Disclaimer: Kuroko no Basuke was created by Tadatoshi Fujimaki

Pair: Kuroko x OC

Warning: OC, OOC, Typo dsb

Summary: Fanfic pertamaku yang bercerita tentang kehidupan rumah tanggaku dengan Tetsuya-kun. Di sini aku sudah mengandung anak pertamaku dan ingin memberitahunya pada suamiku. Tapi, siapakah orang yang datang ke rumahku? Apakah dia Tetsuya-kun?

Part 2

"Krek!" Aku membuka pintu.

"Okaeri, Tetsu-" Ucapanku terpotong ketika aku melihat siapa yang ada dihadapanku.

Ternyata bukan Tetsuya-kun, melainkan... Shaori-chan, teman akrabku.

"Konnichiwa, Ri-Nee," sapanya riang.

"Ko, konnichiwa, Sha-chan," balasku. Aku senang bertemu dengannya lagi, tapi hatiku kecewa yang datang bukan suamiku.

"Kenapa, Ri-Nee?" tanya Sha-chan. "Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

"Ah, nggak ada. Nggak ada. Saya pikir yang datang suami saya," jawabku gugup.

Sha-chan tertawa kecil. "Ri-Nee, Ri-Nee. Pasti Nee-chan mikirin Kuroko-kun, ya?" tanyanya sembari menggodaku.

Aku tertunduk malu. "Iya, makanya aku pikir Tetsuya-kun sudah pulang."

"Hahaha..." Suara tawa kecil tertangkap di telingaku. Aku menoleh ke arah suara itu.

Oh, ternyata itu Misa, putrinya Sha-chan. Rupanya dia tertawa melihatku tertunduk malu dibarengi dengan mukaku yang memerah seperti apel matang. Akh!

"Hai, Misa-chan," sapaku sambil tersenyum. Lalu aku membungkukkan tubuhku sedikit dan mengelus kepalanya.

"Hai, Tante," balas Misa-chan sembari tersenyum manis padaku.

"Kamu bawa Misa-chan ke sini?" tanyaku pada Sha-chan.

"Iya, Nee-chan. Saya sengaja bawa Misa. Kan kasihan dia sendirian di rumah."

"Souka... Ayo, silakan masuk. Kurang enak kalau kita ngobrol di luar," kataku mempersilakan Sha-chan dan Misa-chan masuk.

Aku membuat teh di dapur. Tak lupa, aku membuat jus jeruk untuk Misa-chan. Sha-chan duduk di sofa di ruang tamu, menemani putrinya yang sedang bermain dengan Nigou, anjingnya Tetsuya-kun dan Sakura, kucing kesayanganku (entah bagaimana bisa akur, ya. Padahal berbeda jenis hewan ).

Beberapa menit kemudian, aku membawa 2 cangkir teh, segelas jus jeruk dan kue-kue ke ruang tamu.

"Silakan," aku menaruhkan nampan ke meja dan memindahkan semua hidangan dari nampan ke meja.

"Arigato, Ri-Nee," kata Sha-chan sambil membantuku.

"Jus jeruk!" seru Misa-chan riang. Ia segera mengambil segelas jus jeruk yang ada di meja, lalu menyedotnya. "Hmm... Enak!"

Aku dan Sha-chan memperhatikan Misa-chan sembari tersenyum. "Misa-chan, kalau kamu mau kue, ambil sendiri saja di meja, ya," pesan Sha-chan pada anaknya.

Misa-chan mengangguk. Dia sudah mengerti.

"Aku senang sekali kamu datang, Sha-chan. Soalnya aku sendirian di rumah," kataku pada Sha-chan.

"Ah, aku juga senang, Ri-Nee. Daripada bingung mau ngapain di rumah, aku mengunjungimu."

Aku tersenyum. "Bagaimana kabar suamimu, Shintaro-san?" tanyaku.

"Yah, biasa. Dia sibuk belakangan ini. Kamu tahu, kan pekerjaan dia sebagai dokter," jawab Sha-chan.

"Hmm... Kalau begitu, apa dia masih punya waktu untuk berkumpul denganmu dan Misa-chan?"

"Syukurlah. Di tengah-tengah kesibukannya, dia nggak melupakan aku dan Misa, kok. Shin-kun masih suka menghabiskan waktu dengan kami di rumah," jawab Sha-chan.

Syukurlah, ternyata Sha-chan beruntung punya suami seperti itu, batinku lega. Memang begitulah peran seorang suami, bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Tapi, jangan sampai menelantarkan anak istrinya.

"Kalau kamu, bagaimana, Nee-chan?" tanya Sha-chan padaku.

"Oh, hmm... Aku... Aku mengandung..." jawabku malu-malu.

"Benarkah? Wah, selamat, ya. Kamu mengandung anak pertamamu dari Kuroko-kun," Sha-chan memberi selamat padaku dengan gembira.

"Terima kasih," aku tersenyum bahagia. "Kuharap anakku akan menjadi temanku di kala sunyi." Aku mengelus perutku. "Baru-baru ini aku hamil."

