Butterfly

.

~2~

Setelah hari itu, aku menghabiskan waktu bebas yang kumiliki bersamamu. Setiap hari, aku menemukan hal baru tentangmu. Kau tak pernah berbuat seperti yang orang lain lakukan, atau seperti yang kuprediksi.

Seperti suatu ketika…

"Eh, apa yang kau lihat? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanyaku sedikit tak nyaman, ketika kau menatapku hampir tanpa kedip beberapa lama.

"Matamu…" kata-katamu terputus sementara matamu terus meneliti mataku.

Alisku mengernyit sedikit,otot-otot tanganku otomatis menegang. Aku tak tahu bagaimana perasaanku ketika kau mengatakannya. Aku tahu bahwa mataku tak biasa. Orang-orang mendeskripsikannya sebagai 'mata iblis' di belakangku karena warnanya yang 'semerah darah' dan 'tidak ada manusia normal yang memiliki mata merah'. Karenanya banyak yang risi bahkan takut bertatapan denganku. Walaupun kurasa banyak gadis di sekolahku 'menyukainya' karena mataku membuatku terlihat misterius atau semacamnya. Tapi bahkan merekapun tak berani lama-lama beradu pandang denganku.

Aku sendiri tidak terlalu peduli dengan apa pendapat orang tentang salah satu fitur wajahku. Kalau mereka memujinya, baguslah. Sementara yang mencibir, menurutku mereka hanya cemburu karena gadis-gadis tertarik padaku—walau aku tak tertarik pada mereka. Lagipula bodoh sekali, tentu saja ada orang-orang yang bermata merah, seperti orang-orang albino yang tidak memiliki pigmen pada irisnya sehingga yang terlihat adalah warna pembuluh darah di belakangnya. Yah, meskipun aku bukan albino…

Yang jelas, tidak ada gunanya meratapi sesuatu yang tidak merugikanmu dan tidak bisa kau ubah, jadi aku tidak pernah ambil pusing apapun komentar orang. Tetapi kini… memikirkan bahwa kau mungkin akan beranggapan sama seperti yang lain… melihat keanehanku dan karenanya menjauh dariku…

"…indah sekali," lanjutmu pada akhirnya. Aku mengerjap mendengar komentarmu.

"Matamu mengingatkanku akan rubi, kalau terkena cahaya pada sudut yang tepat akan terlihat berkilau. Dan… mengingatkanku akan ibuku."

Kau tersenyum kecil ketika mengatakan kalimat terakhir, lalu menunjukkan cincin kecil melingkar di jari manismu, emas betatahkan rubi membara.

"Orangtuaku sudah meninggal, dan ini salah satu pemberian ibuku yang terakhir."

Ekspresiku melembut. Tentu saja, bagaimana bisa aku berburuk sangka pada kupu-kupuku. Kau tak pernah mengecewakanku sejauh ini, mengapa aku berpikir bahwa kau akan berbeda dalam hal ini.

"Ya, indah sekali," kataku sambil menatap rubi di tanganmu, walaupun yang kumaksud bukan cuma batu permata itu. Kau, Sayangku, lebih indah dari batu berharga manapun bagiku.

Apapun yang kau lakukan, kau selalu membuatku terkesima, menarikku lebih dalam lagi tanpa aku berdaya melawannya, seakan kau lubang hitam, dan aku salah satu bintang di dekatnya. Atau kau ini pusaran air dan aku salah satu kapal yang terjebak olehmu. Tapi aku tak keberatan…

Seiring hari berlalu, semakin lama waktu yang kuhabiskan denganmu. Tak hanya di pagi hari sebelum aku harus pergi ke sekolah, tetapi setelahnya, hingga malam menjelang, kalau bisa bahkan mungkin aku takkan pulang. Aku tak peduli apa yang kita lakukan—bermain catur bersama, aku mengerjakan tugas sementara kau duduk memandangi awan berarak, atau hanya duduk bermalasan sambil mengobrol—asalkan kau ada di lapang pandangku. Menjalani hari bersama.

In no time the little butterfly and I flying together…

.

.

