Minna-san!

Ya~ akhirnya chap 2 update! Belum pada bosan, kan? Nggak marah karena telat publish, kan? Nggak kesal karena idenya gak jelas banget, kan?

Nah, karena 'Putri Mimpi Buruk' itu ide dadakan, jadi pas mikir ulang waktu ngetik chap 2 ini, mendingan diganti sama 'Ratu Mimpi Buruk'... Kenapa? Karena kupikir, 'Putri' kayaknya kemudaan, deh. Hehehe! *digetok seseorang*

Makasih banyak untuk undine-yaha dan Iin cka you-nii yang log-in untuk mereview! Balasannya lewat PM, sudah sampai? Trus, buat yang nggak log in :

DarkAngelYouichi : Hmm~ siapa, yaa? Lihat aja ntar! Ini udah update, makasih RnR!

CieCieYeaDinoHibaForever : Apa di Negeri Sinterklas cheerleader diperlukan? Hubungan HiruSuzu ada di ending chap depan, ntar aja lihat. Sinterklas (yang pake seragam merah) itu ace di tiap tim, sisanya jadi kurcaci (pake seragam hijau) XD unleash your imagination! Ini update, makasih RnR!

just reader 'Monta : Salam kenal juga~! Soal itu, lihat chap depan aja. Ini update-nya, makasih RnR!

Okeh, sudah semua? Tapi... Kok semua orang mikir Ratu-nya itu Mamori, yaa? *nyengir sendiri*. By the way, sekarang kita lanjutkan carita ini!

Christmas Spirit

An Eyeshield 21 fanfiction

Disclaimer : Story by Riichiro Inagaki and Art by Yusuke Murata… But this fict is mine!

Warning! OC numpang lewat!

Don't like? Don't read! Back button waiting you!

You want to read? Review please...


24 desember 2010

"Perhatian, perhatian semuanya..." ucap seorang sinterklas berdahi lebar di atas panggung, "Semua sudah berkumpul? Bagus, bagus. Kalau begitu, Rapat Tahunan Sinterklas akan kita mulai!" sinterklas yang bernama Yukimitsu itu pun bertepuk tangan, berusaha membuka pidato dengan suasana ceria.

Semua sinterklas dan kurcaci ikut bertepuk tangan tanpa minat sama sekali.

"Yah, akhirnya malam natal tiba juga! Natal, seperti yang kita semua tahu, berasal dari bahasa Portugis yang berarti 'kelahiran', adalah hari raya bagi umat Kristen. Setiap tahunnya umat Kristiani merayakan Natal pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Namun sebenarnya kelahiran Yesus Kristus bukan jatuh pada tanggal 25 Desember. Natal merupakan hari raya baru yang diadopsi dari tradisi Romawi, sebagai perayaan dies natalis solis invictus, yang artinya Hari Kelahiran Dewa Matahari yang Tak Terkalahkan. Natal selalu dirayakan dengan pesta pora oleh para penyembah Dewa Matahari beserta teman-teman mereka yang beragama Kristen. Kemungkinan besar Yesus sebenarnya tidak lahir pada tanggal 25 Desember, hal ini dibuktikan dengan cerita tentang para gembala yang sedang menggembalakan hewan peliharaan mereka. Pada bulan Desember hingga Januari, daerah Timur Tengah justru mengalami musim dingin, sehingga sangat tidak masuk akal untuk menggembalakan hewan pada waktu-waktu tersebut. Dalam tradisi barat, peringatan Natal juga mengandung aspek non-agamawi. Sebagian besar tradisi Natal berasal dari tradisi pra-Kristen barat yang diadopsi ke dalam tradisi Kristiani. Selain itu, peringatan Natal dalam tradisi barat yang kian mendunia ditandai dengan bertukar hadiah antara teman dan anggota keluarga..."

Begitu lamanya Yukimitsu berpidato, membuat sinterklas dan kurcaci lain kembali sibuk dengan kegiatan lain—menguap, mencomot makanan, membaca komik, mengupil, entah apa lagi.

"Yukimitsu, tak perlu menjelaskan sampai sedetail itu," potong tetua Doburoku, membuat sinterklas dan kurcaci lain kembali fokus pada panggung. "Intinya adalah, sama seperti tahun lalu... Eh, apaan, ya?"

'Yah, ini orang tua sama aja...' sweatdrop massal menimpa samua orang.

"Sama seperti tahun lalu!" kata Yukimitsu kembali menguasai mike. "Tujuan kita semua adalah, membawakan cinta kasih, harapan, dan kedamaian, juga impian, bagi semua anak-anak di seluruh dunia!"

