Disclaimer:
Naruto © Kishimoto Masashi
Those Words © Haruno Aoi
Warning: AU, CRACK, sangat OOC, TYPO(S), kayak sinetron.
Bicara langsung: "Blablabla"
Bicara dalam hati: 'Blablabla'
.
.
.
~Those Words~
-2-
.
.
.
Hinata's point of view
Kenapa kau mengatakan ini padaku?
"Aku tidak mau terjebak cinta yang dangkal."
Apa kau menganggap cintaku seperti itu? Cinta dangkal? Apa itu sejenis cinta yang cepat datang dan cepat pergi? Kau bahkan tidak menjelaskannya padaku. Kau juga tidak memberiku kesempatan untuk berbicara lagi.
Aku tahu, pernyataanmu itu muncul karena kesalahanku. Aku sangat menyesal. Menyesali kebodohanku. Apa kau sudah membenciku? Karena setelah waktu itu, kau sama sekali tidak mau memberi kabar padaku. Nomor ponsel yang dulu berpasangan dengan milikku pun tidak kau aktifkan lagi.
Kalau aku bisa bersikap lebih dewasa saat itu, kalau aku bisa selalu mempercayaimu, aku mungkin tidak akan kehilanganmu.
Aku sangat merindukanmu. Aku ingin bertemu…
.
.
.
Normal pov
Seusai sarapan, Hinata dan ibunya sedang duduk berhadapan di ruang santai yang memiliki satu set meja kursi di dekat jendela kaca besar yang bertirai merah. Kursi yang mereka duduki juga berlapis beludru merah dengan sandaran tinggi, mirip kursi makan. Ibunya memanggil Hinata dengan alasan, "Sudah lama tidak minum teh bersama." Tapi Hinata tahu ada yang akan dibicarakan ibunya, selain sekedar minum teh.
"Hinata-chan, besok diadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa di Perusahaan Uchiha." Ibu Hinata mengawali pembicaraannya dengan Hinata di sela-sela kegiatannya menikmati teh di cangkirnya.
"Kenapa diadakan RUPSLB?" Hinata meletakkan cangkir yang isinya sudah berkurang sedikit, di atas meja kaca yang ada di depannya.
"Ada perubahan susunan Direksi. Pengangkatan Direktur Utama yang baru," jawab ibu Hinata yang juga meletakkan cangkirnya di meja.
"Direktur Utama yang baru?" tanya Hinata penasaran.
"Ya, Uchiha Sasuke akan menggantikan Fugaku-san," jawab ibu Hinata tenang. Tapi ia menyadari perubahan raut wajah Hinata saat mendengar salah satu nama yang diucapkannya.
Hinata hanya diam, namun ia merasakan jantungnya memompa lebih cepat. 'Jadi, 'dia' sudah pulang,' batin Hinata.
"Kau harus menggantikan ayahmu untuk menghadirinya."
"K..kenapa aku, Okaa-san?"
"Kau tahu ayahmu sudah pensiun. Perusahaan Hyuuga saja sudah diserahkan sepenuhnya pada Neji. Ayahmu memberikan sahamnya di Perusahaan Uchiha kepadamu, jadi kau yang akan menjadi anggota Dewan Komisaris menggantikan ayahmu. Kau tidak lupa 'kan?"
"Aku tahu tentang itu, tapi—"
"Kau tidak perlu datang ke Perusahaan Uchiha setiap hari. Kau hanya harus datang jika mereka mengundangmu dalam RUPS," potong ibu Hinata.
"Tapi, aku tidak begitu mengerti."
"Kakakmu akan membantu."
"Onii-san mau datang?"
"Ya," jawab ibu Hinata singkat. "Gaara-kun juga akan menemanimu. Dia salah satu pemegang saham terbesar, yang juga tergabung dalam Dewan Komisaris, sama sepertimu."
"D..dia ke Konoha?"
"Ya, dia akan datang nanti sore, dan selama di Konoha dia akan tinggal di sini."
"K..kenapa harus di sini?"
"Awalnya, dia memang menolak. Tapi, aku meyakinkannya bahwa itu tidak menjadi masalah karena kalian akan segera meresmikan pertunangan."
"Aku belum bilang setuju."
"Kau mengatakan 'belum', bukan 'tidak'." Ibu Hinata tersenyum penuh arti. "Ingat Hinata-chan, kau sudah dua puluh tiga tahun, sampai kapan kau akan menunda pertunanganmu dengannya? Dia sudah menunggu lama."
