Koinobori
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: T
Genre: Romance, Drama
Pair: MinaKushi
Warning: AU, typo(s)
A/N: Okeee! Ini lanjutannya! Kali ini, yang nulis Kim D. Meiko! Maaf lama, kebetulan Meiko lagi sibuk sekolah. Eheheeehee...
Barbara123: Enjoy it!
Enjoy it, guys!
Chapter 2: Loose
"Nii-san, kenapa dari tadi kau mondar-mandir seperti itu?" tanya Sarah dengan nada heran. Sejak tadi pulang sekolah, kakaknya hanya mondar-mandir di ruang keluarga saja. Sepertinya ia gelisah, tidak seperti biasanya.
"Tidak apa-apa," sahut Minato berbohong.
Ya, sebenarnya sejak tadi Minato menunggu Kushina datang ke rumahnya. Kushina sudah berjanji akan datang sore ini. Tapi, jam sudah menunjukkan pukul empat dan Kushina pun tak kunjung datang. Minato merasa cemas bila Kushina tersesat dan lupa jalan ke rumahnya. Bisa saja, karena Kushina sudah lama tidak berada di Jepang.
"Menunggu Naa-chan datang?" tanya Sarah tiba-tiba, membuat Minato terkejut. "Dari tadi kau menggumamkan namanya."
"Ah… Sebenarnya, ya. Dia mencarimu," jawab Minato.
Sarah meminum jus jeruk yang ada di genggaman tangannya. Ia menatap sang kakak dengan pandangan heran. "Oh, ya, Nii-san, mana kue berbentuk koinobori yang kau janjikan padaku?" tanya Sarah manja pada sang kakak.
Minato menepuk dahinya. Dari tadi ia memikirkan gadis pujaannya, sampai lupa terhadap janjinya pada sang adik. Ia menjambak rambut pirangnya dengan kesal. Bisa-bisanya ia melupakan janjinya…
TING TONG!
"Ah, mungkin itu dia," gumam Minato. Pemuda itu berjalan ke pintu masuk rumahnya. Ia membuka pintu rumahnya dan terlihatlah sosok gadis pujaannya. Mata safirnya terpaku pada Kushina yang masih mengenakan seragam gurunya.
"Ah, ternyata benar ini rumahmu, ttebane! Kupikir aku salah jalan," kata gadis itu sambil tersenyum lebar. Ia menenteng sebuah bungkusan di tangannya. "Rumahmu tidak berubah banyak."
Minato meringis mendengarkan perkataan Kushina. "Ayo masuk, Naa-chan. "
Jantung Minato berdegup kencang saat Kushina berjalan di sampingnya. Saat ini, tinggi Kushina hanya sebahunya. Dulu, ia lebih pendek daripada Kushina. Mungkin ini faktor bahwa ia seorang lelaki, jadi wajar ia lebih tinggi daripada Kushina. Rasanya agak tidak biasa, memandang Kushina dari atas.
"Aku tak menyangka kau akan setinggi ini sekarang," dengus Kushina sambil mendongak ke atas. Memang, saat ini Minato lebih tinggi daripada dirinya. Jujur saja, Kushina agak kesal karena bocah cengeng tujuh tahun yang lalu itu sekarang sudah menjadi pemuda yang jangkung dan tampan.
Minato meringis mendengar komentar Kushina. "Aku bukan bocah lagi," gumamnya pelan.
"Benar. Dan aku penasaran tentang kemampuanmu."
"Karate," jawab Minato sambil meringis. "Sabuk hitam."
Kushina memandang Minato dengan tatapan tidak percaya. Tak mungkin bocah di depannya menyandang sabuk hitam karate hanya dalam waktu tujuh tahun. "Tak mungkin."
"Berkat latihan darimu. Jadi kemampuanku memang jadi lebih tinggi."
Kushina menghela napas. "Tapi kau tak akan kuakui sampai kau bisa mengalahkanku, kiddo." Gadis itu menyeringai.
"Yah, nanti saja. Lagipula kau lelah bukan?" tanya Minato.
"Hah! Lelah mengajar murid tak tahu malu yang mencoba menembakku."
Minato tertawa mendengar pernyataan Kushina. "Begitukah? Berarti aku termasuk…"
"Jangan gila. Itu sudah tujuh tahun yang lalu," sela Kushina.
"Perasaanku masih sama," kata Minato.
Kushina terdiam sejenak. Ia menatap Minato dengan pandangan tidak percaya. "Masih? Kau bercanda. Dengan siswi sebanyak itu mengejarmu di sekolah?" tanya Kushina dengan ketus.
