Kim Jaejoong yang ditunangkan dengan dua orang dengan kepribadian berbeda. Shim Changmin yang periang dan serampangan, dan Jung Yunho yang sedikit sadis namun memiliki sisi lain yang tak diketahui semua orang. Siapakah yang akan dipilih oleh Jaejoong? Changmin yang memeriahkan harinya, atau Yunho yang penuh dengan kejutan?
.
.
Terinspirasi dari karya Wataru Mizukami dengan judul yang sama
.
Let's Get Married!
.
.
Pair: YunJaeMin
.
Warning: YAOI/ BOY X BOY/ BL, typo (s), OOC
.
Happy Reading
.
—Chapter One—
.
Di sinilah Jaejoong saat ini. Di ruang tamu sebuah rumah bercat putih gading dengan halaman yang tak kurang dari dua hektar. Ia mondar-mandir gelisah—membuat dua orang tetua yang berada pada ruangan yang sama dengannya merasa jengah dengan sikapnya.
"Jaejoong-ah, duduklah, eomma pusing melihatmu mondar-mandir begitu." Ucap eommanya sembari memijit pelipisnya. Sama seperti Jaejoong, eommanya juga kaget dengan keputusan sang abeoji yang berniat menjodohkan Jaejoong dengan dua orang namja.
"Nde, eomma."
Baru saja Jaejoong mendudukkan dirinya di sofa—terdengar suara mesin beberapa kendaraan mendatangi rumahnya. Jaejoong menghela nafasnya frustasi—sedangkan sang abeoji nampak begitu excited dengan hal ini.
"Ah, annyeong Jaesuk-ah!"
Tampaklah pemandangan yang tak biasa dilihat Jaejoong—sang abeoji memeluk erat seorang namja paruh baya yang tingginya tak jauh berbeda dari sang abeoji. Mereka tampak begitu akrab—wajar saja, mereka adalah sahabat karib yang lama tak bertemu karena kesibukan masing-masing.
"Kau tak banyak berubah, ya, Minnie-yah." Tuan Kim menyapa seorang namja tampan yang kali ini telah mengecat rambutnya menjadi hitam kembali—warna asli rambutnya.
Pandangan Jaejoong teralihkan pada sosok tinggi menjulang yang berada di belakang namja paruh baya tadi. Saat ini Jaejoong mengenakan kemeja putih dengan celana jeans—sebelumnya ia dipaksa memakai jas akan tetapi ia benar-benar tak mau memakainya. Dan namja di hadapannya ini? Syukurlah ia tak jadi memakai jas, karena namja itu malah hanya memakai kaos hijau dan hoodie berwarna putih dengan celana jeans hitam saja.
"Annyeonghaseyo Kim-adjhussi." Ucap Changmin sopan sembari menganggukkan kepalanya—membuat senyum mengembang pada wajah Tuan Kim.
"Silahkan duduk, Minjae-yah, Minnie-yah." Ucap Nyonya Kim—eomma Changmin lembut. Mereka segera duduk dan membicarakan banyak hal sembari menunggu tamu kehormatan yang lain.
.
.
Changmin memperhatikan Jaejoong dari atas sampai bawah—tak jauh berbeda dengan Jaejoong yang kini sibuk memperhatikan sepatu Changmin. Changmin memakai kickers berwarna hijau yang sungguh menyita perhatian Jaejoong. Apalagi mereka duduk berhadapan sehingga lebih mudah bagi Jaejoong untuk melihatnya.
"Wae? Apa sepatuku sebegitu menariknya?"
Jaejoong membulatkan matanya karena Changmin menangkap basah perbuatannya. Ia hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Changmin tak ingin mengakui hal ini, akan tetapi ia setuju kalau Jaejoong itu benar-benar manis.
Tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya. Hanya sesekali Changmin menjadi lebih sibuk melirik Jaejoong. Tak lama, mobil Tuan Jung pun datang.
"Annyeonghaseyoo Jaesuk-ssi." Sapa Tuan Jung ramah. Sontak semua mengalihkan pandangan pada seorang namja paruh baya berbadan tegap dan tinggi. Gurat-gurat halus pada wajahnya tak mampu menutupi seberapa tampannya namja ini. Bahkan Jaejoong pun sampai terpesona.
"Annyeonghaseyo Siho-ssi."
