.
.
When You're Gone
By : Fairy104
Pairing : Main!Yewon, Slight!Wonkyu and other Super Junior's couple
Genre : Yaoi, Angst, Romance etc.
Disc : Semua cast milik Tdiri mereka masing-masing
Warning : Gaje, aneh, alur maksa, bahasa dan pairing suka-suka author!
Sumarry : If only God give me second chance, I promise I'll love you more than everything. And I won't ever let your precious tears fall from your beautiful eyes anymore. I'll make it up to you.
A/ N : Based on real fact, my imagination my wish and Babie ttangkoma fanfiction. Dan sebuah MV yg kalian bisa lihat sendiri nantinya XD
.
.
.
.
Pukul satu malam, Siwon dan Kyuhyun baru saja sampai di dorm Super Junior. Mereka agak terkejut begitu melihat para member masih terjaga di ruang tamu.
"Ada apa, hyung? Kenapa semua belum tidur?" Tanya Kyuhyun pada Leeteuk.
"Dimana Yesung hyung?" Potong Siwon sebelum Leeteuk sempat menjawab pertanyaan Kyuhyun.
"Kami tidak bisa tidur. Yesung belum pulang dari tadi sore." Ucap Leeteuk sekaligus menjawab pertanyaan keduanya.
"Dari tadi sore?" Siwon mengerutkan keningnya.
"Ne. Tadi dia hanya bilang padaku ingin keluar sebentar tapi sampai tengah malam seperti ini belum juga pulang. Ponselnya juga tertinggal dirumah." Sahut Donghae.
Siwon terlihat berpikir sebentar, tiba-tiba kedua matanya terbelalak, "Hyung, tanggal berapa ini?" Tanyanya cemas.
Leeteuk memutar bola matanya, "Tanggal 4. 4 oktober." Jawabnya sedikit bingung. Bagaimana bisa di saat genting seperti ini Siwon malah sempat-sempatnya menanyakan tanggal.
Mata Siwon terbelalak sempurna mendengar jawaban Leeteuk. Tanpa berkata apapun ia langsung berlari keluar dorm.
"Siwon-ah? Kau mau kemana?" Seru Leeteuk tapi tidak membuahkan jawaban karena Siwon sudah lebih dulu menghilang di balik pintu.
Semua member saling berpandangan bingung.
"4 Oktober?" Gumam mereka. Seketika mata mereka membulat bersamaan.
"4 OKTOBER?"
.
.
.
.
Siwon keluar dari mobilnya dan segera berlari menuju tempat yg ia yakini Yesung pasti berada di sana tanpa menghiraukan salju yg turun membuat bajunya sedikit basah.
Kini Siwon berdiri di pinggiran Sungai Han. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok yg sangat ia cemaskan. Sampai akhirnya ia menghela nafas panjang.
Dia tidak ada.
Siwon tidak tau ia harus merasa senang atau merasa sedih. Seharusnya ia senang karena Yesung tidak berada di tempat itu saat hujan salju seperti ini. Tapi ia juga sedih karena Yesung tidak berada di tempat itu, berarti Yesung tidak mengingat hari special mereka. Siwon melupakan sesuatu. Ia lupa jika saat ini bukan lagi hari special mereka.
Siwon kembali menghela nafas lalu berbalik dan beranjak meninggalkan tempat itu. Butiran salju mulai menumpuk di bahu dan rambutnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan panggilan masuk. Ia meraih ponselnya dengan enggan.
~ Leeteuk hyung calling ~
"Yeobboseo." Sapanya pada seseorang di seberang yg tidak lain adalah sang leader.
"..."
"Hyung? Kau kenapa?" Tanya Siwon bingung karena yg ia dengar hanyalah isakan Leeteuk di sana.
"..."
"Apa yg terjadi, hyung? Jangan membuatku bingung?" Dan lagi-lagi ia hanya mendengar balasan yg tidak begitu jelas dari Leeteuk karena masih bercampur dengan isakan.
"..."
"Rumah sakit?" Siwon mengernyit. Perasaan tidak enak tiba-tiba menyergap hatinya.
"..."
Dan Siwon langsung menutup teleponnya tanpa menunggu Leeteuk menyelesaikan ucapannya. Ia segera berlari menuju mobilnya dan melesat meninggalkan tempat itu. Pikirannya kacau begitu mendengar tadi Leeteuk menyebutkan nama Yesung
.
.
.
.
