• Black Suit •

O2.

PS : di chapter ini, italic buat percakapan dan kata inggris aja kok.

Selamat membaca

• • •

Matahari tak lagi menampakkan dirinya. Cahaya meredup. Digantikanlah oleh sang bulan. Waktunya untuk anak kecil kembali ke tempat tidur mereka, tidak dengan orang dewasa yang bekerja begadang. Mereka pun juga. Para agen kesayangan kita.

Lima orang dari keseluruhan agen yang ada memasuki ruangan pimpinan tertinggi mereka untuk melapor hasil dari misi yang telah dilakukan. Sehun salah satunya berada di situ dan empat lainnya berpasangan, leader dan co-leader.

Layaknya agen yang terlatih profesional, mereka berbaris rapi secara horizontal dengan sikap istirahat.

Pintu ruangan terbuka, seorang pria paruh baya yang didampingi oleh asisten yang kebetulan juga pria muda pun masuk ke dalam ruangan. Kelima agen itu memberi hormat dengan kompak.

Sang pimpinan itu pun membalasnya sebelum duduk di kursi empuknya. Sikunya ia letakkan di atas meja ukir yang terbuat dari kayu itu, tangannya ia gesturkan layaknya ia adalah bos tertinggi mereka. Memang.

Suasana menjadi tegang, hawa kehadirannya mengintimidasi yang lain. Patutlah ia seorang pemimpin. "Mari kita lihat apa yang kau akan sampaikan."

"Mission Report: Mission accomplished." ucap pemuda yang paling tinggi diantara mereka, Agen Wu Yifan. Ia ditemani oleh co-leadernya, pemuda bermata rusa, Agen Xi Luhan.

"Good." balas bos mereka pendek. Tak mau bertele-tele, langsung saja menengok ke arah Sehun.

"Mission Report: Mission accomplished."

"Okay," gumam Sang Pemimpin sambil mengelus dagunya. "dan bagaimana bisa kau yang melapor padaku, Agen Oh? Care to explain?" tatapannya yang tajam membuat Sehun tegang.

"Hanya Agen Huang dan saya yang kembali—" kalimat Sehun terputus cukup lama ditengah-tengah membuat agen yang lain melirik ke arah dirinya. Ia ragu-ragu untu melanjutkan, tapi laporan tetaplah laporan. "yang lainnya tidak dapat kembali."

"Hmm, ya, lanjut."

"Mission Report. Misi penyamaran berhasil. Informasi telah didapatkan dengan baik." kata pemuda di sebelah kanan Sehun setelah ia berdehem karena dengan tiba-tiba dirinyalah yang dipanggil. Agen Kim Junmyeon, yang ditemani oleh pemuda bermata bulat, Agen Do Kyungsoo.

"Okay, dismissed. Except Agent Kim, Agent Wu, and you, Agent Oh. I want to have a word before you leaving this room." Sang Pemimpin, Lee Sooman, menghela napasnya, menyandarkan punggungnya ke kursi empuk itu.

Mereka berdua yang namanya tidak dipanggil pun keluar dari ruangan pemimpin mereka itu. Luhan melirik ke arah Sehun dengan tatapan khawatir sebelum ia sempat meninggalkan ruangan itu. Sedangkan empat agen lainnya mengondisikan ekspresi wajah mereka tetap poker face.

• • •

Kebutuhan kafein agar tudak mudah ngantuk membuat Sehun keluar dari kamarnya. Ia belum tidur sama sekali setelah dari ruangan pimpinannya karena harus membuat laporan. Dan sekarang itu tengah malam.

Asrama para agen di malam hari tidaklah begitu ramai. Masih ada beberapa ruangan yang lampunya menyala. Bahkan ruang tunggu saja lampunya masih menyala.

Sehun berhenti di depan mesin minuman. Ia memilih black coffee karena tuntutan yang mengharuskan ia terjaga hingga laporan selesai. Bila Sehun bisa memilih, ia lebih memilih jalan keluar ke toko bubble tea terdekat dan membeli minuman favoritnya, choco bubble tea. Ia menghela nafas.

Saat Sehun berbalik, ia menemukan pemuda itu. Lagi. Pemuda yang membongkar aktingnya sedang berjalan ke arahnya dan Sehun asumsikan ia mungkin ingin membeli minuman juga. Sepertinya ia habis berolahraga malam. Terlihat dari keringat yang bercucuran dari dahi dan kaos yang basah di bagian leher dan ketiak.

Pandangan mereka bertemu dan membuat pemuda itu menyapa Sehun terlebih dahulu, "Oh Sehun."

"Agen Kim." balas Sehun pendek.

"Haruskah seformal itu? Ini di asrama bukan di gedung yang penuh tekanan dan tuntutan itu, kau tau?" Jongin terkekeh kecil mendengar balasan Sehun.

"Jika tak ada lagi yang kau bicarakan, maka saya permisi dulu." Sehun mengambil kaleng minumannya dan melewati Jongin.

Jongin berlari ke depan Sehun, menghalangi jalannya. "Wait, wait, wait. How about we have a little chit chat over there?" Jongin menunjuk ke arah cafe bubble tea yang terletak di seberang.