Perlahan tapi pasti, kita semakin dekat. Padamu kuceritakan kehidupanku sehari-hari. Misalnya bahwa aku sedang dalam tahun terakhirku di sekolah sebelum masuk universitas. Tahun sebelumnya aku mengikuti beberapa kegiatan klub olahraga, tetapi tidak di tahun ini. Aku salah satu siswa terbaik di tingkatku, dan berencana masuk fakultas hukum setelah lulus. Saat kau tanya kenapa, aku hanya mengedikkan bahu dan menjawab bahwa sepertinya jalur itu menantang, mengundang putaran bola matamu.

Aku juga menceritakan hal-hal sepele yang menurutku tak… penting, tetapi karena kau memintanya, aku menceritakannya. Seperti fakta bahwa aku menyukai kucing—yang berbulu halus, struktur tubuh mereka lentur dan elegan, dengan buku-buku jari mereka yang empuk dan cakar mungil mereka yang bisa keluar masuk, menggemaskan sekali~!—hingga ke tahap terobsesi (tapi masih jauh di bawah rasa sukaku padamu). Aku seorang perfeksionis, bahkan hingga hal-hal terkecil karena estetikaku tidak mengizinkanku untuk melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya. Hal ini membuatmu kesal karena setiap saat aku selalu merapikan rambutmu yang tersibak tertiup angin. Aku tidak pernah memberitahumu bahwa sebenarnya itu hanyalah alasan bagiku untuk menyentuhmu.

Kau meledekku tanpa henti saat mengetahui aku memiliki fans clubku sendiri. Kini giliranku yang memutar bola mata dengan sebal, walau dalam hati aku senang saat (kukira) kulihat kilat cemburu di bulir birumu. Kau tak perlu khawatir, Ciel, tak pernah ada persaingan, karena kau satu-satunya dalam hidupku.

Suatu hari, aku bahkan memiliki keberanian untuk menceritakan pandangan pertamaku atasmu. Kau terbahak dan mengejekku sebagai 'lovesick fool'—orang dimabuk cinta—dengan nada bercanda, yang mana hanya kurespon dengan senyum congkak.

"Absurd sekali, Sebastian."

"Tapi benar. Waktu pertama kali kulihat kau, kupikir… 'wow, apa surga sebegitu membosankannya sampai-sampai malaikatnya pindah ke bumi?'"

Reaksimu adalah semburat merah samar di bawah tulang pipimu. Lalu kau memandangku beberapa saat seakan menunggu aku berkata, 'April Fool!' yang menurutku lebih absurd lagi, karena saat itu bukan bulan April. Ketika aku sama sekali tidak mengatakan apapun, akhirnya kau berkata tak percaya, "Kau tidak bercanda ya?"

Aku menjawab dengan nada seakan tersinggung, "Tentu saja, Ciel. Aku serius kok waktu kubilang aku mempertimbangkan mau menyapamu dengan 'apa kau kesakitan waktu jatuh dari surga?'"

Kau tergelak lagi. "Kalau aku menjawab ya, bagaimana?"

"Aku akan bertanya sebelah mana yang sakit, dan akan kucium bagian itu supaya cepat sembuh, hehe…" Kurasa seringaiku saat itu mirip sekali dengan serigala dari si Kerudung Merah.

"Uggh, kau ini… benar-benar deh, Seb—" tangan kecilmu memukul sisi kepalaku, tapi tidak berdampak apapun padaku. Malah kau yang meringis setelahnya, aneh sekali…

"Tapi aku senang kau jatuh," tambahku—akhirnya memutuskan untuk mengabaikan kejanggalan tadi— menarik perhatianmu dan membuat kita bertatapan, "karena kau jadi ada di sini. Dan mulai sekarang kalau kau terjatuh lagi, aku akan ada di sini untuk menangkapmu."

Tak pernah luput kilau safirmu menghipnotisku… paling tidak sampai tiba-tiba wajahku ditabrak bantalmu.

Benar sekali, bantal. Karena kini akhirnya aku bisa memasuki rumahmu. Bayangkan betapa terkejutnya aku ketika suatu sore kita bercengkrama seperti biasa di halamanmu, tiba-tiba pria tua yang selalu membawakan makanan kecil untukmu menghampiri kita menyuruhmu masuk, lalu mengundangku ikut serta.