Siwon berlari menyusuri lorong rumah sakit. Ia tidak peduli dengan makian beberapa orang yg tidak sengaja di tabraknya. Pikirannya hanya tertuju pada satu arah. Dan berbekal petunjuk yg di berikan seorang suster tadi akhirnya Siwon sampai di tempat yg di tujunya, ruang ICU.
Brakk!
Semua mata tertuju kearah pintu begitu Siwon membuka pintu itu dengan kasar.
Siwon membulatkan matanya begitu melihat semua member super junior yg ada di ruangan itu kini tengah menangis. Bahkan seorang Sungmin yg terkenal paling sulit menangis pun kini beruraian air mata sambil memeluk Ryeowook yg terlihat lemas.
Mereka semua menatap Siwon miris. Siwon kembali merasa tidak enak. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Ia sungguh berharap bahwa apa yg kini ada dalam pikirannya tidak benar.
Hangeng melepaskan pelukan Heechul dan menghampiri Siwon. Ia menepuk bahu Siwon seakan mencoba menguatkan Siwon padahal air matanya sendiri mengalir deras.
Perasaan Siwon semakin kacau. Ia sungguh berharap bahwa seseorang yg kini terbaring di kelilingi para member itu bukan 'dia'. Bukan seseorang yg saat ini tengah memenuhi pikirannya.
"Ada apa ini, hyung?" Akhirnya Siwon membuka mulutnya meskipun tatapannya masih tidak fokus.
"Ye-Yesung.." Hangeng menengadahkan kepalanya. Ia benar-benar tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Siwon tercekat. Matanya kini mulai terasa basah. Dadanya sesak. Setengah sadar ia mencoba mendekati seseorang yg terbaring di kelilingi para member Super Junior itu. Leeteuk mengeser sedikit posisinya yg tadi menutupi seseorang itu.
Dan jantung Siwon kini berdegup semakin tidak beraturan. Matanya memanas dan dadanya semakin sesak begitu melihat sosok yg sangat dikenalnya kini terbujur kaku. Kedua matanya tertutup dan bercak-bercak darah menghiasi wajah tampannya yg kini tampak seputih kertas. Luka terlihat di sana-sini meskipun sepertinya baru saja di bersihkan.
"Dia sudah pergi, Siwon-ah. Dia sudah pergi.." Isak Leeteuk. Kangin langsung menarik Leeteuk kedalam pelukannya. Dan Leeteuk kembali menangis di sana.
"Seharusnya aku tadi tidak membiarkannya pergi." Donghae meremas rambutnya. Ia benar-benar terlihat kacau di sudut ruangan itu. Rambutnya acak-acakan karena ulahnya sendiri sedari tadi. Air mata membanjiri kedua pipinya. Eunhyuk memeluk Donghae berusaha menenangkan kekasihnya itu meskipun kenyataanya ia sendiri tak kalah kacau.
Dan butiran-butiran bening itu mulai mengalir dari kedua iris hitam Siwon. Ia semakin mendekat pada sosok itu. Ia menggenggam tangan dingin itu erat. Tangannya yg bebas terulur menyentuh wajah pucat itu.
"Hyung?" Panggilnya lirih, "Apa yg kau lakukan? Bukankah kita akan ke Lotte World? Kenapa kau tidak menungguku?"
"Siwon-ah.." Heechul menyentuh bahu Siwon tapi Siwon tidak meresponnya. Tatapannya masih tertuju pada sosok pucat itu, pada malaikatnya.
"Kau dulu menangis karena tidak memiliki fans, bukan? Sekarang kau lihat, ada begitu banyak orang diluar sana yg mencintaimu sebagai seorang idola. Semua orang memuji suaramu yg indah. Kau tidak boleh meninggalkan mereka, kau tau? Kau baru saja meraih impianmu, sekarang kau ingin melepaskannya, huh?" Air mata Siwon jatuh semakin deras.
"Bukankah kau bilang kau ingin menjadi lead dance Super Junior seperti Hyuk Jae? Sekarang kau lihat kemampuan dance-mu sudah semakin baik, kau pasti bisa mejadi lead dance seperti keinginanmu, hyung. Kau pasti bisa."
"Siwon sudahlah.." Sungmin ikut menepuk bahu Siwon meskipun air matanya sendiri masih mengalir deras.
"Kau bilang kau ingin menjadi member SuJu-M, bukan? Apa gunanya aku mengajarimu bahasa mandarin selama ini jika akhirnya kau menyerah seperti ini?"
