Keran ditutup, gemericik suara air terhenti. Wonwoo membuka pintu kamar mandi, keluar dari sana dibalut celana pendek dan kaos oblong abu-abu, handuk biru kecil tersampir dilehernya. Dia melangkah menuju singgasananya, namun tangannya segera ditarik oleh Mingyu yang sedang berbaring, membawa tubuh kurus itu keatasnya.
Wonwoo menggerutu, hidungnya mendarat cukup keras pada dada Mingyu.
Manik Mingyu melirik jam dinding yang jarum pendeknya mengarah pada angka dua. Telapak tangannya terangkat menyentuh pipi Wonwoo yang ditetesi air dari helaian rambutnya. Lalu meraih handuk dileher Wonwoo, mengeringkan rambut hitam yang masih basah dengan lembut.
"Kalau tadi kita mandi bersama pasti akan selesai lebih awal."
Sikut bertumpu pada dada Mingyu, Wonwoo memangku dagunya.
"Sebaliknya, malah lebih lama."
Mingyu terkekeh kemudian melempar handuk kelantai. Mulut Wonwoo terbuka ingin protes, namun tertahan.
"Tunggu," yang dibawah mengendus-endus "kau memakai sampo ku?"
Wonwoo menampilkan deretan giginya, "punyaku habis."
"ey.." rambut basah dielus. "nanti kita beli bersama."
Mengangguk, Wonwoo hendak bangun dari sana, namun Mingyu segera membalikan posisi mereka. Mengurung tubuh kurus dibawahnya.
Menghabiskan waktu saling memandang, berharap pagi tidak pernah datang. Dada menghentak seiring detakan jantung yang menggila. Mereka sudah saling memilih, berusaha yakin bahwa itu yang terbaik. Berusaha menyingkirkan sejenak rasa bersalah yang menghajar hati. Sebentar, ingin menyelam dalam dunia mereka sendiri. Berdua saja.
Berat tubuh Mingyu menghangatkan badan Wonwoo seperti secangkir coklat hangat, sorot mata yang menenggelamkan, kulit kecoklatan yang memikat berpadu dengan kulit putih susu miliknya.
Pernah Mingyu meyakini jika suatu saat nanti pasti akan ada yang lebih mempesona dibanding rembulan penuh yang suka ia pandang. Jauh lebih indah dan cantik. Dan kini ada didepan matanya.
Mingyu menyusuri wajah Wonwoo dengan bibirnya, menghirup aromanya, bermuara dari dahi turun ke kelopak mata, tonjolan tulang pipi tirus, ke ujung hidung yang lancip, lalu sudut bibir pucat, berhenti di dagu yang menggaris tegas. Baginya, Wonwoo adalah morfin, candu yang tak terelakan. Membuatnya lepas dari logika.
Sementara Wonwoo diam membatu, tidak yakin dengan apa yang harus diperbuatnya. betapa Mingyu mampu menguasainya, ia kehilangan arah, hanya Mingyu yang mampu membawanya keluar dari siksaan manis ini. Tidak ada seorang pun bisa menariknya seperti ini, selain Mingyu.
Tangan Mingyu bergerak kedalam baju Wonwoo, menyentuh permukaan kulit perutnya yang hangat, jemarinya terus menyusuri keatas.
Wonwoo tetap bergeming. Mingyu menghentikan gerakannya.
Pemuda tan mengamati Wonwoo-nya, menyentuh dahinya dengan telunjuk, alis nya bertaut heran.
"Kau kenapa?"
"Aku sedang berpikir."
"Apa yang kau pikirkan?" untuk kali ini Mingyu membiarkan dirinya bertanya, tidak ingin menduga dan berprasangka buruk.
Wonwoo menatap maniknya dalam.
"Apa kau melakukan ini juga pada Hani?" pertanyaan itu mengalun getir dari bibir pucatnya.
Mingyu tercenung, cukup tersinggung nama Hani menggantung diantara mereka. Tapi dia sadar Wonwoo bukan sedang menginterogasi, pemuda itu cuma perlu penjelasan.
"Tidak sejauh ini."
"Oh." Hatinya entah kenapa merasa ngilu.
"Wonwoo, itu hanya masa lalu." Mingyu menyentuhkan kedua ujung hidung mereka.
"Memang pada awalnya kita hanya sebatas saling memuaskan diri." Jawab yang lebih tua pelan menyakitkan.
Mingyu mengangkat tubuhnya dari tubuh Wonwoo dengan bertumpu pada kedua tangannya. Sangat tegas dia menyingkir, lalu duduk bersila di samping Wonwoo, membelakanginya.
"Kau tahu sekarang aku punya perasaan khusus untukmu." Mingyu mengatakan dengan tajam, ingin menembus dinding hati Wonwoo, membuatnya tak lagi meragukan keputusan Mingyu. Ingin berteriak disana, bahwa perasaan untuk Wonwoo membuat dirinya tidak rasional, membuatnya gila, hilang arah. Mingyu tersesat didalamnya. Yang berarti, Wonwoo masih ragu. Hatinya serasa ditikam.
Wonwoo menggigit bibir bawahnya. Menatap punggung Mingyu penuh sesal. Ia merutuki dirinya yang bodoh, yang tak bisa mengambil sikap dengan tepat, tak bisa menjaga perkatannya. Yang terus saja melukai hati Mingyu. Ia benar-benar ingin dihajar.
Pemuda itu mengikuti pemuda di sampingnya, bangkit, duduk dengan gaya yang sama. Wonwoo bingung harus bagaimana. Tubuh Mingyu begitu menggoda untuk dipeluk, tapi ia malu. Dia sudah merusak suasana diantara mereka, menyakiti pemuda didepannya. Namun Wonwoo muak dengan keheningan yang mencakar-cakar. Ia memberanikan diri.
Bertumpu pada kedua lututnya, ia memeluk leher Mingyu dari belakang, menempelkan dadanya pada punggung lebar yang dilapisi kaos putih tipis.
