Namikaze Horror Fate

Disclamier

Naruto ©Masashi Kishimoto

Genre : Horror, Comedy

Rated : T+

Warning : OoC, Saltik, dan berbagai kesalahan penulisan lainnya.


Chapter 2

Langit mulai berwarna jingga. Matahari akan segera digantikan bulan.

Narasi diatas terlalu singkat? Yah emang gue pikirin. Yang penting intinya waktu sudah memasuki masa senja. Lagian paling juga gak lu baca.

Bercanda.

Di kediaman keluarga Namikaze Minato, tampak Kushina tengah memulai acara memasak untuk makan malam nanti. Yah, meskipun mereka keluarga yang bisa dibilang memiliki harta melimpah, tetap saja mereka tidak ingin memiliki penghuni lain selain mereka berempat.

Mereka ingin hidup seperti kebanyakan keluarga biasa lainnya. Minato bekerja, Kushina menjadi ibu rumah tangga, dan kedua anak mereka bersekolah sampai nanti bekerja dan menikah lalu memberi mereka cucu. Itulah harapan mereka. Setidaknya tanpa pembantu, Menma dan Naruto akan menjadi anak yang mandiri.

Disela acara memasaknya, tampak wanita cantik itu tengah kebingungan mencari sesuatu.

"Mana bawang putihnya sih?" tanyanya entah pada siapa.

Wanita berusia 41 tahun tetapi masih seperti gadis berusia 20 tahunan itu berulang kali membuka setiap tempat penyimpanan bumbu masakannya. Namun ia tidak menemukannya sama sekali.

"Ada apa, Kushina?"

Kushina menatap sang suami yang berdiri di dekat meja makan sebelum kembali sibuk mencari salah satu bumbu masakannya. "Aku mencari bawang butih. Tadi pagi aku masih melihat banyak disini. Tapi entah kenapa sekarang hilang semua."

"Bawang putih?" tanya Minato yang dibalas anggukan Kushina sebagai jawaban.

Minato berfikir sejenak sebelum mendapatkan sebuah opini yang merupakan salah satu opsi jawaban hilangnya bawang putih di dapur Namikaze.

"Jangan-jangan..."

"Hm? Jangan-jangan apa Minat-"

"N-NARUTOOO?!"

Sebuah teriakan dari lantai dua membuat Minato dan Kushina tersentak kaget. Mereka kemudian berlari menuju sumber suara teriakan tadi yang jelas itu adalah teriakan putra mereka.

"Ada apa Menm-ha?" Kushina melebarkan matanya setelah melihat apa penyebab si sulung berteriak.

"Hehe..." Naruto tertawa renyah melihat ekspresi ibu dan kakak kembarnya.

"Sudah kuduga." kata Minato ringan.

Menma dan Kushina menoleh kompak kearah Minato. "Sudah kuduga?"

"Hehe.. Aku dulu juga melakukannya." Minato tertawa garing.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Yah.. Saat ini Menma, Kushina, dan Minato tengah berada didepan pintu kamar Naruto. Mereka melihat kamar yang berhias ornamen baru.

Reroncean bawang putih yang tertata di setiap sudut kamar si bungsu.

Bawang putih everywhere. Everywhere jika dibuat meme koboy bersama astronot.

"Jadi ayah dulu juga? Kukira hanya aku saja."

"Kalian berdua..."

Dalam sekejap, Menma telah hilang dari pandangan akibat aura mengerikan dari sosok Kushina. Sedangkan... Naruto dan Minato meneguk ludah.

"Kalian berdua... Ambil semua bawang putih disini." ucap Kushina horor. "Kalau..."

"Kenapa aku juga?" tanya Minato dengan ragu.

Kushina menoleh cepat kearah Minato. Menatap suaminya tajam. "Karena kau yang menurunkan kelakuan ini pada Naruto." jawabnya. Minato kembali meneguk ludah.

"Kalau dalam satu menit kalian tidak..."

WUUSSS... Seperti kilat, Minato segera masuk kedalam kamar Naruto. Keduanya dengan cepat mengambil satu per satu bawang yang ada di kamar si bungsu.

-o0o-

Makan malam yang cukup menyenangkan bagi Menma dan Kushina telah selesai. Dengan dominasi kedua Uzumaki yang terus menerus terdengar saat makan, mereka membuat Naruto mendengus kesal beberapa kali karena keluhannya diacuhkan.