"T..tapi—"
"Jangan menunggu seseorang yang sudah tidak mengharapkanmu lagi."
Hinata menunduk sedih mendengar penuturan ibunya.
"Atau, kau mau langsung menikah saja?"
Hinata hanya menggeleng lemah.
"Kalau begitu jangan membantah terus." Ibu Hinata menghela nafas lelah. "Sebagai anggota Dewan Komisaris, kau punya hak suara untuk menolak Direktur Utama yang dicalonkan," lanjut ibu Hinata yang kembali ke topik utama.
"Aku tahu, Okaa-san." Kini Hinata sudah kembali mengangkat wajahnya.
"Aku harap, kau berpikir objektif dalam hal ini."
"Terkadang, berpikiran subjektif juga diperlukan dalam pengambilan keputusan."
Pernyataan Hinata membuat ibunya bungkam.
Keduanya kembali menikmati teh di cangkirnya. Suasana menjadi hening dan hanya terdengar suara dentingan cangkir yang beradu dengan meja kaca.
.
.
.
Hinata sedang berdiri di balkon dekat ruang keluarga. Malam yang semakin larut seharusnya bisa mengantarkannya ke alam mimpi, namun nyatanya tidak. Ia lebih memilih berdiri di tempat terbuka daripada membenamkan diri di selimutnya yang hangat. Udara malam yang dingin tidak membuatnya beranjak dari sana. Tatapannya kosong seolah ada yang sedang dipikirkannya.
Saat ini ia hanya mengenakan terusan yang panjangnya di bawah lutut, dengan lengan pendek yang menggembung. Sesekali tangannya mengelus lengannya yang tidak tertutup kain, seolah mencari kehangatan untuk dirinya sendiri. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dan sesekali terlihat melambai karena tertiup angin.
"Aku datang, kenapa tidak memberi sambutan?"
Suara berat dari arah belakang membuatnya tersentak. Tiba-tiba punggungnya terasa hangat. Ia segera menyadari apa yang terjadi. Si pemilik suara memeluknya dari belakang.
"Ga..Gaara-kun…" panggil Hinata dengan gugup karena mendapatkan perlakuan tersebut. Hinata merasa tidak nyaman dengan perlakuan Gaara. Ia mencoba melepaskan tangan Gaara yang melingkari pinggangnya, namun Gaara semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku merindukanmu," ucap Gaara seraya menumpukan dagunya di pundak kiri Hinata.
"Jangan seperti ini," pinta Hinata lirih.
Gaara tahu suasana hati Hinata sedang tidak menentu. Ia juga tahu tentang apa dan siapa yang saat ini tengah dipikirkan Hinata. Ia sudah mengenal calon tunangannya itu sejak sekitar lima tahun yang lalu. Sejak Hinata masih menjalin hubungan dengan laki-laki lain, padahal saat itu keluarga mereka sudah membicarakan pertunangan. Hinata hanya menganggapnya sebagai sahabat selama ini. Itu yang membuat Gaara kecewa. Karena ia mengharapkan lebih dari itu.
Perlahan Gaara melepaskan pelukannya. Sepertinya ia sudah terbiasa dengan penolakan Hinata. "Masuk dan tidur. Besok kita berangkat pagi," perintah Gaara yang mulai berjalan meninggalkan balkon.
.
.
.
Hinata's point of view
Hari ini datang juga. Sekarang aku berjalan menuju ruang rapat Perusahaan Uchiha, dengan Gaara-kun yang selalu di sampingku. Dia benar-benar tidak membiarkanku jauh darinya. Tadi saja saat aku akan menumpang mobil Onii-san, dia malah memaksaku naik mobilnya.
Tapi yang lebih menyebalkan adalah pakaian yang harus kukenakan saat ini. Rok hitam ketat selutut, kemeja putih lengan panjang yang dilapisi blazer hitam, sepatu hitam berhak tinggi, dan rambut yang diikat. Ini bukan gayaku. Aku pasti terlihat seperti ibu-ibu.
"Kau terlihat dewasa," bisik Gaara-kun di dekat telinga kananku.
"Aku tidak suka pakaian yang kau berikan ini. Aku tidak akan berterima kasih."