"Hyung, kumohon berhenti melakukan ini.." Isak Kibum tapi juga tidak mendapatkan respon dari Siwon.
"Bagaimana dengan rencana kita di Super Show 4 nanti? Bukankah kita harus memperlihatkan pada Elf bahwa kita begitu dekat dan saling mencintai? Kau tidak mungkin membiarkan aku sendirian di sana nanti kan, hyung?"
"Choi Siwon! Berhentilah melakukan itu! Kau tidak boleh seperti ini!" Seru Heechul dengan air mata yg semakin deras.
"Dia yg tidak boleh seperti ini, hyung? Dia tidak boleh meninggalkan kita!" Seru Siwon dengan suara parau.
"Hyung? Kau tidak boleh seperti ini? Kau tidak boleh meninggalkanku!" Kini Siwon mengguncang tubuh lemah itu. Suaranya parau, air matanya mengalir semakin deras.
"Siwon-ah berhenti melakukan itu! Kau harus merelakannya!" Seru Leeteuk berusaha menutupi kepedihannya. Bahkan jika diijinkan untuk jujur ia sendiri tidak akan pernah bisa merelakan kepergian salah satu dongsaeng tersayangnya itu. Mereka semua tidak akan pernah bisa.
Tapi Siwon tidak mempedulikannya. Ia terus mengguncang tubuh tak bernyawa itu.
"Hyung! Bangunlah! Masih banyak hal yg harus kita lakukan bersama! Kau tidak mungkin membiarkan aku melakukannya sendirian, bukan? Kau harus bangun!"
"Choi Siwon!" Heechul menyentakkan tubuh Siwon sedikit keras. Ia seakan khawatir jika guncangan Siwon akan menyakiti tubuh yg bahkan sebenarnya sudah tidak dapat merasakan apapun lagi itu.
Siwon tersungkur ke lantai. Heechul sedikit terkejut karena ia sama sekali tidak bermaksud melakukan itu.
Kini Siwon berlutut sambil menangis. Heechul menghampirinya dan merengkuh tubuhnya.
"Maafkan aku." Lirih Heechul.
Kini mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak ada satupun mata yg tidak basah di sana. Hati mereka benar-benar terasa hancur. Mereka tidak pernah menyangka akan merasakan kehilangan yg seperti ini.
Siwon tidak lagi histeris. Ia seakan telah kehilangan seluruh tenaganya. Kini ia hanya terisak seraya memandangi sosok yg terbujur kaku itu.
Siwon masih teringat dengan begitu jelas ketika chocolate brown eyes berbentuk bulan sabit itu membulat nyaris sempurna ketika ia menyatakan perasaanya dulu. Ketika chocolate brown eyes melengkung indah saat pemiliknya tersenyum. Ketika chocolate brown eyes itu mengeluarkan butiran beningnya saat pemiliknya bersedih.
Siwon masih teringat dengan begitu jelas ketika wajah polos itu dulu menarik perhatiannya. Ketika wajah polos itu membuat dirinya semangat setiap hari. Ketika wajah polos itu yg ia temukan pertama kali setiap terbangun dari tidurnya.
Siwon masih teringat dengan begitu jelas ketika bibir tipis indah itu menciumnya setiap pagi. Ketika bibir tipis indah itu mengucapkan kata cinta. Ketika bibir tipis indah itu mengubah dirinya menjadi sangat lucu ketika sang pemiliknya marah.
Siwon masih teringat dengan begitu jelas ketika tangan mungil itu memeluk dirinya. Ketika tangan mungil itu menghapus air matanya. Ketika tangan mungil itu membuatkan makanan khusus hanya untuk dirinya sampai mendapat protes dari member Super Junior yg lain.
Tapi kini semua itu telah mati.
Chocolate brown eyes itu kini tertutup rapat.
Wajah polos itu kini tidak lagi menampakkan sinarnya.
Bibir tipis indah itu kini terkatup dan pucat.
Tangan mungil itu kini terdiam kaku. S
emuanya telah pergi.
~ 예 원 ~
Saat-saat itu sungguh menjadi saat-saat yg sangat berat. Kepedihan menyelimuti begitu banyak orang. Keluarga, teman, dan fans di seluruh dunia. Mereka kehilangan seseorang yg begitu berharga.
Seorang lead vocal Super Junior kini telah pergi.
Tidak ada lagi sang invisible leader kebanggaan Leeteuk.
Tidak ada lagi pemilik kata-kata sederhana yg bermakna begitu dalam.
