Lirik kanan.

Lirik kiri.

Emerald Sakura kini sedang melihat keadaan rumahnya dengan teliti. Sepi, tidak ada tanda-tanda bahwa ibunya ada di rumah. 'Aman!' batin gadis emerald itu menghembuskan nafas lega sambil meletakkan sepatunya di rak yang terletak di samping kanan pintu masuk.

Lalu, dengan sangat hati-hati, Sakura pun melangkahkan kedua kakinya secara bergantian menuju sebuah pintu yang kini terlihat seperti surga di mata Sakura: kamar Sasori. 'Nii-san, aku datang!'

Masih disertai kewaspadaan yang tinggi, Sakura pun mempercepat langkahnya. Kini, anak kedua pasangan Tsunade dan Jiraiya Haruno itu sudah bisa bernapas lega karena Ia telah sampai di depan sebuah pintu yang memiliki papan kayu yang berisikan rentetan huruf yang membentuk dua kata, Sasori's bedroom.

Sebuah senyum gembira kini terpatri di wajah cantik Sakura. Telapak tangan halusnya sudah menggenggam erat kenop pintu. Seharusnya, pintu itu telah terbuka sempurna karena adanya gerakan memutar yang terjadi pada kenop tersebut sehingga menampakkan sebuah ruangan khas lelaki. Namun, gerakan itu terhenti seketika, ketika Sakura mendengar sebuah suara yang dengan tegasnya mengucapkan namanya.

"Sakura?"

Glek!

.

Naruto is Masashi Kishimoto's

Main Pair: SasuSaku

50 Days With Mr. Arrogant

(Terinspirasi dari K-Film 100 Days With Mr. Arrogant)

Collaboration Fiction by:

Voila Sophie and Natchii

HSAU, OOC, Typo(s), Sederhana, EYD berantakan.

Genre: Humor, Romance, and Friendship

Rate: Teens

Summary:

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang dialami Sakura.

Sial? Pasti! Namun, bagaimana jika yang me'nimpa'nya adalah seorang pemuda yang angkuh?

.

Special Thanks to:

Skysunsets, Chocolate Lolypop, OraRi HinaRa, Ckck vivi

Vanilla yummy, Lucy Uchino, Tian Senou, Nattually, Sakura Dancer

Jimi-li, Boa dy Hinata, Haru-Starlietta, Akari Fushigina, Chezahana-chan, Anomelish

Hana Suzuran, Emmie males login Haha

(Review kalian merupakan semangat untuk kami ^^)

~Happy Reading^^~

.

50 Days With Mr. Arrogant

.

Seketika darah di dalam tubuh Sakura berdesir cepat. Tanpa Ia sadari, tangan kanannya yang sedari tadi memegang kenop pintu pun juga mulai mengeluarkan keringat dingin. Satu kata: Takut. Suara itu, suara yang sudah tak asing lagi untuk Sakura. Suara tegas itu selalu didengar oleh kedua telinga Sakura setiap harinya. Lalu, dengan sekali gerakan halus, Sakura berputar membentuk sudut 180 derajat agar Ia bisa berhadapan dengan sang pemilik suara.

"Kaa-san?" bisik Sakura pelan, sangat pelan seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Gadis bermarga Haruno itu tidak mau—atau lebih tepatnya tidak ingin—menatap manik mata ibunya yang kini tengah menatapnya dengan pandangan menyelidik.

"Sedang apa kau disini?" tanya wanita paruh baya itu seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Aku sedang—" Sakura menjeda kalimatnya sebentar untuk menghirup oksigen, lalu ketika Ia membuka mulutnya untuk melanjutkan kalimat, tiba-tiba sang ibu melontarkan sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang sedari tadi Ia hindari sampai-sampai Ia rela bertingkah seperti pencuri di dalam rumahnya sendiri.

"Kertas apa itu?" tanya sang ibu—Tsunade Haruno—dengan satu alis terangkat menunggu jawaban dari putrinya. Bola matanya tertuju kepada gulungan kertas yang berada di genggaman Sakura.

"Err—" Gadis bermahkotakan soft pink tersebut menggigit bibir bagian bawahnya, berusaha mencari alasan yang tepat untuk dilontarkan kepada sang ibu.

