimu"
Bisiknya lagi. Air mata Haechan semakin mengalir, tubuh berisinya gemetar hebat. Lucas ingin memeluknya, menyembunyikan Haechan di dadanya agar tak ada orang yang bisa menyakitinya. Namun ia takut kalau tindakannya akan membuat sahabatnya itu semakin ketakutan.
"Lucaseu..." Haechan berbisik nyaris tersedak karena tarikan nafasnya yang terasa mencekik. Ia mencengkeram pergelangan tangan Lucas. Buku jemari nya memutih memperlihatkan betapa kerasnya Haechan menggenggam.
"Aku takut... Hiks..."
Haechan menahan gemetar tubuhnya dan bibirnya nyaris berdarah karena ia gigit agar suara tangisnya tidak terdengar. Ia bersumpah tidak akan menangis lagi namun kali ini ia ingin melepaskan segala sesak di hatinya.
Sepasang netra teduh yang menatapnya membuat relung hatinya menghangat. Ketakutan yang ia rasakan perlahan memudar karena hatinya percaya, sahabatnya tidak akan menyakitinya. Ia tahu, dengan sosok ini ia bisa berbagi. Maka yang Haechan lakukan adalah terisak. Ia menatap Lucas memohon, begitu sengsara karena ketakutan yang ia tahan.
"S —sakit..." ucapnya terbata. Satu tangannya bergerak menuju perpotongan lehernya. Ia mengusap sesuatu disana dan menangis semakin hebat.
Jijik! Itu yang Haechan rasakan saat sekelibat ingatannya kembali memutar bagaimana Daniel hendak menciumnya namun tidak berhasil. Sebagai ganti, seniornya itu mengigit lehernya hingga menimbulkan bekas kemerahan. Haechan berontak, namun apa daya ia tidak sanggup melawan kekuatan laki-laki itu. Beruntung Jaemin memergoki mereka.
Lucas mengikuti arah telunjuk Haechan. Suatu kesalahan yang ia lakukan karena melakukannya. Karena yang ingin ia lakukan sekarang adalah membunuh pemua bernama Daniel itu karena telah berani menyentuh sahabatnya.
Lucas menyusuri leher Haechan dengan punggung telunjuknya, luar biasa lembut dan membuai, rahangnya mengeras karena emosi yang tiba tiba ia rasakan.
Lucas gagal. Ia gagal menjaga Haechan agar tidak disakiti oleh siapapun. Kissmark keunguan yang ada di leher sahabatnya membuat matanya panas. Tubuhnya gemetar hebat dengan nafas dingin yang menderu.
"Sst... Sakitnya tidak akan lama" bujuknya
Tatapan Lucas membuai Haechan. Pemuda itu mengangguk. Ia menurut tanpa perlawanan saat tubuhnya dipojokkan pada dinding kamar mandi yang dingin. Lucas memerangkapnya dengan kedua lengannya yang lebar menyentuh kedua sisi bahunya.
"Haechan ah..."
Begitu lembut ia menyerukan nama yang entah sejak kapan menjadi prioritas hidupnya. Telapak tangannya mengusap pipi tembam itu penuh sayang. Keduanya bertatapan, Lucas perlahan menunduk, menyeruk ke perpotongan leher Haechan. Pikirannya berkabut hingga yang ingin ia lalukan sekarang adalah menggantikan tanda kemerahan itu dengan miliknya. Ia ingin menghapus bekas orang lain.
Haechan meremang. Nafas dingin Lucas terasa begitu dekat dengan lehernya. Ia mengigit bibir saat merasakan bibir Lucas semakin mendekati kulit lehernya. Refleks ia mendongak.
Jantung Haechan berdegup kencang. Cengkeramannya pada lengan pemuda itu ia eratkan.
"Lu..." lirih Haechan.
Suara Haechan semakin membuat Lucas gila. Ia bernapas di atas kulit leher Haechan yang basah karena keringat. Denyutan lemah dari vena Jugularis pemuda itu menimbulkan sensasi membeku yang meluruhkan seluruh kontrol dirinya entah kemana. Ia menghirup lamat lamat aroma citrus yang menjadi candunya. Setengah terengah, Lucas melarikan telapak tangannya untuk mengusap pinggang Haechan yang kini meremas lengannya begitu kuat.
Sedikit lagi ia menyentuh leher Haechan. Namun ia ragu. Merasakan betapa salahnya semua ini, Lucas berusaha menjernihkan akal sehatnya. Salah, semua ini salah. Apa yang dia lakukan. Maka dengan sisa pertahanan yang ia miliki, Lucas menggerakkan telunjukknya untuk mengusap kissmark tersebut, mengangkat wajahnya dari leher yang basah akan keringat itu untuk bertemu pandang dengan wajah manis sahabatnya.
"Jangan takut. Ada aku. Aku janji kau tidak akan tersakiti lagi"
Lucas tersenyum. Ia mendesah lega ketika melihat bibir pucat Haechan terangkat walau sedikit.
"Aku begitu ingin memelukmu. Tapi takut kau gampar" candanya. Ia berjongkok dibawah Haechan.
Haechan yang tidak paham masih berdiri di tempatnya.
"Ayo naik" ketus Lucas sambil menoleh ke belakang. "Kita pulang saja. Makan es krim coklat sepertinya enak" tambah pemuda itu.
Haechan tersenyum. Dengan pelan ia naik ke punggung Lucas lalu mengalungkan lengannya pada leher sahabatnya itu.
"Kau tidak bisa memelukku. Tapi aku yang akan memelukmu" ucap Haechan pelan. Ia menyandarkan dagunya di bahu Lucas.
"Terimakasih ya Lulu"
Dan tidak ada yang bisa mengembalikan senyuman seorang Wong Yukhei selain Lee Haechan
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Dilanjut?
.
.
.
Sekedar ngasih tau aja, aku pindah ke wattpad yaa teman. Id nya rangelia08
Kenapa?
Karena jujur aja disana lebih enak buat nulis cerita. Maaf, laptop sedang rusak. Di watpad setelah nulis di draft langsung bisa diupload. Akupun ngetik ff ini selalu lewat hp.
Tapi kalau luang, pasti bakal ku update disini juga.
Makasih yaaa, jangan lupa tinggalkan jejak. Btw, paert 3 nya sudah upload di watpad
Kibarkan bendera HAECHAN!