Aku sedikit meliriknya yang ada di samping kananku. Dia hanya tersenyum tipis saat menanggapi suara ketusku. Selama ini dia juga selalu begitu. Apa sih yang ada di pikirannya?
Aku dan Gaara-kun terus berjalan tanpa berbincang lagi setelahnya. Hanya ada suara sepatu yang beradu dengan lantai. Aku dapat menyamai langkahnya karena dia yang sepertinya menyesuaikan diri dengan langkahku yang pendek.
Aku semakin mendekati pintu ruang rapat. Entah kenapa jantungku berdegup lebih kencang. Aku benar-benar gugup. Bukan hanya karena rapat yang merupakan rapat perdana untukku, tapi juga karena seseorang yang akan kutemui di dalam sana. Bagaimana ini? Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri.
Aku sudah memasuki ruang rapat yang didominasi warna putih tersebut. Semua mata tertuju padaku dan Gaara-kun yang baru datang. Aku memberanikan diri melihat ke kursi Direktur Utama. Ternyata belum datang. Aku bisa sedikit bernafas lega. Pandanganku kualihkan pada meja panjang di pusat ruangan dengan banyak kursi yang mengelilinginya. Yang datang ternyata sudah hampir semuanya. Gaara-kun membimbingku untuk duduk di sebelah Onii-san, yang ternyata sedang melihat kedatanganku. Setelah itu, dia mengambil tempat di sebelah kiriku. Sekarang aku merasa tenang, karena di kanan kiriku duduk dua orang yang sudah kukenal. Tapi jantungku kembali berpacu cepat, saat kusadari tempat dudukku dekat sekali dengan kursi Direktur Utama.
"Hei, kau sudah dengar kalau calon Dirut yang baru hanyalah seorang sarjana?"
Samar-samar aku mendengar ada yang berbisik-bisik, tapi aku tidak tahu siapa tepatnya. Aku tidak mungkin melihat ke segala arah dalam saat seperti ini. Aku harus menjaga sikapku.
"Ya, aku sudah tahu. Memangnya dia bisa apa?"
"Aku tidak yakin padanya."
Sepertinya yang berbisik-bisik lebih dari dua orang. Aku tahu dari banyaknya suara yang saling bersahutan.
"Dia hanya anak ingusan."
Ada apa dengan mereka? Apa mereka meremehkan 'dia'? Kenapa aku merasa tidak terima?
Lambat laun suasana menjadi hening saat ada yang memasuki ruangan. Semua yang ada di ruang rapat melihat siapa yang datang. Yang pertama kulihat adalah seorang pria dengan setelan abu-abu. Garis-garis samar terlihat di kulit wajahnya. Jelas dia bukan orang yang bisa menciptakan keanehan untuk jantungku. Tapi aku mengenal pria itu.
Di belakangnya, berjalan seseorang yang seketika membuatku merasa sesak. Jantungku seolah tidak bisa kukendalikan lagi. Aku merasa kalau orang-orang di sekitarku bisa mendengar debaran jantungku. Yang bisa membuatku seperti ini hanya dia. Dia yang baru kulihat lagi setelah hampir lima tahun tidak bertemu. Dia terlihat lebih dewasa dari terakhir kali aku melihatnya. Dia terlihat lebih berwibawa dan memiliki kharisma. Setelan hitamnya juga sangat pas di tubuhnya.
Mataku terus mengikuti pergerakannya. Dia duduk di samping ayahnya di pusat meja. Selama berjalan sampai duduk, dia sama sekali tidak tersenyum. Setidaknya dulu aku masih bisa melihat senyumnya. Pandangannya tetap lurus ke depan. Dia bahkan tidak sedikitpun melihatku. Apa dia tidak sadar kalau aku ada di sini?
Aku tidak bisa memfokuskan pikiranku pada rapat yang sedang berlangsung. Suara-suara mereka hanya seperti angin yang masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiriku. Aku sama sekali tidak mengerti dengan rapat ini. Tapi, yang lebih menguasai pikiranku adalah seseorang yang berwajah datar dan tenang di ujung sana. Dia tidak hanya menguasai pikiranku, dia juga telah mendominasi hatiku untuk tidak berpaling darinya. Saat dia mulai bicara, yang kudengar bukan apa yang diucapkannya, tapi hanya suaranya yang sangat kurindukan.
