Kami no Te
Disclaimer: Semua karakter dari anime 'Naruto' dan 'High School DxD' bukan milik saya, saya hanya meminjamnya saja.
Main Cast: Naruto .U.
Summary:
Setelah pertarungannya dengan Sasuke, Naruto akhirnya bertemu Shinigami yang memberinya tangan kanan yang memiliki kekuatan luar biasa serta tugas baru. Apa jadinya jika dirinya dijadikan 'The Brave Saint' oleh Fraksi Malaikat?
Warning: Author Newbie, Abal-abal, Alternative Universe, Typo, Miss Typo, Strong!Naruto, Human!Naruto, and DLDR.
Chapter 1
Tugas Baru.
Sudut Pandang: Naruto.
Clak! Clak! Clak!
Apa aku sudah mati?
Tapi perasaan ini...
Mungkinkah?
Suhu tubuh yang tiba-tiba saja langsung mendingin serta penglihatanku yang hanya didominasi warna hitam –segelap malam, mungkin pada akhirnya aku harus meregang nyawa karena pertarungan bersama Si Teme sok keren itu. Meskipun aku tak bisa menyadarkannya dengan pukulan, tapi kuharap Sakura-chan dan Kakashi-sensei bisa menyadarkan Si Teme.
Arrrkhh!
A-apa aku tidak salah lihat? T-tanganku... A-apa yang terjadi dengan tanganku? Kenapa tangan kananku tak ada seperti ini? Rasa sakit yang sangat mendera tangan kananku, sebagian tanganku menghilang hanya menyisakan lengan bagian atasku yang tertutupi bagian lengan baju jaringku.
Seharusnya jika aku sudah mati, maka aku tak akan merasakan rasa sakit apapun termasuk dengan apa yang terjadi pada tangan kananku...
"Itu karena kau masih ada diambang antara alam kehidupan dan kematian, Uzumaki Naruto."
Kepalaku mengangkat secara langsung saat mendengarkan perkataan yang terdengar sangat berwibawa dan menyeramkan secara bersamaan di telingaku, sosok yang sangat menyeramkan bagi siapapun yang melihatnya berdiri tepat beberapa meter di depanku serta aura yang dikeluarkannya bisa membuat kakiku gemetar tak karuan.
Jangan bilang dia Shinigami?!
"Tebakanmu sangat tepat sekali, Naruto. Dan jangan kaget seperti itu, aku tidak berniat menyakitimu," perkataannya membuat tubuhku yang sempat menegang sedikit demi sedikit mulai santai kembali walaupun aku masih terasa takut dengan Shinigami yang ada di depanku.
"J-jadi, anda benar-benar Shinigami? Tapi kenapa kau membawaku kesini? Dan apa aku sudah mati?" dia malah tersenyum misterius kepadaku. Ayolah, jangan membuatku semakin takut, Shinigami-sama.
"Apa aku harus membawamu dulu ke alam kematian baru kau percaya kalau aku ini Shinigami, Uzumaki Naruto? Apa itu yang kau inginkan?"
Kepalaku secara spontan menggeleng dengan cepat, tapi aku bisa menyimpulkan jika sosok yang ada di depanku ini adalah Shinigami dan tentunya aku belum mati. Mengingat perkataan sebelum-sebelumnya yang terlontar dari mulutnya, tapi ada tujuan apa dia membawaku kesini?
"Jangan memasang wajah bingung seperti itu, Naruto. Kau memang seharusnya mati, tapi melihat apa yang kau lakukan di dunia dan melihat perjuanganmu untuk mencapai apa yang dinamakan 'Perdamaian' sejati, aku sedikit berpikir kembali untuk mengirimmu ke alam kematian. Aku hanya ingin membuat perjanjian denganmu."
Bisa kurasakan jika sebelah alisku sudah terangkat saat mendengar kalimat terakhir dari perkataannya "Anda yakin ingin membuat perjanjian dengan makhluk sepertiku? Maksudku apa memang tak apa-apa jika seorang Dewa mengikat janji dengan Manusia?"
Dia kembali tersenyum mendengarkan pertanyaan yang terlontar dari mulutku "Kau tak ingat jika kau juga Dewa, Dewa dari seluruh Shinobi. Jangan terlalu merendah, perjanjian ini tergantung padamu untuk menerimanya atau menolaknya?"
