Previous. . .
"Dan aku paling membenci jika bajuku harus kotor karena kalian." Dalam bayangan Hinata ia melihat Neji yang bertanya ini-itu seperti reporter. Akan sangat menyulitkan untuk mengelak dari kakaknya yang overprotektif itu. "Aku sudah telat pulang dan kalian memperburuk keadaan." Ia menarik napas panjang kesal. Hari ini sungguh melelahkan sampai badanya terasa lengket akibat banyak keluar keringat.
Satu pemuda yang tadi menabrak rak buku berusaha bangkit, hendak memberi bogem mentah pada wanita yang sibuk mengoceh ini-itu. Persetan dengan kuku lecet atau baju kotor yang dilontarkan Hinata. Ia tidak peduli dan ingin segera memberi pelajaran pada perempuan sialan itu.
Hinata jelas tak menyadari, dan ketika kepalan tangan itu terangkat ke atas lalu terayun tepat pada kepala bagian belakang Hinata, lelaki itu harus kembali tergeletak di lantai karena pukulan seseorang tepat mengenai tengkuknya.
"Diam di situ, atau kubuat impoten sekalian."
Hinata berbalik ke belakang, melihat sosok tinggi berdiri melindunginya. "Na-naruto-san?" Tanyanya sedikit tak yakin.
Naruto © Masashi Kisimoto
Pairing : Naruto-Hinata
Warning : typo(s), AU, School life, OOC, Worst word
Rated : T+ semi M
Hot!Hinata Cold!Naruto
Cover © Atharu
"Karangan fiktif. Tidak ada unsur menistakan chara mana pun. Hanya untuk hiburan semata tanpa mengambil keuntungan material dalam bentuk apapun."
No copas no flame!
SEDUCE by Atharu
.
.
.
.
Naruto melonggarkan dasi yang melingkar di kerah gakuren, melepas kaca mata dan menaruhnya di saku seragam serta melemaskan otot bagian leher. Ia berjalan tenang, namun ada yang berbeda dari sosok Naruto yang dilihat Hinata saat ini. Entah kenapa atmosfer di tempat ini berubah mencekam, dan yang paling membuatnya terpaku adalah raut dingin Naruto– meski pemuda itu sering menampakannya.
Tapi kali ini seperti ada hawa menyesakan di sekeliling Naruto sampai membuatnya kekusahan bernafas. Menyeramkan. Itu yang dapat Hinata simpulkan.
"Bangun kalian." Ke tiga pemuda asing ditepuk pipi mereka sampai setengah sadar. "Konoha High School memang terkenal sampai banyak sekolah lain yang ingin menjalin relasi. Tapi– "
"Aku tidak tahu bahwa ada tikus-tikus yang ikut menyusup." Cengkraman Naruto mengerat pada leher salah satu dari tiga pemuda sampai tercetak ruam kemerahan jemari. "Ughh. . ." Ringis pemuda itu.
"Aku mungkin hanya akan memberikan peringatan atau memanggil pihak sekolah kalian atas tindakan tidak menyenangkan. Tapi – " Ia melirik pada barang-barang berbahaya untuk melukai yang tergeletak di lantai. " –sampai membawa benda berbahaya serta menyerang murid di sini, ku rasa hukumannya akan berbeda."
Ke tiga pemuda itu merasakan bulu kudu mereka meremang sampai tanpa sadar mereka mengompol di celana. Buru-buru bisa meloloskan diri, bisa selamat dari tempat ini saja mereka sudah putus asa. Tidak hanya gadis cantik – Hinata saja yang mengerikan, kenapa pula kini mereka dihadapkan oleh seseorang yang mempunyai hawa membunuh seperti monster sebegitu kuatnya begini?!
Kenapa di sekolah ini banyak orang-orang mengerikan, hah!
"Ampunnnn. . . maafkan kami." Teriak mereka kolosal berbarengan. Tubuh mereka gemetar bukan main menyadari arti tatapan Naruto yang tak segan-segan melempar mereka ke kandang buaya detik ini juga. Kini mereka menyesal, seharusnya mereka melakukan penyelidikan terlebih dahulu terhadap calon korban mereka, bukan malah langsung menyanggupi permintaan seseorang untuk melenyapkan Hyuuga Hinata.
"Jadi, jawab dengan jujur. Siapa yang menyuruh tikus seperti kalian mengacau di sini, hm?"
"Ja-jangan bunuh kami."
Naruto memamerkan smirk hingga menampilkan rentetan gigi putih yang nampak menyeramkan. "Tidak akan kubunuh jika kalian mengaku. Mungkin akan ku siksa di depan lapangan jika kalian tetap bungkam." Ancam Naruto sungguhan. Ke tiga orang babak belur itu saling melirik satu sama lain, antara jujur-sedikit luka atau bungkam-sekarat. "Ma-maafkan kami. Kami hanya disuruh nona Sh-shizuka untuk memberi pelajaran wanita itu." Gerak mata mereka mengarah pada Hinata yang terbengong mendengarnya.
Hinata memijat kepalanya. "Ya ampun gadis bar-bar itu. Kekasihnya baru ku goda saja sudah menjadi gila. Apalagi kalau nanti kekasih menyebalkannya berbalik menggilaiku." Gumamnya tak peduli meski Naruto tengah menatapnya jengah.
"Baiklah katakan itu nanti. Sekarang ikut aku." Dengan patuh ke tiga pemuda asing itu mengikuti Naruto meski dengan terseok. "Dan kau– " Katanya melihat keadaan Hinata yang memiliki luka berdarah di bagian tangan serta ada sobekan di bagian rok. Tentu Naruto mengerti emosi di gadis itu mengingat sifatnya yang tak mau ada luka di tubuh mulusnya.
"Tunggu aku di UKS."
"Tidak!" Tolak Hinata tegas. "Aku mau pulang, ini sudah terlalu malam." Jengkel Hinata karena yakin bahwa kakaknya sedang khawatir setengah mati.
"Kau berani membantahku setelah kejadian ini?"
"Tidak perlu mengatur hidupku. Aku bukan bawahanmu." Determinasi Hinata terlalu kuat untuk digoyahkan dalam adu debat.
Terdengar desisan frustasi Naruto. "Aku belum pernah bertemu orang se-keras kepala sepertimu. Aku akan sebentar mengurus mereka, setelahnya akan mengobati lukamu dan kita pulang. Pulang bersama." Tekan Naruto pada kalimat terakhirnya.
"Wow, bertindak seperti pahlawan setelah membuat kulit mulusku ini memiliki bekas luka karena pacarmu? Sialan, aku punya banyak link lelaki yang mau mengantarku selain dirimu asal kau tahu." Hinata baru mau melangkah pergi sebelum tangannya dicengkram erat oleh tangan kekar Naruto.
