ChanBaek Storyline by Song Jiseok

Cast :: Park Chanyeol - Byun Baekhyun

Genre :: Romance, (serius bingung -_-)

Rate :: M for Mature Content :')

Disc :: ASLI BIKINAN JARI-JARI INDAH SAYA YANG GATEL PENGEN NGETIK INI!

It's Yaoi Fanfiction! with typo(s)

Dun like, hush hush! Just close tab nd dun read anything babieh! :'")

.

.

.


.

.

.

Dokter bilang Baekhyun tidak perlu mendapatkan perawatan khusus lagi karena sesuatu yang dideritanya sudah sepenuhnya hilang, tidak ada yang perlu ditakuti lagi selama Baekhyun tidak merasakan apapun dan semuanya terjamin baik-baik saja.

Baekhyun tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sekedar berbincang dan membahas keadaan dirinya, jadi Ia bisa pulang lebih awal.

Ia menggigit bibirnya gemas, tidak sabar untuk kembali bertemu Chanyeol dan mengajaknya bermain dengan Changsu si bulu putih yang lebat. Lagipula Chanyeol menyuruhnya untuk tidak pulang terlalu lama, dan menjanjikan sesuatu yang tak akan Ia duga.

Sesuatu yang tak akan terduga. Sesuatu seperti melihat Chanyeol menusukan garpu yang tajam pada sebelah mata si anjing malang. Sesuatu seperti melihat Chanyeol melakukan hal yang sama pada tubuh si anjing dan terlihat menutup matanya, menikmati aroma darah segar dari si anjing betina.

Baekhyun memekik tertahan. Dan kesalahan fatalnya adalah menyerukan hal tersebut pada kepala Chanyeol sendiri. Mendorong sebuah hentakan ketakutan pada pikiran yang bersangkutan. Yang terlihat belum puas dan ingin melakukan lebih dari itu.

Jauh lebih dari itu.

Baekhyun membawa kakinya melangkah cepat hingga berlari, membuka pintu rumahnya di lantai atas dengan terburu-buru, lalu meringkuk membiarkan tubuhnya tenggelam dalam balutan selimut hangat.

Langkah kaki yang berat itu terdengar beberapa detik kemudian. Langkah yang terdengar seperti diseret dengan perlahan mendekati objek yang di nantinya. Baekhyun tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Bagaimana tubuhnya bergetar hebat saat ada beban lain yang menaiki ranjangnya, membawa deritan yang khas,

"Byun Baekhyun…" dan kini hatinya ikut bergetar. Bagaimana si idiot bodoh Park Chanyeol itu selalu memiliki aksen yang berbeda saat mengucapkan namanya secara lengkap. Seperti sihir yang tak bisa dipatahkan dalam gaungan yang menghangatkan. Dan membuat candu.

"Baekhyun-ku," hatinya lagi-lagi bergetar, mendepatkan perasaan dan kemungkinan yang berkelebat tentang bagaimana dirinya dan orang asing ini bisa saling memiliki sementara tidak ada kata satu kata pun yang menjadi pelantaranya.

"Byun Baekhyun-ku, yang telah memberiku nama." satu lengan besar melingkar di pinggangnya dan mengikatnya kuat pada dekapan hangat tubuh tegap itu, lalu tangan lain tengah mengelus lembut bagian wajahnya. Baekhyun memejamkan mata, menetralkan nafas selagi nafas hangat dari si lawan berhempus menyapu kulit wajahnya.

Perlu waktu untuk mengumpulakan potongan kata menjadi sebuah kalimat sempurna dan waktu yang lain untuk mempersiapkan kedua bibirnya untuk menyerukan kalimat tersebut melalui suara. Lalu pergi kabur dari kungkungan makhluk mengerikan itu.

"Byun Baekhyun-ku, yang telah mengajariku mengatakan kata 'tidak' dalam kalimat yang tepat." Chanyeol kini mengelus bagian rahangnya, sedikit turun kebawah dan melakukan gerakan aneh dengan telunjuknya.

"Byun Baekhyun-ku, yang tawanya paling kusukai." Lalu kini Chanyeol menyentuh dagunya, mengangkatnya dengan perlahan guna menghadapkan wajah mereka lebih dekat. Mengamati setiap ukiran sempurna yang tercetak dengan indah pada wajah makhluk terkasihnya.

