SELFLESS

Chapter 1: The Agony

.

Pairing: Park Chanyeol and Byun Baekhyun

Warnings: Yaoi, Omegaverse, MPreg, Sexual Abuse, Violence, etc.

.

Omegas aren't good enough for everyone

Omegas don't need any affection

Omegas can't be anything more important

Rasa panas merambat dari telapak kaki kedua pria yang sedang melampiaskan nafsu. Dengan sang dominan yang menghentak keras tanpa peduli tubuh kecil dalam kurungannya. Keduanya jauh dari kata mesra. Di panas yang kuat ini, Baekhyun membuka mulutnya, hampir mengatakan sesuatu. Hampir. Mungkin hidupnya akan berubah jika ia mengatakannya. Tapi ia tidak. Hanya terdengar gumaman yang bisa jadi sebuah permohonan. Ia tercekat dalam kenikmatan yang mendera. Baekhyun datang. Tidak lama sebelum Chanyeol menyelesaikannya dengan sebuah geraman keras. Mereka terengah-engah, masih meresapi apa yang baru saja terjadi. Hati mereka teramat dekat namun tak saling menyentuh. Chanyeol bangkit, melepaskan tautan keduanya dan membuat Baekhyun mengernyit nyeri. Di wajah mungilnya terlukis benang tipis bernama kekecewaan. Ia tidak pernah bisa mencegah Alpha itu untuk pergi.

Segalanya pernah lengkap sebelumnya. Baekhyun tahu kapan Chanyeol berhenti bersikap manis padanya. Kepedihan hilang dengan seiring berjalannya waktu, tetapi Chanyeol tak ingin disembuhkan oleh waktu. Dan itu semua menjadi salahnya. Tidak ada yang patut ia keluhkan. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Ia harus segera pergi bekerja atau bosnya akan memecatnya. Tanpa mengindahkan rasa sakit di tubuhnya, Baekhyun melangkah ke kamar mandi.

.

.

Ia tidak pernah ingin berada di luar sana, tapi hidup memang keras, ia harus melakukannya. Semua orang memandangnya sebagai Omega, bukan dirinya. Kau tahu apa yang paling menyakitkan dari menjadi Omega? Itu adalah jumlah kebencian yang dilemparkan padanya tanpa mengetahui kehidupan yang terus ia jalani. Baekhyun ingin lebih baik dari orang lain, walaupun hanya sekali saja. Tetapi semua menjadi begitu sulit ketika mereka tahu siapa dirinya. Bahkan ketika ia hanya ingin berbagi kebahagiaannya, mereka akan menanggapinya dengan berbeda. Baekhyun mendesah, mengeratkan jaket tipisnya. Ia akan benar-benar terlambat jika tidak berjalan lebih cepat.

Melihat seberapa sering memar di tubuh Baekhyun bertambah, Xiumin bersikeras agar Baekhyun meninggalkan Chanyeol. "Kau bisa mulai membencinya. Dengan begitu akan lebih mudah untukmu pergi." Katanya di tengah-tengah meletakkan susu kaleng di rak. Yang lebih muda mengeluarkan pertanyaan polos sebagai jawaban. "Kenapa aku harus membenci suamiku?" "Astaga, dia menyakitimu!" Balasnya cepat. "Jika aku pergi, aku akan berbalik menyakiti Chanyeol. Aku tidak mau seperti itu." Seulas senyuman diberikan untuk Xiumin. Tidak ada lagi percakapan. Ini terlalu rumit, segalanya tentang Baekhyun selalu rumit. Xiumin tidak akan pernah mengerti. Mengapa jika Baekhyun diajari untuk tidak menyakiti orang lain, ia tidak diajari pula untuk tidak menyakiti dirinya sendiri?

Malam begitu larut ketika Baekhyun tiba di apartemennya. Ia bersyukur ketika menemukan suaminya yang mendengkur kecil. Chanyeol lebih sering menghabiskan malamnya di sofa, di depan TV, dengan remote yang selalu ia genggam sekalipun ia tertidur. Baekhyun harus menjadi yang terbangun akibat kerasnya suara TV. Diam-diam dia akan keluar dari kamar mereka untuk mematikan TV lalu menyelimuti Chanyeol sembari memberikan ciuman selamat tidur di dahinya. "Aku mencintaimu." Bisiknya di setiap kesempatan. Menyuarakan kata-kata yang tersembunyi dalam hati. Baekhyun dengan suka rela mengatakan ia mencintai Chanyeol, tanpa bertanya apakah pria yang lebih tinggi juga atau tidak. Sayangnya ia hanya sanggup melakukannya saat Chanyeol tertidur. Ia tidak tahu jika Chanyeol selalu menyadarinya.

