Sadistic S. Kuroyuki, in.
...
Saatnya balas review!
For CindyAra : Syukurlah saya tidak salah masuk genre. Sempat khawatir masalah genre soalnya...
For aozora shin, Shici kage, braja kun, UZUMAKI NARUCHAN : Thanks! NAM 2 hadir di sini!
For feigun : Si Aniki itu Kurama. Karena Itachi itu jatahnya Sasuke, hehehe. Kesadisan tetap setia membumbui kok, soalnya otak saya keseringan nyasar di adegan berdarah.
For Farhan UzuZaki : Ya, Aniki-nya itu Kurama. Akuma Kazoku memang berarti keluarga iblis, tapi saya cenderung memakai makna konotasi daripada denotasi. Review anda tidak kepanjangan kok...
For Kagami Natsuko : Bukan Shounen-Ai. Saya seorang fujoshi, tapi sayangnya sampai detik ini saya merasa belum mampu bikin fanfict Shounin-Ai. Sasuke sudah ada jatah peran sendiri. Yap, di sini tak ada NaruHina, karena Hinata berperan sebagai mother figure.
Thanks for all readers and especially reviewers!
...
Naruto © Kishimoto Masashi-sensei
Not a Monster © Sadistic S. Kuroyuki
.
Chapter 2 : Kazoku (Family)
.
"Nee, kau nakal sekali, Kurama-kun..."
Orochimaru tersenyum sadis, menatap pemuda dua puluh tahun yang terkurung di balik jeruji sel itu.
Rambutnya merah jabrik tak karuan, dibiarkan panjang mencercah bahu. Sepasang telinga rubah berwarna oranye kemerahan mencuat tajam. Irisnya merah darah pekat, berpupil vertikal tajam, menatap Orochimaru dengan dingin, seolah mampu membekukan neraka hanya dengan tatapan. Tiga tanda goresan menghias kedua pipinya. Sembilan ekor dengan bulu lebat berwarna oranye kemerahan hampir tak bergerak di sekitarnya. Pria itu hanya mengenakan celana traning panjang berwarna hitam, memamerkan dada bidang dan perut berotot. Tubuhnya babak belur dengan luka di sana-sini, entah itu memar atau sabetan senjata tajam.
Dia duduk menyandar pada dinding besi yang dingin, karena kedua tangannya dililiti rantai dari pergelangan tangan sampai siku, ujung rantainya terpaku pada dinding. Sembilan ekornya juga tak bergerak bukan karena dia tak ingin, karena ekor-ekor itu berbalut rantai tiap meternya, dengan ujung-ujung yang menempel erat pada lantai yang juga dilapisi besi. Kedua kakinya pun juga dirantai.
"Aku melakukan apa yang ingin kulakukan, bukan karena perintahmu, Orochi-teme," ucapnya. Suaranya berat, penuh kegelapan dan kebencian.
"Oww, begitukah kau bersikap pada mantan gurumu, Kurama-kun?" ujar Orochimaru dengan nada sakit hati yang dibuat-buat, membuat yang diajak bicara makin benci.
"Empasis pada kata mantan," balas Kurama singkat.
"Aku memang mantan gurumu, tapi haruskah kau bersikap sekejam itu?"
Kurama memutuskan untuk tak merespon, tatapannya makin sengit. Tak ada gunanya bicara dengan ular brengsek yang satu ini.
"Kau benar-benar anak nakal, Kurama-kun..." Senyuman sadis tak meninggalkan wajah pria itu, malah makin lebar saat tujuh anak buahnya datang, berdiri di belakang Orochimari bagai anjing yang patuh.
"Kabuto-kun, lakukan."
Salah satu dari mereka, pemuda yang tampak usianya tak beda jauh dengan Kurama, rambutnya perak, dikuncir ke belakang, dia mengenakan kacamata dengan frame bulat. Dia mendorong troli yang berisi beberapa suntikan entah berisi cairan apa. Dia hanya mengangguk sebagai respon, lalu memberi isyarat pada dua rekannya untuk membuka pintu jeruji.
Dikawal dua temannya, Kabuto masuk. Tangannya sudah dilapisi sarung tangan putih.
"Nee, Kouhai-kun, kalau saja kau tidak nakal..." goda Kabuto, tangan kanannya memegang dagu Kurama.
"Nekrofil sialan. Lepaskan aku," balas Kurama dengan nada memerintah. Matanya tetap menatap tajam. Kabuto hanya tertawa kecil, kemudian menyiapkan suntikan di troli.
"Dari dulu kau selalu begitu. Wajar tak ada yang berani mengusikmu meski kau paling muda di angkatan kita karena lompat kelas, atau saat sifat brother-complex-mu sukses meneror sekolah," ujar pria berkacamata itu, sudah memegang suntikan yang siap pakai, jarumnya sudah siap menembus kulit putih Kurama.