Jujur? Hell! Tidak mungkin. Itu sama saja menggali kuburan sendiri!

"Etto, kaa-san. A-aku mau menanyakan tugasku kepada nii-san. Ya, kepada nii-san!" ucap Sakura dengan seulas senyum yang terkesan dipaksakan di mata Tsunade. Gadis itu tidak sepenuhnya berbohong, bukan? Dia hanya tidak mengatakan apa penyebab dia mendapat tugas seabrek itu dari guru killer-nya.

"Benarkah itu, sayang?" tanya wanita berusia 40 tahun itu dengan memberi penekanan di kata 'sayang'. Bulu kuduk Sakura langsung tegak tanpa dikomando ketika Ia mendengar penuturan ibunya. Oh, apakah jawabannya tadi kurang meyakinkan sang ibu tercinta?

"I-iya, kaa-san!" Sakura menganggukkan kepalanya cepat.

"Oh, begitu. Baiklah, kaa-san percaya padamu. Tapi ingat, jika kau ketahuan berbohong, kau akan tahu akibatnya, Sakura," tukas sang ibu menatap tajam Sakura lalu pergi menuju dapur. Setelah Tsunade sudah tidak terlihat lagi, Sakura pun menghembuskan nafas yang sedari tadi Ia tahan.

'Sekarang, aku harus cepat bertemu dengan nii-san, lalu pergi menemui lelaki itu!" batin Sakura meyakinkan dirinya sendiri lalu memutar kenop pintu.

Krieett…

Pintu kamar terbuka. Kini, tampaklah sebuah ruangan yang dicat sewarna dengan rambut sang pemilik kamar. Emerald Sakura mulai bergerak, mencari sosok lelaki berambut merah dan, gotcha! Itu dia! Orang yang sedari tadi Ia cari kini tengah duduk di kursi belajarnya dengan kepala menunduk. Penasaran, Sakura pun memperpendek jarak di antara mereka.

"Nii-san?" dengan sopan Sakura memanggil kakak laki-lakinya itu. Tidak ada respon dari sang kakak. Alis Sakura berkerut samar melihat keadaan ini. 'Ada apa dengan nii-san?'

Sakura pun menekukkan kedua kakinya dengan pelan lalu Ia mendongak, bertujuan memeriksa keadaan kakaknya.

"Sedang tidur rupanya." Sakura mendengus pelan lalu memegang bahu kakaknya.

"Bangun, nii-san!" seru gadis Haruno itu seraya mengguncang pelan bahu kakaknya. Perlahan-lahan, kelopak mata Sasori terbuka, memperlihatkan permata hazel indah yang tadinya disembunyikan oleh kelopak matanya.

"Ya, Sakura-chan?" gumam Sasori pelan, sangat pelan sehingga Sakura hanya bisa merespon pertanyaan kakaknya itu dengan menutup kedua lubang hidungnya.

"Oh, ayolah nii-san. Untuk saat ini jangan berbicara padaku dulu. Nafasmu bau sekali, tahu!" komentar Sakura yang langsung dibalas dengan jitakan pelan dari Sasori.

"Tidak sopan," ucap Sasori seraya mendorong kursi yang Ia duduki supaya memberinya sedikit celah untuk berdiri. Sakura hanya terkekeh pelan seraya meletakkan tumpukan kertas yang sedari tadi Ia pegang di meja belajar Sasori. "Nii-san mau ke mana?"

Dengan malas Sasori menunjuk ke sebuah pintu kaca yang terletak tidak jauh dari kasurnya. Sakura langsung mengerti akan maksud kakaknya hanya bisa ber-oh ria. Akhirnya, Sakura pun memutuskan untuk melihat-lihat isi kamar kakaknya itu untuk mengusir kebosanan. Tiba-tiba, manik mata Sakura terpaku pada satu buah benda mungil yang membuat Sakura teringat akan sesuatu. "Ponselku!"

Kedua kaki jenjang gadis Haruno itu langsung bereaksi ketika sang pemilik mengingat satu hal penting yang sempat terlupakan sejak tadi. Sakura berlari dengan cepat, sangat cepat sampai-sampai Ia tidak mempedulikan air muka bingung yang dilemparkan oleh Sasori yang saat itu keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk tergantung di lehernya.

