Words I shouldn't have listened to.

If only I had forgotten my phone, just for one day.

Words that cause me to be at a loss for words.

Words that don't care about my feelings anyway.

.

Changmin terbangun dari tidurnya ketika ia mendengar ponselnya berdering. Dengan mata yang masih tertutup, ia berusaha meraih ponselnya yang ada di meja nakas.

"Halo Nuna!" ucap Changmin dengan nada sedikit serak. Dengan mata yang masih terpejam, ia mendengarkan suara perempuan dari seberang sana. Ia hanya menggumam menjawab setiap ucapan dari balik sambungan itu.

"Nanti siang aku ke sana, Nuna!"

Dan sambungan itu pun terputus. Dengan malas, Changmin kembali meletakkan ponselnya di meja nakas.

Akhir-akhir ini ia merasa lelah. Bukan hanya karena pekerjaannya yang semakin menumpuk di kantor, tetapi juga karena persiapan pernikahanya yang semakin membuatnya harus kesana kemari dan menguras staminanya. Ditambah lagi, beruang yang mencoba untuk meminta jatah sebelum menikah.

Lupakan! Tidak akan ada acara yang iya-iya sebelum menikah.

Changmin menguap lalu membuka mata. Disingkirkan perlahan tangan Yunho di pinggangnya dengan lembut, agar Yunho tidak terganggu dalam tidurnya. Changmin membangunkan tubuhnya lalu menyibak selimut dan beranjak dari ranjang.

.

.

.

HoMin Fanfiction

Present

Under the Autumn © Ran Hime

How Can I © TVXQ

TVXQ and other Cast © Themselves

Drama, Hurt/Comfort

HoMin

M Rated

Yaoi, OOC, Typo, etc.

.

.

.

Chapter 1

.

Dengan telaten Changmin memotong daging segar yang baru ia ambil dari dalam kulkas. Sejak ia memutuskan belajar memasak dua tahun yang lalu, sejak itu pula selalu ia yang bangun lebih awal dan membuat sarapan untuk dirinya dan juga Yunho.

Sudah hampir sepuluh tahun bersama, dan mereka memutuskan jika Changmin lah yang mendapatkan peran dalam mengurusi rumah sejak pertunangan mereka dua tahun yang lalu. Changmin tidak keberatan akan hal itu asal ia juga diperbolehkan tetap mengurusi perusahaan keluarganya.

Changmin tersentak ketika tiba-tiba tangan besar Yunho memeluk pinggangnya. Terlalu banyak melamun membuat ia tidak menyadari kehadiran sang tunangan.

"Kimchi lagi, hem!" seru Yunho dengan menaruh dagunya di pundak Changmin.

Changmin hanya tersenyum walau ia tahu Yunho tidak mungkin melihat itu. Memangnya mau sarapan apa? Ia tidak bisa memasak banyak menu seperti halnya keahlian Yunho dalam menyiapkan banyak menu.

Changmin menahan nafas ketika tangan besar Yunho memasuki bajunya. Jemari besar Yunho bergerak mengusap perut sixpack Changmin. Selalu seperti itu, beruang mesum itu tidak pernah absen menggodanya setiap pagi.

"Apa kabar, baby?"

Changmin menutup mata. Ada rasa sesak ketika Yunho mengucapkan kalimat itu. Kalimat sapaan seolah ia sedang membawa bayi di perutnya. Changmin tahu Yunho tidak bermaksud melukai perasaanya. Ia juga sadar, jika perlahan waktu jugalah yang membuat Yunho merindukan sosok yang bisa meramaikan rumah tangganya nanti.

Namun Changmin bisa apa? Ia hanya laki-laki yang mungkin hanya bisa memuaskan Yunho di atas ranjang, namun tidak mungkin bisa memberikan sosok yang bisa meramaikan rumah tangganya nanti. Itu adalah kosekuensi atas keputusan Yunho ketika melamarnya dua tahun yang lalu.

"Jangan terlalu sering fitness!" seru Yunho lirih. Tangan kanannya masih setia mengusap perut Changmin, "Kau bisa menyakiti baby," lanjutnya lirih.

Changmin hanya diam. Tangannya berhenti bergerak setelah masakannya selesai. Perlahan matanya memerah.

"Kau baik-baik saja kan, baby?"

Yunho menyamankan dagunya di pundak Changmin.

Perlahan air mata Changmin menetes. Pertanyaan itu kembali muncul. Apakah Yunho menyesali keputusannya dua tahun yang lalu? Ataukah ini hanya cobaan ketika hubungannya akan memasuki pernikahan?