Minato tersenyum singkat. "Yah... aku tidak pernah tertarik dengan mereka."
"Nii-san! Kenapa kau lama sekali?" Sarah berlari kecil menuju ke koridor rumahnya, tempat Kushina dan Minato sedang bercakap-cakap. Ia sedari tadi menunggu kakaknya yang terlalu lama membukakan pintu untuk seseorang. Kedua matanya membulat melihat gadis cantik berambut merah berdiri di sebelah kakaknya.
"Maaf. Sarah, kau masih ingat dengan dia?" tanya Minato pada adik kesayangannya.
Sarah menggeleng. Ia sama sekali tidak ingat dengan Kushina, toh waktu itu ia memang masih kecil. Apalagi, Kushina yang ia kenal saat itu adalah Kushina yang berambut hitam, bukan merah. Kushina juga sudah berubah jauh daripada yang dulu. Wajar kalau Sarah tidak mengenalinya.
Kushina tersenyum kecut melihat reaksi Sarah. Ia tahu bahwa Sarah tidak mengingatnya, tapi ia tetap saja merasa sedih karenanya. Ia menyayangi Sarah seperti adik perempuannya sendiri. Gadis itu mengacungkan bungkusan yang dibawanya pada Sarah.
"Sarah-chan, kau lupa padaku ya? Aku Naa Nee-chan. Nee-chan belikan ini untukmu," kata Kushina sambil tersenyum lebar.
Sarah terlihat girang karena diberi bingkisan. Ia menerimanya, lalu membuka isinya. Ternyata taiyaki atau kue berbentuk ikan, seperti koinobori. "Terima kasih, Nee-chan! Nii-san lupa membelikannya untukku!" katanya pada Kushina.
"Sama-sama. Kau ingat siapa aku?" tanya Kushina.
Sarah terdiam. Rasanya dulu memang ada seorang teman permainan kakaknya yang suka membelikannya taiyaki. "Ah, Nee-chan yang dulu membelikanku taiyaki?" tanya Sarah.
Kushina mengangguk.
"Nanti lagi reuninya, ayo masuk," kata Minato sambil mendorong adiknya masuk ke dalam ruang tamu.
Jujur saja, Minato merasa gembira bukan main. Kushina sekarang berada di rumahnya. Gadis yang ia cintai itu berada di dekatnya. Kushina yang dirindukannya selama bertahun-tahun ini. Hatinya seakan melompat dengan senang.
Pemuda tampan itu mengikuti adiknya yang segera duduk di sofa. Kushina mengikutinya. Ia mengamati rumah Minato, yang tampaknya tidak berubah jauh setelah tujuh tahun. Ia juga mengamati Sarah yang saat ini berusia sepuluh tahun. Tak ada bedanya dari Minato sewaktu berusia sepuluh tahun, dalam hal sifat. Mengingatnya, Kushina jadi rindu saat dia 'mengajar'kan bela diri pada Minato.
"Nee-chan, dulu kau ke mana saja?" tanya Sarah. Ia duduk di samping Minato, sementara Kushina duduk di sofa lainnya.
"Aku? Ke Amerika. I don't think you remember anything about me," jawab Kushina sambil tersenyum.
Sarah mengangkat gelasnya yang berisi jus jeruk. Ia meminumnya sedikit, lalu menatap Kushina lagi. "Wah, Nee-chan pintar sekali bahasa Inggrisnya!"
"Really? Well, I'm a new English teacher at your brother's school," kata Kushina.
Sarah terdiam sesaat, tidak terlalu menangkap ucapan Kushina yang terlalu cepat. Dia melirik ke arah Minato.
"Naa-chan sekarang menjadi guru bahasa Inggris di sekolahku," Minato tersenyum.
"Benarkah? Wah, kalau begitu-" Sarah mengayun-ayunkan tangannya dengan penuh semangat, tak sadar bahwa ia masih memegang gelasnya yang berisi jus jeruk.
CPRAAAT!
"Eh? Nii-san?"
Sarah terkejut menyadari bahwa jus jeruknya tumpah. Akan tetapi, sayangnya bukan tumpah ke lantai, melainkan ke pakaian sang kakak. Maklum, karena mengayunkan gelasnya dengan penuh semangat, Sarah tak sadar bahwa isi gelasnya sudah tersiram ke pakaian sang kakak.