Tidak ada lagi tempat paling nyaman member lain untuk berbagi cerita.
Tidak ada lagi jari-jari mungil yg akan mengganggu tidur mereka ketika malam.
Tidak ada lagi. Dan tidak akan pernah ada lagi.
Mereka begitu kehilangan. Tidak ada satupun yg menyangka jika Yesung akan pergi secepat itu. Tapi mereka semua tau, tidak ada yg lebih merasa kehilangan di bandingkan dengan seseorang itu. Tidak ada yg lebih sedih di bandingkan dengan Siwon.
Kenyataannya ia tidak hanya merasa kehilangan, tapi ia juga merasa menyesal. Di hari-hari terakhir Yesung yg ia lakukan tidak lebih hanya membuat Yesung sedih dan kecewa. Ia mengingkari janji. Ia membuat Yesung menangis.
Siwon meringkuk di atas tempat tidurnya. Menunduk. Matanya tertuju pada sisi kosong di sebelahnya dengan tatapan yg sulit di artikan tapi jelas sekali terdapat kesedihan dalam iris hitam itu. Sisi kosong di mana malaikatnya itu biasa tertidur bersamanya.
Ia seakan masih tidak percaya jika Yesung telah pergi meninggalkannya. Yesung-nya telah pergi karena kebodohannya. Ia terus menyesali diri. Kalau saja saat itu ia datang lebih awal. Atau kalau saja saat itu ia tidak lebih memilih mengantarkan Kyuhyun check-up terlebih dahulu. Atau kalau saja ia menyingkirkan sedikit kesibukannya untuk hari istimewanya. Tapi tetap saja, itu semua hanya "kalau saja". Semua sudah terjadi.
Ia seakan tidak percaya jika kini ia telah kehilangan malaikatnya. Tidak akan ada lagi seseorang yg menyambutnya dengan morning kiss setiap pagi. Tidak akan ada lagi seseorang yg membangkitkan kembali semangatnya ketika ia lelah dengan begitu padatnya jadwal yg harus ia jalani. Tidak akan ada lagi seseorang yg memanjakan dan dimanjakan olehnya lebih dari siapapun. Seseorang itu telah pergi.
Siwon tidak mungkin bisa melupakan Yesung. Yesung dengan wajah polosnya, chocolate brown eyes-nya, bibir pink-nya, suara indah yg Siwon yakini hanya malaikat lah yg memilikinya, segala tingkah anehnya, dan semua yg ada dalam diri Yesung yg tidak mungkin bisa ia temukan dalam diri siapapun lagi.
Yesung yg lebih suka diam tetapi dapat membuat orang tertawa di saat yg tepat. Ia yg terlihat imut tanpa ia sendiri menyadari bahwa ia membuat begitu banyak orang terpesona. Ia yg selalu terlihat sederhana di balik dirinya yg sebenarnya begitu luar biasa.
Siwon bahkan tidak sanggup membayangkan kehidupannya selanjutnya tanpa Yesung. Ia benar-benar belum siap. Ia tidak akan pernah siap. Ia tidak bisa tanpa Yesung disisinya.
Member Super Junior yg lain pun tidak ada yg mendekatinya saat ini. Bukan karena mereka tidak peduli. Mereka mengerti. Siwon tidak membutuhkan apapun saat ini termasuk kata-kata hiburan. Siwon hanya membutuhkan waktu.
~ 예 원 ~
"Kenapa kau mencintaiku? Bukankah aku ini aneh? Bukankah banyak member lain yg jauh lebih hebat dariku?"
"Kau bilang ingin memiliki kekasih yg seiman denganmu, bukan? Apakah tidak apa-apa jika aku ini seorang katolik sedangkan kau seorang christian?"
"Kau bilang kalau didekatku ada aura aneh? tapi kenapa kau selalu berada didekatku?"
"Bibirmu itu sangat indah. Dan itu milikku. Tidak ada orang lain yg boleh menyentuhnya selain aku, kau mengerti?"
"Tadinya aku ingin pergi ke Kanada sendirian dan menikmati musim gugur dengan tenang di sana tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku ingin kau menemaniku kesana nanti setelah kita menikah, mau ya?"
"Aku iri. Aku hanya memelukmu saat show tadi tapi kenapa Kyuhyun menciummu?"
"Aku ingin bisa seperti Heechul hyung dan Hangkyung hyung. Seperti Donghae dan Eunhyuk. seperti Leeteuk hyung dan Kangin. Seperti Sungmin dan Ryeowook. Aku ingin seperti mereka yg saat melakukan skinship di stage membuat fans berteriak-teriak histeris."
