Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya. Saat pandangannya mulai fokus dia baru menyadari jika dia masih berada di pohon favoritnya. Berapa lama dia tertidur? Sasuke menutup mulutnya yang menguap. Sudut matanya melirik tempat yang tadinya diduduki Sakura. Kosong. Gadis itu meninggalkannya seorang diri. Sasuke melirik jamnya yang menunjukan pukul tiga sore. Wow. Sangat mengagumkan mengetahui dia bisa tidur cukup lama dialam terbuka. Sasuke beranjak menuju kelasnya untuk mengambil barang-barangnya.

Pria raven itu memasukan barang-barangnya ke dalam tas dan menyampirkan dibahu. Onix sekelam malamnya menangkap secarik kertas asing dimejanya. Sasuke meraih kertas itu dan membaca tulisan yang familiar baginya.

Aku menunggumu di perpustakaan.

-Sakura

Senyum simpul tersungging dibibir pria tampan itu saat mengetahui Sakura menunggunya. Ini kabar yang sangat bagus kan. Dengan langkah tenang tapi tak sabar Sasuke menuju perpustakaan. Berkali-kali dia menggigit bibirnya gugup. Sakura menunggunya. Sakura menunggunya. Perasaan senangnya seperti tak tertahankan lagi. Tapi dia tidak bisa bersikap aneh dan menakuti Sakuranya. Sasuke berhenti dan menatap pintu perpustakaan. Sakura ada didalam menunggunya. Sasuke menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya berusaha mengontrol perasaannya.

Sakura mengangkat kepalanya saat melihatnya masuk. Perpustakaan sudah sepi, hanya ada Sakura disini. Lagi, Sasuke tak bisa menyembunyikan senyumanya saat berpikir Sakura rela menunggunya. Di sini. Sendirian.

"Maaf membuatmu lama menunggu." Sasuke duduk dikursi dihadapan Sakura.

"Maaf." Gadis didepannya meremas-remas tangannya gelisah. Tapi Sasuke tahu jika Sakura berusaha menekan rasa gelisah nya. Itu membuatnya senang sekaligus miris. "Aku... tak bisa menunggumu."

"Hn?" gumam Sasuke bertanya. Onixnya bertemu dengan emerald yang selalu di pujanya saat Sakura menatapnya. Hanya sekilas. Sasuke tak tahu alasan Sakura tiba-tiba mau menemuinya di perpustakaan. Tapi lebih tak tahu lagi kenapa gadis itu meminta maaf tak bisa menemaninya.

"Maaf Uchiha, aku..." Sasuke menghela nafas mendengar bahkan Sakura semakin tertekan dengan terus-terusan meminta maaf. Gadis itu menghela nafas lalu melanjutkan ucapannya. "...entah bagaimana, bahkan Oro sensei membuat kita berpasangan. Uh...uhm... " Sasuke tak tahu dia ingin menangis atau tertawa melihat betapa gugupnya Sakura. Demi Tuhan, bahkan Sasuke tak akan bergerak sedikitpun jika sebegitu tak nyamannya.

"Bicaralah pelan-pelan Sakura, aku menunggu." Sasuke dengan tersenyum sabar.

"Maaf... ini benar-benar..." Sakura lagi-lagi menghela nafas. "...bersama pria selalu membuatku tak nyaman. Maaf. Aku sudah mengerjakan bagianku, sisanya bagianmu. Tiga hari lagi harus dikumpul. Tugas dari oro-sensei." Ucap Sakura dengan kecepatan penuh.

Jika saja Sasuke tak melihat tangan Sakura yang sedikit gemetaran, mungkin dia akan meminta gadis itu mengulangi ucapannya lagi.

"...Dan tugas dari Anko-sensei... maaf sepertinya aku tak bisa. Sungguh-sungguh tak bisa." Ucap Sakura parau. Sepertinya gadis itu nyaris terisak. Tentu saja ini sangat menyakiti Sasuke juga. Fakta jika Sakura menderita jika bersamanya membuat Sasuke mau tak mau harus menelan pil pahit.