Mungkin pertanyaan yang terakhir adalah jawabannya. Changmin tahu mereka berdua seperti apa. Changmin tahu bagaimana seorang Jung Yunho. Pria itu tidak menyukai wanita.

"Pergilah mandi, Yunho yah!" seru Changmin. Sebisa mungkin ia berusaha agar suaranya tidak terdengar serak, "aku akan menyiapkan sarapan."

Yunho melepaskan pelukannya. Ia melirik jarum jam di dinding. Dengan malas Yunho melepaskan pelukannya di pinggang Changmin. Seharusnya ia tidak telat bangun hingga bisa mempunyai banyak waktu bersama Changmin di pagi hari. Yunho memasang wajah cemberutnya sembari berjalan ke kamar.

Sedangkan Changmin? Ia mengusap pipinya yang basah? Seberat inikah cobaan ketika ia memutuskan untuk menerima lamaran Yunho?

.

.

Under the Autumn

.

.

Changmin memasang dasinya dengan perlahan. Mematut bayangan tubuhnya di cermin. Ia terlihat semakin langsing saja walau banyak makan. Berbeda dengan Yunho yang semakin gendut. Changmin tertawa setiap kali membayangkan wajah iri Yunho terhadap tubuhnya. Jangan salahkan dia! Salahkan saja Yunho yang terlalu malas berolahraga dan lebih suka tidur.

Changmin menggeleng. Diraihnya jas berwarna krem di gantungan lemari.. Ia memakainya dan mengancingkan setiap kancingnya. Membuat ia teringat Yunho lagi. Beruang itu memang semakin gemuk. Berat badannya mudah sekali naik. Bagaimana nanti nasib tubuhnya ketika beruang itu melakukan yang iya-iya setelah resepsi pernikahan? Perlahan pipi Changmin memerah. Ia menggeleng lagi .Bagaimana bisa hal seperti itu terlintas di pikirannya?

Changmin hendak beranjak keluar dari kamar. Namun sesuatu yang tergeletak di ranjang menghentikan langkahnya. Changmin melangkah mendekati ranjangnya. Tangannya bergerak meraih sebuah dokumen. Ia memicing menatap dokumen milik Yunho. Ia menghela napas. Tunangannya itu begitu ceroboh.

Dengan cepat Changmin keluar dari kamarnya dengan sebuah dokumen di tangannya. Bagaimana bisa Yunho meninggalkan dokumen sepenting itu? Tanpa dokumen itu, rapat dengan beberapa investor bisa berantakan.

Changmin melirik arlogi di tangannya. Setidaknya hari ini tidak ada rapat di kantornya. Ia tidak perlu khawatir kapan ia akan datang ke kantor.

.

.

Under the Autumn

.

.

Sepanjang koridor, beberapa orang yang berjalan berlawanan arah dengan Changmin selalu berhenti dan membungkuk memberi salam. Bukan rahasia lagi jika pria bermarga Shim tersebut adalah calon menantu dari pemilik perusahaan raksasa semacam Shinki group. Walau kenyataannya, kisah asmara itu hampir tidak pernah di bahas di media demi keamanan Changmin.

Changmin tersenyum ketika melihat Yunho keluar dari ruangan kerjanya. Ia mempercepat langkahnya menghampiri tunangannya yang sedang berwajah kusut itu.

"Yunho yah!" serunya membuat langkah Yunho dan sekretarisnya terhenti. Tunangannya itu tersenyum dan sekretaris Yunho membungkuk memberi hormat.

"Kau melupakan dokumenmu!" lanjut Changmin sembari menyerahkan dokumen milik Yunho.

"Aku sudah mencarinya kemana-mana!" Wajah kusut Yunho seketika menghilang ketika menerima dokumen tersebut.

Changmin hendak membuka suaranya untuk mengatakan jika Yunho diminta ke butik Jessica, namun ia mengurungkan niatnya ketika mendengar suara yang ia rasa ia mengenalnya.

"Yunho yah! Rapat tidak akan berjalan tanpamu!" seru seorang pria yang berdiri di belakang Changmin.

Changmin nampak bergeming. Ia menahan nafas sebelum berbalik. Wajah tampan itu seketika membuat ototnya serasa lemas. Dengan kaku, Changmin mencoba menarik kedua sudut bibirnya.

"Kau Changmin, kan? Shim Changmin?" seru orang itu dengan nada senang.

Changmin hanya tersenyum lalu membungkuk, "Apa kabar Jaejoong sunbae!" Changmin menarik kembali tubuhnya hingga pandangannya menatap wajah pucat Jaejoong.

"Tentu saja baik!" jawab Jaejoong dengan antusias."