Apa yang dikatakannya memang ada benarnya "Memangnya perjanjian apa yang akan Shinigami-sama ajukan padaku?" aku hanya ingin tahu perjanjian seperti apa yang memang ingin Dewa Kematian ini ajukan padaku.
"Perjanjiannya atau Tugas lebih tepatnya adalah kau harus menjaga perdamaian sebuah dimensi yang bersifat sementara, meskipun sudah beberapa ratus tahun perdamaian itu terjaga tapi banyak sekali pihak-pihak yang menginginkan jika pertumpahan darah kembali terjadi."
Mulutku sedikit menganga mendengarkan apa yang dikatakan oleh Shinigami-sama, berarti peperangan hanya tidak terjadi pada duniaku saja –maksudku dimensiku saja "Tapi kenapa kau harus memilihku untuk menjaga perdamaian di dimensi tersebut? Bukankah anda juga bisa melakukannya?"
"Memang, tapi aku tak bisa melakukannya karena tugasku sebagai Dewa Kematian. Aku hanya ingin memberikan kesempatan hidup yang kedua kalinya padamu, tapi semua pilihan tergantung pada dirimu, Naruto."
Aku memang pernah berjanji pada Ero-Sennin jika aku akan menciptakan perdamaian yang selalu diimpi-impikan olehnya, kenapa aku tidak menerapkannya saja di dimensi itu? Setidaknya aku juga harus merealisasikan ilmu tentang perdamaian yang pernah dia ajarkan padaku.
"Baiklah, aku menerima perjanjian tersebut, Shinigami-sama. Tapi boleh aku tahu dimensi seperti apa yang harus kujaga ini?" tanyaku, setidaknya aku punya sedikit informasi tentang dimensi yang dibicarakan oleh Shinigami-sama.
"Nanti akan ada seseorang yang menjelaskan dan menjemputmu dari sini menuju dunia tersebut, tapi sebelumnya..."
Pandangannya terarah pada tangan kananku yang hanya setengahnya saja, ini diakibatkan peraduan jutsuku dengan jutsu milik Sasuke. Aku tidak menyangka jika efeknya akan separah ini, tapi untuk menyadarkan seorang sahabat apapun akan kulakukan termasuk harus kehilangan kepala sekalipun.
Tiba-tiba saja cahaya terang yang sangat menusuk mata menyelimuti tangan sebelah kananku, aku bisa merasakan tangan kananku terasa sangat hangat. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi?
"Aku memberikan tangan itu padamu, Naruto. Mengingat sekarang kau tak akan bisa menggunakan chakramu lagi setelah pertarungan itu."
Napasku terasa berhenti sesaat setelah mendengarkan jika aku tak bisa kembali menggunakan chakra kembali seperti sebelumnya, lalu atensiku seperti tertarik sesuatu sehingga harus melihat kearah tangan kananku saat itu juga "A-apa?!"
Tanganku sudah tumbuh kembali dihiasi besi dengan ukiran kuno yang menutupi lengan atas dan bawah, tangan tersebut bersinar seolah cahaya tersebut mengatakan jika dia menerima aku sebagai pemilik barunya. Aku bisa merasakan jika ada suatu kekuatan yang mengalir dari tangan tersebut.
"Itu adalah tangan yang dibuat khusus oleh Kami-sama, Dia mempercayakan tangan tersebut padaku untuk menjaganya dan memberikannya pada orang yang tepat. Tangan tersebut memiliki kekuatan yang sangat besar dan tak sembarangan ciptaan-Nya bisa mengendalikan tangan itu, aku percayakan tangan itu padamu karena aku yakin kau akan menciptakan 'Perdamaian' sejati untuk kedua kalinya."
Aku masih terkagum-kagum dengan tangan baruku ini sehingga hanya sedikit saja penjelasan yang bisa kutangkap dari Shinigami-sama, tapi aku berjanji akan melakukan apa yang sudah Shinigami-sama percayakan padaku. Karena perdamaian adalah jalan hidupku.
Sebuah lingkaran yang bersinar tercipta beberapa meter di depanku, tepatnya sekitar 1 meter di samping Shinigami-sama. Sepertinya Shinigami-sama terlihat tenang-tenang saja, berbeda denganku yang sudah bingung kenapa lingkaran itu muncul tiba-tiba dan mengeluarkan sinar.