"Bagaimana dengan syaratmu?" Bukan jawaban yang diinginkan Sasuke saat ini. Tugas dan syarat itu sama sekali tak penting. Sasuke hanya butuh ruang untuk meyakinkan Sakura bahwa berdekatan dengannya tak akan membunuh gadis itu. Justru berjauhan dengan Sakura bisa membunuhnya secara perlahan. Pertama-tama pasti membuatnya gila.

"Aku... maaf... Aku tak bisa bertahan denganmu. Sama sekali tak bisa... maaf...maaf." Akhirnya isakan gadis itu pecah. Sasuke tak tahu harus merasa menderita karna dirinya yang tak bisa mendekati Sakura atau karna melihat Sakura yang begitu tersiksa. Apa lagi yang bisa dia lakukan sekarang? Sakura tak bisa bertahan dengannya. Sama sekali tak bisa. Sasuke seperti tak lagi merasakan darahnya mengalir dalam tubuhnya.

"Kenapa?" Bisik Sasuke parau. Suasana hatinya yang buruk sepertinya didukung langit yang mulai menggelap dan menurunkan gerimis.

"Kau... Kau..." Sasuke menatap Sakura yang seperti tercekat. Gadis favoritnya terlihat tersengal-sengal. Apa yang terjadi padanya? Sasuke tak bisa peduli lagi pada lukanya saat melihat wajah tersiksa gadisnya.

"Sakura..." panggil Sasuke khawatir.

"Maaf... sungguh maaf..." Sakura memegang dadanya dan beranjak, membungkukkan sedikit tubuhnya lalu meninggalkan Sasuke dengan jutaan pertanyaan dikepalanya. Onix sekelam malam itu memancarkan frustasinya dengan sangat jelas.

Pria raven itu menghela nafas miris menatap punggung Sakura yang berjalan seolah dikejar setan. Ada bagian didalam dadanya yang sakit dan tak terima melihat perlakuan Sakura padanya. Tapi Sasuke bisa apa selain bersabar?

Perhatian Sasuke teralih pada buku yang teronggok dihadapannya. Menghela nafas, Sasuke meraih buku itu dan mengikuti arah perginya Sakura.

Tatapan Sasuke menyendu menatap Sakura yang menengadah menatap hujan. Dia sangat ingin meraih tubuh gadis itu dan memaksanya mengatakan apapun. Apapun yang membuat Sasuke sangat kesulitan mendekatinya. Apa yang membuat gadisnya begitu menghindari pria. Tidak. Bahkan gadis itu mengisolasi dirinya dari hal bernama sosialisasi.

Sasuke tersentak saat melihat Sakura menerobos hujan. Dengan cepat pria itu mengeluarkan payung lipat dari dalam tasnya. Dia memang selalu sedia payung menjelang musim hujan seperti ini. Sebenarnya bukan dia, tapi ibunya. Setelah mengembangkan payungnya, Sasuke berlari mengejar Sakura dan memayungi gadis itu. Sasuke menghentikan langkahnya ketika Sakura menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pria raven itu.

"Pegang." ucap Sasuke. Nyatanya pria itu memang masih menjaga jaraknya dengan Sakura. Sasuke melepaskan gagang payung dan membiarkan payung itu bertumpu pada kepala Sakura ketika gadis itu hanya diam. Sasuke khawatir melihat gadis itu pucat dan gemetar. Sasuke ragu jika itu efek dari kedinginan. Karna itulah dirinya mundur beberapa langkah membiarkan dirinya basah kuyup diguyur hujan.

"Jika kau terus berdiri disini, mungkin aku bisa mati kedinginan." ucap Sasuke setengah berteriak berusaha mengalahkan suara hujan sembari tersenyum lebar. Sakura menggigit bibirnya menatap gagang payung milik Sasuke. Perlahan jemarinya menggenggam gagang payung itu dan melangkah pulang setelah sekilas memandang Sasuke.

