Balasan mengenai review pembaca Chapter 1 yang tidak bisa Felix-kun balas melalui PM

Choku Tomoe : Terima kasih banyak untuk tanggapan positif tentang fic ini! Tapi kalo Author boleh bertanya, Crack-Pair itu apa yah...? Maklum udah seabad jadi putri tidur di xD

Semoga para pembaca yang lain juga bisa menikmati fanfic ecek-ecek(?) ini '–')/

.

.

.

.

.

.

Apakah gendang telinga kalian familiar mendengar kata Vampire...?

Seberapa sering kalian mendengar kata itu...?

Atau bahkan mungkin, kalian benar-benar pernah melihatnya dengan mata kalian sendiri...?

Tidak begitu banyak orang yang tahu dengan jelas asal-usul mereka. Bahkan tidak sedikit pula yang tidak percaya dengan kehadiran mereka di dunia ini. Tetapi di situlah hal yang membuatnya masih menjadi salah satu teka-teki misteri dari sekian banyak misteri di dunia yang belum terpecahkan.

Jadi, apa jawaban yang paling logis untuk menggambarkan wujud asli mereka...?

Tidak ada...

Namun yang jelas, percaya atau tidak, mereka ada...

.

.

.

.

.

Sweetest Miracle

.

Chapter 2 : Keajaiban Itu Datang Bersamamu

Genre : Romance

Main Cast : Naruto U., Shion

.

.

.

.

.

Di tengah malam musim semi yang tenang, dua insan berbeda saling menatap dalam. Desiran angin sepoi berhembus, menggoyangkan rerumputan taman seolah tidak ada seorangpun yang mengganggu mereka.

"Apa kau percaya dengan vampire...?" Naruto melempar sebuah pertanyaan kepada seorang gadis berambut pirang di hadapannya dengan nada tenang. Matanya masih terpejam lembut merasakan desiran angin malam yang menerpa.

"Aku percaya... Bahwa keajaiban itu benar-benar ada." Ucap Shion, gadis tersebut, memberikan jawabannya kepada pemuda berambut kuning rancung itu. Meski bukan jawaban yang sesuai dengan apa yang Naruto pertanyakan.

Mendengarnya, Membuat Naruto tersenyum kecil walau dalam hati ia terkikik geli. Sungguh gadis yang sangat aneh, begitu pikirnya.

Namun entah mengapa justru itu membuatnya menjadi tenang. Naruto berpikir bahwa sudah tidak ada gunanya menyembunyikan menyembunyikan tangan kanannya di belakang pinggang. Kini Naruto berdiri apa adanya di hadapan gadis tersebut tanpa menyembunyikan apapun lagi. Darah segar milik orang lain terus saja mengalir dan menetes jatuh dari jari-jemarinya. Rerumputan taman yang hijau berubah terkotori oleh darah.

Pemuda tersebut mulai membuka kelopak matanya. Sehingga menampakkan sepasang manik sebiru saffir nan indah yang terang di tengah kegelapan malam.

"Apa... Kau tidak takut padaku...?" Tanya Naruto kembali, sembari menatap sayu gadis berambut pirang di sana.

". . . . ."

Shion terdiam sebentar. Pandangannya seakan terkunci pada satu titik. Tak henti gadis manis itu memandang sepasang manik biru di sana. Biru yang begitu terang di tengah malam. Seakan tak mau kalah indah dengan sinar rembulan.

"...Aku, menyukai matamu."

Gadis berambut itu bergumam seraya memberikan jawabannya. Dan lagi-lagi, bukan sebuah jawaban yang tepat bagi pertanyaan yang terlontar kepadanya.

". . . . ."

Dalam diam Naruto seolah terpaku mendengar apa yang baru saja gadis manis tersebut utarakan. Sudah tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan. Karena ini kali pertama ada seseorang yang menyatakan hal tersebut baginya. Naruto seperti merasakan ada suatu getaran di dalam hati saat lama kedua mata mereka bertemu. Tanpa dirinya sadari, gurat semu tipis muncul di antara kedua pipinya. Gadis seaneh itu, mampu membuat hatinya menghangat dikala dinginnya malam.

Ninuu-Ninuu-Ninuu...

Tidak lama berselang, suara sirine membangunkan lamunan pemuda berambut kuning itu. Menoleh ke arah jalanan kota, ia melihat dua mobil polisi datang mendekat ke arah taman tempat mereka berdua berada.

'Gawatt...!' Ucapnya dalam hati.

Tak perlu pikir panjang ia langsung berlari mendekati Shion yang berada tidak jauh di depannya. Lalu tanpa permisi menggendong gadis itu ala tuan putri.