"Sasuke-kun…" Tanpa sadar aku telah menggumamkan namanya. Terlalu lirih, sampai aku yakin tidak ada yang bisa mendengarnya.
Degh!
Jantungku semakin berpacu cepat saat mata onyx-nya menatapku tajam. Apa mungkin suaraku terdengar olehnya? Itu tidak mungkin. Tapi tatapannya kali ini bukan tatapan yang dulu selalu kudapat darinya. Tatapannya dingin. Ekspresinya juga masih sama, tenang dan terkesan dingin. Tidak lama dia sudah mengalihkan pandangannya dariku. Sepertinya dia tidak sudi melihatku.
Aku ingin cepat keluar dari ruangan ini. Aku sudah tidak tahan lagi.
.
.
.
Normal pov
Ruang rapat mulai sepi karena rapat sudah usai beberapa menit yang lalu. Semua berbondong-bondong meninggalkan ruang rapat. Ada yang berwajah cerah, ada juga yang memasang wajah lelah atau kecewa. Sasuke akhirnya diangkat menjadi Direktur Utama menggantikan ayahnya. Ia diterima dengan selisih suara antara menolak dan menerima yang tidak terpaut jauh.
Hinata keluar dari ruang rapat dengan wajah muram. Hari yang selalu ditunggu-tunggunya untuk datang, tidak berjalan seperti apa yang diharapannya. Ia tidak lagi mengharapkan peluk atau cium. Yang diharapkannya saat ini hanyalah sapaan atau senyuman dari seseorang yang sangat dirindukannya. Tapi, sekedar senyum tipis pun tak juga didapatkannya. Bahkan, Sasuke seolah menghindari kontak mata dengannya.
Hinata dan Gaara berjalan berdampingan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Gaara masih setia mendampingi Hinata. Sebelum pulang, Neji menitipkan adiknya itu kepada Gaara. Sepertinya Gaara sudah berhasil mendapatkan kepercayaan dari Neji. Entah apa yang bisa membuat Neji yang dingin itu mempercayainya. Padahal, Neji bukanlah orang yang mudah akrab dengan siapa saja. Mungkin yang dilihat Neji adalah kesabaran Gaara, yang selama ini tetap menunggu Hinata walaupun sudah jelas-jelas mendapatkan penolakan.
Hinata tiba-tiba berhenti dengan mata berkaca-kaca saat melihat apa yang ada di depan pintu lift. Letak lift yang agak menjorok ke dalam, membuat Hinata baru menyadari apa yang ada di sana. Karena mereka tidak datang dari arah depan lift, ia dan Gaara datang dari sisi kanan lift. Gaara refleks ikut berhenti dan melihat ke arah pandangan Hinata. Sasuke dengan seorang perempuan berambut pirang panjang sedang berciuman di sana. Mereka seolah menganggap bahwa lantai yang saat ini mereka pijak hanya diisi oleh mereka berdua. Tidak sadarkah mereka bahwa masih ada orang lain di sana?
Hinata memutar bola matanya untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia merasakan dadanya sangat sesak kali ini. Matanya sudah panas. Rasanya sudah terlalu lama ia menahan air matanya, tapi dua orang yang ada di sana seolah tidak merasa akan kehadiran orang lain. Gaara menarik Hinata untuk mendekati lift. Walaupun awalnya enggan, tapi Hinata tetap mengikuti tarikan tangan Gaara. Tanpa kata, Gaara menekan tombol pemanggil lift. Ia tidak peduli meskipun apa yang dilakukannya mungkin akan mengganggu dua orang yang masih hanyut dalam dunianya sendiri.
Sasuke sedikit memperlebar jarak dengan perempuan yang semula melingkarkan kedua lengannya di lehernya. Ia melihat ke arah Hinata yang saat ini sama sekali tidak membalas tatapannya. Raut wajahnya sedikit berubah saat melihat Hinata yang hampir meneteskan air matanya.
"Hinata…" gumam Sasuke lirih.
Perempuan yang masih ada di pelukan Sasuke itu bisa mendengar apa yang digumamkan Sasuke. Ia mengikuti kemana arah pandang mata onyx Sasuke. Ia membalikkan badannya dan melihat Gaara dan Hinata berdiri di depan salah satu lift yang ada di sana.
"Kalian sudah saling kenal?" Suara perempuan berambut pirang itu membuat Hinata dan Gaara menoleh ke arah Sasuke.