"Ooosshhh!" jawab semua bersemangat.

"Di malam natal, anak-anak menanti kado sinterklas dari jam 8 malam hingga jam 6 pagi, yang berarti kita punya waktu 10 jam. Kado harus diantar dalam kurun waktu itu, atau tujuan kita tak akan tercapai. Kabarnya, mimpi buruk tahun ini semakin banyak, jadi kalian harus berhati-hati. Seperti yang kalian ketahui, mimpi buruk adalah iblis di hati anak-anak yang tidak percaya adanya cita-cita dan impian. Itu artinya, semakin banyak pula anak-anak yang tidak percaya dengan cita-cita dan impian mereka. Inilah hal yang sangat disesalkan..."

"Ya ya ya, peraturannya seperti tahun lalu," potong tetua Doburoku, lagi. "Sudahlah, ayo selesaikan rapat ini. 2 jam lagi natal akan tiba. Kembali ke kereta dan bersiaplah untuk tugas masing-masing."

"Siap!"


Suatu kota di Dunia...

"Rikkun! Ayo cepetan!" teriak Suzuna (kelewat) bersemangat.

"Memangnya kita boleh bolos? Kita 'kan harus membantu yang lain bekerja."

"Boleh dong! Bagiku, cake lebih penting!" ucap Suzuna ceria. "Lagipula, aku tak terlalu suka pekerjaan ini. Kita kerja keras, tapi nggak bisa dapat kado. Terus, toko kue-nya yang mana?"

Pemuda berambut putih itu menolehkan kepalanya, melihat sekeliling. Kalau ingatan dia tidak salah, harusnya ada toko kue di belokan sana dan—

"Itu, ya~?" Cling! Mata Suzuna segera berbinar-binar melihat toko kecil di ujung jalan sebelah situ.

Suzuna menunjuk sebuah toko dengan papan bertuliskan 'Pastry and Cake' di atasnya. Di etalasenya, terlihat berbagai kue dan tart yang terlihat sangat lezat. Mereka berdua segera memasuki toko tersebut. Kling! Bel berbunyi saat Suzuna membuka pintunya.

"Irrasshai..." sambut seorang gadis cantik berambut coklat sepinggang, dengan mata berwarna senada. Mukanya sedikit merah dan pandangannya sayu, seakan sedang sakit. Tapi ekspresinya tetap ceria. Dia menaruh kardus-kardus kue siap pakai ke atas meja.

"Permisi, kami mau beli kue!" ucap Suzuna to the point. Perutnya sudah keroncongan menghirup udara hangat di dalam toko yang dipenuhi bau kue dan cake lezat.
Sedangkan Riku, dia memperhatikan gelagat si gadis penjaga toko, yang terlihat kelelahan. Sesekali terbatuk, malah.

"Uhuk—silakan pilih," kata gadis itu, menunjuk etalase.

Dengan penuh semangat '45, Suzuna menarik Riku keluar dari lamunannya.

"A-apa?"

"Rikkun, enaknya yang mana?" tanya Suzuna cepat. "Okeee, aku pilih yang itu, Resha-nee!" kata Suzuna sembari menunjuk tart coklat bulat dengan hiasan sinterklas dan rusanya.

"Eh—uhuk—kau memanggilku apa?" tanya gadis penjaga toko itu heran.

"Hehehe," Suzuna cengengesan sendiri. "Nama lengkap Resha Kobayakawa, umur 19 tahun. Tahun lalu, setelah lulus SMU Deimon, lebih memilih untuk membantu toko kue keluarga sejak zaman orde baru ini daripada melanjutkan kuliah karena keadaan keluarga. Benar, nggak?"

"Kok, kamu...?"

"Kami adalah kurcaci (calon) sinterklas," Riku menjawab rasa heran Resha sambil melihat kue-kue lain, mengerti Suzuna tidak membutuhkannya untuk memilih kue.

"Kami tahu nama seluruh anak di dunia!" ucap Suzuna bangga. "Saat berkontak dengan manusia, kami tahu asal-usul orang itu!"

"...Sinterklas?" ulang Resha bingung. "Sangat muda, ya."

"Kau bisa melihat tetua kami, sinterklas tua berjenggot putih." (A/N: tetua Doburoku berjenggot putih?)

"Terus, kami boleh beli tart itu?"

Resha tersentak. "Oh, ya—uhuk—tentu saja, silakan."

Resha mengambil tart itu dan menaruhnya di atas meja. Dia mengambil dus kue, saat—kling! Seorang remaja yang wajahnya mirip dengan Resha memasuki toko, dengan kantong belanjaan memenuhi tangannya.

"Nee-chan, tada—hiee?"