"Kyyaa~" Jerit pelan Shion setelah dirinya sudah ada di gendongan seorang pemuda yang tidak ia kenal.

"Sebaiknya jangan banyak tanya. Kita harus pergi dari sini sebelum semuanya menjadi diluar kendali!" Ujar Naruto sambil melompat tinggi ke pepohonan.

". . . ."

Untuk sesaat, Shion termangu melihat wajah pemuda itu. Ia sama sekali tidak mengenalnya, namun serasa ada rasa nyaman saat di dekatnya. Mungkin Shion dapat terseret menjadi seorang saksi mata atas kejadian yang tidak ia mengerti. Terlihat jelas bahwa tangan pemuda itu berlumuran dengan darah segar. Tapi entah mengapa ketika melihat wajah Naruto, Shion tidak berpikir bahwa nyawanya sedang terancam.

"Apa jangan-jangan kau ini... orang yang egois?" Ujar Shion bertanya apa adanya saat Naruto tiba-tiba mengangkat dan menggendong tubuh mungilnya tanpa persetujuan terlebih dahulu. Kedua tangan putih mulusnya mencoba melingkar di antara leher pemuda itu untuk berpegangan.

"...Aku orang yang pragmatis." Ucap Naruto singkat seolah menjawab tuduhan yang ditujukan padanya.

Mendengar jawaban tersebut, Shion justru terkikik geli. Tidak henti-hentinya ia memandangi wajah pemuda berambut kuning itu. Seakan tidak ada rasa bosan yang terangkat ke permukaan.

"Orang yang aneh." Gumam pelan Shion, yang masih terdengar jelas oleh Naruto karena kedua wajah mereka saat ini saling berdekatan.

'JUSTRU KAU ITU YANG LEBIH ANEHH...!'

Naruto menjerit dalam hati dengan wajah sweatdrop, tak terima ketika diolok aneh oleh orang yang jauh lebih aneh dari dirinya. Kedua kaki pemuda itu terus bergerak. Terus melompat dari satu tempat ke tempat lain menuju ke tengah kota. Sampai akhirnya ia berhasil mendarat pada lorong sebuah bangunan tua yang dalam proses penggusuran.

Naruto menghela nafas panjang setelah meletakkan Shion di sana. Mereka berdua berdiri di koridor berdebu sebuah gedung kosong tak bertuan.

"Sepertinya kita sudah aman." Ucap Naruto pelan sesudah memastikan bahwa dirinya dan gadis tersebut benar-benar jauh dari jangkauan polisi ataupun awak media yang mungkin saja terlibat.

"A-Aku... M-Masih perawan...Tolong jangan terlalu kasar... Nee?" Gumam Shion dengan nada melenguh pelan seraya menutupi tubuhnya.

Seketika darah menyembur dari lubang hidung Naruto setelah mendengar perkataan gadis pirang di sampingnya.

"B-B-BE-BERISIKKK..! Bisa tolong sebentar saja berhenti bicara yang aneh-aneh?!" Pekik Naruto lengkap dengan wajah yang memerah.

Tapi Shion malah terpingkal menahan tawa melihat reaksi menggemaskan dari pemuda tersebut. Bahkan bulir air matanya hingga keluar tak kuasa menahan tawa. Jemari mungil itu menyeka bulir air mata dari pelupuk matanya sesaat setelah tawanya mereda. Shion baru tersadar di sepanjang hidupnya, baru kali ini dirinya dapat tertawa selepas itu.

"Hihihi... Dasar tsundere." Kata Shion sambil disela tawa renyahnya. Sedangkan Naruto hanya bisa sweatdrop memandangi gadis itu menertawakannya sampai puas.

"Kau ini... Apa benar-benar tidak takut denganku?" Naruto mengucapkan pertanyaan yang sama hingga dua kali saat menyadari bahwa gadis pirang itu begitu santai berdiri di sampingnya. Naruto lalu duduk bersandar pada dinding koridor.

"Memangnya aku diharuskan takut dengan orang aneh yang tsundere sepertimu?" Ujar Shion yang juga memutuskan untuk duduk bersandar pada dinding koridor seperti yang Naruto lakukan.

"Justru kau itu yang aneh. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan tengah malam begini..." Sahut Naruto pelan mengintrogasi gadis aneh di sampingnya. Ia kemudian duduk membungkuk dan menyandarkan dagunya pada tangan yang disilangkan di atas kedua lututnya.