Aku akhirnya mengetahui, pria tua itu, yang ternyata bernama Tanaka-san, bukanlah kakek atau ayahmu. Ia adalah kepala pelayan di rumahmu yang terdahulu, dan setia mengurusmu hingga sekarang, walaupun ia sudah tua renta dan menurut pandanganku sudah waktunya ia sendiri diurusi oleh orang lain. Mungkin suatu hari nanti aku harus berterima kasih padanya karena telah menjagamu hingga kau bertemu denganku dan aku bisa menjagamu dengan lebih baik.

Selain fakta itu, aku juga mengetahui jauh lebih banyak tentangmu, baik dari pengamatanku maupun dari obrolan kita. Nama lengkapmu Ciel Phantomhive, diberikan ibumu ketika ia melihatmu untuk pertama kalinya sejak kau membuka mata di dunia ini. Ciel, pas sekali…

Kurasa aku tahu apa yang ada di pikiran ibumu ketika menamaimu. Ciel berarti langit; terefleksikan pada surai rambutmu yang sekelam langit malam penuh bintang*, dan di mata safirmu yang secerah langit biru di siang hari. Selain itu Ciel memiliki arti lain: surga. Kau seperti malaikat—mungkin orang-orang akan berpendapat, cherubic—tapi selain itu, bagiku kau seperti kepuasan tiada tara, aku akhirnya menemukan sesuatu yang tidak membosankanku, memikatku

Aku tidak butuh surga selain kau.

Fakta lain yang menurutku menarik adalah obsesimu pada makanan manis. Tadinya kukira pelayanmu hanya berbaik hati memberimu sedikit cemilan di pagi hari agar kau tidak bosan dan sedih tak bisa ke mana-mana. Tapi ternyata setiap saat selalu tersedia manisan untukmu. Croissant, cake, pudding, permen, parfait… Aku jadi bertanya-tanya, apakah kebiasaanmu ini memiliki efek buruk untukmu? Well, aku tidak melihat adanya kejanggalan pada gigimu yang putih dan sempurna, tapi mungkin… apakah bibirmu semanis coklat yang baru saja kau gigit?

Ah, sabar, Sebastian. Suatu saat kau akan… mencicipinya. Kau masih punya banyak waktu…

Tentu saja tidak hanya fakta-fakta menyenangkan saja yang kuketahui tentangmu. Kenyataan suram yang menyelubungimu membuatku berharap aku bisa menyingkirkannya atau mengangkat beban tersebut untukmu…

Sejak kecil kau sering sakit-sakitan. Kau memiliki asma dan sejumlah alergi lain yang membuatmu kesulitan untuk bermain di luar dan berlarian seperti anak-anak lain. Hmm, kurasa itu menjawab mengapa kau hanya keluar rumah di pagi hari, dan jarang bepergian. Sayangnya, salah satu hal yang membuatmu alergi adalah kucing, bulunya yang mudah terbang sering membuatmu bersin tanpa henti, dan beresiko memicu asmamu kambuh. Kau juga tidak tahan dingin, dan alergi sebagian besar jenis serbuk bunga.

Diam-diam aku mendesah lega dalam hati, bersyukur kau tidak sakit ketika menerima bunga dariku. Paling tidak kini kita tahu kau tidak alergi mawar putih. Sangat disayangkan sekali kalau itu terjadi. Aku benar-benar berpikir mawar putih cocok untukmu.

Aku tahu bahwa orangtuamu sudah meninggal. Namun yang kuketahui baru-baru ini adalah fakta bahwa mereka meninggal dengan cara yang tidak alami. Setelah bertanya pada Tanaka-san, dan mencari-cari di arsip koran lama, aku mengetahui bahwa orangtuamu meninggal ketika rumahmu yang terdahulu terbakar, dibakar oleh orang yang tidak menyukai keluarga kalian, dan bahkan kau pernah diculik selama hampir sebulan sebelum akhirnya polisi berhasil menemukan tempatmu disekap.

Keadaan-keadaan ini menjelaskan aura kesedihan yang menyelimutimu, dan kesan rapuh yang kutangkap ketika aku pertama kali menghentikan mata pada figurmu. Hal ini bukannya membuatku ingin menjauh darimu, Ciel, aku malah ingin merengkuhmu lebih erat, bila mungkin.

Tidak semua hal kita bagi bersama. Ada beberapa hal yang belum—dan mungkin tidak akan pernah—kuungkapkan padamu. Seperti salah satu kehidupanku sebelum kau muncul. Sisi kehidupan yang kelam dan tanpa ampun. Yang kini kutinggalkan demi bersama dirimu.

