TITLE

Sick Sick I Think I'm Sick

MAIN CAST

Tao, Kris, Baekhyun, Chanyeol and soon to be added

PAIR

Taoris, BaekYeol, SuLay slight! BaekTao

GENRE

Angst Hurt

Sick Sick I Think I'm Sick

Chapter 2


Bau darah pekat memenuhi indera penciumannya. Menutupi segala akal sehat yang menuntunnya untuk menikmati pemandangan indah yang ada dihadapannya sekarang. juga tugas yang ada di tangannya. Perlahan, dengan sangat perlahan ia menekan ujung pisau ke daging itu. Tidak cukup dalam. Hanya bertujuan untuk merusak kulit. Kemudian ia merasa bahwa ini tidak menarik lagi. Dengan sekuat tenaga ia meletakkan seluruh kekuatannya ke pisau itu hingga darah segar, merah, melesak keluar dan mendarat di wajahnya. Menyeringai. Ia berpikir betapa indahnya apabila ia bisa melihat wajahnya sendiri sekarang. Bermandikan darah musuhnya. Orang yang paling ingin ia bunuh. Bagaikan berada di puncak dunia. Ditambah dengan melodi indah yang menjadi latar belakangnya. Suara jeritan laki-laki memang tidak pernah merdu. Tetapi baginya itu bagaikan terompet sangkakala. Penanda ajal manusia yang tak berdaya di tangannya sekarang makin dekat. Teruslah memohon. Teruslah mengiba. Kesenangan ini hanya permulaan saja. Ia memastikan bahwa musuhnya tetap bernafas sampai kulit terakhir itu meninggalkan dagingnya. Sebab kematian tanpa rasa sakit tak pernah menarik perhatiannya. Tak menghiraukan jeritan pilu dari sang musuh, ia menuntun pisaunya jauh lebih dalam, lebih dalam hingga menyentuh tulang, kemudian dengan tenaga mengerikan ia mengarahkan pisau itu kearah berlawanan-

"Huang Zi Tao!"

"Y-ya?"

Belasan pasang mata menatap kearahnya ketika Zitao tersadar dari lamunan. Proyektor, berkas-berkas, dan diagram yang menggantung di layar menyadarkannya bahwa ia sedang rapat. Berdiri dengan canggung. ia membungkuk dan menggumamkan maaf kepada setiap penjuru ruangan. Warna merah samar di pipinya. Zitao duduk lagi dan pura-pura menulis sesuatu karena ia tidak ingin orang-orang di ruang rapat ini mengetahui bahwa ia baru saja berimajinasi membunuh atasannya.

Hal yang sangat sulit dilakukan ketika objek utama imajinasinya sedang berdiri tepat di tengah ruangan dan melontarkan berbagai omong kosong yang samar-samar ia tangkap sebagai konsep album baru dan strategi pemasaran yang mungkin ia lakukan sejak kira-kira…dua jam yang lalu? Karena beberapa orang sudah membereskan barang-barangnya dan mulai meninggalkan ruangan. Oh yeah, makan siang.

Zitao menumpuk kertas-kertas coretan yang berisi isi rapat tadi. Ia bersiap meninggalkan ruangan itu ketika ia mengangkat wajah dan bertemu dengan wajah yang begitu dibencinya.

Tiba-tiba jalur nafasnya berhenti.

"Huang Zi Tao, ikut aku."

Zitao mencubit lengannya sendiri sebagai hukuman untuk betapa mudahnya pria yang kini berjalan didepannya ini mengendalikan tubuhnya. Lihatlah dirinya sekarang. Begitu menyedihkan dengan keringat dingin melelehi sekujur tubuhnya. Gemetaran dari ujung kepala sampai kaki, ia heran, sebesar keinginannya untuk berlari ke arah berlawanan, ia masih bisa berjalan dan masuk ke kantor orang itu. Ia heran kenapa dirinya masih belum kencing di celana.

"Duduk." Suara orang itu begitu berat menyebabkan darahnya berdesir karena takut.

Zitao melakukan sesuai yang diperintahkan dan memposisikan dirinya di depan meja orang itu. Menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya. Ia tiba-tiba menyadari bahwa adaptasi selama seminggu yang telah ia lakukan selama ini jelas tidak membuahkan hasil.

Zitao masih merasa ketakutan berada di dekat pria ini.

"Nah, Huang Zi Tao," bukanya.

"Y-ya, Tuan Wu." Gagapnya belum berkurang.

"Aku memutuskan memberimu kesempatan bergabung ke Dragon Entertainment bukan tanpa alasan. Asal kau tahu, aku tidak pernah memilih kucing dalam karung. Kau jelas memiliki banyak nilai plus. Biar kuulang. Nilai. Plus."

Zitao melewatkan kilatan di mata orang itu saat ia masih saja berkeras menolak mengangkat wajah.

"Tapi entah mengapa, kinerjamu tidak sesuai dengan yang kuharapkan."

"M-maafkan saya-"

"Kau melamun saat rapat, presentasi berantakan, proposal terlambat dan lain-lain."

"Saya mengalami kesulitan beradaptasi-"

"Aku setuju denganmu," ia mengangguk. "Awalnya aku kira kau hanya karyawan muda kurang berpengalaman tapi itu tak membuatku gagal menangkap sesuatu dari dirimu."

"Saya berjanji akan bekerja lebih baik-"

"Huang Zi Tao, lihat aku."

Mata Zitao melebar ngeri.

"Huang Zi Tao." Suaranya naik beberapa oktaf.

Zitao melawan otaknya yang terus meneriakkan 'jangan!' dan mengangkat wajahnya perlahan. Dan disanalah ia, dengan mata tak berkedip, menatap tajam seolah ingin melumatnya. Pria ini tak pernah gagal membuat jantungnya berpacu dalam artian lain.

"Apa kau takut padaku?"

Mata Zitao melebar lagi.

"Kemampuan adaptasimu dengan yang lain cukup bagus. Kau tak kesulitan berinteraksi dengan rekan kerjamu. Tapi setiap berada di dekatku, kau terlihat…aneh."

Zitao mencoba memikirkan alasan yang cukup masuk akal. Sial, apa tingkahnya sejelas itu?

"Katakan, apa yang membuatmu tidak nyaman? Apa aku pernah melakukan sesuatu yang salah?"

Zitao menahan seluruh keinginannya untuk mendengus keras. Sebelah matanya berjengit. Orang ini benar-benar luar biasa. Andai saja ia tahu bahwa orang yang kini menjadi salah satu karyawannya adalah bocah yang menjadi korban kebejatannya dulu. Sunyi lama ketika Zitao tak menemukan alasan apapun.

"Tidak ada, Tuan Wu. Saya merasa baik-baik saja." Zitao memaksakan senyum.

Orang itu terhenyak dan Zitao tidak luput memperhatikan ekspresi seperti…kecewa? Sebelum ia menghela nafas dan bermain dengan pena ditangannya.

Perhatian Zitao tertuju pada pena yang dipegang orang itu. Ia memutuskan bahwa menatap pena itu lebih sopan daripada memandang kesegala arah hanya karena ia tak mau menatap wajah yang ada didepannya. Meskipun begitu, Zitao tak bisa menahan imajinasinya yang tertunda tadi. Alangkah indahnya apabila pena itu tiba-tiba melayang dan mendarat di bola mata orang itu-

"Aku harap kau mengatakan yang sebenarnya. Cita-citaku adalah memiliki sebuah organisasi dimana pemimpin dan anggotanya memiliki hubungan…baik."

Khayalan indah itu sirna dan Zitao hanya tersenyum canggung. Ia bisa dengan jelas menangkap sesuatu dari pernyataan yang baru saja pria itu lontarkan.

"Baiklah, kau boleh pergi." Bosnya menghela nafas.

Untuk pertama kalinya, ia bisa bernafas lega meskipun berada di kantor pria itu. Zitao mengangguk dan undur diri. Ia menutup pintu dan segera menjauhi tempat itu. Hal terakhir yang ia inginkan sekarang adalah berurusan dengan Kris Wu.