Kushina tampak tertawa terbahak-bahak melihat Minato yang basah karena jus jeruk. Gadis itu sudah lama sekali tidak menertawakan Minato. Sungguh lucu membayangkan Minato basah karena ketumpahan jus jeruk. Gadis berambut merah itu sampai memegangi perutnya karena sakit.
"Tidak lucu, Naa-chan," Minato mengerang. Ia diam saja, tak memarahi adiknya. Tapi ia malu di depan Kushina.
"Nii-san! Maaf, aku tidak sadar!" kata Sarah sambil meringis.
Minato tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku tinggal sebentar ya? Aku akan mandi dulu, sebelum lengket," katanya sambil beranjak berdiri dan pergi menuju ke kamarnya.
Kushina hanya memandang punggung Minato dari belakang. Punggung Minato kini terlihat besar. Dulu mungkin Minato memang yang bersembunyi di balik punggung Kushina. Tapi mungkin lain lagi sekarang. 'Sejak kapan dia berubah menjadi begitu jantan?' batin Kushina.
Ia masih ingat dengan jelas, bagaimana dulu Minato menghadapi setiap tantangan darinya. Ia bocah yang tak kenal kata menyerah, selalu berani dan tidak takut pada Kushina. Berbeda dengan Fugaku Uchiha yang bersembunyi dari hadapan Kushina. Walaupun Minato sering menangis saat itu, tapi Minato tak kenal menyerah.
Tapi, Kushina tak pernah menyangka Minato berubah seperti ini.
.
.
.
"Nee-chan! Menurut Nee-chan, Nii-san itu tampan tidak?" tanya Sarah pada gadis yang lebih tua 10 tahun darinya itu. Kedua matanya menatap Kushina dengan penuh semangat.
Kushina yang dari tadi hanya mendengarkan Sarah bicara sembari menunggu Minato selesai mandi tersenyum pada Sarah. "Sarah, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Kushina balik. Ia mau tak mau mengakui, saat ini Minato terlihat sangat tampan dan dewasa, tapi karena ia mempertahankan harga dirinya, ia tak mau mengaku. Kalau ia mengaku, ia kalah dari Minato.
"Soalnya, sepertinya Nii-san suka pada Nee-chan! Nii-san suka menggumam Naa-chan, begitu," jawab Sarah dengan polos. Ia tak tahu bahwa kakaknya memang menyukai Kushina.
"Hei, Sarah, siapa yang suka pada Naa-chan?" Sebuah suara bariton terdengar menegur Sarah. Suara khas lelaki itu lembut dan halus, khas Minato.
Sontak, Sarah dan Kushina menoleh ke asal suara. Ternyata memang benar Minato sudah selesai mandi. Pemuda itu datang mendekati mereka berdua. Sayangnya, ia lupa Kushina berada di sini dan ia keluar dari kamar mandi dalam keadaan… topless.
Mata Kushina membelalak lebar memperhatikan bocah yang sepuluh tahun yang lalu pingsan saat ditolak oleh dirinya. Minato Namikaze bukan bocah lagi. Kushina terpana melihat fisik Minato yang ia akui memang berkembang, tapi ia tak pernah menyangka akan seperti ini. Otot-ototnya terlihat kuat dan kekar, jauh lebih kekar daripada yang diperkirakan oleh Kushina. Bahu dan dada bidangnya terlihat sempurna. Terlebih lagi, saat Kushina melihat otot perut Minato yang berlekuk sempurna, membuat six pack. Dan lagi, fisiknya terlihat menggoda dengan bulir-bulir air yang masih tersisa di dada dan perutnya.
Sungguh, Kushina yakin kekuatan Minato saat ini sangat besar, melihat otot-ototnya yang terbentuk sempurna oleh latihan.
"Nii-san!" seru Sarah. Ia sudah biasa melihat Minato topless, toh Minato sering keluar dari kamar mandi dalam keadaan seperti itu. Ia tak tahu apa efeknya pada seorang gadis dewasa. Sangat berbeda dengan dirinya.
"Hei, Naa-chan, kenapa wajahmu merah seperti itu?" tanya Minato sambil mengernyitkan dahinya. Ia heran mengapa wajah Kushina mendadak merah padam.
Kushina tersadar dari lamunannya. Ia menatap Minato dengan wajah galak. "Siapa? Hei, sopanlah sedikit, jangan keluar dari kamar mandi dalam keadaan topless, brat! Jangan kira kau bisa membuatku mengakui kalau kau sudah dewasa sekarang hanya dengan fisikmu!" jawab Kushina.
