.
.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Kako ni ai by Kenji Aibara
Warning: AU, OOC (sepertinya sangat), typo(s), etc.
For Event Heart Monochrome
.
.
.
"Tak butuh seseorang yang sempurna untuk memiliki Cinta, tapi Cinta lah yang akan menyempurnakan seseorang"
-Kenji Aibara-
.
.
Malam ini jam menunjukkan pukul 7:10 menit. Didalam rumah yang dapat dikatakan seperti istana itu terlihat seorang gadis cantik dengan piama putih dan rambut merah mudanya yang tergerai tengah duduk diruang tamu rumah tersebut sambil sesekali melirik handphonenya, dari wajahnya terlihat raut kejengkelan.
Akhirnya karena tidak tahan menunggu, gadis cantik itu pun mengambil handphonnya dan meng'call' seseorang, yang tak lain dan tak bukan adalah ibunya sendiri.
"Kaa-san... Jam berapa Kaa-san akan pulaang?" Rengek gadis itu.
"Ah, maaf sayang. Kaa-san ada janji dengan teman Kaa-san, mungkin sekitar 30 menit lagi Kaa-san akan pulang." Ucap sang ibu dari seberang telphone.
"Lama sekali? Apa tidak bisa cepat Kaa-san?"
"Memangnya kenapa sayang? Tumben sekali menyuruh Kaa-san cepat pulang. Apa ada sesuatu? Atau kau sedang sakit?"
"Tidak. Tapi, Sakura ingin Kaa-san mengajarkan sesuatu."
"Apa itu?"
"Memasak."
"A..Apa? Kenapa tiba-tiba kamu ingin belajar memasak?"
"Soalnya Sakura ingin membuatkan bento untuk seseorang Kaa-san." Ucap Sakura malu-malu, hingga membuat kedua pipinya bersemu merah.
"Aaaahh... Kaa-san mengerti.. Kau jatuh cinta, hm?" Goda sang ibu.
"Kaa-san... Jangan menggodaku seperti itu..." Ucap Sakura dengan wajah yang kian memerah.
"Hahahahaha... Ya, ya. Kaa-san mengerti sayang. Kalau begitu, Kaa-san akan pulang dalam waktu 10 menit lagi. Tunggu saja yaa."
"Terima kasih Kaa-san... Aku sayang Kaa-san." Ucap Sakura senang. Dalam keadaan seperti ini, memang ibunyalah yang mengerti perasaannya.
"Iya sayang. Kaa-san juga menyayangimu." Ucap sang ibu, kemudian menutup telphonenya.
.
.
.
Ditempat yang berbeda, seseorang dengan wajah tampannya tengah duduk di balkon kamarnya di lantai 2, sambil meminum segelas teh yang disiapkan pelayannya, dengan masih menatap langit cerah berbintang malam itu.
"Gadis itu. Tidak salah lagi. Dia adik kelasku di SMP dulu." Gumam Lelaki bernama Sai.
"Haaaaaah ... Kenapa aku lupa menanyakan nomor ponselnya, facebooknya, alamat rumahnya, kesukaannya... Arrrrgggg ! Kenapa aku jadi linglung begini.." Ucap Sai mengacak-acak rambutnya, dan tanpa ia sadari, sang pelayan masuk dan melihatnya.
"Tu..Tuan muda, Anda kenapa?" Tanya sang pelayan yang saat ini berada disampingnya dengan wajah khawatir.
"E...eeehh? Sejak kapan kau disini Shin? Dan, kenapa kau memanggilku Tuan Muda?"
"Maaf, aku khawatir tadi, lagi pula sudah kebiasaan memanggilmu seperti itu. Ah, kau kenapa?" Tanya Shin sahabat kecil Sai, yang saat ini menjabat menjadi pelayan pribadi Sai karena keisengannya mencoba menjadi pelayan.
"Akh.. Tidak, aku hanya bingung."
"Bingung kenapa?" Tanya Shin sembari duduk di kursi di samping Sai.
"Tadi siang disekolah, ada seorang gadis yang menyatakan perasaan padaku."
"Itu bagus kan. Kenapa kau malah bingung? Apa kau belum menjawabnya? Gadis itu cantik tidak?" Tanya Shin antusias.
"Aku sudah menjawabnya."
"Benarkah? Apa yang kau katakan?"
"Aku menjawab iya."
"Benarkah? Lalu kenapa kau bingung? Apa kau menyesal menerimanya?"
"Bukan karena itu. Aku...hanya saja, aku lupa meminta nomor ponselnya, alamatnya, ataupun facebooknya." Ucap Sai lemah.
"..."
"..."
"Pffffftt...Hahahahahahahahahahahahahahahahaha."
"Jangan tertawa bodoh." Ucap Sai dengan semburat merah dikedua pipinya.
"Hahahahahaha. Yang bodoh itu kau! Kenapa kau sampai lupa menanyakannya? Apa dia terlalu cantik hingga kau melupakan itu semua?" Ucap Shin telak, masih sambil menahan tawanya.
"Arrrrrgggg ! Jangan menertawakanku bodoh..! Ingat, aku ini majikanmu.!" Ucap Sai marah dengan wajah yang memerah karena malu.