'Serum apa itu?' batin Kurama waswas sambil berontak, tak ambil pusing dengan kata-kata menyebalkan Kabuto.
"Dalam hati kau pasti bertanya-tanya ini serum apa, tapi terlalu keras kepala untuk bertanya. Singkat saja ya, ini akan membuatmu jadi anjing yang patuh bagi Orochimaru-sama," ujar Kabuto, langsung menusukkan jarum itu di lengan kiri atas Kurama yang masih berusaha berontak.
Sakit.
Itulah yang saat ini dirasakan Kurama. Digigitnya bibir sendiri, tak sudi berteriak kesakitan di depan Orochimaru. Tidak, dia tak boleh terlihat lemah!
Tapi rasa sakit itu terasa makin hebat. Rasanya seperti tiap senti kulitnya dibakar api neraka. Ukh, sialan... Makin kuat dia menggigit bibirnya, tanpa sadar kalau bibir pucat itu sudah berdarah. Tapi dia bertahan pada egonya, yang menolak menunjukkan rasa sakit. Tak ada rintihan penuh derita manifestasi dari rasa sakit.
Keras kepala. Itulah Uzumaki Kurama yang selama ini dikenal orang-orang.
'Tidak boleh... Tidak boleh menunjukkan tanda kelemahan... Yami-sensei...'
Sebagai murid dari Uzumaki Yami, sudah tentu Kurama menerima latihan keras dari pria setan itu. Sudah dibenamkan dalam otak Uzumaki muda itu, kelemahan tak boleh ditunjukkan. Sama sekali tidak boleh, apalagi jika di depan musuh.
"Ah... Ajaran dari si setan Yami itu rupanya... Mana guru kesayanganmu itu? Guru yang bahkan kau anggap ayah karena Minato tak becus mengasuh anak—bahkan tak becus mengurus keluarga. Kenapa dia tak ke sini menyelamatkan muridnya? Apa dia sudah membuangmu karena masih ada Karin, Sasori dan Yozora? Bahkan Yozora yang sudah kau anggap adik itu, kenapa dia tidak ke sini? Bukankah Yozora adalah penganut prinsip kawanan serigala? Jangan-jangan... kau sudah dikeluarkan dari kawanan... Ckckckck, kasihan sekali... Yang tadinya pemburu, kini jadi tawanan... rubah kecil yang terluka di sarang ular..." Orochimaru terus bicara dalam monolognya, tak peduli didengar Kurama atau tidak.
'Fokus pada misi, Kurama. Fokus. Dia ingin memanfaatkan emosimu. Misi ini tak boleh sampai ketahuan! Si rubah pemburu tak pernah gagal dalam misinya atau pun melepaskan target!'
...
"Otousan! Aku sudah tidak tahan lagi!" seru seorang wanita, tangannya menggebrak meja.
Wanita itu bernama Uzumaki Karin, usianya 22 tahun. Rambutnya merah jabrik, panjang sampai pinggang. Matanya oranye kemerahan, menyala-nyala bagai kobaran api, dibingkai oleh kacamata dengan frame persegi panjang berwarna hitam. Dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hitam yang bagian bawahnya dikeluarkan, bagian lengan digulung sampai siku, kancing paling atas dan paling bawah dibiarkan terbuka. Sementara untuk bawahan, dia mengenakan celana panjang jeans berwarna biru gelap yang agak longgar.
Sementara pria yang mejanya baru saja digebrak Karin bernama Uzumaki Yami. Adik dari Uzumaki Kushina dengan selisih usia sepuluh tahun. Rambutnya hitam dengan hight light merah di beberapa tempat, jabrik, dengan panjang sepunggung yang dikuncir ekor satu. Matanya yang berwarna hijau gelap misterius seperti belantara hutan yang tak pernah tersentuh tangan manusia.
"Sudah dua tahun seperti ini! Kurama masih terkurung di sana! Bahkan kiriman data terakhir sudah sebulan yang lalu! Lagi pula, Naruto sudah aman! Aku, Sasori dan Yozora siap kapan saja untuk menyerbu!" Karin berteriak dengan semangat menggebu.
"Jangan gegabah." Hanya itu balasannya.
"Tapi Orochimaru tak bisa dibiarkan begitu saja!"
"Karin. Aku bilang jangan gegabah. Berbeda dengan 'jangan serang dulu'." Suaranya yang bariton, tenang, lebih dingin dari es. Lebih ampuh memaksa Karin untuk diam.
"Tapi sudah ada rencana, 'kan?" tanya Karin, emosinya mulai mereda.