"Aku minta maaf, aku benar-benar bodoh, tak tahu diri, egois, tak peka, tak berpe-"
"Wonwoo…" tangan yang melingkar dicengkram pelan, Mingyu bisa merasakan bahunya basah. "Aku mengerti." Lembut, membuat pikiran Wonwoo berangsur tenang. Tangannya dituntun menuju dada kiri Mingyu. Dia merasakan degupan yang keras, cepat, namun beraturan.
"Aku bisa merasa damai dan tak waras disaat bersamaan," Mingyu mengaitkan tangan mereka, mengecup punggung tangan Wonwoo "itu hanya karena mu."
Wonwoo merasa bunga sakura berguguran dipipinya. Dia mengeratkan dekapannya. Berterimakasih pada takdir yang telah mempertemukannya dengan Kim Mingyu.
.
.
Mingyu adalah objek yang pertama kali memenuhi pandangannya saat ia membuka mata. Wonwoo tersenyum, tangannya bergerak ke wajah sang pangeran tidur, menyingkirkan juntaian poni yang menghalangi sampai ke bawah alis. Mengamati wajah terlelap itu dengan kelegaan hati.
Beruntung Wonwoo masuk kelas siang hari ini, dia bisa menambah jam tidurnya yang hanya tiga jam. Dia menepuk-nepuk pipi Mingyu, berkali-kali mengingatkan untuk sekolah.
Mingyu akhirnya sadar, dia menghentikan tangan Wonwoo. Matanya membuka secara perlahan.
"Siap, yeobo~" dengan cepat Mingyu menempelkan kedua bibir mereka. Telinga Wonwoo langsung memerah, dia menarik hidung Mingyu keras.
"Yak!"
"Aw aw, lepaskan Wonwoo ampun." Tak kunjung dilepaskan, Mingyu menggunakan tenaganya, menindih Wonwoo kemudian menggeletiki pinggangnya. Kalau sudah seperti ini Wonwoo kalah, dia tak bisa membalas jika diserang dibagian sana.
Handphone Wonwoo berdering. Keduanya seketika menghentikan kegiatan absurd mereka.
Wonwoo tahu siapa yang menghubunginya pagi-pagi begini.
Dia menatap manik Mingyu.
"Aku akan bicara dengan Ara hari ini."
.
.
Wonwoo menarik napas panjang berkali-kali, dia sudah sampai di kafe dekat sekolah Ara. Mereka berdua berjanji akan bertemu disana. Dia merasa nervous dan tegang. Sudah dua minggu lebih Wonwoo tidak bertemu dengan kekasihnya itu. Dan disaat melepas kerinduan, dia dengan kejamnya akan mengakhiri hubungan mereka.
Nyaring lonceng berbunyi, pintu kafe terbuka, seorang gadis cantik innocent masuk ke dalam, memindai mencari seseorang. Mata bulatnya beradu dengan mata rubah Wonwoo, senyumnya mengembang.
Wonwoo menatap kekasihnya berkaca-kaca. Gadis itu tersenyum lebar menghampirinya, wajahnya berseri-seri dipenuhi kesenangan. Wonwoo merasa tak tega jika harus menghancurkan senyum itu.
Ara menarik kursi dihadapannya, duduk manis disana. Dia memangku dagunya dengan kedua tangan, terus tersenyum sambil menatap Wonwoo.
"Kau tidak tahu betapa aku merindukanmu Wonu-ya."
Wonwoo berusaha mengatur ekspresi. Pemuda itu pun tersenyum.
"Kau juga Ara, kau tidak akan pernah tahu sebesar apa aku merindukanmu."
Pipi Ara bersemu merah, dia mengalihkan pandangannya dari Wonwoo.
"Rasa rinduku pasti lebih besar."
Wonwoo mengacak surai kecoklatan sebahu Ara, mereka tersenyum satu sama lain. Ara begitu gembira kontradiktif dengan senyum Wonwoo yang didominasi kegetiran.
Mereka berbincang-bincang banyak hal sambil menikmati makanan, tak jarang keduanya bergelak tawa, saling berbagi skinship dan menyuapi. Topik pembicaraan meloncat-loncat, dari sulitnya ujian akhir semester sampai obrolan tentang grup rookie yang sedang naik daun.
Wonwoo walaupun sebentar, merasakan ketenangan. Merasa jika salah satu beban yang menindih kepalanya diangkat.
Mereka keluar dari kafe, berjalan ke tempat selanjutnya. Berpegangan tangan. Tak lama, keduanya sampai di taman kota yang tidak begitu ramai.
Ara menarik Wonwoo menuju ayunan tunggal yang bersebelahan. Mereka menduduki ayunan masing-masing.
Wonwoo menatap sendu Ara yang sedang berayun pelan.
Raut wajah kekasihnya begitu gembira. Apa dirinya sanggup menghancurkan itu?
"Wonu-ya, aku senang sekali hari ini."
Wonwoo merasa matanya berair, dia menggigit bibir bawahnya, menenggakan kepala, menahan agar air di pelupuk matanya tak menetes.
Pada akhirnya, bagaimanapun, Wonwoo harus melakukannya. Itu lebih baik daripada harus terus membohongi gadis baik itu. Ara tidak boleh terus disimpan dihatinya yang sudah dipenuhi racun. Ara tak pantas menerimanya. Gadis sebaik Ara harus menemukan lelaki yang jauh lebih baik darinya, yang bisa menghargai cinta Ara dan menghargai betapa berharganya dirinya. Dan itu bukanlah Wonwoo, si brengsek yang mempermainkan ia dibelakang.
"Ara…"
Gadis itu menoleh.
Wonwoo mengepalkan tangannya keras-keras.
"Kita harus mengakhiri hubungan ini."
Detak jantung Ara yang tadinya berlari, terpacu karena bahagia menemui sang kekasih, kini melambat, membunuhnya pelan-pelan dalam rasa sakit dengan takaran yang gila.
"K-kenapa tiba-tiba?"
