Hajimemashite, Minna…

Watashiwa ~ Ruki ~ desu

Disclaimer : Taito Kubo-Sensei

Warning : OOC, AU, Typo(s)

Pairing : IchiRuki

Rate : Teen


Trim'z ama semua iank uda nge'repiu


Meyrin Mikazuki

Loonatic Aquedos

Michi-chan Phantomhive626

Kyu9

Aizawa Ayumu Oz Vessalius

SeCret aRs

Yuki-ssme

Just Ana

Syuukyo Akira Recievold

SatsukiSodeNoMugetsu5

Yupi Akayuki Kurosaki

Tsuki-kurosaki

Icchy La La La

Sarsaraway

Ojaou-chan

Erikyonkichi

Aika Ray Kuroba

Kurosaki Mitsuki

Jee-eugene

Nana Kurosaki


LIFE IS LIKE A CINDERELLA

== Ruki ==

Chapter 2


"Siapa gadis itu? Sial!" desisnya pelan, "Hei, tunggu, Midget!" teriak Ichigo yang langsung mengejar gadis tersebut dengan kecepatan penuh.

Dilain pihak, kini Rukia tengah berlari menelusuri koridor-koridor panjang di setiap sudut kerajaan. Deru napas memburu mulai terdengar mengiringi langkahnya, napasnya semakin pendek.

"Tunggu!" teriak seseorang tepat saat Rukia melewati sebuah ruangan besar bercat keemasan yang terkesan mewah.

Dalam waktu sekejab Rukia berhenti dan menolehkan pandang menuju ke arah sumber suara. Seorang gadis cantik berambut coklat kejinggaan menatap penuh harap ke arah Rukia.

"Apa benar kau… Rukia Kuchiki?" tanya gadis tersebut dengan langkah santai menuju ke arah Rukia.

"Ya?" jawab Rukia datar.

Gadis tersebut segera menarik lengan Rukia dan langsung membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan. Rukia yang tak mengerti apa pun hanya mengikuti gerak langkah kaki gadis tersebut.

"Aku Inoue Orihime, kau harus segera bersiap-siap. Kaien menunggumu," katanya dengan nada manis dan langsung membawa Rukia masuk dan menutup pintu.

*(n_n)*

Halaman depan Istana

"Sial! Cepat sekali larinya," Ichigo hanya bisa memaki pelan, ia harus menerima kenyataan bahwa sang gadis telah berhasil kabur dari kejarannya.

Kaien yang kini berada di belakang Ichigo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ditepuknya ringan bahu sebelah kiri Ichigo, kemudian ia berkata,

"Sudahlah, dia bersama Inoue sekarang. Tak lama lagi kita harus pulang ke Verano Carretera."

Ichigo hanya bisa bersikap datar dan memasang wajah angkuhnya lagi. Diliriknya Kaien dengan sepasang mata tajamnya. Kemudian dengan segera ia berjalan santai menuju ke Mobil Lamborghini Murcielago berwarna jingga miliknya.

"Cih! Aku tak peduli," katanya datar sebelum benar-benar menjauh dari tempatnya berpijak.

Bukan suatu rahasia, Ichigo dan Kaien merupakan saudara kembar yang memang tak dapat saling akur satu sama lain. Jalan pikiran mereka jauh berbeda, Ichigo yang menyukai kebebasan sedangakan Kaien yang patuh terhadap peraturan.

Sebenarnya mereka bisa saja menjadi saudara yang saling melengkapi, tapi tidak bagi Ichigo. Ia selalu menjaga image di depan Kaien, selalu ingin menjadi yang terbaik atau lebih tepatnya paling beda dan paling menonjol dibandingkan saudara kembarnya.

"Ngomong-ngomong… kenapa mereka lama sekali?" bisik Kaien pelan sambil melangkahkan kaki menuju Lamborghini Gallardo hitamnnya yang terparkir tepat di samping mobil nyentrik Ichigo.

*(n_n)*

Saat ini Ichigo tengah terfokus pada panggilan yang baru saja masuk ke handphone layar sentuhnya. Seringaian bahkan tawa kecil ia tunjukkan sebagai respon dari pembicaraan Ichigo dengan seseorang di seberang sana.

