Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, tulisan berantakan *seperti biasa, author ga pernah meriksa ulang*, etc.

.

Deru mesin kendaraan memenuhi jalan. Tangan mungil milik seorang putri Kuchiki menggoreskan pensil warna dengan serius. Tiap goresan memiliki keunikan meski masih terlihat dalam sketsa kasar. Tidak ia hiraukan hiru-pikuk laju kendaraan yang begitu padat melintasi kota di pagi hari. Fokusnya tak pernah lepas dari setiap senti garis pada kertas. Tenggelam dalam tumpukan kertas meski sang supir tengah panik menghindari kemacetan. Menyenangkan bukan ketika kita memiliki bakat. Walau di sekitar tengah gempar mengalami perang dunia, tidak perlu ketenangan maksimal, dengan sedikit konsentrasi saja hal sederhana sudah bisa menjadi sesuatu yang hebat.

"Jadi si rencana Z tidak berjalan dengan baik," jemari Nell bergerak-gerak manis meski tengah memegang stir kemudi, kemacetan memang selalu memancing kepanikannya, namun memeriksa ulang sudut-sudut kukunya yang pagi ini baru di cat hijau tosca senanda dengan warna rambut indahnya adalah sesuatu yang penting juga.

Rukia menyunggingkan senyum, sedikit mimik mencemooh sebagai penambah.

Rencana Z, mereka selalu memberi nama yang unik setiap menyusun rencana. Semakin akhir urutan alfabet rencana, semakin dihindari untuk di pilih. Tingkat keberhasilannya selalu di pertanyakan. Didunia ini, mana ada sih orang yang mau bertaruh dalam sebuah lelucon anak kecil seperti itu? Pengecualian untuk Kuchiki Rukia.

Hal yang tidak pasti. Sungguh memuakkan.

"Sudah bisa ditebak—" Rukia menggantungkan kalimat, meraba-raba kursi sebelah mencari pensil warna tambahan dari kontak pensil yang sudah berserakan isinya. "—dia memang laki-laki sadis yang tak bisa diandalkan, padahal ku pikir rayuanku padanya cukup bekerja."

Nell memutar mata, melirik bosan pada Rukia lewat pantulan cermin, "Jadi hari ini adalah hari terakhir kita bekerja sama?"

"Yah—paling tidak aku harus memberes-bereskan barang hari ini. Mungkin aku akan kembali ke Paris, atau mungkin—"

Nell tidak melanjutkan mendengar perkataan Rukia, kedua telinganya telah ia sumbat dengan sepasang earphone dengan player musik keras. Kan intinya tetap sama. Mencari kesenangan di Tokyo memang bukan bagian dari petualangan mereka. Padahal kalau seandainya perusahaan-perusahaan yang membenci keluarga Kuchiki mau memberi kesempatan pada Rukia, mereka pasti akan terkesan pada seberaba besar karya gadis mungil itu.

.

"Hari ini mari kita selesaikan semua," langkah Rukia lebih dulu memasuki ruang kantor. Tangannya masih tertahan membuka pintu, memberikan jalan pada Nell yang tengah menjinjing buku-buku sketsa milik putri Kuchiki tersebut untuk lebih dulu masuk. "Oiya, pagi ini aku belum sarapan. Bisakah kau memesankan—"

"Ruru..."

Rukia mengerutkan dahi, menatap Nell yang mendadak begitu datar menyela. Padanganya lalu mengikuti arah tatapan mata Nell begitu menyadari bahwa sahabatnya itu tengah memberi perhatian pada hal lain selain dirinya di dalam ruangan.

"Bagaimana kalau kita bereskan dia dulu"

"Hai... silahkan duduk. Anggap kantor sendiri dengan nyaman."

Rukia beredecak kesal, menyilangkan tangan didepan dada dengan penuh kebosanan.

.

Kurosaki Ichigo.

Selalu angkuh, arogan, dan—manusia nomor teratas dalam daftar urut manusia yang paling menyebalkan.

Pemuda itu kini tengah dengan santainya duduk sedikit bergoyang-goyang pada kursi, mencari posisi nyaman. Matanya sesekali melirik pada isi ruangan, menilai. Seolah hal tersebut yang sering ia lakukan ketika sedang dalam ruangan. Badannya langsung membungkuk ke bawah, memungut sesuatu dari tong sampah kecil dekat kaki meja yang tak sengaja menarik perhatian.

Ichigo menyeringai kecil, sebuah majalah fashion yang tengah remuk di bagian covernya. Seingatnya brand majalan ini cukup terkenal karena berhasil mengambil berita tentang dirinya seminggu yang lalu.

"Apa maumu sekarang?"

Dengusan tak menyenangkan keluar dari rongga pernafasan Ichigo. Penjelasan bukan termasuk dalam karakternya. Baginya, seseorang cerdas apabila ia mampu menebak isi pikiran si bungsu Kurosaki tersebut tanpa harus disebutkan terlebih dahulu. Badannya malah semakin bersadar nyaman memancing kekesalan seseorang yang berdiri angker diahadapannya.