Jeda yang pahit serasa mencabik-cabik.
"Wonu katakan."
"Ada orang lain." Suaranya pecah, bibirnya bergetar.
Dan saat itu Ara merasa hatinya menerima penyiksaan terjahat yang pernah ada.
"Aku pikir kamu masih mencintaiku,"
Cinta itu begitu hebat, bisa membuat hari berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya merubah hari menjadi buram padahal dunia sedang terang benderang.
"tapi kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa aku tak cukup untukmu."
Namun bagaimanapun, Ara tak bisa meminta Wonwoo untuk tetap bersamanya.
"Aku tahu ini akan terjadi."
Pemuda itu sudah punya pilihan yang lain. Sangat menyakitkan jika memohon agar seseorang tetap disisimu padahal kau sudah dibuang dari hatinya.
"Jadi aku tidak menyalahkanmu karena jatuh hati pada yang lain. A-aku tidak marah."
Buliran bening yang pilu menuruni pipi mereka berdua.
"Ha-harusnya aku marah, tapi entah kenapa aku tak bisa Wonu."
Ara terisak keras. Wonwoo mematung, dia merasa menjadi lelaki yang sangat brengsek.
"Aku hanya merasakan sakit. Sa-sakit yang teramat sangat."
Tidak ada yang lebih sakit selain dikecewakan oleh seseorang yang kita pikir tak akan pernah menyakiti kita.
Ara sudah tak tahu seperti apa perasaannya sekarang.
"Sebelumnya, aku pikir aku bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya. Ta-tapi aku salah... Aku tak tahu kalau akan sebegini menyiksa."
Ada perlukaan baru di hati Wonwoo yang terasa begitu pedih saat mendengar ucapan Ara.
Wonwoo tidak tahu mengapa dadanya menjadi sesak.
"Ara maafkan aku."
Bahkan meminta maaf pun Wonwoo merasa salah. Apa yang harus ia lakukan. Dia ingin menghapus penderitaan Ara karena dirinya.
"Jadi ini adalah kencan terakhir kita ya." Suaranya begitu parau. Ara harus menerima, meski tak rela.
Wonwoo ingin pergi, tak sanggup melihat Ara seperti ini. Dia adalah lelaki menyedihkan, lelaki kurang ajar, keji.
"Ara, suatu saat nanti kau pasti akan menemukan seseorang yang melihatmu seakan-akan kamu adalah hal yang terhebat didunia."
.
.
Mingyu berdiri didepan pintu dengan gelisah. Ini sudah pukul duabelas malam lebih dan roommate nya belum kunjung datang. Nomornya tidak aktif. Pemuda itu gusar, dia tahu jika sore tadi Wonwoo menemui Ara. Pikiran Mingyu berkecamuk.
"Sial."
Dia menyambar jaketnya yang tergantung, lalu keluar dari kamarnya dengan cepat. Setelah izin kepada petugas asrama, Mingyu langsung berlari.
Pertama, dia datang ke sekolah, mencari ditempat-tempat tertentu. Namun sia-sia, Wonwoo-nya tak ada disana. Napas terengah-engah, Mingyu masih lanjut berlari, ke taman favorit Wonwoo, ke jembatan, ke tempat manapun yang berkemungkinan jika Wonwoo ada disana.
Sudah satu jam, Mingyu frustasi. Dia mencoba menghubungi Wonwoo lagi.
Seakan ada malaikat penolong, nomornya aktif. Dibunyi keempat, telepon diangkat.
"Halo…" suara berat yang sangat lemah.
"Wonwoo kau dimana?" Mingyu sedikit panik.
"Aku… dimana?"
"Jeon Wonwoo!"
"Tunggu sebentar, aku ditaman bermain kanak-kanak, diatas gundukan pasir."
"Taman kanak-kanak mana?"
"Di–"
Tunggu, aku tahu.
Mingyu menutup panggilannya, segera berlari cepat menuju lokasi dimana Wonwoo berada.
Tak lama, Mingyu melihat tubuh tinggi berbaring diatas sekotak besar pasir tempat bermain. Dia mempercepat larinya. Pemuda yang berbaring terduduk melihat kedatangan Mingyu, matanya berbinar.
Mingyu langsung memeluk Wonwoo erat begitu sampai disana. Yang lebih kurus kewalahan menahan berat badannya. Punggung Wonwoo mendarat lagi pada pasir putih yang halus.
"Bodoh, kenapa tak pulang ke asrama?" Mingyu mengencangkan dekapannya.
"Aku tak tahu… aku tak tahu lagi apa yang salah dengan diriku."
Mingyu memejamkan mata khawatir. Ternyata Wonwoo-nya lebih rapuh dari yang ia kira. Memutuskan kekasihnya bisa membuat ia sekacau ini.
Pelukan dilepaskan, Mingyu menatap mata Wonwoo yang sembab. Perlahan, mata rubah yang terpejam dikecup.
"Semuanya akan baik-baik saja. Aku disini."
Kata-kata itu bagaikan obat penawar untuk hatinya yang kacau, pikirannya yang tak tenang.
Air mata Wonwoo jatuh, dia menarik tengkuk Mingyu mendekat, mengambil napas dalam dilehernya, bau kesukaannya. Hutan pinus setelah hujan yang menenangkan.
Wonwoo berusaha menyingkirkan kejadian sore tadi dari pikirannya. Dia menghirup lagi. Berharap bayangan Ara yang menangis terluka bisa terhapus oleh aroma Mingyu.
Tangan Mingyu menyelinap masuk ke dalam kemeja Wonwoo. Pemuda rubah terlonjak.
"Hanya punggung saja." Mingyu mengecup lehernya.
Jari-jari itu kembali melakukan kegiatannya, dari pinggang bergerak keatas.
Tangannya menekan setiap tulang belakang, terus keatas. Mengusap perlahan.
Tubuh Wonwoo sedikit melengkung.
"Mingyu."
Jemari itu mengusap lagi, ke pinggiran tubuh, lalu kembali ke belakang.