"Hei, panggilan lagi?" tanya Ashido yang kini bersandar santai di body samping mobil Ichigo.

Ichigo tertawa sejenak dan menghentikan pembicaraannya pada handphone tersebut, menatap Ashido dengan wajah berseri-seri. Sedangkan Ashido tak lagi heran dengan bisnis sampingan lelaki tersebut. Menjual diri? Kedengarannya begitu bodoh.

"Ya, seperti yang kau tahu, mereka sangat menyukaiku, hahaha," kata Ichigo dengan tawa lepas yang memuakkan.

Ashido hanya tersenyum tipis, kemudian ambil bicara, "Cih, mau sampai kapan kau menjual dirimu, hn?" tannya Ashido datar.

Ichigo menghentikan tawanya, ia kembali memasang wajah datar dan serius. Mulutnya mengatup keras, ia menahan suatu emosi dalam jiwanya. Ia kembali mengingat, tentu saja, tujuan tersembunyi pasti ada dibalik tindakan abnormalnya itu.

"Sampai ada yang menghentikanku, kau mengerti maksudku kan?" kata Ichigo sambil melirik Ashido dari kaca spionnya.

Ashido tersenyum lebar, "Kuharap secepatnya, sebelum kau benar-benar tua menunggunya, hahaha,"

Ichigo hanya diam, ia tak ambil pusing dengan apa yang dipikirkan lelaki berambut fire brick tersebut. Namun pernah juga terbesit pikiran, sampai kapan ia akan seperti ini? Bahkan dirinya sendiri sudah mulai bosan.

Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah lembut menuju ke arah segerombolan lelaki yang telah bersiap di depan mobil mereka masing-masing. Seperti pemandangan yang seolah mencerminkan penantian sang pangeran dengan kuda putihnya.

Namun kali ini hanya dua orang gadis yang tak asing lagi bagi mereka. Dan satu hal yang pasti, salah satu pangeran akan merasa kecewa karena tidak mendapatkan pasangannya.

Seorang gadis dengan gaun anggun yang terhenti tepat sejengkal saja di atas lututnya. Berwarna putih bersih bak berlian. Lengan membentuk sebuah gelembung yang dengan erat mencengkram minim lengannya. Menampakkan pemandangan kulit putih mulusnya yang nyaris sempurna.

Tergantung kalung indah yang menghiasi lehernya, memiliki kecocokan dengan warna perak dari rantai kalung tersebut. Sepasang anting dengan bandul partikel salju menyerupai bentuk bunga menghiasi kedua telingannya. Kedua kaki mungil terbalut sempurna dengan sepasang sepatu kaca yang indah.

"Cinderella…" kata tersebut terlepas begitu mudahnya dari bibir seorang lelaki tampan yang sedari tadi hanya berdiam diri di dalam Lamborghini Murcielago miliknya.

Sepsang mata musim gugurnya menatap kagum gadis yang masih saja berdiri santai tak jauh darinya. Ia merasakan desiran lembut, bahkan keterkejutan. Ia kembali mengingat dongeng legendaris yang selalu menjadi pengantar tidurnya. Dongeng itu benar-benar nyata.

"Kalung itu… jadi… gadis yang semalam itu… dia?" bisik Ichigo pelan masih tetap memandang Rukia.

Rukia hanya bisa tersipu malu dipandangi seperti itu oleh Ichigo. Jantungnya kembali berdebar hebat saat iris violetnya bertabrakan langsung dengan iris Ichigo.

Dengan cepat dialihkannya wajah merona miliknya ke arah depan, tersenyum lembut mengingat tatapan Ichigo beberapa detik yang lalu.

Namun sayang sekali, Kaien mengira Rukia tersenyum padanya. Dilangkahkannya sepasang kaki Kaien untuk mendekat pada Rukia, ia ingin menjemput calon istrinya.

"Kau cantik sekali, Rukia. Aku siap membawa sang putri menuju istana," kata Kaien lembut yang diiringi dengan gerak tangan kanannya meraih telapak tangan Rukia dan mencium punggung tangannya sekilas.