"Tentu. Dia… teman lama," jawab Sasuke tak bersemangat.
Si pemilik rambut pirang hanya membulatkan mulutnya tanpa menimbulkan suara. Sedangkan Gaara hanya menarik sedikit sudut bibirnya saat mendengar jawaban Sasuke.
Hinata segera mengalihkan pandangannya dari Sasuke yang masih saja menatapnya. Saat ini, ia sama sekali tidak ingin melihatnya. Karena melihat Sasuke membuatnya ingin menangis. Selama ini, ia selalu berpikir kalau masih ada sedikit harapan saat mereka bertemu lagi. Harapannya kali ini sudah pupus, karena orang yang selalu ditunggunya hanya menganggapnya teman lama sekarang. Dan lagi, sudah ada perempuan lain di sisinya. Sudah terlambat.
"Sasuke-kun, kau bisa turun duluan. Aku mau ambil tasku di ruanganmu," kata si rambut pirang memecah kesunyian.
"Hn, Ino," balas Sasuke datar. Setelahnya, Ino segera melangkahkan kakinya menjauh dari lift.
Pintu lift sudah terbuka, Hinata masuk ke dalam diikuti Sasuke. Gaara membiarkan Sasuke dan Hinata hanya berdua di dalam lift. Ia membiarkan pintunya menutup tanpa dirinya. Ini membuat Hinata ingin keluar dari sana, tapi Sasuke menahan tangannya. Sepertinya Gaara ingin memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbicara empat mata.
"Lama tak jumpa, Hinata…" Sasuke memecah kesunyian yang semula terus menyelimuti sampai beberapa lantai yang mereka lalui. Tidak ada yang memanggil lift yang mereka tumpangi, seolah tidak ingin mengganggu dua insan yang ada di dalamnya.
"Kau berubah, Sasuke-kun…"
"Di dunia fana ini, yang abadi hanyalah perubahan."
Hinata tersenyum getir mendengarnya.
Suasana kembali hening untuk beberapa saat sampai Hinata memulai kalimatnya lagi. "Aku memang mudah terlupakan dan dilupakan. Tapi, aku tidak mudah untuk melupakan," ujar Hinata yang masih mengingat apa yang dikatakan Sasuke beberapa saat yang lalu.
"Begitu?" Suara Sasuke terdengar sedih, raut wajahnya yang sekarang pun tidak memperlihatkan keangkuhan. "Kenapa kau memutuskanku?" tanya Sasuke dengan suara yang masih sama. Ia dapat melihat pantulan dirinya dan Hinata di pintu lift. Yang dilihatnya saat ini adalah Hinata yang mulai meneteskan air matanya. Hinata menangis.
"Aku kurang dewasa waktu itu. Berhubungan jarak jauh tidak bisa membuatku tenang. Aku selalu merindukanmu, tapi tidak bisa—"
"Seharusnya kau mengerti kalau aku juga ingin bertemu, Hinata. Tapi, orang tuaku menyita pasporku," potong Sasuke. "Aku juga kurang dewasa saat itu…"
"Tapi tak bisakah kau membalas pesan-pesanku? Aku jadi mengira yang macam-macam, aku mengira kau menemukan perempuan lain dan melupakanku."
"Aku yang mengira kalau kau selingkuh, karena kau jarang sekali mengirimiku kabar."
"Jarang?" tanya Hinata dengan raut bingung. "Setiap hari, aku tidak lupa untuk mengirim sms kepadamu. Saat kau tidak kirim sms, aku yang mengirim sms kepadamu. Aku merasa tidak tenang saat aku mengirimkan pesan tapi aku tidak mendapatkan balasan apapun."
"Aku mendapatkan pesan darimu tidak setiap hari, dan aku selalu membalasnya."
"Kau pasti lupa. Kau pasti juga lupa saat aku terus mengirim sms kepadamu, tanpa mengenal waktu. Saat itu aku membutuhkanmu. Aku sedang kalut, karena aku dijodohkan dengan laki-laki lain dan—"
"Kapan? Kau tidak pernah mengatakannya…" Sasuke memandang Hinata dengan tatapan tak percaya.