"Byun Baekhyun-ku yang paling ku sayangi, bukalah matamu dan tatap aku." Sihir yang sempurna, membuat si polos Baekhyun membuka matanya dan bersibobrok langsung dengan obsidian mengkilap yang menatapnya lekat. Siap memangsa. Siap menerkam. Dan Baekhyun terjerumus pada kilapan kelam yang merayunya masuk pada dimensi lain yang menghipnotis, memaksanya merasakan hal lain yang lebih dari ini.

"Park Chanyeol," Baekhyun bersungguh dan bersumpah, ada hal aneh yang menjanggal ketika hazel cokelatnya menyorotkan kekaguman pada sosok Chanyeol yang mendekapnya. Sepenggal pertanyaan 'apa yang terjadi sebelumnya?' berlari-lari dan melompat-lompat dalam kepalanya, dan Chanyeol tersenyum lebar untuk itu.

"Aku mencintaimu, dan aku adalah milikmu." Bagaimana kata itu terucap dengan mudahnya bahkan tanpa isyarat yang menguatkan dalam hatinya yang masih bergetar, Baekhyun tidak tahu. Kini Ia kembali memejamkan matanya dengan perlahan sebelum menyambut bibir penuh itu dalam sebuah pangutan yang manis.

Bibir Chanyeol tetaplah hangat seperti terakhir kali Ia mencicipinya. Bahkan semua partikel dalam tubuh si tinggi itu tetap terasa hangat meski sudah berdiam diri di depan kulkas selama lima jam. Kehangatan ini yang membuatnya dengan mudah terbuay dalam ciuman yang dalam. Chanyeol mendekapnya lebih erat dan Baekhyun membawa jemarinya menyusuri rambut tebal Chanyeol. Bibir keduanya masih saling berpangutan, saling menghisap diselingi dengan lumatan-lumatan yang lembut. Permainan lidah Chanyeol yang menggelitik permukaan bibirnya membuat Baekhyun geli, dengan gerakan refleks untuk membuka mulutnya dan memperdengarkan lenguhan indah. Mempersilahkan lidah sang lawan untuk masuk dan mengabsen setiap bagian yang ada didalamnya sebelum lidahnya ikut berperan disana.

Kini lumatan yang hadir berubah menjadi kasar dan saling memburu dengan nafsu. Keduanya saling berlomba untuk menyesap lebih lama dan Baekhyun kewalahan untuk menandingi permainan Chanyeol, jadi Chanyeol melepaskan tautan bibir mereka.

Chanyeol masih menatapnya lekat dengan kilapan pada obsidiannya, sebuah ketertarikan yang belum berakhir sementara Baekhyun kembali dirayu masuk pada dimensi lain saat menyelami obsidian indah itu, dipaksa untuk merasakan hal yang lebih dari ini.

Chanyeol kembali mendekatkan wajahnya. Kali ini lehernya lah spot yang tepat untuk disesap. Baekhyun memejamkan matanya lagi, merasakan hisapan-hisapan lembut pada lehernya dengan desahan pelan yang entah bagaimana keluar begitu saja dari mulutnya. Menikmati jilatan-jilatan yang menggoda juga beberapa gigitan yang malah membuat desahannya semakin jelas, semakin keras dan semakin memikat makhluk tinggi yang kini sedang menggoda nipple kemerahannya yang sudah tegang. Dadanya membusung lalu tubuhnya menggeliat. Itulah yang Chanyeol nantikan.

Ia mengernyitkan kening di tengah desahan tertahannya, membuka mata lalu melihat tubuh keduanya sudah terbebas dari balutan kain sedari tadi. Park Chanyeol sepertinya memang memberikannya sihir untuk melupakan bagian penanggalan pakaian. Atau mungkin Baekhyun terlalu fokus pada sesuatu yang menariknya lebih kuat untuk merasakan hal yang lebih dari ini.