"Eeeh?"

Pemuda itu segera berlari ke balik meja dengan sangat cepat, melebihi kecepatan mengetik author. "Nee-chan, tubuhmu tak akan kuat kalau bekerja terus, beristirahatlah!" Dia berusaha mengambil dus kue dari tangan Resha, yang menghindar cukup cepat.

"Uhuk—Sena, aku masih bisa, kok!" kata Resha terbatuk-batuk, wajahnya sudah mulai memerah karena demamnya yang meninggi.

"Nee-chan, sudah, jangan memaksakan diri, kalau sakit ya istirahat..."

"Tenang, aku masih bisa—uhuk! Uhuk!"

"Tuh, ayo istirahat dulu..." Sena memapah Resha ke pintu bertuliskan 'Selain pegawai, dilarang masuk!' Sedangkan Resha, akhirnya dia menurut. Mungkin terlalu lelah, pikir Riku.

"Ano, maaf, kalian mau beli kue...?" tanya Sena yang sudah keluar dengan memakai celemek toko. Dia menghadap pada kedua pembelinya, tapi pandangan malah terpaku pada Suzuna yang sedang melihat kue-kue di etalase bagian lain.

"Ya, kami mau beli tart itu," tunjuk Riku.

Sena diam saja, masih terpana karena kemanisan seseorang.

"Halo?" Riku melambai-lambaikan tangannya di depan muka Sena. Sontak Sena segera blushing kaget.

"Ekh, i-iya, mau yang mana?"

"Yang itu," tunjuk Riku ke tart pilihan Suzuna. "Jaga Resha-san dong, kasihan dia bekerja terlalu keras," celetuknya.

"Nee-chan itu workaholic, sakit tetap melayani pembeli... Aku juga bingung harus bagaimana..." kata Sena sambil menghela nafasnya.

Sena mengambil tart pilihan pembelinya tersebut dan memasukkannya dalam dus kue. Dia pun menyerahkannya pada Riku. Kedua pembeli tersebut mengeluarkan uang tabungan mereka selama 1 bulan.

Kukuk! Kukuk! Kukuk! Kukuk! Kukuk! Kukuk! Kukuk! Saat itu, tiba-tib jam kukuk di dinding atas berbunyi 7 kali.

"Ah... Sudah waktunya..." bisik Sena sedikit bergidik. Dia mengencangkan ikatan celemeknya.

"Ada apa?" tanya Riku dan Suzuna heran.

"Tepat jam tujuh di malam natal... Toko kue ini akan berubah menjadi medan perang," ucap Sena dramatis. Saat itulah, gempa kecil melanda toko tersebut.

"A-apa?"

Brak! Pintu toko terbuka keras, dan pembeli berdatangan dengan berjubelan. Seketika toko langsung ramai. Kebanyakan pembelinya adalah ibu-ibu, yang berani menantang maut hanya untuk seloyang tart natal. Yah, namanya untuk keluarga tersayang, apa dikata?

"Aku pesan 1 tart coklat natal—"

"Aku mau pesan cake rasa stroberi—"

"Aku pesan kue yang paling enak—!"

Dengan kecepatan yang hebat, Sena segera melayani para pembeli yang rusuh parah seperti mau pergi berdemo. Kerjanya yang cepat membuat para pembeli terlayani dengan cepat pula, walau dia masih sedikit malu-malu melayani pembeli. Nih orang pemalunya memang kebangetan. Riku dan Suzuna memperhatikan dari balik pintu toko, tak bisa keluar karena terjepit.

"Terima kasih banyak, silahkan datang lagi!" Sena membungkuk pada pembeli kuenya. Kepalanya nyaris kejeduk meja kalau dia bungkuk lebih ke bawah lagi.

Riku dan Suzuna keluar dari balik pintu. "Astaga, sampai seramai itu..."

"Itulah natal, saat yang paling sibuk bagi kami, para penjual kue natal."

"Sama seperti kita ya, Suzuna," ucap Riku menepuk bahu Suzuna.

"Aku sih, nggak mau jadi sinterklas," kata Suzuna menghela nafas. "Aku lebih suka bekerja di toko kue. Dengan begitu, aku bisa makan kue sepuasnya!"

"Tapi capeknya sudah kamu lihat, kan?"

"Tuh, Suzuna. Dengar nggak?"

"Uuhm..."

"Walau begitu," Sena menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Berjualan kue-kue punya kenikmatan sendiri. Dengan kue buatan sendiri, kita bisa membuat pelanggan tempak ceria dan gembira. Rasanya, hati pun ikut gembira."