"Lepaskan brengsek!" Maki Hinata yang diabaikan oleh Naruto. "Kau tidak boleh pergi tanpa persetujuanku." Balas Naruto serius. Matanya berkilat menahan rasa kesal pada ke-egoisan gadis mata putih ini. Sulit sekali mengerti jalan pikir Hinata, pikir Naruto. "Lagipula aku adalah targetmu bukan, kau ingin aku berlaku baik padamu dan kau mendapatkannya."
"Aku tidak tertarik pada orang yang memandang kasihan padaku!" Mana mau Hinata menerima kebaikan palsu tersebut? Dirinya tidak akan merendah pada siapapun yang melempar perasaan kasihan terhadapnya. Ayolah, setelah semua penolakan Naruto padanya dan kini ia tiba-tiba menjadi baik tentu membuat dirinya diperlakukan layaknya orang lemah yang tertindas.
"Hey kalian. Cepat bilang padaku apakah aku harus percaya pada lelaki yang sudah menolakku ini?" Pertanyaan Hinata ditunjukan pada ke tiga orang yang sedari tadi diabaikan dan menjadi penonton setia adu mulut antara Naruto dan Hinata. Ditatap sedemikian tajamnya membuat orang-orang itu merasa keselamatan mereka tengah terancam.
"Ti-tidakkk." Ucap mereka serempak serupa cicitan anak ayam yang terjepit. Hinata tersenyum puas dengan bibir melengkung indah. Mudah sekali mendapat dukungan secara sepihak.
"Kalian bilang apa?" Bulu kudu mereka langsung berdiri melihat Naruto yang tersenyum iblis ke arah ke tiganya. Keluar mulut singa masuk ke lubang buaya. Jadi, bolehkan kalau mereka berdoa agar bisa melihat hari esok jika dihadapkan pada dua perseteruan antara Naruto-Hinata.
Sedikit ragu, mereka mengubah jawaban karena sudah tak tahu lagi harus bagaimana untuk selamat selain menuruti kemauan entah itu Hinata atau Naruto. "Ka-kami bilang yaaaaaa."
"YAK, MANA BISA BEGITU!"
Sebelum Hinata kembali mengeluarkan umpatannya, Naruto terlebih dulu sudah membungkam mulut berisik itu dengan lumatan yang tak pernah Hinata rasakan sebelumnya. Mereka berciuman untuk ke dua kalinya. Melingkupi bibir satu sama lain disertai sebuah hisapan kuat. Bedanya kali ini bukan hanya bibir mereka yang saling bersentuhan. Melainkan organ lunak– lidah Naruto berusaha menyelinap menerobos bibir kenyal Hinata, menyatukan lilitan lidah mereka untuk saling bergumul tak peduli dengan tiga orang yang sudah mimisan di tempat.
'Ya Tuhan!' Hinata memekik dalam hati. Kakinya sampai berjinjit ketika Naruto menarik pinggulnya ke atas serta tengkuknya maju memperdalam lumatannya. Mata Hinata melebar sempurna merasakan jemari tangan Naruto ikutan mengelus pinggangnya. Entah saliva siapa yang menetes di sudut bibir Hinata, ia tak bisa berpikir jernih lagi. Dari puluhan mantan pacar Hinata, tidak ada yang sekurang ajar seperti ini. Tidak ada yang mampu meluluhkan dirinya atau sampai membuatnya mabuk kepayang.
Tapi, untuk kali ini. Bisakah Hinata berteriak minta tolong?
Kepala Hinata sontak berputar, nafasnya tersenggal kehabisan pasokan oksigen. Cara liar Naruto berciuman tak bisa Hinata imbangi. Meski dirinya sudah sering melihat referensi aneka macam jenis ciuman agar dianggap mumpuni, lagi pula ini ciuman kedua mereka. Tapi, untuk kali ini seorang Hyuuga Hinata mengakui bahwa ia kalah dari Naruto. Lidah pemuda blonde itu menari-nari dalam rongga mulutnya, menginvansi setiap jengkalnya dan membuat seluruh pikirannya terhanyut dan berkabut.
'Sialan. Kau memang lucky bastard– Uzumaki Naruto'
.
.
"Aku tidak mau dekat-dekat denganmu."
"Ck, keras kepala. Jika kau diserang lagi, aku tidak bisa cepat menolongmu." Bola mata Naruto bergulir bosan, memangnya ada ya pulang bersama dengan jarak radius 10 meter.
"Aku tidak butuh bantuanmu."
"Kita pulang bersama, bukan mengawalmu." Dengan cepat Naruto manarik lengan Hinata dan menyeretnya. "Hei, aku bukan barang yang bisa kau seret. Tak punya sopan santun sekali." Cibir Hinata melepaskan diri dari tarikan Naruto.
"Yayaya mengocehlah sesukamu. Asal kau tahu, gank di sini cukup sepi dan banyak gangster yang suka memalak orang yang lewat sendirian."
Otomatis Hinata mengeratkan pegangannya pada tas ransel. "Bo-bohong." Ia melirik sekeliling dengan raut wajah waspada.
"Apalagi, korban mereka dalam keadaan pamer aurat– " Sepasang bola mata biru menyorot sobekan di rok mini yang terkesiap. Paha putih mulus menyembul tak malu-malu. Apalagi bibir bengkak yang memerah bekas ciumannya. Oh, Naruto menyeringai. " –seperti mengundangan untuk tindakan asusila."
Pelipis Hinata berkedut jengkel dan kesal. Pintar sekali Naruto membuat emosinya melunjak naik. Berlama-lama dekat dengan Naruto bisa membuat hipertensi. "Ini semua karenamu!" Timpal Hinata sarkastis sesekali menarik roknya agar tidak semakin terbuka dan mengusap kasar bibirnya sampai kering.
"Punya banyak musuh lalu kau menyalahkanku? Apa otakmu tidak pernah di-upgrade!" Mulut Naruto kebas sendiri meladeni Hinata. "Baiklah silahkan pulang sendiri. Rumah kita beda arah dan jika ada masalah kau bisa mengatasinya sendiri. Byee."
Hinata gelagapan sendiri. Ia memang bisa bela diri, tapi kalau melawan sepuluh preman sih itu namanya cari mati. "T-tunggu Naruto-san." Langkah kaki Naruto dikejar dengan sedikit terburu-buru. Jemarinya menarik ujung seragam pemuda itu. "Lelaki gentleman tidak akan meninggalkan perempuan cantik sendirian."