Seorang pria berambut pirang pucat panjang dengan iris hijaunya yang menatap kearahku disertai senyuman di bibirnya, dia memakai zirah berwarna emas dilengkapi jubah panjang di belakangnya dan lingkaran berwarna emas diatas kepalanya, jika dilihat-lihat pria ini seperti seorang keturunan bangsawan.
"Akhirnya kau datang juga, Michael," Shinigami-sama sedikit melirikan matanya kearah pria yang bernama Michael itu, lalu pandangannya terarah kembali padaku "Sekarang ikutlah dengannya, Naruto. Michael akan mengantarkanmu menuju dunia yang akan kau tempati sekarang."
Kepalaku mengangguk pelan kemudian kami –Aku dan Michael saling bertukar pandangan, aku pun melangkahkan kaki mendekati Michael yang masih tersenyum kearahku "Namaku Naruto Uzumaki, salam kenal Michael-san," tubuhku sedikit membungkuk setelah memperkenalkan diriku pada Michael-san.
"Namaku Michael, senang bertemu denganmu, Naruto-kun. Mendekatlah, kita akan pergi menuju Surga."
A-apa aku baru saja mendengar kata 'Surga'? Bukankah itu tempat yang paling diidam-idamkan oleh seluruh manusia? Lalu apa hubungannya antara dia, aku dan 'Surga'?
"Aku tahu kebingunganmu, Naruto-kun. Aku akan menjelaskannya jika sudah sampai disana dan aku sangat berterima kasih padamu, Shinigami-sama," Michael-san membungkukan badannya kepada Shinigami-sama.
"Sama-sama, Michael. Sekarang pergilah, bawa pemuda kuning ini pergi dari hadapanku. Dia membuat mataku sakit."
Aku mendengar perkataan itu, Shinigami sialan! Kau pikir aku tak punya telinga apa, jika saja dia bukan dewa aku pasti sudah memukulnya sekarang juga.
"Ayo, Naruto-kun."
Aku memilih berdiri di sampingnya sambil menatap tajam kearah Dewa Kematian tersebut, aku akan terus mengingat perjanjian dan penghinaanmu tadi padaku...
Akhirnya cahaya sangat terang menutupi pandanganku dan sepertinya lingkaran bersinar itu memang berfungsi untuk memindahkan seseorang ke suatu tempat...
-0-0-0-
Sudut Pandang: Normal.
-Di Surga-
Di tempat yang sangat indah dan dipenuhi cahaya dengan ketentraman yang menyertainya, beberapa makhluk seperti manusia bergender laki-laki atau perempuan tetapi memiliki sayap putih seputih sayap merpati terbang berlalu lalang di tempat tersebut. Mereka memiliki tugas masing-masing yang harus mereka kerjakan, itu sudah kewajiban mereka.
Lingkaran sihir berwarna emas terang tercipta tepat di gerbang menuju tempat yang penuh kedamaian tersebut, dua siluet laki-laki yang sama-sama bersurai pirang muncul dari lingkaran sihir tersebut. Yang satu terlihat sangat biasa dengan tempat tersebut, sementara yang satu lagi hanya terkejut dengan mulut menganga saat melihat tempat tersebut.
"Selamat datang di Surga, Naruto-kun," ucap Michael yang masih mempertahankan senyuman di bibirnya, tak memperdulikan Naruto yang masih terkejut dan takjub dengan apa yang dilihatnya.
"M-michael-san? Apa ini benar-benar 'Surga'?" akhirnya Naruto membuka suara sambil berusaha memastikan bahwa apa yang dihadapannya ini memang tempat yang dikatakan oleh Michael.
"Ya, ini Surga. Dari reaksimu, sepertinya kau baru pertama kali mendatangi Surga," tebak Michael lalu melangkahkan kakinya memasuki gerbang yang sangat besar yang menjadi gerbang menuju Surga.
"Tebakanmu memang benar, Michael-san. Aku tak pernah menyangka jika Surga adalah tempat yang sangat indah dan penuh ketentraman seperti ini," Naruto akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya mengikuti Michael –masuk ke Surga. Sesekali pemuda pirang itu menghirup udara yang tersaji di tempat tersebut "Segarnya," gumamnya.