Minato tertawa mendengar jawaban Kushina. "Aku memang sering keluar dari kamar mandi seperti ini. Bukankah dulu kau juga sering melihatku begini? Waktu menyuruhku berenang di sungai?"
Kushina terdiam. Ia tak bisa membalas perkataan Minato. Mana mungkin ia mau mengakui bahwa ia malu melihat Minato yang setengah telanjang? Ia memasang wajah tak peduli. Seharusnya ia sudah biasa, banyak lelaki yang suka ber-topless di Amerika. Tapi, entah mengapa, Minato jauh melebihi mereka, mungkin karena ototnya bukan sekedar pajangan.
"Follow me, Naa-chan. I'll show you that I'm not a kid," kata Minato dalam bahasa Inggris yang fasih dan lancar. Ia jago bahasa Inggris karena ia sering berlibur di Amerika. Selain itu, ia memang jenius.
Kushina akhirnya menurut. Ia mengikuti Minato ke dapur. Sarah tidak ikut, hanya mengamati keduanya. Ia heran dengan sang kakak yang terlihat berbeda. Biasanya, Minato tidak pernah seperti ini pada seorang gadis. Tapi baru kali ini Minato bersikap seperti itu pada seorang gadis, apalagi gadis yang lebih tua daripada dirinya.
"What do you want to show me?" tanya Kushina. Ia bersandar di dinding dapur, kedua tangannya bersedekap di depan dada.
Minato hanya tersenyum. "Well, I just want you to tell me the truth. Last time you told me that you like strong and masculine guys right?" tanya Minato.
Kushina terdiam. Ia pernah mengatakannya pada Minato saat ia menolaknya tujuh tahun yang lalu. "So?" tanya Kushina.
"Look at me. Now, i want you to look at the present me, not at the past Minato Namikaze." jawab Minato.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Jangan sok bicara bahasa Inggris, sekarang di Jepang!" Kushina terlihat kesal.
"Jadi…" Minato meletakkan kedua telapak tangannya di dinding di sisi kanan dan kiri kepala Kushina, membuat gadis itu terkejut. Kepala Minato mendekat padanya. "Apakah aku belum cukup jantan untukmu? Naa-chan, aku akan mengalahkanmu dan membuktikan kalau aku bukan bocah lagi," bisiknya di telinga Kushina.
Kushina bergidik mendengar suara Minato yang sehalus beledu. Belum pernah ada seorang lelaki yang berkata halus seperti ini kepadanya. Suara Minato begitu dalam, lembut dan menenangkan hati. Sudah bukan suara seorang bocah cengeng yang selalu merengek lagi.
"Memangnya kau bisa?" tanya Kushina. Gadis itu menatap tajam ke arah safir Minato. Mata itu menunjukkan keberanian yang besar. Mata itu sudah berubah, memiliki sorot mata yang tajam dan tegas. Bukan mata bulat yang selalu digenangi air mata ketika ditinggalkan oleh Kushina.
"Tidak ada kata menyerah sebelum mencoba," gumam Minato. Kedua matanya menatap tajam ke arah mata violet Kushina. Kedua tangannya mencengkram tangan Kushina dan menempelkannya di sisi kepala Kushina. Cengkramannya cukup kuat, sehingga Kushina sulit untuk meloloskan diri.
"Minato, apa yang mau kau laku-"
Kushina tersentak ketika menyadari bibir Minato sudah melekat pada bibirnya. Bibir Minato terasa lembut dan hangat di bibirnya. Baru kali ini bibirnya tersentuh seperti itu. Kushina masih terpaku, syok atas apa yang dilakukan oleh Minato. Ia tak menyangka Minato akan menciumnya.
"Mmmpphh!" Kushina hendak menjerit, tapi sulit sekali rasanya, karena ia tengah dicium oleh Minato. Ia tak mampu menolaknya, karena entah mengapa, tubuhnya menginginkannya. Ia gelagapan, ini ciuman pertamanya.
'Ayolah Kushina, kau tidak boleh kalah!' batin Kushina. Gadis berambut merah itu sudah tak berdaya lagi, sebenarnya. Wajahnya memerah dan entah mengapa, ia menikmati ciuman itu.
'Sialan!' Kushina mengangkat kakinya tinggi-tinggi, lalu menginjak kaki Minato dengan kuat, sampai pemuda itu melepaskan ciumannya.
"Aduduh!" Minato mengeluh sakit. Ia memegangi kakinya yang diinjak oleh kaki Kushina dengan kuat.
