Lima Syndrome

Summary: penculikan, pembunuhan dan usaha pelarian ternyata bisa berbuah cinta.

Rating: M

Pairing: Geduatujuh for evaaaaah \^^/

Disclaimer: KHR bukan punya saya. Fic ngaco ini punya saya.

Warning: FULL OF CRIME! OOC sudah pasti. Abal, alay, gaje, gagal, mistypo, banyak OC, tidak memenuhi kaidah bahasa Indonesia dan EYD yang benar. Kacangan, bikin bete. Jika tidak suka jangan lanjutkan baca. Membaca kelanjutan diluar tanggung jawab author.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Corte Costituzionale della Repubblica Italiana (Constitutional Court of the Italian Republic), Rome, Italia.

Giotto del Vongola akan menjalani sidang pertamanya di sini. Gedung yang terlalu bagus untuk pengadilan. Ia didudukkan di kursi yang tidak nyaman, dikelilingi orang-orang menyebalkan. Jaksa penuntut, hakim, juri, dan orang-orang lain yang tidak dia kenali. Ia menggaruk bahunya, ada mungkin lebih dari dua puluh kali. Sidang belum dimulai, ia melihat-lihat dulu orang-orang sekitarnya. Jaksa penuntutnya bernama Sawada Iemitsu. Dari nama, jelas sekali orang Jepang. Bocah kerdil yang menjadi kepala penjara di Regina Coeli. Giotto ingat sekali namanya, Basil. Ada pria berambut pirang kusam seperti mayonnaise yang duduk sebagai juri. Disebelahnya, agen seksi yang kemarin. Siapa namanya? Lal Mirch. Giotto mengangguk yakin. Disebelah kanan pria berambut mayonnaise itu ada pria lain. Dari logatnya, sepertinya dia orang Piedmot. Memakai setelan hitam dan kemeja oranye, dengan topi dan jambang yang agak ikal.

Sawada Iemitsu, si jaksa penuntut kelihatan sibuk dengan ponsel sebelum sidang dimulai. Giotto menajamkan telinga diantara ocehan bodoh juri yang menilainya sebagai 'anak muda yang malang'. Dan, ya! Ia berhasil mendengar apa yang dibicarakannya di telpon.

"Ya, aku akan pulang besok. Siapkan saja apa yang Tsunayoshi mau. Cheesecake blueberry? Itu indah sekali, Nana! Aku tidak sabar apa yang akan dikatan Tsunayoshi tentang kedatanganku di ulangtahunnya yang ke 17."

Hakimpun datang. Entah kenapa mereka memakai jubah dan dasi yang bentuknya lebih mirip serbet. Saat sidang dimulai, Sawada Iemitsu berdiri, dan memberikan Giotto senyum hangat yang sangat kebapakan. Peduli setan, ia tidak pernah punya ayah.

"Jangan tegang, nak! Santai saja." Katanya.

Giotto melirik arloji Iemitsu. 50 jam sebelum rencana berjalan. Di salah satu lembaran uang poundsterling yang diselundupkan di kue Black Forrest itu, Giotto dihimbau untuk tidak membantah terlalu jauh. Tetapi mau mengakupun, ganjarannya akan sama saja. Giotto sempat menguap, mendengar banyak sekali tuduhan yang diajukan Jaksa Penuntut. Lal Mirch dan pria berjambang itu terus berbisik ditelinga si pria berambut mayonnaise. Mata mereka bertiga mengarah padanya. Setelan Lal Mirch bagus, namun Giotto lebih suka setelan wanita itu empat hari yang lalu. Potongannya rendah, belahan dadanya terlihat cukup jelas.

"Aku tidak membunuh keluarga Rvell."

Satu kata klise yang sukses membuat para juri—bahkan seisi ruang sidang tertawa. Giotto mendelik kepada Iemitsu, yang tawanya sudah reda lebih cepat.

