Araaa...hari ini capek sangat. Terima kasih bagi yang sudah meripyu fic gaje kedua ku ini. Terimakasih atas waktunya yang sudah diluangkan. Semoga chapter kali ini lebih baik. Typo masih menjadi momok menakutkan bagi saya. Tanpa berlama-lama...Silahkan membaca dan semoga menghibur.
Disclaimer : Bleach itu ….kapan ya jadi milikku? Pengen rasanya cepet-cepet menghidupkan kembali ulquiorra..(ngarep tingkat tinggi)
Warning : AU, OOC, abal, gaje, nista, typo pasti masih bertebaran, alur kecepetan, dan temukanlah keanehan lainnya di fic ini..
Rate : T aja deh, cari aman…
.
.
.
WHERE EVER YOU ARE
By
Relya Schiffer
.
.
.
"Ada masalah, Grimm." Neliel menjawab.
Kerutan Grimmjow bertambah. "Masalah?" ulangnya.
Neliel mengangguk mantap.
"Ggio tidak pulang." Soi Fon buka suara.
"Eh? Bukannya dia memang sering tidak pulang? Apa yang aneh?"
"Kali ini berbeda." Ulquiorra menatap Grimmjow yang duduk di sebelahnya. "Dia juga bolos kelas pertama. Sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh Ggio." jelas pemuda bertinggi 169 cm itu.
"Yang benar?" mata sapphire Grimmjow melebar. Dia menatap Soi Fon meminta penjelasan lebih. Tapi gadis berpostur mungil itu hanya mengangguk.
"Teman ku, ada yang melihatnya bersama Nnoitra."
"APA? NNOITRA?"
"Grimmjow!" desisan Ulquiorra yang mengingatkan sahabatnya atas volume suaranya itu tak digubris oleh pemilik rambut berwarna biru terang itu. Matanya yang berwarna senada terbelalak lebar.
"Mau apa si bodoh itu berhubungan dengan Nnoitra? Apa dia tidak dengar peringatan kita? Apa yang ada di dalam otaknya. sih?" cecar Grimmjow, merasa kesal atas kabar yang baru saja di dengarnya. Ggio bersama Nnoitra. Yang benar saja. Ggio kan tahu siapa Nnoitra Jiruga. Kenapa juga dia masih berhubungan dengan orang itu.
"Grimm..." panggil Neliel agak khawatir. Dia tahu pasti sebenci apa kekasihnya itu pada seorang Nnoitra Jiruga.
"Ggio...bodoh!" kali ini bukan lagi cecaran kesal, tapi umpatan. Tanpa sadar Grimmjow menjambak rambutnya sendiri, seperti orang frustasi. Dia hanya menoleh pelan ketika Ulquiorra menepuk bahunya.
"Yang harus kita lakukan adalah menemukan Ggio, bukan menyesali semua yang sudah terjadi." ucapnya bikaj.
Grimmjow mwngangguk pelan. Pemuda itu kembali menghadap ke depan, menatap Neliel dan Soifon.
"Kalau begitu kita harus ke rumahnya. Sudah dua hari ini aku juga tidak bertemu dengannya. Maaf, Soi... Bukannya aku tak menghargai perasaan mu, tapi aku benar-benar ingin menghajar bocah itu sekarang juga!"
"Kau menghajarnya, dan aku akan siapkan tali untuk menggantungnya!" timpal Soifon. " Aku juga geram karena si bodoh itu selalu ceroboh!" tegasnya berapi-api.
"Sepulang kuliah nanti, kalian ke rumah ku saja. Kita diskusikan lagi masalah ini di rumahku. Maaf, aku tidak bisa meninggalkan Orihime sendirian lama-lama." lanjut Grimmjow.
Neliel dan Soifon mengangguk mantap. Sedangkan Ulquiorra tak menyahut. Bagi Grimmjow, jawaban sahabatnya yang pendiam itu adalah 'ya'. Dan lantaran tak ada penolakan, pembahsan soal Ggio pun terhenti.