"You! How dare you kissed your own teacher!" Kushina mengangkat tangannya, siap untuk menampar Minato. Ia marah besar karena Minato berani menciumnya. Ia tak terima dikalahkan oleh bocah yang tiga tahun lebih muda daripadanya itu. Wajahnya merah padam, karena malu juga marah. Ia melotot ke arah Minato, yang wajahnya sama merahnya dengan Kushina.
Minato hanya meringis. Tangannya mencengkram kuat tangan Kushina yang bersiap menamparnya. Tangan Kushina gemetaran, karena genggaman tangan Minato yang cukup kuat. Mata safir Minato menatap lurus ke arah mata violet Kushina. "Aku sudah menang kan, kalau begini? Jangan pakai tanganmu untuk menampar, Kushina."
Dalam hatinya, Minato menjerit. Tak terlintas di benaknya bahwa ia akan mencium Kushina. Ia malu karena hal itu. Tapi, ia berusaha menyembunyikannya di depan Kushina.
"Siapa yang mengijinkanmu memanggil nama depanku?" hardik Kushina dengan kesal.
"Perjanjiannya? Aku kan sudah mengalahkanmu, kau juga sepertinya menyukainya," jawab Minato.
"Dasar pirang sialan!"
"Kushina, aku masih menyukaimu," kata Minato, mengabaikan perkataan Kushina. "Kapan kau akan berhenti memanggilku bocah dan menganggapku sebagai laki-laki yang pantas untukmu?"
"Sudah kukatakan, bocah sepertimu seratus tahun terlalu cepat untuk mengatakan itu padaku!"
Minato terkekeh mendengar penolakan Kushina. Kedua mata safirnya menatap tajam pada gadis yang ia sukai itu sejak tujuh tahun yang lalu. "Akan kubuktikan padamu kalau aku pantas untukmu."
"Sudahlah, aku tak mau dengar omong kosong itu lagi, ttebane! Sekarang, katakan padaku di mana tempat tinggal untukku. Kau berkata sudah menemukannya, bukan?" tanya Kushina mengalihkan pembicaraan.
"Ah, ya… Maksudku memang begitu sih… Kau tinggal saja di sini," jawab Minato.
"Rumahmu? RUMAHMU? Jangan gila!" Suara Kushina melengking tinggi. Ia benar-benar dikejutkan oleh Minato sepanjang hari ini. Pertama, saat di sekolah, Minato berani menantangnya. Dan sekarang, Minato menyuruhnya tinggal di rumah Minato.
"Aku tidak gila, Kushina. Kau bilang tidak punya tempat tinggal, bukan? Di sini ada kamar kosong, kau bisa pindah ke sini. Kau juga suka dengan Sarah, bukan?"
Kushina menghela napas. Ia menatap Minato dengan kedua mata violet yang tajam. "Orang tuamu? Kau tahu apa reputasiku di daerah ini."
"Mereka tinggal di luar negeri. Apa kau tidak membaca bahwa kedua orang tuaku sekarang bekerja sebagai dokter bedah di Amerika?"
Kushina menelan ludahnya. Memang, ia pernah membaca artikel soal itu. Tapi, karena menurutnya tidak penting, ia mengabaikannya. "Pernah. Tapi, Minato, sekarang aku gurumu."
"Dari dulu kau juga guruku. Kushina, aku mohon, tinggalah di rumahku. Sarah selalu kesepian karena tidak ada orang tua. Di rumah ini hanya ada aku dan dia. Tolong, supaya dia tidak kesepian." Minato menggenggam kedua tangan Kushina. Matanya mengatakan bahwa ia memohon.
Kushina menghela napas. Ini yang paling menyebalkan dari Minato. Kalau ia sudah memasang wajah memohonnya, Kushina sulit untuk menolaknya. "Baiklah, baiklah, aku akan tinggal di sini, ttebane!"
"Minato, kau gila." Fugaku menatap ke arah sahabatnya dengan pandangan tidak percaya. Sekarang ini, ia dan Minato berada di kelas mereka, menunggu pelajaran. Pemuda berambut raven itu menganggap sahabatnya sudah gila saat ini.
"Aku tidak gila." Minato tertawa hambar. Pemuda berambut pirang itu membereskan surat cinta yang entah mengapa terus berdatangan tiap hari untuknya. Ia baru saja menceritakan pada Fugaku bahwa Kushina akan tinggal di rumahnya mulai hari ini.