Apa yang diperbincangkan? Tak lain adalah beberapa film horror terbaru yang baru mereka beli CD-nya tadi siang.

Acara makan tadi yang seharusnya tenang itu benar-benar berubah. Namun tidak mungkin Minato akan mengehentikan obrolan membara kedua anggota keluarganya. Ia adalah tipikal suami takut tidak dijatah puf puf...

Saat ini, Naruto tengah duduk di sofa ruang keluarga sembari mengamati ponsel pintarnya dengan seksama, Ia sedang mencari alternatif lain selain bawang untuk bisa menangkal hantu.

"Penangkal hantu?"

Naruto menoleh kebelakang dimana Menma tengah mengamati ponselnya. Dengan buru-buru, Naruto menekan tombol 'Home' di ponselnya.

"Hei! Aku belum selesai membaca."

"Diamlah! Aku tidak ingin mendengar ocehanmu." ucap Naruto ketus.

Menma melompat dan duduk disamping Naruto. "Heh.. Aku sudah lelah tertawa seharian. Aku tidak ingin kotak tertawaku habis." kata Memna.

"Oh.. Padahal aku ingin sekali melihatmu overdosis karena tertawa."

"Oi! Oi! Kau marah pada kakakmu yang ganteng ini?"

"Cih! Diamlah!"

"Yaelah gitu aja marah." Menma menghela nafasnya sejenak. Ia sebenarnya juga merasa sudah agak keterlaluan mengejek adiknya. "Oke deh, aku janji tidak akan mengejekmu lagi."

"Terserah lah." balas Naruto acuh.

"Yaelah. Sama sodara sendiri gitu aja ngambek." kata Menma dengan melas. Namun tetap tidak merubah raut kesal dari wajah adik kembarnya.

"Oke deh, kau minta apa dari kakakmu ini? Tenang saja, akan kukabulkan." tawar Menma. Berusaha menaikkan mood Naruto.

Naruto berfikir sejenak. "Selain janji kau tidak akan mengejekku lagi, aku tidak ingin kau cerita pada siapapun jika aku bisa melihat hantu. OK?" tentu saja ia tidak ingin dipandang aneh oleh teman-temannya karena bisa melihat hantu.

Hm.. setidaknya itu cukup mudah, Menma.

"Oke lah. Aku janji." kata Menma sembari menawarkan tos tangan pada Naruto dan tentu disambut dengan cengiran khas dari adiknya.

Beberapa saat kemudian, Minato terlihat menuju kearah mereka berdua sembari membawa sebuah kalung berliontin kristal berwarna hijau.

Pria awet muda dengan wajah yang masih tampan meskipun sudah berusia 41 tahun itu kemudian memberikan kalung itu pada Naruto.

"Mulai sekarang, pakai ini Naruto." ucap Minato sambil memberikan kalung itu. "Kristal itu memiliki kemampuan spiritual. Sejak dulu, itu digunakan agar makluk halus tidak bisa menyentuh manusia. Itu adalah hadiah dari Kaisar Hagoromo untuk Namikaze Ryu setelah kaisar mendengar cerita kutukan itu." lanjutnya.

"Hm? Memangnya iblis bisa menyentuh manusia?" tanya Menma.

"Bisa. Tapi hanya pada orang-orang yang bisa melihat mereka. Kalau kau tidak bisa melihat mereka, kau aman." ujar Minato menjelaskan.

Iris biru samudra Naruto terlihat mulai dipenuhi harapan. Setidaknya, masalah baru tentang penglihatannya akan berkurang banyak. Ia dengan semangat memakai kalung itu.

"Terima kasih, Ayah."

"Oh iya." Minato menatap putranya. "Ada satu pantangan mengenai kalung itu. Kau harus melepas kalung itu ketika mandi."

Naruto mengeryit. "Memang kenapa yah?"

"Kalung itu adalah tanduk seekor naga. Dan kau perlu tahu, naga lemah terhadap busa atau gelembung. Jadi jika kau memakainya saat mandi, kekuatan kalung itu akan hilang sampai ia terkena sinar matahari ketika terbenam."

"Maksudnya?" tanya Naruto tak mengerti.