Gadis manis itu masih bergelung di bawah selimutnya dengan tubuh meringkuk. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Sesekali ia menjerit histeris diantara isakan kecilnya. Tangan mungilnya mencengkeram selimut yang menutupinya dengan erat. Saat ini dia sendirian. Oh, tidak...tidak sendirian. Karena di ujung ruangan kamarnya, tengah berdiri seorang wanita berwajah sangat pucat dan berambut orange kecoklatan sambil menatap gadis yang meringkuk dengan tatapan kosong. Tak ada ekspresi di wajahnya yang cantik. Rambut bergelombang wanita itu jatuh sebatas punggungnya. Dia tak melakukan apa-apa, bicara pun tidak, hanya menatap. Tapi justru tatapan itulah yang membuat gadis manis berambut orange yang meringkuk tambah histerus. Ia menjerit-jerit sambil menangis. Tatapan wanita itu seperti tatapan malaikat maut baginya. Long dress putih yang dipakai wanita itu, yang dihiasi dengan bercak-bercak merah di beberapa bagian, seperti juluran tangan mimpi buruk yang tak pernah berakhir bagi gadis manis itu.
Wanita itu tetap terdiam. Sedangkan gadis manis itu masih menangis. Sepasang mata abu-abunya terpejam erat. Jika boleh memilih, saat ini, rasanya ia benar-benar ingin mati dari pada teru menerus dihantui olehnya. Tidak adakah malaikat maut yang berkenan mampir untuk menjemputnya? Mengakhiri penderitaannya yang teru menerus didatangi olehnya...
.
.
.
.
.
Sebelum pulang bersama teman-temannya, Neliel menyempatkan diri ke ruang loker. Ada buku yang hendak diambilnya. Gadis cantik berambut hijau toska itu tanpa ragu langsung menuju ruangan kecil yang berada di ujung lorong. Kebetulan fakultas ekonomi sudah sepi karena mata kuliah jam terakhir telah berlalu setengah jam yang lalu. Tak ada kegiatan lain yang membuat para mahasiswa bertahan di kampus. Praktis, hanya Neliel lah yang sekarang berada di ruang loker.
Dengan perlahan, tanpa sedikit pun rasa curIga, Neliel memutar kunci lokernya. Dan begitu pintu kecil itu terbuka, sehelai kertas terjatuh. Mata hasil perempuan itu berusaha mengenali kertas yang kini tergeletak di lantai. Tangannya terulur meraih kertas itu. Dan saat ia bisa melihat dengan jelas isi dari selembar kertas aneh itu, ia terbelalak. Jantungnya berdegup kencang dengan tiba-tiba. Sesuatu yang menggetarkan hatinya membunyikan alarm tanda bahaya di kepalanya. Kertas itu, tanpa pengirim, dan hanya ditulisi sebaris kalimat singkat dengan tinta merah berbau anyir : stay away from him.
Spontan, Neliel celingukan berusaha mencari pengirim kertas itu. Adakah orang iseng yang mengajaknya berurau? Tapi ini sangat tidak lucu. Benar-benar tidak lucu.
Ruang loker sepi. Desisan angin seperti memperdengarkan suara langkah samar di sepanjang lorong. Debaran jantung Neliel kian cepat. Rasa takut mulai merambatinya dengan membabi buta. Tanpa berlama-lama, perempuan cantik itu pun segera mengunci lokernya dan pergi dari ruangan itu. Dia ingin secepatnya mencari aman dengan berada di mobil Ulquiorra, di sebelah Grimmjow juga Soifon. Perasaan aneh yang ia rasakan sungguh mengganggu. Karena itulah Neliel meninggalkan ruang loker dengan setengah berlari. Ia bahkan lupa membawa buku yang tadi hendak diambilnya.
Grimmjow baru saja tiba di rumahnya saat senja mulai menyapukan warna jingga ke seluruh penjuru langit. Pemuda itu turun dari Escudo hitam Ulquiorra lebih dulu untuk membukakan gerbang. Ulquiorra pun memarkir mobilnya dengan manis di pekarangan rumah sahabatnya yang cukup luas itu. Baru setelah mematikan mesin mobil, ia turun bersama Neliel dan Soifon.
"Welcome to my home..." seru Grimmjow berusaha riang sambil membuka pintu.