Sementara beberapa Malaikat yang berlalu lalang disana atau hanya untuk melihat siapa yang datang bersama Sang Pemimpin Malaikat itu, akhirnya berkumpul membentuk beberapa gerombolan kecil. Pandangan mereka tertuju pada manusia –yang pada dasarnya bukan malaikat memiliki aura yang sangat suci, aura tersebut terpancar dari tangan kanan pemuda tersebut.
"Seperti janjiku tadi, sebenarnya semua yang tinggal disini adalah Malaikat baik itu Archangel maupun Malaikat reinkarnasi. Kami memiliki tugas masing-masing untuk terus mengurusi umat manusia, tak peduli baik atau jahat karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang sama," jelas Michael yang membuat acara Naruto memperhatikan dan mengagumi tempat tersebut langsung buyar seketika.
"S-semuanya yang ada disini adalah Malaikat, berarti kau juga-"
"Aku pemimpin para Malaikat," potong Michael sambil melirik kearah Naruto yang berada di belakangnya.
'P-pantas saja auranya berbeda dari yang lainnya,' ucap Naruto dalam hatinya saat mengetahui jika pria yang ada dihadapannya ini adalah pemimpin para malaikat yang notabenenya mereka adalah makhluk yang sangat suci.
Langkah kakinya tiba-tiba terhenti saat Michael –yang ada di depannya- sudah berhenti tepat di depan sebuah tempat yang seluruh bagian bangunannya dicat berwarna putih, pintu ganda besar yang terbuat dari emas dihiasi dengan ukiran-ukiran kuno sehingga memperindah pintu tersebut "I-ini tempat apa?" tanya Naruto sambil terus memperhatikan seluk beluk bangunan tersebut.
"Ini adalah tempat dimana para pemimpin Malaikat berkumpul untuk memberikan tugas kepada Malaikat bawahannya, mengawasi dan memperhatikan apa yang manusia lakukan, dan juga tempat ini menjadi pusat Surga itu sendiri," jelas Michael yang juga melakukan hal yang sama dengan Naruto memperhatikan struktur bangunan tersebut.
"Souka na...?" gumam Naruto yang tidak bisa berhenti untuk mengagumi tempat ini.
Kriiieeet!
Pintu ganda tersebut akhirnya terbuka kearah dalam dengan sendirinya seperti mempersilahkan untuk Michael dan Naruto masuk ke dalam tempat tersebut "Sebaiknya kita masuk, Naruto-kun. Aku akan memperkenalkanmu pada yang lain dan menjelaskan semuanya seperti yang diperintahkan Shinigami-sama," ucapnya dengan lembut.
"A-ah, sebaiknya kau duluan saja, Michael-san. Tidak enak jika aku yang masuk duluan," entah kenapa Si Pirang itu sekarang lebih pemalu dari sebelumnya, apa karena dirinya sekarang sedang dihadapkan dengan pemimpin para malaikat sehingga dirinya tak pantas mendahuluinya? Ataukah dia malu karena semua yang ada di tempat ini adalah Malaikat selain dirinya?
Michael mengangguk pelan lalu melangkahkan kakinya memasuki tempat tersebut "Ayo masuk, Naruto-kun," permintaan yang termasuk perintah tersebut akhirnya dituruti oleh sang pemilik nama dan mengikutinya masuk ke dalam tempat tersebut.
Cahaya emas yang berasal dari lampu besar yang tergantung di sepanjang koridor tepat tersebut memanjakan indra penglihatan milik Naruto, meskipun dirinya harus bersikap biasa-biasa saja tapi rasa keterkaguman dalam hatinya tak bisa dibohongi. Dia pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri acara mengaguminya dan mengikuti kemanapun pemimpin Malaikat itu melangkah.
"Ah, selamat datang kembali, Michael-Nii."
Suara yang terkesan lembut dan feminim menyapa pendengarannya membuat pemuda bersurai pirang jabrik itu sedikit tertarik untuk menoleh kearah dari mana suara itu berasal, iris matanya melebar sesaat melihat perempuan bersurai pirang panjang bergelombang disertai dengan lingkaran emas diatas kepalanya memakai baju zirah yang sama seperti Michael ditambah dengan dada perempuan itu terbilang hampir menyamai Tsunade Senju –Sang Gondaime Hokage membuatnya malah teringat dengan wajah mesum Jiraiya.