Zitao melirik jam tangannya dan mengumpat ketika jam makan siangnya nyaris berakhir. Ia berlari menuju kafetaria tanpa menaruh barang-barang di mejanya terlebih dahulu. Baekhyun pasti sudah menunggunya. Kafetaria masih cukup padat, ia tak perlu mencari baekhyun karena sebuah suara telah memanggil-manggilnya.

"Zitao! sebelah sini!"

Baekhyun melambai dari kursinya di tengah kafetaria dengan semangat. Zitao menyusul setelah mengambil makan siangnya. Ketika sampai di mejanya, Baekhyun tengah bicara lewat ponsel.

"Sialan. Sampai kapan orang ini menggangguku?!" Baekhyun membanting ponselnya ke meja.

"Siapa?" tanya Zitao penasaran dengan mulut penuh nasi.

"B-Bukan siapa-siapa." Baekhyun mengalihkan pembicaraan. "Oh, hei Zitao. Apa yang kau kerjakan sampai telat makan siang?"

"Aku dipanggil CEO."

"Apa?! memangnya apa yang sudah kau lakukan?!" tanya Baekhyun khawatir.

"Dia menegurku karena aku selalu terlihat…melamun?" Zitao memutar bola mata mendengar jawabannya sendiri.

"Dia tidak melakukan sesuatu padamu,kan?" Baekhyun terlihat tegang.

Zitao akhirnya mengangkat wajah. "Apa maksudmu?"

"Kau masih belum menceritakan tentang peristiwa di lift tempo hari. Dia melakukan sesuatu padamu,kan?"

Zitao meraih gelas dan meminum isinya sampai habis. Pikirannya melayang pada hari dimana ia bertemu lagi dengan Kris Wu.

"T-tidak. Waktu itu aku hanya…hanya melamun lagi. Ya. Aku takut naik lift apalagi bersama orang asing. Kau tahu itu, kan, Baekhyun-ah?"

Tidak ada gunanya mengorek keterangan dari Zitao. Baekhyun memutuskan untuk menyerah dan makan lagi. Tapi itu tak mengurangi rasa khawatirnya. Ponsel Baekhyun berdering lagi dan memutar bola mata untuk kesekian kali siang itu sebelum mematikan ponselnya.

Dari sudut matanya, Zitao melihat Kris masuk ke kafetaria dan seketika itu pula tubuhnya menegang. Ia tidak pernah bisa menghabiskan makan siangnya selama ini. Bukan karena tidak enak. Makanan di perusahaan ini benar-benar lezat. Ia mengakui itu. Semua itu selebihnya karena Kris selalu memperhatikannya dari jauh. Ya. Chanyeol tidak bohong saat bilang Kris mungkin menyukainya. Tapi yang mengejutkan, kali ini Kris duduk membelakanginya.

Bukan berarti dirinya menikmati perhatian yang Kris tujukan padanya. Hanya saja…ini aneh. mengingat orang itu tak pernah melewatkan makan siang tanpa mencuri pandang kearahnya. Zitao mengenyitkan dahi dan memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.

Hari-hari selanjutnya berlalu dengan Zitao yang berdiam diri di mejanya. Bingung melakukan apa. Ia mencoret-coret buku agendanya, menggambar sebuah pisau yang berlumuran darah. Tentu saja ia hanya menggambar asal-asalan. Ia tidak mau orang lain atau rekan kerjanya menyadari ia menggambar pisau, apalagi dengan noda darah. Ia tidak mau dianggap sebagai seorang psikopat. Karena; ada berapa orang di dunia ini yang mengisi waktu luangnya dengan menggambar pisau yang habis digunakan untuk membunuh?

Bukan salah dirinya juga apabila ia menganggur pada jam sibuk. Rekan-rekan kerjanya dipanggil untuk rapat darurat. Zitao tidak melihat ada yang salah dengan dirinya yang ikut masuk ke ruang rapat, karena memang departemennya yang diminta untuk hadir, hanya untuk diusir kembali karena orang itu bilang "Beberapa orang saja sudah cukup". Ia tidak sedang dikerjai, kan? Karena dengan semua anggota departemennya masuk ke ruangan itu, Zitao otomatis menjadi satu-satunya anggota yang tidak mengikuti rapat.

Zitao mengerutkan hidungnya dengan jijik ketika sketsanya selesai. Ia baru saja akan menggoreskan pena untuk menulis nama orang yang begitu ingin ia bunuh ketika rekan-rekan kerjanya kembali, saling berceloteh, sepenuhnya melupakan dirinya. Ia menangkap pembicaraan tentang karaoke sesudah jam kerja dan menilik dari tidak adanya tawaran untuk bergabung untuk nanti malam yang datang padanya sampai detik ini, membuat ia menyadari bahwa dirinya benar-benar diabaikan. Ia tahu orang itu sering mengajak pegawainya karaoke ketika artisnya meraih suatu pencapaian gemilang.

Ini buruk.

Mengutuk film larut malam yang semalan ia tonton, Zitao berlarian menuju lift yang nyaris tertutup. Nyaris terlambat, ia tidak memperdulikan siapa yang berada satu lift bersamanya. Masih menarik nafas, ia menoleh dan nafasnya kembali tertahan ketika wajah orang itu tengah menatapnya. Keduanya segera membuang muka dengan canggung. Orang itu terlihat gelisah terlihat dari gerakannya. Ia menggaruk belakang kepalanya. Zitao menggumamkan 'selamat pagi' hanya karena ia tidak mau dianggap tidak sopan kepada atasannya.

Orang itu mengulurkan tangan dan sebelum Zitao sempat berpikir aneh-aneh, lift batal bergerak. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, orang itu meninggalkan lift, otomatis kembali ke lantai dasar. Dan untuk pertama kalinya, Zitao berharap orang itu tetap ada di lift bersamanya.

Bukan karena ia mulai menaruh hati pada orang itu. Tidak mungkin. Tapi semua itu tak berjalan sesuai harapannya. Ia membayangkan orang itu berair liur hanya dengan kehadiran dirinya, menjijikkan memang, tapi Zitao mulai meragukan pengakuan Chanyeol.

Orang itu jelas-jelas mengacuhkan dirinya.

Zitao membanting tasnya ke meja. Dahinya berkerut. Ini buruk. Ini gawat. Ia tidak berencana untuk membuang-buang waktu di perusahaan konyol ini hanya untuk melihat rencananya berantakan. Meskipun ia berniat untuk balas dendam, tapi sampai sekarang ia belum menyusun rencana sama sekali. Berlebihan? Oh tidak. Zitao harus memastikan pembalasan dendamnya berjalan lancar dan…indah. Zitao ingin menikmati semua itu. Maka dari itu ia tidak boleh main-main.

Ia buru-buru mengeluarkan agenda yang kini nyaris berubah menjadi buku gambar yang dipenuhi gambar alat-alat untuk membunuh. Ia membuka halaman kosong yang pada halaman sebelumnya telah tergores rapi sketsa sepucuk pistol yang ia buat semalam sambil menonton film. Ia bukan tipe orang yang menghabiskan semalam suntuk untuk menonton film kecuali film itu tentang pembunuhan.

"Selamat pagi, Tuan Wu," sapa rekan kerjanya, membuat Zitao mendongak.

Akhirnya orang itu sampai. Zitao berpikir apakah ia menunggu lift lain atau lewat tangga darurat. Mengatupkan bibirnya, akhirnya Zitao memutuskan sesuatu.

Tak ada salahnya dicoba, pikir Zitao.

"Selamat pagi, Tuan Wu," sapanya ketika orang itu melewati meja kerjanya.

Zitao tidak kaget ketika orang itu hanya mengangguk pelan tanpa meliriknya. Bedakan dengan perlakuan yang ia beri kepada pegawai yang lain. Zitao mendengus, masih setengah membungkuk. Tatapannya masih tertuju pada orang itu.

Brengsek.

Menggumamkan sebuah lagu, Zitao mulai memutar otak. Sungguh pagi yang indah. Pikir Zitao. Mengisi waktu luang sebelum jam sibuk dimulai dengan merencanakan pembalasan dendam terhadap bosmu sendiri. Bagi Zitao itu adalah normal sekali.

"Kau tidak boleh mengacuhkanku, Oh Tuan Wu yang terhormat," bisiknya pelan.