"Heii, heii.. Jangan bawa-bawa majikan atau pelayan doong. Kau lupa? Aku ini juga setingkat denganmu, anak bangsawan, mengerti."
"Ya,ya,ya... Aku ingat. Dan kau bekerja seperti ini hanya karena iseng, benar?"
"Yap. 100 buatmu." Ucap Shin mengacungkan jempolnya ke arah Sai.
"..."
"Hei, aku penasaran, bagaimana rupa gadis yang telah membuat "majikan" ku ini terpesona?" Tanya Shin menyeringai setelah melirik Sai yang tiba-tiba kembali menatap langit.
"Dia, tidak sama seperti gadis lain. Dia...indah." Ucap Sai menutup matanya sembari tersenyum.
"hmm... Aku mengerti. Kau pasti sangat mencintainya." Ucap Shin. Ya, anak laki-laki ini memang mengetahui seluk beluk tentang Sai, sahabat kecilnya.
.
.
.
Bel pulang telah berbunyi 5 menit yang lalu, seorang gadis tampak sedang membereskan semua buku-buku pelajarannya dan memasukkannya ke dalam tas. 2 sahabatnya yang telah selesai membereskan buku-buku mereka mulai berjalan kearah sang gadis.
"Sakura, apa kau akan pulang bersama kami?" Tanya Ino, sahabat Sakura.
"Ah, iya Ino, tapi sebelumnya, bisakah kalian menemaniku menemui Sai-senpai? Aku ingin memberikan bento ini padanya." Ucap Sakura.
"Kenapa baru di berikan sekarang?" Tanya Shikamaru.
"mmm,, tadi pagi aku bertemu Sai-senpai, dan menanyakan dimana akan bertemu saat jam istirahat. Tapi ia bilang, saat pulang sekolah saja di lapangan basket."
"Oh , begitu, baiklah. Ayo kita kesana sekarang." Ucap Ino bersemangat.
"Ya.." Ucap Sakura ikut bersemangat.
Ketiga anak berbeda gender itupun kemudian berjalan menuju lapangan basket. Setibanya disana, ia menemukan kumpulan anak laki-laki yang sedang bermain basket, termasuk Sai yang menjabat sebagai pacar baru Sakura.
Beberapa menit melihat & menunggu, akhirnya permainan basket itu pun selesai. Sai yang tadinya sedang mengelap keringatnya, menemukan Sakura bersama kedua temannya tengah menatapnya. Ia pun berjalan ke arah mereka.
"Maaf, apa kalian sudah dari tadi disini?" Tanya Sai masih sambil mengelap keringatnya.
"A...ah ti..tidak senpai, kami baru saja tiba." Jawab Sakura malu-malu.
"Ah, kalau begitu kalian duduk saja dulu, aku masih latihan, 5 menit lagi selesai." Ujar Sai tersenyum.
"Ah, Senpai. Maaf, tapi apa kami bisa duluan? Aku ingin mengajak pacarku berkencan." Ujar Shikamaru tersenyum.
"Ah... Apa kau pacar gadis ini?" Tanya Sai menunjuk Ino.
"Iya Senpai. Ada apa?"
"Tidak, hanya saja apa dia selalu blak-blakan berbicara dengan para Senpainya? Aku sedikit tersinggung saat ia menyuruhku kebelakang sekolah waktu itu." Ujar Sai tersenyum dengan aura kekesalan.
"Ah, dia memang selalu begitu Senpai, dan aku Shikamaru, pacarku ini Ino. Maaf aku baru memperkenalkan diri. Kami bertiga sudah bersahabat sejak kecil, jadi tolong jangan sakiti perasaan sahabat kami ini Senpai." Ujar Shikamaru panjang lebar sembari membalas senyum Sai, mengabaikan aura kekesalan disekitarnya.
"Ah, baiklah. Kalian bisa pergi. Aku akan menjaganya." Ujar Sai merangkul Sakura, membuat kedua pipi Sakura merona.
"Baik Senpai, sampai besok." Ucap Shikamaru malas.
"Ya."
"Sampai besok Sakura." Ucap Ino tersenyum.
"I..iya."
"Nah, bagaimana kalau kau duduk disana dulu. Aku akan bermain 5 menit, nanti aku akan kembali." Ujar Sai menunjuk tempat duduk di sisi lapangan.
"Baik Senpai."
Sai pun memulai kembali berlatih. Ia terlihat serius, hingga Sakura yang melihatnya hanya dapat tersenyum memandang orang yang saat ini sudah menjadi bagian dari hidupnya.
5 menit berlalu, latihan pun selesai. Sai tengah sibuk memasukkan barang-barangnya kedalam tas. Seorang temannya yang telah selesai, mendatanginya.
"Sai."
"Yo.."
"Siapa dia?"
"Yang mana?"
"Itu.." Ucap anak laki-laki bernama Kiba sembari melirik Sakura.
"Oh, dia gadis yang kemarin menyatakan cinta padaku."
"Haaaa? Dia temannya si gadis cantik kemarin?"
"Iya. Kenapa?"