Ada juga hal-hal yang belum kuketahui tentangmu, yang mungkin kau rahasiakan dariku. Tentu saja, mungkin aku saja yang terlalu paranoid. Contoh kecilnya adalah perban di kedua pergelangan tanganmu yang berlanjut entah sampai mana. Aku melihatnya ketika suatu ketika lengan kemejamu tergeser ke atas. Alasan terburuk langsung muncul di benakku. Mungkinkah di balik kasa putih itu adalah goresan-goresan merah, guratan hasil percobaan bunuh dirimu? Mengapa kau melakukannya, apa yang terjadi? Apa karena itu kau selalu mengenakan atasan berlengan panjang?

Aku menggelengkan kepalaku, berusaha menyingkirkan pikiran tersebut. Lagipula pertama kalinya aku meragukanmu, kau membuktikanku salah total.

Jadi suatu saat dengan hati-hati aku menanyakannya pada Tanaka-san, yang hanya tersenyum sambil menjawab, "itu hanya bekas suntikan untuk obat anti alergi Young Master. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," dan penjelasannya berakhir sampai di situ. Tentu saja aku tidak puas hanya dengan itu, tetapi aku sangsi Tanaka-san akan berbohong padaku. Akupun tidak mengorek lebih jauh lagi, aku juga tidak ingin rahasiaku ketahuan.

Lagipula, aku tidak keberatan kau memiliki satu atau dua rahasia, selama kau dan aku tak terpisahkan.

Everything seemed like a dream, you and I, inseparable…

.

.

Bila ada yang mengetahui situasiku yang berpusat di satu orang, mungkin mereka akan mengira kehidupanku akan berantakan cepat atau lambat, dan orangtuaku mungkin akan menyeretku pulang suatu hari sambil berteriak murka di hadapan siapapun yang melintas. Menurutku tidak, yang terjadi justru sebaliknya.

Sejak awal aku percaya bahwa hanya hal positif yang bisa terjadi ketika aku bersamamu, Ciel, dan itu terbukti. Kehidupanku lebih teratur karena aku selalu bangun pagi agar bisa bertemu dengan pangeran kecilku. Setelah bersiap-siap sebaik yang aku bisa—tak mungkin aku bertemu Ciel-ku kecuali dalam penampilan terbaikku—aku akan jogging menuju ke rumahmu, kemudian makan pagi di sana. Begitu pula pulangnya, aku akan makan siang, dan terkadang bahkan makan malam bersama. Pola makanku jadi teratur berkatmu.

Kegiatan sekolahku juga membaik. Tugas-tugasku jadi selalu selesai tepat waktu, karena aku selalu mengerjakannya sambil mendengarkanmu mencoba bermain piano. Aku tidak lagi mencari masalah atau… melakukan hal-hal lain yang meragukan; untuk apa, ketika aku bisa melakukan hal yang lebih menyenangkan, seperti meringkuk di depan televisi denganmu menonton film horor. Getaran tubuhmu—yang kau klaim adalah reaksi karena kau kedinginan, padahal aku sudah memelukmu erat begini dan kita dilingkupi selimut, tentu Sayang, kau kedinginan—membuatku geli.

Dalam satu sudut pandang, bisa dikatakan kau menyelamatkanku, kupu-kupuku.

Tentu saja, kupikir aku juga memberi pengaruh baik bagimu. Kau yang tadinya lunglai dan hanya diam memandangi awan tanpa gairah, kini mencoba melakukan hal-hal yang mungkin tak pernah kau kira ingin (atau bisa) kau lakukan. Walaupun banyak sekali hal yang harus kita waspadai, itu masih lebih baik daripada tidak pernah mencoba berbuat apapun. Aku sangat senang kita menjalani banyak 'saat pertama'-mu bersama.

Seperti di pagi ini…

"Apa kau yakin tidak apa-apa?" tanyamu ragu. Kau mengenakan training hitam dan kaus lengan panjang berwarna biru terang. Tangan mungilmu menyentuh batang pohon besar yang kasar itu dengan hati-hati.

Aku hanya tersenyum jahil. Pagi ini ketika kudengar kau tak pernah memanjat pohon raksasa di halaman belakangmu itu, aku terperanjat, dan segera menuntut untuk mengadakan 'eksplorasi' di sana. Kau awalnya sangsi, tetapi dengan bujukan dariku, seperti biasa kau luluh.