"Antarkan aku pulang." Suara gadis itu memelan menahan gengsi, ditambah dengan pias merah yang menyebar di sepanjang tulang pipinya. Hanya kali ini saja aku menurunkan harga diriku, yakin Hinata dalam hati.
Naruto memelankan langkah kakinya, berbalik ke belakang dan melingkarkan jaketnya di pinggang Hinata. "Pakai ini untuk menutup rokmu – " Hinata mematung menahan agar rona merah tidak menyebar ke seluruh wajah meski itu mustahil.
"Dan, bisakah kaki pendekmu itu berjalan lebih cepat?"
"Hah? Yak!" Hinata memukul punggung Naruto dengan tasnya. "Mulutmu brengsek sekali." Seenaknya saja ia mengatai kakinya pendek. Hinata akui bahwa tingginya tidak seberapa, tapi julukan pendek itu terlalu kejam. Kenapa tidak memilih kata 'mungil' saja.
Mata Hinata melihat punggung tegap Naruto ketika lelaki itu berjalan pelan di depannya. Lelaki itu punya punggung yang bagus. Oh, punggung lebar adalah kesukannya. Bisa dijadikan tempat bersandar atau sangat enak untuk dipeluk. 'Aisshh, jangan berpikir jorok Hinata' runtuknya menggeleng-gelengkan kepala, apalagi orang yang sempat ia puji tadi adalah Naruto. Lebih baik ditolak seluruh lelaki daripada ketahuan memuji diam-diam pemuda Uzumaki itu.
"Tunggu aku, sialan." Hinata kemudian berlari menyusul Naruto. Tapi, baru mendekat, Hinata sudah mengumpat dalam hati.
Angin sialan. Kenapa bisa membawa aroma citrus bercampur cendana mengusik saraf olfactory-nya.
Dan kenapa pula dadanya tak bisa berdetak secara normal lagi!
.
.
Neji tidak pernah segusar ini sebelumnya, duduk berhadapan pada sosok asing berpenampilan nyetrik ditambah mengantarkan adiknya dalam kondisi jauh dari kata baik. Mata putih peraknya mengobservasi remajadi depannya, menilai apakah lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Naruto adalah lelaki baik-baik atau justru brengsek karena sudah membuat adik manisnya terluka.
"Ekhem, jadi namamu Naruto bukan?" Naruto mengangguk, duduk bertumpu pada kaki menunjukan rasa hormat. "Bisa kau ceritakan kenapa adik manisku pulang dengan keadaan seperti itu?" Neji berusaha mengatur laju emosinya meski hatinya sudah panas setengah mendidih melihat dengan mata kepalanya sendiri keadaan Hinata.
"Maaf Hyuuga-san. Ada kejadian yang tidak terduga di sekolah sehingga menyebabkan Hinata-san terlukan. Pihak sekolah sangat menyesalkan hal itu." Naruto membungkuk menyampaikan rasa penyesalannya.
Alis Neji menukik. Kejadian apa memangnya di sekolah sampai-sampai Hinata terluka? Terdapat bekas cakaran dan ruam merah di wajah, bajunya pun sobek di sana-sini. "Bisa kau jelaskan keadaan apa itu?" Geramnya.
"Itu karena –"
"–itu, ano tadi di sekolah ada bazar. Sangat ramai sampai berdesakan dan aku terdorong terjatuh, menabrak stan, niisan." Hinata langsung datang dari arah dalam memotong kalimat Naruto. Gadis itu memberi kode pada Naruto agar tidak cerita yang sesungguhnya. Naruto tak mengerti, namun lewat sorot mata bulan itu tersampaikan makna bahwa ia harus diam dan mengikuti skenario yang telah dibuat Hinata.
Mata Neji menelisik hubungan mencurigakan antara adiknya dengan pemuda asing ini. "Oh? Berdesakan apa bisa sampai membuat wajahmu lebam dan. . . ASTAGA HINATA! KAKAK BENAR-BENAR CEMAS MELIHAT DIRIMU SEPERTI HABIS KENA AKSI ANARKIS. KAKAK SEPERTI ORANG GILA BEGITU KAU PULANG DENGAN KEADAAN TIDAK BAIK-BAIK SAJA."
Kedua tangan Hinata menutup telinganya. Lengkingan suara kakaknya benar-benar menunjukan bahwa Neji sedang marah, murka besar. "Jujur pada kakak, Hinata. Ada yang melukaimu? Kakak pastikan ia akan merasakan pembalasan yang lebih mengerikan." Kedua tangan Neji terkepal kuat dengan rahang mengeras.
Air muka Neji begitu marah dan sedih dalam waktu bersamaan membuat Hinata terisak. Ia belum pernah melihat kakaknya dalam keadaan semengerikan ini. Apa ia sudah menjadi adik yang buruk? Hinata bahkan merasa sangat jahat telah membuat Neji seperti ini. Kakaknya sangat menjaganya sampai-sampai ia takut bercerita tentang hal buruk yang menimpanya. Berbohong adalah keahlian yang secara tidak langsung Hinata kembangkan untuk menutupi lukanya selama ini di depan Neji.
"Apa yang dikatakan oleh Hinata itu benar, Hyuuga-san." Naruto bersuara memecah ketegangan diantara dua kakak beradik di depannya. Hanya untuk kali ini saja ia mengalah mengikuti kemauan Hinata, apalagi melihat keadaan Hinata yang bahunya bergetar menangis. Rasanya Naruto mengerti betapa Hinata sangat menyayangi kakaknya sampai tidak mau bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Apa selama ini ia memendamnya sendirian? Naruto tak akan bertanya langsung karena ia pun tahu jawabannya.
"Pengunjung membludak sehingga terjadi aksi dorong sampai melukai beberapa murid, salah satunya adalah Hinata." Perempuan yang disebut namanya menoleh ke Naruto. Sudut bibirnya tertarik ke atas, seulas senyum penuh makna dikulum. Ia merasa sangat bersyukur Naruto mau membantunya. Mau tak mau Hinata harus mengakui, musuhnya itu kini menjelma sebagai penolong.
Melihat cara bagaimana Neruto menyampaikan dan ketegasannya dalam berbicara berhasil membuat Neji sedikit percaya. Tensi tingginya berlahan menurun tapi ia tetap merasa marah. "Baiklah aku percaya. Aku harap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, Uzumaki-san." Ada nada menyudutkan yang Naruto dengar mengarah padanya.
"Dan aku harap ini juga terakhir kalinya melihatmu pulang mengantar Hinata." Neji tak dapat menyembunyikan rasa tidak sukanya pada Naruto karena ia lelaki pertama yang mengantar pulang Hinata ke rumah. Apalagi kedekatan ganjil yang Neji lihat diantara keduanya. "Hinata antar ia ke depan rumah, sudah larut malam dan ia harus angkat kaki dari sini."