Kini, Sakura sudah berada di depan lorong tempat Ia dan pemuda berambut biru gelap itu bertemu. "Ke-kemana orang itu? Kenapa dia tidak ada?" gumam Sakura seraya mengatur nafasnya.

Setelah berhasil menghirup dan menghembuskan oksigen dengan teratur, gadis beriris giok itu mulai menelusuri tiap sudut lorong tersebut. Hasilnya tetap sama, nihil. Sakura tidak menemukan lelaki itu.

"Oh, Kami-sama," gumam Sakura pasrah.

Saat Sakura hendak pulang ke rumah, tiba-tiba ada sesuatu menyentuh bahunya yang sukses membuat sepasang alat pemompa darah tidak berdosa milik Sakura hampir meloncat keluar dari tubuhnya.

"Kau—" Bola mata Sakura membulat sempurna ketika ia melihat orang yang sekarang berdiri di hadapannya. Seakan masih tidak percaya, gadis Haruno itu lalu mendekat ke arah pemuda tersebut seraya memajukan jari telunjuknya dan kemudian menyentuhnya pelan.

"Bukan hantu," komentar Sakura. Pemuda berusia 20 tahun itu hanya bisa terkekeh pelan melihat tingkah konyol Sakura.

"Hei, Sakura. Sampai kapan kau mau melihatku seperti itu?" tanya pemuda itu seraya mengusap pelan puncak kepala Sakura. Bibir Sakura kontan melengkung bahagia ketika Ia percaya bahwa sosok lelaki yang saat ini di depannya bukanlah ilusi semata.

"Gomenasai, Naruto-nii. Ayo masuk! Nii-san pasti senang dengan kedatanganmu!" tutur Sakura riang seraya menggenggam tangan Naruto lalu menarik pemuda berambut durian itu untuk masuk ke rumahnya.

.

.

.

"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Sekarang kau sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik, ya?" goda Naruto yang saat itu masih digenggam tangannya oleh Sakura meskipun mereka sudah memasuki rumah. "Apa kau sudah mengenal laki-laki, eh?"

Mendengus kesal atas kalimat pertanyaan Naruto yang terkesan meremehkan, kemudian Sakura menjawab. "Aku cukup populer di kalangan para lelaki di SMA-ku, Naruto-nii. Jadi, jangan meremehkanku!"

"Hey! Apa ada kalimatku yang membuatmu merasa terremehkan? Atau jangan-jangan kau sama sekali belum pernah berpacaran sehingga telingamu sangat sensitif?"

"Berhenti menghinaku!" Sakura berhenti untuk kemudian memutar tubuhnya dengan cepat, memelototi Naruto dengan mata emerald-nya. "Ayo!" Gadis itu kembali menarik tangan Naruto. Membuat sang lawan bicara hanya menggelengkan kepala.

"Tidak sopan namanya, jika tidak memberitahu kaa-san ketika ada tamu, Sakura-chan. Apalagi tamu kita kali ini adalah tamu terhormat." Sebuah suara yang lembut namun tegas menyeruak masuk ke dalam gendang telinga Naruto dan Sakura.

Spontan, mereka menoleh ke sumber suara, kemudian tersenyum canggung. "Maaf, kaa-san. Kupikir sebaiknya nii-san dulu yang bertemu dengan Naruto-nii," sahut Sakura seraya tersenyum jenaka.

"Kau bisa memanggil Sasori tanpa membawa Naruto ke kamarnya. Benar kan, Naruto-kun?" tanya Tsunade kepada Naruto. Dengan senyum rubah yang terukir di wajah lelaki tampan itu, Naruto mengiyakan disertai anggukan mantap.

"Ta-tapi kaa-san. Dengan membawa Naruto-nii ke kamar, Sasori-nii bisa berbincang dengan Naruto-nii sambil membantuku mengerjakan tugas," protes Sakura.

"Tidak ada yang mengerjakan tugas ketika ada tamu istimewa yang berkunjung ke rumah, Sakura. Sebaiknya, cepat panggil kakakmu," perintah Tsunade tegas.