"Tentu saja, Ciel. Kau tidak percaya padaku?" aku berjalan mendekat, berpakaian serupa denganmu. "Kau akan menyukainya. Mana bisa kau terus menjalani hidup tanpa pernah merasakan kesenangan memanjat pohon! Sungguh di luar akal sehat!" seruku dramatis, mengundang juluran lidahmu—itu pertama kalinya kau melakukan itu di depanku!—sebelum kau merona merah atas tingkah kekanakanmu dan memalingkan wajah, mengamati pohon itu sekali lagi.

"Tapi kau tahu kalau di pohon ini sudah tua, bagaimana kalau dia tumbang? Atau mungkin serbuk bunganya membuatku alergi, atau di atas ternyata ada sarang lebah yang kemudian menyengatku dan—" nada suaramu hampir merengek, dan meskipun aku diam-diam suka mendengarnya, aku menyela, "Hal-hal itu tidak akan terjadi. Tanaka-san bilang kau sudah meminum…menginjeksikan obat alergimu, dan pohon ini sangat besar tapi tidak terlalu tua, jadi tidak akan tumbang kecuali tiba-tiba ada angin topan mampir kemari. Jadi satu-satunya rintangan—jangan-jangan… apa kau takut, Ciel?" tanyaku menyelidik. Diam-diam aku sudah menyiapkan argumen ini, kalau-kalau kau ingin mundur. Aku yakin kebencianmu akan kekalahan bisa memberimu… motivasi.

"Mana mungkin! Baiklah, aku akan naik. Kau juga tidak boleh mundur, Sebastian!" Bingo, benar kan.

Kau memasang ekspresi tercongkakmu, lalu meletakkan kedua tanganmu di batangnya. Aku memperhatikan dua meter di belakangmu, menunggumu untuk mulai.

"…jadi bagaimana caranya aku memanjat batang kayu berlumut ini?" tanyamu setelah beberapa saat kau tak bergerak. Aku menyembunyikan senyumku di belakang tanganku. Ah, ketegangan ketika pertama kali memanjat pohon…

"Yah, kita bisa memulai dari lekukan dua meter di atas tanah itu," desahku, lalu tanpa peringatan aku mengangkatmu ke atas bahuku.

Beberapa puluh menit kemudian…

Kau yang tadinya gugup dan sungkan, kini terbawa suasana. Adrenalinmu terpacu—dan juga karena sekarang kau tahu caranya memanjat 'batang kayu berlumut'—dan sekarang kudengar suara terengahmu beberapa meter di atasku.

"Sebastian, kau lambat sekali," ledekmu girang.

Ya, kini kau sudah menemukan euforianya, dan berani mendahuluiku. Aku hanya memutar bola mataku sebal, tetapi sudut bibirku tertarik naik. Mataku mengerling ke atas, dan di sanalah kau duduk, di dahan beberapa meter di atasku, mengangkat satu alis menantang.

Sejenak terbersit kekhawatiran di hatiku, bagaimana kalau kau jatuh? Tapi aku segera menepisnya. Seharusnya dahan-dahan ini cukup kuat, dan aku ada di sini untuk menangkapmu.

Dari tempatku duduk di salah satu dahan, aku membalas, "Ya, ya, terserahlah. Hati-hati saja saat tu—"

"Sebastian!"

Mataku membelalak, karena ketika aku bicara, tanganmu bertumpu pada dahan yang licin dan keseimbanganmu goyah, sedetik kemudian kau meluncur ke bawah.

Aku tak sempat—tak perlu—berpikir lagi. Aku tak mungkin sempat menangkapmu, terutama karena jarak kita agak jauh dan gaya gravitasi membuat kekuatan jatuhmu lebih besar, tapi…

Aku menjulurkan tangan dan mencoba meraihmu.

BRUKK!

Kau membuka mata safirmu dan yang pertama kali kaulihat adalah wajahku.

"Ciel, kau tidak apa-apa?" tanyaku tersenyum lemah.

"Apa yang kau bicarakan, bodoh, harusnya aku yang bertanya begitu!"

Aku mengerjap kaget mendengar bentakanmu, lalu melihat ekspresimu di atasku, aku mengerti bahwa kau mengkhawatirkanku.