Rupanya sifat menyebalkan Hinata juga di miliki kakaknya, batin Naruto mendapat ungkapan usiran yang blak-blakan. Secara langsung Hinata segera menarik lengan Naruto agar pemuda itu mengikutinya ke luar. Tangan Hinata bergerak gelisah tanda ia sedang gugup, otaknya blank memikirkan kalimat apa yang sepatutnya ia ucapkan pada Naruto.
"Terima kasih kau tidak mengadukannya pada niisan." Wajahnya menunduk tak mampu memandang tepat ke dua iris biru. "Ma –maaf jika aku membuat masalah." Se-egois apapun Hinata, ia akan tetap mengucapkan terima kasih pada orang yang membantunya.
'puk'
Hinata mendongak ketika dirasa ada sebuah tangan yang mengelus lembut kepalanya. Rasanya hangat dan menenangkan. Matanya berkedip beberapa kali melihat jarak wajah Naruto yang begitu dekat dengan roman wajah maskulin dan semakin tampan ketika tersenyum tipis. "Apa kau pikir hanya kakakmu saja yang khawatir jika terjadi apa-apa dengan dirimu?" Kening Hinata mengerut tak paham, dan Naruto sedikit terkekeh melihatnya. Gadis ini benar-benar tahu cara mempermainkan perasaannya. "Ada orang lain yang sebenarnya juga memperhatikanmu."
"Jika kau merasa kesulitan, tak ada salahnya berbagi bukan. Pasti orang itu bersedia menemanimu."
Alis Hinata saling bertaut. "Siapa orangnya?" Tanya Hinata tak mengerti.
"Kuharap, kau dapat mempertimbangkanku sebagai orang yang kau percaya." Bisik Naruto di telinga Hinata. "Ah, aku harus pulang. Sampai jumpa di sekolah."
Dada Hinata berdebar sangat kencang ketika melihat senyum lebar Naruto untuk pertama kalinya. Senyum lima jari yang membuat Naruto terlihat berkali lipat lebih tampan dari biasanya. Darahnya berdesir merespon apa yang Naruto katakan barusan, seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik secara bersamaan di perutnya. Bahkan bekas di mana Naruto menyentuhnya masih terasa hangat. Bagaimana mungkin ia merasakan semua kegilaan ini hanya karena secuil perhatian dari Naruto?
Tidak, ini tidak boleh terjadi. Hinata ketakutan setengah mati. Perasaan asing ini seenaknya mulai bercokol dan menancapkan akarnya di hati Hinata.
aku tidak mungkin jatuh cinta padanya kan?
.
.
Pagi sekali Naruto sudah berada di sekolah, tepatnya duduk di kursi kerjanya. Meski sudah biasa melihat banyaknya tumpukan kertas entah berisi proposal, jadwal rapat, atau bisa pula terselip surat terbuka sekadar untuk meminta ditambahnya fasilitas sekolah. Kepalanya berputar, mata merah sedikit berair, nyatanya kopi tinggi kafein yang ia minum tadi pagi tak memberi efek dopping. Ia malah menopang wajahnya dengan sebelah tangan.
Apa ini karena ia tidur larut malam. Ah ya ia baru ingat bahwa semalam ia pulang terlalu malam karena mengantar Hinata pulang. Disidak pula beberapa jam oleh kakak Hinata –Neji sebelum diperbolehkan pulang meski tahu cuaca sedang dingin.
Sebenarnya bisa saja ia membawa mobil jaguar hadiah dari Ayah Minato dan Mama Kushina yang masih tersimpan di garasi untuk mobilisasi. Tapi, ia bukan anak kaya manja tukang pamer apalagi suka mengobral harta untuk tujuan berleha-leha. Naruto lebih senang merancang masa depan dengan tangannya sendiri.
Berbicara tentang Hinata, Naruto tersadar bahwa ia punya hal penting untuk dikerjakan. Apalagi kalau bukan mengusut kasus penganiayaan terhadap Hinata, meski kenyataannya gadis manis itu justru yang menganiaya para pelaku. Pffttt, benar-benar mirip kucing. Salah pegang bisa dicakar.
"Naruto? Tumben sudah di sini." Sai, anggota OSIS yang mempunyai jabatan sebagai sekertaris serta yang mengurusi semua ekstra kulikuler di sekolah menatap heran pada ketuanya. "Tidak ada rapat kan?" Ia melirik jam tangannya memastikan bahwa sekarang masih pagi.
"Aku hanya sedang melakukan pemberkasan pada suatu kasus, dan tenang saja hari ini kita bebas rapat." Fokusnya masih tertuju pada lembaran kertas hasil investigasi.
"Kasus? Memangnya kasus apa sampai kau turun tangan." Mata hitam Sai menyipit. "Ara~ apa ini hubungannya dengan perempuan binal –" Sebuah death glare sudah mengarah tepat pada pemuda berkulit pucat itu sampai Sai kesusahan menelan ludah. "Ah, maksudku Hyuuga-san."
"Ucapanmu memang selalu tak terkendali ya." Sosok lain ikut menyelah, Shikamaru datang dengan menguap lebar. "Untung saja lidahmu tidak ditusuk pena." Raut malas setengah mengantuk adalah ciri khas Nara Shikamaru. Si tuan Koala nyatanya juga ikutan datang pagi. Menjabat sebagai seorang wakil ketua, mau tak mau membuat Shikamaru harus ikutan datang lebih awal karena ada hal penting yang ditugaskan Naruto padanya. Selain wakil ketua, lelaki dengan gaya rambut ikat nanas itu juga merangkap tugas sebagai dewan keamanan.
Sai tersenyum sampai mata sipitnya tak terlihat. "Maksudku bukan binal –jablay. Justru aku kagum dengan Hyuuga-san, terlihat mudah disentuh tapi nyatanya tak pernah ada yang bisa mendapatkannya."
"Jadi, kau suka dengan Hinata, begitu?"
"Eh, kenapa kau jadi sinis, Naruto?" Sai balas melempar pertanyaan. Menggaruk belakang kepalanya karena tak merasa melakukan kesalahan tapi mengapa dipelototi oleh sang ketua sedemikian garangnya.
"Karena kau terang-terangan memuji gadis cinta pertamanya. Huh, sayangnya ketua kita ini tidak punya nyali untuk memacarinya. Taruhan denganku, ia sering bermain solo dengan membayangkan Hinata." Shikamaru menyeringai pada sahabat kuningnya. Berteman sejak SMP dengan pemuda itu membuatnya tahu segala hal, termasuk urusan pribadi yang disebut jatuh cinta. Atau lebih tepatnya cinta bertepuk sebelah tangan.