Ini tidak bisa dibiarkan.

.

Ia sudah mengambil langkah yang tepat. Pikir Kris. Dengan membuang segala hasratnya untuk sekedar menatap wajah Huang Zi Tao. Oh yeah, Kris tak pernah membayangkan betapa sulitnya itu. Ia malu mengakuinya, tapi sudah lama ia tidak bertemu seseorang semenawan dan mungkin, seaneh pegawai barunya itu.

Kris bukan tipe orang yang dengan mudahnya menngencani pegawainya sendiri. Itu menyalahi aturan. Jelas. Tapi untuk seseorang bernama Huang Zi Tao, tampaknya ia tidak akan mengikuti aturan. Berawal dari rasa penasaran akibat tingkah ajaibnya saat pertemuan pertama mereka, ia tidak pernah menyadari bahwa mungkin, mungkin, ia belum sepenuhnya sembuh.

Menurut data yang ia baca di berkas pelamar, ia tahu Zitao jelas-jelas jauh lebih muda darinya.

Lima belas tahun, ya? Kris mendesah.

Hal itu pula yang membuatnya berpikir tak mungkin bisa bersama Zitao. Selain itu, ia sudah memperhatikan gelagat aneh dari bocah itu. Entahlah, tapi ia bisa mengatakan kalau Zitao takut padanya? Ini konyol mengingat betapa ramah ia pada setiap pegawainya. Ia tidak melihat alasan mengapa Zitao bisa membencinya.

Ini terlalu berbahaya. Ia juga tidak tahu apakah Zitao juga tertarik pada sesama jenis. Bahkan dengan pemikiran seperti itu, ia berpikir hanya dengan melihatnya bekerja dibawah pimpinannya, itu sudah membuatnya cukup bahagia.

Mendengus, ia tertawa oleh pemikirannya sendiri. Ia merasa kembali ke masa sekolah. Punya seseorang yang disuka dan tersenyum tanpa alasan seperti orang gila.

Kris menyimpulkan bahwa pegawainya itu sama sekali tidak tertarik pada dirinya, ditambah dengan rasa takut yang selalu terpancar setiap mereka bertemu dalam beberapa kesempatan, juga sepertinya tidak tertarik pada hubungan khusus antara bos-pegawai, akhirnya ia memutuskan untuk menjauh sedikit demi sedikit. Sulit memang. Tapi apa boleh buat. Ia tidak ingin membuat Zitao merasa tidak nyaman bekerja di perusahaannya.

Karena itu ia sangat terkejut mendapati Zitao memanggilnya untuk bergabung bersama dalam satu lift. Pagi itu tampaknya ia sedang sial karena orang yang sudah lebih dulu menumpang lift adalah Zitao. Lain halnya apabila orang itu adalah pegawainya yang lain. Spontan ia langsung balik badan tanpa mengatakan apa-apa. Ketika ia berpikir bahwa ia harus naik tangga darurat, sebuah suara memanggilnya.

"Erm, Tuan Wu!" panggil Zitao lumayan keras. Kris berbalik dan melihat pegawainya itu berada di luar lift yang terbuka. Wajahnya menyiratkan harapan, begitu juga suaranya. "Anda tidak ikut naik? Lift satunya sedang rusak dan...erm, yah kita bisa naik sama-sama."

Apa ia tidak salah dengar? Zitao terlihat tenang, mengesampingkan tata krama pada bahasanya. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Zitao tidak terlihat ketakutan.

Apa matanya sedang menipunya?

Ah, sepertinya tidak. Begitu juga dengan wajah yang rasanya begitu lama tidak ia pandang. Zitao terlihat menawan seperti biasa.

Zitao tahu kalau Kris ingin menumpang lift yang sama, bahkan satu kakinya sudah masuk kesana sebelum ia tarik keluar lagi. Mungkin ini hanya ramah tamah biasa kepada atasan, ya tidak salah lagi. Tapi apa lagi yang mau ia ingkari ketika Zitao mulai mengajaknya bicara?

Suaranya begitu lembut, memecah kesunyian didalam lift itu. Kris sadar tidak pernah bicara dengan Zitao kecuali saat dimana ia menegurnya tempo hari. Dan ia akan melakukan segala cara untuk mendengar suara itu lagi. Melodi itu serupa dengan wajah Zitao, sama-sama membuatnya terbuai.

"Selamat pagi, Tuan Wu," Zitao menyapanya sambil tersenyum. Kris berusaha menguasai diri dan mengangguk, kali ini membalasnya.

"Selamat pagi, Huang."

Zitao tersenyum malu sebelum membuka perbincangan lagi, ia terlihat berusaha melakukannya. "Kemarin saya melihat chart musik dan sepertinya SNSD menang berturut-turut lagi."

"Hah? oh, yeah. Aku tahu. Kami selalu memantau perkembangan mereka," balas Kris. Agak bingung kenapa Zitao mengajaknya bicara. Bukankah ia seharusnya takut?

"Saya ikut bangga dengan pencapaian mereka. Maksud saya, erm, saya memang baru saja masuk, tapi saya sekarang jadi tahu apa yang membuat artis-artis anda selalu sukses. SNSD memang luar biasa kalau dilihat dari dekat."

"Kau penggemar mereka?" tanya Kris, ia mengangkat alis.

"Ah!" Zitao terkejut. Ia menggeleng kuat. Rambut yang menutupi dahinya bergoyang-goyang lucu. "Bukan! Saya lebih ke…Super Junior? Hehehe."

Mau tak mau, Kris tertawa menyaksikan reaksi Zitao, juga tawanya yang menggemaskan.

"Fanboy, ternyata," Kris terkekeh.

Zitao terkikik geli. "Bagaimana dengan anda?"

"Hm?"

"Siapa yang paling anda suka dari semua artis yang ada disini?" Zitao penasaran.

"Aku?" Kris menunjuk dirinya sendiri. "Erm…katakan saja aku menyukai semua artis didikanku. Tidak adil rasanya kalau aku menganak emaskan salah satu dari mereka. Hanya saja…kita sekarang lebih menaruh perhatian kepada EXO. Mereka debut setahun yang lalu dan baru-baru ini comeback mereka sangat sukses. Kau tidak tahu itu, Huang?"

Zitao kelihatan malu. Ia menggigit bibirnya. "Saya...harus banyak belajar, sepertinya."

"Tentu saja, kau tidak mau dipecat hanya karena tidak bisa membedakan mana Sehun mana Luhan, kan?" Kris tertawa.

"Apa…?! jadi hal seperti itu bisa terjadi?!" mata Zitao melebar ketakutan.

Diluar dugaan, Kris sangat menikmati menggoda Zitao. Reaksinya sungguh…tidak bisa ditebak.

"Kau mudah sekali dikerjai, Huang. Tentu saja tidak. Sehun dan Luhan memang mirip...banyak yang mengira mereka kembar. Itu sesuatu yang wajar."

"Pengetahuan saya tentang EXO ini sangat sedikit. Saya akan mencari tahu nanti." ujar Zitao optimis.

"Yeah, itu bisa menunggu. Sekarang…," Kris melirik jam tangannya. " Kita sudah terlambat rapat. Ayo, Huang."

Pintu lift terbuka. Kris melangkah keluar tapi tidak dengan Zitao.

"Huang? ada apa? kita sudah terlambat," Kris keheranan melihat Zitao terpaku disana.

"Saya boleh ikut rapat?" tanya Zitao tidak percaya.

Senyum Kris merekah. "Tentu saja! Ayo, Huang. Jangan mengecewakanku."

Zitao tersenyum lebar dan mengikuti langkah orang itu. Kris memintanya untuk menyiapkan ruang rapat yang langsung ia lakukan. Orang itu masih saja tersenyum bahkan setelah ia masuk ke ruangannya sendiri. Aura bahagia jelas terpancar dari tubuhnya.

Berhasil.

.

"Bagus, ya."

Zitao menoleh dan mendapati Kris sudah berdiri disampingnya. Memandang poster yang juga ia amati dari tadi. Ia diminta Kris untuk menyerahkan data penjualan album dan malah memandangi poster yang terpajang di samping pintu kantor orang itu.