Setiap malam, sebelum tidur, Baekhyun merapalkan harapan yang tidak pernah menjadi kenyataan. Setelah bertahun-tahun menanti, Baekhyun memutuskan untuk berhenti mempercayai harapan. Kata-kata tidak pernah cukup kuat untuk mengubah apa pun.

.

.

Langkah Baekhyun terhalang oleh seorang pria yang tiba-tiba mendarat di jalanan. "Omega bodoh," kesal wanita-yang-mungkin-Alpha, sebelum kembali berjalan. Baekhyun dengan sigap membantu pria malang itu. "Omega menjadi bodoh karena harus mengalami siklusnya setiap saat. Apa yang bisa kau lakukan jika akalmu terus dikuasai tubuhmu?!" Sungutnya sembari menerima uluran tangan Baekhyun. Kedua mata berbeda warna tiba-tiba saling menatap takjub. "Luhan Hyung/Baekhyun?!" Panggil mereka bersamaan. "Wah kau benar-benar tidak berubah! Tetap cantik seperti waktu kita bersekolah!" Pelukan terasa di tubuh yang lebih mungil. "Kau juga, Hyung." Jawaban Baekhyun membuat Luhan tertawa keras. "Kau masih bersama Chanyeol? Bagaimana kabarnya?" "Ya, dia baik-baik saja." Luhan menepuk tangannya kerena barusan mendapat ide. "Apa sekalian saja aku mampir ke rumah kalian?!" Dalam sekejap tubuh Baekhyun menegang. "Jangan!" Potongnya. "Chanyeol akan pulang larut, kalian tidak akan bisa bertemu!" Sebuah kebohongan terlontar. Baekhyun takut Luhan akan mengetahui keadaannya, memergoki ia dan suaminya di saat tidak tepat, atau lebih buruk lagi, mengasihaninya. Melihat sinar aneh di mata Baekhyun, Luhan mengurungkan niatnya, "Ah, kau benar."

Tarikan di bahu Luhan mengalihkan perhatian mereka. "Sudah kubilang jangan mendahuluiku." Cepat-cepat Baekhyun memberi salam pada pria yang menyusul di samping Luhan. "Sehun, ini Baekhyun. Kita pernah beberapa kali bertemu dengannya saat SMA. Kau ingat?" Sehun mengangguk. Ia adalah Alpha yang memiliki hati selembut Omega. Ia tidak suka mendominasi. Luhan sangat beruntung mendapatkannya. Mereka bertiga memutuskan untuk pergi makan siang. Luhan terus mengoceh sembari menuangkan teh ke gelas Baekhyun—mendapat balasan seadanya.

Suara terjatuh menyita perhatian Sehun. Ia bergegas menolong anak yang tersungkur di lantai. Baekhyun tidak bisa melewatkan senyuman lembut dari Sehun untuk si anak. "Aku melihat Sehun cukup menyukai anak-anak." Luhan berhenti mengunyah potongan besar kue keju. "Meskipun begitu kami tidak akan memiliki anak." Pernyataan Luhan mengejutkan Baekhyun. "K-kenapa?" Luhan mendesah keras. Ia menoleh pada Sehun yang tertahan dengan seorang wanita tua dan cucunya. "Bagaimana menjelaskannya, ya.." Kedua mata bulat memandang langit langit. "Menyukai dan membesarkan anak adalah dua hal berbeda. Sehun baik dalam mengurus anak tapi takut untuk memilikinya sendiri." "Apa yang membuatnya takut?" "Entahlah, ia sudah mendapatkan ketakutan itu sejak kecil. Aku rasa ia hanya tidak berani untuk mengambil tanggung jawab sebagai orangtua." Luhan menatap lembut pada sesamanya. "Aku sangat mencintainya, jadi jika Sehun tidak berniat memiliki anak selamanya, maka aku juga." Luhan kembali memakan kuenya. "Kau tidak harus mengerti, Baekhyun." Omega yang lebih tua mengusak rambut Baekhyun. "Tidak, aku mengerti." Balasnya dengan senyuman kecil.