"Ya." Jawaban singkat Yami mengakhiri pembicaraan. Terjadi keheningan selama semenit, akhirnya Karin memutuskan untuk keluar dari ruang kerja ayah angkatnya itu.
Masih di ruang kerjanya, Yami menghela nafas, menghempaskan punggungnya pada sandaran tinggi di kursi putarnya. Pria berpakaian jas resmi itu kemudian memutar kursinya, menatap layar LCD yang menampilkan data-data dari Kurama yang masuk sejak dua tahun lalu. Data-data hasil infiltrasi Kurama...
'Kurama... Kau benar-benar nekat... Aku tahu kau tak suka melepaskan mangsamu, tapi kalau senekat ini...'
...
"Bagaimana, Karin?"
Wanita itu hanya menggeleng. Iris sewarna apinya menatap mata Sasori yang tadi menanyainya, jelas-jelas menyuratkan rasa khawatir.
"Aku punya firasat tidak enak..." ujar Sasori.
Namanya Uzumaki-Akasuna Sasori, usianya baru menginjak 18 tahun. Rambut merahnya dipotong pendek, hanya sampai leher. Matanya yang berwarna coklat hazel tampak tenang. Tubuhnya berperawakan kecil dan wajahnya bertipe baby face, membuatnya sering dikira berusia 14-16an. Hitam adalah warna kesukaannya, disusul merah di urutan kedua. Makanya kebanyakan pakaiannya berwarna gelap, seperti t-shirt hitam lengan panjang dengan gambar kalajengking berwarna merah menghias lengan kanan atas dan dada sebelah kiri, serta celana panjang trainning berwarna merah bata dengan garis hitam di bagian samping.
"Tak biasanya kau mendengarkan firasat," komentar Karin.
Sasori, yang saat ini sedang duduk di sofa berlapis beludru hitam di ruang keluarga berukuran 8x10 meter, dengan laptop kesayangan di pangkuannya, tak menjawab, hanya mengangkat bahu. Kemudian dia kembali mengalihkan pandangan pada monitor laptop.
"Haaaaah! Sampai kapan harus menunggu?" keluh Karin, menghempaskan diri di sofa berbentuk 'letter U' besar yang diatur mengelilingi TV berukuran 56 Inchi.
"Ikuti saja rencana Yami-sensei. Kau kira hanya kau yang mengkhawatirkan Kurama? Tahu sendiri sikap Yozora sejak cowok rubah itu pergi," ujar Sasori, masih mempertahankan wajah tanpa ekspresi. Tapi dari kecepatan tangannya di atas keyboard yang makin menggila, juga dengan tekanan maksimal sampai terdengar bunyi 'tak-tak-tak', Karin langsung tahu kalau remaja yang lebih muda 4 tahun darinya itu sedang menahan amarah. Diam-diam dia mengasihani laptop Sasori—yang memang tiap bulannya harus ganti keyboard...
"Tunggu dulu! Sasori, kau tahu Yozora ke mana? 'Kan hari ini giliranmu mengantar makanan. Seharian ini aku tak melihatnya."
"Entahlah. Tadi pagi saat kuantar makanannya, dia masih bergulung di kasur, entah tidur atau tidak, karena aku mendengar geramannya."
"Kurasa aku harus mengecek kondisinya," ujar Karin, berdiri lalu segera berlari meninggalkan Sasori.
"Good luck, Karin-nee..." ucap Sasori lirih.
...
Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, Karin menggenggam erat gagang pintu. Pintu kamar Yozora.
Yozora adalah serigala piaraan Kurama sejak dia berumur 6 tahun. Hadiah ulang tahun dari Yami. Waktu mereka bertemu, Yozora masih kecil, anak serigala yang bahkan lebih imut dari kucing angora, baru berusia sekian bulan. Seiring waktu, mereka cepat akrab, sampai-sampai mereka bisa bicara banyak hanya dengan saling tatap—hal yang sampai saat ini tidak dimengerti Karin. Mereka bahkan sering tidur sekasur.
Waktu Kurama sudah berusia 12 tahun, dia melakukan suatu eksperimen yang membawa masalah dan berkah. Eksperimen yang mengubah Yozora menjadi serigala hybrid. Eksperimen yang meninggalkan kenangan mendalam pada keduanya.
Dia berada di waktu dan tempat yang salah. Percobaan Kurama menyebabkan dia berubah menjadi serigala hybrid. Menyebabkan beberapa perubahan. Dia menjadi lebih pintar sampai mampu bicara dengan bahasa manusia, bahkan membaca tulisan. Cakar dan taringnya lebih kokoh dan tajam. Selain itu, tubuhnya juga menua dengan standar manusia, menyebabkan dia hidup lebih lama dari serigala pada umumnya.
Perlahan, Karin membuka pintu itu, lalu masuk tanpa suara.