Oh, great! Benar-benar… Penderitaan Sakura benar-benar belum berakhir, ternyata. Poor, Sakura. Sabarlah, hei gadis cantik!

Puk!

Sebuah telapak tangan mendarat di puncak kepala Sakura. Gadis itu kemudian mendongak untuk melihat siapa yang telah menepuk pelan kepalanya. "Naruto-nii," gumam Sakura. Bibirnya mengerucut jenaka, mengisyaratkan betapa kecewanya gadis itu atas keputusan sang ibu.

"Tidak apa-apa, bukan? Kau bisa mengerjakan tugas itu lain waktu. Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di rumahmu setelah tiga tahun tidak mengunjungi Tokyo." Naruto memberi cengiran khasnya.

Sementara itu, Sakura hanya bisa menggerutu dalam hati. 'Lelaki ini, tetap saja tidak mau mengalah sejak dulu. Awas saja kau!'

"Baiklah, jika kau tidak mau memanggil kakakmu—" Tsunade kembali bersuara setelah sebelumnya hanya menatap putri dan 'mantan' tetangganya.

Belum selesai Tsunade berkata, Sakura sudah terlebih dulu bersorak. Setidaknya, meskipun dia tidak bisa mengerjakan tugas dengan Sasori, dia bisa langsung ikut berbincang dengan Naruto tanpa sebelumnya harus berjalan menuju kamar kakaknya untuk memanggil lelaki menyebalkan itu.

"—kau harus membeli tepung di minimarket untuk membuat ramen kesukaan Naruto."

Geez…!

Sial! Lagi! Bahkan dia harus berjalan lebih jauh daripada kamar Sasori.

.

.

.

"Haaah…!" Sakura menghela nafas dengan suara yang sengaja Ia keraskan. "Kenapa harus aku yang mendapat kesialan di hari ini?" gumamnya pelan. Bibirnya mengerucut dan kedua tangannya berada di depan tubuh, menjinjing kantong plastik yang menjadi beban di kedua tangannya.

"Aku tidak tahu akan menjadi apa nasibku jika berhadapan dengan Kurenai-sensei, besok. Mungkin…" Sakura berhenti bergumam. Kemudian di atas kepalanya muncul bayangan seorang wanita berambut hitam ikal dengan mata semerah darah sedang menyeringai seperti setan, taringnya terlihat lebih panjang daripada gigi-gigi lainnya. "Hiiy…!" Gadis itu bergidik ngeri.

Akhirnya Sakura memutuskan untuk berhenti berpikir yang tidak-tidak. Dia harus yakin bahwa Kurenai tetap memiliki sisi manusia dari sifat—ehem!—setannya.

Menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, kemudian gadis berambut gulali itu menunduk. Tanpa sengaja tatapannya tertuju pada batu yang berukuran lumayan besar. Mungkin lebih kecil daripada kepalan tangannya.

"Hey, batu!" Sakura berseru kesal. Untung saja keadaan sekitar tidak terlalu ramai, sehingga tidak akan ada orang yang memandang 'aneh' kepada Sakura. "Kau juga mau memberi kesialan kepadaku ya? Maaf saja. Aku tidak akan sial lagi kali ini," gumamnya.

"Dan sebelum aku yang terkena sial lagi, sebaiknya aku memberi kesialan dulu kepadamu. Lagipula, kau hanyalah benda mati yang tidak memiliki perasaan, bukan?" tanya Sakura seperti orang bodoh.

'Rasakan ini,' gerutu Sakura dalam hati. Detik berikutnya, dia menyiapkan kuda-kuda untuk menendang benda kecil yang tidak berdosa tersebut. "Hyaaaaat!" Sakura berteriak keras, mengiringi adegan sangarnya yaitu menendang batu kecil di hadapannya.

"Tidak akan ada lagi yang bisa membuatku sial! Argh!" Gadis itu kembali berteriak. Entah sejak kapan Sakura menjadi gemar berteriak tidak jelas seorang diri. Mungkin kejiwaannya terganggu akibat kesialan yang menimpanya seharian ini.

"Ugh!" Lagi, Sakura berteriak la—

Oh, tidak! Bukan! Bukan Sakura yang berteriak. Lagipula, seruan itu lebih mirip pekikan tertahan karena kesakitan. Dan juga … type suara baritone itu adalah … milik seorang lelaki, bukan?

