Chapter 2

Disclaimer : Harvest Moon milik Natsume.


"Akhirnya aku bisa santai," gumamku sambil melepas tiara dari kepalaku. Ayah dan Bunda sedang mengadakan sebuah pertemuan bersama para menteri dan Raja Duke. Aku sendiri sudah lelah setelah menghadapi segudang pertanyaan dan gosip dari Ratu Manna, jadi aku langsung menuju kamar untuk beristirahat sebentar.

Aku membuka laci untuk mengambil sisir, dan ternyata ada sehelai kertas yang terlipat. Kuambil dan kubaca isinya.

Claire, temui aku sekarang di tempat biasa. Ada sesuatu yang harus kukatakan.

-Gray

Pasti Ann yang menyelipkannya ke laciku saat aku ada di ruang tamu. Seperti biasa, aku memutuskan untuk menuruti permintaannya. Mungkin ia ingin putus denganku. Yah, mau tidak mau, kami memang harus putus. Kecuali aku tiba-tiba mendapat keberanian untuk menolak pangeran itu, yang rasanya tidak mungkin kulakukan.

Aku memakai kembali mahkotaku, lalu beranjak keluar dari kamar dan menuruni tangga. Agar tidak ketahuan, aku berencana untuk menyelinap lewat pintu keluar dari ruang tamu. Dengan begitu, aku tidak harus melewati gerbang utama. Di hari kedatangan tamu seperti ini, penjaga gerbang utama istana sering menjadi menyebalkan dan memaksaku untuk tetap berada di dalam gedung istana. Jika sudah diizinkan oleh ayahku, baru mereka memperbolehkanku keluar. Untung saja tidak setiap hari mereka seperti itu.

Aku buru-buru berjalan ke depan ruang tamu dan membuka pintunya pelan-pelan. Ternyata pangeran itu masih ada di sana. Aku benar-benar melupakannya, berarti dari tadi ia sendirian di ruang tamu ini!

Tampaknya ia tidak menyadari kehadiranku. Ia hanya berjalan mondar-mandir, melihat-lihat ruang itu, lalu kembali duduk. Aku kasihan juga melihatnya sendirian di ruang yang sepi sunyi.

"Hai, selamat datang di kerajaanku!" sapaku ramah. Mudah-mudahan saja ia mau membalas sapaanku. Ia menoleh ke arahku.

"S-se-selamat siang," balasnya terbata-bata. Hah? Ternyata pangeran ini penggugup? Benar yang kupikir tadi, aku memang belum pernah bertemu dengan seorang pangeran sepertinya. Aku jadi merasa tertarik untuk mengenalnya.

"Namaku Claire," kataku memperkenalkan diri, lalu kuulurkan tanganku. Ia menjabat tanganku tanpa berkata sepatah katapun.

"Siapa namamu?" tanyaku akhirnya.

"Na-namaku... Clifford," jawabnya gugup.

"Oh... Senang bertemu denganmu, Pangeran Clifford."

"Sama-sama..."

"Rasanya aneh ya, harus menikah dengan orang yang tak dikenal," ucapku, lebih seperti bicara pada diri sendiri.

"Y-ya, Tuan Putri Claire," katanya cepat. Aku tersenyum. Sebenarnya agak canggung juga bicara padanya, tapi aku yakin kalau dia sudah terbiasa denganku, ia akan merasa nyaman untuk bicara padaku.

"A-apa ada yang aneh?" tanyanya tiba-tiba.

"Ah? Apa?" Karena kaget, aku malah balik bertanya. Mungkin hanya perasaanku saja, tapi saat ia bertanya seperti itu aku merasa ada sesuatu yang ganjil. Rasanya seperti ada yang mengintip kami. Aku mengamati seluruh ruangan. Tidak ada siapapun selain kami di sini. Mungkin hanya ada pelayan yang lewat hingga aku merasa seperti ada yang mengamati kami.

"...Tidak apa-apa," jawab pangeran itu singkat. Sungguh ironis, ibunya bisa bicara terus-menerus tanpa henti sedangkan ia hanya berbicara sesingkat itu.

"Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, bilang saja. Kau tidak perlu sungkan bicara padaku."

Pangeran Clifford menggeleng cepat, membuat rambut coklat yang menghalangi matanya bergeser sedikit. "Uh... Bukan apa-apa... Aku... Terlalu gugup... Aku tidak..."

Kuraih bahu kiri pangeran muda itu untuk menghentikan perkataannya. "Santailah, tenang saja."

"Baiklah..." Ia menarik nafas dalam-dalam. "Terima kasih, Putri Claire."

"Panggil saja aku Claire," ujarku.

"Baik... Claire," ulangnya. "Hm... Kalau begitu... Panggil aku Cliff."

"Tentu saja," kataku menyetujui. Aku menatap jam dinding. Sekarang sudah jam 11.30, hampir waktu makan siang, tapi aku tidak mau diam saja di ruang tamu ini. Kurasa waktu setengah jam cukup untuk melihat-lihat beberapa tempat di wilayah istana ini.