Kedua sahabatnya dan kekasihnya pun melangkah masuk. Mereka menatap interior rumah mungil yang sederhana tapi terkesan tenang itu.
"Oh, iya...Mana Orihime,Grimm?" tanya Neliel langsung.
"Duh yang nggak sabar mau bertemu adik ipar." goda Soifon.
"Baru calon." Neliel terkikik. Soifon hanya tersenyum.
Qrimjow menoleh pada Neliel, "Dia ada di-"
Dan belum sempat ia melanjutkankata-katanya, terdengar suara jeblakan pintu yang cukup keras. Diikuti oleh langkah cepat yang arahnya ke ruang tamu. Sesosok tubuh yang masih berbalut selimut tersaruk-saruk berlari dan menghambur ke arah Grimmjow. Untunglah ia dan Ulquiorra dengan sigap menangkap tubuh yang menubrukkan diri tanpa peduli keadaan sekitar itu. Warna orange menyala terbias di mata emerald Ulquiorra.
"Grimm-nii..."
Suara panggilan lirih itu membuat Neliel dan Siofon tertegun bingung. Alis hitam Ulquiorra pun bertaut saat ia merasakan keanehan dari sikap sosok yang masih berada di pelukan Grimmjow itu.
"Grimm-nii...kau baik-baik saja kan? Kau tak apa-apa kan? Aku takut, Grimm-nii... Aku khawatir..." ceracaunya panik.
Grimmjow menghela nafas pelan. Ia membalas pelukan itu sambil mengelus rambut orange panjang yang membias di mata safirnya.
"Hei, Hime-chan... Kamu kenapa? Aku baik-baik saja. Kamu bisa lihat sendiri kan?" ucap pemuda itu lembut.
Sosok itu, Orihime, perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya yang pias menambah keseriusan di wajah Ulquiorra. Ekspresi adik sahabatnya itu...sedikit janggal.
Permata abu-abu Orihime hanya terfokus pada Grimmjow setelah gadis manis itu melepaskan pelukan eratnya. Ia bahkan mengabaikan Ulquiorra, Neliel, dan Soifon yang juga sedang berada di ruangan itu. Baginya, hanya ada kakanya. Mereka berdua seperti tidak nampak. Seulas senyum tipis melengkung di bibir mungil Orihime setelah ia memastikan bahwa kondisi kakaknya baik-baik saja. Nafasnya yang memburu pun menjadi agak tenang.
"I-iya... K-kalau b-begitu...A-aku masuk dulu ya, G-grimm-nii..." ucapnya terbata. Ia berbalik dan berjalan gontai menuju rumah bagian dalam. Dia bahkan hampir menabrak tembok jika saja Ulquiorra tidak menahannya. Dia bahkan tidak peduli pada tatapan mata pemuda berambut hitam itu yang terus melekat pada sosoknya yang kian menjauh.
"Eeeee...Grimmm..." Neliel menjadi orang pertama yang memecahkan keheningan setelah Orihime menghilang di balik dinding. "Rasanya, Hime-chan agak aneh ya?" ucapnya hati-hati, takut menyinggung perasaan Grimmjow.
"Begitulah." jawab Grimmjow singkat. Ia justru sibuk membereskan bantal sofa, suatu kegiatan yang sangat tidak penting. Tampak jelas bahwa pemuda bertubuh tinggi itu menghindari pembicaraan seputar adiknya.
"Dia kelihatan sangat perhatian padamu." Ulquiorra ikut bersuara tanpa melepaskan tatapannya dari ruang tengah, tempat Orihime menghilang.
Soifon berjengit pada sahabatnya yang pendiam itu, "Ya jelas perjatian lah, Tuan Ulquiorra Schiffer! Mereka kan adik kakak. Kau itu bagaimana, sih?"
"Bukan itu yang ku maksud, Shaolin Fon." Ulquiorra menatap Siofon yang tengah menyeringai ke arahnya. "Kau tahu apa maksud ku." balasnya.
Neliel tiba-tiba tertawa, " kalian ini..benar-benar, deh. Kalau sudah bertengkar dunia serasa milik berdua." celetuknya jenaka.
