TUTOR JEON
wonwoops' first experiment, a meanie story.
Cast :
Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
others
Summary :
Jeon Wonwoo disuruh menggantikan ayahnya sebagai tutor privat Mingyu selama beliau sedang diluar kota. Apakah Wonwoo senang karena bisa dekat dengan namja tampan itu atau karena uang jajannya bertambah?
o
o
o
"Mohon bantuannya, hyung!"
CHAPTER 1
Wonwoo menghela napas. Entah sudah berapa kali ia melakukan itu semenjak datang ke sekolah pagi itu. Perubahan sifatnya yang awalnya cuek menjadi penuh keluh kesah itu mengundang tanda tanya bagi kedua sahabatnya, Jihoon dan Soonyoung. Tapi, sebelum mereka dapat bertanya ada apa, bunyi ringtone terdengar dari handphone Wonwoo, menandakan pesan masuk.
'Hyung, aku ada di depan sekolahmu. Tadi aku dari minimarket dekat sini, jadi sekalian mampir saja.
— Kim Mingyu.'
Sekali lagi, Wonwoo menghela napas. Ia langsung mengambil tasnya dan berpamitan kepada kedua sahabatnya sebelum berlari ke gerbang utama sekolah.
o
o
o
Setelah tiba di gerbang sekolah, Wonwoo melihat sekumpulan siswi yang tengah mengerumuni satu pria yang sedang berdiri di gerbang sekolah. Itu terlihat seperti— Kim Mingyu?
Aish, bahkan di sekolah lain dia masih sempat menebarkan pesonanya.
Wonwoo langsung memutar balik arahnya, tentu tidak mau berurusan dengan sekumpulan yeoja-yeoja yang sangat tidak bersahabat itu.
"Ah! Wonwoo-hyung!"
Sayangnya, Kim Mingyu tidak mengerti perasaannya.
Yeoja-yeoja itu langsung mengalihkan tatapan mereka ke arah Wonwoo. Ah, Wonwoo sudah tahu. Pasti yeoja-yeoja itu akan men'judge' dirinya.
"Oppa, kau kenal dengan si kutu buku itu? Bagaimana bisa?"
Kira-kira seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang sempat terdengar oleh Wonwoo. Ia tahu ia memang tidak setampan Mingyu, tapi memangnya yang berteman dengan Mingyu harus orang yang tampannya sederajat dengannya, hah?
Jangan lupakan dengan panggilan 'oppa' yang dikeluarkan oleh para siswi-siswi itu. Padahal mereka tidak tahu Mingyu itu masih kelas satu, tapi dengan sok imutnya memanggil 'oppa', dan, oh, dengan manjanya menggandeng lengan Mingyu— bukannya Wonwoo cemburu atau apa, ditegaskan kembali, Wonwoo masih waras untuk tidak cemburu kepada yeoja-yeoja itu.
"Noona-noona ini ngomong apa, sih? Jelas-jelas Wonwoo hyung-ku ini semanis ini. Daripada sibuk membicarakan orang, lebih baik noona-noona sekalian pergi ke dokter mata. Bye!"
Dengan santainya Mingyu menggenggam tangan Wonwoo dan menariknya menjauh dari kerumunan yang menatapnya membisu. Bukan hanya mereka, bahkan Wonwoo juga membisu.
o
o
o
"Wonwoo hyung, apa kau sering diperlakukan seperti itu di sekolah?" Tanya Mingyu yang sibuk mencatat rumus-rumus yang sudah diajarkan oleh Wonwoo tadi.
Setelah insiden tadi siang di gerbang sekolahnya, mereka memang tidak membahasnya lagi karena sepanjang jalan mereka hanya diam dan saat sampai di rumah Wonwoo, mereka langsung memulai sesi belajar.
Tapi bukan Kim Mingyu namanya kalau tidak memulai pembicaraan saat suasana diantara mereka hening.
