[Flash back On]
enjoy~~
…
…
Baru lima belas menit yang lalu Chanyeol mendudukkan dirinya dibangku taman sekolah. Ia memilih tempat ini karena suasana disini tenang dan suara bising penyanyi Band sekolah tak terlalu terdengar, mengingat jika jarak taman dan lapangan sekolah dihalangi oleh dua gedung kelas serta tiga arah belokan dari lapangan menuju taman.
Ya, seharusnya Chanyeol masih mendapatkan keheningan... Tetapi itu terganggu oleh suara yang kini terlalu sering ia dengar.
"Kenapa hanya duduk-duduk disini? Sekolah sedang mengadakan Pensi, seharusnya kau berbaur dan menikmati segala acaranya."
Chanyeol menghela napas. Kenapa sulit sekali untuk berada dijarak jauh dari pria pendek disampingnya kini? Padahal Chanyeol telah mengeluarkan usaha untuk bersembunyi dan tidak berada dekat dengan pria yang tengah memandangnya dengan tuntutan.
"Dan kenapa kau berada disini juga? Bukankah Pensi kali ini akan menampilkan tim idolamu itu?" Chanyeol memicing curiga, "Kau menguntitku, ya?" tambahnya.
Lawan bicaranya mendengus keras-keras. "Aku hanya—ha..hanya memastikan kalau kau tidak melakukan tindakan bodoh, Chanyeol!"
Beberapa saat kemudian Chanyeol tersenyum, ia tak lagi menatap sinis pria yang masih berada disampingnya. "Aku belum mengatakan sesuatu padamu..." Chanyeol menjeda sebentar, ia menatap lurus sebelum kembali menoleh pada pria berwajah imut. "Terimakasih karena mau menemaniku kemarin, Baekhyun."
"Mm-hm, bagaimana keadaan disana?" Baekhyun, pria berwajah menggemaskan itu balik menatap lensa bulat Chanyeol. Ada semburat merah dari wajahnya kala Chanyeol mengucapkan terimakasih padanya, itu kejadian langka seorang manusia macam Chanyeol yang terkenal kaku dan anti sosial itu mengucapkan kata-kata sakral.
"Aku yakin kalau semuanya akan baik-baik saja. Pekan nanti aku akan meminta ijin kesekolah. Aku tidak bisa merasa tenang sampai saat ini." Jawab Chanyeol, pria itu menundukkan kepala tatkala bayang-bayang sosok lemah tanpa tenaga itu singgah di otaknya.
"Kau tahu? Sebelumnya aku kira kau adalah orang yang tak asyik untuk diajak bicara. Tapi, aku menghilangkan pikiran buruk itu ketika mengetahui kalau kau mempunyai cinta teramat besar pada keluarga..." Baekhyun tersenyum begitu indah dan itu mampu menciptakan desiran hebat pada aliran darah sosok yang memandangnya tak berkedip itu.
Chanyeol segera memalingkan wajahnya, ia melebarkan mata untuk menetralisir detak jantung didalam rusuknya yang mulai bekerja diluar jalur.
"Aku akan membawakan eskrim stroberi. Jangan mencoba untuk mengangkat tubuhmu!" Baekhyun pergi tanpa ada jawaban dari perkataannya. Sedangkan Chanyeol kembali tersenyum melihat tingkah lelaki mungil bermental SD itu.
Tepat pria Byun menghilang dari tikungan pertama, sosok tinggi tiba-tiba muncul dibalik gedung. Berjalan mendekati keberadaannya. Chanyeol menatap curiga, dan tatapan tajam segera ia layangkan pada lelaki yang lebih tinggi darinya.
"Kita mempunyai urusan, Park." Nada sinis lawan bicaranya membuat Chanyeol mendengus.
"Dan aku tidak mempunyai urusan denganmu, Wu Yifan" sahut Chanyeol datar. Siswa yang sering dipanggil Wufan itu merapatkan bibirnya. Balas menatap Chanyeol dengan mata segarang yang ia bisa lakukan. "Akhir-akhir ini aku terlalu sering melihat kalian menghabiskan waktu berdua. Aku pikir kalian terlalu dekat kalau hanya disebut tetangga asrama."
Chanyeol memalingkan wajahnya dari lawan bicara, pot bunga hitam berukuran jumbo adalah objek pandangannya.
"Kau terlalu melebihkan sebagian cerita." Jawab pria bertelinga besar itu tanpa ekspresi. Dan memang selalu begitu.
"Begitukah? Dan bisakah kau memberikan alasan dari kejadian kemarin, huh?" Wufan, siswa dua kewarganegaraan itu mulai menaikkan satu nada bicaranya. Ia menatap benci dan marah pada sosok pria tinggi lain.
"Aku sudah mengatakannya pada Guru Kepala dan kalau kau mau tanyakan saja padanya," ujar Chanyeol masih mempertahankan ekspresi tak minatnya. Ia hendak mendudukkan pantatnya pada kursi Taman tetapi hal itu diputuskan, karena tarikan kerah seragamnya yang dilakukan pria bermarga Wu.