"Baru-baru ini? Karena Nee-chan hamil, Nee-chan harus mengubah pola makanmu. Ini demi anakmu, lho, Nee-chan," Sha-chan memberi nasihat.

"Terima kasih atas nasihatmu, Sha-chan."

Kami bercakap-cakap selama beberapa saat. Akhirnya, waktu terus berlalu. Sha-chan bersama putrinya memutuskan untuk pulang.

"Baiklah, Ri-Nee. Aku dan Misa pulang dulu," kata Sha-chan pamit.

"Iya, Sha-chan. Kapan-kapan main kesini, ya."

"Iya, Ri-Nee." Kemudian dia berpaling ke arah Misa. "Ayo, Misa, kita pulang."

"Iya, Kaa-san. Misa capek... Pengen pulang."

Sha-chan dan Misa-chan berjalan keluar dari pintu rumah.

"Sampai jumpa besok, Ri-Nee," pamit Sha-chan sambil melambaikan tangan.

"Sampai jumpa besok, Tante," kata Misa-chan pamit sambil melambaikan tangan kecilnya.

"Sampai jumpa besok," balasku sambil melambaikan tangan ke arah mereka.

Setelah Sha-chan dan putrinya pulang, aku menutup pintu dan kembali mengerjakan manga-ku. Ingin menyelesaikan chapter secepatnya yang aku bisa.

Tapi, aku menghentikan langkahku. Pikiranku tertuju pada anaknya Sha-chan dan Shintaro-san tadi, Misa-chan. Alangkah bahagianya mereka karena mereka sudah punya anak. Ingin sekali rasanya aku punya anak. Ya, anak. Anak merupakan dambaan orangtua. Setiap pasangan yang sudah lama menikah pasti ingin memiliki anak, bukan?

Aku jadi teringat pada Tetsuya-kun. Aku ingin memberitahunya kalau aku mengandung buah cintaku dengannya. Dia pasti senang mendengarnya. Tapi, Tetsuya-kun belum pulang. Aku hanya bisa bersabar dan berharap suamiku akan segera pulang. Aku harap kamu cepat pulang, Tetsuya-kun...

Tiba-tiba...

"Ding dong!"

Bunyi bel pintu terdengar lagi.

"Siapa, ya?" kataku heran.

Aku kembali berjalan menuju pintu. Lalu membukanya.

Tak ada siapa-siapa. Tak ada orang.

Orang iseng, pikirku agak kesal. Setelah itu, aku menutup pintunya kembali.

"Ano... Tadaima..." Ada suara seseorang yang berbicara padaku.

Deg! Jantungku berdegup kencang. Lalu dengan rasa takut, aku membuka pintunya lagi sedikit.

Ternyata, seseorang di hadapanku adalah... Tetsuya-kun! Suamiku sendiri!

"Kyaaa!" Aku kaget. Refleks, aku membanting pintu saking kagetnya.

"Kok, pintunya ditutup lagi?" tanya Tetsuya-kun.

"Te, Te, Tetsuya-kun? Itu kamu?" aku balas bertanya sambil membuka pintunya sedikit.

"Ya. Ini aku. Tetsuya Kuroko, suamimu," jawabnya datar, tapi menyakinkan.

Aku menghela napas lega. "Kupikir siapa. Kamu ini ngagetin aku saja...!" Aku pun gemas dan kesal. Kemudian aku memukul-mukul dadanya.

"Aduh, Kiki-chan. Tak usah main pukul-pukul begitu. Udahlah, udahlah. Aku sudah lelah," Tetsuya-kun berusaha menghentikanku. Tapi aku tak peduli. Lalu, dia menggenggam kedua tanganku.

Aku terkejut dan menatap Tetsuya-kun. Dia menatapku datar, tapi aku tahu dari raut wajahnya menunjukkan rasa lelah dari kesibukannya kerja. Aku juga tahu pekerjaannya sebagai guru TK, mendidik dan mengurus anak kecil itu sangat berat. Makanya dia kelelahan.

Aku merasakan tanganku di genggaman Tetsuya-kun. Ah! Aku baru sadar kalau aku masih di luar pintu rumah. Gengsi banget aku kalau dilihat orang yang lewat. Spontan mukaku memerah.

"Ano... Tetsuya-kun, lepaskan tanganku," pintaku. Mendengar pintaku, Tetsuya-kun melepaskan tanganku dari genggamannya.

"Kamu capek, ya? Oh ya, ngomong-ngomong okaeri, Tetsuya-kun..." kataku pelan.

"Maafkan aku karena aku mengejutkanmu."

"Nggak apa-apa. Maafkan kelakuanku tadi padamu," ujarku. "Ayo, masuklah." Aku menarik tangan Tetsuya-kun dan masuk ke dalam. Lalu, aku menutup pintunya.

-to be continued-

Gimana ceritaku? Baguskah? Kalau bagus, akan kulanjutkan... ^^

Terima kasih, ya buat temanku yang bernama Shaori-chan karena dia sudah kujadikan tokoh di Fanfic-ku ini. Dialah yang menyarankan aku untuk membuat FF-ku ini...

Semoga kalian menikmati kisahku. Arigato gozaimasu! ^o^