"Aku pernah Sasuke! Kau malah membalasnya dengan mengatakan bahwa aku boleh tunangan dengan siapa saja, dan kau tidak peduli dengan semua itu…"
"Aku tidak pernah, Hinata…" Suara Sasuke semakin memelan dan raut wajahnya tampak bingung. "Aku sama sekali tidak tahu…"
"Tapi aku mendapatkan balasan itu darimu…" Hinata menjadi tidak yakin. Siapakah yang harus dipercayainya untuk saat ini?
"Tidak mungkin…" gumam Sasuke.
Isak tangis Hinata semakin terdengar. Air mata semakin deras mengalir di pipi Hinata. Sasuke ingin menghapus air mata Hinata, tapi Hinata menepis tangan Sasuke. "Jangan berikan harapan semu padaku…"
"Hinata…" panggil Sasuke lirih.
"Kau juga mengatakan cintaku dangkal…" ucap Hinata di sela-sela isaknya. "Bahkan setelah saat itu kau sama sekali tidak menghubungiku…"
"Aku memang mengatakan yang itu. Tapi itu karena kau yang memulainya. Aku merasa kita baik-baik saja, tapi tiba-tiba kau memutuskanku…"
"Selama ini, aku masih menunggumu… Apa kau masih mengira kalau cintaku dangkal?"
Ting!
Suara lift menandakan bahwa mereka telah sampai pada lantai tujuan mereka. Hinata menyeka sendiri air matanya. Ia dengan cepat melangkahkan kakinya meninggalkan Sasuke yang masih terpaku di tempat.
.
.
.
Hinata dan Gaara yang sudah mengenakan piyama, sedang duduk di sofa merah yang ada di salah satu ruang keluarga. Gaara seharusnya lelah karena seharian harus berada di luar rumah untuk menemui rekan-rekan bisnisnya di Konoha, tapi malam ini ia lebih memilih menemani Hinata yang tiba-tiba terserang insomnia. Di depan sofa ada TV flat yang sekarang menjadi perhatian mereka. Ralat, hanya menjadi perhatian Hinata. Gaara tidak suka dengan acara yang ditonton Hinata, ia sudah terlihat menguap beberapa kali. Drama, tentu saja laki-laki seperti Gaara tidak suka dengan tontonan semacam itu. Menurutnya, drama hanya membuat perempuan di sampingnya semakin cengeng saja. Ia sebenarnya tidak menyimak apa yang sedang ditontonnya, karena sejak tadi ia hanya merem melek di samping Hinata. Dengan mata mengantuk, ia sesekali melirik Hinata yang matanya tampak berkaca-kaca. Gaara melihat ke TV, ternyata drama yang ditontonnya sad ending. 'Pantas saja,' batin Gaara.
"Gaara-kun…"
"Hm?"
"Kalau mengantuk, tidur saja…" Suara Hinata terdengar bergetar.
"Kau terdengar akan menangis."
"Jangan sok tahu." Masih dengan suara bergetar.
"Kau memang cengeng."
"Nggak kok." Hinata menyanggah, namun menjadi tidak berarti karena ia sudah menangis setelahnya.
"Tuh 'kan," kata Gaara tenang saat menoleh ke arah Hinata.
Hal itu malah membuat tangisan Hinata semakin kencang. Rasa kantuk Gaara hilang seketika.
"Kau menangis gara-gara acara di TV?" tanya Gaara sambil menghapus air mata Hinata dengan sedikit panik.
"Aku menangis karena kau meledekku," jawab Hinata parau. Hinata kembali menangis seperti anak kecil yang permennya direbut temannya.
Kali ini Gaara tidak bisa menyembunyikan kepanikannya. "Sst, nanti orang tuamu mengira kau kuapa-apakan." Gaara sedikit berbisik saat mengatakannya. "Neji juga bisa membunuhku…" lanjut Gaara karena melihat Hinata yang belum berhenti meneteskan air matanya.
"Biarin," balas Hinata ketus.
"Kenapa kau bersikap seperti anak kecil saat bersamaku?"
"Nggak tahu, kau jahat sih," jawab Hinata sekenanya.
Gaara hanya tersenyum tipis mendengarnya.
Hal itu membuat Hinata heran. "Kenapa?"
"Nggak tahu juga, kau manis sih," jawab Gaara tenang, tapi bisa membuat Hinata merona.
.
.
.