"Maaf karena aku sudah egois. Aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri. aku cemburu melihat kau bersama orang lain."
"Aku mencintaimu.."
.
.
.
.
"Hyung?"
Siwon terbangun. Keringat dingin membanjiri wajahnya.
Hanya mimpi.
Air mata Siwon mulai mengalir. Ia meringkuk memeluk lututnya.
"Hyung? Ada apa?" Terlihat Kibum dan Donghae memasuki kamar Siwon dengan raut wajah cemas.
Siwon menggigit bibir bawahnya dan menggeleng lemah.
Kibum dan Donghae menatapnya iba.
Tiba-tiba Siwon meraih jaket yg tergantung di sebelahnya dan beranjak keluar dari kamarnya.
"Hyung kau mau kemana?" Tanya Kibum. Siwon tidak menjawab begitupun ketika ia berpapasan dengan Kyuhyun di ruang tamu.
"Hyung? Kau mau kemana?" Tanya Kyuhyun yg juga tidak membuahkan jawaban dari Siwon.
Siwon terus berlari keluar dorm membuat semua member cemas.
"Siwon mau kemana?" Tanya Hangeng.
"Aku tidak tau, hyung. Dia tidak menjawab kami." Jawab Donghae.
"Kita susul saja." Usul Kangin yg di sambut anggukan oleh member lain.
"Jangan." Potong Heechul membuat semua member menoleh kearahnya, "Biarkan dia. Mungkin Itu akan membuat dia lebih baik."
.
.
.
.
Siwon berdiri di pinggiran Sungai Han. Ia tidak mempedulikan hawa dingin yg menerpa tubuhnya. Pikirannya tidak berada disana.
"Kenapa kau meninggalkanku, hyung?" Lirihnya.
Butiran-butiran bening itu kembali jatuh membasahi kedua pipinya. Dan saat seperti itu, dulu biasanya Yesung akan datang untuk menghapus air matanya dengan jari-jari mungil miliknya lalu memeluknya. But, now it's different.
Yesung-nya telah pergi.
Teringat kembali memori-memori saat Yesung tertawa, saat Yesung menyanyi, saat Yesung menari, saat Yesung marah, saat Yesung memberi makan kura-kuranya, saat Yesung bertingkah aneh, saat Yesung menangis, saat Yesung memberinya semangat, saat Yesung menciumnya, saat Yesung memeluknya dan saat Yesung terbujur kaku dengan wajah pucat hari itu.
Salju turun semakin lebat. Tapi Siwon masih enggan untuk meninggalkan tempat itu. Ia seakan menghukum dirinya sendiri.
Malam itu Yesung-nya berada di tempat ini menunggunya. Malam itu salju turun lebih lebat dari saat ini. Dan akhirnya malam itu juga ia kehilangan Yesung-nya.
Bahkan jika salju yg turun malam ini membuatnya mati kedinginan ia tidak apa-apa. Yesung telah menjadi bagian yg sangat penting dalam hidupnya. Tanpa Yesung hidupnya seakan tidak berarti lagi. Jika Tuhan tidak mengembalikan Yesung-nya bukankah lebih baik jika ia yg menyusul Yesung?
Siwon sudah terlalu terbiasa dengan keberadaan Yesung. Tidak ada yg lebih nyaman selain ketika Yesung berada di sampingnya. Seperti ketika hari itu ia harus rekaman lagu rohani, ia sangat panik karena Yesung-nya tidak berada di sana bersamanya karena mereka memiliki jadwal berbeda. Beruntung, hari itu tiba-tiba Yesung datang dan memberinya semangat. Tapi tidak untuk hari ini. Yesung-nya tidak akan pernah datang lagi.
"Maafkan aku, hyung. Maaf karena telah membuatmu sedih. Maaf karena telah mengecewakanmu. Maaf karena aku telah mengingkari janjiku. Dan entah berapa ribu kata maaf lagi yg harus ku ucapkan padamu atas semua kesalahanku meskipun aku tau itu tidak akan pernah cukup untuk menebus semuanya."
"Apa aku telah begitu menyakitimu hingga kau pergi meninggalkan aku? Tidakkah aku boleh mendapatkan kesempatan kedua?" Lirihnya lagi.
Siwon meraih kerikil-kerikil kecil yg ada di sekitarnya lalu melemparnya dengan kuat ke sungai. Seakan kerikil-kerikil itu adalah kepedihannya dan ia ingin membuangnya sejauh mungkin.
