My Kunoichi

Chapter 2

Yuna Mikuzuki

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Romance & Drama

Chap 2! Waaah... Bnr2 tlntar ni fic... Hahahhahahahha... Nie, dah pada nunggu fic ku. Chapter 2!

Outfit naruto's characters di sini dari game wii 'Naruto Shippuden : Dragon Blade Chronicles'.


Sasuke makin mendekatkan wajahnya pada sang Kunoichi. Sakura memalingkan wajahnya, tapi Sasuke pegang dagunya supaya mereka saling menatap satu sama lain. Dapat Sakura lihat dengan jelas wajah sang Master, penuh dengan amarah. Pandangan Sakura sedikit mengabur, atau memang ingin tidak melihat. Sakura tutup matanya rapat-rapat, tapi...

Sasuke langsung menempelkan bibirnya pada lawan jenis yang berada di depannya. Mata Sakura melebar, bibirnya tersapu oleh bibir Sasuke. Sasuke makin merapatkan bibirnya, sekali-kali memiringkan kepalanya, supaya merasakan bibirnya terus menempel dengan kuat, penuh dengan ciuman panas. Lidah Sasuke memaksa masuk, tapi bibir Sakura tetap tidak mengizinkan.

Digigit bibir bawahnya, membuat sang gadis kesakitan dan kesempatan Sasuke terbuka. Masuk saja lidah Sasuke. Sakura berusaha lepas dari ciumannya, tapi Sasuke menahan kepalanya dengan telapak tangan kanannya berada di belakang, dan telapak tangan kirinya menutup pipi kanannya. Sakura sudah tidak tahan, air liur mereka berdua saling bercampur dan aliran air liurnya jatuh lewat bibir mereka, menandakan ciuman itu bukan ciuman biasa, tapi saling berlawanan dalam mulut.

Sasuke melepas ciumannya. Napas mereka berdua sama-sama memburu. Ciuman mereka cukup lama. Saat Sakura mau mengucapkan sesuatu, Sasuke membungkam mulutnya dengan mengulum bibirnya.

"Mmmhh... Mmmhh..."

Dengan mantap, Sakura berhasil mendorong Sasuke, lalu menutup bibirnya dengan telapak tangannya. Ia masih tidak percaya, bibir perawannya diambil oleh orang yang disukainya. Lho? Bukannya kalau begitu, biasanya orang tersebut akan senang bukan kepalang?

"Go-gomen, Sasuke-sama... A-aku..." Sakura gemetar sambil menyentuh bibirnya. Sasuke mengusap bibirnya lalu memegang dagunya sambil menyeringai. Lidahnya menjilati bibirnya, seakan ciuman panasnya dengan Sakura sangat menggugah nafsunya. Sakura bergetar lagi, lalu berlari meninggalkan halaman istana Hokage dan Sasuke. Berlari sejauh mungkin.

Sakura sampai di puncak gedung Hokage, di mana atap gedungnya berhias di belakang dengan ukiran wajah Hokage. Sakura memeluk kakinya sambil menenggelamkan wajahnya di dalam lipatan tangannya. Entah mengapa, Sakura tidak bahagia dengan insiden tadi. Padahal, dia berciuman dengan master yang dia sukai.

"Hiks... Hiks..."

Seketika, ada asap mengebul di depan Sakura. Sakura buru-buru mengusap airmatanya. Tenyata Pakkun.

"Aaa... Sakura, kau disuruh Kakashi untuk kumpul di depan warung ramen Ichiraku. Sai dan Naruto juga sudah di sana," berita Pakkun. "Ah, iya. Aku segera ke sana. Arigatou."

"Hm." BOFF! Pakkun langsung menghilang dari hadapan Sakura. Ia langsung berlari dari atap gedung Hokage menuju depan warung ramen Ichiraku. Di sana sudah menunggu kelompok-nya, dan satu kelompok yang membuat Sakura bergetar.

"Sakura-chaaan! Sini, sini!" Lelaki berambut pirang dan bermata sapphire itu melambai-lambaikan tangannya. Sakura segera berjalan menuju tempat kelompok-nya dan berdiri di samping Sai.

"Sudah kumpul semua, ya? Tidak ada yang terlambat, 'kan?"