Tapi tidak ada yang lebih lega daripada aku, Ciel, karena aku berhasil mencapaimu tepat pada waktunya.

Aku menarikmu tubuh dalam dekapanku—masih dalam posisi berbaring—mengabaikan pekik terkejutmu, kepalamu terkulai di atas dadaku. "Bukankah aku pernah bilang, Ciel, 'ketika kau jatuh, aku akan menangkapmu'? Kurasa aku harus menambahkan, 'dan ketika itu tak memungkinkan, saat kau jatuh, aku akan jatuh bersamamu'."

Seperti yang kuperkirakan, aku tak bisa mencegah jatuhmu, namun aku berhasil memposisikan diriku agar tubuhku berada di bawahmu dan melindungimu.

Kau tak menjawab. Lalu beberapa saat kemudian aku merasakan tubuhmu gemetaran. Tapi udaranya tidak dingin, malah cukup kering dan pan—

"Apa kau menangis, Ciel?"

"Tidak!" tukasmu teredam kausku… yang kurasakan lembab. Aku menyeringai. Yep, kau menangis, Sayang.

"Ya, ya, sudah cukup petualangan hari ini," ujarku menepuk-nepuk helai rambutmu. Ini pertama kalinya aku memelukmu. Walaupun tidak seperti yang kubayangkan… tapi aku senang. Mungkin besok, atau suatu saat nanti aku akan memelukmu dengan layak.

"…Aku juga sudah lelah sekali…" desahmu pelan. Suaramu memang terdengar lelah sekali…

"He-eh," gumamku, pikiranku seakan masih di langit ke sembilan. Lalu suatu ide melintas, aku tersenyum nakal, "jadi, besok… sepatu roda?"

"Sebastian!"

"Apa kau takut, Ciel?" godaku.

"Tidak!"

Dan keesokan harinya kita mencoba bermain sepatu roda, dimana aku berdiri di depanmu dan kau mencoba tidak terjerembab setiap beberapa detik sekali. Tentu saja aku ada di dekatmu untuk menangkapmu.

With each other, no challenge left unanswered…

.

.

Terkadang aku membayangkan reaksi teman-temanku bila aku menceritakan situasi yang—aku tidak keberatan—menjebakku di dalamnya ini.

Grell mungkin akan meratap histeris atas 'Sebby'-nya yang dirayu orang lain dan tidak puas walaupun sudah memiliki wanita secantik ia. Aku sudah lelah menghitung sudah berapa kali aku mendesah mendengar delusi yang…mengganggu itu. William mungkin hanya akan memijat pelipisnya sambil menggumam kenapa ia masih sama bergaul dengan orang-orang idiot dan betapa ia butuh mengisi ulang stok aspirinnya. Claude… dugaanku ia akan menyeringai sinis dan menyelamatiku karena akhirnya aku kehilangan akal juga setelah sekian lama.

Secara umum, kurasa mereka akan menganggap aku sudah gila. Tch, mereka hanya tidak mengerti. Yang sebenarnya terjadi adalah aku mengetahui apa yang kuinginkan. Kupu-kupu biru inilah yang kucari selama ini.

Walau… kurasa kalau mereka bertemu langsung denganmu, Ciel…

Uhh, tunggu… Memang sih mungkin tidak akan terlalu buruk kalau Grell dan William menemuimu. Grell paling-paling hanya akan menyalak di beberapa menit pertama tapi kemudian ia akan mengelus dan mencubiti pipimu sambil memekik betapa menggemaskannya kau. William… hanya akan memandangmu tanpa ekspresi. Tapi dia akan menyukaimu mengingat kau tidak berisik seperti Grell, dan bisa berbicara dengan 'intelektual'.

Tapi Claude… Claude selalu menantangku, ia merasa bahwa ia adalah rivalku dan selalu mencoba bersaing denganku—dan mengalahkanku—dalam berbagai hal. Kadang ia juga berusaha merebut milikku, ia selalu menginginkan hal yang kuinginkan. Sejauh ini dia belum pernah berhasil mengungguliku, kecuali pada satu kesempatan, beberapa bulan lalu ketika seorang anak laki-laki pirang dengan gencarnya berusaha menarik perhatianku, mengikutiku siang malam dan secara umum menggangguku. Suatu saat aku kehabisan kesabaran dan menyeretnya ke suatu kelas kosong. Untuk berbicara dengan tegas dengannya, bukan untuk berbuat yang aneh-aneh. Aku sama sekali tidak tertarik padanya, aku lebih suka rambut gelap… dan dia menyebalkan.