"Aaaargghh!"
"Kenapa kau meninggalkan aku, hyung? Kenapa? Apa kau begitu marah padaku hingga menghukumku seperti ini? Kenapa kau tidak membawaku bersamamu?" Serunya frustasi.
Ia mencengkeram rambutnya dengan kuat.
"Hyung, kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk mengatakan bahwa aku menyesal? Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk mengatakan bahwa aku sangat dan hanya mencintai dirimu?" Siwon berlutut dan menangis. Perlahan pandangannya mulai kabur sampai akhirnya kedua kaki itu tidak sanggup lagi menopang tubuhnya.
.
.
.
.
Siwon menggeliat kecil. Perlahan matanya mulai terbuka sampai akhirnya mata itu membulat sempurna begitu mendapati wajah yg begitu dekat dengan wajahnya saat ini. Dan ia juga merasakan bibir keduanya saling bertautan.
Terkejut. Tanpa sadar Siwon menyentak tubuh seseorang di hadapannya itu hingga seseorang itu nyaris terjatuh kebelakang jika saja ia tidak segera dapat mengembalikan keseimbangan tubuhnya.
"Wonnie, kenapa mendorongku, huh?" Seseorang itu mempoutkan bibirnya kesal tapi justru membuatnya terlihat begitu imut. Jika saja Siwon tidak sedang berada dalam posisi terkejut mungkin saat ini ia akan langsung memakannya hidup-hidup.
Tapi Siwon masih terdiam. Matanya menatap sosok itu tanpa berkedip. Tidak percaya.
"Kau terkejut, huh? Kau selalu menciumku setiap pagi, bukan? Sekarang kau tau kan bagaimana rasanya? That's annoyed." Seseorang itu tertawa hingga kedua matanya tenggelam dan membentuk lengkungan sabit indah.
Tapi Siwon masih terpaku.
Sadar tidak mendapatkan respon dari Siwon seseorang itu menghentikan tawanya dan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa yg salah denganku?" Protesnya.
Dan Siwon masih terdiam. "Baiklah aku keluar. Maaf mengganggumu."
Seseorang itu berbalik dengan kesal dan keluar meninggalkan Siwon yg masih terpaku di tempatnya.
Baru setelah sosok itu menghilang di balik pintu Siwon mendapatkan kembali kesadarannya.
"Yesung hyung?" Gumamnya tidak percaya.
Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi.
Sakit.
Berarti ini bukan mimpi.
Ia masih tidak percaya sampai akhirnya matanya menangkap sebuah benda yg terpajang di meja kecil di samping tempat tidurnya, sebuah kalender.
Tanggal 3 oktober?
Matanya kembali membulat sempurna. Ia mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa pengelihatannya tidak salah.
3 oktober.
Satu hari sebelum hari menakutkan itu.
.
.
.
"Kau kenapa, hyung?" Tanya Sungmin yg melihat namja bermata sabit itu keluar dari kamarnya dengan raut wajah kesal.
"Apa aku terlihat jelek dan menakutkan pagi ini?" Tanyanya membuat semua member yg saat ini tengah sarapan bersama menatap bingung kearahnya.
"Err hyung, kalau boleh jujur kau itu memang selalu terlihat menakutkan.."
Pletakk!
Eunhyuk langsung mendapatkan jitakan manis dari Heechul atas ucapannya yg membuat namja tadi semakin merengut.
"Apa yg Siwon lakukan padamu, Yesung-ah?" Tanya Leeteuk menengahi pertempuran dongsaeng-dongsaengnya itu.
Namja yg tidak lain adalah Yesung (o,0) itu semakin mempoutkan bibirnya, "Tidak tau."
"Hyung.." Belum sempat Yesung membalikkan badannya seseorang memeluk tubuhnya dengan erat. Dan Yesung sudah bisa menebak siapa pemilik tubuh kekar yg suka memeluk dirinya sembarangan -_- seperti itu.
"Siwon.. aku tidak bisa bernafas.." Gerutu Yesung. Siwon langsung melepaskan pelukannya dan menatap Yesung.
"Benarkah ini dirimu, hyung? Kau kembali? kau masih hidup?" Siwon mencubit pipi Yesung dengan mata berbinar .
"Ya! Kau mendoakan aku mati begitu?" Kesal Yesung. "Aku mencintaimu, hyung. Sangat mencintaimu." Siwon kembali memeluk Yesung tanpa mempedulikan semua member yg sweatdrop menatap kearahnya.