Suzuna memperhatikan Sena yang bekerja dengan senang hati. Memberikan cake bisa membuat hati yang diberi senang, karena itulah yang memberi juga ikut senang. Seperti sinterklas, pikir Suzuna.

"Huaaa!" tangis seorang anak kecil di depan toko. Riku dan Suzuna segera keluar menemuinya.

"Ada apa?"

"Huaaa!" anak itu menunjuk ke arah seekor makhluk jejadian, berkulit merah darah, bersayap seperti kelelawar, tapi mukanya licik seperti setan. "Tartku diambil jejadian itu!"

"Apa...?"

"Itu, kan... Mimpi buruk?"

"Celaka!" teriak Sena dari dalam toko. "Semua kue di toko menghilang!"

"EH?"

"Aah, Suzuna!" kata Riku teringat sesuatu, "Tadi kamu taruh tart kita di mana?"

"Tadi, di atas meja itu..." Suzuna menunjuk meja kecil di pojokan toko, yang tak ada apa-apa di atasnya. "Mereka juga mengambil tart kita? Waaaa!"

"Uang saku sebulan!" ucap Riku frustasi.

"Itu kue belum kumakan sama sekali~! Dicolek aja beluum~!"


Kapal Persembunyian Mimpi Buruk...

Seorang wanita yang sangat cantik, dengan mata biru safir dan rambut coklat lembut sebahu, memandangi layar monitor yang menunjukkan gambar-gambar suasana anak-anak di seluruh dunia. Dialah sang Ratu Mimpi Buruk.

"Fufufufu, lihatlah wajah-wajah kecewa mereka..." katanya ngomong sendiri. "Tahun ini tak ada cake maupun tart di meja makan mereka... Ayo kita lihat bagaimana mereka menghabiskan natal tahun ini... Hohohoho!"

"Ya-ha!" kata seekor mimpi buruk yang terbang dengan sebuah jam bergelantungan di lehernya. Jam menunjukkan pukul 8 malam kurang 1 menit.

"Ah, sudah waktunya... Serangan malam natal!"


Di Negeri Sinterklas...

"Sebentar lagi pukul 8, bersiaplah untuk mengantarkan kado!"

"Ayo cepat, waktunya hanya 10 jam!"

Para sinterklas bergegas dengan kereta luncur dan rusa-rusa peliharaan mereka. Para kurcaci membantu mengikatkan tali kekang pada rusa-rusa tersebut. Kantong-kantong berisi kado pun sudah duduk manis di bagian bagasi kereta luncur.

TENG TENG TENG TENG! Lonceng Pemberitahuan berbunyi keras.

"Fuh, Mimpi Buruk akan datang menyerang?" tanya sinterklas Akaba.

"Dalam waktu yang sangat tidak smart!" ucap kurcaci Kotaro sambil bergaya dengan sisirnya.

"Sediakan senjata sebelum perang, mukyaa!" kata kurcaci Monta sambil memasukkan senapan dan pistol ke kantong kado yang sudah sangat penuh dengan hadiah, bingkisan, kado, dan bekal pisang.

"Bu-bukan!" suara kurcaci Kurita terdengar keras dari megaphone. "Kalian tidak bisa lepas landas!"

"Eeeehh?"

"Oraa, lihat itu!" tunjuk kurcaci Ikari ke ujung tempat landas.

Di sana, sebuah tirai berwarna-warni muncul, semakin meninggi, membentuk semacam kubah yang menutupi Kutub Utara

DUOR! Sinterklas Hiruma menembakkan misil terbaiknya yang bahkan bisa menghancurkan 1 kota, bila ditembakkan berkali-kali. Tetapi kubah itu tak bergeming sama sekali.

"Ada semacam kubah yang menghalangi jalan keluar!" lapor kurcaci Yukimitsu dari balik layar monitor. "Kalian tidak bisa pergi ke Dunia!"

"Begitukah?" tanya Hiruma memandangi rekan-rekannya.

Semua mengangguk mengerti.

"Bawa semua senjata kalian! Hancurkan Kubah sialan ini! Jangan sampai jadwal kita terganggu!"

Duaarrr darderdor blaaarr psyuuu boooomm!


Kapal Persembunyian Mimpi Buruk...

Ratu Mimpi Buruk tersenyum licik. Dia memperhatikan keadaan Negeri Sinterklas lewat layar monitornya.

"Fufufufu, tidak akan ada gunanya! Kubah itu kuciptakan dengan memperhitungkan kekuatan senjata kalian, tak bisa dihancurkan begitu mudah!" katanya tertawa girang. "Kalian tak bisa mengantarkan kado, di rumah juga tidak ada kue bahkan tart sekalipun! Ini akan menjadi natal paling menyedihkan... Hohohohoho!"