"Disini tulang belikat." Bibirnya menyentuh telinga Wonwoo "Bekas sayapmu yang patah karena jatuh ke bumi."
Pipi Wonwoo merah padam.
"Sudah, geli."
Mingyu tak berhenti, dia terus menggerakan tangannya. Kembali ke bawah.
"M-mingyu…"
Wonwoo menggigit bibir bawahnya.
"Geli huh?"
Pemuda rubah mengangguk.
"Hanya geli ya?"
Mingyu mengalihkan usapannya ke bagian samping tubuh Wonwoo, menyusur ke atas, sampai ditulang belikat, jari-jari nakal itu berjalan ke bagian depan, menyentuh dua tonjolan bulat kecil.
"Ah…"
Sial.
Wonwoo memukul kepala Mingyu cukup keras.
"Hentikan." Wajahnya bagai tomat masak.
Bibir Mingyu tersungging, dia menarik tangannya dari sana.
"Ey~ apa itu tadi?"
"A-aku hanya kelepasan." Dia mendorong tubuh Mingyu dari atasnya, duduk lalu membenarkan bajunya.
"Benarkah?" Wajah evilnya mendekat.
Wonwoo berdiri, "K-kita pulang saja." Kemudian langsung berjalan cepat.
Mingyu tertawa, dia segera berlari menyusul dan merangkul pundak Wonwoo.
.
.
"Wonwoo kau akan melanjutkan ke universitas mana?"
Jihoon dan Wonwoo berjalan dikoridor dengan membawa setumpuk buku dari perpustakaan.
"Aku, di Seoul."
Topik pembicaraan seputar universitas sedang laku diantara para murid kelas tiga yang sebentar lagi menerima pengumuman kelulusan.
"Tidak bersama Mingyu?"
"Sayangnya tidak."
"Yakin tidak mau bersama?"
"Tujuan kita berbeda, harus bagaimana. Lagi pula kita bisa bertemu dihari libur. Kita juga harus diuji dengan jarak."
Jihoon geleng-geleng kepala, "Kau pasti akan merindukan sentuhannya." Satu alisnya terangkat naik menatap Wonwoo. Kepala pirang mungil dikecup oleh buku tebal, Jihoon membalas.
.
.
Hari pengumuman kelulusan tiba, Mingyu dan Wonwoo berdiri bersisian berdesakan dengan siswa yang lain didepan mading. Ada yang berteriak senang, menangis haru, ada pula yang terduduk lemas.
Nama Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu terpampang disana, diantara barisan nama siswa lain yang dinyatakan lulus.
Keduanya berpelukan bahagia, tak peduli meski tersenggol dan diprotes oleh siswa lain untuk menyingkir.
Mingyu menggenggam tangan Wonwoo, berlari keluar sekolah menuju asrama mereka. Wajah keduanya dihiasi oleh senyum yang cerah.
Sampai dikamar, Mingyu langsung mendorong Wonwoo ke pintu, tangannya melingkar dipinggang kurus pemuda itu. Dahi mereka dirapatkan.
"Selamat untuk kita." Ucap Wonwoo.
"Tapi setelahnya kita tak bisa tidur bersama lagi." Mingyu menyentuhkan hidung mereka.
"Kita harus menerima ujiannya."
Mereka menyentuhkan bibir. Telapak tangan Mingyu mengusap pipi Wonwoo, memperdalam ciuman. Keduanya tersenyum, siap menghadapi masa depan. Menghadapi jarak yang menguji.
"Wonwoo, cepat ganti baju."
"Untuk apa?"
"Kencan, ke tempat yang ingin kau kunjungi dari dulu."
.
.
"Mingyu…"
"Yah… sudah hentikan terimakasihmu itu."
Mingyu mengacak rambut hitam pemuda disampingnya. Mereka berjalan beriringan memasuki Sea World –tempat yang sangat ingin Wonwoo kunjungi.
Kini mereka berada dipertunjukkan lumba-lumba, keduanya bertepuk tangan menyaksikan kecerdasan hewan air bemulut panjang tersebut. Mingyu diam-diam mencuri ciuman dari Wonwoo. Namun pemuda itu tak merespon, dia lebih fokus pada penampilan lumba-lumba yang melompat tinggi dikolam.
Mingyu tertawa pelan.
Wonwoo sangat semangat menarik Mingyu kesana-kemari, sekarang mereka berada di akuarium raksasa, menyaksikan ikan-ikan ukuran besar didalam kotak kaca yang super besar. Wonwoo tak hentinya berdecak kagum, matanya berbinar penuh kegembiraan.
Mingyu ikut senang melihat rubah manisnya tersenyum bahagia.
Dia meraih dagu Wonwoo dengan telunjuknya, membuat wajah mereka berhadapan.
"Wonwoo…"
Mingyu mempunyai sebuah perasaan yang tertanam dihatinya untuk Wonwoo, dan perasaan itu semakin besar dari waktu ke waktu. Ini bukan hanya sekedar rasa keinginan kuat untuk memilikinya. Ini sesuatu yang lebih dalam, lebih tulus dan indah.
"Aku mencintaimu."
Cinta. Biarkan Mingyu ditarik olehnya, tenggelam didalamnya. Menikmati manis dan pahit lalu dibawa oleh arusnya.
Cintanya adalah Wonwoo. Yang sekarang menatapnya berkaca-kaca.
"Terimakasih, Mingyu."
Terimakasih… ya.
Tanpa sadar, mata Mingyu berair.
.
.
Mereka sudah berbeda tempat sekarang, Wonwoo di Seoul, Mingyu di Daegu. Ditikam oleh kerinduan yang manis. Komunikasi tak pernah terhenti.
Yang mengejutkan Mingyu adalah; disana Wonwoo satu universitas dengan Ara, satu fakultas, dan tentu saja mereka selalu dipertemukan. Wonwoo bilang jika hubungan ia dengan mantan kekasihnya baik, tak ada permusuhan. Ara memaafkannya, melupakan apa yang sudah terjadi.