"Oh…! Maaf, Tuan Wu! saya tidak tahu anda sudah datang...berkasnya sudah saya letakkan di meja anda!" Zitao salah tingkah. Kris tertawa pelan.

"Santai, Huang. Ayo, mari kita lihat apa yang sudah kau pelajari tentang EXO," Kris mengedikkan dagu kearah poster yang ada didepan mereka. Zitao memutar bola mata tanpa sepengetahuan Kris dan memasang wajah polosnya lagi.

"Erm, pemuda yang berambut merah muda ini…Sehun?" tebak Zitao.

"Kau yakin?"

"Kalau diperhatikan…Sehun memiliki kulit yang lebih pucat dari Luhan. Dua orang ini juga memiliki karakter wajah yang berbeda. Luhan selalu menampakkan aura 'ingin selalu tersenyum' sedangkan Sehun…yah, wajahnya jarang menampakkan ekspresi selain bosan."

Kris tertawa dan Zitao memutar bola mata lagi. Tawanya bahkan belum reda sampai beberapa menit. Kris tersedak dan mencoba mengatur nafasnya.

Kenapa kau tidak mati tersedak saja? Pikir Zitao.

"Ah, maaf maaf…tapi pendapatmu sama persis denganku. Sialnya, dia bertindak sebagai tukang-aegyo."

"Karena dia maknae," balas Zitao kalem.

"Yeah. Sekarang ceritakan tentang Luhan," perintah Kris.

Aku mohon, apakah ini penting? Zitao memutar bola mata.

"Luhan member dari Cina. Leader. Terkenal karena wajahnya yang baby face. Dia mempunyai paling banyak penggemar. Main vocal… saya dengar dia menempuh masa trainee paling cepat?"

"Benar. Kita beruntung menemukannya. Aku tak salah memasukkannya sebelum EXO debut."

Zitao hanya mengangguk. Ia memiringkan kepala, tiba-tiba merasa bahwa wajah orang ini tidak asing baginya. "Kemudian yang tersisa hanya…Kai. Main dancer. Main rapper. Kemampuan dancenya sudah tidak perlu diragukan lagi. Tapi kabarnya Kai dan Luhan memiliki hubungan yang tidak harmonis."

"Hanya buatan fans. Mereka terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Juga HunHan dan semacamnya…"

"HunHan? Apa itu?"

"Mereka menyebutnya OTP. Simpan saja itu. Bagaimana kalau kita makan siang?" tawar Kris penuh harap.

"Erm, saya akan senang sekali, tapi saya sudah ditunggu seseorang," tolak Zitao dengan sopan.

Wajah Kris kelihatan kecewa. Mungkin memang terlalu cepat untuk saat ini. Ia tidak boleh menakuti Zitao. "Baiklah. Pergilah duluan." Zitao membungkuk hormat dan meninggalkan kantor orang itu.

"Ah, Huang!" panggil Kris.

Zitao menelan ludah dan berbalik. Apa lagi sekarang?

"Jangan lupa pekerjaan rumahmu. OTP." Kris menunjuk poster tadi dan tersenyum.

Zitao mengangkat alis dan mengangguk. Ia memasang senyum palsu.

"Saya akan mengingatnya, Tuan Wu." tanpa basa-basi lagi, ia meninggalkan kantor orang itu. Menutup pintu pelan-pelan dan mengacungkan jari tengah kearah tersebut ketika memastikan tak ada orang disekitarnya.

.

Ini mudah. Ini bahkan terlalu mudah daripada yang ia bayangkan. Hanya butuh beberapa hari bagi Zitao untuk mendapatkan kepercayaan orang itu lagi. Meskipun begitu, Zitao masih tidak habis pikir bagaimana orang itu secara tidak sadar bisa tertarik pada orang yang sama. Dirinya yang masih bocah dan dirinya yang sekarang beranjak dewasa. Apa yang orang itu sukai dariku? Pikir Zitao. Ia memutuskan tak perlu mendengar semua itu, ia hanya akan merasa lebih jijik dan makin membencinya. Seolah-olah kebenciannya pada orang itu sekarang masih belum cukup besar.

Pikirannya melayang pada sebuah mangkuk berisi kuah panas yang terletak beberapa meja didepannya. Ia akan dengan sangat senang melihat cairan itu tumpah ke wajah seseorang yang kini tengah tersenyum padanya. Zitao pura-pura terkejut dan mengangguk seolah menghormati orang itu, tak lupa sebelum membalas dengan senyuman sejuta wattnya. Ia mencatat bahwa orang itu sangat suka ketika Zitao tersenyum seperti itu padanya.

"Chanyeol, aku bisa gila," bisik Kris sambil bersiul pelan. Ia menundukkan wajah dan pura-pura mengaduk sup panasnya. Ia hanya tidak mau terlihat salah tingkah. Sial, senyuman itu selalu memberikan efek seperti ini padanya.

"..."

"Kapan aku bisa mengajaknya makan siang?" tanya Kris kepada temannya lagi.

"…"

"Kenapa dia selalu bersama si Byun itu?" gerutunya.

"…"

"Chanyeol?"

Masih tak ada respon.

"Park Chanyeol kau mendengarku, tidak?!" Kris melempar tisu ke wajah pria yang masih berkutat dengan ponselnya.

"Hyung! apa-apaan kau?!" Chanyeol melotot dan melempar balik tisu sialan itu.

"Kau sendiri yang mengajak makan siang tapi kau juga yang mengacuhkanku."

"Ah, m-maaf…" Chanyeol meletakkan ponselnya di meja dan berdeham pelan. Kris memutar bola matanya.

"Chanyeol, maukah kau melakukan sesuatu untukku?" tanya Kris datar.

"Apa itu?"

"Hampiri orang yang bernama Byun siapa itu dan nyatakan perasaanmu!"

Chanyeol tersentak. "T-tidak! aku tidak sepercaya diri itu!" Kris mendengus dan memutar bola matanya lagi.

"Bagaimana dengan dirimu sendiri, Hyung?!" tantang Chanyeol.

"Aku?"

"Kau pikir aku tidak tahu kau melirik kearah pegawaimu terus dari tadi!"

"Chanyeol! pelankan suaramu!" Kris terlihat panik. Chanyeol mencibir.

Kris menghela nafas. "Entahlah, Yeol. Saat aku pikir dia takut padaku, aku menjauhinya. Tapi sekarang ketika aku sudah membuatnya nyaman berada didekatku…aku merasa takut."

"Seorang Kris Wu takut pada pegawainya sendiri?"

"Bukan seperti itu." Kris mulai kesal bicara pada Chanyeol. "Bagaimana kalau aku salah langkah? Apa dia akan menjauh dariku?"

"Terlalu banyak pertanyaan," ujar Chanyeol sambil mengunyah steaknya.

"Aku bahkan tidak tahu apakah dia itu gay. Ah, bukan. Tidak usah berlebihan. Paling tidak...dia biseks," Kris menerawang.

"Itu mudah. Tanyakan saja langsung padanya."

Kris menghela nafas dan menatap temannya datar. "Brilian, Chanyeol. Bagaimana kalau begini 'Hei, Huang. Kau lebih suka penis atau vagina?'"

Chanyeol tersedak. Ia minum dan menepuk-nepuk dada. "Perlu kutanyakan?" tawar Chanyeol setelah puas tertawa.

"Hah?"

"SNSD menang lagi?"

"Hah? i-iya?"

"Bagus." Chanyeol meneguk habis minumannya dan menyeka bibir dengan punggung tangannya. "Ajak aku makan malam bersama staf malam ini," pungkasnya, menyeringai lebar.

.

Semakin malam semua makin mabuk. Zitao memperhatikan. Disana-sini rekan-rekan kerjanya tertawa seperti tiada hari esok. Minum sake dari gelas mungil dan mengeluarkan uang untuk siapa yang berhasil minum paling banyak. Zitao mengambil sepotong jamur dari sukiyaki yang terhidang didepannya dan makan dalam diam.