Sebagian tubuh Sakura tetap basah karna hujan yang terlalu deras. Sesekali gadis itu menoleh ke belakang, ke arah Sasuke. Meski tubuh Sasuke sudah menggigil hebat tapi nyatanya dia tak keberatan. Dia bisa melihat pemandangan berbeda dari Sakuranya saat ini. Mungkin benar jika orang bilang basah itu seksi. Karna bagi Sasuke saat ini Sakura terlihat begitu seksi dan menggoda. Sialan. Sasuke mengumpat hormon sialan yang membuat otaknya berimajinasi berlebihan tentang Sakura. Memangnya kenapa? Bukan hanya kali ini saja dia berimajinasi tentang Sakura. Hanya saja kali ini terlalu liar jadi terasa sedikit mengganggu.

Sasuke melihat mobil Menma sudah ada disana. Bejarak dua rumah dari rumah Sakura. Bukan hanya itu dia juga melihat Temari dan dua pria yang sepertinya sebaya dengannya menyambut Sakura. Sepertinya mereka mencemaskan Sakura yang terlambat pulang. Sasuke hanya tersenyum kecil saat Sakura menoleh padanya sebelum digiring masuk ke rumah oleh Temari dan diikuti dua orang pria entah siapa.

"Tuan anda basah kuyup." dengan panik Menma melepas jasnya dan berniat memakaikan pada Sasuke.

"Pastikan saja kita cepat sampai di rumah." ucap Sasuke menolak pemberian Menma. Percuma saja, hanya akan menambah jumlah benda basah.

Sasuke tersenyum hambar ketika sampai rumah disambut kepanikan ibunya yang melihatnya basah kuyup. Melihat ibunya menyiapkan ini dan itu membuatnya merasa bersalah. Seharusnya dia tidak membuat wanita nomor satunya itu khawatir.

"Dia tidak akan mati hanya karna kehujanan Kaa-san." cibir Itachi. Tumben sekali kakaknya itu sudah ada dirumah jam segini. Biasanya Sasuke hanya bisa bertemu dengannya saat sarapan saja. Itachi sepuluh tahun lebih tua dari Sasuke. Mungkin karna itu mereka jadi kurang akrab.

Sasuke meringkuk dikamarnya mengabaikan acara bincang-bincang keluarga yang sangat jarang terjadi. Jika dimalam hari maksudnya. Karna setiap Sarapan semua keluarga Uchiha wajib melakukanya dirumah. Entahlah siapa yang membuat peraturan itu. Tapi bagus. Setidaknya bertemu tiap pagi akan membuat mereka tetap saling ingat bahwa mereka keluarga mengingat kesibukan mengerikan yang mereka miliki masing-masing.

Sasuke meraih remot dan memencet salah satu tombolnya. Lemari besar yang tepat berada didepannya berputar memperlihatkan deretan foto yang berjumlah ribuan dibagian belakang lemari yang sudah disulap sedemikian rupa. Foto-foto yang keseluruhan objeknya adalah seorang gadis berhelaian merah muda itu bagai berada dikotak kaca besar.

"Sakura..." Sasuke berhenti memotret diam-diam gadis itu tahun lalu. Otaknya tak bisa menerima jika dia hanya mengumpulkan foto tanpa bisa sedikitpun mendekati objeknya. Di tambah insiden adik kelas yang sengaja mengganggu Sakura membuatnya memutuskan mengikuti gadis itu kemanapun pergi untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Sekarang dia terlihat lebih dekat dengan gadisnya tapi nyatanya sama saja. Selangkah yang berarti baginya tidak berpengaruh apapun bagi Sakura. Sasuke mendesah. Menarik selimut dan memejamkan matanya. Dia berharap bisa bersama Sakura dialam mimpi. Meski Sasuke terkadang merasa jika perilakunya seperti stalker psikopat yang menggilai Sakura, dia tak begitu peduli.

Gerimis mengiringi pagi. Musim hujan sepertinya benar-benar sudah datang. Sasuke turun dari mobilnya ketika melihat Sakura dan Temari keluar dari rumah. Dia mengikuti langkah mereka dengan tenang. Gerimis ini sangat lembut dan tak akan bisa menembus jaket tebalnya. Hari ini Sakura mengikat rambutnya ekor kuda. Memperlihatkan leher jenjang yang cantik. Sasuke mendengus. Apapun yang dilihatnya jika itu Sakura akan selalu cantik. Sepertinya Sakura dan cantik sudah menjadi satu hal pasti diotaknya.