"Dan yang lain numpang, ya? Hahahaahah..." Grimmjow ikut meledek diiringi sebuah cengiran khas.
Sikapnya itu membuat Neliel tertawa lagi, diikuti oleh Soifon. Sedangkan Ulquiorra hanya mendesah pendek. Apanya yang lucu dengan sebuah pertengkaran kecil?
Sampai kemudian suara tawa kedua perempuan itu terhenti ketika terdengar suara gelas pecah dari arah dapur. Grimmjow dan teman-temannya langsung menghambur masuk. Dia kaget luar biasa saat melihat sosok adiknya berjongkok di sudut tembok sambil memeluk lututnya. Gadis manis itu tampak gemetar ketakutan.
"Astaga! Orihime?" seru Grimmjow seraya meraih adiknya yang masih tersudut ke dalam pelukan.
Orihime masih menangis kecil sambil memejamkan mata. Dia kembali meracau tak jelas.
"Grimm-nii...Aku takut...takut..." dia mencengkeram erat kerah kemeja yang dipakai kakaknya. Pelan-pelan tangan mungilnya menunjuk sesuatu. Soifon dan Neliel terhenyak. Sementara Ulquiorra semakin keheranan. Orihime takut pada pisau yang tegeletak di atas meja?
Neliel segera beranjak dan mendekati Orihime. Dia menyejajakan diri dengan adik kekasihnya itu.
"Hime-chan... Tidak ada apa-apa. Kamu baik-baik saja." ujarnya berusaha menenangkan.
"sudahlah, Hime... Dengar," Grimmjow mngankat wajah adiknya hingga mata mereka bertemu. " Kamu baik-baik saja. Tak ada yang bisa menyakitimu selama aku ada disini. Kau ingat itu? Tidak ada yang bisa menyakitimu!" tegasnya. Keseriusan di wajahnya muncul dan menghapus sikap sedikit memanjakan yang biasa ia tunjukkan pada adiknya.
Orihime mengangguk kaku."I-iya, Grimm-nii..A-arigatou nee..."ucapnya pelan, kali ini dengan meremas jemarinya sendiri. Sebuah kesan paranoid yang membuat mata Ulquiorra semakin lekat menatap gadis manis itu.
"Ayo ke kamar, Hime-chan..." suara kali ini berasal dari Soifon yang sudah berdiri di sebelah kiri Orihime, merangkulnya.
"Iya, kamu istirahat saja, ya. Kami akan menemanimu." imbuh Neliel sambil tersenyum manis.
Orihime mengangguk. Dia menatap Grimmjow sejenak, lalu beralih pada Ulquiorra. Seulas senyum tipis ia tujukan pada sahabat kakaknya itu. Deti berikutnya, Orihime telah dibimbing ke kamar oleh Neliel dan Soifon. Selepas kepergian tiga orang itu, Ulquiorra menatap Grimmjow yang masih membereskan pecahan gelas dengan tatapan tajamnya. Grimmjow yang bisa merasakan intensitas ketajaman tatapan itu pun menoleh.
"Apa?" tanyanya.
Ulquiorra berdiri tegak, dengan kedua tangan di saku jehitamnya. Keseriusan di wajah pemuda pendiam itu membuatnya tampak semakin tampan. Semilir angin yang masuk dari celah ventilasi membuat rambut hitamnya tersibak, agak berantakan.
Tatapan mengintimidasi itu sangat dibenci Grimmjow, bahkan sejak mereka masih SMA. Tatapan itu sangat menyudutkan.
"Apa yang ingin kau tahu, Ulquiorra?" tanya pemuda berambut biru itu sambil berpaling dan kembali membereskan pecahan gelas yang masih berserakan.
Ulquiorra tak langsung menjawab. Dia menanti sampai Grimmjow kembali menatapnya, dan melontarkan sebuah pertanyaan singkat.
"Kenapa dengan adik mu, Grimmjow?".
.
.
.
.
.TBC.
YOSH... Chapter 2... Fuah...hari yang sangat melelahkan. Langsung saja, mind to ripyu readers?
