ARTICLE
Kim Namjoon x Kim Seokjin
BxB | AU | M for Language.
.
.
If you don't like, step back please.
Typo? Other half of me.
.
.
Seokjin tengah serius menatap layar ponselnya, kegiatan yang biasa ia lakukan ketika menunggu Namjoon selesai mandi kemudian tidur bersama diranjang mereka. Namun artikel yang kini Seokjin baca benar-benar menarik perhatiannya, sampai-sampai suara pintu kamar mandi yang terbuka tidak membuat Soekjin terganggu, atau barang sedetik menoleh melirik kearah Namjoon yang kini keluar dengan hanya bathrobe menutupi tubuhnya.
Namjoon masih sibuk mengusak rambunya yang basah dengan handuk kecil, belum menyadari Seokjin yang lebih fokus pada ponselnya ketimbang mengeringkan rambutnya yang basah. Beberapa menit setelahnya, barulah Namjoon menyadari ada yang aneh. Kepalanya yang sedaritadi tertunduk perlahan mendongak. Mendapati Soekjin yang masih asik dengan ponselnya.
Dilemparnya handuk kecil yang basah ke sofa single yang ada di dalam kamar, Namjoon kemudian menaiki ranjang dengan berisik. Barulah Soekjin tersadar dan mengalihkan wajahnya dari ponsel, menatap Namjoon yang kini ada di sampingnya dengan wajah segar sehabis mandi.
"S-sudah selesai?"
"Kau bisa lihat sendiri hyung."
Seokjin mengerjap, mengangguk menanggapi jawaban Namjoon. Tangannya baru saja hendak mengambil ponsel yang tadi sempat terabaikan, namun Namjoon lebih dulu menggapai ponselnya lalu menaruh serampangan ke meja nakas yang ada disamping kasur.
Baru saja Seokjin hendak protes, namun buru-buru Namjoon menyelanya. "Kau mengabaikanku karena benda pipih itu hyung." Seokjin memutar bola matanya, Namjoon dengan sifat cemburunya yang kelewatan itu benar-benar. Seokjin akui dirinya salah karena mengabaikan Namjoon, namun semua bukan tanpa alasan. Itu semua karena artikel yang ia baca benar-benar penting, namun diatas semua itu Namjoon tentunya lebih penting.
"Maafkan aku sayang, aku agak sedikit sibuk membaca beberapa rtikel. Dan tidak ada tapi-tapi juga protes." Seokjin buru-buru membuat pertahanan sebelum Namjoon bertanya ataupun berkata yang aneh-aneh. Seokjin tersenyum melihat keterdiaman Namjoon, tangannya menangkup wajah Namjoon kemudian menepuk-nepuknya lembut lalu mengalungkan tangannya dileher Namjoon. Membawa tubuh besar Namjoon kedalam pelukan hangatnya.
Sama halnya dengan Seokjin, Namjoon juga tidak ingin mereka bertengkar atau adu mulut hanya karena hal kecil. Jadi Namjoon lebih memilih menurut dan membalas pelukan Seokjin, mendekap kekasihnya dengan erat.
"Joon?"
"Ya sayang?"
"Kapan terakhir kita berciuman?"
Alis Namjoon saling menyatu saat mendengar pertanyaan Seokjin, mengekrut tidak mengerti dengan apa yang baru saja Seokjin tanyakan. "Aku tidak tahu hyung. Kenapa?" Namjoon akui karena kesibukannya mereka jarang melakukan skinship, apalagi bercinta. Kebanyakan waktu senggang mereka habiskan dengan saling berpelukan dan berakhir dengan tertidur.
Raut wajah Seokjin berubah menjadi cemas, ia dengan cepat melepaskana pelukan Namjoon. Mendorong tubuh Namjoon agar wajah mereka dapat saling bertatapan, "Cium aku sekarang joon."
Namjoon terbengong diduduknya, tidak mengerti dengan permintaan Seokjin yang tiba-tiba. Bukannya ia tidak mau mencium mahluk manis yang ada dihadapannya, hanya saja ini menjadi sangat awkward. Biasanya mereka berciuman karena suasananya memang cocok dan pas, bukan karena permintaan dari dirinya ataupun dari Seokjin.
"Apa yang kau tunggu? Cium aku Joon. Ayooo." Seokjin dengan wajah memelasnya adalah kelemahan Namjoon,yang membuatnya tidak berkomentar lebih ataupun menanyakan kepenasarannya dan lebih memilih menuruti kemauan Seokjin.
Namjoon meraup bibir Seokjin tiba-tiba, meciumnya tepat dibibir. Tangan Seokjin meremas ujung kerah bathrobe Namjoon, menariknya agar ciuman mereka bertambah dalam. Tangan Namjoon yang semula melonggar dipinggang Seokjin kini kembali mengerat , membuat tubuh mereka saling menghimpit.
Namjoon semakin terbawa suasana, mencoba menggali lebih dalam bibir Seokjin yang diijinkan oleh pemilknya. Memberikan Namjoon akses lebih, hingga akhirnya daging tidak bertulang mereka bermain, saling mencumbu hingga Namjoon tidak kuat membendung hawa panas disekitar mereka, ia mendorong tubuh Seokjin hingga berbaring. Menatap Seokjin yang mengeluarkan percikan yang sama dalam matanya.
"Kau harus membayarnya sayang."
.
.
.
OMAKE
Namjoon meregangkan tubuhnya yang terasa segar, bibirnya membentuk sebuah senyum saat melihat Seokjin yang tengah terbaring pulas tanpa pakaian disebelah tubuhnya. Jangan salahkan Namjoon karena lepas kendali, ini semua ulah Seokjin yang meminta sebuah ciuman.
Ah, ciuman. Namjoon masih bertanya-tanya tentang sikap Seokjin yang satu itu. Namun, semua sikap anehnya bermula dari Seokjin yang mengabaikan dirinya dan lebih memilih memandangi layar ponselnya.
Namjoon akhirnya mengambil ponsel Seokjin yang tergeletak diatas meja nakas, membuka kunci ponsel Seokjin. Ponsel Seokjin menampilkan sebuah halaman artikel yang membuatnya tersenyum. Atau lebih tepatnya menyeringai senang.
"… Ciuman (lidah) anatara pasangan membuat mereka dapat hidup lebih lama 5 tahun dibanding pasangan lain yang jarang atau tak pernah melakukannya. Dianjurkan berciuman setiap hari …"
"Thanks god! Welcome heaven."
.
.
.
END