"Ah!" pekik Rukia terkejut saat mendapati salam yang tak biasa itu. Kaien mengambil alih diri Rukia dan membawanya menuju ke Lamborghini Gallardo hitam miliknya.

"Wah, wah, wah… beruntung sekali Kaien mendapatkan gadis seperti dia. Manis sekali, benar kan, Ichigo?" tanya Ashido saat mendapati Kaien telah berhasil membimbing Rukia masuk ke dalam mobil hitamnya.

Ichigo terdiam sesaat, menatap tajam ke arah Kaien melewati kaca spionnya. Semacam gejolak amarah menghampiri hatinya. Ia merasa tak rela sedikit pun.

"Kau baik-baik saja, Ichigo? Jangan berkata bahwa kau juga menyukainya, karena itu tidak mungkin terjadi, mereka akan menikah," jelas Ashido datar melihat rekasi Ichigo yang terasa ganjil.

Ichigo hanya tersenyum, lebih tepatnya seringai tajam melekuk menghiasi wajah tampannya. Ia kembali menatap ke arah depan dan menghidupkan mesin mobil miliknya.

"Tidak ada waktu memikirkan gadis itu, masih banyak gadis yang harus kupuaskan," kata Ichigo datar dan hal itu berhasil membuat Inoue mematung.

Inoue, gadis cantik yang mendekati sempurna. Ia adalah teman masa kecil Ichigo. Sejak dulu, Inoue sangat membenci kebiasan Ichigo menjual diri. Bukankah ia kaya? Banyak uang dan bisa membeli apa pun yang ia inginkan?

Inoue tak habis pikir, sungguh mudah bagi Ichigo mengatakan kata 'memuaskan gadis' itu. Ia tak sanggup lagi. Dipejamkannya kedua iris abu-abu miliknya dengan sangat erat. Ia tak ingin mendengarnya.

"Inoue, kau ikut bersamaku?" tanya Ichigo manis kepada Inoue.

Sontak Inoue langsung menatap Ichigo dengan raut muka terkejut. Perlahan ia menggeleng. Ichigo tak berubah padanya, padahal 2 hari yang lalu Inoue telah berbuat hal buruk pada Ichigo.

Tepatnya… Inoue membeli Ichigo. Ia mencintai lelaki tersebut, dan tak ingin Ichigo melakuan hal itu, setidaknya ia ingin merasakan kebahagiaan bersama Ichigo meskipun itu palsu dan dibayar.

Flashback

Ichigo hanya tersenyum dan berkata, "Apa benar kau akan membeliku? Membeliku seperti mereka?"

Pada saat itu Inoue telah buta akan tindakannya, gadis itu membeli sahabatnya hanya untuk kebahagiaan sesaat. Ichigo tersenyum pahit. Mendekati Inoue yang tengah gugup dan juga terkesan takut.

"Bahkan sahabatku sendiri pun ingin membeliku? Sungguh malang..." katanya berbisik pada Inoue yang hanya mematung di tempat.

Ichigo pun pergi meninggalkan Inoue yang saat itu menangis di tempat. Bahkan Inoue pun merasakannya, kenapa ia begitu berani membeli Ichigo? Inoue benar-benar menyakiti Ichigo.

And flashback

Ichigo tersenyum sekilas dan segera meninggalkan halaman istana, melewati jalan dengan arah ke barat menuju Verano Carretera, kota Musim Panas.

Verano Carretera – Pantai Barat

Masih terdiam, tak Kaien atau pun Rukia, keduanya saling membisu. Bukan hanya karena merasa asing, keduanya juga merasa malu karena sudah pasti mereka akan menjadi suami istri nantinya, ini terlalu cepat.

"Kenapa kita memasuki daerah pantai, Kaien?" tanya Rukia memecah keheningan.

Ia ambil bicara saat mengetahui bahwa dirinya kini melewati jalanan beraspal yang sangat sepi bahkan hanya ada mobil yang ia tumpangi saja. Melewati jalanan yang di kelilingi pantai kebiruan seolah memantulkan bayangan langit di atasnya.