Mingyu risau. Namun ia berusaha untuk percaya pada Wonwoo-nya.
Mereka berpikir akan mudah untuk bertemu, namun kenyataannya sulit. Meskipun dihari libur, keduanya selalu saja punya kesibukan. Bisa bertemu lebih dari satu kali dalam sebulan itu sangat beruntung.
Cuaca demi cuaca telah mereka lalui. Pada hari libur akhir semester ini Mingyu ingin mengajak Wonwoo berkencan. Dia menelpon Wonwoo.
"Halo Wonwoo?"
"Mingyu, tadi pagi baru saja menelpon. Sudah merindukanku lagi?" terdengar kekehan kecil.
"Aku merindukanmu setiap saat."
"A-aku juga."
"Besok aku akan ke Seoul, kita jalan-jalan."
"Besok? Apa tidak bisa lusa saja Gyu?"
"Kenapa?"
"Aku sudah ada janji dengan teman."
"Ah, baiklah kalau begitu."
"Aku tunggu."
Sebelum panggilan itu ditutup, samar, Mingyu mendengar seseorang memanggil Wonwoo-nya. Suara yang ia kenal selama ini melalui telepon rubah manisnya.
"Wonu-ya ayo cepat, nanti keburu hujan."
Ara. Mereka sedang bersama.
Hatinya sesak. Perih. Ngilu.
Apa kepercayaannya pada Wonwoo perlahan runtuh?
.
.
Mingyu membawa Wonwoo ke arena ice skating, mereka berdua dibungkus berlapis-lapis jaket. Diluar, salju turun dengan pelan ke permukaan bumi menyelimuti jalanan dengan putihnya, mencampuri udara dengan dinginnya.
Mingyu memegangi tangan Wonwoo yang tak bisa berseluncur diatas es sama sekali. Dari awal pemuda kurus itu sudah protes, tapi Mingyu memaksanya, dia bilang akan mengajarinya. Wonwoo pasrah, lagipula dia juga ingin merasakan seperti apa ice skating itu.
Dan Wonwoo sedikit menyesal. Mingyu melepaskan pegangan tangannya ditengah arena, menyuruh Wonwoo untuk menjaga keseimbangan.
"Coba berjalan dua langkah saja, pelan-pelan."
Kaki Wonwoo gemetaran, jangankan berjalan berdiri tegak saja susah.
"Mingyu, aku tidak bisa."
Mingyu tertawa melihat Wonwoo bagai penguin mungil yang belajar berjalan, mencari-cari pegangan namun tak ditemukan.
"Yak! Kim Mingyu jangan semakin jauh, yak!"
Wonwoo mencoba memberanikan diri, ia ingin memukul kepala pemuda tinggi yang sedang menertawakannya. Dia menggerakkan maju kaki kanannya dengan gugup. Berhasil. Lalu kaki kirinya. Dia maju dua langkah. Mingyu berhenti tertawa, memperhatikan penguinnya. Wonwoo melangkah lagi, hati-hati. Namun dari kejauhan ada anak kecil yang berseluncur keras menuju posisinya. Anak itu panik kesusahan mengerem kakinya. Mingyu bergegas menghampiri Wonwoo. Sayangnya, ia terlambat, Wonwoo yang tertabrak kini sudah jatuh terlentang diatas es.
"Mingyuuuuu!"
Penguin yang payah itu wajahnya merah karena dingin dan malu. Mingyu tanpa basa-basi menggendong Wonwoo bridal style. Pemuda kurus protes memukul-mukul dadanya.
"Turunkan aku."
Dia menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan, para pengunjung banyak yang melihat mereka.
"Diamlah, kau terjatuh."
Mingyu membawanya keluar arena, mendudukannya dibangku panjang.
"Banyak yang memperhatikan kita tahu."
"Biarkan saja."
Wonwoo memajukan bibirnya.
"Sakit tidak?"
"Tidak. Hanya kaget saja, kamu sih aku sudah bilang aku tidak bisa."
"Hee maaf-maaf."
"Anak kecil tadi yang harus minta maaf."
Wonwoo bersilang lengan, sebal karena anak yang menabraknya tadi tak acuh dan terus berseluncur.
"Sudah jangan cemberut begitu, nanti aku cium disini."
Wonwoo langsung menutup bibirnya dengan cepat dan melotot ke arah Mingyu yang kini tekekeh.
Mereka terdiam. Mingyu menggeserkan dirinya mendekati Wonwoo. Menggenggam tangannya hati-hati.
"Aku harap kita bisa sering bertemu. Aku benar-benar tak tahan dengan rindu yang selalu menyiksa. Bahkan setelah bertemu pun rasanya masih tetap rindu."
Wonwoo merona, "Aku juga Mingyu."
Mingyu memikirkan sesuatu, ada yang mengganjal dalam hatinya setelah ia menghubungi Wonwoo beberapa hari yang lalu.
"Wonwoo, apa kau sangat dekat dengan Ara?"
Wonwoo terlonjak, tak menyangka Mingyu akan menanyakan itu.
"Kita dekat sebagai teman."
"Ah.. begitu." Mingyu berusaha mengabaikan hatinya yang serasa ditikam.
Bukankah kita juga hanyalah teman, Wonwoo?
.
.
Mereka berdua semakin sibuk, bahkan bertemu pun hanya bisa dua bulan sekali. Komunikasi semakin susah. Berkali-kali, nomor Wonwoo tidak aktif.
Mingyu merana. Kekhawatiran memenuhi dirinya. Kalau tahu akan begini, dari dulu dia akan berusaha dan belajar agar bisa satu universitas dengan Wonwoo. Namun menyesal pun tak ada gunanya. Dia hanya bisa membiarkan kerinduan menyakitinya setiap saat.
Apakah Wonwoo merasakan hal yang sama?
Dia kembali teringat kepada pernyataan cintanya tahun lalu. Tak ada balasan. Hanya ucapan terimakasih yang manis.