"Wow, benarkah kaichou?"
Naruto mendengus kesal. Sejak kapan kedua anak buahnya ini jadi gemar bergosip. "Jangan semakin membual Shikmaru. Berikan dulu file yang aku minta, setelahnya kau boleh berbicara panjang lebar seperti wanita."
Sebuah file print out diserahkan Shikamaru. "Ini data profil, sekolah dan latar belakang orang-orang yang kemarin membuat keributan di sini. Kutambah juga pasal-pasal pelanggaran sesuai permintaanmu – Hah, sangat merepotkan." Keluh pemuda Nara itu. Bagaimana tidak mengeluh jika malam-malam di tengah tidur tenangnya Naruto terus menelponnya untuk meminta mencarikan data pelaku penyusupan di sekolah. Mendokusai. Mentang-mentang ia punya IQ 200 Naruto bebas memerasnya.
"Lalu bagaimana dengan Shizuka? Kau yakin pacarmu yang menyuruh mereka?"
"Bukti yang berbicara seperti itu, Sai." Sejujurnya Naruto menyesali keputusan nekat yang dibuat oleh Shizuka. Seharusnya ia bisa menjaga kelakuan. "Kenapa wanita sering sekali melakukan hal di luar nalar."
"Dan kenapa pula kau berpacaran dengannya jika hanya untuk membuat Hinata melirik padamu?"
Perkataan Shikamaru sukses membuatnya bungkam, tertohok tak bisa membalas. Bukannya dia tipe lelaki berkelebihan hormon yang suka asal berpacaran. Tapi, astaga. Naruto susah mendeskripsikannya. Ini lebih rumit daripada menyelesaikan sebuah proposal pengajuan dana. Bisa dibilang batinnya sudah lelah memupuk asa untuk bisa dekat dengan gadis bermata mutiara itu. Tak ada jalan lain selain menempuh jalan pintas. Keh, mana mau ia bersabar lebih lama.
Asal kau tahu, Naruto bukan tipe orang yang melepaskan begitu saja targetnya.
Sudah sejak SMP ia mengenal gadis bermarga Hyuuga itu, bahkan pernah sekelas selama dua tahun. Namun nampaknya itu bukan menjadi kesempatan untuk bisa dekat dengannya. Hyuuga Hinata versi masa lalu selalu malu-malu, poni tebal membingkai wajah chuby seperti menelan pancaran cantiknya, dan sepasang bola mata putih polos yang sering diejek oleh teman-teman sekelas. Hinata masa lalu adalah gadis pendiam lengkap dengan gaya bicara tersedat-sedat.
Naruto ingat bagaimana kesalnya ia ketika tahu Hinata hanya diam tanpa perlawanan diperlakukan tidak adil, geram saat guru wali kelas malah tak mempercayainya, serta sangat marah ketika dirinya pun tak bisa menolong. Naruto hanya bocah 14 tahun saat itu. Bersosial dengan banyak orang dan menjadi orang yang disegani. Namun, ia terlalu pecundang untuk sekadar menyapa si gadis korban pembuly-an masal. Takut jika nantinya ia juga dijauhi atau malah ikutan dikerjai –meski tidak akan ada yang berani berurusan dengan dirinya mengingat rekam jejak keluarganya.
Ia mengamati, mengobservasi tingkah laku serta keseharian Hinata sampai tidak ada yang luput dari matanya, bahkan sekolah SMA tujuan gadis itu pun sudah ia kantongi. Sampai ia tersadar bahwa banyak waktu yang terbuang percuma. Di saat dirinya berani melangkah untuk mengubah diri menjadi orang cupu –berharap nantinya bisa dekat dan melindungi Hinata tapi hanya angin kosong yang Naruto peroleh.
Harapannya terlalu tinggi sampai lupa berpijak.
Hinata datang dengan segala kelebihan, begitu anggun memasuki gerbang utama Konoha High School sampai menyihir semua mata yang memandang. Penampilannya sangat kontras, penuh dengan gaya modifikasi fashion. Upik abu itu menjelma bagai putri langit, turun ke bumi untuk membuat siapapun menjadi tunduk padanya. Dan ia tak membutuhkan orang lain untuk melindungi dirinya. Kesempurnaan melekat pada pribadi barunya.
Naruto menahan napas, kali ini waktu tak berpihak padanya. Hinata yang sekarang semakin sulit untuk ia gapai.
Seandainya dulu ia menyapa gadis itu, akankah mereka bisa dekat?
Seandainya ia memberanikan diri menolong Hinata, mungkinkah keduanya bisa akrab?
Seandainya ia bisa mengulang, bisakah ia menyatakan perasaannya? Naruto mendesah frustasi. Nyatanya semua hanya terbatas pada 'seandainya' tanpa bisa ia wujudkan. Lalu sekarang ia menjalin kisah asmara hanya untuk menarik perhatian Hinata mengingat kelakuan gadis itu yang akan tertarik dengan lelaki yang telah berstatus pacar orang. Setidaknya Naruto boleh sedikit bersenang diri karena Hinata telah masuk pada perangkap kasat matanya. Tinggal sedikit lagi maka ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan sejak dulu dan tidak ada ia lepaskan lagi.
"You're my own."
.
.
Baru mendudukan pantatnya di kursi, Hinata sudah mendengar namanya disebut di loadspeaker disusul dengan nama Shizuka yang mengharuskan ke-duanya datang ke ruang OSIS secepat mungkin. Ia menggerutu sekilas, mempunyai firasat bahwa hari ini pasti akan menjadi hari yang menyebalkan. Apalagi mengetahui bahwa ia akan se-ruangan dengan Naruto, ditambah dengan Shizuka. Oh, Hinata bisa membayangkan neraka macam apa itu.
"Kuyakin kau dipanggil untuk diskors." Sela seorang siswi yang duduk di pojok disambut gelak tawa gembira yang lainnya. "Atau jangan-jangan langsung drop out dari sini!"
"Astaga, kalau itu terjadi kita harus merayakannya."
"Ya benar. Ketika benalu sudah disingkirkan baru kelas ini terasa nyaman."
"Kudengar kau membuat ulah lagi kemarin. Ada siswa asing yang menyusup untuk bermain gila denganmu ya."
"Sampai ketahuan oleh ketua komite kedisiplinan pula, ckckck. Tamatlah kau Hyuuga."
Pelipis Hinata sudah berkedut, tangannya mengepal sampai kukunya memutih pucat. Gosip rendahan, mana lagi memutar balikan fakta pula. Hah, bisa saja ini rencana Shizuka, membentuk opini untuk terus menyudutkannya. Namun, Hinata pura-pura tidak mendengar. Telinganya sudah tak panas mendengar ocehan sumbang mereka. Tapi, sekali kau mengusiknya maka ia tidak akan segan untuk membalas kelakuan keterlaluanmu.