Pahanya dibuka dengan lebar, rambut dengan gaya yang aneh milik Chanyeol terasa menggelitik paha bagian dalamnya. Lalu selanjutnya ada sesuatu seperti bongkahan batu bara panas yang menari-nari indah dalam relung kosong di hatinya, menghangatkannya dan mengisi kekosongan yang lainnya, lalu merambat pada seluruh bagian tubuhnya, membakar jiwanya. Baekhyun sudah tidak waras saat meremas kuat rambut aneh Chanyeol dan menekan kepala itu agar melakukan lebih. Ia tidak yakin pergumulannya dengan Chanyeol tempo lalu melibatkan acara menjilat, menghisap dan mengulum bagian kejantanannya, dan semua ini sungguh memabukkan. Membuatnya kembali tertarik pada hal yang lebih dari ini.

Baekhyun sudah mulai terbiasa dengan gerakkan yang dibuat oleh dua jari milik Chanyeol dalam lubang analnya, namun si bodoh idiot Chanyeol itu malah melepaskannya dan menggantinya paksa dengan sesuatu yang lebih besar. Menghentakkan penisnya sekaligus karena lubang Baekhyun sangatlah sempit, lalu setelahnya Chanyeol sibuk menenangkan Baekhyun yang menangis dengan satu ciuman panjang.

"Chan—ahh,"

Percikan api yang membakar jiwanya kini menyulutkan nafsu yang tiada hentinya. Baekhyun telah mengakui jika bercinta dengan Chanyeol sangatlah meninggalkan candu yang mendalam. Sentuhan-sentuhan Chanyeol terasa sangat sensual dan menggodanya, meninggalkan jejak-jejak cahaya imajiner yang membuat tubuhnya bersinar menggairahkan pada sentuhan yang lainnya. Bahkan jika keduanya sudah membuang cairan semen itu berkali-kali, keduanya tidak ingin berhenti.

Chanyeol masih bergerak dan Baekhyun masih mengeluarkan desahan bar-barnya dengan mata yang terpejam menikmati saat Chanyeol kembali membuat gerakan aneh dengan jari telunjuknya di bagian rahang Baekhyun. Memancing emosi yang tersulut bercampur dengan nafsu yang menggumpal dan terjebak di hatinya, Baekhyun membuka matanya dengan segala ingatan tentang betapa bengisnya Chanyeol sebelumnya.

"Byun Baekhyun-ku, ohh yang sangat nikmat ini." Chanyeol tidak dapat menyembunyikan erangan kenikmataannya saat dengan sengaja Ia menghentakkan penis nya pada spot yang tepat lalu dinding rektum itu menyempit menjepit penis nya dengan kuat. "Katakan sesuatu, manis." Chanyeol menghentakkannya lagi, tubuh Baekhyun yang menggeliat dengan remasan kuat pada kulit punggung dan desahan indahnya menolak untuk mengambil pusing apa yang sudah Chanyeol lakukan sebelumnya. Sesuatu yang menariknya kuat kini tidak lagi memaksanya, tapi Ia sendiri yang mendorong dirinya untuk merasakan suatu hal yang lebih dari ini.

"Park Chan—ahh—yeol~hh," nafas keduanya masih diburu oleh nafsu, tapi Chanyeol sedang tersenyum menunggu si manis kesukaannya mengatakan sesuatu setelah menyebutkan namanya dengan susah payah. "Aku milikmu," Senyumnya merekah lebih lebar "Lagi. Aku mau lagi." yang kini tergantikan dengan seringaian kepuasan. Chanyeol menghadiahi Baekhyun dengan hentakan-hentakan yang cepat, telak dan enggan untuk berakhir. Dan yang menerima hadiah mendesah tidak karuan, sudah gila dengan segala emosi dan kenikmatan yang tiada akhir ini hingga sang rembulan menyapa memberikan sinarnya pada celah-celah kecil di jendela kamarnya yang belum sempat menutupkan tirainya.

.

.

.


.

.

.

"Jadi, siapa kau?"

Yang di tanya menggaruk kepalanya. Tidak gatal memang, tapi saat di garuk gatalnya datang sendiri. Rambutnya jadi semakin aneh saat Ia menggaruk terlalu kuat.

Baekhyun menghela nafas lelah. Kebiasaan Chanyeol yang tak bisa dihilangkan dan juga tatapan mata polosnya yang memperlihatkan kembali sisi anak-idiotnya. Padahal Baekhyun menyangkal mati-matian jika Chanyeol adalah anak idiot yang polos mengingat kegiatan mereka semalam hingga membuatnya tak bisa beranjak dari ranjang pagi ini.