Mereka berbincang sebentar sampai pada akhirnya mereka membentuk lingkaran pada sofa. Diam-diam Tuan Jung dan Tuan Shim saling melirik satu sama lain—persis seperti macan yang tak ingin kehilangan mangsanya.
"Oh, ngomong-ngomong dimana Yunho-ah?" tanya Tuan Kim tiba-tiba mendapati namja yang seharusnya dijodohkan itu belum kelihatan. Tuan Jung tersenyum menanggapi pertanyaan Tuan Kim.
"Aku menyuruhnya mampir sebentar, ia akan menyusul dengan mobilnya." Ucap Tuan Jung santai, yang lain hanya mengangguk-angguk sebagai tanggapan. Sedangkan Jaejoong hanya mengendikkan bahunya tak peduli.
Lama mereka berbincang—kali ini ditemani segelas teh dan berbagai macam camilan yang dengan segera dihabiskan oleh Changmin. Akibatnya, Changmin menjadi sedikit 'kesusahan'—terbukti dari ia yang mulai berbisik pada sang appa.
"Ah, Jaesuk-ah, anakku ini ingin ke toilet, dimana ya, letaknya?" ucap Tuan Shim—membuat rona merah terpatri di wajah Changmin. Jaejoong hanya menahan tawa melihat sisi konyol namja itu. Salahnya sendiri, kan, begitu rakus?
"Ah biarkan pelayan—eh maksudku biar Jaejoong yang mengantarnya." Ucap Tuan Kim kemudian—membuat mata Jaejoong membulat dan segera mendapat death glare gratis dari sang abeoji.
"Nde, abeoji... Changmin-ssi mari ke sebelah sini."
Setelah Jaejoong berjalan diikuti Changmin di belakangnya, kini waktunya para orang tua berbicara serius.
"Mianhamnida jika aku melibatkan kalian berdua, Minjae-yah, Siho-yah." Ucap Tuan Kim pada dua namja yang begitu dikenalnya ini. Hah? Begitu dikenalnya?
"Ini adalah keinginan Youngmin, kan? Apa boleh buat, kita tak bisa menghindarinya..." ucap Tuan Jung lemas.
Sejenak para orang tua ini terlihat sendu. Sinar mata mereka satu persatu meredup—mengingat tragedi kelam yang menimpa sahabat mereka.
"Pokoknya, salah satu anak kalian harus menikah dengan Jaejoong—siapapun itu."
Tuan Jung dan Tuan Shim mengangguk secara bersamaan—meninggalkan tanda tanya besar dalam diri Nyonya Kim yang dari awal memang tak tahu apa-apa.
.
.
—Another side—
"Hei, berapa umurmu?"
Changmin menoleh malas saat tangan seseorang menarik ujung hoodienya. Orang itu tak lain tak bukan adalah Jaejoong. Memang sejak awal Jaejoong penasaran dengan usia Changmin—melihat betapa kekanakannya ia.
"Berapa usiaku, bukan urusanmu kan?" ucap Changmin dingin—sukses membuat Jaejoong mempoutkan bibirnya.
"Kau menyebalkan sekali, sih!" ucap Jaejoong kesal.
Mereka tengah berjalan berdampingan di sebuah lorong yang cukup panjang. Maklum, rumah Jaejoong memang begitu luas.
"Kalau pulang sekolah dan kau ingin ke toilet, apa harus melewati ini semua?" tanya Changmin asal.
"Aku tidak tinggal di sini, aku menyewa sebuah kamar apartemen."
Changmin hanya ber'oh' ria dan melanjutkan perjalanannya menuju toilet yang begitu menyiksanya. Setelah sampai, Changmin segera menyerbu dan meninggalkan Jaejoong di luar.
"Jangan tinggalkan aku, nde?!" teriak Changmin dari dalam toilet—sukses membuat Jaejoong tersenyum gemas.
"Dia itu kekanakan sekali, sih." Gumam Jaejoong sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Yah, mungkin Shim Changmin tidaklah buruk, Jaejoong.
.
.
Baru saja Jaejoong kembali ke ruang tamu bersama Changmin, dirinya dikejutkan oleh serangkai bunga mawar putih berada tepat di depan wajahnya. Jaejoong hanya bisa menerimanya tanpa mengetahui dari tangan siapa ia mengambil mawar itu.