Inilah pertama kalinya ia diundang makan malam bersama staf. Ternyata sama saja. Berakhir dengan orang-orang bodoh yang mulai ngawur bicaranya karena mabuk. Ia ikut tertawa apabila yang lain tertawa. Makan dan minum seadanya. Tidak, Zitao bukan tipe peminum. Baekhyun yang sedari tadi masih menemaninya, kini sudah berbaur dengan rekan kerja dari departemennya sendiri. Zitao menolak dengan halus ketika diajak bergabung. Bukannya ia sombong. Tidak. Ia hanya memastikan bahwa tempat disampingnya kosong.

Ia hanya akan bertingkah layaknya anak manis yang pura-pura tertarik dengan masakan jepang yang tersebar diatas meja panjang didepannya. Ketika kakinya mulai kesemutan duduk diatas lututnya, ia menoleh ketika suatu deham mencuri perhatiannya.

"Sendirian saja?" tanya orang itu. Zitao tersenyum tipis. Bagus, ikan telah terpancing.

"Saya tidak bisa minum banyak-banyak," ujar Zitao malu-malu. Kris mengangguk dan mencatat informasi baru itu dalam otaknya. "Ah! Tuan Wu, selamat atas keberhasilan artis anda!"

"Jangan panggil aku 'Tuan Wu' seperti itu, kita sedang tidak bekerja, kan?" Kris mengernyitkan dahi. Zitao terkejut dan menggeleng cepat.

"Tetapi anda tetap atasan saya, Tuan," Zitao menunduk malu. "Anda orang yang sangat dihormati disini, mana berani saya-"

"Berapa usiamu?" tanya Kris tiba-tiba.

"Eh? Saya…tahun ini 22?" Zitao keheranan.

"Kalau begitu panggil aku 'Gege'," titah Kris membuat Zitao nyaris menganga. Untung saja ia cepat menguasai diri dan memasang senyum, yang sepertinya sangat kaku karena Kris tiba-tiba salah tingkah. "Ah, tidak. Lu-lupakan saja kalau begitu."

Zitao menahan seluruh keinginannya untuk tidak muntah dan menngotori hidangan lezat yang ada didepannya. Baiklah, Kris Wu. Permainan akan menjadi lebih menarik.

"Tuan Wu, kalau dibandingkan dengan penampilan luarnya, anda benar-benar berbeda."

"Sudah kubilang jangan panggil aku…argh, terserahmu sajalah." Kris menutupi wajah dengan telapak tangannya, wajahnya memerah. Zitao tiba-tiba ingin mengambil wasabi yang ada didepan orang itu dan meraupkannya ke wajah itu.

"Kalau anda tidak keberatan, maka saya bisa apa? lagipula 'Gege' kedengaran bagus." Zitao tertawa. "Kita sama-sama cina, kan?"

"Terserahmu saja, Huang. Asal jangan panggil aku 'Paman'," Kris terkekeh pelan. Zitao memalingkan wajah dan menyembunyikan cibirannya.

"Paman? apa anda setua itu? anda masih kelihatan muda!" Zitao ingin menampar dirinya sendiri setelah mengatakan sesuatu yang murahan seperti itu.

"Aku tahu, aku tahu," Kris kelihatan sumringah. "Mungkin saat itu kau masih bocah. Tapi kalau menyaksikan artisku sukses dimana-mana, aku jadi ingin kembali berkarya."

"Kenapa anda tiba-tiba mengundurkan diri dan mendirikan perusahaan ini?" selidik Zitao, seolah-olah penasaran. "Saya penasaran sekali dengan Kris Wu yang banyak orang bicarakan."

"Entahlah," jawabnya setelah lama berpikir. "Ada beberapa masalah yang harus kubereskan saat itu, lagipula aku merasa lebih sukses berada di balik layar."

"Jangan merendah seperti itu. Saya bisa melihat riwayat anda di internet dengan mudah," Zitao mengeluarkan ponselnya dan bermain-main dengan itu.

"Wah, kebetulan sekali. Kau punya pekerjaan rumah, kan?" Kris mendekat. "Apa yang dimaksud dengan OTP?"

Zitao memutar bola mata dan membuka fitur internet. "Anda suka mengalihkan pembicaraan."

.

Baekhyun tersentak, seakan teringat sesuatu dan beranjak dari sudut dimana ia ngobrol sejak tadi. Ia sudah meninggalkan Zitao! sahabat macam apa dia?! Rutuknya. Namun ketika ia mengedarkan pandangan ke ruangan VIP tersebut, yang ia lihat membuatnya mengernyitkan dahi.

Sejak kapan Zitao seakrab itu dengan bos mereka?

Masih di tempat yang sama sejak mereka datang, Zitao duduk bersila dan terlihat asyik dengan seseorang yang kini menempati tempat duduknya disebelah Zitao tadi. Kris Wu. Keduanya tertawa oleh entah apa yang mereka lihat di ponsel Zitao. Mereka duduk begitu rapat. Tetap saja, Baekhyun bisa melihat kalau Zitao tidak nyaman.

Baru saja ia akan menghampiri mereka, tangannya ditarik oleh seseorang, membuatnya terduduk lagi di bantal duduknya. Ia melotot kepada siapapun itu karena sial, pantatnya terasa sakit.

"Mau kemana?" tanya pria itu. Baekhyun mengernyitkan dahi. Ah, iya. Si Telinga Lebar. Ia menunduk. Tangannya masih dipegang erat.

"Maaf, aku harus pergi," Baekhyun menyentak tangannya, berharap pria itu melepas genggamannya. Tetapi ternyata tidak. "Apa yang kau inginkan?"

Pria itu mengangkat alis. "Jangan galak begitu. Permainannya belum selesai, kan?"

"Aku sudah tidak sanggup minum lagi. Sepertinya aku harus pulang," Baekhyun menatap Zitao dan Kris dengan cemas.

"Kenapa? kau mencemaskan kekasihmu?" tanya pria itu. Baekhyun menoleh dengan cepat, wajahnya menyemu merah.

"Zi-Zitao bukan kekasihku!" seru Baekhyun marah.

"Woah. Tidak perlu sekasar itu, Cantik." Pria itu melepaskan tangannya dan memasang wajah konyol. "Kalau begitu kau belum punya kekasih?"

Baekhyun sudah cukup dengan keisengan orang ini dan memutuskan untuk pergi saja.

"Hei, Byun Baekhyun! Mau kemana?" pria itu menarik tangannya, membuatnya terhempas di lantai, lagi.

"Kau ini siapa?! Memangnya kau pegawai?! Aku tidak pernah melihatmu di kantor," Baekhyun mulai naik pitam.

"Memang bukan. Jangan-jangan kau tidak mendengar waktu aku memperkenalkan diri tadi?" pria itu mengerucutkan bibirnya, pura-pura marah.

"Dengar, ya," Baekhyun menghela nafas. "Yang jelas, kau mabuk dan jangan menggangguku. Aku bahkan tidak tahu siapa kau ini."

"Bagaimana kalau kukatakan kalau aku adalah Park Chanyeol?" pria itu menyeringai. Baekhyun menoleh dan membeku menatap pria menyebalkan yang ternyata sudah mengejarnya sejak minggu lalu.

.

Tangan Zitao sedikit bergetar ketika ia merasakan tubuh orang itu makin mendekat dan mendekat. Mereka sedang melihat profil artis-artis Dragon ent. yang tersebar di internet, ia membiarkan orang itu melakukan apa yang ia inginkan, tapi tidak bila sedekat ini.

Bahu dan paha mereka saling menyentuh. Zitao ingin sekali mendorong orang ini tapi tentu saja itu tidak bisa ia lakukan.

"Huang? ada apa?" tanya Kris khawatir.

"Eh? Ah, t-tidak…sepertinya saya pusing, saya ingin pulang saja."

"Hei, kau baik-baik saja? Biar kuantar kau pulang."

"Hah? tidak perlu! Saya akan naik taksi bersama Baekhyun…"

Tapi dicari kemanapun, Baekhyun tak terlihat wujudnya.

"Kemana dia?!" rutuk Zitao pelan.

"Erm, sepertinya aku tahu dimana temanmu," ujar Kris.

"Apa dia pulang tanpa saya?"

"Mungkin. Aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya, temanmu aman."

"Aman? Saya tidak paham. Memangnya dia kemana?"