"Sampaikanlah pembelaanmu."

Giotto menghela nafas. "Sudah kubilang. Aku hanya berbisnis dengan Kieren Rvell. 11 Agustus 2004, aku masih bujang labil yang suka hura-hura. Kau tahu, menarik banyak uang tunai. Mengelilingi Italia dengan mobil."

"Kemana kau tepatnya?"

"Piedmot. Serralunga d'Alba. Wajar saja kalian menangkapku disana. Aku sedang santai, makan kue, baca buku. Kalian menangkapku tiba-tiba."

"Bukti-bukti menunjukkan…." Iemitsu kembali membacakan tuntutan. "Bahwa pada tanggal 11 Agustus 2004, kau membobol jendela kamar Kieren Rvell, lalu membunuhnya saat sedang main game. Tikaman di kepala, tewas seketika. Tembakan di ayah dan ibu Rvell. Pembobolan uang tunai 10.000 Euro. Dan mayat seorang yang tidak dikenal….." Iemitsu membalik kertasnya. "Rokudo Mukuro."

Terdengar kasak-kusuk, Giotto menanggapinya dengan sangat santai.

"Mungkin dia yang membunuh Rvell." Jawabnya.

"Pisau yang ditemukan dalam panci daging stroganoff, memang tidak memiliki sidik jari. Namun di jendela dan pegangan tangga rumah keluarga Rvell, ada sidik jarimu. Kalau kau memang seorang oniline shop owner, untuk apa sidik jarimu ada disana?"

Empat puluh tujuh jam lagi. Giotto hanya menunduk dan menangis. Kelihatannya tidak berguna, namun dia dijatuhi hukuman kurungan selama 20 tahun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sepuluh jam.

Giotto duduk mendekam dengan mata memerah. Dadanya terasa sakit. Meskipun ia tidak ingin menangis, ia menangis. Hidungnya tersumbat total, dan ada lendir kehijauan ketika ia meminta satu gulung tisu pada penjaga penjaranya sekarang. Ia masih di suatu sel, terpisah dari tahanan lain di Corte Costituzionale della Repubblica Italiana, atau Pengadilan Tinggi Republik Italia. Tempat ini tidak terlalu jauh dari Regina Coeli. Namun Giotto tidak tahu jarak pastinya. Ini pertama kalinya menjejakkan kaki di Roma. Satu-satunya daerah yang paling dihafalnya di Italia adalah Palermo. Paling-paling Firenze. Dan daerah lembah itu. Aosta.

Dadanya menghangat mengingat daerah itu. Lembah hijau yang sangat indah. Ia akan hidup bersama orang yang paling dicintainya di tempat yang diberinya nama Lembah Rahasia itu. Hidup damai, tanpa suara sirene dan kejaran polisi.

Sembilan jam.

Giotto memperhatikan ruang selnya, mempelajarinya dengan baik. Yeah, tempat ini bahkan tidak lebih besar dari kandang hamster. Tapi buat apa sel besar untuk penjahat payah sepertinya? Lain cerita kalau Giotto adalah seorang mafia. Ia bisa dengan mudah menyelundupkan ganja atau heroin, lalu hidup mewah dalam kamar dua kali tiga. Sendirian.

Giotto mengingat nama si jaksa penuntut umum itu baik-baik.

Sawada Iemitsu.

Bapak seorang anak. Putranya akan berusia 17 tahun. Dari percakapan di telepon, sepertinya ia adalah pria yang sayang keluarga. Tampaknya ia tidak tinggal disini, mengingat ia mengatakan 'kedatanganku'.

Apakah keluarganya ada di Jepang? Bisa jadi.