"Aku sedang mencari seekor kucing putih. Etto... Tingginya segini... Dan besarnya kira-kira segini..." Ungkap Shion seraya memperagakan kedua tangannya untuk memberitahu ciri-ciri kucing yang sedang ia cari dengan begitu detil.

"...Lalu?" Tanya pelan Naruto bersama tatapan mata birunya yang sayu menanggapi gadis pirang tersebut dengan sangat sabar.

"Lalu jika aku sudah menemukannya nanti, aku akan menculiknya! Akan kupaksa dia untuk mendengar cerita dan ocehanku hingga telinganya berbusa! Hihihi..." Lanjut Shion lagi sembari terkikik geli. Tapi jika ia pikir-pikir, pantas saja bila kucing itu selalu kabur saat melihat dirinya, ya kan?

Melalui apa yang Shion sampaikan, Naruto dapat menangkap dua hal dari kehidupan gadis manis berambut pirang di sampingnya tersebut. Hal yang pertama, gadis itu sudah bukan aneh lagi. Tapi super duper triple aneh, pikir Naruto dalam hati. Lalu hal yang kedua...

"...Kau tidak punya teman, ya?"

". . . ."

". . . . . . ."

". . . . . . . . . . . . ."

Setelah beberapa saat Shion terdiam oleh karena pertanyaan Naruto, tiba-tiba saja wajah gadis itu memerah.

"T-T-Te-Tentu saja aku punya teman! J-Jangan meledekku, ya! Tentu aku ini punya teman!" Pekik Shion terbata-bata menyikapi pertanyaan yang terlontar dari pemuda berambut kuning di sampingnya.

Namun dalam tatapan sayunya terhadap reaksi gadis tersebut, Naruto kini yakin dengan apa yang ia pahami dari kehidupan Shion. 'Sudah kuduga...' Gumamnya dalam hati.

"A-Aku punya teman. Aku punya... Tapi..."

Gadis pirang itu memandang ke bawah. Ada rona di hidungnya ketika hendak mengatakan yang sebenarnya kepada Naruto. Ia benar-benar sangat malu untuk sekedar mengakuinya.

"Ja-Jangan tertawa, nee...?"

"...Tidak akan." Sahut Naruto cepat dengan masih melirik sayu gadis berparas manis tersebut.

"Sebenarnya... Aku punya banyak teman di sekolah. Tapi aku tak yakin apa mereka juga menganggapku teman atau tidak. Setiap hari mereka seperti selalu membicarakanku. Kurasa tiada hari tanpa membicarakan Shion bagi mereka semua." Ungkapnya dengan mimik wajah yang jatuh. Hidung dan pipinya jelas memerah. Kedua matanya pun berkaca-kaca. Tanda bahwa saat ini dirinya benar-benar sedang mengungkapkan seluruh isi hatinya yang paling dalam.

'Jadi nama gadis ini... Shion?' Pikir Naruto dikala ia mulai mendengarkan semua yang gadis itu akan utarakan.

"Kau tahu? Setiap kali aku mendapat nilai seratus di lembar ujian, mereka selalu merebut kertas itu dan merobeknya, lalu melemparkannya tepat ke wajahku. Setelahnya mereka akan berkata, jangan sombong hanya karena nilai segitu!. Padahal setelah pembagian nilai ujian selesai, aku belum menunjukkan nilaiku kepada siapapun. Aku bahkan belum berkata apapun. Tapi seisi kelas mulai menyoraki dan melempariku dengan apapun yang mereka punya..."

"Apa... Kau dendam pada mereka?" Ucap Naruto pelan mencoba bertanya kepada Shion.

Akan tetapi Shion menggelengkan kepalanya. Gadis itu menggeleng cepat, namun air matanya mengalir begitu deras. Shion terisak hebat.

"A-Aku... Bagaimanapun... Aku tidak mau membenci mereka... Aku tidak ingin membenci siapapun juga... A-Aku... Aku..."

Pundaknya bergetar. Ia tidak mampu berkata-kata lagi. Shion tidak mampu menahan air matanya lagi. Hatinya begitu sakit. Sangat sangat sakit dikala mengingat kembali apa yang sudah mereka lakukan kepada dirinya. Meski berapa kalipun Shion mengusap, air matanya masih saja terus keluar. Shion tidak mampu lagi menghentikan air mata itu.

Melihatnya menangis, Naruto mulai berhenti bicara. Dengan ragu-ragu tangan kanannya terangkat. Naruto mengusap pucuk kepala gadis tersebut dengan sangat lembut.

"Kau... Gadis yang sangat kuat." Gumam Naruto pelan.

Baru kali ini ia tahu, bahwa ada seorang gadis yang begitu kuat seperti Shion. Hati luarnya sangat kuat untuk tidak mendendam dan membenci, meski di dalamnya begitu rapuh.