Batinnya tersiksa. Apa selama ini cintanya pada Wonwoo hanya sepihak?
Jeon Wonwoo selalu jadi roller coaster. Mencintainya itu, seperti mencicipi berbagai rasa. Diangkat terbang. Dijatuhkan ke jurang. Disakiti mati-matian.
Bahkan hubungan mereka pun masih berstatus teman. Mingyu takut jika pada akhirnya ia hanya korban friendzone.
Dia harus melangkah maju, menanyakan perasaan Wonwoo, merubah status mereka, menanyakan jika dirinya memang mantap memilih Mingyu, dan memilih sebagai apa? Dia harus bertanya langsung kepada Wonwoo-nya yang sedari awal tidak pernah bisa ia tebak.
.
.
Lima bulan tak bertemu, akhirnya keduanya punya waktu luang untuk melepas rindu. Namun kali ini, Wonwoo yang datang ke Daegu. Tak seperti biasa.
Mereka duduk berhadapan didalam sebuah kafetaria.
Wonwoo meneguk cappuchino miliknya. Setelahnya menatap Mingyu dengan tatapan tak biasa.
Mingyu merogoh saku mantelnya, mengecek sesuatu disana. Benda kotak yang membungkus sesuatu. Dia berdeham pelan.
"Mingyu-"
"Wonwoo-"
Mereka berucap bersamaan.
Mingyu tersenyum. "Kau dulu."
Wonwoo menundukkan kepalanya, memandangi cangkir kopi dengan pilu.
"Mingyu…" dia menarik napas dalam "Hubungan kita itu tabu."
Didetik itu Mingyu merasa ada bom yang meledak didalam hatinya.
"W-wonwoo apa maksud mu?" dia bingung, tak mengerti, cemas.
"Kita tak bisa melanjutkan ini." Jawab Wonwoo lirih. Dia tetap menunduk.
Mata Mingyu membelalak tak percaya. Hatinya hancur sehancur-hancurnya. Dia membisu, tak bisa berkata apapun.
Wonwoo memberanikan diri menatapnya. Rubah manis itu menangis.
"Kita masing-masing punya masa depan Mingyu," dia terisak "hubungan kita tak akan direstui dunia." Kata-kata itu menggedor keras dada Mingyu serupa hantaman.
"Kenapa tiba-tiba?" pertanyaan itu keluar begitu pelan, nyaris tak terdengar. Wonwoo yang tidak pernah dirinya mengerti. Racun yang membunuhnya perlahan.
"Aku… aku sudah memikirkan ini sejak lama."
Ja-jadi inilah alasannya, Wonwoo sering tak menjawab telepon, tak membalas pesan-pesan, dan berkali-kali menghindar untuk bertemu.
"Maafkan aku Mingyu, ini demi kita." Wonwoo menundukkan kepala lagi, tak sanggup menatap mata Mingyu. "Bagaimanapun, hubungan kita itu terlarang. Tak punya masa depan yang jelas."
Apa seseorang didekatnya ada yang mempengaruhi pikirannya?
"Aku pikir aku sudah menemukan jati diriku." Lanjutnya.
"Jati diri?" Apa? Mingyu kacau.
"Aku…" Wonwoo merasa tak sanggup melanjutkan, dia menggigit bibir bawahnya dengan keras. "straight."
Mingyu ingin berteriak minta tolong. Dia tak sanggup menahan hantaman ini. Rasanya perih. Seperti hunjaman pecahan kaca yang menembus persis diulu hati.
Dia tahu dari awal Wonwoo tak pernah mencintainya. Dulu mereka adalah remaja laki-laki yang sedang mengalami perubahan hormon. Nafsu, kebutuhan, keinginan, kepuasan. Sulit untuk dibendung.
Mereka adalah remaja yang sedang mencari jati diri.
Baik Mingyu maupun Wonwoo kini telah menemukan diri mereka yang sesungguhnya.
Mingyu yang mencintai Wonwoo, dan Wonwoo yang mencintai seorang wanita.
"Mingyu, sungguh maafkan aku. Aku harus bagaimana?" Tangisan Wonwoo semakin deras.
"Kau tidak harus berbuat apapun Wonwoo…" Mingyu memaklumi, menyadari, sekalipun tidak sepenuhnya rela. "Tak apa, aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku." Para penutur bijak pun selalu mengatakannya, cinta tak akan bisa dipaksakan, bagaimanapun juga. Marah pun tidak ada gunanya. Lagipula –marah pada siapa? Memaksa pada siapa? Dia harus menerima, meskipun pahit, meskipun menyakitkan. Mungkin ini yang terbaik. Mingyu sudah dewasa sekarang, bukan lagi anak SMA yang selalu mengedepankan egonya. Mingyu yang dulu pasti akan marah dan menghina Wonwoo saat ini.
"Mingyu… aku, aku tak pernah menyesal bertemu denganmu, sekamar denganmu, merasakan perasaan yang campur aduk dalam hatiku, melewati hari-hari bersama, aku sangat berterimakasih pada takdir yang telah mempertemukan kita." Wonwoo menggenggam tangannya.
Mingyu tersenyum, bahagia dan getir. Ibu jarinya mengusap air mata Wonwoo yang jatuh.
"Maafkan aku Mingyu."
Wonwoo tak bisa berhenti meminta maaf, dia tahu pasti jika Mingyu sangat terluka.
"Wonwoo… kau tidak salah." Memang sejak awal, hubungan kita tak pernah benar.
Lagipula dia bisa apa? Meraung-raung agar Wonwoo membalas cintanya. Memuakkan.
"Tidak apa-apa, aku menerima semua ini." Mingyu berusaha menunjukkan senyum, walaupun hatinya sudah hancur berantakan diterpa topan. Masalahnya penerimaan itu bukanlah sesuatu yang sederhana. Banyak sekali orang-orang yang selalu berpura-pura. Berpura-pura menerima tetapi hatinya berdusta. Seperti Kim Mingyu sekarang.