Iemitsu tersenyum dengan sangat hangat. Benar-benar sosok ayah yang keren. Namun menurutnya senyum itu menjijikkan. Giotto benci sosok ayah. Tetapi, ia lebih benci pada senyum dan tindak-tanduk Iemitsu tadi. Tidak seperti Lal Mirch yang kemarin terlihat gelisah dan akhirnya pergi dengan wajah ketakutan, Iemitsu terlihat tenang. Seperti menghadapi seorang anak kecil yang sedang berbuat nakal; seperti membantah orangtuanya. Senyuman dan kata-kata santai itu justru mengintimidasi Giotto.

Giotto benci diintimidasi orang dewasa. Ia bukan anak kecil lagi.

Delapan jam.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku rindu keluargaku."

Julio, sipir penjara yang kebetulan menjaga sel Giotto hanya meliriknya dengan tatapan dingin.

"Mereka, tidak membelaku. Kau tahu berapa sedihnya dicampakkan, bukan? Aku hanya ingin keluargaku. Mereka tidak menjengukku. Terakhir kali, seorang teman lama memberikan kue. Lalu dia menamparku juga. Sama seperti para sipir di Regina Coeli. Mereka suka menyurukkan kepalaku di tembok. Mereka bilang aku bocah brengsek. Bajingan kecil. Kau takkan memukulku, kan?"

"Asal kau tetap duduk manis dan membungkam mulutmu." Jawab Julio dingin.

"Kau baik sekali, Signore. Semoga Tuhan Yesus memberkatimu."

"Oh, diamlah."

"Jadi, sudah berapa lama kau kerja disini?"

Julio meliriknya tajam.

"Aku hanya ingin tahu. Sipirku di Regina Coeli tidak ramah. Kau tahu, saat wastafelku rusak, aku harus memperbaikinya sendiri. Aku tahu ini bukan hotel; well, hotel prodeo. Tetapi apakah aku tidak berhak protes atas tindak lembaga permasyarakatan? Orang di sel sebelah katanya bukan siapa-siapa, tetapi dia dipukuli oleh polisi. Dipaksa mengakui kejahatan yang tidak dilakukannya."

"Jadi?" Julio berkata acuh.

"Apa bedanya dengan aku? Mereka tidak memberikan aku kesempatan untuk membela diri. Kau menonton sidangku? Jaksa itu memberondongku, tersenyum mengejek. Bilang aku anak muda yang polos. Bah!"

"Kau beruntung. Jaksa itu sudah yang paling halus diantara jaksa yang kami punya di Italia."

"Katolik Roma, yeah. Apakah jaksa-jaksa sebelumnya adalah pria dengan kalung Rosario dan pakaian hitam panjang? Membawa alkitab dan berkhotbah sebelum menyampaikan tuntutan? Mengguyurku dengan air suci sebelum hakim menjatuhkan hukuman mati?"

Julio tidak menjawab. Pria itu memberi hormat ketika Lal Mirch lewat bersama pria berambut mayonnaise itu, tergopoh-gopoh dengan banyak kertas. Seorang gadis berkacamata yang sepertinya sekretaris pria itu sibuk dengan tablet PC.

"Hai, manis! Mampirlah, aku kuat 20 ronde. Kau suka ukuran 20cm?" Teriaknya pada Lal Mirch, sambil bersiul-siul. Tidak ada respon dari wanita keturunan Peru itu.

"Perempuan jalang sialan." Umpatnya. "Sok jual mahal."

"Tutup mulutmu atau kutembak benda itu, Bocah sialan!" gertak Julio kasar.

Giotto tersentak. Ada kejutan listrik di belakang kepalanya. Ia bisa saja mendobrak jeruji sel dan mengamuk, menggertak dengan tindakan seperti yang sering dilakukannya. Namun ia tahu ini adalah gedung pengadilan. Sel yang lebih sempit dan penjagaan yang lebih ketat dapat membuatnya terluka lebih-lebih dari sekedar dibenturkan ke tembok. Ia harus menghemat tenaga. Giotto melirik bagian dalam kaus tahanannya. Sebuah amplop plastik berisi tiket pesawat dan uang. Kartu telepon juga. Jantungnya berdebar, jati dirinya berontak. Meskipun tidak ada hubungannya, hal ini pasti akan sangat menarik.

