"Kalian tahu Akasuna no Sasori?" tanya Sakura dengan raut wajah yang biasa, terlihat datar.
Kini semuanya terkejut kembali.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Maybe typo(s), OOC for Sakura, a high school fic, dll. Flame allowed.
Connince mempersembahkan,
To Find You
Enjoy this!
"Sasori-senpai?" tanya Lee mencoba memastikan, masih dengan matanya yang melebar.
Sakura menoleh pada Lee . "Kau tahu dia?"
Lee mengangguk. "Dia itu.."
"Siswa ternakal di sekolah!" seru Tenten memotong.
"Pemimpin sekolah saat tawuran!" seru Ino tak mau kalah.
"Pokoknya populer deh! Dia kakak kelas XII yang paling eksis karena nakal," kata Temari menambahkan.
"Ta-tapi mayoritas siswa perempuan naksir padanya karena dengan kenakalannya itu ia dianggap keren," kata Hinata malu-malu.
Sakura termenung mendengarnya. "Begitu ya."
"Memang kenapa?" tanya Naruto sambil memakan ramennya kembali. "Kau kenal dia?"
"Dia adalah orang yang kau cari," ujar Sasuke untuk pertama kalinya angkat bicara.
Sakura memandang laki-laki yang berada tepat di depannya itu. Mereka berdua hanya terhalang meja bundar tempat mereka berkumpul ini.
"Ya," kata Sakura meskipun ia tahu itu bukanlah pertanyaan.
Tiba-tiba suasana kantin berubah menjadi riuh. Para siswa yang tadinya duduk memakan makanan mereka, tiba-tiba bergerumbul di tengah-tengah kantin mengelilingi sesuatu yang tidak bisa Sakura lihat, karena meja tempatnya makan ini berada di pojok kantin.
"Pukul dia! Hajar dia!" Para siswa yang bergerumbul itu saling sahut-sahutan.
"Apa itu?" tanya Ino entah ke pada siapa. Ia berjalan mendekat ke asal keriuhan diikuti semua yang duduk di meja pojok itu, kecuali Sasuke.
"Ayo Sasori! Beri pelajaran pada anak ini!" sahut siswa lain.
Mendengar nama itu, Sakura langsung menyeruak kerumunan. Saat ia hampir berhasil menyeruak masuk, tubuhnya limbung terdorong-dorong dan hampir jatuh jika tidak di tahan oleh siswa laki-laki dengan rambut hitam yang di kuncir.
"Hati-hati," kata laki-laki itu.
"Terimakasih," kata Sakura lalu melepas lengannya yang dipegang oleh laki-laki itu.
Sakura pun menoleh ke asal keributan yang kini berada di depannya. "Nii-san?" panggil Sakura tanpa menghapus keterkejutannya.
Orang yang dipanggil Nii-san itu menoleh. Masih dengan posisi jongkoknya, dengan tangan terkepal yang tinggal berjarak beberapa centi dari wajah gempal seseorang. Tangan yang satu lagi masih memegang kerah kemeja siswa laki-laki itu.
Mata hazelnya menatap emerald Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau?"
Tanpa dikomando, kerumunan itu berhenti menyahut. Mereka memasang kuping dan mata lebar-lebar, siap menoton tontonan gratis yang terlihat seru di hadapan mereka.
"Sedang apa kau di sini?" tanya laki-laki itu. Ia melepas pegangannya pada kerah siswa bertubuh gempal itu lalu berdiri.
"Mengajakmu pulang," jawab Sakura.
Semua penghuni sekolah yang menyaksikan adegan itu saling berpandangan. "Hoi Sasori, dia siapamu?" tanya seorang siswa dari kerumunan.
"Pacarmu?" Kini siswa laki-laki yang menolong Sakura tadi bersuara.
"Bukan, Itachi,"kata Sasori lalu menghadap laki-laki berkuncir itu. "Dia adikku."
"APAA?" Kerumunan itu shock berjamaah.