Tapi Claude menafsirkan lain, ia mengira aku tertarik pada… kurasa namanya Trancy. Jadi Claude mendekatinya dan merayunya. Keesokan harinya tangan Claude terlilit di pinggang Trancy yang mengumbar senyum bangga. Aku sendiri hanya melirik sekali, lalu meneruskan langkahku, kehilangan minat.

Rupanya Trancy memang sudah merencanakannya. Ia tertarik pada Claude namun tahu bahwa ia tidak punya kesempatan mengingat Claude terlalu sibuk berusaha mengalahkanku (dan aku menduga mungkin dia… aseksual). Namun ia mengetahui sifat Claude dan mendekatiku agar Claude 'cemburu' dan merebutnya. Hmmph, menggelikan sekali.

Claude tidak menganggap hal itu menggelikan. Yang kutahu, beberapa hari setelahnya Trancy tidak masuk sekolah karena 'kecelakaan' sehingga harus dirawat di rumah sakit selama sebulan.

Aku tidak bermusuhan dengan Claude. Kami akhirnya setuju untuk menjadi 'teman'. Kami saling mengejek namun tidak ada perasaan negatif di baliknya. Aneh juga punya teman yang hampir selalu sepandangan denganku. Setelah ia tidak lagi berusaha 'menggungguli'ku, ia cukup bisa ditolerir, paling tidak aku tidak terlalu bosan dalam keseharianku.

Claude mungkin tidak lagi menggangguku, tetapi kalau ia melihatmu, Ciel… Aku tahu minat rahasianya pada hal yang imut dan menggemaskan. Dan aku tahu bahwa ia akan tertarik ketika bertemu denganmu. Begitu Claude mengenal kepribadianmu, sayangnya (karena selera kami yang hampir sama) ia akan terpikat sepertiku. Dan aku punya firasat bahwa tidak akan ada yang bisa mencegahnya untuk berusaha merebutmu dariku…

Tidak, kurasa aku tidak akan pernah mempertemukan kalian.

Yah, seperti tadi kukatakan, apapun pendapat mereka, aku tidak peduli. Yang mengetahui apa yang kuinginkan dan kurasakan hanya aku seorang. Mereka mungkin menyebutnya obsesi, tapi aku tahu lebih baik.

Perasaanku ini, pertemuan kita, dan semua yang kita lewati bersama, semuanya telah terpilin secara berkesinambungan oleh Takdir.

Seperti seorang demon yang secara sabar mengolah jiwa menggiurkan yang akan disantapnya dan tidak pernah melepas sasarannya begitu ia menentukan target; akupun tidak akan pernah melepasmu, dan akan dengan sabar menunggumu tumbuh, hingga suatu saat kau siap menerimaku. Kita masih punya banyak waktu…

Apapun yang terjadi, aku akan tetap berada di sisimu. Aku akan memastikan kita selalu bersama, selamanya.

Our fate entwined, forever more…

.

.

A.N. Whoooaaaah… updatenya lumayan lama juga… 10 hari? Heheh, tapi ya… life happened :P, dan sebagai kompensasi, panjang chapter ini minimal 3,300-an kata, atau 9 halaman di ms word...

Thanks reviewnya, pals! Walau sayangnya bukan user, jadinya ga bisa dibalas, hiks…

Thanks juga yang udah ngereview dan fav-ing 'Cute'. Ciel memang such a cutie… ~sigh~

Yay, another cheese-y chapter! Hmm, kenapa chapter yang sugary sweet gini disebut cheesy ya… cheese kan asin… Oh, apa karena scene yang manis-manis suka bikin fangirl/boy lumer, dan cheese itu dianggap gampang lumer? Hmm, logika yang aneh… ~lumer~

Sepertinya saya lupa sesuatu... tapi apa ya...

*sekelam langit malam penuh bintang: Kenapa sekelam langit malam penuh bintang? Karena kalau tanpa bintang, langit malam benar-benar hitam legam, sementara kalau banyak bintangnya, warnanya lebih ke biru kelabu/biru gelap, seperti rambut Ciel xD.