"Yozora..."
Mata oranyenya menangkap sesosok yang bergulung di atas kasur. Segera dia menekan tombol lampu, ingin memastikan sosok itu.
Benar, Yozora di sana. Dia tidak tidur, hanya berbaring.
Untuk ukuran serigala, tubuh Yozora cukup besar, tak beda jauh dengan harimau, karena eksperimen itu. Bulunya hampir semuanya berwarna hitam kelam, dengan sebagian kecil berwarna putih di ujung kaki dan ekor. Membuat Kurama menamainya Yozora yang berarti langit malam. Sementara matanya berwarna coklat hazel, sama seperti Sasori. Mulutnya tak terkatup rapat, sedikit memamerkan deretan gigi putih nan runcing.
Ikatan mereka makin erat setelah insiden itu.
Puas bernostalgia, Karin melangkah, mendekati serigala yang menggulung rapat itu. Dia melirik sekilas nampan makanan di meja samping kasur, sama sekali tak tersentuh sejak diantar Sasori.
"Yozora, kenapa kau tak makan?"
Jawaban yang diterimanya hanya geraman tak jelas, yang hanya Kurama yang bisa menerjemahkannya.
"Hey, kau tahu aku tak mengerti bahasa serigala!" protes wanita muda itu.
"Aku tidak lapar."
Akhirnya Yozora membalas dengan suara beratnya yang khas, tetap mirip suara geraman.
"Kemarin juga begini. Kau mau kupaksa minum susu dari botol dot?" omel Karin, duduk di sisi kasur dengan tangan kanan menelusuri bulu lebat di punggung serigala itu.
"Aku tahu kau memikirkan Kurama. Semua anggota Akuma Kazoku juga memikirkannya. Apa kau tahu Sasori mulai mengganti keyboard laptopnya seminggu sekali karena emosi?" lanjut wanita berkacamata itu.
Sejak kepergian Kurama, Sasori makin rajin mengganti keyboard laptop. Awalnya normal, tiga bulan sekali. Perlahan makin sering, menjadi sebulan sekali. Lalu setelah putus komunikasi dengan Kurama sebulan lalu, seminggu sekali remaja maniak komputer itu mengganti keyboard. Dia jarang menampilkan emosi, tapi terlihat jelas dari kecepatan dan tekanan yang digunakan saat mengetik.
Bahkan toko komputer langganan Sasori sudah hafal apa yang akan dipesan cowok berzodiak Scorpio itu.
"Kau sendiri?" balas Yozora.
"Apa kau sadar belakangan ini cara masakku makin sadis?"
Oh ya, dari suara saat wanita Uzumaki itu memotong saja terdengar memilukan. Seolah dia sedang menggoreng seekor ikan atau mencabuti bulu ayam saat hewan-hewan itu dalam keadaan hidup. Faktanya tidak begitu, tapi dari suaranya seperti itu.
"Apa itu latihan untuk mencincang ular brengsek itu? Maaf saja, tapi dia ada janji dengan taring dan cakarku."
"Aku tak keberatan berbagi mangsa kali ini."
Tanpa ragu lagi, kedua mulai berdiskusi tentang hal-hal sadis dengan topik utama 'Siksaan apa yang cocok untuk Orochimaru brengsek'
...
"Yami-sensei."
Yang bersangkutan menghela nafas, lalu memutar kursinya. Tadi Karin, sekarang Sasori. Semoga saja Yozora tidak ikut-ikutan—mengingat serigala yang satu itu lebih anarkis dalam berdebat. Faktanya di antara mereka berlima, Yozora yang paling cinta kekerasan.
"Kenapa, Sasori?" balas pria bermata hijau gelap itu.
"Soal Kurama." Langsung pada pokok pembicaraan, itulah Sasori.
Coklat hazel beradu sengit dengan deep forest Tapi bagaimana pun juga, Yami, dengan usianya yang sudah menginjak 40 tahun, tahu cara menghadapi situasi seperti ini.
"Aku sudah punya rencana. Ikuti saja permainannya. Tugasmu kali ini adalah menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Bukankah itu seperti kalajengking yang menunggu mangsa dengan sabar dari tempat persembunyian?"
Sasori hanya bisa menghela nafas, pasrah. Di keluarga ini, hanya Kurama yang bisa menang beradu argumen dengan Yami. Karin seperti phoenix, selalu bangkit lagi setiap kalah, dia lihai bermain emosi—sementara emotion warfare nyaris tak berguna kalau berhadapan dengan setan macam Yami. Kalau Sasori adalah tipikal straight-to-the-point, sama-sama tak berkutik di hadapan Yami. Sementara Kurama, dia licik seperti rubah, dengan poker face andalannya.