"Yaa... Apalagi yang kau harapkan dari kutu buku sepertiku. Lagipula aku tidak peduli asalkan mereka tidak mengganggu prestasiku."
"Tapi kan Wonwoo hyung itu manis, pintar, baik hati pula. Noona-noona itu benar-benar rusak matanya."
Wonwoo yang wajahnya mulai memerah langsung memukul kepala Mingyu dengan buku.
Sumpah, Wonwoo bukannya senang dipuji seperti itu oleh Mingyu, kok.
"Sudah. Lanjut lagi sana! Lihat, itu disuruh cari x. Pakai rumus yang tadi kuajarkan." Wonwoo menunjuk asal ke soal yang tertera di buku Mingyu.
"Kalau aku cari cinta Wonwoo hyung, harus pakai rumus yang mana?"
"Ya! Kim Mingyu!"
—Inilah mengapa Wonwoo selalu menghela napasnya.
Mingyu itu tidak hanya menebarkan pesonanya ke para yeoja saja. Bahkan ke seorang Jeon Wonwoo pun ia sebarkan.
Dan malangnya, perlahan Wonwoo jatuh padanya.
o
o
o
'Selamat malam, hyung!'
'Hyung, sudah makan?'
'Hyung, besok aku maunya belajar mencintai hyung.'
'Hyung kok tidak jawab pesanku, sih.'
'Wonwoo hyuuuuung.'
Setelah bertukaran nomor telepon dengan alibi 'kalau aku mau tanya sesuatu tentang pelajaran, aku bisa menanyakannya lewat telepon' oleh Mingyu, Wonwoo malah sering mendapati pesan tidak berguna dan penuh gombalan seperti itu.
Tidak berguna tapi cukup membuat Wonwoo senyum-senyum sendiri.
Cukup membuat eomma Jeon mengira bahwa anak sulungnya telah mengidap stress akut.
"Wonwoo sayang, bagaimana hari-harimu sebagai tutornya nak Mingyu? Lancar?" Tanya ibunya yang kini telah duduk di sofa, tepatnya di sebelah Wonwoo yang sedang membaca pesan dari Mingyu. Setelah mendengar suara sang ibu, Wonwoo langsung mematikan handphonenya.
"Buruk, bu. Dia itu hanya modal tampang, otak nol. Dari kemarin aku sudah mengajarinya rumus yang sama, berulang kali, tapi tetap saja saat mengerjakan soal, jawabannya salah. Kesabaranku seperti diuji, tahu?"
Eomma Jeon terkekeh. "Nak Mingyu itu memang tampan, ya. Kasihan harus diajari oleh anak eomma yang galak ini. Besok ajak dia makan malam disini, ya?"
Permintaan itu langsung disambut oleh rengekan menolak dari anak sulungnya.
"Jangan, eomma. Buat apa?"
"Eomma kesepian karena appamu pergi ke Changwon, adikmu sedang menginap di rumah temannya, dan anak sulung eomma yang manis ini juga sibuk dengan handphonenya. Sedang apa, sih? Pacaran? Pokoknya eomma ingin Mingyu ikut makan malam besok."
Kicauan eommanya yang non-stop itu membuat Wonwoo menggangguk pasrah. Diraihnya handphonenya itu lalu ia mengetik pesan.
'Besok setelah belajar, kau diundang makan malam oleh eomma. Bukan aku yang mengundangmu, Kim.'
o
o
o
"Oh, nak Mingyu! Ayo silahkan duduk."
Keesokan harinya, seperti apa yang telah eomma Jeon pinta, Mingyu tinggal untuk makan malam di kediaman Jeon setelah sesi belajarnya dengan Wonwoo selesai. Maksudnya sesi belajar yaitu sesi dimana Wonwoo mengulang-ulang hal yang sama tapi Mingyu sama sekali tidak mengerti, begitu selama dua jam, setiap hari.
"Terima kasih sudah mengajakku, ajumma. Wonwoo hyung pasti tidak akan mengajakku kalau bukan karena ajumma." Kata Mingyu dengan cengiran lebarnya sembari ia duduk di kursi meja makan.