Begitu mawar tersebut ia ambil—terlihatlah seorang namja dengan jaket kulit dan kaos putih polos, serta celana jeans hitam. Persis mafia balap. Namja itu menunduk—menyembunyikan wajahnya sehingga membuat Jaejoong bingung. Dan dengan angle yang tepat namja itu mengangkat wajahnya. Kedua obsidiannya yang tajam menatap langsung pada manik mata Jaejoong.
1..
2..
3..
"Hyaaaaa!"
Para orang tua, Jaejoong dan Changmin yang awalnya cengo—kini berusaha keras menahan agar suara laknat itu tak merusak gendang telinga mereka.
"Ya! Jung Yunho, kenapa kau berteriak!" ucap Tuan Jung tak habis pikir. Seingatnya, sejak umur empat tahun Yunho sudah tahu apa itu tata krama.
"K-Kau?! Bagaimana bisa aku bertemu denganmu lagi?!" tunjuk Yunho persis pada wajah Jaejoong—membuat namja manis ini keheranan. Baru saja ia menerima bunga dengan tiba-tiba, ditunjuk dan diteriaki secara tiba-tiba pula. Otak namja bernama Jung Yunho ini pasti tidaklah beres.
"Kau mengenalku? Tapi kau ini siapa, ya?" tanya Jaejoong innocent—membuat wajah Yunho memerah seperti udang rebus.
"Kau bahkan tak ingat?! Gara-gara kerikil yang kau lemparkan pada mobilku, sekarang mobilku penuh goresan dan—hmmpph."
Semua nampak terpaku saat Jaejoong dengan segera menarik paksa Yunho dan menyumpal mulutnya ke bagian dalam rumah. Tak ingin kehilangan momen menarik, Changmin—yang memang pada dasarnya jahil, mengikuti mereka dari belakang. Tinggallah para orang tua yang saling bertatapan satu sama lain—bingung. Apapun yang terjadi, semoga Jaejoong membawa kabar baik.
.
.
"Ya! Kenapa ini harus terjadi padaku?!"
Jaejoong menatap malas sedangkan Changmin menatap bosan pada dua sejoli ini. Ia mengira ia akan mendapatkan momen yang menarik akan tetapi hanya pemandangan dua namja yang duduk berhadapan di sebuah ruangan yang ia dapatkan. Sedangkan ia sendiri berdiri bersandar pada pintu ruangan tersebut.
"Pertama kau merusakkan mobilku, gara-gara itu aku jadi tak bisa menghindari perjodohan ini! Dan karena kau pula appa memarahiku habis-habisan! Itu mobil baru, kau tahu?"
Jaejoong memutar bola matanya saat namja bernama Jung Yunho ini berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arahnya. Oh God, mengapa calon tunangannya begitu kekanakan semua?
"Dan sekarang, setelah aku terpaksa menyetujui perjodohan ini, aku harus membelikanmu bunga mawar dan berakting manis di hadapanmu! Betapa sialnya aku."
Yunho menenggelamkan kepalanya mendekat pada kedua lututnya. Jaejoong masih cemberut dan tak berkomentar apapun tentang masalah Yunho.
"Ya! Bicaralah sesuatu, menyebalkan..."
"Kau yang menyebalkan! Teruskan saja mengomel... kalau kau tak suka, aku tinggal menikah dengan Changmin, iya kan Changmin?"
"Tidak."
Jaejoong membatu mendengar jawaban Changmin. Rasa malu menjalari tubuhnya. Berbeda dengan Yunho yang sedang menahan tawa yang akan meledak begitu keras.
"Pftt—hahaha! Lihat, bahkan ia tak mau denganmu!" ejek Yunho senang. Jaejoong menatap kesal pada Changmin—yang dengan cueknya bermain handphone—dan mengarahkan pandangannya kembali ke Yunho.
"Kalau dia tak mau menikah denganku, otomatis aku menikah denganmu, dong!"
Ucapan Jaejoong membuat tawa Yunho hilang seketika. Benar juga bukan?
"Andwe! Shireo!"
Yunho membuat simbol X dengan kedua tangannya spontan—membuat Jaejoong bertambah kesal. Bagaimana bisa ia bertahan dengan dua orang yang kekanakan ini?