"Hah!" Sakura tercengang seraya menutup mulutnya. Apa lagi, sekarang?

Seorang lelaki yang berada sekitar empat meter di depan Sakura berbalik, memperlihatkan wajah rupawannya yang sedikit tersamarkan karena kacamata hitam yang menutupi matanya. Tangan kanan lelaki itu berada di belakang kepala, seperti sedang mengusap bagian tengkoraknya karena kesakitan.

Perlahan namun pasti, lelaki itu berjalan menghampiri Sakura. Yang dia tahu betul kalau pasti gadis itulah yang melemparinya batu.

"Kau!" seru lelaki itu tertahan. Detik berikutnya, dia menyeringai seraya menggeleng pelan ketika wajahnya semakin dekat dengan gadis di hadapannya. "Kau lagi," gumam lelaki itu.

"A-apa maksudmu dengan 'kau lagi'?" tanya Sakura bingung. Ya, kata 'lagi' sangat identik dengan sesuatu yang pernah terjadi, bukan? Sakura merasa belum pernah bertemu dengan lelaki di hadapannya. Jadi, wajar saja jika dia bertanya.

Sebagai respon, lelaki tadi melepas kacamata hitamnya bertujuan mengembalikan ingatan Sakura. Dan benar saja. Dengan senyum sumringah, Sakura melompat-lompat kegirangan seraya menggumamkan kata 'Ponselku … Ponselku….'

"Kau sudah ingat?" dengus lelaki bermata onyx yang masih setia berdiri di hadapan Sakura.

"Tentu!" Sakura menghentikan gerakan melompat-lompatnya. "Kau yang beberapa waktu lalu aku titipi ponsel, bukan? Ah senangnya! Akhirnya aku bisa melihat ponselku lagi," sahut Sakura. "Sekarang, mana ponselku?"

"Hey!" bentak lelaki yang belum diketahui namanya itu. "Jika kau ingin aku mengembalikan ponselmu, maka kau harus mengganti jam tanganku yang telah kau rusak."

"Oh…," gumam Sakura pelan yang menimbulkan kerutan samar di alis sang lawan bicara. Kemudian gadis beriris sehijau klorofil dedaunan itu merogoh sakunya, mencari beberapa lembar uang untuk diserahkan kepada sang lawan bicara. "Berapa?" tanyanya.

"Cih! Kau pikir, beberapa lembar uangmu bisa mengganti jam tanganku ini, hah?" tanya lelaki berambut mencuat ke belakang itu meremehkan.

"Jangan sombong. Tentu saja bisa!" Sakura balik membentak. "Kakakku bisa membeli jam tangan hanya dengan uang sepuluh dolar amerika. Dan aku hanya perlu mengganti uang servis jam tanganmu, bukan?"

"Hah!" Si Raven mendorong jidat Sakura dengan telunjuk jarinya. "Kau pikir, aku membeli jam tangan itu di penjual asongan? Jam tanganku itu bermerk rolex, kau tahu?"

"Mana aku tahu? Dan, apa itu rolex? Aku tidak kenal dengan benda ma—"

"—Empat ribu dolar Amerika."

"A-apa? Apanya yang empat ribu dolar Amerika?" tanya Sakura takjub.

Si Raven memberi seringai meremehkan lagi kepada Sakura. "Harga jam tangan rolex-ku. Empat ribu dolar."

Sakura hanya mampu menganga ketika mendengar nominal yang disebutkan oleh lelaki di hadapannya. Betapa dia belum pernah mendengar angka sebesar itu semasa hidupnya.

"Hey!" Lelaki itu memanggil Sakura, mengembalikan gadis bubble gum di hadapannya ke alam nyata.

Tergagap. Sakura berusaha menjawab meskipun tergagap. "At-atas dasar apa aku mempercayaimu? Ka-kau bisa saja berbohong, bukan?"

"Jadi, kau tidak mempercayaiku ya?" Tangan lelaki itu bergerak memasuki saku celananya untuk mengambil ponsel kemudian memencet-mencet keypad sesaat. Berikutnya, lelaki itu menghadapkan layar ponselnya tepat di wajah Sakura.