"Berbeda sekali dari temannya. Lalu, kenapa ia bisa disini?"
"Ah, aku lupa memberi tahu. Dia sekarang pacarku, jadi tadi pagi aku menyuruhnya datang kesini." Ucap Sai santai.
"Apa? Kau berpacaran dengan gadis culun seperti itu? Hei, banyak gadis diluar sana yang lebih cantik darinya yang menyatakan cinta kepadamu, kenapa harus dia orang yang kau pilih?" Tanya Kiba tidak percaya.
"Dia itu berbeda. Dia... gadis yang indah." Ucap Sai menatap Sakura sembari tersenyum. Melihat itu, Sakura hanya dapat tersipu dengan rona merah menghiasi kedua pipinya.
"Baiklah. Aku mengerti." Ujar Kiba itu lalu meninggalkan Sai. Sai pun berjalan ke arah Sakura.
"Maaf membuatmu menunggu lama."
"Ah, ti..tidak Senpai." Ujar Sakura malu-malu.
"mmm... Jangan gugup begitu." Ucap Sai duduk di samping Sakura.
"Iya Senpai."
"ah, apa kamu bawa minuman? Aku haus." Ucap Sai memandang Sakura.
"Ah, ada Senpai. Ini.." Ucap Sakura sambil memberikan sebotol minuman pada Sai.
"Makasih."
"Iya senpai. Ah, ini bento pesanan senpai kemarin." Ujar Sakura memberikan bento yang ia bawa pada Sai.
"Ah, kau benar-benar membuatkannya untukku? apa ini kau yang membuatnya sendiri?" Tanya Sai saat membuka tutup bento tersebut.
"Iya Senpai. Tapi... Kaa-san juga ikut membantu." Ucap Sakura malu-malu.
"Ah, begitu. Boleh aku memakannya sekarang?"
"Ah, iyaa Senpai."
"mmmmmmmmm..."
"Ba..bagaimana?" Tanya Sakura takut-takut.
"Rasanya… Enak. Boleh minta lagi?" Ucap Sai tersenyum.
"Ah, ini Senpai." Ucap Sakura masih menatap Sai.
Beberapa menit kemudian, bento buatan Sakura pun habis. Disaat itu juga Sai berdiri dan mengajak Sakura untuk pulang, karena waktu telah menunjukkan pukul 6:54 sore. Mereka terlihat jalan berjauhan, Sai yang beberapa meter didepan Sakura, dan Sakura yang berada dibelakangnya hanya dapat menatap punggung tegap itu sambil tersenyum. Karena terlalu sibuk menatap punggung tegap itu, tiba-tiba ia menabrak seseorang yang berhenti tepat didepannya yang tidak lain adalah Sai sendiri.
"Awwwwww..." Teriak Sakura mengelus jidatnya.
"Ah, maaf aku berhenti mendadak. Kau tidak apa-apa?" Tanya Sai mensejajarkan wajahnya pada wajah Sakura.
'BLUSH...'
"Ah...A..aku tidak apa-apa senpai." Ucap Sakura dengan wajah yang kian memerah.
"Benarkah? Tapi wajahmu merah sekali. Apa kau sakit?" Tanya Sai khawatir sambil memegang kening Sakura.
"A..ah, tidak apa-apa senpai. Sungguh." Ujar Sakura sembari menutup matanya karena malu.
"Baiklah. Ah, dimana rumahmu?" Tanya Sai kembali berdiri tegap, karena memang ia lebih tinggi dibanding Sakura.
"Belok kanan didepan sana Senpai."
"Nah, ayo!" Ujar Sai kembali berjalan mendahului Sakura.
"Senpai.."
"Ya?" Ucap Sai berhenti dan menoleh kearah Sakura.
"Senpai mengantarku sampai disini saja. Aku tidak mau merepotkan Senpai." Ujar Sakura tersenyum.
"Merepotkan? Sejak kapan kau dapat kata-kata seperti itu?" Ucap Sai setengah serius.
"Maksud Senpai?"
"Tidak pernah ada kata merepotkan dalam kamusku, apalagi itu untuk pacarku."
"Tapi Senpai, lain kali saja. A..aku takut dimarahi tou-san." Ujar Sakura dengan wajahnya yang memerah.
"Ah, begitu. Baiklah. Aku akan melihatmu dari sini saja."
"Ma...maafkan aku Senpai."
"Tak apa. Ah, tapi bisakah aku meminta nomor ponselmu? Aku kebingungan untuk menghibungimu." Ujar Sai mengeluarkan ponselnya.
"Bi..bisa Senpai." Ujar Sakura malu-malu sembari mengeluarkan ponselnya.
Mereka pun kemudian bertukar nomor dan email. Setelah itu, Sakura pulang kerumahnya sambil tersenyum dan memeluk ponselnya, sedangkan Sai hanya bersorak senang sambil meloncat-loncat kegirangan.
TBC
Aiissshhhh …. . Gomen nee kalo jelek.. Sebenarnya ini semua seluruh Chapnya udah selesai.. hanya tinggal di edit dikit aja .. HEhehehe .. Minta Kritik + saran Readers Semua yaa .. :D