"Kita akan tinggal bersama, di rumahku bersama Ichigo," kata Kaien dengan senyum manisnya.

"Tinggal bersama? Ichigo? Maksudmu apa?" tanya Rukia heran.

"Ya, aku, kau dan saudara kembarku, Ichigo. Kita akan tinggal bersama, karena sekolah kita akan di mulai besok. Dengan semester baru di kota Varano ini," kata Kaien berusaha menjelaskan.

Rukia hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Padahal ia sama sekali tak mengerti. Dan juga… Ichigo? Rukia berharap, Ichigo yang di maksud bukanlah Ichigo yang ia sebut sebagai senja itu. Semua akan menjadi berantakkan bila ia benar-benar satu atap dengannya.

Voorjar Ev

Begitulah isi tulisan pada papan sedang yang menyambut mata Rukia saat pertama kali ia memandang sebuah bangunan tinggi dengan lantai 3 di depan matanya. Bernuansa yunani kuno yang di modifikasi mendekati modern.

Bebatuan tua yang membentuk patung-patung misterius. Taman indah dengan halaman luas yang di tumbuhi ratusan Bunga Lily merah bak di Negeri Belanda. Dan juga beberapa pelayan berpakaian maid cantik berwarna hitam-putih.

Semua tersenyum dan berbaris menyambut kedatangn mereka. Rukia hanya melongo di tempat sedangkan Kaien hanya tersenyum datar dan menggandeng lembut tangan Rukia untuk memasuki 'rumah sederhannya'.

"Apa aku sedang bermimpi? Tapi… ini sungguh nyata!" jerit Rukia namun hanya di dalam hati saja.

Dan saat ia tengah menjerit-jerit tak jelas di dalam hatinya, sesosok lelaki angkuh kini telah berjalan santai mendahuluinya. Rambut jingga yang identik dengan senja tersebut mengalihkan perhatian Rukia.

"Tapi… dia jauh lebih indah," kata Rukia pelan bahkan berbisik.

Kaien yang mendapati Rukia tersenyum sendiri pun kini mulai ambil bicara,

"Tak perlu seterkejut itu… ini hanya rumah sederhana kami," kata Kaien datar. "… dan juga, lelaki itu saudaraku, namanya Ichigo, Kurosaki Ichigo." lanjut Kaien.

"Ichigo… nama yang manis," kata Rukia tak sadar. "… APA? Dia tinggal disini?" teriak Rukia saat tersadar dari keterkagumannya.

Kaien hanya tersenyum kemudian menjawab, "Tentu saja, dari dulu ia tinggal bersamaku, dan kau sebagai calon istriku juga harus tinggal bersama kami."

Rukia masih memasang wajah terkejutnya. Sungguh sial, bagaimana ia bisa hidup dengan calon suami sekaligus lelaki idamannya? Pilihan yang tak mudah bahkan kesialan yang luar biasa.

*(n_n)*

Sambil membawa sebuah buku berukuran sedang, Rukia kini berjalan mendekati Kaien yang tengah menonton sebuah action movie di depan sebuah layar televisi besar yang hampir seukuran dengan meja di depan sofa empuk tempat Kaien berada.

"Kaien…" sapa Rukia pada lelaki berambut hitam tersebut. Namun sayang, yang menoleh justru keduannya, Ichigo dan Kaien. Dan hal tersebut berhasil membuat Rukia tekejut sekilas.

"Ya? Ada apa, Rukia?" tanya Kaien dengan nada manis.

Dengan mengela napas beratnya, Rukia kini memberanikan diri untuk berbicara langsung pada calon suaminya tersebut,

"Apakah kau ingin memakan sesuatu? Atau kusiapkan air hangat untuk berendam?" tanya Rukia dengan nada mantap.

Asal kalian tahu, buku yang dipegangnya saat ini adalah buku panduan menjadi calon istri yang baik. Rukia harus mempelajarinya, begitulah titah Inoue sehari yang lalu. Suatu keharusan yang harus dijalani.