"Kita bisa tetap menjadi teman." Tanpa melakukan hal diluar batas wajar.
"Mingyu, hatiku tak bisa berhenti meminta maaf." Wonwoo meremas tangannya.
Pipi basah diusap. "Wonwoo, aku selalu menghargai keputusanmu. Aku senang kalau kau senang, dan sedih kalau kau menderita. Jadi berhenti menangis, aku tidak apa-apa." Yang terakhir itu, jelas Mingyu berbohong. Dia menahan mati-matian agar air matanya tak pecah, tak ingin membuat Wonwoo semakin merasa bersalah dan membuatnya depresi. Dia harus merelakan.
Apa ini, belum berpisah saja aku sudah merasa kesepian. Belum pergi saja aku sudah merasa rindu.
"Apa ada seseorang yang kau cintai?" walaupun rasanya sesak, Mingyu tetap bertanya. Siapa yang berhasil membuat Wonwoo jatuh hati, membuat ia memahami dirinya sendiri.
"Ada…" Jawab Wonwoo pelan.
Mingyu tak tahu jika akan sepedih ini mendengarnya. Dia meremas kotak kecil didalam sakunya.
"Siapa wanita itu?" Pemuda itu membiarkan hatinya disakiti secara beruntun.
Wonwoo tak ingin menjawab. Dia menutup mulutnya rapat-rapat.
"Katakan saja." Ucap Mingyu lembut.
Wonwoo terlihat ragu, namun iris hitam Mingyu yang teduh itu tak bisa ia tolak. Mata rubah itu berkedip, lalu menatap lekat pemuda dihadapannya.
"Dia…" tarikan napas panjang "Ara."
.
.
"Woah Mingyu, tak biasanya kau minum."
Minghao menarik kursi disebelah temannya dan mendudukkan diri disana, didalam kedai soju dipinggir jalan.
Mingyu tak menjawab, dia meminum satu gelas kecil soju dalam satu tegukan. Melemparkan sebuah kertas biru yang diikat pita merah muda ke atas meja. Minghao mengangkat alisnya heran, dia mengambil kertas tersebut, membuka pitanya.
"Mingyu ini… undangan pernikahan?" Minghao membaca kebawah. Dia tak bisa membayangkan betapa kacau batin Mingyu sekarang.
Jeon Wonwoo dan Choi Ara.
Mingyu meneguk lagi dan lagi. Dia ingin mengusir rasa sakitnya, melupakan perasaannya pada Wonwoo. Dia pikir dalam satu tahun bisa menghilangkan rasa cintanya pada pemuda itu. Namun tunas-tunas perasaannya tak bisa dipangkas lagi. Semakin Mingyu tikam, dia tumbuh dua kali lipatnya. Semakin Mingyu injak, helai daunnya semakin banyak.
Mingyu masih mencintai Wonwoo, dengan besarnya.
"Kau baik-baik saja?" Minghao melirik temannya "oke maaf tentu saja tidak."
Dia berdeham "Kau… akan datang?"
Mingyu mengusap wajahnya kasar. "Tentu saja, dia akan sedih jika aku tak datang."
"Meskipun kau akan sakit hati?"
"Hatiku tak akan sakit lagi, sudah kebal."
"Jangan membohongi dirimu sendiri."
"Sudah biasa."
"Sial, kenapa kau sangat menyedihkan."
Mingyu terkekeh, "Benar kan?"
Minghao menatap iba pemuda disampingnya. "Kenapa tidak berusaha mencintai yang lain?"
"Cintaku sudah lenyap, dirampas penuh oleh Jeon Wonwoo."
Punggung lebar ditepuk pelan, "Mingyu kau tak bisa terus seperti ini."
Mingyu mengacak rambutnya frustasi. "Lalu aku harus bagaimana Minghao? Ini begitu menyakitkan sampai rasanya ingin mati saja. Setiap hari aku berusaha membunuh perasaanku pada Wonwoo, berusaha menyingkirkan kerinduan yang muncul. Namun semuanya sia-sia, malah semakin menyiksa. Aku ingin berteriak padanya bahwa aku merindukannya, aku mencintainya. Namun itu tak akan merubah apapun."
Satu gelas diteguk lagi "Aku tak bisa membawanya kembali, tak bisa mengemis agar dia mencintaiku. Aku tak boleh menghancurkan masa depannya."
Cinta itu membelenggu. Menggiringnya ke lorong panjang pengorbanan.
Minghao kini memeluknya. "Kau butuh rasa sakit untuk bertahan Mingyu, hatimu belum mati. Kau, suatu saat nanti pasti akan mendapatkan apa yang pantas untukmu, apa yang membuatmu bahagia, dan mencintaimu dengan tulus."
Dan air matanya perlahan terjatuh.
Dia tidak yakin 'suatu saat' yang dikatakan oleh Minghao itu akan datang.
.
.
Seorang pemuda mungil berambut merah muda melangkah keluar gereja, ditangannya terdapat sebuket bunga mawar putih. Dia menghampiri bangku panjang dibawah pohon cemara, disana duduk seorang pria yang memakai setelan jas hitam tanpa dasi.
"Menghadiri pernikahan mantan kekasih huh?"
"Jadi kekasihnya saja belum pernah."
Pemuda mungil itu –Jihoon duduk disampingnya, tersenyum tipis.
"Terlalu pedih untuk melihat langsung ke dalam ya Mingyu?"
"Mendengar mereka mengucapkan janji suci saja rasanya aku ingin pulang dan gantung diri."
Jihoon menyerahkan buket bunga mawar putih itu ke tangan Mingyu, menatapnya lembut.
"Ini bunga yang Ara lempar."
"Apa kau bermaksud menghinaku?"
"Aku bermaksud menghiburmu. Salah ya?"
Mingyu menyerahkan lagi buket bunga itu.
"Terimakasih." Ucapnya sarkastis.
"Ternyata yang akan dia lukai untuk terakhir kalinya adalah kau ya." Jihoon berbisik.
"Apa?"