"Yami-sensei... Kapan kau akan membereskan dia? Apa kau masih merasakan persahabatan itu setelah kalian berselisih paham bertahun-tahun lalu?"
SYAAAT! TAAKK!
Kali ini Yami tak membalasnya dengan kata-kata. Sebagai gantinya, sebuah pisau melesat dari tangan kanannya, hanya meleset beberapa milimeter dari pipi kiri Sasori. Pisau itu menancap di dinding belakang pemuda bermata hazel itu, menancap dalam sampai hanya gagangnya yang terlihat.
"Tak ada tempat bagi pengkhinat di daftar aliansiku. Satu-satunya alasan aku belum membantainya adalah karena aku ingin berbagi mangsa dengan murid-muridku. Sekarang, keluar sebelum aku mengajakmu sparring," ujar Yami dingin.
Sasori hanya mengangguk pelan, bahkan tak mau repot-repot minta maaf—dia tahu itu malah memperburuk keadaan dalam kasus seperti ini, meski dia yang salah karena telah mengungkit luka lama.
Pemuda maniak komputer itu segera meninggalkan ruangan Yami tanpa kata-kata. Sparring dengan Yami saat pria itu sedang emosional sama saja setor nyawa. Bahkan Kurama bisa dibuat babak belur olehnya.
...
"Baka!" seru Karin dan Yozora secara bersamaan setelah pemuda yang namanya bermakna 'kalajengking' itu menceritakan apa yang terjadi ruangan Yami. Disusul dengan dua bantal yang melesat ke kepalanya, meski bisa dengan mudah dihindari.
"Hey! Kalian tahu berdebat bukan areaku!" protes Sasori.
"Kalau begitu kau harus tanggung jawab! Temani aku belanja, karena makan malam hari ini adalah masakan kesukaan Otousan."
Kulit Sasori sedikit memucat mendengar ucapan Karin. Boyish sekalipun, perempuan tetaplah perempuan. Meski Karin jelas takkan menyeretnya ke area pakaian dan bertanya 'bagus tidak aku pakai ini' tiap menitnya, tetap saja dia tak suka menemani perempuan berbelanja—faktanya menemani siapa pun berbelanja saja dia tak suka, tepatnya malas. Untung saja, dengan tinggi dan wajahnya yang 'imut' serta rambut mereka yang sama-sama merah, dia bakalan dikira adik daripada pacar...
Karin tampaknya tak ambil pusing, melenggang keluar kamar Yozora, sedikit persiapan sebelum belanja.
"Oi, Sasori..."
"Ya, Yozora?"
"Seingatku kita belum belanja bulanan."
"Sialan." Hanya itu yang keluar dari bibir Sasori, mewakili entah berapa ribu kata makian dari berbagai bahasa dunia yang menghuni kepalanya saat ini.
Oh, jangan lupa kalau satu pria dan satu wanita berbelanja, biasanya si pria yang didapuk menjadi kuli angkut barang.
'Kenapa Kurama tampak biasa saja kalau menemani Karin?' batin Sasori nelangsa, setengah menyeret tubuhnya untuk berjalan.
...
Kembali ke Naruto.
Naruto's POV
Di kamar, berbaring di kasur, masih dengan seragam pasien, mata biru langitku menatap langit-langit kamar. Putih polos. Aku tak menyukainya.
Tapi takkan lama. Aku akan keluar dari sini. Keluar dari neraka di muka bumi, lalu memburu Orochimaru-teme dan mencari Kurama-nii. Oh, indahnya rencana itu.
Aku akan keluar dari sini, sudah pasti. Tapi Hinata-neechan bilang kalau aku takkan dilepaskan begitu saja. Dipastikan akan selalu ada polisi yang mengawasiku. Tak masalah, agar bisa keluar dari sini.
Kurama-nii... Kau sekarang di mana?
Kualihkan pandangan pada langit sore yang terlihat dari jendela.
Sudah tiga minggu sejak kunjungan pertama Fugaku-san. Sejak saat itu dia rutin berkunjung tiap sore. Sebentar lagi dia akan datang. Bahkan di hari Minggu dia tetap datang, biasanya Otousan sering meluangkan Minggu sorenya di rumah. 'Kan dia punya keluarga juga, kenapa dihabiskan bersamaku?
"Naruto." Terdengar suara Fugaku-san bersamaan dengan suara ketukan pintu. Juga kudengar suara langkah orang lain menemaninya.
"Silahkan masuk," ucapku, meski agak ragu. Siapa yang bersama Fugaku-san?
Pintu terbuka, aku bisa mencium bau mereka. Fugaku-san. Lalu, seseorang, sepertinya laki-laki.
"Fugaku-san?" panggilku, segera duduk di sisi kasur. Sepertinya terdengar jelas dari suaraku kalau aku penasaran siapa yang bersamanya.