"Kau kan tidak punya adik! Aku sudah lihat datamu di ruang data!" sahut seorang perempuan dari kerumunan yang langsung menutup mulutnya.
"Huu ketahuan stalker!" seru siswa perempuan berambut merah di sampingnya.
Sasori hanya tersenyum tipis mendengarnya. Tapi dampak senyuman itu sangat berpengaruh pada siswa-siswa perempuan.
"Jadi," kata Sasori sambil mendekat pada Sakura. "Kau mau aku apa tadi?"
Setelah berada di samping adiknya itu, ia merangkul Sakura. Tindakannya itu membuat kaum perempuan kembali gempar.
"Pulang ke rumah," jawab Sakura tidak peduli suasana di sekitarnya. Ia menoleh ke Sasori yang masih merangkulnya. "Kaa-san dan Tou-san mencarimu. Sampai kapan kau akan lari dari mereka?"
Lagi-lagi Sasori tersenyum tipis. Senyuman meremehkan. "Tidak sampai mereka mengerti keinginanku."
Sasori melepas rangkulannya lalu pergi menjauhi areal kantin. Itachi segera menyusul di belakangnya.
Sakura masih menatap punggung kakaknya sampai bayangannya hilang di belokan. Dirasakannya sebuah tepukan pelan di bahunya.
"Ayo kita kembali ke kelas," ujar Ino pelan.
-Tofu -
"Kalau mau bertanya, tanyakan saja," kata Sakura tiba-tiba lalu menoleh pada Ino.
Ino hampir terjengkang dari bangkunya saking kagetnya. "E-eh apa?"
"Daripada kau menatapku terus," ujar Sakura cuek.
"Hehe ketahuan ya?" kata Ino sambil nyengir.
Sakura tidak menjawab. Ia kembali menatap papan tulis yang sudah dipenuhi tulisan Iruka-sensei.
"Aku memang penasaran sih," ujar Ino yang juga kembali menoleh ke papan tulis. "Tapi aku rasa aku tidak pantas terlalu tahu. Aku tidak mau memaksamu bicara."
Sakura mengangkat alisnya. Ino yang sekarang tidak mirip dengan yang baru dikenalnya suka memaksa orang.
Ia tersenyum tipis. "Terserah."
Tanpa mereka berdua sadari, seseorang di depan telah mendengar pembicaraan mereka.
"Kau kenapa, Teme? Melamun ya?" tanya Naruto memandangi teman sebangkunya itu bingung.
"Aku tidak melamun," jawab Sasuke singkat. Bukan suatu kebohongan memang.
-Tofu-
Sakura melangkah ke luar dari kelas. Bel pulang sekolah memang sudah berbunyi sejak beberapa menit lalu. Sambil berjalan, kepala merah mudanya menoleh ke segala penjuru mencari seseorang.
Langkahnya terhenti begitu ia melihat orang yang tengah dicarinya itu di lapangan basket. Sasori sedang mendribble bola dan melakukan lay-up. Bola cokelat itu masuk dengan mulus ke dalam ring.
Sakura berjalan ke pinggir lapangan lalu berdiri di samping sebuah pohon. Diperhatikannya cowok yang sudah banyak berkeringat itu menguasai bola. Ada juga cowok berkuncir yang menolongnya, yang ia baru ketahui bernama Itachi, sedang berusaha merebut bola.
Ia ingat, dari dulu Sasori memang suka bermain basket. Sampai-sampai kakaknya itu meminta taman belakang di rumah menjadi lapangan basket. Lapangan basket itu sekarang tidak ada lagi yang memakai. Setelah Sasori pergi meninggalkan rumah.
"Cukup, aku sudah lelah." Sakura mendengar Itachi kini berbicara.
"Oke, ayo pulang." Suara Sasori menanggapi. 'Sudah berapa lama mereka bermain? Apa mereka bolos pelajaran terakhir atau memang pelajaran olahraga di jam terakhir?' batin Sakura.
Sakura menggeleng. Tidak mungkin, mana ada pelajaran olahraga di jam terakhir.