"Jangan khawatir. Dia mungkin bersama temanku, Park Chanyeol. Oh benar, kau tidak akan mengenalinya."

Park Chanyeol? bukankah orang itulah yang memberitahunya bahwa Kris menyukainya-

"Aku akan menghubunginya nanti, jangan khawatir begitu. Chanyeol bukan orang jahat," Kris tidak tega melihat wajah Zitao yang terlihat cemas. "Sekarang biar kuantar kau pulang. Kau terlihat pucat, Huang."

Zitao tidak menolak bukan karena tidak menemukan alasan. Ia hanya masuk ke mobil mewah orang itu. Yang lain sudah pulang ketika ia kebingungan mencari Baekhyun. Saat orang itu ikut masuk, ia berdoa semoga pilihannya untuk ikut mobil orang ini tidak salah.

"Malam ini sangat menyenangkan. Terima kasih atas undangan anda, Tuan Wu," buka Zitao. Ia tidak mau berdiam diri berdua saja didalam mobil bersama orang itu.

"Apa yang kukatakan tadi soal memanggilku 'Tuan Wu'?" Kris mengangkat alis.

"Ah, maaf," Zitao tertawa pelan dibalik telapak tangannya. Sebenarnya ia mencibir. "Saya butuh adaptasi untuk menyebutnya, sepertinya."

Kris hanya menggelengkan kepala dan konsentrasi menyetir.

"Saya tidak menyangka akan diundang ke perayaan kali ini," Zitao bermain-main dengan jarinya. Peran dimulai.

"Kenapa begitu? Kau pegawaiku, sudah pasti diundang."

"Entah kenapa saya merasa tidak seperti itu. Saya sering tidak diundang ke perayaan-perayaan macam ini sebelumnya. Saya bahkan berpikir bahwa anda…membenci saya."

Pegangannya pada setir mobil mengencang ketika mendengarnya. Kris tiba-tiba merasa bersalah.

"Bukan begitu-"

"Saya minta maaf atas kejadian di lift ketika kita pertama kali bertemu. Saya benar-benar tidak bermaksud menyinggung anda," ujar Zitao, nadanya sedih.

Kris menghela nafas. "Aku masih tidak tahu kenapa kau bisa bertingkah seperti itu. Apa kau punya phobia atau semacamnya?"

Ya. Dan semua itu adalah hasil perbuatanmu. Giginya gemertak menahan amarah.

"Ceritanya panjang," Zitao tersenyum.

Keduanya memutuskan untuk diam. Zitao mulai mengkhayal bagaimana kalau mereka kecelakaan. Akan sangat menyenangkan kalau orang disebelahnya tewas, tapi bagaimana kalau ia juga ikut mati? Ia tidak mau mati bersama orang itu.

"Maaf, apabila kau merasa terasingkan olehku."

"Eh?" Zitao menoleh.

"Maaf." Kris tersenyum lemah. "Aku hanya tidak mau membuatmu merasa tidak nyaman bekerja bersamaku. Karena itu aku sempat mengabaikanmu, Huang."

"Dan kenapa begitu?"

"Aku pikir kau takut padaku."

Jawaban tersebut membuat jantung Zitao berdegup kencang. Apa yang harus ia katakan kali ini?

"Aku pernah menanyakannya padamu, ya?" Kris tertawa hambar.

Zitao melempar pandang ke jendela disebelahnya. Memutar otak.

"Ya. Saya tidak sepenuhnya jujur saat itu," ia mendengus.

"Jadi…kau bohong padaku?"

"Lebih tepatnya bukan seperti itu. Mungkin saya memang menyimpan sedikit rasa takut terhadap anda."

Apa yang telah aku lakukan?" Kris keheranan.

Banyak. Kau mencabuliku. Menghancurkan masa kecilku. Membuatku jadi anak aneh. Tidak punya teman-

"Karena anda sangat tampan."

Kris nyaris menabrak mobil yang berhenti didepannya. Lampu merah. Ia harus berterima kasih pada Zitao dan pernyataannya. Coba ulangi sekali lagi, ia tidak salah dengar, kan? Kris menoleh dan mencoba melihat ekspresi wajah Zitao, tapi ia masih saja menatap keluar jendela.

"Saya…," suaranya sedikit gemetar. "Saya gugup dan diliputi rassa bersalah. Saya ini hanya pegawai, apalagi masih baru, tapi sudah berani merasakan hal seperti itu. Saya lancang sekali. Lalu anda mengacuhkan saya…! Anda…anda tidak akan tahu betapa menderita saya waktu itu."

Zitao mengangkat tangan dari pangkuannya dan menggunakannya untuk menutupi bibir. Ia tidak yakin bisa menahan tawa lebih lama. Ia bisa melihat ekspresi tolol orang itu dari bayangan jendela.

"Saya harap anda tidak keberatan atau merasa jijik, Tuan Wu…"

Yang benar saja. Dirinyalah yang seharusnya merasa jijik saat ini.

"Maaf…saya telah lancang menyukai anda. Tapi saya tidak sanggup menahan perasaan ini." desahnya.

Tahan, Zitao…Tahan. Tapi sulit sekali menahan tawa di saat seperti ini.

Bunyi klakson mengagetkan keduanya. Kris masih tidak bisa mencerna apa yang baru saja ia dengar. Apa Zitao baru saja menyatakan perasaan padanya?!

Kris melajukan kendaraan lagi dalam keadaan setengah tidak sadar. Ini benar-benar diluar dugaannya. Jadi selama ini perasaannya tak pernah bertepuk sebelah tangan. Ia menggeleng tak pecaya. Chanyeol. Kris tidak tahu apa rencananya, tapi sepertinya ia sudah tahu apa jawaban Zitao apabila ditanya mana yang lebih ia sukai antara penis atau vagina.

Kris melirik Zitao yang masih menghadap jendela dan menutupi bibirnya. Bahunya sedikit berguncang. Kasihan. Selama ini pasti berat baginya.

"Huang Zi Tao, bolehkah aku minta nomor ponselmu? Aku akan menanyakan pada Chanyeol dimana temanmu berada. Aku janji akan menghubungimu."

.

"Turunkan aku."

"Tidak."

"Aku bilang, turunkan aku! atau aku akan teriak-"

"Baiklah! Baiklah! Kau ini seperti gadis saja. Dimana rumahmu?"

"Jadi setelah menerorku lewat ponsel, sekarang kau mau meneror rumahku?"

Chanyeol mulai kesal. "Mana mungkin aku menurunkanmu di tepi jalan seperti ini, kan? Aku akan mengantarmu!"

Baekhyun melipat tangan di dada dan mencibir. "Apartemen di blok A."

Chanyeol berbalik arah dan menuju tempat yang diarahkan Baekhyun. Ia tidak bisa lebih senang dari ini. Ia beruntung Baekhyun tidak menghajarnya setelah mengganggunya dengan pesan-pesan singkat misterius selama ini. Ia merasa sudah cukup dan saatnya menemui Baekhyun. Ia ingin tahu pendapat pria itu tentang dirinya.

Tapi ternyata ia galak sekali.

"Meskipun kau jelas-jelas memaksaku naik mobilmu, aku akan berterima kasih kalau kau tidak menggangguku lagi untuk selanjutnya," Baekhyun melepas sabuk pengamannya. "Aku tidak akan memaafkanmu kalau terjadi sesuatu pada Zitao."

"Woah. Tenang, Cantik. Bos tidak akan macam-macam."

"Berhenti memanggilku itu dan apa maksudmu dengan Bos?" Baekhyun menyipitkan matanya.

"Kris hyung orang baik. Jangan khawatir. Kemungkinan besar…dia sudah pulang."

"Yeah, aku bisa lihat itu. Jendela kamarnya menyala," Baekhyun mendongak.

"Hah?"

"Kenapa?" Baekhyun mengangkat alis.

"Kalian…Kalian…jangan bilang kalian tinggal bersama!" mata Chanyeol membulat lebar.

"Memangnya kenapa kalau kami tinggal bersama?" tanya Baekhyun keheranan.

"Argh…! jangan bilang kalau kalian…berkencan…," Chanyeol mengerang putus asa. Baekhyun menatapnya aneh. Apa orang ini benar-benar serius menyukainya?