Pria pirang tampan itu menunggu, apakah tujuh jam itu lama.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Pizza, Lal?"

Lal Mirch mengangguk, menerima sepotong pizza diatas sebuah piring kertas dari anggota paling junior, Basil. Pizza dengan pepperoni, keju Camembert, zaitun dan fennel itu buatan ibu Basil. Hari ini anak manis itu ulangtahun, dan Mammon mengambil setengah dari bundaran pizza itu untuk dibawa pulang. Anggota CEDEF yang lain mungkin kesal dengan kelakuan sang bendahara, namun bagi Alaude dia adalah seorang pengelola uang yang luar biasa.

"Grazie," jawab Lal. Ia menggigitnya dengan tidak selera.

"Kau stress." Reborn melirik wanita Peru itu. "Mau kuambilkan susu kedelai atau coklat?"

"Ah, tidak. Terima kasih." Lal menolak. "Aku tidak apa-apa."

"Kau 'ada-apa-apa'." Ralat Reborn. "Katakanlah, Sorella."

Lal menggigit pizzanya lagi. Empat hari sudah Lal Mirch tidak bisa tidur. Collonello marah sekali, mengumpat-ngumpat dia akan mematahkan leher bocah bernama Giotto del Vongola itu, dan memakan seluruh organ tubuhnya dengan saus gravy dan pudding Yorkshire. Mata biru gelap yang seindah Lapis Lazurdi itu menatapnya nyalang dengan kilat ambisi yang mengerikan.

Akan kutunjukkan padamu bagaimana cara membunuh seperti yang ada didalam kepalaku.

Seumur hidupnya sebagai seorang interrogator, atau ahli kinesik, ia tidak pernah merasa seperti ini. Anak itu baru 24 tahun, tujuh tahun lebih muda darinya. Anak itu…..seperti psikopat. Tidak, mungkin saja dia hanya dikuasai amarah. Psikopat biasa terlihat tenang dan manipulative. Yah, bisa saja amarahnya hanya sandiwara. Menurut para sipir, Giotto sering sekali bicara. Sering mencari-cari masalah dengan sesama tahanan atau sipir.

"Basil?" panggil Lal.

"Si, Signora?" Basil menoleh. "Mau pizza lagi?"

"Ah, bukan." Lal menggigit lagi pizzanya. "Aku mau bicara tentang tahanan itu. Giotto del Vongola."

"Kenapa dia?" tanya Basil. "Banyak omong. Kelihatan pintar, tapi sangat menyebalkan. Yeah, dia territorial. Mirip kura-kura. Tidak banyak melakukan aktivitas."

"Apa dia tidak punya teman sesama tahanan?"

"Teman?" Basil tertawa keras. "Seisi Regina Coeli membencinya."

Apa rencana pelarian anak itu hanyalah firasat? Tetapi, sedari berangkat kemari hingga sekarang dia tidak banyak berontak. Malahan, ia terlihat sangat terpukul, sangat menyesal dengan apa yang dia lakukan. Perilakunya semua tidak relevan. Kadang sedih, kadang marah. Emosi yang meledak.

Lal mencium kejanggalan. Ia menggigit pizzanya lagi. Ruang kerja CEDEF yang seluas sepuluh kali lima belas meter ini disekat oleh banyak sekali pintu. Ruang kerja Basil berada paling depan, bersama dengan Tumeric si kepala administrasi. Ruangan Reborn dan Lal jadi satu, berhadapan dengan Basil dan Tumeric dan dipisahkan oleh lorong dan dua pintu. Di akhir ruangan, adalah ruangan si Presiden CEDEF, Alaude Nuvuola dan sekretarisnya. Bagian depan, tempat mereka bersenang-senang disini, adalah ruang kerja Mammon.