'Aktris muda berbakat, Nakamura Hanao memakai jam tangan rolex senilai $ 5,000.'

Hampir saja Sakura pingsan setelah membaca info yang tertera di layar ponsel. "Ba-bagaimana mungkin? Memangnya, jam tangan itu memiliki berapa angka sehingga harganya sangat mahal?" tanya Sakura tidak percaya.

"Jangan banyak tanya. Sekarang kau tahu berapa uang yang harus kau bayar, bukan?"

"Ta-tapi aku hanya pelajar miskin yang tidak memiliki uang sebanyak itu," jawab Sakura memelas. "Lagipula, bukankah kau adalah orang kaya? Tolong bebaskan aku…."

Mendengus kesal, lelaki itu menjawab. "Kau tidak harus membayarnya dengan uang."

"Apa?" Sakura terkejut. Secara spontan, dia menjatuhkan kantong plastik—yang sedari tadi dijinjingnya—ke tanah, kemudian dengan cepat menggerakkan tangannya untuk menutup dadanya yang memang sudah tertutup. Mungkin dia berpikir…

"Jangan berpikiran yang macam-macam, kau sama sekali tidak menggairahkan," ucap lelaki bermata onyx itu seraya kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

"Lalu … Harus dengan apa aku mengganti jam tangan rolex itu?"

Menyeringai…

Entah sudah berapa kali lelaki itu menyeringai meskipun Sakura tidak menyadarinya, dikarenakan betapa tipisnya seringai itu menyelimuti bibir sang lelaki.

"Kau harus—"

Sakura menatapnya takut-takut. Semoga saja lelaki menyeramkan ini tidak meminta yang macam-macam, pikirnya.

"—menjadi budakku, selama lima puluh hari."

"APA?"

"Tidak ada penolakan atau aku akan menghubungi orang tuamu."

.

50 Days With Mr. Arrogant

.

"Kau tidak serius, bukan?" tanya Sakura seraya menatap onyx milik lelaki yang lebih tinggi daripada dirinya dengan tatapan memelas.

"Aku tidak pernah bercanda."

Sakura hanya bisa menunduk lemas. Tangannya bergerak sangat pelan untuk mengambil kantong plastik yang tadi Ia jatuhkan. "Mungkin sudah nasibku untuk menjadi orang sial," gumamnya.

"Jadi, mulai kapan aku harus menjadi budakmu?" Kini Sakura sudah mendongak lagi.

"Besok, setelah kau menandatangani kontrak."

"Ta-tanda tangan kontrak? Apa itu tidak terlalu berlebihan?"

"Untuk berjaga-jaga agar kau tidak kabur."

"Menyebalkan." Sakura menggerutu pelan. Sepelan mungkin agar lelaki di depannya tidak dapat mende—

"Aku mendengarmu."

"Baiklah!" seru Sakura. "Asalkan tidak ada seorangpun yang tahu mengenai kontrak ini."

"Hn,"

"Sekarang, kembalikan ponselku! Ibuku sudah menunggu di rumah," pinta Sakura seraya menengadahkan tangan kanannya.

Lelaki berambut hitam kebiruan itu menyerahkan benda kecil berwarna soft pink kepada pemiliknya. Detik berikutnya, mereka berdua sama-sama berbalik namun ke arah yang saling berlawanan.

Lihatlah masing-masing wajah dua insan itu! Lelaki yang memasukkan tangannya ke dalam saku itu menyeringai puas, sedangkan gadis yang tengah menjinjing kantong plastik di belakangnya—dan juga membelakanginya—memasang raut kekesalan yang sangat kentara.

"Tunggu!" Salah satu dari mereka berteriak seraya berbalik. "Rasanya sangat canggung ketika aku berbicara dengan seseorang tanpa mengetahui namanya." Terdengar dari suara riangnya, ternyata orang yang berbicara itu memiliki gender perempuan yang berarti adalah Sakura.

Lelaki yang diajak bicara itu tidak berbalik namun berhenti. Kepalanya menoleh sebatas bahu untuk menjawab pertanyaan Sakura. "Panggil aku Tuan Uchiha."

Kemudian kembali berjalan dengan sangat angkuhnya.