Naruto menggelengkan kepalanya dengan cepat 'Sialan kau, Ero-Sennin! Setidaknya jangan tinggalkan sifat mesummu ini padaku sebelum kau mati,' dia berpikir jika apa yang dipikirkannya saat ini adalah buah dari penelitian bejad gurunya dulu waktu mereka pergi selama dua tahun dari Desa Konoha untuk berlatih.
"Kebetulan kau ada disini, Gabriel," ucap Michael sambil memandang kearah perempuan yang bernama Gabriel itu.
"Um, memangnya ada apa, Michael-Nii? Dan siapa dia?" tanya Gabriel dengan matanya yang terus memperhatikan Naruto dari ujung kaki sampai ujung rambutnya 'Dia memiliki aura seperti Ayah, tapi tidak mungkin jika dia adalah Ayah,' batin Gabriel dengan raut bingung tercetak di wajahnya.
"Perkenalkan... Namanya Uzumaki Naruto-kun, dia adalah orang yang dibicarakan oleh Shinigami-sama dulu," ucap Michael dengan salah satu tangannya menunjuk kepada Naruto tetapi pandangannya masih tertuju pada Gabriel.
Sementara orang yang ditunjuk oleh Michael sudah membungkukan badannya kearah Gabriel "U-uzumaki Naruto, salam kenal, Gabriel-san," baru kali ini dia merasakan gugup yang amat luar biasa, di hadapannya sekarang adalah Malaikat tercantik di Surga. Jadi, rasa seperti itu pasti muncul tiba-tiba.
"J-jadi...?" terselip rasa ketidakpercayaan setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Michael –yang sudah dia anggap seperti kakak- tapi dengan segera dia menampik rasa tidak percaya itu dan tersenyum dengan manisnya kearah Naruto "Selamat datang di Surga, Naruto-kun. Namaku Gabriel," Malaikat tersebut akhirnya sedikit membungkukan badannya demi membalas apa yang dilakukan Naruto.
"Sekarang ikut aku, Naruto-kun. Aku juga akan mengenalkanmu pada yang lainnya dan kau juga ikut, Gabriel," Michael sendiri sudah melangkahkan kakinya mendahului kedua makhluk yang berbeda ras itu di belakangnya.
""Baik, Michael-san/Michael-Nii,"" jawab Naruto dan Gabriel secara bersamaan lalu melangkahkan kaki sepanjang koridor panjang tersebut.
Tak ada obrolan lagi yang terdengar baik dari Naruto, Gabriel ataupun Michael sekarang ini, hanya gesekan dan hentakan alas kaki pada permukaan keramik koridor tersebutlah yang terdengar. Naruto sendiri sudah tenggelam dalam pikirannya, dia hanya khawatir jika Sasuke malah belum sadar lalu membunuh kelima Kage dan memanfaatkan kekuatan para Bijuu lagi untuk mencapai tujuannya membuat revolusi pada Dunia Shinobi 'Aku tak akan memaafkanmu jika itu sampai terjadi, Teme!' geramnya dalam hati.
"Silahkan duduk, Naruto-kun," perintah dari pemimpin para Malaikat itu akhirnya membuyarkan semua lamunan yang sempat tercipta di dalam otak Naruto sebelumnya, sekarang dirinya sudah berada di ruangan yang cukup besar dengan meja persegi panjang mewah di tengah ruangan tersebut. Disana juga terdapat dua malaikat lainnya selain Michael dan Gabriel.
Pemuda pirang jabrik itu'pun akhirnya mendudukan pantatnya pada kursi yang terlihat sangat mewah bahkan untuk dudukannya saja terbuat dari busa yang sangat elastis, sepertinya menyenangkan juga tinggal di Surga dengan semua kemewahan ini.
"Jadi, kau tahu 'kan kenapa Shinigami-sama memerintahkanmu kesini?" tanya Michael yang sudah duduk di kursi yang terletak di bagian ujung meja tersebut, senyuman masih terpatri di bibirnya.
Naruto hanya menganggukan kepalanya perlahan "Ya, karena aku menerima perjanjian dengan Shinigami-sama. Lagipula dunia ini sepertinya menarik dan aku ingin mengetahui apa yang terjadi di dunia ini sehingga diriku harus mengikat janji dengan Dewa Kematian itu?" ujar Naruto dengan tanda tanya besar di dalam otaknya.