"Kau pulang terlambat." Suara dalam membuat tubuh si Omega menegang. "Aku habis makan siang bersama teman." Akunya, berusaha menghindari tatapan menyelidik dari suaminya. Ia memakai celemek, bersiap memasak makan malam. "Kau tidak punya teman." Suaranya menjadi lebih menakutkan. "P-punya, teman Omega." Kilahnya. Seharusnya ia memberitahu Chanyeol bahwa itu adalah Sehun dan Luhan. Tetapi hati kecilnya berkata bahwa Chanyeol akan membuat keributan jika mengetahuinya. Ia tidak tahu, ia hanya merasa tidak harus memberitahu suaminya. Chanyeol menghentikan gerakan tangannya yang memotong wortel. Ia menoleh, menatap intens pada kedua bola mata hitam sedalam lautan. Ah, dia tahu arti tatapan ini. Wajah Baekhyun perlahan memerah. "Lupakan makan malam. Sekarang temani aku." Ucapan itu bukan permintaan, bagi Baekhyun itu adalah perintah mutlak. Ia melepas satu per satu pakaiannya, menyisakan sebuah celemek sebagai penutup terakhir, karena itu yang Chanyeol inginkan.

.

.

Selain bekerja paruh waktu di mini market, Baekhyun menjadi petugas kebersihan di sebuah kantor advokat. Itu adalah satu dari sekian pekerjaan yang bisa ia dapatkan walau tanpa menyelesaikan pendidikannya. Ia bersyukur masih ada pekerjaan lain yang mau menerimanya—Omega sepertinya selalu sulit mendapat pekerjaan yang layak. Sejujurnya ia tidak suka bekerja di sini. Tatapan lapar para Alpha itu membuatnya takut setiap saat. Tetapi Baekhyun membutuhkan uang. Sangat butuh.

Pada suatu waktu, Seulgi, perempuan Alpha yang sedang jatuh cinta , sangat cemburu melihat kedekatan Baekhyun dengan orang yang dia sukai. Ini bukan keinginan Baekhyun. Pria tampan itu terus menggodanya meskipun ia menolak. Seulgi telah beberapa kali menyakiti Baekhyun dalam pikirannya, tapi masih cukup waras untuk tidak mewujudkannya. Di panas yang terik, Seulgi akhirnya kehilangan akal. Pukulan itu tanpa diduga datang tepat di sekitar pelipis Baekhyun. Tetesan kopi di atas selembar dokumen menjadi satu-satunya yang memecahkan keheningan. Seulgi terengah-engah dan baru menyadari perbuatannya setelah Baekhyun merintih. "Astaga.. A-aku aku.." Baekhyun menghentikan tangan yang berusaha menyentuh lukanya. "Tidak, aku memang pantas mendapatkannya." "Sungguh, aku tidak berniat memukulmu—maksudnya iya, tapi tidak benar-benar akan memukulmu!" Seulgi meraih tangan pria di hadapannya. Air mata penyesalan sedikit menggenang.

"Baekhyun, m-maafkan aku.." Ia tidak mengerti mengapa Seulgi meminta maaf padanya. Chanyeol selalu memukulnya jika ia bersalah. Ia tidak akan keberatan menerima satu atau dua pukulan lain karena ia memang bersalah. Lelaki kecil ini hidup dengan menerima pukulan sebagai hukuman dari setiap kesalahannya. Ia tidak terbiasa menerima permohonan maaf dari orang lain. Itu membuatnya ingat betapa sering ia berada di posisi Seulgi dengan Chanyeol yang memandang marah padanya dan satu tangan mengepal di udara. Baekhyun terlepas dari lamunannya kemudian tersenyum pada Seulgi. "Nona tidak bersalah. Sekarang aku akan membereskan tumpahan kopi itu." Lanjutnya. Seulgi terisak, merasa bodoh karena membenci si Omega dan ketulusannya.