"Signore Alaude?" Lal Mirch menoleh.

"Apa? Tidak ada jalan-jalan ke Milan. Itu gratifikasi." Cecar Alaude.

"Kok, aku mencium bau hangus, ya?"

Celetukan Mammon membuat semua orang mengendus. Tidak ada bau hangus didekat sini. Nmun, tiga puluh detik kemudian, terdengar bunyi alarm kebakaran. Semua orang diruangan langsung siaga. Reborn yang selalu stay cool menghabiskan pizza-nya dengan cepat dan membuka pintu dengan kasar.

"Siapa jahanam yang berani merokok didalam ruangan ber-AC lagi?" teriaknya geram.

Namun alarm itu tetap saja berbunyi. Ada bunyi gaduh berulang-ulang. Ruangan inipun sedikit bergetar. Basil terus mengoceh lewat radio, mendengar berita dari semua sipir penjara yang dikoordinirnya. Dengan wajah pucat, dia menjerit keras.

"ADA LEDAKAN DI UTARA GEDUNG PENGADILAN!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bau bangkai.

Giotto menutup hidungnya rapat-rapat. Julio menggerutu, terus berbicara dengan radionya. Asap mengepulkan udara dan dentuman dari ledakan terus menerus terasa. Atap selnya roboh ratusan bangkai tikus hangus dan tak utuh berjatuhan dengan jam tangan rusak yang melingkari perutnya. Giotto tahu, CCTV tengah dikecoh kabut. Ia mencari-cari sesuatu dari tumpukan bangkai itu yang bisa dipakainya untuk kabur. Bau bangkai tikus itu mengaduk-aduk lambungnya, membuat Giotto memuntahkan makan siangnya. Diantara ceceran darah dan daging tak bernyawa serta jam tangan rusak itu masih ada seekor tikus yang belum mati. Dari jam tangan yang melingkarinya, waktunya tidak lebih dari 20 detik. Tikus itu ditangkapnya, dijejalkannya dengan tega ke sela-sela selnya dan tikus itu berdecit karena tubuhnya terhimpit. Giotto kembali ke belakang sel, memuntahkan apa yang ada di dalam lambungnya. Mual, dan bau sekali. Sekaligus menghemat waktu.

"Hey, nak! Kita harus pergi. Ada kebakaran di Sektor Utara dan Barat." Julio membukakan sel Giotto.

Giotto masih muntah. "Tunggu….bangkai ini membunuhku…."

Lima,

Empat,

Tiga,

Dua….

"Cepatlah!"

DUAR!

Julio terpental sejauh beberapa meter. Giotto dengan sigap lari diantara kabut asap dan bau bangkai itu. Banyak tahanan yang menggapai-gapai lengannya, minta dikeluarkan. Giotto mengabaikan mereka. Seorang polisi menghadangnya. Ia membekuk polisi berbadan besar itu dengan mudah. Merebut pistolnya dan menembaknya di kepala. Saat ia hendak menuruni tangga, banyak yang telah menghadangnya. Giotto memanjat palang pengaman tangga dan lompat. Ia hanya bisa berlari, membanting atau meninju polisi yang terdekat. Atau menembaknya, merebut pistol-pistol mereka agar tidak ada kata 'kehabisan'. Saat ia melihat jendela, ia baru sadar ia berada di lantai lima, dan asap sudah menipis.

Gedung keparat.

Sebelum langkah kaki mendekat, Giotto hanya melihat kanan, kiri dan bawah. Lalu melompat keluar. Ia jatuh, tersangkut disebuah pohon pinus yang rendah dan berdaun lebat. Dengan sigap dan hati-hati, ia memanjat turun. Pendaratan tidak mulus. Ia jatuh dengan punggung lebih dulu. Disebuah cekungan yang tertutup semak-semak tinggi dan dalam. Dibawah cekungan itu ada sesuatu yang lembut dan juga keras.