"Cliff, kita jalan-jalan di sekitar sini yuk! Daripada diam saja di ruangan ini, bosan," ajakku.

Cliff mengangguk. "Boleh juga."

"Oke, ikuti saja aku!" Aku berdiri dan keluar lewat pintu tamu, diikuti Cliff. "Hng... Lebih baik kita ke mana dulu?" tanyaku bingung pada diri sendiri.

"Kita tidak punya banyak waktu, jadi kita jalan-jalan di taman istana saja ya? Aku janji, tidak akan membosankan," janjiku dengan yakin. Aku sendiri hampir setiap hari berjalan melewati taman ini dan aku tidak pernah bosan. Tiap hari ada saja hal baru untuk kuperhatikan.

Kami mulai berjalan menyusuri sebuah sungai indah yang mengalir di pinggir taman ini. Sungai inilah yang membatasi bagian utara dari wilayah istana dengan daerah lain kerajaan ini. Setelah itu kami berjalan melihat-lihat tanaman. Ibuku adalah pecinta tumbuhan, jadi taman istana ini mempunyai banyak jenis tumbuhan dan pohon buah-buahan yang indah dan unik.

Tak kusangka sebelumnya, aku merasa senang berjalan-jalan bersama pangeran ini. Ia memang tidak banyak bicara, tapi setidaknya sekarang ia tidak gugup lagi saat bicara padaku.

Tidak terasa, lonceng tanda makan siang sudah berbunyi. Sebenarnya lonceng itu berbunyi tiap jam, tapi setiap pukul 12 siang lonceng itu berbunyi tiga kali, tanda waktu makan siang.

"Ayo Cliff, kita harus kembali. Sudah waktu makan siang," ajakku Cliff yang tadinya berjalan di sampingku. Tiba-tiba saja dia menghilang dari pandanganku.

"Cliff!" panggilku. Dari tadi ia juga terlihat antusias melihat-lihat taman ini, jadi mungkin ia berhenti sebentar untuk mengamati sesuatu.

"...Sebentar."

Aku menengok ke arah suara itu. Ternyata Cliff sedang berlutut, mengangkat sesuatu yang kuduga seekor hewan dari semak-semak. Aku melangkah mendekat.

"Apa itu?"

"Ini... Kelinci," jawabnya, mengelus sedikit bulu kelinci itu. Aku mendekat untuk melihat anak kelinci di tangannya. Seekor anak kelinci kecil. Bulunya berwarna putih tapi kusam karena tidak terawat.

Cliff melepaskan kelinci mungil itu ke rumput, tapi kelinci ini tidak berjalan seperti kelinci normal. Tampaknya satu kakinya terluka hingga ia berjalan tertatih-tatih. Belum sempat aku bereaksi apa-apa, Cliff sudah mengangkat kembali kelinci itu.

"...Ayo jalan, Claire."

"Eh, iya," ucapku terkejut. Berarti tadi itu aku melamun? Tidak biasanya aku melamun tiba-tiba. Menurut ayahku, tidak baik bagi seorang putri untuk sering melamun.

"Kau mau bawa kelinci itu ke mana?" tanyaku, kembali memperhatikan kelinci yang dibawa oleh Cliff. "Bawa saja ke temanku Popuri. Ia dan kakaknya biasa mengurus binatang-binatang peliharaan di istana."

"Tidak apa-apa... Aku bisa merawatnya."

"Benarkah?" tanyaku. Habisnya, seumur hidup aku tidak pernah bertemu dengan pangeran yang baik dan peduli pada binatang. Pemuda biasa saja jarang ada yang suka pada binatang.

Cliff mengangguk.

"Tidak apa-apa kalau begitu. Boleh aku ikut memeliharanya, Cliff?"

"Ya, boleh saja."

Aku tersenyum. "Terima kasih. Aku sangat suka binatang, karena itu aku punya banyak sekali hewan peliharaan. Ada kucing, kelinci, kuda, burung, ikan, bahkan domba."

"Oh iya, kudengar istana kerajaanmu amat dekat dengan hutan. Berarti kamu sering ke sana dong?" tanyaku sambil tetap berjalan.

"Ya," jawab Cliff. "Waktu masih anak-anak, aku suka sekali menangkap serangga dan hewan-hewan kecil lain..."

"Sama denganku!" seruku bersemangat. "Hanya saja aku mencarinya bukan di hutan, tapi di dekat danau. Hewan-hewan itu semuanya kupelihara, hingga akhirnya orangtuaku membuat tempat khusus untuk hewan-hewan milikku. Kadang-kadang mereka dilepas ke taman istana. Sayangnya tadi aku tidak menemukan satupun."

"Tapi yang tadi seru juga ya, Cliff? Aku jadi agak lapar."

"Iya, aku juga sedikit haus," kata Cliff setuju.

Tak terasa, kami sudah sampai di depan pintu ruang tamu. Aku tersenyum dan menarik pintu. Di atas meja ada sebuah gelas berisi jus.

"Rasanya aku tadi tidak melihat gelas jus di sini. Minum saja, Cliff. Katamu tadi kau haus," tawarku pada Cliff.