Sakura dan Temari berpisah saat Temari menuju ruang osis. Gadis itu terkejut saat melihat Sasuke berada di belakangnya. Sasuke hanya diam saat Sakura menatapnya ragu-ragu. Beberapa kali mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi dia berbalik sebelum ada kata yang keluar dari mulutnya. Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju kelas. Sasuke mendesah menatap punggung mungil gadisnya. Perlahan senyumnya muncul mengiringi langkahnya menyusul Sakura. Sakura sudah berusaha bicara padanya. Dia akan menunggu hingga hari itu tiba. Hari di mana Sakura akan bicara lebih dulu padanya. Sasuke tidak percaya jika sangat mudah bagi Sakura membuat dirinya tersenyum lagi.

"Jadi bagaimana tugasmu besok?" Tanya Shikamaru seraya memberikan assist pada Sasuke. Sasuke melewati Sai dan berhasil memasukan bola ke ring. Yang dengan cepat di balas Sai dengan berusaha memasukan bola ke ring Sasuke.

"Tak ada yang bisa ku lakukan. Lagipula satu nilai burukku bagus buatmu kan?" Sasuke menerima assist Shikamaru hasil rebound. Pria raven itu mundur beberapa langkah dan melakukan three point shooter.

"Kalau kau berpikir begitu." Shikamaru menjaga Naruto yang sedang mendribble bola.

"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan sih?" Umpat Naruto seraya mengoper bola pada Sai yang dijaga Sasuke. Sai mengangkat alisnya.

"Apa ini yang disebut rela berkorban?" Sasuke cemberut mendengar ucapan Sai. Dia merebut bola dari tangan Sai.

"Harusnya kau fokus."

"Harusnya kau fokus." Sai memblok lemparan Sasuke hingga gagal masuk ke ring. Bola ditangan Shikamaru yang juga gagal memasukan bola karna Naruto.

"Sebenarnya kita sedang bicara atau bermain sih?" Dengan jengkel Naruto membawa bola ke ring lawan dan melakukan slam dunk.

"Memang apa salahnya dengan bicara sambil bermain?" Kini giliran Shikamaru yang melakukan cross over dunk melewati Sai. Sasuke terkekeh berjalan ke pinggir lapangan. Dia duduk dilantai mengistirahatkan tubuhnya.

"Segalanya tidak adil bagi orang bodoh." gerutu Naruto yang mengikuti Sasuke.

"Kau mengakui kalau dirimu bodoh?" Sai menyahut botol air mineral dari tangan Sasuke.

"Aku tak bilang begitu!" Teriak Naruto. Shikamaru duduk disamping Sasuke mengabaikan Sai dan Naruto yang saling mengumpat. Shikamaru meneguk air yang terdekat dengannya.

"Jadi apa yang akan kau katakan pada Anko sensei?" Tanya Shikamaru tanpa memandang Sasuke.

"Bagaimana jika kita membahas tentang kau dan gadis machomu?" Shikamaru tertawa tak percaya mendengar julukan itu.

"Apa kau dendam padanya karna Sakura?"

"Tidak. Dia mengakuinya sendiri. Mengerikan." Mereka tertawa.

Hari presentasi tugas dari Anko sensei tiba. Sasuke memilih berbaring dibawah pohon favoritnya dari pada masuk kelas Anko sensei. Dengan begini Anko hanya akan memberinya nilai buruk tanpa melibatkan nilai Sakura. Tak masalah. Sasuke menatap lurus ke depan mengira-ngira apa yang menjadikan tempat ini begitu disukai Sakura. Dia tidak tahu. Nyatanya dia menyukai tempat ini karna Sakura menyukainya. Mungkin gadis itu terlalu menyukai sendiri dan tidur. Sasuke terkekeh. Tempat ini memang nyaman untuk tidur.

Angin yang menerpa cukup kuat membangunkan Sasuke dari tidur nyenyaknya. Sasuke menggosok wajahnya dengan telapak tangan demi mengumpulkan kesadaranya. Dan tubuhnya langsung terlonjak kaget saat menemukan sosok pink duduk bersimpuh tak jauh didepannya.