Giotto harus bertahan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Banyak tikus datang dari lubang ventilasi, plafon, sirkulasi udara bawah tanah dan celah-celah kecil lain. Semua tikus mengenakkan jam tangan dengan chip superkecil dibagian belakang dan kantung mini berisi bensin. Tikus-tikus itu terus berdatangan dan meledak. Giotto del Vongola berhasil kabur. Dua polisi tewas, dan banyak yang terluka. Kebakaran akibatnya melalap sektor utara dan timur yang memang ruang administrasi. Sambungan computer disana memperparah kebakaran."

Laporan itu disampaikan oleh Basil dibumbui suara panik dan terengah-engah. Lal dan semua anggota CEDEF juga para polisi juga panik. Alaude menggeram marah karena merasa harga dirinya dicoreng. Pihak pengadilan sudah melimpahkan kasus bajingan pirang itu pada CEDEF. Dan Alaude tahu, jika anak itu tidak diringkus secepatnya, tidak akan ada lagi CEDEF didalam nadi Corte Costituzionale della Repubblica Italiana. Sementara Mammon, menyumpah-nyumpah Giotto harus dihukum mati karena perusakan itu. Entah apa maksudnya.

"Lal Mirch….." titahnya. Ia melemparkan salah satu kartu kreditnya, dan ia mengetik sesuatu di tablet PC-nya, dan menyuruh Oregano mencetaknya. "Jahanam itu tanggung jawabmu. Pergunakan itu untuk semua kebutuhanmu."

Alaude menandatangani Surat Tugas dengan asal-asalan, namun sangat jelas. Lal melipatnya jadi tiga, dan menyelipkannya di saku dalam jasnya. Ia hormat kepada Alaude dan bersama Reborn, siap pergi dengan Basil kearah mana para polisi itu membutuhkannya.

"Lal….." Panggil Alaude lagi.

"Apa, boss?" tanya Lal penasaran. Jarang-jarang bossnya terbakar amarah begini.

"Buat iblis bernama del Vongola itu tahu dengan siapa dia berurusan."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Central Rome, Italia.

"Keparat!"

Didalam sebuah flat murah yang sempit, Spanner membanting gelas yang tadi dipakainya minum. TV menyiarkan berita kebakaran di Pengadilan Tinggi Republik Italia, dan tahanan kelas kakap kabur dengan mudah dalam insiden itu. Kemungkinan besar ledakan itu adalah rencana pelariannya.

Namun bukan itu yang membuatnya geram. Sejam yang lalu Giotto menelpon lewat telpon umum melalui ponselnya. Berkata dengan sangat lugas dan santai,

'Perubahan rencana. Aku belok langsung ke Aosta. Ada yang harus kuselesaikan. Terima kasih, Amico.'

Dan salam hangat itu ditutup. Spanner langsung memblokir rekeningnya. Terlambat. Giotto membobol 850 Euro, yang berarti sepertiga dari uang yang dihasilkannya selama ini sebagai hacker. Lalu anak itu hilang seperti asap.

"Apa yang anak itu pikirkan?" teriak Spanner frustasi.

"Polisi akan mencari kita." Kata Shouichi. "Apa yang akan kita lakukan?"

Ditengah amarah Spanner yang membludak, Shouichi memeluk Spanner dengan lembut. Memberikannya ciuman halus penuh kasih sayang. Spanner tidak begitu ingin, ia mendorong Shouichi menjauh dan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

"Kalau kau menyesal sudah membebaskannya, kenapa tidak kau jebloskan saja Giotto ke penjara lagi?" Shouichi tersenyum lembut.

"Kita juga akan kena." Spanner menjawab cepat.

"Hanya beberapa bulan. Kita bilang saja kita dibawah tekanannya."

Spanner menatap Shouichi.