Orang itu tampak menahan kekesalan. Kulit wajahnya yang seputih susu tak mampu menyembunyikan warna merah yang merambat di sudut telinga.

"Miss, ada berita penting!" seorang karyawan masuk menyela sebelum semburan makian di hadiahkan untuk Kurosaki Ichigo.

Seolah menghidar untuk disadari keberadaannya oleh orang lain, refleks pemuda berambut orange tersebut memutar kursi menghadap jendela kaca dibelakang ruangan. Sandaran kursi yang tinggi memberikan tampilan seoalah hanya kursi kosong yang terputar tanpa sengaja.

"Ada apa?" suara yang ia yakini siapa pemiliknya menyahut dengan datar, sadar Kurosaki Ichigo tidak ingin diketahui keberadaannya di dalam ruangan.

"Kita memperoleh sponsor."

Seirangi kecil tidak mampu dicegah kemunculannya disusdut bibir Ichigo. Bagian menarik dari permainan pahlawan-pahlawanan sepertinya sudah dekat.

"Baru saja pihak dari Kurosaki Corp. menghubungi. Mereka bukan hanya bersedia menyediakan gedung untuk pertunjukan nanti, mereka juga membiayai secara penuh semua hal yang berhubungan dengan acara Anda."

Bisa ditebak, ada yang merasa terharu sekarang. Oh—Ichigo sungguh merasa seperti pahlawan luar biasa.

"Sebaiknya anda mengkonfirmasikan langsung pada Kurosaki Ichigo, Miss."

"Aaa—aku mengerti. Aku sepertinya sudah tahu harus berbicara dengan siapa. Terima kasih kau sudah memberitahuku cepat."

Beberapa detik kemudian terdengar pintu yang dibuka lalu ditutup hampir dalam tempo waktu singkat. Ruangan ini tampaknya sudah menyisakan mereka berdua didalamnya. Kurosaki Ichigo pun kembali memutar kursi, menghadapi tengah ruangan.

"Jadi, kesepakatan apa yang harus kita buat?"

Ichigo memerengkan kepala sejenak, tangan kanannya langsung terangkat, memamerkan cover majalah yang teremuk amat cantik. Tentu—dia butuh penjelasan untuk yang satu ini terlebih dahulu.

.

"Jadi, tidak ada privasi untukku. Tapi—tentang kita tetap menjadi rahasia publik." Rukia menekan-nekan cover majalah yang tergeletak di hadapannya, mencoba membuatnya rapi meski merupakan hal yang mustahil melihat bentuk kertasnya yang sudah cukup abstrak. Yah—setidaknya wajah Kurosaki Ichigo yang terpampang di cover masih terlihat menarik walau telah ia remuk tempo hari.

"Aku tidak suka seseorang menyembunyikan rahasia dariku. Dan aku juga tidak suka kehidupan pribadiku menjadi konsumsi publik."

Rukia tersenyum kecil, sedikit merasa geli dengan adanya nafas hangat berhembus dibelakang telinganya. Aturan memang bukan bagian favoritnya, namun suasana hatinya begitu gembira sehingga setiap hal buruk yang sampai ditelinga tak mengubah moodnya.

Bayangkan, impiannya dalam hitungan minggu akan menjadi kenyataan.

"Ohh—kita akan bermain peran kekasih rahasia. Lalu, bagaimana dengan kekasih-kekasihmu yang lain? Apakah kau masih memilikinya saat ini?"

"Hmm... tidak."

Rukia menoleh kebelakang, menatap wajah datar seseorang yang dari tadi memangkunya. Umm... lebih tepatnya merba-raba tubuhnya. Wajah itu masih terlihat tak berekspresi meski tangannya menunjukkan sesuatu yang berkebalikan. Tangan yang begitu kokoh dan kian gencar menjelajahi tempat-tempat demi memuaskan rasa ingin tahunya.

Apanya sih yang menarik dari Kuchiki Rukia?

Wajahnya memang cantik, tapi bukan luar biasa cantik. Tubuhnya memang mungil, pas untuk di peluk. Tapi—dadanya bahkan hanya muat seukuran genggaman tangan laki-laki dewasa.

Pemuda itu memutar bola mata, tahu tatapan nona muda Kuchiki tersebut masih menuntut penjelasan. "Aku memang memiliki banyak kekasih, tapi berakhir semenjak aku melakukan perjalanan bisnis di Inggris sebulan yang lalu. Tapi—kalau aku bosan denganmu, bukan berarti aku menolak mencari yang lebih menarik. Masalah kekasih tidak akan mempengaruhi kesepakatan pertama kita. Aku tetap akan mensponsori acaramu. Deal?"

"Oke, deal," Rukia mengangguk setuju. "Apakah kita perlu berciuman sebagai segel kesepakatan?"

"Ohh—sudahlah, kau bahkan sudah menodai sofa ruang kerjaku dengan noda merah. Kau tahu berapa mahal biaya perawatannya," ucapnya dengan nada mencela.