Shion menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Naruto. Mau tidak mau pemuda itu hanya bisa pasrah mendapati Shion menangis di dadanya. Mau tidak mau pemuda itu hanya bisa pasrah mendapati kemejanya nanti penuh ingus dan air mata. Namun dengan begitu, Naruto dapat merasakan bagaimana hebatnya pundak Shion bergetar. Betapa hebatnya Shion terisak. Entah mengapa Naruto dapat memahami betapa sulitnya kehidupan yang dijalani oleh gadis tersebut.

Tanpa terasa waktu demi waktu telah berlalu. Naruto hanya dapat mengusap punggung Shion dengan lembut. Ia pun tidak tahu mengapa dirinya mau menunggu dengan sabar sampai tangisan gadis itu reda. Yang ia tahu, tubuhnya tergerak sendiri untuk gadis tersebut.

"Go-Gomennee... Pasti sangat sulit bagi orang aneh sepertimu untuk mengerti curhatanku." Ucap Shion mencoba tersenyum kecil sembari mengusap tetes air mata terakhirnya. Sudah hampir 2 jam dia menangis di pelukan Naruto.

"Pertama-tama, berhentilah menyebutku dengan sebutan orang aneh terus-menerus. Itu sangat membantu." Ujar Naruto memberi saran kepada gadis yang selalu menyebutnya aneh. Padahal malah gadis itu yang jauh lebih aneh, begitu pikirnya.

"Hihihi... Tsundere-kun ternyata tidak mau dipanggil aneh. Lalu harus bagaimana aku memanggilmu?" Tanya Shion terkikik dengan wajah tak berdosa. Padahal ia habis merengek selama hampir 2 jam mengumpulkan ingus di kemeja pemuda berambut kuning itu.

Pertigaan muncul begitu saja di kening Naruto tanpa diundang setelah kali ini ia dipanggil Tsundere-kun oleh Shion.

"Bisakah kau lebih menghargai orang lain dengan menyebut namanya dengan benar?" Naruto bertanya masih dengan pertigaan yang ada di dahinya.

Kedua mata mereka saling bertatap satu sama lain. Di tempat yang sepi ini, dunia seolah hanya milik mereka berdua. Sama sekali tidak terasa sudah berapa jam yang berlalu. Mereka benar-benar tidak menghiraukan tentang waktu.

Terlihat bagai tidak akur, sebenarnya mereka merasa sangat nyaman satu sama lain. Entah Shion, maupun Naruto, mereka berdua tidak mengerti bahwa benang-benang cinta telah terajut sejak pertemuan tadi. Mereka hanya belum menyadari hal itu.

Namun yang jelas bagi Shion, bertemu dengan Naruto sungguh menyenangkan. Baru pertama kali ini ia dapat menangis lepas dan mengutarakan semuanya dari lubuk hati kecilnya. Tanpa disuruh, tanpa paksaan, Naruto mau mendengar setiap keluh kesahnya. Pemuda itu begitu sabar mendengar semua curhatannya. Rasanya begitu plong sesudah menceritakan kehidupannya yang menyedihkan kepada Naruto. Hal yang tak dapat ia lakukan dengan orang lain. Hanya pada Naruto, Shion mampu melepaskan seluruh beban yang selama ini ia pikul sendirian.

Lalu akhirnya ia menyadari, bahwa pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan belaka. Jika ia menyerah untuk mencari kucing kemarin yang berbulu putih itu, Shion tidak mungkin bertemu dengan Naruto di sini.

'Aku yakin ini bukan kebetulan. Semua ini pasti berkat keajaiban...' Gumamnya sendiri dalam hati.

Dia tak tahu mengapa dirinya terus saja mencari kucing yang kabur itu meski hingga larut malam. Dia tak menyerah sedikitpun untuk mencarinya. Di situlah Shion menyadari bahwa sebuah keajaiban Tuhan kirimkan untuk gadis malang seperti dirinya. Keajaiban itu hadir bersama Naruto yang kini ada untuk mengangkat semua beban berat yang ia pikul sendirian. Shion tersenyum penuh arti kepada pemuda itu.

"Mana bisa aku menyebut namamu dengan benar jika kau saja belum memberitahu padaku siapa namamu...?" Jawab Shion dengan nada yang sangat enteng.

"Uzumaki..!" Ucap Naruto singkat dengan nada kesal.

'Gadis ini cerewet sekali...!' Pikir Naruto di dalam hati.