"Sa... Sakura.." desis Sasuke salah tingkah. Sasuke menelan ludahnya gugup. Demi apa bangun tidur dia langsung melihat malaikat didepannya. Jangan pikirkan ungkapan lebaynya. Pikirkan saja Sakuranya. Setelah berdehem Sasuke memperbaiki posisinya kembali duduk ditempat semula. Sedangkan Sakura didepannya hanya diam menunduk.

"Ah maaf." Sasuke tertawa garing saat melirik jam ternyata sudah jam istirahat. Berhadapan dengan Sakura membuatnya merasa salah. Mungkin saja gadis itu tak suka tempatnya ditempati olehnya. "Aku akan pergi." ucap Sasuke setelah benar-benar tak tahu lagi harus bagaimana.

"Maaf..." Sasuke terdiam mendengar lirih suara Sakura. "Maaf... sungguh maaf membuat nilaimu buruk." Sakura mengangkat wajah dan Sasuke tak mampu menahan detak jantungnya yang menggila. Wajah Sakura sangat cantik saat emerald indahnya berkaca-kaca seperti saat ini. Bukan Sasuke suka Sakura bersedih, hanya saja ini memang terlihat sangat memukau.

"Kau tak menyukai angka nol. Tapi aku membuat nilaimu buruk. Maaf." Sasuke tersenyum melihat Sakura yang menyeka kristal bening disudut matanya. Nilai buruk bukan berarti hal buruk kan? Jika itu bisa membuat Sakura bicara padanya Sasuke sama sekali tak menyesal. Mana mungkin dia sempat memikirkan nilai buruknya jika Sakura memenuhi pikirannya.

"Jangan khawatir. Satu nilai buruk tak akan berpengaruh apapun bagiku." Sakura menatap Sasuke sebentar berusaha meyakinkan dirinya jika Sasuke berkata jujur. Setelah itu dia kembali menunduk.

"Syukurlah." Bisikan itu jelas sampai ke telinga Sasuke. Apa sebegitu khawatirnya Sakura? Sasuke tersenyum lembut meski Sakura sama sekali tak menatapnya. Sekarang mereka bisa saling berhadapan dan bicara. Bagaimana setelah ini? Sasuke tak bisa menghentikan harapan yang tumbuh subur dihatinya.

"Sakura..." panggil Sasuke lirih. Sakura mengangkat wajahnya sebentar lalu menunduk kembali. Gadis itu menggigit bibirnya gugup.

"Ya?"

"Bagaimana jika ku bilang aku menyukaimu?" Sasuke setengah menyesal saat melihat emerald Sakura yang membulat dibingkai wajah pucatnya. Apa kata-katanya begitu terdengar mengerikan? Sasuke tak tahu harus bagaimana saat Sakura mulai terlihat gelisah dan tak nyaman. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah berusaha menyangkal apa yang didengarnya.

"Sakura." panggil Sasuke khawatir. Bahkan pikiranya telah porak poranda memikirkan dimana kesalahannya kali ini hingga membuat Sakura ketakutan.

"Kau bohong... katakan padaku kau bohong..." Sasuke tak bisa menyembunyikan ekspresi terlukanya saat mendengar bisikan Sakura dengan suara bergetar. Bagaimana bisa dia mengatakan bohong jika dia sama sekali tidak berbohong. "Ku mohon... jangan katakan hal seperti itu... kau menakutkan seperti dia..." Bahkan kini air mata mulai jatuh dari emerald yang tertutup kabut ketakutan itu. Sasuke menelan ludah dan lukanya. Demi tuhan dia akan membunuh siapapun yang disebut Sakura sebagai 'dia' itu. 'Dia' yang Sasuke yakini penyebab Sakura seperti ini.

"Sakura..." bisik Sasuke parau. Sakura menggelengkan kepalanya lagi dan beranjak meninggalkan Sasuke. Jalannya yang tak seimbang membuat Sasuke benar-benar khawatir. Tapi dia tak bisa melakukan apapun.