"Jangan konyol. Zitao adalah pria paling normal yang pernah aku kenal. Mana mungkin kami berkencan," ujar Baekhyun. Chanyeol mengangkat alis. Entahlah, nada suaranya terdengar getir. Ia membuka pintu mobil dan turun tanpa sempat ia cegah.

"Terima kasih atas tumpangannya, yah meskipun sejak awal aku menolak," Baekhyun menutup pintu mobil. Ia berjalan menuju pintu gerbang tanpa menoleh lagi. Chanyeol sibuk memperhatikan sosok Baekhyun. Sial, bahkan pantatnyapun indah.

"Sampai jumpa lagi, Cantik!" seru Chanyeol dari kursinya.

Baekhyun tidak membalas, tapi Chanyeol bersumpah ia mendengar pria itu mengerang 'Argh tidak lagi' dan nyaris tersandung.

.

Ini sudah yang kelima kalinya dalam minggu ini. Zitao menghitung. Kali ini ia mendapati segelas starbucks telah duduk manis dimeja kerjanya. Tiap pagi ia akan menemukan makanan atau minuman ringan diatas mejanya. Yang pertama adalah strawberry short-cake. Hari berikutnya kotak cantik berisi belasan cupcake super girly yang membuatnya mendengus jijik. Benda itu berakhir di tangan rekan-rekan kerjanya, perempuan pastinya. Mereka memekik girang dan melahapnya dalam kecepatan yang mengerikan. Esoknya ada sandwich tuna untuk sarapan, diikuti dengan jus jeruk.

Zitao meraih minuman itu dan mencabut sticky note merah jambu terang yang ikut menempel disana. 'Segelas kopi untuk mengawali harimu. Hav' nice day' jangan lupa emotikon senyum yang menjadi penutupnya. Lain waktu, Zitao akan membuang hadiah-hadiah ini ke tempat sampah, tapi starbucks adalah kesukaannya dan menikmati segelas kopi itu. Berdoa semoga apapun yang berasal dari orang itu tidak membuatnya diare.

Ponselnya bergetar dan sebuah pesan singkat muncul. Zitao tak perlu melihat nama untuk mengetahui siapa pengirimnya.

From: ass-jabber

Bagaimana kopinya? Aku harap kau suka ^.^

Kalau saja ponselnya ini barang murah, ia akan dengan senang hati melempar benda itu ke seberang dinding sana saat ini. Ia tidak pernah menyangka ponselnya yang suci akan dikotori oleh pesan-pesan tidak penting dari orang itu. Tapi semua itu adalah harga yang harus ia bayar kalau permainannya ingin berjalan lancar. Iapun mengetik balasaan.

To: ass-jabber

Saya tidak tahu anda tahu saya menyukai starbucks.

Zitao mengernyit melihat balasannya sendiri. Idiot. Ia memutar bola mata dan mengirim pesan itu. Hidungnya mengernyit ketika ia mengganti nama kontak orang itu di ponselnya. Zitao tersenyum puas. Itu lebih baik. Ketika ia mulai menghidupkan komputernya, Zitao mengerang kesal ketika ponselnya bergetar lagi.

From: cuntface

Itulah takdir.

Yeah, takdir juga yang mempertemukan kita kembali. Zitao tiba-tiba menyesal meladeni orang itu dan memutuskan untuk mulai bekerja saja. Ia takut dirinya akan terjangkit virus homoseksual kalau bergaul dengan orang itu.

.

Kelelahan. Baekhyun menyeret kakinya dengan malas menuju apartemennya. Ia ingin cepat-cepat istirahat. Belakangan ini ia nyaris lembur tiap malam. Beberapa artis comeback dalam waktu berdekatan dan perusahaan menuntut kostum yang lebih menarik. Ia menyukai pekerjaannya, tapi yang paling ia inginkan saat ini adalah kasurnya yang nyaman. Dan mungkin sedikit ngobrol dengan Zitao.

Ia membuka pintu dan langsung menuju dapur. Baekhyun baru saja minum ketika ia menyadari ada pizza diatas meja makan. Juga bunga mawar yang sebelumnya tak pernah ada di dapur mereka.

"Kau sudah pulang, Baekhyun-ah," Zitao menyapanya.

"Belum tidur, Zitao?"

Zitao tersenyum dan mulai menonton televisi. "Kau belum makan, kan? Ada pizza di dapur. Habiskan saja."

"Tidak biasanya kau membeli pizza, Zitao," Baekhyun bergabung dengan sahabatnya itu dan mengunyah sepotong pizza.

"Memang tidak. Seseorang memberikannya padaku," jawabnya enteng.

"Oh ya? siapa? Kakakmu?"

Zitao mendengus. "Bukan, lama juga kami tidak bertemu. Ah, jadi ingat Yixing. Rasanya rindu."

Baekhyun mengambil sepotong pizza lagi dan mengarahkannya ke mulut Zitao. Sahabatnya itu terkejut dan menutup mulutnya. Baekhyun mengangkat alis, ia mendorong pizza itu lagi, bermaksud bercanda, tetapi sepertinya Zitao mulai kesal.

"Baekhyun-ah! Hentikan!" Zitao melotot sementara Baekhyun hanya tertawa. "Aku tidak mau makan apapun darinya." Zitao menggumam pelan.

"Hei, memangnya ini dari siapa?"

"Bukan siapa-siapa," suasana hati Zitao memburuk. Tanpa bicara lagi, ia masuk ke kamarnya. Meninggalkan Baekhyun yang hanya bisa terbengong-bengong.

Esoknya, mereka berdua berangkat kerja bersama-sama seperti biasa. Baekhyun lega. Ia sempat mengira Zitao masih marah. Mereka berpisah di lantai 3 dan menuju departemen masing-masing. Baekhyun baru selesai melambai pada punggung Zitao ketika CEO melewatinya dengan tergesa-gesa. Ia membungkuk dan menyapanya hanya untuk dibalas dengan anggukan. Kris menghampiri Zitao dan berjalan beriringan. Untuk hubungan bawahan-atasan, mereka terlihat sangat akrab. Baekhyun masih bisa menangkap percakapan mereka, juga pertanyaan Kris soal pizza? Itulah yang ia dengar.

Baekhyun tak pernah menaruh curiga, namun ketika Zitao sering pulang larut dan tak lagi makan malam bersamanya, hatinya mulai tidak tenang. Lain hari, ia akan main ke departemen Zitao hanya untuk melihat meja kerjanya kosong. Rekan kerjanya mengatakan kalau sahabatnya itu sedang keluar bersama CEO. Mereka bilang survei lapangan atau semacamnya.

Pelan tapi pasti, ia mulai jarang bertemu Zitao meski tinggal serumah. Makan siang pun sudah bukan agenda utama bagi Zitao. Seperti siang ini, Baekhyun mendapati dirinya terpekur di salah satu meja kafetaria. Sendiri. Ia bisa saja bergabung dengan rekan kerjanya yang lain. Tapi entah mengapa ia selalu menyimpan satu kursi kosong didepannya. Berharap Zitao tiba-tiba datang dan bercanda seperti biasa. Ia menghela nafas.

Ia merindukan Zitao.

Zitao telah berubah. Tak ada lagi pemuda canggung, kaku, dan pemalu yang bahkan naik lift sendirian saja tidak berani. Pemuda yang awalnya tidak mau bekerja di perusahaan ini tanpa dirinya. Tapi lihatlah sekarang, yang ada hanyalah Zitao yang baru. Melangkah penuh percaya diri dan menunjukkan betapa gemilangnya ia. Andai saja Zitao bukan anak yang tertutup, orang-orang akan dengan mudah menyadari kecerdasannya.

Baekhyun tersenyum getir. Ini tidak benar. Jahat sekali dirinya. Seharusnya ia senang, bangga, melihat perubahan yang terjadi pada sahabatnya itu. Dialah orang yang selalu memacu Zitao untuk keluar dari lubang kegelapan dan bergaul dengan orang lain. Ia bukannya sedih. Baekhyun hanya merasa…tertinggal. Kecewa karena bukan dirinyalah orang yang mampu membuat Zitao akhirnya berubah.