"Aku masih ada laporan yang harus kuselesaikan."

"My treat." balas Jongin tak mau kalah.

"..." Tawaran gratis membuat Sehun goyah. Lumayan bukan untuk menghemat uang. Lagipula itu ditraktir.

"You can have anything you want."

Sehun menelan ludah seraya ia memalingkan raut wajahnya yang malu-malu-kucing agar tidak terlihat oleh Jongin. "Better you have important things to talk about."

"I am."

"Fine. Only one hour." kata Sehun final sebelum ia menuju ke cafe bubble teanya

• • •

"Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?" ucap Sehun memulai pembicaraan di antara mereka.

"Hmm, tipe seperti apa yang kau suka?" tanya Jongin dengan senyum tampannya yang terlukis di wajahnya.

Sehun menatap Jongin dengan resting-bitch-face miliknya sebelum menambahkan, "Useless. This is so bloody wasting my time. Aku pergi." Ia beranjak dari kursinya, hendak meninggalkan pemuda aneh itu. Akan tetapi, lengannya ditahan terlebih dahulu oleh Jongin.

"Wa, wa, wa. Aku hanya bercanda. Tolong jangan anggap semua perkataanku dengan serius begitu, Sehun."

Sehun kembali duduk melihat choco bubble tea, minuman favoritnyGampangng bersama sepotong cheesecake. Bukan gara-gara Jongin. Ia menyeruput minumannya itu sambil bergumam pelan agar Jongin menyampaikan apa maksud pertemuan mereka ini.

"Kau akan bergabung dengan timku dan bekerjasama untuk misi berikutnya." ujar Jongin serius.

"Oh, soal itu." Aha. Beritanya sudah menyebar kah? Sehun tersenyum sambil mendengus pelan.

"Hei, jangan salah sangka dulu. Aku dapat info dari Junmyeon-hyung. Ingat yang bersamamu di ruang pimpinan?"

Sehun membalas dengan anggukan. Merasa tidak begitu tertarik dengan yang baru saja Jongin utarakan.

"Kenapa?"

"Apakah leadermu belum memberitahukan alasannya? Gampang saja. Aku hanya butuh rekan saja untuk misi selanjutnya karena aku kehilangan partnerku. Itu saja. "

Jongin menggelengkan kepalanya. "Hei, apakah kau— baik-baik saja?"

"Tolong jangan terdengar begitu girly. Hal seperti itu hanya dilakukan oleh para gadis saja." Ada jeda sebentar sebelum Sehun menjawab.

Jongin pun terkekeh pelan. Balasan yang dikeluarkan oleh Sehun kali ini benar-benar diluar ekspektasinya. "Girly, huh?" ulangnya pelan.

"Kalau begitu," Sehun berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Jongin. "akan kunantikan bekerja denganmu, Jongin."

"Yeah, me too." balas Jongin seraya menjabat tangan Sehun.

"Oh— you can have this. Since I'll take away the other bubble tea." Sehun meletakkan kaleng black coffee yang sebelumnya ia sempat beli. Tak lupa, ia menunjuk dua gelas bubble tea yang telah rapi bungkusannya untuk dibawa pulang.

Jongin hanya bisa menatap minuman kaleng itu sebelum menggeser manik matanya menatap punggung Sehun yang lama kelamaan lenyap dari pandangannya.

Sehun menutup pintu kamarnya dan duduk di tepi kasurnya. Tak lupa ia meletakkan bubble teanya itu di atas meja sebelah kasurnya. Kamarnya terasa sangat luas sekali tanpanya. Tanpa rekan satu misinya. Tanpa hyung tercintanya itu.

Ya, di dalam asrama, satu kamar berisi dua orang. Sebagai roommate dan juga sebagai rekan dalam misi.

Sehun meraih bingkai foto yang terletak di sebelah minuman yang telah ia letakkan, mengelus pelan tepi kayunya.

"Ugh.. Belum ada sehari tapi aku sudah merindukanmu, Hyung."

Foto yang berisi dua orang pria muda. Salah satunya adalah dirinya. Sedangkan pemuda yang satunya lagi berpose seperti remaja yang sangat menikmati pertumbuhannya padahal ia sudah bisa dikatakan sebagai orang dewasa. Dewasa awal.

Di situ tergambarkan Sehun yang menyedekapkan kedua tangannya dengan wajah yang ia palingkan dari kamera. Dan yang lain sedang melingkarkan salah satu tangannya di leher Sehun dan tangannya yang lain bergestur peace. Mereka berdua berfoto dalam setelan hitam yang menjadi favorit untuk keduanya.

"Kenapa juga aku tak sempat tersenyum di foto ini." sesalnya sebelum ia merebahkan dirinya di kasur berukuran queen size. Sehun mengeratkan pegangannya pada bingkai foto di atas perut datarnya.

This is too much.

I can't handle this, Hyung.

Dammit.

Why are you leaving me, Chanyeol-Hyung? batinnya di dalam hati.

Ia menutup matanya dengan punggung tangan seraya bulir air mata mulai keluar.

Ia menangis dalam diam.

Menangisi hyung tercintanya.

• • •

Bersambung...

a/n : maaf belum kelihatan kaihunnya.