Sasuke mengikuti langkah gadisnya dari jauh. Meski tidak histeris seperti yang pernah dia lihat tapi Sakuranya terlihat sangat menderita. Tubuh Sakura merosot dilorong diantara gedung perpustakaan dan olahraga yang sepi. Hiruk pikuk keramaian diluar sana tak bisa mengalihkan perhatian Sasuke dari gadisnya, pujaannya yang tengah meringkuk dengan tubuh gemetar.

Hei Sakura, aku harus bagaimana? Saat ini kau benar-benar membuatku ketakutan dan bingung. Katakan apa yang bisa ku lakukan? Katakan apapun padaku yang bisa membuatmu merasa lebih baik. Aku bahkan tak tahu dimana letak kesalahanku.

Onix sekelam malam itu menyendu melihat Sakuranya tak berhenti bergetar. Melihat Sakuranya meringkuk ketakutan entah pada apa. Melihat betapa tak ada yang bisa dilakukanya. Melihat segala yang dia miliki sama sekali tak ada gunanya jika menyangkut Sakura. Sasuke mengepalkan tangannya. Dia tak sanggup lagi melihat Sakura seperti itu. Dengan secepat mungkin Sasuke berlari menuju kelas Temari. Dia membuka pintu dengan bantingan keras mengejutkan beberapa siswa yang berada di kelas itu.

"Di mana Temari?" Tanya Sasuke entah pada siapa. Tak ada yang dia kenal diantara siswa yang berada dikelas itu.

"Dia sedang rapat." Sasuke langsung berlari ke ruang rapat OSIS. Dengan sekali hentak dia membuka pintu. Semua orang yang berada diruang itu terkejut melihat kemunculan Sasuke.

"Apa-apaan kau Uchiha!" Desis Temari tajam. Saking marahnya Temari sampai berdiri dari duduknya.

"Ikut aku." kata Sasuke sembari berbalik akan meninggalkan tempat itu.

"UCHIHA!" Bentak Temari membuat Sasuke kembali menatap ketua OSIS itu. Semua orang terdiam melihat kemarahan Temari, tapi itu tak berpengaruh apapun pada Sasuke. Onixnya justru menatap Temari menantang. "Kau pikir siapa dirimu bisa melakukan apapun sesukamu. Kau tak bisa lihat kami sedang rapat?"

"Dan kau pikir aku peduli? Tinggalkan apapun yang menurutmu penting. Ikut denganku!"

"Uchiha..."

"Makanya ku bilang ikut denganku. TAK ADA APAPUN YANG LEBIH PENTING DARIPADA SAKURA!" Bentak Sasuke tak sabar. Dia meradang kenapa gadis macho keras kepala ini yang selalu bisa menenangkan Sakuranya. Kenapa tidak dia saja.

Sasuke tak peduli pada Temari dan semua anggota OSIS yang mematung. Dia cepat berbalik meninggalkan tempat itu. Sasuke menghela nafas lega saat suara langkah Temari terdengar mengikutinya, dan suara langkah lainnya.

"Sakura..." Temari langsung memeluk tubuh Sakura yang langsung terisak di dadanya. Sasuke menggeleng saat Temari menatapnya bertanya. Sasuke tak tahu siapa yang dihubungi Temari agar menjemput Sakura. Tapi itu sedikit membuat Sasuke tak tenang. Setelah keheningan yang hanya diisi isakan samar Sakura selama sepuluh menit ponsel Temari berbunyi. Gadis itu hanya menatap layarnya lalu memasukan ponselnya ke dalam sakunya kembali. Temari bangun seraya memeluk Sakura dalam gendonganya. Melihat kaki Sakura yang melingkar dipinggang Temari harusnya membuat Sasuke iri, jika situasinya memungkinkan. Nyatanya dia hanya diam mengikuti langkah Temari yang membawa Sakura ke pintu pagar belakang sekolah. Tempat ini lebih sepi dibanding pintu pagar bagian depan sekolah.

Temari memasukan Sakura ke dalam taksi yang menunggu disitu. Seorang pemuda berambut merah bata berdiri disamping Temari yang menutup pintu taksi. Sasuke tak tahu siapa pria itu tapi dia ingat pria ini salah satu dari dua pria yang menyambut Sakura pulang kemarin.