"Sudah kubilang Giotto itu tidak tahu diri. Untuk apa kau berbaik hati membebaskannya dari penjara?"

Spanner mendengus. "Kau tahu. Kita bertiga. Seperti puzzle."

"Apalah artinya? Apa kau pikir aku tidak menyayangimu?"

Spanner terdiam. Shouichi melepas kacamatanya, dan mengusap-usap rambut dan pipi kekasihnya. Pria pirang introvert itu melunak. Ia menarik Shouichi kedalam pangkuannya dan menciumi telinganya. Pemuda berambut amber itu merinding dengan wajah memerah, namun ia tidak menghentikan perbuatan Spanner. Desahan lembut mulai terdengar, dan Spanner menurunkan ciumannya ke leher jenjang Shouichi.

"Menurutmu kita harus balas Giotto?" Spanner mengusap lembut perut Shouichi.

"Mmmhh…" Shouichi menoleh dan mencium Spanner. "Seperti kata Ibuku, Pay It Forward."

"Kira-kira kemana perginya? Aosta?"

Shouichi tertawa ringan. "Giotto kita adalah bajingan licik yang manis. Kurasa dia akan pergi ke Perancis. Di La Rochelle ada Elena. Kau tahu Elena adalah Lady Pelacur. Tiduri dia lima menit, maka akan ada minimum 1.500 Euro didalam kantungmu. Tunai."

"Kau pernah mencobanya, ya?" Spanner menjewer telinga Shouichi dengan giginya.

"Ittaaa~" lenguh pemuda berambut amber itu. "Gi…Giotto sendiri yang cerita."

"Aosta…" Spanner merenung. "Apa dia pergi ke Swiss?"

"Kalau aku jadi dia, aku akan pergi ke kota yang lebih ramai. Polisi akan lebih sulit mengenalimu di Perancis daripada di Swiss."

Spanner menggila. Ia memasukkan tangannya kedalam kaus Shouichi, mencubit lembut dua titik merah muda cerah di dada kekasihnya. Malam di musim gugur yang kering itu memanas. Desahan lembut Shouichi mengalun merdu ditelinga Spanner. Namun saat Spanner hendak melangkah lebih jauh, dari pintu flatnya ada sebuah ketukan. Shouichi mengatur nafasnya, kemudian pergi membukakan pintu. Dibalik pintu itu ada seorang wanita berambut tanggung yang wajahnya ketus. Seorang pria dengan topi fedora dan jambang ikal melengkung. Lelaki mungil gondorong. Ketiganya berwajah serius. Si jambang ikal memamerkan lencana CEDEF, dan surat tugasnya dengan formal.

"Ciao. Kami dari CEDEF, hendak mengumpulkan informasi dari Signore Shouichi Irie perihal pelarian Giotto del Vongola."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bab dua! Hehehe, cepet ya apdetnya? Ini gara-gara novel yang dibeliin seme saya. Judulnya The Sleeping Doll, karangan Jeffery Deaver. Itu sangat menginspirasi saya. Dan akhirnya BISA BIKIN FIC RATE M CRIMEEEE! *disumpel*

Oiya, bom tikus itu emang beneran ada di Film Wanted. Keren banget sih menurutku. Novel dan film itu memang nutrisi bagi insting nulis saya untuk terus mengetik.

Silakan review cast!

Reborn: pizzanya enak.

Giotto: bau bangkeee! *muntah2*

Alaude: belum mandi kali lu.

Giotto: *endus2 ketek sendiri* UDAH MANDI TAU!

Alaude: pake sabun, nggak? Makanya mandi pake mesin biar bersih.

Giotto: baju kali *manyun* Alaude jelek kayak pantat landak, wek! *melet2*

Entah bab tiga, Salah Gaul, I Know What You Did Last Night atau Nightmare Effect yang dikit lagi di update. Ditunggu review untuk perkembangan cerita, ya! CIAAAAAOO *ilang lagi*