"Araaa~ orangtuanya mungkin sudah tak bisa mendidiknya hingga menjadi wanita jalang murahan."
"Sial sekali orangtuamu memiliki anak sepertimu." Ingin sekali Hinata menyumpalkan penghapus papan ke mulut lebar mereka. Membuat orang-orang yang mencelah dirinya merasa ketakutan sampai menangis sesenggukan. Tapi di satu sisi ia tidak mau lagi membuat keadaan semakin rumit. Poin merahnya sudah tak bisa ditolerir, jika ia termakan emosi dengan menampari pipi mereka satu per satu, maka sudah pasti ia menambah daftar kasus pelanggaran.
Ck, mana mau Hinata kembali diancam akan dipanggilkan walinya oleh Naruto. Cukup satu kali saja.
"Hey mulut kalian bisa berhenti tidak!" wajah Hinata langsung sumringa menatap dua temannya, Kiba dan Shino yang datang dan membalas para siswi yang mengatainya. "Kalian seharusnya berkaca pada diri kalian sendiri. Kalian pikir diri kalian paling baik di sini? Hah, jangan bercanda. Bahkan kotoran Akamaru –anjingku masih lebih baik daripada sampah-sampah seperti kalian." Otomatis perkataan Kiba mendapat decihan tak suka. Selalu saja akan ada yang membela Hinata si wanita binal. Kesal mereka.
"Apa terjadi sesuatu padamu kemarin Hinata?" Shino tentu juga sudah mendengar rumor bahwa Hinata terlibat sesuatu yang tidak baik kemarin. Entah kabar mana yang benar, namun baik Shino maupun Kiba percaya bahwa Hinata tidaklah seperti yang dituduhkan.
Hinata bernafas lega mengetahui dua temannya ini datang tepat waktu. Ia mendengus kasar sebelum menjawab pertanyaan Shino. "Aku harus segera ke ruang OSIS, tapi percayalah bahwa apa yang diucapkan rubah betina seperti mereka sama sekali tidak benar." Katanya mencibir pada perempuan-perempuan yang tadi menghinanya. Tidak masalah bagi Hinata tidak ada yang mempercayainya, toh ia tidak butuh itu. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ada rasa haru ketika dua orang ini, Kiba dan Shino justru selalu membela dan menjaganya.
"Hey, kami memang akan percaya padamu Hinata-chan." Ucap Kiba dengan mengusap rambut Hinata pelan tanpa tahu bahwa seseorang memandang tajam ke arahnya dengan tangan terkepal. Niatnya untuk menemui Hinata nampaknya harus ia tunda, Naruto entah kenapa merasa kecurian. Ia sudah sering melihat Hinata dengan banyak lelaki yang mengerubutinya, menggandeng lelaki berbeda tiap minggunya. Tapi, Naruto tidak pernah sekesal ini.
Melihat senyum gadis yang diam-diam ia sukai nyatanya sangat nyaman dengan sentuhan lelaki lain membuat sesuatu dalam diri Naruto mendidih. "Sial!"
"Aku tadi bertemu Kurenai sensei, dia memintamu untuk datang ke ruangannya." Kiba masih merangkul bahu Hinata secara dekat.
"Huh?" Hinata heran ketika ia juga harus menemui wali kelasnya itu. "Memangnya ada apa?" Shino hanya mengedikan bahu tak tahu. "Lebih baik kau temui sensei dulu, nampaknya itu hal yang penting."
"Hmm, baiklah."
.
.
"Sensei bercanda?" Hinata bertanya setengah memekik keras. Kurenai malah balas tersenyum. "Kau masuk peringkat lima besar Hinata." Raport nilai dengan rata-rata nilai delapan dan sembilan berjejer pada sederet mata pelajaran. Mata Hinata berkedip beberapa kali melihat nilainya melambung tinggi. Sungguh ia tak percaya bahwa otaknya bisa se-encer tinta dalam botol. Ia bisa membayangkan wajah para pembencinya yang semakin terlihat kusut ketika melihat namanya terpampang di daftar nilai seluruh murid menempati posisi lima besar.
"Jadi, sensei mengajukan dirimu untuk mewakili sekolah dalam kontes olimpiade cerdas cermat bulan depan."
"A-apa?" Lamunan Hinata buyar seketika. Dia tidak salah dengar kan? Olimpiade? Jangankan olimpiade, lomba cerdas cermat tingkat kelas saja tidak pernah ia ikuti. Apalagi hasil nilainya ini didapat bukan karena ia niat menjadi siswi teladan tapi semata-mata karena ingin menaklukan Naruto. "Haha, sensei sedang tidak serius kan."
"Namamu sudah sensei daftarkan."
"Tapi –"
Guru berparas cantik itu tetap mempertahankan senyumannya. "Sensei yakin kau bisa nak."
Hinata mengigit bibir bawahnya gelisa. Dirinya merasa bahwa masih banyak siswa lain yang lebih berkompeten daripada dirinya. "Kenapa tidak siswa tercedas, um –Shikamaru saja? Saya rasa dia akan mudah memenangkannya." Hinata terus mencoba berkelit. Ia merasa ini bukan tempatnya.
Tangan Kurenai dikibaskan pelan. "Dia sudah mewakili sekolah selama dua kali, jadi dia tidak diperkenankan untuk ikut." Tatapan mata penuh harap membuat Hinata kesulitan menelan saliva, kesempatan untuk menolak akan semakin menipis. "Tenang saja, kau tidak sendirian. Lomba ini berpasangan." Binar bahagia terpetak jelas di wajah awet muda Kurenai sensei, seolah menggambarkan bahwa Hinata baru saja memenangan undian lotre.
"Pasanganmu adalah siswa kelas III A, kau beruntung bisa berpasangan dengannya karena baru kali ini Uzumaki Naruto dengan suka rela mendaftarkan diri sebagai perwakilan."
"Ya Tuhan!"
Kursi Hinata hampir saja terjeblak ke belakang sangking terkejutnya. Jantungnya berdegup kencang seperti ada pompa super di ventrikel yang memompa aliran darahnya menuju seluruh tubuh. Kebetulan macam ini yang selalu mengaitkan dirinya dengan pemuda blonde itu? Ini pasti ada sabotase atau unsur kesengajaan, batin Hinata.