"Aku malah heran. Biasanya 'kan Kakashi-sensei telat. Tumben-tumbenan tepat waktu," sindir Naruto. Kakashi tersenyum(?) saja pada Naruto, lalu memulai pembicaraan.

"Ah, hari ini, aku ingin mengumumkan tentang misi yang diberikan oleh Hokage-sama. Lusa, kita akan pergi ke Kirigakure, karena Mizukage di sana membutuhkan bantuan dari Konoha untuk melawan mata-mata dari Oto yang ditugaskan untuk mengambil gulungan penting milik Mizukage keempat."

"Begitu saja, Kakashi-sensei. Lalu, kenapa butuh tambahan kelompok untuk misi kelompok kita?" tanya Naruto sambil mengangkat tangannya.

"Kau tahu, kelompok Yamato memiliki anggota yang cukup handal. Sasuke adalah ninja sekaligus putra mahkota Konoha yang mempunyai kemampuan lebih, Suigetsu dengan ringannya dapat menggunakan pedang pemenggalnya, dan Juugo mempunyai tenaga yang sepantar dengan Nona Tsunade. Ini perintah dari Hokage-sama," jelas Kakashi. Naruto memincingkan matanya ke arah Sasuke yang sedang mengistirahatkan tangannya di dalam bajunya. (Sikap tangannya kayak Itachi pakai baju Akatsuki. Tahu, 'kan?)

"Apa, Dobe?"

"Berisik, Teme!"

"Huh!" hela Naruto dan Sasuke secara bersamaan. Kakashi hanya sweatdropped melihat tingkah mereka berdua.

"Dan aku meminta pada kalian semua untuk menjaga Sakura. Karena hanya dia satu-satunya ninja medis di misi kita. Kita bisa tewas kalau Sakura tidak ada. Mengerti?"

"Hai."

"Ya. Sekarang kalian boleh bubar. Aku ada urusan," ucap Kakashi seraya mengangkat jari telunjuk dan tengahnya, lalu menghilang.

"Ah! Pasti lanjutin baca novel mesumnya Sennin Mesum!" umpat Naruto kesal-kesal. Lalu Sai menyambungkan, "Kudengar, Kakashi-sensei punya hubungan dengan Mizukage kelima."

.

.

.

.

Seketika, suasana kelompok Kakashi dan Yamato sunyi. Bunyi jangkrik terus melantun di telinga mereka.

.

.

.

.

"HAAAAH!" BENARKAH, SAI(-DATTEBAYO/KUN)!" Naruto, Sakura, dan Suigetsu langsung memecah ketenangan di antara kedua kelompok tersebut. Sedangkan Sasuke, Juugo, dan Yamato hanya diam saja.

Sai menampilkan senyum(?)nya pada mereka bertiga. Seolah terkaan mereka benar. "Ah, aku ada urusan dulu. Aku duluan."

"Sai-kun, aku ikut!" seru Sakura sambil berjalan di samping Sai. Sasuke menaikkan alisnya. Rasanya, sangat mengganggu.

Sai mengangguk dan membiarkan Sakura ikut dengannya. Mereka berdua meninggalkan kelompoknya di depan warung ramen Ichiraku. Naruto melongo melihat Sai dan Sakura berjalan berbarengan.

"Sa-Sakura-chan?"

Sasuke hanya berbalik meninggalkan kelompoknya. Ia berjalan menuju hutan dan berniat latihan. Mungkin kalau latihan, pikirannya lebih plong.


Di lain tempat...

"Halo, Mei. Gimana di Kiri?"

"Halo. Baik-baik saja. Kau mau ke sini?"

"Ya. Bukankah kelompokku dan kelompok Yamato akan ke sana karena permintaan dari MIZUKAGE KELIMA?"

"Ahahahaha... Aku bercanda. Tapi... waktu berduaan juga nggak akan begitu banyak..."

"Aah... dasar manja."

"Kau...!"

"Bercanda. Nanti kuusahakan ada waktu berduaan, ya."

"Ya. Aku juga. Love you, Kakashi..."

"Love you too, Mei..."

Kakashi menutup telepon gombalnya dan melanjutkan pembacaan Icha-Icha Tactics. Tumben-tumbenan Kakashi ngegombal.