"Kau mungkin sudah bisa menebak siapa aku." Suara beratnya direndahkan, kepalanya juga tertunduk.

"Kau seorang pemerkosa psikopat yang berpura-pura polos seperti anak tolol yang lugu dan idiot, dan aku bertaruh tak akan lama lagi kau akan membunuhku." Baekhyun merasakan pipi kirinya berdenyut nyeri. Sepertinya Ia akan sakit gigi lagi.

"Aku membunuhmu tidak akan!" ternyata dia belum bisa mengucapkan kalimat negatif dengan benar. "Lagipula seorang psikopat tidak mempunyai sihir tersembunyi dan aku bukan pemerkosa!" Chanyeol menyangkalnya dengan kepala yang terangkat dan mata bulat yang di bulatkan. Terlalu berlebihan.

"Kalau kau bukan pemerkosa lalu apa yang kau lakukan padaku dari kemarin siang hingga dini tadi?!" Baekhyun kini mulai nyolot.

"Oh benar juga. Aku memperkosa mu."

"Lalu apa itu sihir? Makhluk idiot apa yang memiliki sihir?!"

"Aku… sebenarnya… um.. aku… menghilangkan ingatanmu." Chanyeol merundukan kepalanya lagi.

"Tapi aku baik-baik saja! Aku tidak amnesia! Aku masih mengingat semuanya!"

"Baiklah, kau tau sejenis ET?" Baekhyun terdiam, berfikir beberapa saat lalu menggelengkan kepalanya dua menit kemudian sebagai jawaban. ET bukanlah hal baru yang menyapa indera pendengarannya, tapi Ia tidak bisa mengingat atau menyakinkan apa arti yang sebenarnya.

"Aku terjatuh dalam transportasi saat kaumku dalam perjalanan, dan aku terjatuh di tempat ini." Baekhyun mengangkat alisnya. Terjatuh? Kaumku? Kaum apa lagi yang ada didunia ini selain kaum manusia dan kaum sesat yang mungkin sekarang sedang membedah organ dalam manusia untuk dijual. Lalu tiba-tiba Baekhyun teringat akan sesuatu yang terjadi kemarin siang.

"Oh Tuhanku.. mengapa aku harus bersetubuh dengan orang yang akan membunuhku…" kini giliran Chanyeol yang mengangkat alisnya. Jika Baekhyun memang tidak percaya pada sesuatu yang seperti dirinya, maka hanya ada satu hal yang bisa Ia lakukan.

"Byun Baekhyun-ku yang manis, coba tataplah mataku." Hati Baekhyun kembali bergetar. Sebegitu kuat panggilan pada namanya menghadirkan percikan-percikan api yang menggelitik perutnya. Membentuk sebuah kupu-kupu api imajiner saat matanya menatap langsung pada obsidian berkilap yang memancarkan ketertarikannya. Kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya dan terbang menuju dadanya, membuat debaran yang lebih kencang dan memabukkan.

Chanyeol menyibakkan rambutnya, membelah di bagian tengah dan memperlihatkan sebuah antena kecil berwarna hijau yang bergerak-gerak memutar. Seperti antena kecil yang Baekhyun lihat pada acara 'CJ17' milik si alien kecil nan lucu.

"Ini alasanku membiarkan tatanan rambutku terlihat aneh dan kenapa aku selalu menggaruk kepalaku. Si kecil ini selalu bergerak gelisah." Chanyeol malah membuat Baekhyun ingin menangis sambil memakan lima cup es krim strawberrynya. Ah jika di pikir-pikir lagi, sudah hampir seminggu Ia tidak memakan es krim.

Namun kini Baekhyun mengerti dan mulai menerima kenyataannya. Chanyeol yang terjatuh dan terpisah dari kaumnya. Lalu… "mengapa kau menetap disini dan membiarkanku memberimu nama?" itu adalah pertanyaan tepat yang ingin Baekhyun utarakan sejak lama. Kehadiran Chanyeol saat itu memang sangat teramat tiba-tiba.