"Ahh... Uzumaki-san, ya? Tapi entah kenapa itu terdengar seperti nama marga. Lalu bagaimana dengan nama depanmu?"

"Uzumaki."

"Nama depanmu...?"

"Aku tidak punya."

"Na-ma-de-pan-mu...?"

"NARUTO...! Kusoo..."

Mendengar pemuda itu begitu kesal, lagi-lagi membuat Shion terkikik geli. Mungkin ia jangan membuat Naruto lebih marah lagi, pikirnya.

"Uzumaki Naruto-san, kah... Nama yang aneh, ya"

TWIIIIICHT...

Tanpa basa-basi lagi pertigaan yang ada di jidat Naruto berubah menjadi perempatan. Itu perempatan yang sangat besar.

Misi membuat pemuda berambut kuning itu untuk tidak marah lebih dari ini sepertinya gatot, alias gagal total. Masih di dalam pelukannya, Shion langsung menunduk dan memejamkan kedua matanya erat-erat. Melihat tingkahnya yang tiba-tiba seperti itu membuat Naruto kebingungan.

"Apa yang kau lakukan?" Naruto bertanya heran mengapa Shion tiba-tiba menunduk ketakutan seperti itu.

"A-Apa kau tidak memukulku...?" Balas Shion bertanya seraya mencoba melirik mata Naruto secara perlahan.

"...Hahh?"

"Uuuhh..." Lenguh Shion seperti kucing yang ketakutan.

"Dengar... Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Tapi yang jelas rasanya aku sangat ingin sekali menggigitmu." Ungkap Naruto lengkap dengan nada yang masih telihat kesal pada gadis pirang yang bersembunyi di balik dadanya itu.

"Jadi... Kau benar-benar seorang vampire, ya?" Shion melempar sebuah pertanyaan yang membuat Naruto benar-benar terdiam.

Entah mengapa suasana menjadi hening. Bahkan serangga-serangga malam pun tidak berani untuk berbunyi. Aura di antara mereka berdua terasa begitu canggung. Shion memutuskan untuk sedikit mundur ke belakang, lalu menarik pergelangan tangan kanan Naruto.

"Ini... Darah orang yang ada di balik semak-semak itu, iya kan?" Tanya gadis tersebut lagi.

Naruto masih diam seribu bahasa. Kelopak matanya kembali menatap sayu. Sepasang manik sebiru saffir itu tetap terasa lebih bercahaya di antara gelapnya koridor bangunan tua ini. Naruto terdiam di saat ternyata gadis itu sudah mengetahui semuanya.

"Jika memang sudah tahu, kenapa kau masih tidak takut denganku...?"

Mereka berdua saling melempar pertanyaan demi pertanyaan yang masih belum terjawab pasti. Namun sesungguhnya di titik itulah ikatan di antara mereka berdua sedang terjalin.

"Entah mengapa aku merasa, kau bukanlah vampire yang jahat." Kata Shion mengungkapkan apa yang ia rasakan tentang Naruto.

"Dengarkan aku baik-baik. Di dunia ini, tidak ada yang namanya vampire baik ataupun vampire buruk. Vampire tetaplah vampire. Mereka adalah makhluk mengerikan penghisap darah. Jika kau mampu untuk memahami hal itu, ada peluang besar bahwa kau bisa hidup lebih lama di kota ini." Ujar Naruto mencoba menjelaskan betapa mengerikannya makhluk bernama vampire itu.

"Tapi kau tidak menyerangku."

". . ."

"Itu..."

"Jika kau tidak menyerangku, bahkan tidak mencoba untuk membunuhku yang jelas-jelas ada di hadapanmu, apalagi namanya jika kau bukan vampire yang baik...?"

Naruto lagi-lagi dibuat diam oleh gadis manis berambut pirang itu. Naruti tidak tahu apa yang salah dengan dirinya, tetapi ia tidak pernah bisa menang berargumen dengan gadis mungil yang satu ini. Percuma bila mencoba terus berdebat, pikirnya. Naruto menghela nafas panjang sebelum ia kembali membuka mulut untuk berbicara.

"Pria yang ada di taman itu... Adalah pelaku dari pembunuhan seorang wanita yang baru saja terjadi malam ini."

.

.

.

.

Sweetest Miracle

.

Chapter 2 : Keajaiban Itu Datang Bersamamu

Genre : Romance

Main Cast : Naruto U., Shion

.

.

.

.

"Keajaiban itu benar-benar ada. Semenyakitkan apapun kehidupanmu, semenyakitkan apapun penderitaanmu, jangan pernah putus asa.

Teruslah berjuang, untuk menggapai keajaiban itu." (Felix-kun)