Di sekitar pasar Konoha, Sai dan Sakura berjalan-jalan sambil melihat-lihat sekeliling. Tapi, Sai ke pasar karena dia mau belanja. Katanya pasokan kebutuhan makanan sehari-harinya mau habis. Dan Sakura dengan senang hati ingin membantu Sai. Sakura membantu memilih makanan sehari-hari yang dianggap Sakura baik untuk kesehatan.

"Sai-kun, sebaiknya kau punya banyak tomat, deh. Tomat itu baik untuk kecantikan kulit. Kulit kamu terlihat pucat," ujar Sakura sambil mengambil 3-4 tomat. Sai hanya tersenyum sambil menjatuhkan keringat. Saat Sakura mengambil tomat, bayangan wajah Sasuke saat kecil terlintas di benaknya.

"Hihihi..."

Sai langsung menoleh ketika mendengar tawaan Sakura. "Kenapa kau tertawa, Sakura?" tanya Sai. Sakura langsung menutup mulutnya. "Oh! Aku hanya teringat wajah Sasuke-sama saat kecil. Pipinya tembem seperti buah tomat. Makanya dia suka buah tomat."

Seketika, Sakura langsung sadar tentang apa yang telah ia katakan tadi. "Hah! M-maaf, Sai-kun. Aku... nggak sengaja jadi mengatakan hal seperti itu..."

"Wakatta, Sakura," sambil mengelus rambut Sakura. Wajah Sakura malah jadi merona. Lalu, mereka melanjutkan acara belanjanya kembali.

Selama mereka berbelanja, Sakura terus mengoceh untuk makan ini-itu. Kelihatan seperti seorang ibu yang mengurusi anaknya saja Sakura sekarang.

Yang membawa keranjang belanjaan malah Sakura, Sai hanya diam tak membawa apa-apa, hanya menurut perkataan Sakura saat memilih-milih belanjaan. Terkadang, mereka bercanda gurau sambil berbelanja.

"Aduh... suami-istri yang rukun sekali, ya... Belanja bersama, romantis sekali..." ucap ibu-ibu pedagang di pasar. Merasa Sai dan Sakura yang dimaksud, wajah mereka langsung memerah padam. Karena Sakura yang membawa keranjang belanjaan, ia jadi seperti seorang istri Sai saja.

"Ah, k-kami bukan suami-istri, kok..." jelas Sakura. Dalam hati, Sai sebenarnya merasakan bunga-bunga bermekaran dalam hatinya, berarti... dia senang.

Selesai berbelanja, Sai dan Sakura pulang (pergi) ke rumah (Sai). Sai membuka sepatu ninjanya diikuti oleh Sakura. Sai menaruh senjata dan barang-barang lainnya, sementara Sakura menaruh barang belanjaannya di counter dapur Sai.

'Rumah (apartemen) Sai kurang lebih sama dengan Naruto. Yang ada hanya ruang dapur yang menyatu dengan kamar tidur. Setidaknya kamar ini berukuran 5x5 meter.'

Sakura langsung membuang pikirannya mengkritik rumah Sai. Lalu ia menoleh ke arah Sai sambil mengenakan celemek merah yang tergantung di dapur. "Sai-kun, mau kubuatkan makan malam? Sekarang sudah jam enam sore, akan kubuatkan makanan yang enak dan bergizi! Tenang saja!" kata Sakura sambil memposekan gaya Guy dan Lee, yaitu mengacungkan jempol ke arah depan wajah Sai. Ia hanya mengangguk ringan, menuruti perkataan Sakura. Dengan gesit, ia mengambil panci, wajan, talenan, pisau, mangkuk, dan alat-alat memasak lainnya. Sai hanya diam sambil minum teh di coffee table-nya.

'Seperti pengantin baru saja...'

Selama kurang lebih 20 menit, Sakura sudah selesai memasak. Ia memasak dua chicken wings dengan nasi. Dan sebagai minumannya, ia membuat jus tomat.

"Itadakimasu."

Sakura meminta Sai untuk merasakan masakan Sakura di suap pertamanya. Sai mengapit potongan chicken wings-nya, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Ia kunyah dan telan, lalu mengambil suap kedua.

"Jadi... bagaimana?"

"Mmm... Enak dan gurih."

Hati Sakura langsung bermekaran. Syukurlah, Sai suka masakannya. "Ayo, kau makan juga."

Sakura tersadar dan menatap makanannya. Ia mengambil sumpit dan berkata, "Itadakimasu!"