Kedua masuk, menarik kursi dan meletakkannya tak jauh di hadapanku, kemudian duduk. Tak langsung bicara, sepertinya Fugaku-san mengerti kalau aku ingin mengamati si orang baru.
Laki-laki, usianya sekitar 18 tahun. Rambut dan matanya hitam kelam seperti Fugaku-san. Rambutnya diatur dengan poni belah tengah, sementara sisanya dijadikan kuncir satu longgar di belakang. Wajahnya serius, tapi menurutku lucu karena ada keriput di pipi yang melintang secara horizontal dari pangkal hidung sampai sisi wajah. Dia mengenakan pakaian semi-formal, kemeja putih yang dua kancing atasnya dibuka dan lengan panjangnya digulung ¾, lalu celana jeans dan sepatu kets hitam sebagai bawahan.
"Fugaku-san, dia..." ujarku lirih, tapi tak segera kuselesaikan. Lama tak berinteraksi secara normal membuatku sedikit canggung berhadapan dengan orang baru. Beberapa ekorku mulai melambai gelisah.
"Uchiha Itachi. Dia anakku yang pertama. Sudah pernah kubilang," ujar Fugaku-san.
Mataku menatap sosok baru itu lekat-lekat. Mirip.
Fugaku-san pernah bilang kalau dia punya dua anak laki-laki. Yang pertama dua tahun lebih muda dari Kurama-nii. Yang kedua seumuranku. Tunggu dulu, kenapa Fugaku-san membawa Itachi-san ke sini? Maksudku, setahuku orang tua takkan membahayakan nyawa anaknya. Ini, dia malah membawanya kemari, tahu sendiri kalau aku...
"Namamu Namikaze Naruto, ya? Senang berkenalan denganmu. Tak usah gelisah seperti itu." Akhirnya dia bicara. Suaranya juga berat seperti Fugaku-san.
Kali ini bukan beberapa ekor lagi yang melambai gelisah, tapi semuanya. Hey, kenapa ekor-ekorku sendiri tidak mau kerja sama sih? Kalau begini bisa-bisa false-alarm! Selain ini, kenapa Hinata-neechan tak ikut?
Tak berkutik, aku hanya bisa menatap mata hitamnya dengan gugup. Satu orang baru saja sudah begini. Bagaimana kalau aku masuk sekolah normal nanti? Banyak anak-anak di sana 'kan?! Ukh, menyesal juga di-homeschooling...
"Kutinggal kalian berdua. Santai saja," ujar Fugaku-san, bangkit, lalu segera melesat ke arah pintu dengan kecepatan yang tak kalah dengan Sonic the Hedgehog.
"..."
"..."
Aku dan Itachi-san menatap pintu yang baru dilewati Fugaku-san. Sepertinya kami berdua sweatdrop.
"Gomen nee, Naruto-kun, Otousan tampak buru-buru, mungkin ada urusan penting."
Aku kembali memfokuskan diri pada si Uchiha junior.
"Ano, Itachi-san, kenapa kau-" Lagi-lagi aku tak melanjutkan ucapanku.
"Aku yang menginginkannya. Selain itu Otousan bilang kau harus mulai berinteraksi dengan banyak orang. Nanti juga adikku akan ke sini."
"Terlalu cepat..." gumamku, merapatkan kaki ke dada dan memeluknya. Kali ini ekorku sudah lebih tenang.
Aku ikut homeschooling sejak kecil. Guru-guru datang silih berganti. Okaasan selalu menemani. Kadang aku diajak ke rumah temannya dan bermain dengan anak dari teman Okaasan. Tapi aku tak pernah jauh-jauh dari dekapan Okaasan. Tiap bertemu orang baru saja aku lebih suka bersembunyi di belakang Okaasan atau Otousan—kalau bersembunyi di belakang Kurama-nii, dijamin malah aku yang diseret agar bergaul dengan yang lain.
Sepuluh tahun pertama hidupku lebih banyak kuhabiskan di Namikaze Mansion. Aku bahkan hampir belum pernah keluar Namikaze Mansion tanpa didampingi Okaasan atau Otousan. Kemudian dua tahun berikutnya kuhabiskan dalam masa tahanan gara-gara si ular brengsek itu. Jelas saja aku tak mudah bergaul.
"Cepat atau lambat kau harus melakukannya. Kau bisa mempertahankan lingkaran kecilmu yang aman, tapi setidaknya buatlah lingkaran lagi di luarnya."
Aku mendongak, menatapnya dengan tanda tanya. Kenapa orang-orang suka pakai bahasa ribet sih? Haduh, jangan-jangan dia seperti Kurama-nii, yang kalau kuajak bicara sering pakai istilah ribet yang membuatku segera membombardir guru-guru homeschooling dengan pertanyaan tentang arti kata.