"Kau! Apakah kau menggunakan otakmu, ketika kau membawa Baekhyun untuk kabur bersamamu?!" Wufan mengeratkan genggamannya. Rahangnya merapat, menandakan ia begitu kewalahan menahan ledakan emosinya sekarang.
"Dia yang memaksa ikut, aku tidak benar-benar mempengaruhi pria manis itu!" seringaian terpatri ketika Chanyeol menyelesaikan ucapannya.
Dan Wufan semakin naik pitam, "Baekhyun adalah orang yang tidak bisa membiarkan orang lain kesusahan! Pasti ada satu hal yang membuat dia terpaksa mengikutimu!"
Hati Chanyeol berdenyut tidak baik setelah mendengarkan perkataan Wufan. Dan itu mampu membangunkan emosinya yang ia tahan sedari tadi. "Kau tidak tahu dan seharusnya kau tutup mulut, Wu Yifan!"
"Tutup mulut? Aku sangat mengkhawatirkannya, sialan!"
.
Bugh!
.
Wufan memberikan tinjuannya pada pria yang telah memancing emosinya. Pukulannya memang tidak begitu keras, tetapi kondisi Chanyeol yang sedikit kurang baik mampu merobohkan pria itu.
Chanyeol memegang bagian wajahnya yang sakit, lalu ia tersenyum remeh. "Apakah semua ini karena Baekhyun?"
Pertanyaan rancu itu membuat Wufan tercenung sementara Chanyeol langsung bangkit, lalu menatap tajam pada sorotan elang Wufan.
"Urusan kita belum berakhir, Park!"
Chanyeol mengikuti arah pandang Wufan yang ternyata adalah Baekhyun dengan dua cup eskrim ditangan lentiknya. Wajahnya mengekspresikan raut kesal—dan itu tetap imut—ketika beberapa orang tidak sengaja menyenggol lengannya. Chanyeol mengakui, jika ia sudah jatuh terpesona dengan segala tingkah dan apa yang dimiliki pria cerewet itu.
Chanyeol sedikit berjengit tatkala suara nyaring nan ceria Baekhyun tiba-tiba terdengar. Kini si pendek tengah memasang senyuman.
"Ah! Ternyata ada Wufan hyung! Uhh... Punyaku untukmu saja." Baekhyun memberikan satu cup es krim kepada Wufan yang tersenyum tampan dan hal itu membuat Baekhyun menahan jeritan.
"Tidak, untukmu saja. Bukankah stroberi adalah buah kesukaanmu?"
Baekhyun mengangguk malu-malu, dan pipinya bersemu karena ia tidak menyangka jika senior tertampan seantero sekolah, mengetahui hal kecil tentangnya. Ketika Baekhyun akan bertanya tentang info yang didapat Wufan masalah stroberi, tahu-tahu Chanyeol melengos pergi begitu saja.
"Hei! Kau mau kemana?" pertanyaannya tak membuahkan jawaban yang Baekhyun inginkan. Karena Chanyeol berjalan dengan kepala tetap kedepan, tak mengindahkan suara kerasnya.
"Aish! Dia selalu saja begitu!" lirih si kecil, dan ia pun mengembalikan atensinya kepada sosok yang menjulang tinggi. Si Pangeran dongeng.
"Hyung, apakah Chanyeol—
Wufan segera menginterupsi, "Kita sebaiknya kelapangan. Aku akan tampil sekarang!"
Seharusnya Baekhyun merasa bahagia kala tangannya ditarik oleh tangan Wufan. Seseorang yang telah ia idamkan menjadi pangerannya. Tetapi wajah Chanyeol-lah yang kini berputar dikepalanya sekarang.
Entah perasaan apa, dan Baekhyun tidak dapat menghentikannya.
.
[Flash Back Off]
.
Malam hari suasana asrama sekolah nampak sepi, mungkin dikarenakan hujan datang terlalu awal membuat para penghuni kamar memilih bergelung dibalik selimut dan menikmati coklat panas untuk menghangatkan tubuh.
Dan seharusnya Chanyeol tidak keluar kamar ketika dingin menguasai udara. Ia menutupkan pintu kamarnya dengan pelan, tidak ingin membangunkan Sehun yang telah pulas diatas karpet dengan gulungan selimut. Tungkai panjangnya bergerak ke pintu bernomor 7C. Chanyeol berada diambang kesadarannya kala ia mengetuk pintu kamar tetangga asramanya.
Ketukan ketiga pintu akhirnya terbuka, menampilkan raut bulat dengan mata burung hantu yang kini memicing. "Ada apa, Chanyeol?" Kyungsoo bertanya pada sosok Chanyeol yang kini terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Uh-huh?"
"Apa kau kurang kerjaan mengetuk pintu orang lain tanpa ada suatu hal yang perlu didiskusikan?" Kyungsoo menjeda perkataannya, matanya menangkap ekspresi kesal Chanyeol. "Semakin hari kau sedikit banyak mirip dengan teman sekamarku. Bertindak tanpa ada pemikiran yang matang!"