Di tempat Sena, Suzuna dan Riku...

"Kue yang kubuat dengan susah payah... dicuri... jejadian...?" kata Sena bingung.

"Itu Mimpi Buruk, musuh bebuyutannya Sinterklas," jelas Suzuna.

"Sinterklas?"

Suzuna menjelaskan jati dirinya dan Riku saat sebuah kereta luncur berwarna merah yang ditarik seekor babi pink gemuk menggemaskan datang, dengan Riku sebagai supirnya. "Ternyata benar! Seluruh kue di seluruh kota sudah diambil Mimpi Buruk!" lapornya.

"Mereka... bahkan mencuri tart-ku... TAK AKAN KUMAAFKAN!" teriak Suzuna kesal, membuat Sena terlonjak kaget plus ngeri.

"Aku sudah menyiapkan semuanya di kereta kita. Bagaimana?" tawar Riku. Dia menunjuk bagasi kereta yang penuh senjata. Senapan, pistol, pedang, granat, pisau, meriam, bom, entah apa lagi.

"Kita masuk ke pesawat Mimpi Buruk! Kita rebut kembali kue-kue itu!"


Di Negeri Sinterklas...

"Ini tak berguna sama sekali!" kata sinterklas Marco sambil membanting senapannya ke lantai. Di sebelahnya, kurcaci raksasa Gaou masih memukuli kubah tersebut. Padahal kurcaci dan sinterklas yang lain memakai meriam maupun bom.

"Benar-benar Kubah absolute," puji sinterklas Yamato.

"Kok malah muji? Kerjaan kita bagaimana?" kata sinterklas Kakei, masih berusaha menghancurkan kubah dengan melemparkan jangkar ke kubah itu.

KABOOOM! "Tch, bagaimana dengan keadaan di Dunia sana?"

"Siap! Anak-anak sedang menanti kado di rumah masing-masing!" lapor kurcaci Yukimitsu di depan layar monitor.

Yukimitsu pun memperbanyak layar monitor, yang memperlihatkan pemandangan anak-anak di seluruh dunia. Ada yang sedang tidur-tiduran di kasur sambil memandangi jendela, ada yang sedang bermain di bawah pohon natal keluarga, ada yang bersiap tidur sambil memegangi kaus kaki lusuh, bahkan ada yang sedang ngupil sambil duduk-duduk di atap genteng.

"Ngha~? Tetua, lihat itu! Suzuna dan Riku sedang berada di Dunia!" tunjuk seorang kurcaci ke salah satu monitor.

"Eeeh?"

Tetua Doburoku mengusap-usap dagunya. "Aku melihat adanya setitik harapan..." katanya sambil tersenyum kecil.

"Hubungi mereka! Pasti ada alat yang bisa mengatur Kubah ini! Suruh mereka cari dan hancurkan!"


Di tempat Sena, Suzuna dan Riku...

"Gotta catch'em all!" ringtone hp Riku berbunyi dari dalam kereta. Suzuna yang paling dekat dengan hp tersebut mengambilnya. Ternyata ada telepon dari Markas Pusat.

"Apaan, sih? Mau nyuruh kerja, ya?" gumam Suzuna sambil mematikan hp itu.

"Siapa, Suzuna?" tanya Riku.

"Pusat memanggil, biarkan saja," jawab Suzuna. "Lebih baik kita rebut kembali kue-kue itu!"


Di Negeri Sinterklas...

"Tidak bisa, Suzuna memutuskan hubungan..." lapor Yukimitsu.

"Hubungi mereka terus!"

"Tidak bisa! Handphone-nya dimatikan!"

"Cari cara lain! Apaan, kek!"

"Ya apaaa?"

Pesan moral : Nyalakan terus handphone-mu agar keluarga dan kerabatmu bisa menghubungimu di segala situasi, terutama saat situasi darurat datang.

Apakah Markas Pusat dapat menghubungi Suzuna dan Riku?

Apakah Ratu Mimpi Buruk berhasil membuat natal tahun ini sebagai natal paling menyedihkan?

Apakah rencana para Sinterklas dan Kurcaci selanjutnya?

Tunggu last update *mungkin* chapter 3 tanggal 24 desember 2010 *rencananya*!

~~TSUZUKU~~


Author's Note : Ya~ kependekan, nggak? Alurnya kecepetan? Ide gaje? Protes? Tuangkan dalam review!

Dan buat yang Islam, met tahun baru Hijriyah 1432 ya! *telat! -plakk-* Ada yang mau bagi-bagi thr? Hehe.

See you soon!