Chanyeol mengulas senyum simpul, "pada kali pertama aku terjatuh, aku tidak sengaja melihatmu tertidur. Nafasmu begitu tenang dan wajahmu indah sekali terpapar cahaya rembulan. Namun beberapa saat kemudian kau terbangun dan terlihat menolak kehadiranku." Ia membuat gerakan aneh dengan telunjuknya lagi, setelah melihat Baekhyun yang terkesiap Ia melanjutkan,

"Kau terlihat sekarat, tidak bisa bernafas dan tidak bisa bergerak. Lalu aku pergi. Kaumku melakukan perjalanan ini hampir setiap minggunya, dan di minggu selanjutnya, aku sengaja menjatuhkan diriku di tempatmu, tapi kau melakukan penolakan yang sama. Aku tidak ingin menyerah dan terus menjatuhkan diri hingga pada percobaan ke lima, aku berhasil! Tapi kau malah memaksakan diri untuk tertidur meskipun terlihat tidak nyaman dengan celana yang basah. Jadi aku melepasnya dan memelukmu agar kau merasa nyaman.

Aku tidak memiliki nama yang akrab untuk di panggil. Kaumku memanggil nama sesuai dengan warna antena yang kami miliki. Sang ketua pun tidak mengizinkan kami mengetahui nama sejati kami.

Jadi untuk alasan mengapa aku menetap disini dan membiarkanmu memberi nama, karena aku jatuh cinta padamu." Chanyeol masih memasang senyum di bibirnya setelah mengakhiri penjelasan panjangnya. Bahkan untuk saat ini lagi-lagi Chanyeol tidak terlihat bodoh dipandangan Baekhyun.

"Park Chanyeol?"

"Ya?"

Baekhyun menyumbat bibirnya sendiri dengan bibir penuh Chanyeol. Membiarkannya merasakan kehangatan dari bibir kesukaannya itu tanpa ada gerakan apapun yang mewakili nafsu. Jika Chanyeol jatuh cinta padanya, mengapa Ia juga tidak boleh merasakan hal yang sama? Bahkan pada Chanyeol yang telah membunuh Changsu si anjing kesayangannya, Baekhyun tidak mau peduli.

.

.


.

.

Keadaan sudah mulai membaik dan kembali seperti semula setelah dua minggu berlalu. Chanyeol masih bertingkah seperti anak idiot yang tersesat namun terkadang menjadi dewasa saat Baekhyun yang bertingkah kekanakan. Keduanya kini sedang menggigit jagung bakar yang mereka buat sendiri sambil memandang butiran-butiran air hujan yang melekat pada kaca di bagian luar.

"Baek, kau bilang kau sudah lulus sekolah?" Baekhyun mengangguk menyetujui, lalu menjilat jejak hitam dari biji jagung yang gosong di bibir bawahnya.

"Lalu setelah sekolah, manusia melakukan apa?" Chanyeol mengikuti gerakan Baekhyun yang menjilat bibir bawahnya.

"Sebagian ada yang berkuliah dan sebagian ada yang langsung bekerja."

"Lalu kau termasuk yang mana? Apa kita sedang berkuliah?" Baekhyun tertawa singkat sebelum tersedak jagung yang Ia makan, setelah menelannya lalu Ia menjawab, "aku sedang cuti, Chanyeol."

"Hey, cuti tidak termasuk dalam daftar!" Protes Chanyeol yang mana membuat Baekhyun tertawa lagi. Suara tawa yang membawa debaran mewakili perasaannya, sudut bibir yang berentuk persegi panjang dan mata indah yang melengkung seperti bulan sabit adalah bagian favorit Chanyeol.

Mencintai Baekhyun sebagaimana Ia merasakannya adalah bagian pentingnya.

.

Chanyeol sedang sibuk mengacak-acak potongan puzzle dan membolak-balikkan rubik agar warnanya tersusun acak saat Baekhyun memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya pada punggung tegap Chanyeol dan memejamkan matanya.

"Baekhyun, kau masih punya kesempatan lima kali lagi sebelum menyerah!" Chanyeol memerintahnya.

"Tidak Chanyeol tidak! Aku tidak secerdas dirimu dan aku lelah." Baekhyun sudah mengatakannya sekitar delapan kali dan kini Ia memilih menolak lalu terlelap di punggung tegap kesukaannya. Hampir setiap hari mereka melakukan rutinitas seperti ini. Baekhyun teringat dulu dirinyalah yang memaksa Chanyeol untuk melakukannya, namun Chanyeol selalu menolak. Kini Ia merasakan bagaimana kepalanya berdenyut sakit saat mencoba menyusun semuanya.