Sasori dan Itachi mengambil tas lalu mulai berjalan. Dari arahnya Sakura tahu mereka menuju gerbang sekolah. Segera saja Sakura mengikuti mereka dengan tetap menjaga jarak agar tidak ketahuan.
-Tofu-
Ternyata Itachi membawa motor ke sekolah. Saat di lapangan parkir sekolah, Sakura melihat Sasori duduk di jok belakang motor dan Itachi yang mengendarai. Langsung saja Sakura bergegas ke pangkalan ojek yang berada tepat di samping lapangan parkir.
Ia langsung naik ke motor yang sudah dinaiki oleh salah satu supir ojek dengan banyak tindikan di wajahnya . "Ikuti mereka," kata Sakura yang langsung dibalas anggukan.
Ojek Sakura pun mengikuti dari belakang motor sport biru metalik Itachi. "Bang, tetap jaga jarak ya," ujar Sakura.
"Iya," jawab supir ojek itu pendek.
Sakura menundukkan lebih dalam topi yang dipakainya. Rambutnya yang mencolok sudah digulungnya dan dimasukkan ke dalam topi yang selalu dibawanya ke mana-mana. Ia sudah mengikuti kedua orang itu selama lima belas menit dan dugaannya ia masih tidak ketahuan.
Lalu motor sport biru metalik itu berbelok ke gang kecil yang dihimpit oleh dua bangunan toko. Sakura tetap mengikuti dari belakang sambil menghafal jalan, berhubung ia belum tahu jalan dan mengingat jalan menuju tempat Sasori selama ini tinggal.
Gang kecil ini berakhir lalu menunjukkan halaman tidak terlalu luas. Halaman ini sepertinya milik satu-satunya rumah besar bertingkat satu. Walaupun cukup besar dan bertingkat, tetapi rumah itu tidak terlihat mewah dan malah terlihat sederhana.
'Ternyata di kota besar seperti Konoha masih terdapat rumah yang letaknya sembarangan di belakang ruko-ruko,' batin Sakura.
Lalu Sakura menyuruh ojek berhenti sebelum ke luar dari gang. Setelah membayar ojek itu, ia berjalan ke akhir gang dan mengamati dua lelaki berbeda rambut itu.
Setelah memakirkan motornya, Itachi dan Sasori masuk ke dalam rumah besar tersebut. Perlahan Sakura melangkah memasuki halaman.
Entah hanya perasaannya atau bukan, Sakura merasa ada orang lain yang berjalan di belakangnya. Ia menundukkan topinya lagi yang sempat naik, lalu berbalik.
Emeraldnya menangkap sosok tinggi tegap dengan rambut hitam yang mencuat di bagian belakangnya. Lelaki itu berjarak beberapa langkah, dengan mata onyx yang juga tengah menatap Sakura.
"Matamu... Sakura?" Suara bariton itu menyapu pendengaran Sakura yang kini terkejut.
To Be Continued
A/N:
Maaf ya udah seminggu baru update. Agak ngendet ide kemaren-kemaren hehe.
Oh ya, pas saya baca ulang chap 1 ada kesalahan rupanya. Saya nulis begini:
'KRINGG... Hampir semua murid bersorak mendengar bel tanda jam pelajaran kedua telah selesai.'
Padahal tepat di atasnya ada teks yang nunjukkin kalau itu masih jam pertama. Maaf atas kesalahan itu. Ada yang nyadar nggak ya? Saya cek di review nggak ada yang bilang kesalahan itu hehe.
Makasih yang udah review, untuk yang login saya bales lewat PM. Yang nggak login saya bales di sini.
hime hime chan : Iya ini udah dilanjutin. Makasih reviewnya.
Ney-chan : Udah dilanjutkan. Iya kamu bener titik-titiknya harusnya ada tiga, saya jadi keinget guru saya yang ngajarin tentang EYD penulisan hehe. Makasih saran dan reviewnya.
Oh ya saya lupa bilang di chap satu kalo flame allowed kok.
Review?
Makasih udah baca.