Mereka berdua makan dengan lahapnya sekaligus bercanda gurau di sela-sela makan malamnya. Selesai makan malam, Sakura mengambil piring-piring dan gelasnya untuk dicuci, tapi Sai menghalangi.

"Tidak usah, Sakura. Biar aku saja nanti."

"Demo... aku 'kan sudah numpang makan di sini. Setidaknya aku harus mencucinya..."

"Mm... ya, sudah. Tapi, mencuci piringnya bersama-sama, ya."

Sakura mengangguk senyum. Sai berdiri dan melipat baju lengannya. Mereka berdua memulai acara mencuci bersamanya. Sakura membuka kran air di wastafel dan mencuci piring-piringnya, sementara Sai mengusap-ngusap hasil cucian Sakura dengan kain. Sakura menyeringai dan memblok arah air kran yang harusnya jatuh malah jadi menyemprot ke arah Sai. Baju sebelah kanan Sai jadi basah. Sai tertawa kecil lalu menyembur Sakura balik. Alhasil, baju mereka jadi kena basah, tapi tidak semuanya basah.

"Aah! Sai-kun, bajuku jadi basah, 'kan!"

"Itu karena kau yang memulainya Sakura," ucap Sai sambil tersenyum biasa. Sakura memukul punggungnya. "Hmph!"

Mereka berdua melanjutkan mencuci piringnya, dan akhirnya selesai. Sai menaruh piring dan gelasnya di tempat yang seharusnya.

Sakura melihat ke arah jam dinding di sebelah kiri dinding kamar Sai. "Wah, sudah jam setengah delapan! Aku harus pulang!"

"Biar kuantar, Sakura."

"Tidak usah, Sai-kun. Sudah malam."

"Justru sudah malam, bahaya kalau seorang gadis keluar malam-malam."

"Tapi aku seorang kunoichi naungan klan Uchiha. Aku sudah terlatih menjadi kuat!" ujar Sakura sambil menaruh telapak tangan kirinya di otot kanan Sakura. Sai hanya berkeringat kecil sambil tersenyum.

"Sudahlah, Sakura. Aku akan tetap mengantarmu pulang."

Sakura menggembungkan bibirnya karena Sai bersikeras mengantar Sakura pulang. "Tunggu aku di sini. Aku mau ganti baju karena basah."

"Mmhm."

Karena kamar apartemen Sai kecil, Sai harus ganti baju di satu ruang kamar bersama Sakura. Ia membalikkan badannya supaya dikira tidak mengintip.

"Hatchii!"

Sai menoleh ke belakang melihat punggung Sakura, lalu melanjutkan acara ganti baju. Selesai mengganti baju, Sai mengambil jaket panjang dan dipakaikan ke badan Sakura.

"Pakai ini. Kau bisa masuk angin kalau malam-malam tidak memakainya."

Sakura sedikit tersipu mendengar kepedulian Sai. Ia merapatkan jaketnya ke dekapan Sakura. Sai memakai sepatu ninjanya diikuti oleh Sakura. Sai membuka pintu dan menutupnya setelah Sakura keluar, lalu menguncinya.

Sai dan Sakura berjalan kaki menuju istana Hokage. Meskipun apartemen Sai dan istana Uchiha jauh, mereka tidak mau menguras cakra mereka dengan melewati atap-atap Konoha, apalagi sudah malam, mereka pasti capek.

Selama 20 menit berjalan, akhirnya mereka sampai di depan gerbang istana Hokage, alias rumah klan Uchiha. Sasuke yang sehabis mandi mengenakan yukata tipis sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, lalu merasakan cakra yang mendekati rumahnya.

"Ini... cakra Sakura... dan Sai?'

Sakura menghela napas lega, karena sampai di rumah dengan selamat. "Tuh, 'kan, Sai. Tidak ada bahaya yang mengancamku saat aku pulang. Harusnya kau tetap di dalam apartemenmu saja."

"Karena mereka takut padaku, makanya tidak ada seseorang atau sebagainya yang muncul."

"Ahaha, baka. Aku masuk dulu, ya. Dan... Terima kasih, sudah mengantarku pulang, Sai-kun," ucap Sakura malu-malu. Semburat merah muncul di pipinya.

"Sama-sama, Sakura. Hati-hati."

"Ya."