Pegangan tangan Hinata pada meja mengerat. Bisa dibilang ia ingin sekali menghindari pemuda blonde itu karena setiap namanya disebut atau sekadar bertemu sudah dipastikan bahwa Hinata akan merasakan hal aneh di tubuhnya. Reaksi kimia yang tak wajar hingga selalu membuat jantungnya berdegup kencang. "Jadi, nanti tolong sampaikan ke Naruto jika kalian sudah ibu daftarkan." Sebuah kertas disodorkan oleh Kurenai sensei berisi pernyataan persetujuan. Tercetak nama Naruto dan dirinya di sisi bawah kertas.
Hinata bisa merasakan bahwa hidupnya serasa jungkir balik semenjak mengenal Naruto. Pemuda itu adalah sumber masalah baginya. Padahal dulu ia sudah sangat yakin untuk dapat menjadikan Naruto seperti lelaki lain yang memuji dirinya, namun sekarang ia malah takut jika dirinyalah yang bakal jatuh menggilai pemuda berkulit eksotis itu.
"Satu lagi, kalian harus belajar bersama ya selama seminggu ini." Hinata menahan napas mendengar kalimat terakhir Kurenai. Sudah terlambat untuk mundur. Berbalik melarikan diri hanya akan membuat dirinya terlihat seperti pengecut. Entah, Hinata tidak tahu ini kesialan atau keberuntungan.
.
"Ah, kau mencari Naruto ya." Bukannya lelaki berambut kuning dengan mata biru yang Hinata temui di ruang OSIS melainkan pemuda berambut nanas, Shikamaru yang Hinata dapati di sana. "Kupikir tadi ia menemuimu karena kau tidak juga ke sini." Seingat Shikamaru, sahabatnya itu memang berniat menemui Hinata.
"Aku berencana ke sini, tapi terlebih dulu harus menemui Kurenai sensei."
"Apa ia akan kembali ke sini?" Tanya Hinata.
Shikamaru menguap lebar. "Entahlah, terakhir yang kutahu ia mengatakan pulang entah karena apa. Mungkin tidak enak badan karena wajahnya terlihat merah." Hinata mengangguk mengerti mendengarnya.
"Oh ya, untuk kasus kemarin –" Shikamaru tersenyum misterius seolah ia mempunyai hadiah jackpot untuk Hinata. "Shizuka terbukti menyuruh orang lain untuk melukaimu dan ia akan mendapat hukuman skorsing selama satu bulan."
"Wow." Komentar Hinata singkat. Ia tak percaya bahwa Naruto akan melakukan hal itu pada kekasihnya sendiri. Dasar, lelaki kejam. "Ck, kupikir ia tidak akan berani melakukannya." Nampaknya hutang balas budinya akan bertambah pada pemuda itu.
Shikamaru hanya mendengus geli menyadari bahwa Hinata tidak tahu apapun mengenai perasaan Naruto padanya. Atau, jangan-jangan Naruto sendiri yang terlalu lamban untuk menangkap mangsanya. "Kau bisa menemuinya di rumahnya jika memang ada hal penting, urgent."
"Kenapa kau berpikiran seperti itu." Selidik Hinata pada sosok yang sering ia lihat bersama dengan Naruto. "Tidak ada hal yang penting." Kertas yang ia bawa secara cepat ia sembunyikan ke belakang, namun tentu Shikamaru sudah menyadarinya sejak awal.
"Ck, kalian mirip sekali." Gumam Shikamaru melihat reaksi Hinata yang nampak tak mau jujur dengan dirinya sendiri. "Kupikir ia akan senang jika melihatmu. Ini alamat rumahnya."
Kening Hinata mengerut berusaha menampik rasa tertariknya, alamat di sebuah kawasan mewah sekilas ia lihat. "Jangan membual. Aku tidak akan menemuinya. Tidak akan pernah." Hinata lalu keluar karena sudah tidak ada keperluan di ruangan itu.
.
Hinata mungkin mengatakan tidak akan menemui Uzumaki Naruto, tidak peduli dengan pemuda itu. Ia tidak ada urusan dan tak mau tahu. Tapi nyatanya sepulang sekolah ia menyusuri kawasan perumahan elite dengan menengok ke kanan dan ke kiri untuk menemukan rumah yang ia cari.
"Astaga, mungkin aku sudah gila." Dalam seumur hidupnya, baru kali ini Hinata mau mencari seseorang terlebih dulu. Hatinya bahkan terasa ringan melakukan hal tidak penting ini. "Mana mungkin aku ingin menemuinya. Aku hanya ingin menyerahkan surat sialan ini." Beribu kali Hinata menyangkal nyatanya ia terus melangkah dan baru berhenti ketika ia berdiri di depan sebuah rumah yang ia cari.
'Kuharap, kau dapat mempertimbangkanku sebagai orang yang kau percaya.'
Kata-kata Naruto tiba-tiba terlintas di ingatannya. Pipinya sedikit bersemu merah. Salahkah ia jika mulai menganggap keberadaan Naruto berharga–sedikit untuknya? Sampai mau saja menemui pemuda itu di rumahnya.
"Jadi, ini rumahnya." Ada perasaan ragu-ragu ketika ia sudah sampai di tempat tujuan. Gadis bersurai indigo itu terlihat gusar harus melakukan apa ketika sudah sampai di sini. Jantungnya lagi-lagi berdegup kencang, ia gugup namun enggan mengakuinya. Denial akut.
"Jadi aku harus menunggu seperti orang bodoh di sini?" Tangannya bersendekap di dada dengan raut kesal. Masuk kawasan perumahan elite dengan berdiri terus di depan pintu membuat Hinata terlihat sangat mencurigakan.
"Damn it!" Andaikan ia tidak mengingat bahwa ia harus menyerahkan apa yang Kurenai sensei berikan padanya ia tidak akan mau ke sini. Keh, Benarkah begitu? Bel pintu sudah Hinata pencet satu dua kali tapi tidak ada seseorang yang keluar dari rumah mewah ini. Hinata mulai berasumsi tidak ada siapapun di dalam rumah ini. Matanya hanya memandang pintu tertutup itu, ia sudah melakukan hal yang sia-sia. "Baiklah aku pergi." Putusnya sebelum emndengar bunyi pintu terbuka.
Cklek
"Oh, kau. Kukira siapa." Suara berat itu menyerang gendang telinga Hinata. Lelaki berkulit tan berdiri lebih tinggi dari Hinata dengan penampilan berbeda dari yang Hinata lihat selama ini. Tidak ada frame tebal kaca mata lagi, rambutnya lebih mencuat ke segala arah, dan sorot matanya lebih menajam.
"Kau perlu sesuatu? Tak ku sangka sang ratu mau berkunjung kemari, eh."