"Hmm, baiklah. Dahulu kala terjadi peperangan sangat besar sehingga melibatkan ketiga Fraksi Akhirat –Iblis, Malaikat Jatuh dan Malaikat...,"
"Aku baru mendengar makhluk yang bernama Malaikat jatuh? Dan kenapa Malaikat seperti kalian juga ikut berperang?"
"Malaikat jatuh adalah Malaikat yang dulunya sempat tinggal di Surga tetapi dia malah membangkang kepada Ayah sehingga Ayah terpaksa mengutuknya dengan membuat sayap mereka hitam seperti bulu gagak dan mereka juga diusir dari Surga karena Ayah tak mau jika Surga kacau oleh ulah para pembangkang, semakin lama jumlah Malaikat Jatuh semakin banyak dan mereka memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang baru selain Surga, lalu pilihan itu jatuh pada Neraka yang ditempati para Iblis...
Perebutan kekuasaan pun terjadi sehingga pertikaian dan pertumpahan darah pun tak terelakan lagi antara kedua ras tersebut, kami –Para Malaikat berusaha untuk melindungi manusia dari dampak buruknya perang tersebut tapi malah kami juga yang terseret ke dalam peperangan tersebut. Ayah dan semua Malaikat berusaha menghentikan peperangan tersebut...
Tapi keadaan semakin memburuk setelah dua Naga Surgawi –Albion dan Ddraig, Sang Naga Penghancur –Trihexa [666], dan semua ras ikut memanaskan peperangan tersebut. Ayah geram dengan keadaan tersebut, akhirnya menyegel dua Naga Surgawi itu dalam bentuk [Sacred Gear] dan Sang Naga Penghancur di ujung alam semesta...
Tuhan –Ayah kami semua mati dalam peperangan tersebut..."
Mulut Naruto menganga lebar saat mendengar kalimat terakhir yang Michael katakan padanya "Ka-kami-sama... Mati?" beo Naruto dengan raut terkejut terlihat di wajahnya, dia tak menyangka jika dampak peperangan di dimensi ini malah lebih parah daripada di dunianya.
Iris biru lautnya sedikit melirik kearah Gabriel yang menundukan kepalanya karena penciptanya sendiri sudah tiada di dunia ini, hatinya memang terasa sangat sedih saat mendengar kenyataan pahit itu. Tapi mau bagaimana lagi, Tuhan atau Kami-sama itu memang sudah tak duduk lagi di singgasana-Nya.
"Maaf membuat kalian harus mengingat kenangan pahit seperti itu lagi," kata Naruto yang merasa bersalah kepada semua Malaikat yang ada di dalam ruangan ini "Tapi, aku yakin jika Kami-sama tak mungkin mati, karena jika dia mati maka otomatis semua alam semesta ini akan hancur," lanjutnya dengan diiringi senyum lebarnya.
"Kami juga selalu berharap seperti apa yang kau katakan tadi, Naruto-kun," balas Michael menanggapi pernyataan Naruto.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu, tapi sebelumnya kau bisa memanggilku Raphael," pria berambut coklat agak keriting itu mulai angkat bicara dengan iris matanya menatap kearah pemuda pirang yang duduk tak jauh darinya "Kenapa kau memiliki aura suci seperti kami, padahal kau sendiri bukanlah malaikat?" tanya Raphael.
Naruto menganggukan kepalanya tanda mengerti dengan maksud dari pertanyaan Malaikat keriting tersebut "Um, aku juga belum mengetahuinya dengan pasti tapi Shinigami-sama mengganti tangan kananku yang sempat putus karena pertarungan terakhirku dan tangan ini justru seperti memiliki kekuatan," jelas Naruto sambil menatap tangan kanan barunya.
Keempat malaikat itu akhirnya mengangguk mengerti dengan penjelasan yang diutarakan oleh Naruto "Sepertinya Shinigami-sama memang memberimu hadiah atas kerja kerasmu di duniamu sebelumnya dan kita juga seharusnya memberimu hadiah, Naruto-kun," ucap Michael dengan senyum kembali.
Kelopak matanya mengerjap beberapa kali saat mendengar jika pemimpin Malaikat itu ingin memberikan hadiah padanya...
"Ya, aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Michael-Nii."
"Hmm, aku sependapat denganmu."