"Eh... U-untukmu saja," kata Cliff sambil mengamati jus itu. "Lagipula, aku tidak suka jus jambu."

Aku menggeleng. Sebenarnya aku suka jus jambu, tapi aku merasa tidak enak jika hanya aku sendiri yang minum. Tumben, pelayan hanya menyediakan satu gelas padahal ada kami berdua.

"Tidak usah. Kita minta minum di ruang makan saja, sekaligus makan siang," tolakku, mengarahkan jalan ke ruang makan istana. Di pintu ruang makan, Doug, ayah Ann, langsung menghampiri kami.

"Putri Claire, rombongan Raja sudah pergi ke Goddess Pond. Tadi Ratu berpesan untuk menawarkan padamu dan Pangeran Clifford untuk ikut."

"Oh. Kamu mau ikutan, Cliff?" tanyaku. "Kalau aku sih malas, soalnya sudah lapar. Untuk apa pergi lagi kalau bisa makan di sini? Lagipula, makan siang sudah tersedia."

"Iya... Makan di sini saja." Cliff menyetujui.

"Oke. Aku minta jus apel," pesanku pada Doug. "Bagaimana denganmu, Cliff?"

"Hm... Yang sama denganmu saja," jawab Cliff sopan.

"Baiklah, akan kuambilkan." Doug bergegas pergi ke dapur.

Sebagai tuan rumah yang baik, kutarik salah satu kursi untuknya. "Silakan duduk!"

"Terima kasih," ucap Cliff sambil duduk di kursi.

"Sama-sama. Ambil saja makanan yang kau mau, jangan sungkan."

Kuambil sepiring nasi dan lauk yang cukup banyak. Sebenarnya aku baru ingat, aku belum sarapan tadi pagi karena aku terlalu gugup. Pantas saja aku merasa lapar.

Cliff mengambil kari yang tersedia. Sepertinya ia suka kari, sampai ia memakannya dengan lahap dan tidak mengambil makanan lain selain kari itu.

Aku sebenarnya tidak terlalu suka kari, tapi kari buatan Doug memang enak. Anehnya, dari semua temanku hanya kedua anaknya, Ann dan Gray, yang suka makan kari...

Ann dan Gray... Tiba-tiba saja aku teringat tentang pesan Gray tadi. Aku melupakannya! Lagi-lagi aku melupakan sesuatu. Kulihat Karen lewat di depan pintu ruang makan. Setelah pamit pada Cliff, segera saja kususul dia.

"Karen, lihat Ann tidak?" tanyaku cepat.

Karen menggeleng. "Tidak, aku baru sampai sini. Memangnya ada apa?"

"Tadi Gray memberiku pesan yang isinya memintaku menemuinya, tapi aku lupa menemuinya."

Karen menatapku bingung. "Biasanya kau memang pelupa, tapi kau tidak pernah melupakan tentang Gray! Kenapa bisa lupa?"

"Aku sudah berencana keluar untuk menemuinya. Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan Pangeran Cliff, lalu aku langsung lupa pada tujuanku semula!" jelasku.

"Benarkah? Pangeran itu, tunanganmu, seperti apa?"

"Hm, dia baik, walau dia tidak terlalu banyak bicara. Selain itu, dia juga berbeda dari pangeran-pangeran lain."

"Cie... Pantas saja kau sampai lupa dengan Gray," komentar Karen. Baru saja aku akan protes, Ann datang menyapa kami.

"Hei Karen, Claire! Ada apa?"

"Ann, kakakmu masih ada di sini tidak?" tanyaku langsung.

"Kakak? Aku tidak bertemu dengannya sejak pagi. Kenapa memangnya?"

"Tadi kamu menaruh pesan dari Gray di laci mejaku, 'kan?" tanyaku bingung. Ann menggelengkan kepala. Ternyata Ann saja tidak bertemu dengan Gray sejak pagi? Lalu siapa yang menaruh kertas tadi?

"Tadi Gray memintaku untuk menemuinya, tapi aku lupa," jelasku setelah melihat Ann yang kebingungan. "Ah... Aku tidak pernah mengecewakan Gray sebelumnya. Bagaimana ini?"

"Biar aku yang bilang pada dia. Pasti Kakak tidak marah padamu, kok," kata Ann, lalu ia berlari pergi.

"Gray tidak punya alasan untuk memarahimu, Claire. Tenang saja. Lagipula, apa kau tidak berpikir kalau kamu terlalu memanjakannya?" tanya Karen setelah Ann pergi.

"Maksudmu?"

"Tidak apa-apa. Oh, aku harus pulang sekarang untuk mengurus toko. Ayahku sedang sakit. Dah!"

Aku melambai pada Karen. Tapi sebenarnya, aku masih bingung. Apa maksud dari perkataannya tadi?

Ah, sudahlah, lebih baik aku kembali ke ruang makan.


Sebenarnya di Harvest Moon gak ada jus jambu, tapi saya pake jus jambu karena Cliff suka semua jus di HM. Terus... saya nggak tahu apa Karen jadi OOC, saya nggak terlalu kenal sama dia.

Review please?