Alis Hinata memincing mendengar ucapan datar itu, tidak ada kesan ramah tama sama sekali. Pemuda marga Uzumaki itu tersenyum sinis. "Biar kutebak kenapa kau menemuiku. Apa setelah merasakan mengalahkan Shizuka kau kemari untuk bebas menggodaku?" Lalu Naruto tertawa keras dan terus melanjutkan perkatannya. "Baiklah, masuklah. Aku tidak keberatan jika harus memuaskanmu." Mulut Hinata terkunci rapat tak bisa menyampaikan apa yang ingin ia ucapkan. Lidahnya mendadak keluh terlalu terkejut dengan pernyataan menyudutkan dari Naruto.
Ucapan Naruto mencabik harga dirinya. Ia tidak secuilpun punya pemikiran seperti yang dituduhkan oleh Naruto. "Tidak usah! Aku tidak mau membuang waktuku lebih lama lagi." Kertas berisi lembar olimpiade diremas lalu dimasukan kembali ke dalam tas. Up and down! Hinata merasa dunianya diinjak kemudian dihempaskan pada jurang menganga.
"Ck, apa kau sudah di-booking oleh seorang pria." Bahu kokoh Naruto menyadar pada sisi pintu dengan pandangan sarat akan hinaan.
Hinata menatap Naruto dengan tatapan tak percaya. Hinata tahu bahwa selama ini pemuda berpredikat tegas di depannya ini selalu berkata menyebalkan kepadanya, berkata pedas. Namun untuk kali ini Hinata merasa perkataan Naruto sudah keterlaluan. Lelaki ini telah mengusiknya dengan sengaja. "Apa maksudmu?"
"Lihat, apa ini adalah dirimu yang sesungguhnya, Naruto-san?" Topeng kepura-puraan memang selalu dikenakan oleh manusia. Mereka berbaik hati untuk menikammu dari belakang. Hinata bingung mana yang harus ia percaya, Naruto tidak seperti orang yang ia kenal.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Naruto-san." Kenapa rasanya sakit ketika kata-kata itu terlontar dari mulut pemuda ini? Dadanya bergemuruh ngilu. Hinata merasa sudah kebal menghadapi ocehan memuakan mengenai dirinya. Tapi, semua tidak sama ketika Naruto yang mengucapkannya. Ia bahkan mengira bahwa se-menjengkelkan apapun Naruto, dirinya tidak sama dengan orang-orang yang selama ini selalu merendahkannya.
Naruto malah menanggapinya dengan santai."Apa kata-kataku kurang jelas? Baiklah aku akan mengulanginya lagi. Lebih jelas." Hatinya sesak seolah meminta untuk berhenti, namun keeogoisan Naruto lebih memuncak. Mungkin memang seharusnya ia tidak menaruh perasaannya pada wanita yang hanya bisa leluasa berpindah pangkuan ke lelaki lain.
"Ingat batasmu." Peringatan Hinata agar Naruto tidak mengucapkan sesuatu yang tidak ingin ia dengar. Kakinya mundur ke belakang dengan sedikit gemetar.
"APA TUBUH SIALANMU MENIKMATI DIJAMAH OLEH BANYAK LELAKI?!"
'PLAKKK'
Rasanya panas dan perih hingga sudut bibirnya lecet. Naruto meludah dan memegang pipi bekas tamparan tangan kanan Hinata. "Keh, kenapa kau marah?" Tanya Naruto tersenyum sinis. Biru matanya menangkap bagaimana wajah Hinata memerah menahan marah, bahkan ia bisa mendengar deru nafas Hinata yang memberat. Gadis ini benar-benar sudah merasa diusik sedemikian rupa. Kemarahan besar itu tercetak lewat pantulan mata putih yang membola lebar.
Rasa terguncang itu masih ada, tapi Hinata mencoba bertahan untuk tidak jatuh. Ia maju selangkah. "Padahal kau sendiri yang mengatakan tidak sama seperti mereka." Kepalan tangan Hinata memukul bagian Naruto yang bisa ia jangkau. "Padahal ku pikir perkataanmu malam itu bukanlah suatu kebohongan. Tapi, astaga. Bodohnya aku." Hinata memukul kepalanya sendiri. Ia dijatuhkan sejatuh jatuhnya.
Butiran bening air mata lolos secara beruntun menuruni wajah sendu Hinata. Rasanya sesak sampai bernafaspun menjadi perih. Hati yang sempat menghangat kembali menerima goresan luka. "Haha, kau memang benar. AKU MENIKMATI SEMUA SENTUHAN ITU. PUAS KAU BRENGSEK!" Teriaknya marah dengan terus memukul tubuh lelaki di depannya. Hinata tidak mempedulikan bagaimana rasa sakit yang dirasakan Naruto karena saat ini hatinyalah yang paling sakit karena sikap dan perbuatan Naruto.
.
.
.
.
.
RnR
Nahloh, pada berantemkan Naruhina nya. Kemarin Naruto yang kasar sekarang giliran Hinata yang nampar #maso dah. Padahal Hinata mah datang baik2, sedikit kangen juga. But. . . emang kadang cemburu buta itu mematikan.
Yang nagih chapter 2 sampek author gag berani intip kotak review mana suaranya?
Maaf-maaf sudah telat update. Magang dua minggu author pikir masih ada kesempatan curi waktu, eh nyatanya dari pagi sampek jam 11 malam masih saja ada kerjaan. Giliran udah pulang, malah kosan author di Malang kemalingan huhu mana Hp sama Tab raib pula. Mood jadi jelek selama tiga hari, belum lagi bolak-balik dari rumah ke Malang. Kerasa deh rasanya badan tepar maksimal.
Pokoknya mood swing author lagi danger. Tapi akhirnya bisa juga nyelesaiin chapter 2 ini, meski adegan terakhirnya mau author bikin sedikit 'enaena' tapi gag jadi deh, disimpan buat fic baru aja haha.
Special thanks :
ajis93560, 28, Baby-Damn, DLS,, hikarishe, piupiuchan, Nana481, HipHipHuraHura, , Kimi Henna NHL, Dewi729, ana,Muham.96, rsrsm, Namikaze Ken, Azu-chan NaruHina, Nao Vermillion, Kang Delis, .980, Mishima, hime, Rikudou Pein 007, Daygo alvarez, nawawim451, DiTa, SparkyuRindi, Ranita752, Masamune434, Helena Yuki, naruruhina, ame, hammerb101, ifahnasya, naruto boruto, Mr. Regi-Sama, akai shuichi,Yukiko otsutsuki, Rain, chanchan, Brian, Yuchid4, BiLLy, mimi, yamanaka-san, Cici, shiro, NHL, Yur4, and all of guest.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
8/11/16
Atharu_u