"Eh, tidak." Pemuda itu sedikit bersyukur karena Mingyu tak mendengar dengan jelas.
Hening. Suara angin yang berhembus mengalun diantara mereka.
"Sejak tadi Wonwoo bertanya kesana-kemari, mencarimu. Dia kira kau akan menyaksikan didalam." Jihoon terkekeh pelan "Sepertinya yang tidak peka hanya dia ya."
Mingyu diam. Tetap membisu sampai Jihoon pergi dari sana.
Dia sebenarnya bisa saja memaksakan untuk melihat pernikahan Wonwoo didalam gereja. Namun entah kenapa tak dia lakukan. Jika memang sebenarnya Mingyu tidak rela. Setidaknya ia masih bisa pura-pura rela. Merelakan orang yang dicintainya menikah dengan yang lain.
Dari kejauhan pemuda tinggi dibalut setelan jas putih bersih, berjalan cepat mendatangi Mingyu.
Mingyu memandanginya tanpa berkedip. Wonwoo sangat rupawan, rambutnya dipotong sedikit lebih pendek dengan poni yang disibakkan ke atas menampilkan dahinya yang indah.
"Mingyu!" Begitu sampai, Wonwoo langsung duduk disampingnya, tanpa jarak. Mingyu menahan napas, hatinya seketika berdegup kencang.
"Anginnya segar ya." Ucap Wonwoo.
Demi apapun Mingyu merindukan suara dalamnya. Dia mengangguk, belum berani menatap Wonwoo dalam jarak sedekat ini. Takut lupa diri.
"Kenapa kemari? Tak baik meninggalkan pengantinmu." Dia menyunggingkan bibir. Meskipun pilu, Mingyu adalah laki-laki dewasa. Bukan gadis remaja yang harus memasang wajah lemah setiap waktu saat hatinya merasa hancur.
"Aku ingin bertemu denganmu."
Jeon Wonwoo memang pro dalam mengaduk-aduk perasaannya.
Keheningan melanda mereka. Keduanya bingung harus berkata apa. Mingyu sebenarnya ingin bertanya, namun takut. Takut dengan jawaban Wonwoo, takut jika ia bisa menangis didepannya. Tapi, lagipula air matanya sudah kering.
"Wonwoo, boleh aku bertanya?" dia memberanikan diri membiarkan wajah mereka berhadapan.
"Tentu." Wonwoo tersenyum, manis.
Mingyu nyaris tak tahan dan ingin mencium bibirnya.
"Perasaanmu untukku itu seperti apa?"
Wonwoo terdiam sejenak, mengalihkan pandangannya pada kerikil dibawah kakinya.
"Padamu… hatiku selalu berdegup kencang, kau selalu memberiku kejutan, membuatku terus merasa senang dan tenang. Aku merasa terlindungi." Wonwoo menggigit bibir bawahnya "dan merasakan kenikmatan."
Mingyu tersenyum, menampilkan gigi taringnya.
"Aku suka baumu," Mata Wonwoo terpejam "Seperti hutan pinus setelah hujan."
"Benarkah? Aku terkejut."
Wonwoo tersenyum lagi, lebih lebar lalu mengangguk.
Mingyu, jujur saja, bingung mengapa ia bisa begitu mudah menyisihkan perasaan terlukanya. Mungkin saja hati manusia bisa tercipta untuk berevolusi. Mungkin saja hati manusia bisa diobati oleh hari-hari yang berganti. Tapi menurut Mingyu, bukan itu yang membuatnya tegar. Bukan itu yang menerima pengorbanan. Ia hanya sangat sadar; cintanya untuk Wonwoo adalah cinta yang sebenarnya. Cinta yang tak dibatasi oleh apapun. Apalagi oleh keinginan untuk memiliki. Cintanya, seperti samudra yang tanpa batas sanggup menanggung apa saja, juga duka dan rindu karena tak bisa memilikinya.
"Aku mencintaimu." Begitu pelan, Wonwoo hampir tak mendengar.
"Maaf..."
"Sudah kubilang jangan meminta maaf. Lidahku tiba-tiba ingin mengatakan itu."
Tiba-tiba, Wonwoo memeluknya. Mingyu tercengang.
Apa maksudnya ini? Dia ingin menyiksaku?
Kain berwarna hitam dan putih bergesekan ketika Wonwoo mengeratkan pelukannya.
"Wonwoo…"
"Terimakasih. Terimakasih karena telah mencintaiku, Mingyu."
Butiran bening asin menetes dari mata Mingyu, dia buru-buru menyekanya saat pelukan itu terlepas.
"Wonuuuuu…"
Istrinya memanggil. Wonwoo memegang tangan Mingyu lembut, matanya berkaca-kaca.
"Aku pergi ya, Mingyu."
Setelah mendapat anggukan lemah, rubah manisnya berlari cepat menjauhinya. Ingin rasanya Mingyu ikut berlari, berteriak agar Wonwoo-nya kembali, merengkuhnya. Namun harapan yang memang tak akan pernah terwujud itu hancur, ketika melihat tatapan Wonwoo kepada Ara. Sebuah tatapan yang bahkan tak pernah Mingyu terima.
Wonwoo menatap istrinya seakan-akan dia adalah hal yang paling hebat didunia.
Air mata Mingyu mengalir lagi.
Cinta itu apa. Perasaan Mingyu harusnya sudah binasa. Tenggelam dalam palung-palung danau bersama penderitaannya, penyesalannya dan kesepiannya.
Ambivalensi yang sempat tinggal dihati Wonwoo ternyata bukan pada Ara, melainkan pada dirinya.
END
Happy ending? Sorry we aren't in Disney. /ditabok/
Dari awal Wonwoo memang belum yakin kan. Dan mereka berdua itu lelaki yang baru gede, pasti butuh buat melampiaskan nafsu /apa ini/ tapi mereka gak pernah sampe nganu kok, hanya sebatas sampe saling buka atasan. /maaf cukup/
Terimakasih kepada teman-teman pembaca ;))
-Raa