Suara cekikikan kecil keluar mewarnai suasana. Rukia tidak tahu kalau pemuda kaku itu punya sedikit selera humor. "Oke, oke... setidaknya kita memiliki—" sebuah kecupan kecil Rukia berikan.

"—keuntungan ber—," kecupan kedua menyusul. "—sama. Dan—"

Kalimat terakhir Rukia tidak pernah selesai. Tubuh mungilnya telah didorong berbaring di atas meja kerjanya. Membuat ia seperti hidangan yang siap santap.

Nafas hangat menyapu sisi lehernya. Untung pagi ini dia cukup cerdas memilih rok berbahan sifon bukan rok pensil, setidaknya kondisi roknya sekarang tidak akan mengerikan meski sudah tergulung diatas pinggul, memamerkan sepasang kakinya sang sudah tebuka manis diantara pinggul pemuda dihadapannya dengan celana dalam berenda yang tergantung di salah satu pergelangan kaki. Yah—untungnya juga laki-laki yang menjadi kekasihnya ini sudah membuatnya hampir telanjang semenjak duduk di pangkuan pemuda itu beberapa menit yang lalu. Pakaian mereka yang masih utuhlah yang membuatnya tampak normal, memberi ilusi seolah mereka hanya duduk berpangkuan beberapa menit yang lalu. Tidak cukup adil mengingat pemuda tersebut masih berpakaian lengkap.

Tangan serta bibir yang hangat kian bersemangat mengeksplor setiap sisi sensitif Kuchiki Rukia. Tiap gerakan yang dibuat memberi efek sensasi yang berbeda-beda. Gairah menyelimuti. Bunyi dentingan ikat pinggang menyusul setelah mendengar dentingan benda-benda diatas meja yang satu persatu jatuh. Gadis itu sedikit meringis. Pasti ada yang rusak. Dia tidak akan lupa meminta ganti rugi nanti.

"Sepertinya kau butuh lampu meja baru."

.

"Apakah dia sudah rela mati untukmu?" Nell menyilangkan kaki, duduk begitu nyaman menatap punggung Rukia tidak pernah berbalik menatap jendela.

Tubuh gadis mungil itu masih dengan begitu menggoda menatap lurus keluar jendela, berdiri menyilangkan tangan di bawah dada. Mengabaikan fakta bahwa bagian kancing atas kemejanya masih cukup berantakan memamerkan pakaian dalam berpotongan menarik bewarna hitam senada dengan celana dalamnya tadi.

Tidak ada niat untuknya membenahi penampilan, bahkan mengancingkan setidaknya untuk menutupi jejak-jejak merah di permukaan leher dan dadanya pun tak ada. Tampaknya ia sengaja melakukannya dengan tujuan yang jelas.

"Tidak, dia belum tergoda sepenuhnya olehku," mata Rukia tidak lepas menatap halaman kantornya yang terlihat jelas dari lantai dua. Seringainnya kian lebar ketika mengambil langkah mendekat ke kaca jendela, mencium permukaan kaca hingga meninggalkan jejak lipstik peach berebentuk bibir. "Tapi setidaknya—dia sudah cukup dekat oleh itu."

Nell memberikan seringai yang hampir tampak sama dengan Rukia. Berteman dengan nona Kuchiki sejak di perguruan tinggi sudah dapat membuatnya menguasai alur permainan seorang Kuchiki. Gadis itu memang lemah, namun kelemahannya lah yang selalu menyeret orang untuk tunduk padanya.

.

Shuuhei meringis melihat mata elang atasannya masih terpaku menatap keluar jendela mobil. Masih belum jelas kemana arah tatapannya, namun ia langsung mengerti ketika dari arah tatapan madu Kurosaki ada seorang gadis dari lantai dua mendekati keaca jendela serta dengan sensual memberikan kecupan manis di permukaan kaca, seolah kaca tersebut adalah seseorang dalam wujud manusia. Tidak akan terbayang kalau kaca jendela itu adalah laki-laki, pasti meleleh seketika.

"Gadis kucing, eh?" Yeah—Shuuhei mendapat sinyal.

Kurosaki Ichigo masih tidak bergeming, seolah setengah terhipnotis—entahlah, tidak ada yang pernah benar-benar bisa menebak jalan pikiran sang Kurosaki muda.

"Jangan bermain dengan gadis kucing, Sir. Lebih baik kau bermain dengan anjing, mereka jauh lebih penurut. Tidak seperti kucing, kau bahkan tidak tahu kapan dia akan tiba-tiba mencakarmu."

Kurosaki Ichigo hanya menyeringai kecil.

Gadis kucing?

Siapa yang perduli.

Dia adalah Kurosaki Ichigo. Siapa sih yang bisa menancapkan taring padanya? Dan—inilah permainan yang nyata.

.

.

Oke... apa yang ada dipikiran kalian? Silahkan tinggalkan jejak bila ada yang mengganggu...