"Kalian ini sudah seperti tidak bertemu ratusan tahun saja -_-" Cibir Heechul.
Siwon merenggangkan pelukannya lalu menatap semua member yg kini tengah memandanginya. Sementara Yesung sibuk mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya. Siwon memeluknya terlalu erat. Benar kata Heechul, seakan mereka baru tidak bertemu ratusan tahun -_-
Siwon mengerling jahil pada semua member membuat mereka mengerutkan kening tidak mengerti. Menyipitkan mata sebentar tapi sesaat kemudian mata mereka kembali melebar saat melihat tiba-tiba Siwon meraih wajah Yesung dan mencium bibirnya. Yesung yg tadinya tengah mengatur nafas karena pelukan Siwon kembali dibuat terkejut. Mata sabitnya melebar.
Sungmin menutup kedua mata Ryeowook. Tidak membiarkan kekasihnya yg masih polos itu terkontaminasi dengan aksi makhluk pecinta Tuhan dan kura-kura itu.
"Siwon-ah, aku kan dulu sudah memperingatkanmu untuk tidak pindah sekamar dengan Yesung hyung." Celetuk Eunhyuk.
"Ternyata penyakit aneh itu menular." Kyuhyun menggelengkan kepalanya prihatin yg langsung mendapatkan death glare dari Yesung.
.
.
.
.
October 4th, 2011
"Sudah sampai."
"Ini dimana?" Tanya Yesung.
Siwon melingkarkan tangannya dipinggang Yesung, "Coba tebak di mana?" Ujarnya lembut tepat di telinga kanan Yesung membuat Yesung sedikit gemetar meskipun Siwon sudah biasa melakukannya.
"Bagaimana aku bisa menebak? kau menutup mataku sejak dari Incheon Airport tadi. Selama berjam-jam perjalanan kau tidak mengijinkanku untuk membuka penutup mata ini. Kau tau rasanya, huh? Ini sangat tidak me.."
Siwon mencium bibir Yesung singkat membuat namja imut itu terkejut.
"Wonnie, kau tau? Kau itu sangat kurang ajar." Yesung menundukkan kepalanya meyembunyikan wajahnya yg bersemu merah.
Siwon tersenyum manis. Tanpa membuka penutup mata Yesung ia menuntun tangan Yesung membawanya maju beberapa langkah. Yesung dapat merasakan angin segar yg tiba-tiba menerpa tubuhnya.
"Aku hitung sampai tiga baru kau boleh membuka mata, Okay? Pinta Siwon.
Yesung mengangguk pelan.
Siwon pun melepaskan penutup mata Yesung, "Satu, dua, tiga.." Dan Yesung membuka kedua matanya. Mengerjap beberapa kali untuk kembali beradaptasi dengan cahaya yg langsung menyambutnya.
"Si.. Siwon? Ini di mana?" Tanyanya tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Yang ia lihat kini ia berada di sebuah balkon dan di hadapannya adalah sebuah pantai yg tampaknya tidak ia kenal.
Siwon tersenyum seraya kembali memeluk Yesung, "Coba tebak ini di mana?" Yesung tampak berpikir sejenak. Matanya beredar mencari petunjuk.
Dan lagi-lagi mata kecil itu kembali melebar. Ia langsung membalikkan tubuhya menghadap Siwon. "Kanada? Ini di Kanada?" Tanyanya tidak percaya.
Siwon mengangguk pelan.
"Bagaimana bisa? Bagaimana dengan jadwal kita di Korea? Bagaimana dengan.." Siwon meletakkan telunjuknya di bibir mungil Yesung membuat ucapan Yesung lagi-lagi terhenti.
"Kau suka, bukan?" Tanyanya.
Yesung tersenyum, "Tentu saja, tapi.."
"Enough. Nikmatilah dan jangan banyak bertanya, ok?" Yesung mengangguk meskipun dengan wajah yg masih tampak bingung. Membuat ia terlihat sangat menggemaskan di mata Siwon.
Siwon tertawa kecil. ia rasa tidak perlu mengatakan pada Yesung bahwa ia harus memohon-mohon pada sang manager dan Kim Young Min untuk mendapatkan ijin berlibur selama 3 hari ditengah begitu padatnya jadwal Super Junior saat ini dan berusaha mendapatkan penerbangan paling pagi ke Kanada tanpa plaining sebelumnya.