Kaien hanya tersenyum datar, lalu menatap Rukia yang bertingkah manis padanya, "Tak perlu, kau istirahat saja,"

Rukia terdiam beberapa saat, ternyata langkahnya gagal, itulah pikirnya. Namun maksud Kaien adalah baik, ia tak ingin merepotkan Rukia. Dan masih banyak pula pelayan yang akan melayaninya.

Dengan segera dibukanya buku pedoman tersebut, kemudian dibacanya beberapa saat di halaman yang telah dilipatnya sebelum ini. Ia tersenyum dan kembali bertanya.

"Perlukah aku menggosokkan punggungmu, Kaien?" kata Rukia dengan nada tak yakin.

Seketika itu juga kedua saudara tersebut tertawa nyaring, melihat kepolosan Rukia. Kaien hanya tersenyum kembali dan menawarkan sesutatu pada Rukia.

"Baiklah, kita mandi bersama… kau bisa siapkan air hangatnya sekarang," kata Kaien dengan nada mantap.

Ichigo yang mendengar hal itu sontak menghentikan tawanya. Rukia hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Kaien yang masih tersenyum tak jelas. Sedangkan Ichigo menatap tajam ke arah Kaien.

"Kau takkan bisa menyentuh milikku," desis Ichigo pelan.

Kaien yang mendengar Ichigo mengatakan sesuatu pun merespon dengan dilihatnya Ichigo dengan muka heran. Ia tak mendengar begitu jelas apa yang baru saja dikatakan oleh saudaranya itu.

"Barusan kau berkata apa, Ichigo?" tanya Kaien dengan nada penuh tanya.

Ichigo hanya diam dan beranjak pergi. Kaien yang tak mengerti hanya menaikkan kedua bahunya sekilas dan kembali memperhatikan layar televisi di hadapannya.

Kamar Mandi

Sangat luas, bahkan terkesan seperti kamar tidur saja, bersih dan dipenuhi beberapa tanaman dengan aroma terapi yang sangat segar. Buah-buahan juga terpajang indah menghiasi beberapa meja di sudut ruangan.

"Apakah mereka benar-benar memakannya?" tanya Rukia heran mendapati makanan di dalam sebuah kamar mandi sekalipun.

Rukia berjalan kikuk menuju ke arah bathtub besar berpinggiran putih dengan model yang tenggelam ke dasar lantai, sangat lebar menyerupai kolam renang mini yang kosong dan dilapisi cermin menelusuri dinding-dindingnya.

"Mungkinkah mereka akan bercermin? Sungguh aneh." pekik Rukia memasang ekspresi jijik dan heran sekaligus.

Segera ditepisnya pikiran konyol tersebut dan kemudian ia melengok ke kanan-kiri, mencari sesuatu yang dapat mengeluarkan air menuju ke bathtub tersebut.

Namun tentu saja Rukia tak mengerti. Ia mencoba-coba untuk menekan beberapa tombol di salah satu meja yang terletak sejengkal saja dari bathtub tersebut.

Saat tombol pertama ia tekan, pintu masuk tiba-tiba bergetar sekilas. Saat dicoba yang kedua, seluruh gorden di ruangan tersebut tertutup.

"Ah, kenapa menjadi gelap begini?" tanya Rukia yang kini kembali menekan tombol ketiga.

Sebuah shower berhasil membasahi tubuh Rukia dan kemudian ia segera menghindar dan menekan tombol selanjutnya. Pintu masuk tertutup, dan yang kelima, shower berhenti. Dan yang keenam, air keluar dari sebuah keran antik dan kini bathtub telah mulai terisi. Rukia menyeka dahinya yang basah oleh air dan keringat.

Namun saat ia berjalan untuk meninggalkan ruangan, pintu masuk tak dapat dibukanya, ia terkunci. Kemudian Rukia kembali berjalan menuju tombol-tombol tersebut. Tapi sayang, sebuah lengan kekar berhasil menghentikan geraknya.

Kedua lengan tersebut mengunci gerak Rukia dari belakang, memeluknya erat. Tak lama kemudian sebuah tangan menjalar menuju leher Rukia, meraba sekilas leher gadis itu dan terhenti tepat saat ia menyentuh sebuah kalung yang melingkar sempurna pada leher Rukia.