12 tahun bersama Zitao, ia belum pernah melihat tingkahnya yang seaneh ini. Zitao tak pernah menunjukkan ketertarikan terhadap orang lain dalam hubungan romantis terhadap lawan jenis. Karena itu ia sangat, sangat terkejut mengetahui Zitao tertarik pada…sesama jenis. Bahkan Zitao masih sering menunjukkan rasa tidak nyaman ketika berada bersama pria kecuali dirinya. Baekhyun boleh bangga. Ia berhasil meyakinkan Zitao untuk tinggal bersamanya.

Ia tak pernah mengatakan ini pada siapapun, tapi ia punya rahasia. Entah sejak kapan, ia mulai melihat Zitao dengan cara berbeda. Bukan sahabat sejak kecil atau kakak yang melindungi. Makin hari rasa sayangnya makin bertambah. Tujuan hidupnya setiap hari adalah untuk melihat senyum Zitao. Ia tak mampu menghentikan perasaan ini meskipun jelas-jelas Zitao tak akan melihatnya dengan cara yang sama.

Ia menyukai sahabatnya sendiri.

Maka dari itu, ia memutuskan untuk memendam jauh cinta terlarangnya dan melindungi Zitao seperti biasa. Zitao tak mungkin menyukai pria. Tapi apa yang Baekhyun saksikan belakangan ini bagaikan mimpi.

Zitao menatap Kris dengan cara yang sama seperti dirinya menatap Zitao.

Bolehkan dirinya berharap? Bolehkah ia menggali perasaan yang telah lama ia simpan? Ia tidak tahu harus senang atau sedih. Mengingat Zitao tidak tertarik pada pria seperti dirinya.

Jadi bos mereka adalah tipe Zitao?

"Mana kekasihmu?"

Baekhyun menurunkan tangan yang ia gunakan untuk bertopang dagu dan menghela nafas. Ia kembali menjumpai senyum konyol itu.

"Sudah kubilang jangan menemuiku lagi. Bagian mana yang tidak kau pahami, Park Chan Yeol?"

"Jangan galak begitu, Cantik. Kau terlihat kesepian. Seharusnya kau berterima kasih aku datang menemanimu," Chanyeol mneyeringai.

Baekhyun mengacuhkannya dan minum jusnya yang sudah tidak dingin. Ia sengaja tidak makan. Tak ada artinya makan siang tanpa Zitao.

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Mana kekasihmu?"

"Sudah kubilang kami bukan sepasang kekasih! Zitao tidak akan melihatku seperti itu. dia tidak akan tertarik pada pria. Jangan samakan dia dengan dirimu!" desisnya marah. Andai mereka tidak berada di kafetaria, ia sudah menonjok pria menyebalkan ini. Chanyeol mengerjap. Ia tampak tidak terpengaruh sama sekali dengan luapan kemarahan Baekhyun.

"Meskipun begitu kau masih menyukainya?"

Wajah Baekhyun semakin kaku mendengar apa yang baru saja meluncur dari mulut Chanyeol. Keduanya saling menatap mata masing-masing. Mata Chanyeol menyiratkan kau-tidak-bisa-menghindar. Baekhyun serasa ditelanjangi oleh tatapan macam itu. Dirinyalah yang pertama menyerah dan menunduk. Erangannya tersamarkan oleh telapak tangan yang kini menutupi wajahnya. Ia tidak mau Chanyeol melihatnya saat ia lemah.

"Aku tidak bisa mengendalikannya," jawab Baekhyun masih menutupi wajah. Sikunya diatas meja. Ia terlihat sangat frustasi. Chanyeol menepuk-nepuk bahunya. Ia menurunkan tangannya dan memelototi pria lancang didepannya.

"Bagaimana kau bisa tahu? apa aku sejelas itu? aku pikir aku sudah ahli menyembunyikannya," wajah Baekhyun mulai tenang.

"Untuk orang yang selalu mengawasimu, mudah melihatnya." Balasnya kalem.

Baekhyun mendengus keras. Ia menatap Chanyeol, tak habis pikir. "Dan kenapa kau mengawasiku?"

Chanyeol mengangguk dalam dan meminum tehnya sebelum menjawab: "Sederhana. Aku menyukaimu."

.

"Zitao, apa yang kau lakukan?"

"Oh, hai Baekhyun-ah."

Baekhyun memperhatikan Zitao mengemasi beberapa baju ke dalam koper.

"Kau mau pergi kemana?" tanya Baekhyun lagi.

Zitao menata agar baju-bajunya terlihat rapi. "CEO mengajakku ke cina untuk perjalanan bisnis. EXO akan merambah pasar cina dan ia meminta pendapatku."

"Dan kau mau?" Baekhyun mulai takut.

Zitao akhirnya mengalihkan perhatiannya dari koper ke sahabatnya. Ia menatap Baekhyun yang berwajah cemas. "Aku tidak menemukan alasan kenapa aku harus menolaknya." Ujarnya seolah itu adalah hal paling jelas.

Baekhyun menelan ludah. Kalau Zitao memang benar-benar menyukai bos mereka, bukankah seharusnya ia menunjukkan bahwa ia sangat tertarik? Zitao hanya berwajah masam dan datar-datar saja. Ada apa denganmu, Zitao?

"Zitao…"

"Hm?"

"Kau tahu kau bisa cerita apa saja padaku. Kalau ada sesuatu yang kau pikirkan dan itu menganggu hatimu, katakan saja. Jangan ada yang disembunyikan. Katakan padaku. karena ini bukan dirimu."

Tangan Zitao membeku. Ia mendengarkan kalimat dari mulut sahabatnya dengan nafas tertahan. Tahu. Bahkan Baekhyun tahu ia sedang berakting. Ia cepat-cepat menguasai dirinya.

"Kau ini kenapa, Baekhyun-ah?" Zitao kembali mengatur pakaiannya. "Bukankah ini kesempatan emas? Ini bukti kalau bos mempercayaiku. Aku bisa saja naik jabatan, kan? Kau tidak berpikiran sampai kesana?"

Maaf, Baekhyun-ah…aku tidak mau melibatkanmu dalam rencana pembalasan dendam ini. Bahkan kau yang sudah aku anggap saudara sendiri tak pernah kuberitahu soal masa laluku yang kelam. Karena sejak awal kau adalah orang luar. Aku mempercayaimu, tapi aku yang akan menyelesaikan masalahku sendiri.

"Jangan khawatir," Zitao tersenyum. "Aku akan baik-baik saja. Nah, sekarang aku mau istirahat. Besok pagi aku sudah harus berangkat."

Tak ada keraguan dalam benaknya saat ia mengiyakan tawaran orang itu saat makan siang tadi. Ia tahu tidak bisa mundur sekarang. Perjanjiannya dengan setan sudah ia tanda tangani dan harus berhasil. Ia akan malu pada Tuhan bila ia gagal. Menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan padanya.

Zitao meninggalkan apartemen saat pagi buta. Taksi telah menunggu di pintu gerbang. Dingin menyeruak, sedingin senyumnya. Ia memaksakan senyum pada orang yang melambai padanya dari kursi belakang.

"Akhirnya kau pulang ke cina, ya?" buka orang itu sambil tersenyum lebar ketika ia sudah duduk di sebelahnya.

"Yeah." Jawabnya singkat. Ya. 12 tahun sejak kau menghancurkan hidupku.

"Sudah siap?" ia bertanya lagi. Zitao mengatupkan bibirnya, menciptakan seulas senyum tipis nan percaya diri.

"Selalu."

Zitao meraba pisau lipat kecil yang tersimpan di sakunya. Bagus. Ia kembali tersenyum dan menatap kedepan. Hanya untuk jaga-jaga. Ia tidak pernah merasa aman berada didekat orang itu.

-to be continued-


Ada yang masih ingat fic ini nggak ya? ._. Butuh nyaris setengah tahun buat update fic ini. lol. Jangan bunuh saya. Sudah terlalu ngantuk, belum cek ulang apa yang saya tulis. Semoga nggak ada yang aneh. jangan hiraukan typo! Saya suka sekali baca review lhoooo. Sampai chap berikutnya! See ya! KRISTAO ALL THE WAY! YEAH!

-HZTWYF-