"Pastikan saja dia sampai rumah. Dia akan baik-baik saja." pesan Temari yang hanya dijawab dengan anggukkan oleh pemuda itu lalu duduk disamping supir taksi.

"Aku tak tahu harus marah atau berterima kasih tentang ini. Jangan terlalu berharap padaku." ucap Temari saat melewati Sasuke. Sasuke hanya diam menatap jejak taksi yang membawa Sakura pergi, bersama seorang pria.

"Jangan terlalu di pikirkan." Shikamaru menepuk bahu Sasuke. Sasuke baru sadar jika sahabatnya yang satu ini juga termasuk anggota OSIS.

"Aku hanya... entahlah." Sasuke meremas helaian ravennya frustasi. "Dia pergi bersama seorang pria Shika." Shikamaru justru terkekeh melihat wajah kacau Sasuke.

"Itu Gaara. Adik kandung Temari yang sekolah disekolah khusus putra bersama kembaran Temari Kankuro." jelas Shikamaru.

"Tetap saja dia seorang pria." dengus Sasuke tak suka yang hanya disambut kekehan Shikamaru. Seperti Sasuke hiburan saja.

Esok harinya Sasuke kembali menemukan Sakura keluar rumah hanya sendirian. Sebenarnya akhir-akhir ini apa yang dilakukan Temari? Sasuke bukan ingin tahu tentang Temari, Tapi dia khawatir jika Sakura hanya pergi sendiri ke sekolah. Sasuke? Memangnya apa yang bisa dilakukan Sasuke. Menyentuh gadis itupun dia tidak mampu. Menyedihkan.

"Ohayou Uchiha." Sasuke hampir terlonjak karna mendengar sapaan lirih Sakura. Tak perlu menunggu satu detik untuk melihat senyum menawan Sasuke tercipta. Meski Sakura hanya menunduk tak mau menatapnya, siapa peduli. Sasuke hanya fokus merasakan dadanya yang sesak karna terlalu senang.

"Ohayou Sakura." Balasnya manis. Ini akan menjadi momen paling indah yang ada diingatan Sasuke. Dan perasaan serakah ingin lebih banyak memiliki momen indah bersama Sakurapun membesar seolah mendesak untuk segera diwujudkan.

Langkahnya terasa ringan mengikuti langkah kecil Sakura. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana menandakan dia tengah jalan santai. Senyum tak bisa hilang dari bibirnya saat memperhatikan pergerakan helaian pink Sakura yang terurai. Punggung mungilnya. Dan pergerakan bokongnya yang menggoda. Kaki jenjangnya yang tertutup kaos kaki putih panjang mencapai atas lutut. Tunggu... Sasuke mengacak rambutnya salah tingkah. Hanya karna satu sapaan dia jadi memikirkan banyak hal yang berbahaya untuk fantasinya. Meski begitu Sasuke masih mempertahankan senyumnya hingga berkumpul dengan teman-temannya.

"Aaaa... aaam." Sasuke mengrenyit jijik melihat kemanjaan Naruto pada Hinata. Saat ini dia sedang bersama tiga temannya dan pacar Naruto lalu teman pacar Naruto. Mereka bertujuh sedang duduk mengelilingi meja Sasuke. Dan Hinata membawakan bekal untuk Naruto. Tapi apa maksud Naruto melakukan suap-suapan didepan mereka?

"Apa dia merasa paling beruntung?" sinis Sai melihat cengiran Naruto yang seolah mengejeknya.

"Anoo kalau mau kau bisa mencoba bekalku Shimura-san." ucap Ino malu-malu. Sepertinya gadis ini tertarik pada Sai.

"Baiklah jika kau memaksa." Sasuke mendengus melihat Sai mencomot makanan dari kotak bekal Ino. Kapan gadis itu memaksa Sai?

"Kau sungguh menyuruh Menma mencari tahu masa lalu Sakura?" Tanya Shikamaru dengan suara lirih. Sasuke hanya mengangguk menjawab pertanyaan Sahabatnya itu. "Dan kau absen menguntit pujaanmu itu?"