Nyaris pintu itu tertutup oleh bantingan Kyungsoo, tetapi Chanyeol cepat tanggap. "Apakah Baekhyun berada didalam?"
Pertanyaan Chanyeol diberikan helaan napas panjang dari sosok Kyungsoo yang melunturkan raut kakunya. "Kau tahu, kalau aku berhasrat membunuh seseorang yang mengajaknya keluar kamar dengan udara sedingin ini?"
Chanyeol mengernyit, dan ia langsung paham situasi yang terjadi disini. "Baekhyun keluar dengan seseorang..?" sahutnya tak yakin. Tetapi keraguan itu sirna kala ia melihat anggukan kepala di depannya.
"Dia mempunyai janji dengan seseorang, dan dia terlalu bodoh menjadi manusia!" Kyungsoo kembali menatap lensa Chanyeol yang memancarkan sinar bingung yang terlihat jelas.
.
.
Chanyeol segera memasuki kamar asramanya kembali dengan suara jeblakan pintu yang cukup keras. Hal itu mampu membuat Sehun mengernyit dari tidurnya.
Pria bertelinga panjang itu mengambil mantel didalam lemari bajunya, lalu mengenakan jaket biru yang tergantung manis pada dinding. Ketika diambang pintu ia menghentikan cara jalannya yang rusuh, berbalik dan menginjak kaki jenjang Sehun yang masih tertidur nyenyak diatas karpet, "AH!"
Chanyeol menggumamkan kata maaf dua kali, lalu membawa sebuah payung yang tersimpan di kolong ranjang Sehun. Dan Chanyeol hampir melakukan kesalahan yang sama.. Ia nyaris menginjak lagi kaki Sehun...
.
"Lebih baik kau jemput dia, kukira dia akan menurutimu dibanding denganku. Dia sekarang berada di lapangan basket."
"Bawa dia, aku lebih memercayaimu, Chanyeol."
.
Pembicaraannya bersama Kyungsoo beberapa menit yang lalu berputar kembali didalam pikirannya. Entah kenapa, ia merasa sedikit bahagia ketika seseorang berada dipihaknya dalam masalah Baekhyun.
Tetapi senyumannya lenyap tatkala lensanya melihat sosok kecil yang berlindung di koridor kelas dengan kondisi memprihatinkan.
Baekhyun disana dengan keadaan kacau...
"Baekhyun?..."
Baekhyun melihatnya dengan pancaran kesedihan dan itu memberikan efek pada kerja jantungnya yang berdetak tak nyaman. Chanyeol melepaskan pegangan payung, hatinya menyuruh ia untuk memeluk tubuh kecil Baekhyun. Dan tangisan pun keluar dari pria mungil.
"Aku... " disela isakan tangisnya, Baekhyun ingin menjelaskan apa yang terjadi pada sosok tinggi. Tetapi, Chanyeol menggeleng pelan, "Sstt... Tenangkan dulu, Baek."
Baekhyun semakin menenggelamkan wajahnya pada dada lebar pria yang memberikannya kehangatan, ada rasa bahagia karena Chanyeol yang datang padanya dan juga rasa malu karena ia terlihat seperti bukan pria sejati, menangis dengan isakan layaknya wanita.
Elusan dipunggung dan kecupan lembut dipucuk rambutnya, mampu mengirimkan ketenangan pada batinnya. Setelah meredakan tangisan, Baekhyun mengangkatkan kepala, memandang wajah Chanyeol yang mengekspresikan kekhawatiran. Jika suasananya bukanlah seperti ini, mungkin Baekhyun akan meledek bagaimana air wajah Chanyeol sekarang. Tetapi yang Baekhyun lakukan hanyalah tersenyum, "Terimakasih... "
Chanyeol menyentuh kulit pipi dingin Baekhyun, memberikan usapan disana lalu tersenyum. "Aku disini.. " dan Chanyeol mengecup dahi si Byun, yang mana hal itu mengejutkan bagi sang penerima ciuman yang menyiratkan kasih sayang tulus. Namun, belum sempat Baekhyun menanyakan apa yang telah dilakukan oleh Chanyeol, tahu-tahu pria telinga panjang itu kembali menyelimutinya dengan sebuah pelukan.
TBC
A/n: Aku putusin ff ini bklan aku lanjutin dg beberapa chapter. Chapternya ga bakalan banyak, mungkin chap ke4 ff ni udah kelar :) ini ga terlalu rumit Cinta segitiganya kek author fanfic seberang jalan(?) aku udah bilang kalo aku lebih suka nulis yg ringan dg momen manisnya aja. Yaa... Maafkan kalo kelanjutannya mengecewakan :" mau gimana lgi otak dg kdar kepolosan tinggal 0,09% ini ga bisa nulis dg bahasa yg mendewa :') semoga kalian sukaa :)))
Ketemu lg dichapie selanjutnya yg masih aku rahasiain dr kaliaan, HaHaHa/di hulk/
SALAM TOBELI!
ANNYEOL~~~