Sakura tidak tahu perasaan apa yang menyerbu hatinya saat ini. Betapa kesalnya dia bertemu dengan lelaki bertubuh tegap itu, namun dia juga tidak bisa menahan senyumnya ketika mengetahui nama pemilik onyx memabukkan yang sudah agak menjauh dari tempatnya berdiri.

Tuan Uchiha, eh?

Sepertinya, gadis bermahkotakan merah muda itu tidak terlalu sial. Setidaknya, calon Tuan-nya adalah lelaki yang—

—memiliki sejuta pesona.

Sakura bisa langsung tahu hanya dengan menatap onyx sang Uchiha.

"Tuan!" seru Sakura. "Namaku adalah Sakura! Gadis cantik yang selalu ceria!"

Lima puluh hari yang penuh kejutan akan segera menyambutmu, Sakura.

To be Continued

.

.

Authors Bacot Area:

Natchii: Hualoow readers. Sebelumnya aku berterima kasih dulu sama reviewers yang udah mau mereview fict collabku dengan Kak Voila yang cantik ini wkwk. Thanks juga buat temen yang bener22 RnR pas ku ajak baca fict ini :D

Gimana chapter 2 ini? Semakin baik atau semakin buruk? Udah panjang kan? Aku sama KakVoila udah berusaha semaksimal mungkin. Jadi kalau masih ada (miss)typo kami minta maaf u,U

Well, akhir kata mind to review and concrit?:3

Voila Sophie: Ehem! Natchii. Jangan Mencoba merayuku, ya? Oke. Di awal ini, mungkin Sasuke OOC. Aku hanya menyesuaikan sifat chara agar menyatu dengan jalannya cerita. Tapi aku selalu berusaha agar Sasuke menjadi tokoh yang IC. Karena biar gimanapun, Sasuke sangat tidak cocok dengan ke-OOC-nya. Wkwkwk. Terimaksihnya, udah jelas! Itu ajah. RnR lagi?

Dan ini dia balasan review Chapter 1!

Skysunsets

Natchii: Emang sengaja ga dipanjang22in di chap pertama syang wkwk. Mau tau responnya dlu ^^ #alibi. Nih uda apdet :D

Voila Sophie: Udah dijawab sama Natchii tuh. Ini udah apdet! ^^ Makasih RnR-nya!

Chocolate Lolypop

Voila Sophie: Ini udah apdet! Makasih RnR-nya ^^

Natchii: semoga saja wkwk XDD#hope Inih uda apdet semoga memuaskan yak ^^

OraRi HinaRa

Natchii: Kesialan Sakura blum selesai loh *lirik chap2* wkwk :D. Wkwkwk iya yah? Aku juga ketawa sendiri pas bc rviewmu XD. Masalah arloji~ tanyakan kepada yang di bawah saya V_V#dor wkwk. Sakura pasti bisa nyelesaiin tugasnya kok hehe :D. Di fav? Makasiihh!*hug Hina-chan*

Voila Sophie: Arloji. Udah dijawab di chap ini kan? Wkwkwk… Ini udah apdet!

Ckck vivi

Voila Sophie: Ini udah apdet!

Natchii: Udah apdet!:D

Vanilla yummy

Natchii: Saya gatau juga tah ._. Kak voila yang tau*garuk22 kepala* Nih uda lanjut wkwk. Uda panjang kan dari yang kemaren?:)

Voila Sophie: Yang main Ha Ji-won sama Kim Jae-won. Kalo nggak salah #plak! Tapi kalo kata aku cowoknya nggak cakep-cakep amat. Makasih udah RnR. ^^

Lucy Uchino

Voila Sophie: Makasih udah RnR. ^^ Ini udah apdet, Cantiiik…!

Natchii:Makasih lucy sayangg :) Ini uda apdet. Ga lama kan?XD

Tian Senou

Natchii: No comment dah buat EYD. Biarkan kak Voila yang menjawab :3

Voila Sophie: Eh? EYD itu apa ya? #plak! Hummm… Semuanya butuh belajar kok! AYO! Sama-sama belajar! #tebar-tebar bunga. #lho?

Nattually

Voila Sophie: Makasih. Ini udah apdet! ^_^

Natchii:Makasih ally!:) Nih uda lanjutt.