"Ahahaha, tak mengerti ya? Maaf deh. Intinya, jangan terus-terusan mengisolasi diri," ucapnya sambil mengelus kepalaku. Seulas senyum menghias wajahnya.
Ukh, kalau seperti ini, aku jadi ingat Kurama-nii... Bedanya, kalau Kurama-nii itu blak-blakan, dia bakalan langsung mendorongku ke kerumunan orang dan memperkenalkanku.
"Itachi-san..."
"Shhh... Panggil saja aku Itachi-nii. Kau pasti merindukan Kurama-san, 'kan?" ucapnya, melepaskan tangannya.
Aku bingung ingin mengatakan apa, jadi kuambil sketchbook-ku—aku sudah menghabiskan tiga sejak aku sadar, rumah sakit itu membosankan. Segera kubuka sebuah halaman.
Di sana ada gambar keluarga kami di sebuah taman. Okaasan, Otousan, Kurama-nii dan aku . Aku dalam versi 10 tahun, duduk di ayunan di bawah sebuah pohon besar. Okaasan di belakangku, mendorong ayunan. Sementara Otousan berdiri menyandar ke batang pohon itu, matanya mengawasiku. Kami bertiga tersenyum. Sementara Kurama-nii duduk santai di salah satu dahan pohon itu, buku di tangan kirinya, sementara tangan kanannya dilipat di belakang kepala untuk dijadikan bantalan. Dari wajahnya dia cuek, ekspresi datar, fokus dengan bahan bacaannya. Tapi matanya melirik tajam ke arahku, seperti rubah yang mengawasi. Aku tahu lebih cocok disamakan dengan elang. Tapi entah kenapa, Kurama-nii punya aura mengerikan yang seolah berteriak "I'm a fox, yeah!"
Kutunjukkan gambar itu padanya.
"Dia selalu sok cuek, seolah-olah dia bakal tetap lanjut membaca meski ada yang membunuhku. Tapi nyatanya tak begitu. Bahkan dia hafal jadwal homeschooling-ku berikut profil lengkap gurunya.
Kalau kau tadi menyarankanku untuk bergaul, Kurama-nii juga dulu sering. Tapi bedanya dia bakalan langsung menyeretku dan memperkenalkanku pada kerumunan orang. Kalau ada yang tak kumengerti, dia jarang langsung menjelaskan, tapi malah membuatnya seperti teka-teki berantai di mana aku harus bertanya pada beberapa orang atau membaca beberapa buku untuk mendapatkan jawaban.
Dia kadang menyebalkan, tapi aku merindukannya..."
Aku menghela nafas, sebenarnya tak begitu suka membicarakan Kurama-nii.
Selalu ada rasa bangga sekaligus iri terselip, karena dia prodigy.
Kemudian perasaan lain yang aneh. Kurama-nii tahu banyak hal tentangku, bahkan bisa menebak isi pikiranku. Sementara aku tak pernah mengerti jalan pikirannya. Yang aku tahu persis, dia itu perfeksionis. Kadang aku bertanya dalam hati, kami bersaudara, kenapa aku tak banyak tahu tentangnya?
Aku benci mengingat kenyataan itu.
...
Sudah sejam yang lalu sejak Itachi-nii pulang. Aku banyak mengobrol dengannya. Dia lebih banyak bicara dari Fugaku-san. Hari ini Hinata-neechan memang tak berkunjung, tapi tak masalah. Mungkin saja dia ada kesibukan lain—pasiennya pasti tak hanya aku, nee?
Itachi-nii itu... versi paling ramah dari Kurama-nii.
Dia bisa dibilang prodigy. Daya ingatnya juga sama mengerikannya dengan Kurama-nii yang punya... apa itu namanya, daya ingat fotografis? Katanya orang yang memiliki kemampuan itu bisa mengingat apa pun yang dia baca, dia lihat dan dia dengar. Seperti komputer yang selalu siap sedia menerima, mengolah dan memberi informasi.
Selain itu, analisisnya juga tajam, memaksaku untuk berpikir jernih dan rasional. Meski tata bahasanya lebih sopan dari Kurama-nii. Oh ya, dan dia tahu kapan harus bercanda untuk mencairkan suasana. Dia juga mengurangi penggunakan kata-kata yang asing dikenal remaja 12 tahun. Kalau pun menggunakannya, dia selalu menyertakan penjelasan.
Tapi yang menyebalkan, dia menyerap segala informasi. Belakangan aku tahu kalau Fugaku-san memberinya akses pada semua dokumenku. Aku seperti buku yang terbuka di hadapannya. Menyebalkan memang.