Fugaku menggelengkan kepalanya. Pemuda bermarga Uchiha itu berprinsip bahwa bila Kushina Uzumaki tinggal di rumahnya, itu akan menjadi tanda kehancuran. Tapi, sahabatnya ini dengan senang hati menawarkan Kushina tinggal di rumahnya. Di dalam hatinya, Fugaku berjanji tidak akan ke rumah Minato jika wanita mengerikan bernama Kushina itu masih di rumah Minato.
"Kushina sendiri mau. Sarah juga senang," lanjut Minato. Ia tertawa sendiri membayangkan Sarah melompat-lompat girang dan memeluk Kushina dengan senang. Sarah sangat senang saat ia tahu Kushina akan tinggal di situ. Gadis itu kekurangan kasih sayang dari orang tuanya.
"Tunggu… Kushina? Sejak kapan kau memanggil Naa-chan dengan nama depannya?" Fugaku mengerutkan keningnya, heran.
"Kemarin. Kemari, aku akan memberitahumu sesuatu," kata Minato.
Fugaku mendekat ke arah sahabatnya, penasaran. Minato mendekatkan wajahnya ke telinga Fugaku, lalu membisikinya sesuatu yang membuat Fugaku berteriak, "Kau menciumnya? Minato, kau bercanda!"
"Aku serius. Dan kau tahu, itu ciuman pertamaku," kata Minato sambil tertawa, melihat respon Fugaku. Wajah Fugaku sama ngerinya ketika Fugaku sadar bahwa Kushina adalah guru bahasa Inggris mereka yang baru.
Fugaku menggelengkan kepalanya. "Aku tak mau tahu kalau lain kali kau hancur."
"KYAAAAA! BENARKAH ITU?"
"MINATO-SAMA BERCIUMAN? SIAPA? DENGAN SIAPA?"
"AKU IRI PADA GADIS ITU!"
Entah dari mana asalnya, para gadis penggemar Minato berlari menghampiri pemuda tampan itu. Para gadis itu memasang mimik wajah yang cemburu, sok imut, sedih dan lainnya untuk menarik perhatian Minato. Siapa yang bisa menyangka, pangeran mereka yang keren dan sempurna sudah berciuman dengan seorang gadis?
Minato mengarahkan tatapan membunuhnya pada Fugaku. Sudah pasti mereka datang karena mendengar teriakan Fugaku. Untunglah Fugaku tidak menyebutkan namanya, jadi masih aman. Kalau Minato menjalin hubungan dengan Kushina, maka itu akan menjadi skandal di sekolah.
Fugaku pura-pura tidak tahu, memalinkan wajahnya.
"Mungkin kalian salah dengar tadi. Fugaku hanya berkata dia baru saja mencium pacarnya kok…" bual Minato sambil tersenyum ramah. Dan ia langsung mendapat hadiah berupa deathglare dari Fugaku.
Tiba-tiba…
"Hey! Settle down, guys! I'll begin the lesson now!" Teriakan dalam bahasa inggris itu membubarkan kerumunan para gadis. Kushina sudah berdiri di depan kelas, berkacak pinggang.
Minato terkejut melihat gadis yang ia sukai sejak ia kecil berada di depan kelasnya. Ia melirik ke arah Fugaku yang sudah berwajah pucat. Yang ia tahu, saat ini bukan pelajaran bahasa Inggris. Tapi mengapa Kushina masuk ke kelasnya? Seharusnya, sekarang pelajaran olahraga.
"Guru olahraga kalian sakit, jadi aku menawarkan diri untuk menggantikannya. Sekarang, ke ruang ganti dan ganti pakaian kalian! Sepuluh menit! Setelah itu kumpul di gedung olahraga!" Kushina tersenyum ke arah mereka semua. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke wajah-wajah muridnya.
Tapi, mata violetnya berhenti pada Minato. Berbeda dari Fugaku yang berwajah pucat dan bergidik ketakutan, Minato malah tersenyum menantang pada Kushina. Pemuda itu sama sekali tidak takut pada Kushina.
Kushina merasa jantungnya berdetak kencang ketika melihat seringai Minato. Ia malu mengingat kejadian kemarin. Ia tak bisa lolos dari Minato ketika pemuda itu menciumnya. Dan seketika, amarahnya terbakar. Tangannya mengepal. Ia tak terima dipojokkan oleh laki-laki yang lebih muda daripada dirinya.
'Baiklah, Minato Namikaze, aku akan membalas dendam padamu, ttebane!'
A/N: Yap! Cukup sekian chapter kali ini! Semoga kalian puas! Berikutnya, Barbara123 yang menulis!
Review please!