Sudah beberapa hari lalu Hinata bertemu Sasuke, dan ia sering tidak bisa tidur sejak saat itu. Matanya tampak berkantung, dan terlihat lingkaran hitam di sekitar matanya. Berat tubuhnya juga turun beberapa kilogram karena kurang makan. Ia sangat membutuhkan seseorang untuk menjadi tempat curhatnya. Ia tahu siapa yang akan didatanginya di saat seperti ini. Ia mendatangi kamar Tenten, teman satu SMA yang sekarang sudah menjadi istri kakaknya sejak satu tahun yang lalu. Saat ini, Neji sedang keluar Konoha, jadi ia bisa menemui Tenten di kamar mereka.
Hinata sedang duduk memeluk lututnya di sofa putih yang membelakangi ranjang. Tenten duduk di sampingnya dan tampak khawatir dengan keadaan adik iparnya tersebut.
"Aku dengar, dia sudah kembali." Tenten mengawali pembicaraan, karena sejak tadi Hinata sama sekali tidak bersuara, padahal malam sudah semakin larut.
"Apa kau tahu cara dia memandangku, saat kedua mata kami bertemu kembali?" Hinata merasakan pandangannya buram. Air mata terus memaksa keluar dari pelupuk matanya.
"Hinata…" Tenten mendekati Hinata dan menepuk pelan punggungnya untuk menenangkannya.
"Dia memandangku seolah aku orang asing baginya…" Hinata semakin mengeratkan pelukannya di lututnya, dan air mata semakin membasahi wajah dan piyamanya. "Dia bahkan sudah bertunangan…" lanjut Hinata.
"Sebaiknya kau belajar membuka hatimu untuk orang lain," tutur Tenten.
"Mungkin aku akan menerima Gaara-kun…" Hinata mulai menghapus air mata yang menciptakan jejak di pipinya.
"Jangan menerimanya hanya karena kasihan."
"Tidak. Aku akan belajar untuk menyukainya." Hinata terdengar mantap saat mengatakannya.
"Dia berhak mendapatkan hatimu. Dia selalu bersabar selama ini." Tenten tersenyum saat melihat Hinata yang tidak menangis lagi.
Hinata tersenyum saat mengingat hal-hal yang telah dilakukan Gaara untuknya. Beberapa hari ini yang terus menghiburnya adalah Gaara. Bahkan, Gaara tidak keberatan saat Hinata lebih banyak membicarakan Sasuke di waktu mengobrol mereka. Gaara hanya mendengarnya dengan sabar, dan tanpa berkomentar apapun. Tapi setelah itu, Hinata akan merasa lega. "Ya, aku akan mulai melupakan Sasuke…"
"Kau tahu, patah hati akan membuat perempuan semakin kuat." Tenten semakin mengembangkan senyumnya, begitupun Hinata. "Tidurlah, ini sudah malam," lanjut Tenten.
Hinata mengangguk dan mulai berjalan meninggalkan kamar Tenten.
"Aku tidak mengusirmu, lho…" kata Tenten di ambang pintu sambil tersenyum pada Hinata.
Hinata berbalik dan kembali tersenyum pada Tenten. "Kau mengusirku secara tidak langsung…" canda Hinata. Tenten hanya terkikik dan menutup pintu kamarnya saat Hinata sudah tak terlihat lagi.
Hinata yang sudah memasuki kamarnya seperti sedang mengingat sesuatu, dan seketika senyumnya memudar. "Tapi, ada sesuatu yang masih membuatku bingung…" gumamnya.
.
.
.
Sasuke dan Ino sedang duduk berdampingan di sebuah bar. Ino sebenarnya tidak minum, ia hanya menemani Sasuke karena beberapa saat yang lalu bartender menyuruhnya datang untuk membawa Sasuke pulang. Bartender yang sebenarnya sahabat Sasuke itu, khawatir karena yang diminum Sasuke adalah minuman berkadar alkohol tinggi. Walaupun Ino datang, Sasuke belum juga mau menghentikan aktivitas minumnya. Ino jadi tidak bisa meninggalkan Sasuke dalam keadaan seperti itu. Akhir-akhir ini, Sasuke benar-benar terlihat sangat kacau, dan puncaknya adalah saat ini.
"Hinata…" gumam Sasuke yang kini menumpukan kepalanya di meja bar dengan mata terpejam.