Dari semua ini, Baekhyun tetaplah Baekhyun yang tidak bisa disandingkan dengan Chanyeol. Chanyeol memang cerdas, sedangkan Baekhyun hanya sekedar pintar saja.

.

Kali ini Baekhyun tidak menangis saat Chanyeol menertawai kejantanannya yang lebih kecil dari milik Chanyeol. Kesinkronan yang dimilikinya sudah menyempurnakan apa yang seharusnya. Kini gantian Baekhyun yang mengejek penis Chanyeol yang sangat payah saat kedinginan. Baekhyun akan terus mengguyur benda kebanggaan Chanyeol itu dengan air ketika mereka sedang mandi bersama. Berhubung Baekhyun akan selalu tertawa saat melakukannya, Chanyeol sama sekali tidak keberatan. Namun tetap saja Baekhyun iri. Dan Chanyeol memang benar-benar merepotkan jika sedang mandi bersama. Rutinitas saling menggosok sabun kini mulai berganti dengan acara saling memijat dan memanjakan. Siapa yang lebih dulu keluar maka dialah yang kalah.

Bisa ditebak kalau Baekhyun yang selalu kalah?

.

Ada satu lagi rutinitas yang tak bisa mereka hindarkan setelah semuanya berjalan normal kembali. Baekhyun sudah terbiasa hidup dengan pendirian dalam jiwanya yang terbakar bahwa hari kemarin, hari ini, hari esok dan seterusnya Ia akan tetap mencintai Chanyeol sebagai mestinya. Sebagaimana Chanyeol membuat dirinya jatuh cinta pada sosok idiot-tolol-psikopat itu.

Rutinitas dimana obsidian Chanyeol berkilap dan menyorotkan sesuatu yang membuat Baekhyun tenggelam dalam sebuah tarikan untuk merasakan hal yang lebih dari itu. Dua jam atau tiga jam jelas tidak cukup untuk kebutuhan nafsu di antara keduanya. Baik Chanyeol maupun Baekhyun tidak mau berhenti jika sang fajar belum mengintip dari celah kecil di jendela yang belum tertutup tirai.

Namun tidak seperti malam-malam sebelumnya. Jum'at malam hari ini Chanyeol berhenti setelah orgasmenya yang ke lima, Ia bisa melirik jarum detik sedang melangkah menggerakkan jarum jam ke arah angka dua. Antena hijau kecilnya bergerak gelisah. Chanyeol menggaruknya namun kepalanya didapati rasa nyeri yang tak terhingga. Ia mengerang tertahan tak ingin menganggu Baekhyun yang sedang sibuk mengatur nafasnya.

"Kenapa?" Baekhyun menatapnya dengan alis yang bertaut. Chanyeol tidak menjawab, kini erangannya melolong dengan sempurna dalam jeritan berat yang menyakitkan.

Baekhyun khawatir namun Ia tidak punya waktu untuk bertanya saat Chanyeol dengan sendirinya beranjak cepat dan membanting pintu kamar mandinya.

...

"Apa kau akan…pulang?" Baekhyun tidak tahu perasaan seperti apa lagi yang dirasakannya sekarang. Kupu-kupu api imajiner kini memecahkan dirinya berubah menjadi kembang api yang meledak-ledak dan menyesakkan. Pulang kemana yang akan Chanyeol lakukan?

"Aku tidak mau. Tapi si hijau kecil ini bergerak terus. Ia seperti tidak bisa beradaptasi dengan udara di bumi."

Baekhyun benar-benar merasakan debaran yang menyakitkan. Jawaban Chanyeol bukankah salah satu ungkapan untuk berpamitan secara halus? Jika Chanyeol akan pergi, memangnya apa urusan dengan dirinya? Seorang manusia yang tinggal satu atap dengan makhluk supernatural yang aneh dan kesalahan terbesarnya adalah jatuh dalam pesonanya hingga Ia jatuh cinta, lalu menjalani hidup berdua bahkan bercint—

"Chanyeol?" Baekhyun mengerjapkan matanya. Menatap lurus pada sosok tinggi tegap yang menjadi objek dalam pandangannya, tapi tidak ada siapapun disana. Baekhyun yakin Chanyeol masih di hadapannya saat kata terakhirnya terlontar, dan tidak yakin jika Ia berargumen begitu panjang hingga Chanyeol menghilang begitu cepat. Atau, mungkin hanya bersembunyi.