Baekhyun merasa tubuhnya terbakar di bawah matahari. Keringat jatuh menetes sepanjang ia melangkah menuju pekerjaan selanjutnya. Luka di pelipisnya terus berdenyut, namun terabaikan. Ia hampir tidak menyadari ketika seseorang melambaikan tangan padanya. "Byun Baekhyun!" Sebuah suara terdengar lalu Baekhyun membelalakkan mata. "A-Ahn Yeojin?!" Pekiknya tak percaya. Wanita yang kurus itu adalah tetangga masa kecilnya di Daejeon. Ia heran, mengapa ia terus bertemu dengan kawan lamanya? Ia berlari kemudian menggandeng Baekhyun. "Ke mana saja kau selama 3 tahun ini? Bahkan bibimu tidak bisa menghubungimu—aku juga tidak!" Ia mengerucutkan bibirnya. Baekhyun menjadi kebingunan. Ia tidak memiliki lagi kontak teman-temannya karena Chanyeol menghapusnya. Chanyeol juga membenci kerabat Baekhyun, ia tidak mengizinkan Omega kecil itu menghubungi mereka. Baekhyun pernah sekali bersikeras ingin menemui bibinya—yang mendapat tatapan garang dari Chanyeol. Sebuah tamparan seketika menyambar pipinya. Kekerasan pertama yang harus diterima Baekhyun. Jadi ia tidak pernah membicarakannya lagi.

Mereka berhenti di sebuah taman. Yeojin memamerkan cincin pertunangan miliknya dan Baekhyun tidak bisa berhenti menatap. "Taraa.. Aku akan menikah bulan depan. Kuharap kau dapat datang ke sana." Mohonnya. Baekhyun tersenyum kecut. "Aku akan memikirkannya." Chanyeol tentu tidak akan mengizinkannya pergi. Yeojin terpaksa meninggalkan Baekhyun karena ia harus segera pergi rapat. Pria mungil memandangi jari manisnya. Ia pernah memiliki cincin pernikahan, sebelum Chanyeol menjualnya untuk membeli tiket pacuan kuda. Chanyeol berjanji akan membelikannya yang baru, lebih bagus, dan berukirkan namanya. Ia tersenyum kecil. Beberapa orang memang terdengar sangat manis ketika mengucap janji, Chanyeol contohnya. Ia mendesah. Mungkin ia tidak akan pernah mendapatkan kembali cincinnya.

.

.

Baekhyun pulang ke apartemennya untuk menemukan Chanyeol yang berseru keras-keras menirukan pendukung atlet gulat di televisi. Tanpa berkata sepatah kata pun ia memunguti pakaian suaminya yang tergeletak di lantai. Baekhyun yakin Chanyeol harus menghentikan kegemarannya menonton gulat. Karena percaya atau tidak, Baekhyun merasa tontonan itu yang mempengaruhi suaminya menjadi pria kasar. Chanyeol memukulnya hampir sepanjang waktu. Terkadang Baekhyun tidak mengetahui kesalahannya, namun ia meyakinkan dirinya bahwa ia telah melakukan kesalahan. Pada kenyataannya, Chanyeol hanya suka memukulnya. Pernah suatu kali ia terpaksa memakai jaket berkerah tinggi selama musim panas. Dan itu cukup menyiksa. Setelah menyadarinya, Chanyeol menjadi lebih pintar dengan memukul Baekhyun di tempat yang tidak terlihat.

Terkadang Chanyeol pulang di tengah malam dengan membawa wanita atau pria lain. Jika itu terjadi, Baekhyun tahu ke mana ia harus pergi. Suaminya mungkin telah melupakan pelajaran SMA nya yang menjelaskan bagaimana seorang Omega dapat merasakan kesakitan yang sangat apabila Alphanya berselingkuh. Tidak heran sebenarnya. Baekhyun memang selalu menghalangi perasaannya untuk mencapai Chanyeol. Kali ini Chanyeol membawa seorang wanita cantik berambut merah panjang. Wanita itu nampak heran ketika melihat Baekhyun, namun mengabaikannya setelah Chanyeol menyuruhnya masuk ke kamar. "Jangan, itu kamar kami!" Teriak Baekhyun setiap saat di dalam hati. Tidak apa jika mereka melakukannya di dapur, kamar mandi, atau di sudut mana pun rumah ini, asal bukan kamarnya. Ada saat di mana Baekhyun keluar dari persembunyiannya dan berpapasan dengan mereka yang meninggalkan kamarnya—kamar mereka. Dan itu adalah saat yang paling menyedihkan. Ia sungguh membencinya.