Tadi dia sempat bercerita bagaimana sekolah normal berjalan, meskipun hanya sekilas. Dia juga lompat kelas soalnya, meski tidak secepat Kurama-nii. Katanya dia ingin menghirup udara segar sebelum terjun dalam dunia kepolisian. Oh ya, aku belum bilang, kalau seperti ayahnya, dia ingin menjadi polisi atau apa pun yang berhubungan dengan penegakan hukum.
Kesanku... dia menarik. Lebih menarik dari Fugaku-san yang cenderung formal meski kadang kebapak'an.
Kuhela nafas, lalu mengambil buku harian, menulis apa yang terjadi hari ini. Senang rasanya punya teman mengobrol.
Para perawat dan dokter yang bertugas terlalu takut untuk berbicara padaku di luar prosedur atau hal-hal yang benar-benar perlu. Hinata-neechan tak mungkin hadir 24 jam sehari. Begitu pun dengan Fugaku-san. Lagi pula jarak usia mereka terlalu jauh, jadinya malah seperti menghadapi Okaasan dan Otousan. Setidaknya Itachi-nii hanya 6 tahun lebih tua dariku.
Ini sudah minggu ke-3. Masih 3 minggu lagi. Yakh, takkan terasa lama kalau begini...
Puas menulis-nulis, tak lupa menggambar beberapa sketsa, kumatikan lampu kamar dengan salah satu ekorku—belakangan, setelah aku bisa mengendalikan mereka, aku jadi serasa punya sembilan tangan tambahan.
Segera, kutarik selimutku, tak lama kemudian aku terlelap.
...
Kurama's POV
'Siapa aku?' Terdengar suara bertanya dalam kepalaku.
'Number Nine, anak buah Orochimaru-sama yang paling setia.' Terdengar bisikan lain.
'Jangan lupa, Uzumaki Kurama! Jangan pernah lupa pelajaran dariku!' Kali ini suara teriakan yang terasa familiar. Seorang laki-laki dengan suara berat yang sudah menemaniku sejak kecil.
'Lupakan nama itu, Number Nine...' Bisikan itu terdengar lagi.
'Karena kau Uzumaki Kurama, adikku yang manis.' Terdengar suara seorang wanita muda. Mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dariku.
'Lupakan dia, Number Nine...' Lagi-lagi bisikan itu.
'Uzumaki Kurama itu sama sekali tak bisa dideskripsikan dengan kata 'manis', kecuali kalau definisi manis itu sendiri sudah berubah 180 derajat.' Suara yang datar, milik remaja laki-laki yang juga terasa familiar.
'At your command, Oyabun!' seru sebuah suara yang mirip geraman.
'Kurama-nii, apa itu Tripel Pythagoras?' tanya sebuah suara inosen.
'Lupakan mereka semua, Number Nine!' Kali ini suara bisikan itu berubah jadi seruan.
A-apa-apaan ini? Ini 'kan pikiranku, kenapa banyak suara tak jelas begini?
Kuso... Kenapa aku? Dan, pertanyaan tadi... Siapa aku sebenarnya?!
'Dengarkan aku... Tak ada Uzumaki Kurama, yang ada hanya Number Nine...' Lagi-lagi suara bisikan itu.
...
Tsuzuku
...
Yeah, ada OC yang muncul di sini! Uzumaki Yami dan Yozora.
Uzumaki Yami, adik Kushina dengan selisih usia 10 tahun. Rambutnya jabrik panjang seperti Jiraiya, tapi warnanya merah darah. Matanya hijau gelap dengan pupil normal.
Yozora, serigala seukuran Akamaru (shippuuden), bulunya hitam kelam dan lebat. Matanya coklat hazel. Dia mengenakan dog-collar berwarna hitam yang tersembunyi oleh bulunya. Dia serigala mutan, jadi bisa bicara seperti manusia dengan kepintaran setara anak manusia normal berusia 16 tahun. Jangan ragukan loyalitasnya!
Ada yang protes kalau Karin dijadikan tokoh penting di sini?
Yakh, saya hanya bosan dengan image Karin yang lebih sering dijadikan perusak hubungan, flirty girl, dan sebagainya.
Buat para Fujodanshi yang merasa ada hint ItaNaru. Serius, saya hanya berencana bikin ikatan brotherhood, tidak lebih. Naruto memang lebih mellow di chapter ini, tapi itu karena Itachi mengingatkannya pada Kurama.
Dan chapter ini sudah saya edit ulang. Maaf kalau masih ada salah ketik. Tapi serius lho, sudah saya edit ulang!
Sekian, sampai jumpa di NAM!
...
Words : 4.311
Pages : 13
Publish : 2013-07-31
Re-edit : 2013-08-05
...
Mind to review?
...
Sadistic S. Kuro, out.