"Rapat akan mulai, kan?" seru Yunho memotong acara reuni itu, "jadi segera kita mulai," lanjut Yunho beranjak dari samping Changmin diikuti sang sekretaris.

"Nanti kita bertemu lagi, Changmin ah. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan," Jaejoong tersenyum lalu melangkah meninggalkan Changmin. Berlari kecil mengejar langkah Yunho.

Changmin masih terdiam menatap punggung Jaejoong. Dia kembali! Dia ada di Korea! Dan dia ada di perusahaan Yunho namun tunangannya tidak pernah membahas akan hal itu. Changmin menghela nafas? Apakah dia juga akan kembali mengisi hati Yunho? Lalu bagaimana dengan dirinya?

Changmin hendak pergi ketika suara pria paruh baya menghentikan langkahnya. Changmin berbalik dan mendapati calon mertuanya tengah menatapnya.

"Aboji!" ujar Changmin lirih.

.

.

Under the Autumn

.

.

"Sudah lama kau tidak ke rumah!" seru Jihoon dengan pandangan intens terhadap Changmin, "ibumu merindukanmu."

Changmin hanya diam mendengar kalimat demi kalimat pria di depannya. Semenjak pertunangan itu, orang tua Yunho memang menyuruh Changmin untuk memanggil mereka berdua layaknya orang tua sendiri.

"Mianhae, Aboji!" Changmin menatap Jihoon dengan rasa bersalah.

Sejujurnya ia ingin mengunjungi ibu Yunho, namun beberapa minggu ini ia terlalu sibuk dengan persiapan pernikahannya. Jangankan mengunjungi ibu Yunho, pulang ke rumah orang tuanya saja, hampir tidak pernah ia lakukan selama dua bulan ini.

Jihoon menghela nafas. Ia memperhatikan calon menantunya yang kini terlihat nampak kurus dan lelah.

"Jangan terlalu lelah dengan persiapan pernikahan kalian," seru Jihoon mengalihkan pembicaraan, "aku tidak mau calon menantuku terlihat kurang sehat di hari pernikahannya nanti."

Changmin terdiam sembari menunduk.

"Sesekali ajaklah Yunho untuk mengurus semuanya. Kau terlihat semakin kurus dan anak itu semakin gemuk."

Changmin memayunkan bibirnya. Ia bisa apa jika Yunho selalu disibukkan dengan urusan pekerjaan, sehingga ia yang harus menghandle urusan persiapan pernikahan mereka. Ia bisa apa jika tubuhnya memang tiidak bisa berisi lebih dari tubuh Yunho walau ia sudah makan banyak.

Ia tahu calon mertuanya hanya mengkhawatirkan kesehatannya.

.

.

Under the Autumn

.

.

Changmin menikmati makan siangnya dengan enggan. Makan di kantin perusahaan Shinki tidaklah buruk. Perutnya tidak bisa menunggu lagi makan siang jika ia harus mencari tempat makan di luar. Dan jalan satu-satunya adalah mengisi perutnya di kantin ini.

"Boleh bergabung?"

Changmin menengadah, menatap wajah pucat yang nampak tersenyum. Changmin balas tersenyum, mempersilahkan orang di depannya untuk duduk.

Pria di depannya nampak tidak banyak berubah, kecuali wajahnya yang semakin tampan dan berbeda dari sebelas tahun yang lalu.

"Kupikir kau akan ikut rapat tadi?" seru Jaejoong setelah makanannya habis.

Changmin tersenyum, "aku hanya mengantar dokumen milik Yunho!" serunya lalu meminum kopi di depannya.

"Dokumen?"

"Ya ... Berkas-berkas rapat milik Yunho tertinggal di apartemen."

Changmin dapat melihat mata sipit itu menatapnya penuh tanya, "kalian tinggal bersama?"

"Hampir dua tahun!"

"Mwo? Du-dua tahun!" Jaejoong hampir saja bangkit dari kursinya ketika mendengar penuturan dari adik kelasnya, " kau dan Yunho-"

Jaejoong tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Jaejoong nampak terkejut mrndengar itu. Changmin menebak jika Jaejoong berpikir bagaimana bisa ia tinggal bersama dengan Yunho bahkan ketika Jaejoong tidak pernah melihat kedekatan antara dirinya dengan Yunho dulu.

"Aku dan Yunho hanya sepupu!"

Changmin memperhatikan setiap ekspresi dari kakak kelasnya dulu. Ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Ia tidak ingin menyakiti Jaejoong. Karena ia tahu bagaimana Jaejoong dulu begitu mencintai tunangannya. Mengatakan tentang hubungannya dengan Yunho, hanya akan membuat masalah baru yang mungkin bisa saling menyakiti.