Sakura Dancer

Natchii: Giinnyy XD Iya baru chap satu X'D Menarik? Makasih X3

Ah? Tak tahu ane mah ginny. Kalau ane sih buat crtanya dicicil. Jadi gatau lama atau nggak XD#ditabok

Voila Sophie: Editnya nggak lama karena memang Natchii nulisnya udah rapi. ^^ Makasih udah RnR. Ini udah lanjut! XD

Jimi-li

Voila Sophie: Salam kenal! Ini udah apdet.. ^^

Natchii: Salam kenal juga ^^ Nih uda apdet

Boa dy Hinata

Natchii:Nih uda di lanjutin!:)

Voila Sophie: Ini udah apdet! ^^

Haru-Starlietta

Voila Sophie: Ini udah apdet. Makasih RnR-nya… ^^

Natchii:Nih uda apdet!X3 Semoga saja wkwk *wink juga* Tehehe. Biarkan fict ini berkembang(?) :**

Akari Fushigina

Natchii:Bagus ta? Thanks Akari ^^

Udah dijawab sama elsh itu *lirik review elsh*

Voila Sophie: Mungkin ini nggak usah aku jawab, selain ucapan MAKASIIH ^^

Chezahana-chan

Voila Sophie: Yo! Kak Elsa. #SKSD Makasih udah RnR. ^^ Dari awal tulisan Natchii emang udah rapi and aku cuma nambahin doank.

Natchii: Rapi itu semua berkat—ehem—KakVoila #prokprookk XD Ini uda semangat kkak XD

Anomelish

Natchii: Hallo hai juga elsh ^^ makasih uda mau memenuhi panggilanku *hug* gapapa kok. Yg penting dateng wkwk. Bukan collab elsh. Tapi collaboration ._.# huahaha. Ih masa sih? Mau tahu rahasianya?#twitch twitch :P sebenernya ga ada rahasianya kok ^^#duar

Napa-nafas itu kerjaan sya QQ#mewek

Masalah Pt, itu ukuran tulisan di Ms. Word ;)

Voila Sophie: Makasih concrit-nya, Cantiiik! Detail banget. Aku salut sama kamu. Yang napas itu, aku nggak tahu salah siapa #plak! Tapi aku yang mengedit keseluruhan juga bersalah karena nggak bisa meng-edit secara detail T_T dan sempurna. Atur nuhun RnR sareng concrit-na nya? #peluk elsh. #Sunda mode: On

Hana Suzuran

Voila Sophie: Doakan kita ga bakal kena WB ya? Wkwkwk… Padahal film ini udah lumayan lama loh! Makasih… Ini udah apdet!

Natchii: Makasih uda mau ripiu kaka sayangg X** Kakak aja ga pernah apalagi saya _" #plak Yadongs kak. Kami kan bagaikan amplop dan prangko yang selalu kompak(?) # wkwk

Itu kata-kata KakVoila kak. Bukan kata-kata Sasuke XD#dilempari sandal Nih uda apdet :3

Emmie males login Haha

Natchii:Seru ya? Makasiihh #hug alya Masalah peran Sasori kita lihat saja nantiii~~#kedip mata ;p Wkwk masa sih? Itu kan gara22 Saku lg keburu22 XD

Voila Sophie: Mau jawab apa yak? Bingung! Ikutan Devi aja deh! Wkwkwkwk… #hug Alya juga#

Crossmaster

Voila Sophie: Udah terjawab di chap ini kan? Oya, dapat salam dari author satu lagi yaitu Natchii. Dia ga bisa bales review karena document-nya udah sama aku. Wkwkwk. Makasih dari kami berdua. ^^

Ryu

Voila Sophie: 75 soal matematika itu belum terjawab di chap ini. ^^ apakah Sakura akan berhasil menyelesaikannya? Jeng Jeeeeng…! Makasih dari aku dan juga Natchii. Dia udah ga bisa bales review. Wkwkw…

.

.

Natchii dan Voila Sophie mengucapkan beribu terima kasih untuk para reviewers yang sudah bersedia mereview fict kami^^

Sampai jumpa di chapter 3!

Sign,

Voila Sophie and Natchii