'Sai-kun, kenapa harus hati-hati saat masuk? Aku 'kan memang tidak akan kenapa-napa saat masuk istana.'

Sakura melewati pekarangan istana menuju rumah untuk ninja di belakang istana. Saat Sakura berjalan, ia berhenti karena ada yang memanggilnya.

"Sa-Sasuke-sama!"

Sakura terkejut setengah mati. Sasuke berdiri di depan pintu halaman kamarnya yang berhadapan dengan pekarangan istana mengenakan yukata dengan rambut basahnya. Sakura bergetar sedikit karena Sasuke berjalan menghampirinya.

"Dari mana saja, Sakura?" tanya Sasuke dengan nada tekanannya. Sakura mengalihkan wajahnya melihat ke samping, tak ingin melihat wajah masternya.

"Kutanya, dari mana kau, Sakura!" geramnya sambil memegang dagu Sakura. Wajahnya memucat, ia ketakutan.

"S-saya dari rumah Sai-kun..."

Mendengar nama Sai, apalagi 'dari rumah Sai-kun,' Sasuke membanting Sakura ke bawah, dengan Sasuke di atasnya. Amarah sudah memenuhi wajah Sasuke. Sakura hanya berharap kalau ia bisa lari.

"Dari rumah Sai, katamu! Apa yang kau lakukan di sana!" Sasuke menggenggam kedua lengan Sakura erat, membuat Sakura kesakitan.

"S-saya cuma makan malam bersama di sana. Tidak lebih..."

Sasuke menaikkan alisnya lebih tinggi. Kenapa Sakura begitu dekat dengan Sai? Padahal, Sasuke yang selalu bersamanya dari kecil.

"Kau tidak melakukan apa-apa dengan Sai, 'kan?"

"'Apa-apa' apa? Saya tidak mengerti..."

"Maksudku... melakukan seks atau sejenisnya dengannya...?"

"Ti-tidak! Saya tidak melakukannya dengan Sai-kun!"

Sasuke langsung menyeringai dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Sakura. Lalu mendekatkan bibirnya di telinga kiri Sakura.

"Lalu... melakukannya denganku...?"

Bola mata Sakura melebar seketika. Sasuke langsung memindahkan Sakura dan dirinya ke kamarnya dengan shusin no jutsu. Sakura langsung dihempaskan ke atas ranjang Sasuke disusul Sasuke melonggarkan yukata yang dipakainya. Sakura mundur-mundur supaya tidak bisa didekati oleh Sasuke. Ia menyeringai sambil mendekatkan dirinya pada Sakura di atas ranjang.

"Sakura..."

Sakura menelan ludahnya. Ia menutup matanya saat Sasuke mengambil rambut halusnya di telapak tangan kanannya.

"Sa-Sasuke-sama..."

"Hn? Ingin lebih cepat, Sakura?"

Sakura bergetar dan berusaha mendorong Sasuke lepas dari dirinya. "Sa-Sasuke-sama! Sa-saya mau pulang!"

"Kenapa? Kau memang sudah pulang, 'kan?" godanya dengan nada pelan. Sasuke mengurung Sakura dengan tangan kanan dan kirinya di sisi Sakura. Ia terus mendorong-dorong Sasuke, ia takut Sasuke akan berbuat lebih. "Sasuke-sama! Kumohon, lepaskan saya!"

"Jangan berani kau menolakku, Sakura!" Sasuke mulai memegang kerah Sakura, lalu merobeknya.

"TI-TIDAAAAK!"

TBC


Waaaaaaaaiii... Akhirnya ngpdet lagee... Maap klo ada adegan SaiSaku dan sedikit M SasuSaku. Nie fic tetep nahan di T. Jngn pda sediiiih... Ya? *puppy eyes sparkling* dan tolong jangan protes tntang pengelompokan di nie fic y...

dan maap klo alur cepet. sperti saya bilang, saya g jago b. indo, hehehe. dan maap klo gris pmbatasny g banyak...

Mana hri kamis ada foto buat booklet, lagi. Pdhal mu blikin komik. Huhuhuhu... (dah ah! selesai curcolnya!)

Dan yg review d chap kmren, aq bner2 sngt bertrimaksih... Bnget! Seneng melihat-lihat review yg membngun!

Dan... REVIEW, please? *pretty please, 'coz every reviews u give, make me even more spirit on making another new chap!*