"Kita jalani saja dulu... siapa tahu kau akan menyukai adjhussi itu." Ucap Changmin pada Yunho sehingga mendapat death glare dari Jaejoong.
"Ah yang benar saja, ia tak seksi sama sekali. Pantatnya saja rata begitu."
Jaejoong membulatkan matanya mendengar komentar dari Yunho. Pantatnya yang rata sebenarnya adalah topik yang sangat sensitif baginya.
"Apa kau—"
"Nde, aku tahu. Wajahnya juga tidak cantik-cantik amat, lebih cantik eommanya."
"Ya!"
"Sepertinya ia juga tipe namja kolot."
"Selera berpakaiannya juga buruk."
"Cerewet."
"Gaya tante-tante."
"Aku tidak yakin aku bisa—"
"YA! KALIAN BERDUA! MATI SAJAAAAAAA!"
Bruaakkk!
"Jaejoong-ah? Ada apa?!"
Tuan Kim dan orang tua yang lain bergegas menuju asal suara. Dan betapa kagetnya mereka mendapati dua orang namja terkapar dengan wajah memelas di lantai. Serta seorang namja yang lain yang tengah menghentak-hentakkan kakinya kesal.
Mereka melongo tanpa bisa berbicara sepatah kata pun. Hanya Changmin yang menoleh ke arah Yunho—dan membuat sebuah kesepakatan.
"Dan juga... sangat kuat."
.
.
Disinilah mereka sekarang. Di depan gerbang SMA Dong Bang—dan tentu saja menjadi pusat perhatian. Wajar saja sih, siapa yang akan mengalihkan pandangan dari tiga namja tampan yang sedang berkumpul?
"Ini ya sekolahmu... biasa sekali." Komentar Yunho dan hanya ditanggapi angin lalu oleh Jaejoong.
"Kalau begitu kami jemput kau enam jam dari sekarang ya, Jae." Ucap Changmin datar sambil bergegas ke mobilnya. Jaejoong menggembungkan pipinya kesal.
"Ya! Shim Changmin, aku ini lebih tua darimu! Panggil aku hyung."
"Bye, nenek lampir. Karena Changmin akan menjemputmu, maka tak ada pilihan selain menjemputmu."
Sejenak Jaejoong berpikir sebelum akhirnya melempar sepatunya tepat pada kepala Jung Yunho yang baru akan bergegas. Changmin yang melihat pemandangan tersebut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya—tak begitu tertarik.
"Apa-apaan kau ini?!" teriak Yunho marah. Jaejoong hanya menjulurkan lidahnya dan memasang tampang bloon.
"Oh? Kau ingin sepatumu pergi bersamaku? Oke, akan kubawa dia."
Jaejoong membulatkan matanya mendengar perkataan Yunho. Baru ia akan mengambilnya kembali akan tetapi kalah cepat dengan Yunho. Secepat kilat Yunho mengambil sepatu Jaejoong dan membawanya pergi dengan mobilnya.
"Ya! Ya! Jung Yunho! Gila kau!" umpat Jaejoong kesal. Ia benar-benar tak habis pikir dengan otak Jung Yunho.
"Kenapa jadi begini...tau begitu tadi aku melemparinya dengan batu saja." Ucap Jaejoong sambil memandang sendu kaki kanannya yang hanya tinggal kaos kaki.
"Dasar menyebalkan, paboya..."
Jaejoong memutuskan untuk melepaskan sepatu dan kedua kaos kakinya. Otomatis ia bertelanjang kaki kali ini. Dan saat ia akan memasuki gerbang sekolah, betapa terkejutnya saat menyadari semua pasang mata melihat ke arahnya.
"K-kalian memperhatikan?" ucap Jaejoong pada beberapa orang di sekelilingnya. Karena malu dengan berbagai tingkah dan monolog yang ia lakukan, ia segera berlari menuju ke dalam sekolah.
.
.
Jaejoong masih menggembungkan pipinya kesal. Di sampingnya duduklah namja tampan tengah mengendarai mobil mereka dengan bekas tamparan pada pipi kirinya—juga menggembungkan pipinya kesal (Memang, untuk urusan sekolah appa Jaejoong telah memfasilitasi mereka bertiga dengan sebuah mobil—agar mereka lebih dekat). Tinggallah seorang namja tampan yang lain—tengah menyibukkan dirinya dengan PSP di tangan—tak peduli.