Changmin meraih ponsel di saku celana bahan yang tengah ia kenakan. Membuka sebuah pesan yang membuat ia harus segera beranjak pergi. Changmin kembali tersenyum kepada Jaejoong setelah kembali memasukkan ponselnya.

"Maaf, Sunbae! Aku harus kembali ke kantor." Changmin berdiri dari duduknya dan hendak melangkan pergi. Namun suara Jaejoong membuatnya mengurungkan niatnya.

"Changmin ah, bisakah kau membantuku untuk mendapatkan Yunho lagi?"

Changmin memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Jadi Jaejoong memang masih menyukai Yunho? Lalu bagaimana dengan Yunho?

"Tentu saja!"

Changmin bahkan tidak habis pikir dengan jawaban yang keluar dari bibirnya. Semudah itu ia mengiyakan permintaan dari Jaejoong, sementara hatinya mencoba berteriak tidak. Bagaimana bisa ia tidak menolak hal tersebut, sementara tidak lebih dari dua bulan lagi ia dan Yunho akan menikah.

.

.

Under the Autumn

.

.

Changmin memasuki sebuah butik besar di kota Seoul. Beberapa karyawan nampak menunduk hormat setiap kali berpapasan dengan Changmin. Hingga tubuhnya menghilang dari balik pintu ruangan pemilik butik tersebut.

"Nuna!" seru Changmin membuat Jessica berhenti berkutat dengan kertas di depannya.

Putri sulung keluarga Jung itu berhenti menggambar, lantas berdiri dan berjalan menghampiri Changmin.

"Kau sendiri?"

Changmin mengangguk lalu mengikuti Jessica yang berjalan ke arah sofa tamu lalu duduk.

"Sibuk lagi?"

Lagi-lagi Changmin hanya mengagguk menanggapi kalimat dari Calon kakak iparnya tersebut.

Changmin membuka sebuah buku yang diberikan oleh Jessica. Nampak gambar Tuxedo yang bagus di sana. Changmin membalik tiap lembarnya, mencari Tuxedo yang cocok untuk pernikahannya nanti.

"Ibu menanyakanmu!" seru Jessica di sela mencari buku yang berisi hasil desain Tuxedo pengantin untuk Changmin.

"Aboji sudah menyampaikannya tadi."

"Kau ke kantor!"

"Ya!"

Mendengar kata kantor membuat Changmin berhenti membuka lembar buku tersebut. Matanya menerawang kejadian tadi. Membuatnya teringat akan wajah Jaejoong tadi.

Jaejoong masih mencintai Yunho. Jaejoong ingin Yunho kembali dan tanpa pikir panjang ia terlanjur menyanggupi permintaan Jaejoong. Bodohnya dia!

"Nuna!"

"Hem!" Jessica hanya mengguman. Masih mencari benda yang ia cari itu.

"Bagaimana jika mantan kekasih Yunho kembali dan pernikahan ini tidak jadi berlangsung?."

Tangan Jessica berhenti begitu saja ketika mendengar pernyataan Changmin. Sejujurnya tidak ada yang salah jika mantan kekasih adiknya kembali ke Seoul. Itu hak orang itu. Tapi ... Jika pernikahan yang tinggal dua bulan itu harus batal. Itu sungguh mustahil. Adiknya terlanjur mencintai Changmin dan waktu sepuluh tahun itu bukanlah waktu singkat.

"Jangan bercanda!" Jessica kembali mulai mencari kertas-kertas hasil desain Tuxedo untuk pernikahan adiknya, "Ayah akan menggantung Yunho jika itu sampai terjadi."

Changmin terdiam. Entah kenapa tiba-tiba dadanya terasa sesak. Bagaimana jika akhirnya pernikahan yang sudah direncanakan hampir dua tahun itu harus berakhir? Changmin menutup matanya perlahan. Ini hanya soal waktu. Dan perasaan Yunho lah yang akan menjawab keraguaannya.

.

.

.

To be Continue ...

.

Awalnya sempat pesimis untuk melanjutkan ff ini. Khawatir jika ff ini tidak lebih bagus dari prolog dan mengecewakan kalian. Tapi saya berpikir ulang. Bagaimana saya tahu ini mengecewakan atau tidak jika saya tidak melanjutkannya.

Saya berharap chapter ini tidak mengecewakan.

Terima kasih atas waktunya telah bersedia membaca ff ini.

Thank's to:

Rainy0218, Guest, shim nael, michi, Lennie239, melqbunny, xxx, bambijung, hanamichi, ia tania, afifah. kulkasnyachangmin, Meyla Rahma, Okta Jung, dee6002, elleinakartika. devyanti.