"Aigoo, anak eomma yang satu ini memang jahat, ya? Omong-omong, nak Mingyu panggil eomma saja."
Eomma Jeon tertawa sedangkan Wonwoo yang disampingnya refleks menyikut lengan eommanya itu. Sepertinya eommanya ini menyukai Mingyu. Mungkin dia bosan dengan Wonwoo yang terlalu datar dan membosankan sehingga mempunyai niat untuk merebut Mingyu dari keluarga Kim—
"Jahat begitu juga masih tetap manis, kok, eomma." Pujian— atau lebih tepatnya gombalan yang keluar dari mulut Mingyu itu sukses membuat Wonwoo dan eommanya terkejut. Tapi hanya eommanya yang tertawa setelahnya.
"Memang benar! Wonwoo itu galak galak imut, iya, kan?"
"Eomma. Mingyu. Makanannya keburu basi kalau kalian tetap membicarakan hal yang tidak penting." Seru Wonwoo dengan sarkastik, sebenarnya, selain karena ia memang sudah lapar dari tadi, mendengar ocehan ibunya dan Mingyu itu membuat wajahnya kembali memerah. Entah sudah berapa kali Kim Mingyu berhasil membuat wajah pucat Wonwoo berseri bagaikan bunga mawar.
"Tuh kan galak. Hehe. Bagaimana rasanya diajari Wonwoo, nak Mingyu? Maaf ya, pasti susah karena dia marah-marah terus?" Ternyata sarkasme Wonwoo tidak cukup untuk membuat ibunya berhenti membicarakannya, walaupun sekarang mereka sudah mulai menyantap makanannya. Entah sejak kapan eommanya ini sangat penasaran dengan kehidupan anak sulungnya dengan Mingyu.
"Tidak, kok, eomma. Wonwoo hyung sangat sabar mengajariku yang bodoh ini. Sepertinya aku yang harus minta maaf kepada hyung."
Mingyu menunjukkan cengirannya kepada Wonwoo, yang lalu dibalas dengan decihan kecil.
"Kalau mau minta maaf, kasih aku nilai sempurna di test matematikamu besok, pabo."
"Aish, anak ini. Semuanya kan butuh proses. Nanti nak Mingyu juga pasti akan mendapatkan nilai yang sempurna di semua bidang pelajaran, eomma yakin."
"Terima kasih, eomma. Hyung, kalau aku dapat nilai sempurna besok, ajak aku jalan-jalan, ya?" Tanya Mingyu antusias.
"Terserah." Jawab Wonwoo seadanya. Toh, setiap les dengannya saja Mingyu tidak pernah bisa menjawab pertanyaannya, bagaimana mendapat nilai sempurna besok? Makanya Wonwoo tidak terlalu memikirkan kesepakatan itu.
o
o
o
TBC
o
- author's corner! -
hayo mingyu kira kira bisa dapet nilai bagus ga tuh ya?
hai! saya kembali, hehe. saya senang banyak yg reviewnya positive, dan ada juga yang ngasih saran yang sangat saya butuhin hehe.
sebenernya ini cerita saya mau buat oneshot pertamanya, tapi akhirnya jadi chaptered fic dan saya juga belum mahir buat character development makanya alur cerita ini kesannya membosankan, terlalu maksa dan terlalu cepat… atau mungkin terlalu bertele-tele? maaf saya ga tau harus gimana orz.
oh iya, disini saya sudah kasih hint kalau wonu mulai suka sama mingyu. jangan tanya kenapa. takdir(?). mingyu juga jadi suka gombalin wonu, tapi silahkan tebak apakah mingyu serius atau gombal aja?
yang bener saya kasih cipokan dari mingyu. hehe.
btw, thanks yang sudah mau nyempetin buat review ff saya! selanjutnya saya harapkan review dan saran sarannya lagi hehe. terima kasih~