"Kalau begini caranya aku merasa menjadi anak kalian berdua." Ucap Changmin asal sambil masih memegang PSPnya.
"Ya! aku tak mau menjadi orang tuamu, apalagi istri namja ini."
Yunho menyipitkan matanya mendengar penuturan Jaejoong. Hey, ia sudah minta maaf berulang kali, namun Jaejoong tak mengindahkan permintaan maafnya dan malah menampar pipinya keras-keras. Tentu saja ia sangat kesal saat ini.
"Kenapa kau menyebalkan sekali, sih, padaku? Pada Changmin kau selalu bertingkah cute." Ucap Yunho tanpa sadar—membuat Changmin menaikkan sebelah alisnya dan perlahan rona merah terpatri pada wajah Jaejoong.
"C-cute?"
CKIIIIIT!
Yunho menepikan mobilnya asal. Beruntung tak ada mobil lain di jalan tersebut.
"Lupakan yang barusan kukatakan! A-aku tidak serius saat mengatakannya." ucap Yunho panik—meski lebih panik Jaejoong karena Yunho menepikan mobilnya secara ekstrim. Berbeda dengan Changmin—yang sudah memperkirakan hal ini. Benar-benar minim ekspresi, eoh?
"Huh, iya aku tahu..." kesal Jaejoong karena Yunho benar-benar membantah kata-katanya sendiri. Dan mereka bertiga pun pulang dalam diam.
—sesampainya di rumah—
"Mwo?!" Jaejoong membulatkan matanya karena saat ini mereka—ia, Changmin, dan Yunho—tengah berada di kamar Jaejoong dan mendapati tiga buah kasur di sana.
"A-abeoji! Ini pasti kerjaan abeoji." Ucap Jaejoong kesal dan bergegas keluar kamar—meninggalkan Changmin dan Yunho.
Changmin yang sedari tadi sibuk memainkan PSPnya dan mencoba tak peduli dengan keadaan sekitarnya—kini menyimpan PSPnya di saku dan memulai pembicaraan serius dengan Yunho.
"Dengar, Yunho-hyung, aku bertanya padamu... apa kau serius dengan perjodohan ini?"
Yunho hanya mengendikkan bahunya. Jawaban Yunho membuat Changmin menghela nafasnya. Perlahan ia mendekati Yunho, tangan kanannya ia tumpukan di bahu kanan Yunho *bisa ngebayangin?*
"Aku mulai mencoba serius dengan Jae...kurasa ia tidak buruk."
Yunho hanya mengangguk tak peduli, namun sedetik kemudian ia menatap Changmin.
"Kalau begitu kau yang memenangkan perjodohan ini, dong?"
"Tidak bisa begitu, yang memutuskan adalah Jaejoong, selain itu aku yang maniak game ini lebih merasa senang jika kau ada untuk menjadi rivalku." Ucap Changmin sambil menyeringai.
Yunho hanya berdiri diam bahkan saat Changmin melewatinya untuk menyusul Jaejoong.
"Aku... apa aku harus serius padamu Jae?"
Reviews' Replied:
NaraYuuki: thanks for review ne dari komik, bagus kok komiknya hehe coba baca dari nakayoshi aja itu belum tau terserah Jae ya kkkk
YuyaLoveSungmin: udah dilanjut, thanks for review
Ryani: thanks for review kkkk terserah Jae ya Yunho harus kerja keras buat dapetin hatinya Jae kkkkk
Trilililili: thans for review udah dilanjuttt
Oline Yunjae: annyeong thanks udah review ne kkkk mereka harus berjuang
doki doki: ada dua? Lol bisa juga tuh kkkk tapi ga tega sama Jae kalau gitu hehe thanks udah review
Yunjaeshipper: aku baca ga sampai selesai sih tapi itu keren kkk thanks for review
Yunjae: loh kenapa ga bisa ngepost? Kkkk ne thanks for review
sungdong13: udah dilanjut thanks for review ne ah iya apa? Setahu author semua gender eh gatau juga hehe
.
.
Thanks yg udah review peluk cium dari author ini kkkkk yang jadi silent reader ayo review biar author semangat ngelanjutin hehehe :)
Sign,
Shikshin97