Meskipun pelan, samar-samar Ino bisa mendengar apa yang dikatakan Sasuke. Ia merasa telinganya menjadi lebih tajam berkali-kali lipat hanya untuk mendengar nama itu digumamkan. Itu membuat dadanya sesak. Ia tahu, selama ini Sasuke memang tidak pernah mencintainya. Sasuke sudah pernah menolak perjodohan dengannya beberapa tahun yang lalu. Entah karena apa Sasuke akhirnya mau untuk menerima pertunangan itu. Yang bisa dilakukan Ino saat ini adalah berusaha untuk membuat Sasuke berpaling kepadanya. Dengan kesabarannya, mungkin saja hati Sasuke akan luluh.
Ino berdiri dari duduknya.
"Suigetsu, bantu aku membopongnya ke mobil," pinta Ino.
Ino melingkarkan lengan kiri Sasuke di lehernya. Begitupun juga yang dilakukan Suigetsu sang bartender, melingkarkan lengan yang lain di lehernya. Mereka membawa Sasuke ke mobilnya, mendudukkannya di kursi penumpang samping kursi kemudi. Ino menggantikan Sasuke menyetir. Ia memang sengaja tidak membawa mobil sendiri karena mengira semua ini akan terjadi.
Ino berniat mengantarkan Sasuke ke rumahnya, tapi tiba-tiba berhenti karena lagi-lagi mendengar Sasuke menggumamkan nama yang tidak ingin didengarnya. Ino melihat Sasuke di sampingnya. Perlahan kelopak mata Sasuke terbuka. Tangan kanannya memegangi keningnya. Sepertinya saat ini Sasuke merasakan efek dari alkohol yang diteguknya beberapa saat yang lalu.
"Dia mantan kekasihmu 'kan?" tanya Ino yang tidak menyembunyikan rasa kesalnya, terdengar dari nada suaranya. "Kau masih mencintainya?" lanjut Ino, karena tidak mendengar jawaban dari mulut Sasuke.
"Apa maksudmu, Ino…" Suara Sasuke terdengar parau.
"Hinata. Maksudku, Hinata! Kau masih mencintainya 'kan?" Ino meninggikan suaranya.
"Dia hanya masa lalu," balas Sasuke yang terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya. Suaranya belum terdengar normal.
"Benarkah?" tanya Ino lagi dengan wajah datar, tentu Sasuke tidak melihatnya karena matanya terpejam kembali. "Sasuke!" bentak Ino.
Tidak ada balasan dari Sasuke.
Ino melajukan mobilnya kembali. Tapi, arahnya kali ini bukan menuju rumah Sasuke.
.
.
.
~To Be Continued~
.
.
.
Keterangan:
Saya belum mengerti tentang Perusahaan, Dewan Komisaris, Dewan Direksi, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), atau segala hal yang berhubungan dengannya. Saya ngawur, maaf jika ada yang salah…
Dewan Komisaris: setahu saya, yang tergabung dalam Dewan Komisaris adalah para pemegang saham terbesar di suatu Perusahaan atau Perseroan Terbatas. Biasanya beranggotakan ganjil, misalnya lima atau tujuh orang. Hal ini dikarenakan untuk menghindari suara seri dalam pengambilan keputusan.
Dewan Direksi: setahu saya juga, yang tergabung dalam Dewan Direksi adalah para Direktur di bawah Direktur Utama.
RUPS Tahunan: diadakan setiap tahun untuk melaporkan keseluruhan rangkaian kegiatan Perusahaan selama periode satu tahun atau satu tahun buku, serta Laporan Keuangan.
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB): bisa diadakan sewaktu-waktu jika diperlukan oleh Perusahaan yang memerlukan keputusan RUPSLB. Misalnya saat diadakan perubahan susunan pengurus/direksi, atau terjadi jual beli saham sehingga terdapat perubahan susunan kepemilikan saham, maka untuk semua perubahan tersebut harus memperoleh persetujuan RUPS, yaitu dengan diadakan RUPS terlebih dahulu.
Special thanks to:
Shaniechan, Fidy Discrimination, Watashiwa Elvina desu, aii dedew dewi, Lync Q, Nakamura Yumi, Yuuaja, demikooo, mayraa, hanata chan, Miyamiyamiyayam males login, Ind, Merai Alixya Kudo, nudz chan
Hontou ni gomennasai nggak balas satu-satu dan kalau ada yang tidak sesuai harapan…
.
.
.
~Go Koui~
~Arigatou Gozaimashita~
.
.
.
~Review Please~
.
.
.