"Kau tahu? Benda ini membuktikan bahwa kau adalah milikku," bisik seseorang tersebut yang entah sengaja atau tidak tepat di depan salah satu telinga Rukia.

Deg!

Jantung Rukia berdebar tak menentu, bibirnya terbungkam sempurna karena perasaan gugup. Ia tak mengerti maksud dari perkataan lelaki itu. Namun ia yakin, orang tersebut bukanlah Kaien.

"Si-siapa kau?" tanya Rukia takut-takut.

Sebelah tangannya beranjak dari leher Rukia kemudian membelai rambut Rukia yang basah. Menyekanya dan menyingkirkannya sehingga leher mulus Rukia ter-ekspose sempurna di depan mata lelaki tersebut.

Tanpa ragu disandarkannya dagu miliknya tepat di bahu Rukia, merengkuhkan tubuhnya dan menenggelamkan tubuh mungil Rukia ke dalam pelukannya.

Semilir napas hangat menggelitik leher Rukia dengan sempurna. Membuat debaran jantungnya semakin tak terkendali. Dihirupnya dengan senyum mengembang aroma khas dari tubuh Rukia, kemudian ia berkata,

"Suasana seperti ini… jadi ingin…"

"A-apa maksud-mu?" potong Rukia dengan nada gugup.

Lelaki tersebut melepaskan cengkramannya, membalik tubuh Rukia dengan perlahan. Sepasang iris sandy brown lelaki itu memandang lekat iris indigo di depannya.

Terkejut bukan main. Rukia hanya bisa membatu di tempat. Terus memandang sorot mata tajam di hadapannya, terpaku tak dapat berteriak atau pun melawan.

Sepasang lengan lelaki tersebut terangkat, mendaratkan kedua telapak tangannya menyentuh pipi gadis mungil di hadapannya. Ia berkata, "Kalung itu… Kau adalah takdirku, akan kubuat kau menjadi milikku,"

Perlahan wajah tampan sang pangeran mendekat ke arah Rukia. Sedangkan Rukia masih terdiam di tempat menatap ke arah depan. Bahkan terkesan tak bernyawa.

Sepasang kakinya terasa lemah, oksigen pun serasa sulit didapatkannya. Lelaki bernama Kurosaki Ichigo itu berhasil mematikan segala impuls dalam dirinya. Membuatnya seakan tak berdaya sama sekali.

"Jangan terkejut, karena kau takkan bisa menolaknya," bisik Ichigo sekali lagi saat kedua hidung mereka saling bersentuhan dengan jarak wajah yang amat dekat. Sampai…

Tok! Tok! Tok!

"Rukia, kau di dalam?" seseorang mengetuk pintu masuk dengan nada selembut mungkin.

Rukia terkejut dan langsung mendorong Ichigo tepat di dada bidangnya. Rukia berjalan mundur dan menyanggah tubuhnya pada salah satu meja tak jauh darinya.

Tapi sungguh sial, tanpa Rukia sadari sebelah tangannya menekan tombol ketujuh. Dan itu berarti…

"Sial!" pekik Ichigo saat menyadari tindakan Rukia.

Dengan perlahan pintu masuk tersebut bergeser dan tentu saja akan terbuka. Ichigo nampak panik. Sedangkan Rukia masih mematung di tempat.

T`B`C`


Maaf kalo nama-namanya terkesan aneh, Ruki cuma berusaha membangun kesan dari fic ini sendiri, fantasy, tapi ternyata susah juga. Karena Ruki pengen mengesankan kehidupan Rukia menjadi aneh karena terjebak di negeri aneh *?*. Autor pun ikutan menjadi aneh.

Awalnya mau bikin karakter Ichigo yang playboy, tapi uda biasa. Jadi Ruki buat Ichigo jadi lelaki penjual diri. Kan sama-sama di kelilingi gadis, *plak* hampir sama kan? Gomen ne...

Reviuw di tunggu, karena tanpa reviuw dari Cinta Quw semua, Ruki gag semangat ngelanjutinnya. Hahaha...


Arigatou and Mata Ashita "^_^"


R P

E L

V E

I A

E S

W E