Pagi itu bukanlah salah satu pagi terbaiknya. Baekhyun harus dibangunkan oleh gedoran pintu berkali-kali. "A-ada apa, Tuan?" Cicitnya ketika membuka pintu dan dihadapkan dengan seorang pria besar bertato pistol di dadanya. "Di mana bajingan itu?!" Tanyanya sambil melangkah masuk. "Ba-bajingan?" Baekhyun masih terlarut dalam keterkejutannya sebelum mendapati pria itu menerobos ke kamarnya dan wanita yang dibawa Chanyeol melompat dari kasur. Dia hanya mengenakan selimut karena tidak sempat berpakaian ketika menjelaskan situasinya di sini. Pria bertato itu tidak peduli dengan penjelasan sang wanita lalu memukul rahang Chanyeol hingga bunyi gemeletuk terdengar. Baekhyun menjerit. Seseorang baru saja memukul suaminya dan ia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Sialan, apa kau tahu siapa dia?!" "Heh Jalang itu yang datang sendiri padaku." Chanyeol meludahkan darah dari mulutnya ke lantai. Semua bisa lebih baik jika saja Chanyeol tidak melawan. Tapi Chanyeol tidak suka diremehkan. Baekhyun menangis ketakutan. Situasi menjadi lebih kacau dan Chanyeol hampir mati dipukuli pria yang dua kali lebih besar dari dirinya. "Jangan!" Baekhyun menahan pria itu agar berhenti tetapi disingkirkan dengan mudah. Tubuh mungilnya memeluk kaki pria yang memukul Chanyeol. "Hentikan, Chanyeol bisa mati! Jangan pukul lagi! Ampuni dia!" Derai air mata mengiringi permohonannya, sedangkan Chanyeol sudah tersungkur dengan napas yang tersendat. "A-aku akan melakukan apapun! Jangan sakiti Chanyeol, ya, ya?" Lanjutnya. Tawaran itu terdengar cukup menarik hingga pria besar itu berhenti sesaat.

"Kubunuh kau… Jika berani menyentuhnya.." Perkataan Chanyeol kembali menyulut amarahnya. Beberapa pukulan dilayangkan ke kepala Chanyeol lagi. Baekhyun merangkak keluar, berteriak meminta bantuan. Beberapa tetangganya datang tetapi Baekhyun tidak cukup tenang untuk menjelaskan semuanya. Ia hanya menangis sembari menyebut nama suaminya dalam pelukan entah siapa. "Berhenti atau aku akan memanggil polisi!" Kata salah satu wanita tua yang tinggal di sebelah rumahnya. Decihan segera terdengar setelahnya, pria itu pergi dengan mendorong Baekhyun dan penghuni lain yang menghalanginya.

Baekhyun bergegas memeriksa luka si suami. "Cha—" Gerakan tangannya berhenti sebelum dapat mencapai wajah Chanyeol. Sang suami terlihat hendak mengeluarkan kemarahannya. "Aku tidak butuh bantuan kalian!" Bentaknya kemudian membanting pintu tepat di wajah yang lebih kecil. Baekhyun harus menjadi pengganti Chanyeol untuk mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang menolongnya sekalipun air mata masih mengalir di wajahnya. Setelah yakin semuanya telah usai, ia berdiri mematung. Rumahnya benar-benar tampak seperti habis kerampokan. Tiba-tiba gemerincing kunci membuat Baekhyun menoleh. Chanyeol berjalan keluar dengan mengenakan jaket kulit hitamnya. "Chanyeol, kau mau ke mana?" Pertanyaannya tidak mendapat jawaban. Secepat kilat pria itu pergi mengendarai motornya. Baekhyun hanya mampu berdoa semoga Chanyeol segera pulang ke rumah. Ketika menuju kamarnya, Baekhyun baru menyadari bahwa wanita itu telah kabur sejak lama dan meninggalkan branya.

.

.

Hari semakin siang, lelaki berambut coklat tampak masih berkutat dengan pekerjaan rumahnya. Ketukan yang terdengar membuatnya segera berlari ke arah pintu. Namun, pria kecil ini harus menelan kekecewaan karena dia yang datang bukan yang Baekhyun harapkan.

Bersambung…

The Next Chapter: "It could be just us, but he won't let it happen just like that."

A/N: Idk why fanf*ction is being such a d*ck. Why do my stories suddenly appear and disappear from the search engine? Is it normal for the newbie writer or is it just me? Nah, whatever. Let's not rush everything and enjoy the messy flow. Hope you take your time well.