"Aku juga setuju, tapi itu tergantung padanya saja."
Iris mata yang sebiru lautan itu menatap kearah Gabriel yang pertama kali menyetujui usulan dari Michael sekaligus kakaknya itu, pandangannya kembali teralih pada Raphael yang juga menganggukan kepalanya lalu perhatiannya berakhir pada pria bersurai pirang yang menantang gravitasi dengan matanya yang menatap minat kearah Naruto.
Naruto masih tak mengerti dengan apa yang mereka diskusikan meskipun Naruto tahu jika semua pernyataan mereka ini adalah hal yang sangat baik tapi jika tak tahu apa yang mereka bahas, maka sama saja firasat baik itu malah teragukan oleh dirinya.
"Naruto, kau harus mengetahui ini terlebih dahulu. Dikarenakan jumlah anggota dari semua Fraksi Akhirat berkurang karena Perang Besar itu, maka masing-masing dari Fraksi berniat untuk memperbanyak jumlah mereka dengan cara yang berbeda-beda...
Pihak Iblis bisa mereinkarnasikan manusia atau makhluk lainnya dengan menggunakan [Evil Piece] yang mengadopsi permainan catur...
Sedangkan Malaikat Jatuh menunggu sampai ada salah satu dari kami jatuh atau menikahi manusia sehingga bisa menghasilkan keturunan yang memiliki kemampuan Malaikat Jatuh tersebut...
Dan kami –Malaikat mereinkarnasikan manusia atau makhluk lainnya menggunakan sistem [The Brave Saint] yang mengadopsi seperangkat Kartu Bridge," jelas Michael panjang lebar.
"Lalu kenapa Michael-san memberitahukan itu padaku?" tanya Naruto dengan raut masih terlihat bingung saat mendengarkan penjelasan dari Michael, walaupun sebagian sudah bisa diserap olehnya. Terkadang otaknya yang bekerja lambat sering berfungsi di waktu yang tidak tepat.
"Kami ingin menjadikanmu salah satu anggota dari [The Brave Saint] sekaligus mereinkarnasikanmu menjadi Malaikat, Naruto-kun," jawab Gabriel sambil menatap kearah Naruto disertai dengan senyum manisnya yang bisa membuat siapa saja akan langsung jatuh cinta padanya.
"Heh?!" teriakan kekagetan keluar dari mulut pemuda bersurai pirang tersebut, dia tak menyangka jika tawaran seperti itu akan melayang padanya. Mungkin dijadikan Malaikat memang keimpian bagi sebagian makhluk, tapi ini kasus yang berbeda bagi Naruto.
"Aku memegang kartu Daun, Gabriel memegang kartu Hati, Raphael memegang kartu Keriting dan Uriel memegang kartu Wajik," ucap Michael sambil menyebut dan memandang satu per satu para petinggi Malaikat tersebut "Sekarang kau tinggal memilih ingin direinkarnasikan oleh siapa? Kami juga tak punya hak untuk memaksamu?" lanjut Sang Pemimpin Tertinggi Malaikat tersebut.
Lidah Naruto seakan kelu dan kedua bibirnya terasa terkunci dengan rapat, gerakan bibirnya yang membuka-menutup membuatnya malah seperti ikan yang kekeringan. Dia memang sangat shock karena tiba-tiba saja diminta untuk menjadi Malaikat reinkarnasi, bahkan dirinya belum genap satu hari di Surga ini.
Lalu apakah Naruto akan setuju dengan apa yang diusulkan oleh keempat petinggi Malaikat tersebut? Dan siapa yang akan dipilihnya? Sebenarnya kekuatan tersembunyi apa yang dimiliki oleh tangan baru Naruto?
[To Be Continued]
A/N: Salam kenal semuanya, Saya Author baru dengan ceritanya yang absurb. Maaf jika semua yang ada diceritanya tidak sesuai dengan di Anime sebenarnya (Canon). Silahkan saja jika ingin mengkritik ataupun mem-flame cerita saya ini, saya tahu jika saya belum kemampuan apapun dalam bidang tulis menulis, tapi semoga saja kritik dan flame yang datang nantinya akan menjadi pelajaran untuk saya dan membuat cerita yang saya bawakan menjadi bagus daripada ini...
Sekali lagi... Saya hanya ingin mengucapkan "Salam kenal saja bagi semuanya...!"...