"Chanyeol?" Baekhyun menapakan telapak kakinya pada lantai yang dingin. Gerakannya lambat saat mencoba untuk mencari sosok bertubuh tegap dengan rambut aneh itu di seluruh ruangan. Anusnya terasa perih saat mencoba untuk mempercepat langkahnya, namun apa daya jika yang di carinya tetaplah tak menampakkan wujudnya.

Chanyeol bukanlah makhluk yang senang akan permainan menyembunyikan diri. Jikapun Ia bersembunyi, Ia akan bilang terlebih dahulu pada Baekhyun dan dua detik kemudian memunculkan sosoknya lagi setelah Baekhyun memanggil namanya.

"Park Chanyeol?!"

Tiupan angin yang menabrak dan menerbangkan tirai di sisi jendela membawa hawa dingin menusuk. Baekhyun belum memakai pakaiannya, pantatnya masih terasa perih, lalu Chanyeol menghilang bahkan setelah Ia memanggil namanya denga lengkap. Tak ada tarikan kuat yang merayu dan memaksanya untuk menyelam kegelapan dan membawanya pada dimensi lain yang menggoda untuk merasakan hal yang lebih dari apa yang sudah Ia rasakan. Tidak ada percikan maupun sulutan api yang membakar jiwa serta emosi untuk mengalirkan nafsu.

Tidak ada kehangatan lagi.

Baekhyun menengadahkan kepalanya, mendongkak menatap langit malam yang hitam dengan iringan angin yang masih mencoba untuk merobek kulit sensitifnya. Bibirnya terasa kering dan seluruh tubuhnya terasa nyeri. Ia menangkap satu bintang dari kelamnya langit hitam yang berkilap lalu tak lama kembali menghilang. Membiarkan angkasa begitu senyap tanpa hiasan. Membiarkan kristal bening itu hadil kembali dalam dorongan dan buncahan yang berbeda. Menyulut asa membekukan sukma mencairkan jiwa.

Tidak ada Chanyeol lagi.

.

End?

.

.

.


Epilogue


.

.

.

Sudah hampir tiga tahun Baekhyun menjalani hidupnya dalam sebuah keanehan yang mengganjal di hatinya. Seperti ada yang hilang namun Baekhyun tidak tahu apa pastinya, Ia juga merasa hidupnya terlalu kosong, padahal selama ini juga begitu. Tinggal sendirian dalam flat sederhana, meski Baekhyun sendiri tidak tahu sejak kapan Ia membuat gazebo aneh yang menjadi pembatas dapur dan ruangan tengah.

Menurut Baekhyun kata-kata si botak tua di kursi ketua hanyalah omong kosong. Telinganya ingin memuntahkan kembali suara lamban si ketua yang sudah uzur itu. Seharusnya dia segera mewariskan perusahaannya pada yang lebih muda sebelum para karyawan membunuhnya. Dan menurut Baekhyun lagi, perusahaan ini tega sekali. Memaksa dirinya yang baru kembali dari cuti panjang untuk menghadiri rapat omong kosong ini. Padahal kalau Baekhyun pikir-pikir, masih untung dia diberikan kesempatan untuk kembali bekerja. Tapi semua ini membosankan sehingga membuatnya ingin bunuh diri di tempat. Mungkin menusukkan ujung pena yang lancip pada leher putih miliknya terdengar menarik. Kemudian rapat akan berakhir. Baekhyun memiliki jasa yang sangat besar kepada para karyawan yang juga sama merasa bosannya.

'Kau mau mendahuluinya?'

Baekhyun mengangkat kepalanya. Berhenti menatap sudut lancip pada pena dan mengedarkan pandangannya pada karyawan tidak-penting yang menghadiri rapat satu persatu. Sebagian besar dari mereka sibuk membolak-balik kertas dan mencatat sesuatu.

'Biarkan si tua itu mati duluan, kau masih muda.'

Baekhyun memperhatikan dengan seksama. Seseorang di sudut meja menarik ujung bibirnya ke samping. Mencatat sesuatu lalu akhirnya beradu pandang dengan netra yang sedang menatapnya.