"Jika kau mandi dan masih memakai kalung itu ketika matahari sudah terbenam, maka kalung itu baru akan memiliki kekuatan lagi di sore selanjutnya setelah terkena sinar matahari terbenam." jawab Minato. "Kalau pagi, maka sore harinya saat sudah terkena sinar matahari terbenam, kalung itu sudah kembali berfungsi." lanjutnya.

"Oh..." Naruto mengangguk. Namun tak lama ia kembali menoleh kearah ayahnya. "Kalau saat matahari terbenam malah hujan. Bagaimana?" tanya Naruto lagi.

"Y-ya... Anu...Ya..." Minato tampak berfikir. "Ya... Yasin... Wal quran-"

Pada saat itu, Naruto ingin sekali melepas rem mobil Lacer Evo kesayangan ayahnya.

-o0o-

Senin...Hari terhoror dari tujuh hari yang ada telah tiba. Dua buah motor YZF R6 berwarna hitam-merah dan biru muda-hitam terlihat keluar dari garasi kediaman Namikaze. Tidak berselang lama, mobil Mitsubishi Lacer Evo berwarna hitam dengan goresan dan velg berwarna kuning emas juga muncul dari sana.

Pagi ini, tiga dari empat penghuni kediaman Namikaze Minato telah berangkat pergi menuju tempat tujuan masing-masing melintasi jalanan Uzushio.

Berbeda dengan kota-kota lainnya, Uzushio adalah kota yang memiliki pelayanan terbaik bagi para pengguna jalan.

Tidak pernah ada sejarah macet disana kecuali jika ada kecelakaan. Selain setiap kendaraan dengan jumlah roda berbeda memiliki akses jalan tersendiri, masih sedikitnya penduduk juga menjadi faktor penghilang kemacetan disana.

Hal itu tentu dimanfaatkan oleh dua saudara kembar namun berbeda marga. Uzumaki Menma dan Namikaze Naruto terlihat saling mendahului di perjalanan mereka menuju sekolah menengah atas tempat mereka menimba ilmu.

Secara tidak langsung, balapan itu menjadi salah satu titik keberuntungan Naruto. Ia terlalu fokus pada kecepatan kuda besinya. Fokus luar biasa itu membuat iris birunya tidak menangkap penampakan hantu sama sekali meskipun para makluk halus itu sebenarnya berserakan di pinggir jalan.

Bahkan ada yang sedang mengobral atribut hantu di beberapa trotoar jalan. Mungkin semasa hidup hantu itu merupakan pesepak bola.

Apa hubungannya? Entahlah.

Balapan itu cukup menegangkan. Hampir disetiap tikungan, mereka saling mendahului. Puncaknya, disebuah tikungan chichane yang merupakan garis akhir balapan itu, Naruto berhasil melakukan overtake pada Menma dengan bersih. Membuat sang pemilik surai pirang menyeringai kemenangan ketika telah sampai di tempat parkir sekolah.

"Aku menang lagi." senyum kemenangan tersirat di wajah Naruto.

"Ya..yaa.. Kau hanya beruntung saja." balas Menma malas.

Naruto memandang sinis kakaknya. "Keberuntungan juga salah satu skill. Menma." ucapnya.

"Yah mengocehlah terus."

"Haha.. Ternyata... Walaupun delapan hari tidak mengendarai motor aku tetap lawan yang tangguh."

"Sudahlah, lebih baik kita segera kekelas."

Dengan masih memasang senyumannya, Naruto berjalan disamping Menma. Keduanya harus melewati lorong-lorong ruangan untuk sampai di kelas mereka. Namun saat mereka sampai di dekat ruang lab bahasa, senyuman Naruto memudar.

Tanpa berbicara, Naruto mempercepat langkahnya dengan wajah menunduk. Menma yang berada disampingnya sedikit bingung. Ia juga mempercepat langkahnya.

"Kau melihat 'mereka'?" tanya Menma dengan pelan.

"A-ada satu. Didalam lab bahasa bangku nomor 4." jawab Naruto pelan hingga nyaris terdengar seperti bisikan.

"Tenangkan dirimu. Kau harus menahan rasa takutmu. Ingat, kalung pemberian ayah akan menjagamu." kata Menma berusaha menenangkan Naruto.

"Kau benar. Tapi..."

-To Be Continue-