"Maaf aku membawamu kesini bukan saat musim gugur seperti yg kau inginkan. Aku rasa terlalu lama jika harus menunggu bulan desember untuk datang kesini. Lagipula bulan desember nanti kita pasti sangat sibuk dengan Super show."
Yesung menggenggam tangan Siwon yg melingkar di pinggangnya. "Kau tau? Dengan kau bersamaku di sini akan terasa jauh lebih indah dari musim gugur."
"Hyung?" Panggil Siwon lembut.
"Ne?" Yesung menatap mata besar Siwon.
"Maafkan aku."
Yesung mengerjap bingung, "Untuk?"
"Maaf karena aku telah menyakitimu. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri sampai tanpa sadar aku telah mengacuhkanmu. Tapi kau harus tau, hyung bahwa tidak pernah sedetikpun aku melupakanmu. Meskipun kita tidak selalu bersama tapi percayalah hanya kau yg ada di dalam hati dan pikiranku. Aku sangat mencintaimu."
"Siwon.."
"Jangan pernah berpikir bahwa aku tidak mencintaimu lagi. Karena aku akan selalu mencintaimu."
Yesung menundukkan kepalanya. Tersipu.
"Boleh aku minta sesuatu?" Yesung kembali menatap mata Siwon.
"Apapun untukmu." Siwon tersenyum.
Masih dengan menatap Siwon, Yesung memiringkan kepalanya sedikit, "Apapun?"
"Ne, apapun."
Yesung mengulurkan tangannya menyentuh dada Siwon, "Ijinkan aku berada di sini selamanya."
Siwon tertawa kecil seraya mengacak rambut Yesung pelan, "Kau akan selalu ada di sini selamanya tanpa kau meminta sekalipun. Aku tidak akan pernah mengijinkanmu meninggalkannya. Kau hanya milikku."
Yesung ikut tertawa kecil dan menunduk. "Aku juga ingin meminta sesuatu."
Ujar Siwon membuat Yesung langsung menatapnya. "Apa?" Siwon menatap Yesung dari ujung kaki sampai ujung kepala lalu menyeringai penuh arti.
"A.. apa?" Tanya Yesung gugup. Entahlah tiba-tiba ia merasakan aura menyeramkan memancar dari tubuh Siwon.
"Ayolah, hyung. Masa kau tidak tau? Kau kan sudah dewasa." Ujar Siwon manja. Yesung menggeleng kuat,
"Shirreo. Aku tidak mau."
"Ayolah, hyung. Kau bilang kau ingin seperti Hangeng hyung dan Heechul hyung, bukan?"
"Ta.. tapi bukan yg seperti itu." Wajah Yesung memerah.
"Kita sudah bersama empat tahun, hyung. Setiap aniversarry kau hanya memberiku hadiah ciuman, sekarang aku ingin yg lebih. Kita kan bukan anak kecil lagi." Siwon mengerling dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Yesung.
"Shireo!" Yesung melepaskan tangan Siwon dan berlari meninggalkan balkon seraya tertawa.
"Ya! Kim Jong Woon!" Siwon berlari masuk mengejar Yesung.
Dan ia kembali tertawa begitu melihat Yesung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut di atas tempat tidur.
"Are you shy, Yesungie?" Goda Siwon seraya menindih tubuh kecil Yesung.
"Ya! Choi Siwon kau sangat berat!" Yesung meyibakkan selimut yg menutupi wajahnya membuat ia bertatapan dengan Siwon.
"Ayolah, hyung. Kau juga menginginkannya, bukan?" Goda Siwon lagi.
"Andwae! Kau sudah gila Choi Siwon!" Yesung memukul dada Siwon dengan keras. Tapi Siwon hanya tertawa, "Kau yg telah membuatku gila, Kim Jong Woon."
"Aku membencimu!" Yesung mengerucutkan bibirnya.
Siwon mendekatkan wajahnya dan mencium bibir mungil itu, "I Love you too." Gumamnya lalu menarik selimut Yesung dan menutupi tubuh keduanya. Dan tidak ada yg perlu tau apa yg terjadi setelahnya.
.
.
.
.
FIN~
A/N 2 : No sequel apalagi yg NC.
Sampai saat ini saya masih mencoba menepati janji saya pada diri saya sendiri untuk tidak akan pernah menulis NC ^^
Jadi bayangkan saja apa yg terjadi selanjutnya dengan otak kalian masing-masing ^^
Anyway, Thanks buat semuanya yg udah kasih review *hug*
I'll back, maybe. ^^