"Menjaganya." Tekan Sasuke yang hanya ditanggapi kekehan oleh Shikamaru. "Temari mengajaknya makan siang. Aku masih sayang nyawaku untuk berdekatan dengan gadis macho sepertinya. Cukup kemarin dia meneriakiku." Sasuke memejamkan matanya malas mendengar kekehan Shikamaru yang semakin menjadi.

"Sasuke-kun..." Sasuke membuka matanya ketika gadis berambut merah yang semula bicara dengan Sai dan Ino memanggil namanya. "Kalau kau mau..." gadis itu menyumpit tempura berniat menyodorkan pada Sasuke tapi keduluan Sasuke menolaknya.

"Aku tidak lapar." Dia hanya tak suka berinteraksi dengan orang yang tak di inginkannya. Bahkan dia tak pernah bicara pada Hinata yang notabene pacar sahabatnya.

"Kau bisa menawarkannya padaku jika kau mau." ucap Shikamaru malas-malasan disertai seringai mengejek. Entah untuk siapa.

"Kau terlalu malas. Mungkin kau akan minta disuapi setelah ini." cibir Sasuke. Mereka berdua tertawa mengabaikan Karin yag cemberut. Sedangkan Sai sudah asik mengobrol dengan Ino. Naruto? Jangan tanyakan. Sasuke malas memperhatikan duo sejoli yang sejujurnya membuatnya iri itu.

"Sasuke-kun... coba ini... aaaa." Karin memaksa menyodorkan tempura kemulut Sasuke. Sasuke mengrenyit dan memundurkan kepalanya.

"Tidak usah." ucap Sasuke mulai sebal. Shikamaru hanya menggaruk kepalanya melihat tingkah Karin.

"Coba saja dulu, pasti enak... aaaa." Karin kembali mendekatkan tempura pada mulut Sasuke. Sasuke melirik Shikamaru yang hanya mengangkat bahunya acuh.

"Tidak usah..."

"Tidak apa-apa coba saja dulu." potong Karin dan lebih memajukan tempuranya.

"AKU BILANG TIDAK USAH!" teriak Sasuke seraya menepis tangan Karin. Bukan hanya tempura dan sumpitnya yang jatuh, bahkan Karin dan kotak bekalnyapun ikut jatuh karna tepisan Sasuke yang terlalu kuat. Karin ternganga melihat perlakuan yang di dapatnya. Begitu juga Hinata dan Ino. Mereka menatap Sasuke tak percaya. Sedangkan tiga pria lainnya hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. Meski Karin teman pacarnya, Naruto tak akan peduli selama tak menyangkut Hinata.

Sasuke menatap tajam Karin yang masih shock. Sama sekali tak ada rasa bersalah dihatinya. Pikirannya disesaki dengan argumen yang menyalahkan gadis berambut merah itu. Tapi saat onixnya tanpa sengaja menatap emerald yang terpaku dipintu kelas seketika itu juga ketakutan dengan pasti menjalar di seluruh tubuhnya. Tubuhnya meremang seolah dia telah melakukan sebuah dosa besar. Hatinya mencelos saat Sakura perlahan berbalik dan meninggalkan tempat itu.

"Ini menjengkelkan." Desis Sasuke tajam dengan aura mengerikan hingga enam orang yang ada di sekitarnya menegang. "Berhentilah membawa pengacau atau berhenti menemuiku!" Onix itu berkilat dikuasai kemarahan dan ketakutan sekaligus. Didekati seorang pria sudah sangat bermasalah bagi Sakura. Apalagi jika pria itu adalah orang yang kasar.

Sasuke beranjak dan dengan kasar mendendangkan kursinya hingga terlempar menabrak tembok lalu pergi meninggalkan teman-temannya. Mengabaikan Karin yang menangis.

.

.

.

tbc

.

.

.

Entah ini menjadi lebih baik atau buruk. Aku hanya berpikir mengurangi typo dan segala ucapan juga perilaku yang agak janggal. Ternyata ini membutuhkan lebih banyak perubahan daripada BK. Semangat diriku!