'Bersabarlah. Sepertinya ini tidak akan selesai dalam dua jam.'

Itu memang benar suaranya. Suara pria bermata tembaga yang memasuki pikirannya.

Satu hal yang Baekhyun ketahui sejak dirinya terlalu sering berhalusinasi dan paranoid adalah hal seperti seseorang bisa memasuki pikirannya dan mereka berletepati. Namun hal tersebut hanya berlaku jika seseorang itu tahu dan mampu untuk menerobos pikirannya—walaupun Baekhyun sendiri tidak yakin dirinya pernah melakukannya. Itu artinya, si mata tembaga itu bukanlah seseorang yang sembarangan memasuki pikiran orang lain. Dia tahu Baekhyun bisa menampung isi pikirannya.

Baekhyun menatap matanya dengan lekat. Warna tembaga yang indah untuk menarik diri agar tenggelam lebih jauh disana, meski tidak ada rayuan atau paksaan. Baekhyun merasa de javu.

'Karyawan baru?' Alisnya terangkat untuk meyakinkan. Pasalnya, Baekhyun memang belum pernah melihat seseorang dengan mata tembaga seperti itu di kantor tempatnya bekerja. Dan karena Ia sudah cuti cukup lama, kemungkinan besar memang dia adalah karyawan baru.

Dilihatnya si mata tembaga dengan rambut hitam yang di sisir rapi ke belakang itu tersenyum menyetujui.

'Byun Baekhyun, bagian design. Kau?'

Senyum si mata tembaga semakin lebar. Baekhyun tidak lagi peduli pada ocehan si tua yang tinggal menjemput umurnya itu. Berkenalan mungkin menjadi hal yang lebih menyenangkan.

"Park Chanyeol. Senang bertemu denganmu lagi, Byun Baekhyun-ku yang pintar."-

- FIN -

.


Halo?

Haloo?

Kekecewaan di tanggu sendiri ya. siapa suruh baca ff nya sampe abis (kalo ada yang baca ampe abis ding.)

Sebelumnya, Thanks to - [ dugunchao ] [ Park Shita ] [ SFA30 ] [ baeqtpie ] [ Pintutkusayang; yang telah menemani hari-hari melelahkanku menjadi lebih indah-" walau gue bales chatnya suka lama dan kadang kagak di bales dan ya setidaknya lu bilang ff gue bagus :'v ] [ ryesungminkyu18 ] [ neli amelia; yang mau repot-repot pm ngingetin buat update ] [ choHunHan ] [ NajikaAlamanda ] [ angelaalay ] [ BC'baek ] [ ChanBaekLuv ] [ .77 ] [ pikpikbi ], dan yang meninggalkan jejaknya di kolom foll&fav kemarin. Laff chuu~~~

.

Pokoknya aku gak tanggung jawab kalo kalian gak puas sama hasilnya. bodo amat ah yang penting udah update dan sekarang bisa tenang -_-b

Oya btw, cara aku nulis bagian nc emang kaya gitu ya. kalo ada yang nanya "NC nya kok kurang hot?" atau yang meminta "Nc nya yang hot ya" well, aku nulis nc sambil nyemil donat, bukan balsem. jadi kalo mau hot, sok bacanya sambil jilatin balsem ge**liga :( maaf yaaa~ lagian aku gak minta ff nya di baca wlek :p belegug/?

Hm, diksi dan tata bahasa serta tanda baca juga acak acakan maaf ya aku mah kan cuma seonggok 'gadis jenuh yang menggerakkan jarinya untuk menulis ff', jadi yang ditulis seadanya, aku bukan seorang ahli tapi doain aja bisa jadi ahli :'v

Okay then, terakhir. aku gak maksa kalian buat review lagian ini ff bakalan penuh dengan kritikan dan sebenarnya aku butuh saran dan kritikan -_-" kalo yang mau muji juga boleh deng /ngaks;bergelinding. tapi yang ikhlas dengan sepenuh hati untuk membuat jarinya tergerak di kolom review, ya makasih loh yaa :'B

Benar-benar yang terakhir, makasih banget yang udah meluangkan waktunya untuk membaca diem-diem yaa. udah di baca aja sukur kok :v

.

Bye.