Complicated

Malfoy Family

AU! OOC/ No Magic/ Modern Timeline

Summary : Malfoy Manor, rumah besar milik keluarga bangsawan Malfoy selama ini selalu tampak tenang dan teratur. Apa yang terjadi ketika seorang pelayan baru yang datang disana mampu merubah semuanya. Suasana baru, dan tentunya … perasaan baru. Semuanya menjadi lebih rumit dan kompleks. Dimana sebenanrnya perasaannya berlabuh? Untuk kekasihnya atau…. Pelayan baru itu?

Author note : Cerita ini FULL AU . NO MAGIC. Modern Timeline. Dan hampir semua OOC. Typo(s). DM (22) HP (18). Pairing H/?. etcetera dan etcetera. Read & Review! Xie xie! ^^.

maaf bnuat kengaretan posting next chapternya -_-V, maklum pelajar eheheheh xD

-0-

Malfoy Manor, Wiltshire, Inggris

Keluarga Malfoy pulang tiga hari kemudian, dan hampir tengah malam. Menyisakan Severus dan Marlene yang menyambut keluarga aristokrat tersebut. Setidaknya, Harry mendapat keuntungan dengan lamanya keluarga tersebut kembali untuk mempersiapkan mentalnya. Dan memantapkan hal-hal kecil lainnya yang tak kan lepas dari pengamatan Malfoy Sr. Dan jangan lupakan sekarang akhir pekan, bisa dibilang kegiatan di Malfoy Manor jauh lebih santai. Bahkan para pelayan boleh tidur hingga pukul 9 pagi!

"Harry, kau didalam?" suara perempuan terdengar samar dari balik pintu kamarnya.

Harry menandai halaman yang sedang dibacanya sebelum membuka pintu kamarnya."Oh, kau Li. Masuklah,"

Li Fang, gadis berwajah oriental dengan rambut hitam-kecoklatan dan mata coklat cemerlang tersenyum begitu melihat Harry. Junior yang hanya setahun lebih muda darinya. Dari yang berhasil Harry kumpulkan, ia pekerja termuda di manor tersebut. Untungnya, para pekerja yang lain tidak berusaha mengintimidasinya –kecuali Severus, tentunya- hanya karena umur.

Li duduk dikursi belajar Harry sambil menatap sekeliling sebelum matanya berhenti pada dua figura dihadapannya,"Ini keluargamu?" tanyanya.

Harry mengangguk mengiyakan, ia memilih menyimpan sendiri topik tentang keluarganya kalau tidak ditanya.

"Ibumu, yang berambut merah atau yang…?" Li membiarkan pertanyaannya menggantung karena ia tau, Harry pasti paham yang ia maksud.

"Merah, yang berambut gelap tanteku. Dia adik ipar almarhum ayah baptisku,"

"Ku dengar… kau tinggal dengan…"

"Dengan pamanku? Iya aku tinggal dengannya setelah Sirius, ayah baptisku meninggal," jawab Harry. Nada hingga ekspresinya sulit terbaca.

"Maaf Harry, aku turut berduka," katanya tulus.

Harry sudah sering mendengar kata seperti itu. Ia mungkin tak tau apa mereka tulus atau tidak, tapi dengan berkata demikian setidaknya masih ada rasa peduli.

"Tak apa, aku sudah terbiasa. Jangan merasa bersalah begitu, toh kematian itu hal yang pasti tejadi kan," kata Harry lebih berupa pernyataan dibanding pertanyaan. Ekspresi wajahnya tampak tenang walau dalam hatinya terjadi pergumulan emosi yang siap membuncah.

Li menatap pemuda dihadapannya shock, belum pernah ia mendengar seseorang bicara tentang kematian setenang itu. Memang benar kematian itu hal yang alami, tapi, mendengarnya diucapkan dengan begitu kalem oleh remaja yang lebih muda darinya itu tetap… entahlah, ia sendiri bingung mengatakannya. Kagum? Mungkin, ngeri? Juga ada.

"Aku baru kali ini bertemu orang sepertimu, Harry. Maksudku, kau bicara tentang kematian seolah bicara tentang cuaca. Jangan tersinggung, aku justru merasa kagum dengan ketenanganmu," puji Li sambil tersenyum.

Harry membalas dengan senyumnya meski hal itu tak tampak dimatanya,"Yaa, mau bagaimana lagi? Lagi pula, bukan sekali ini aku ditinggal orang yang ku sayang. Well- anggap saja aku sudah sering merasakan kehilangan,"

Hening.

Kesunyian yang terasa mencekik menyusul perkataan Harry tadi membuat segalanya terasa canggung. Li tak tau harus berkomentar bagaimana, karena ia sendiri belum pernah merasakan ada di posisi Harry. Dan mungkin ia juga tak menginginkan ada di posisi itu dalam waktu dekat.

"Ehm, tadi ada apa kau kemari Li?"Harry berusaha memecah keheningan yang terasa begitu berat. Ia tau, Li merasa tidak nyaman sudah mengungkit topik ini.

"Ooh, iya. Err.. tadi Severus memberitahuku kau harus hadir saat makan malam. Katanya perkenalan dengan keluarga Malfoy,"

Harry diam sejenak,"Yang lain ikut?"

Li menggeleng singkat,"Hanya kau, Sev dan Marlene. Kan bisa dibilang pekerjaanmu disini special, jadi mungkin lebih formal. Dan juga, pelayan yang lain kan sudah dikenal. Jadi, yaa tinggal kau sendiri. Maaf,"

Harry menatapnya heran,"Kenapa?"

"Tak bisa ikut menemanimu. Setidaknya, kalau ada yang sebaya denganmu kan masih mending. Kau benar-benar yang termuda disini, kau tau? Bahkan Tuan Muda dan kekasihnya sudah dua puluh tahun lebih."

Ah iya, Malfoy –eh Draco hampir empat tahun diatas umurnya. Kalau soal kekasihnya, yang Harry tau ia putri tunggal keluarga Granger. Salah satu keluarga dokter ternama yang tinggal di Crawley, gadis itu juga berbeda dua tahun darinya. Benar-benar anak bawang kau Harry, batinnya.

"Harry? Are you alright?" suara khawatir Li memecahkan lamunan pemuda bermata emerald itu.

"Ah iya, maaf aku melamun tadi. Tak apa Li, setidaknya masih ada Marlene. Ku dengar, ia yang biasa menjadi penyelamat para pelayan baru, eh?"

"Hihihi, itulah Marlene. Dia dan Nyonya Cissa sependapat tak perlu menakuti anak baru, harusnya mereka dibimbing bukan diintimidasi. Yaaa, semoga beruntunglah kau nanti."

Harry tersenyum mendengar ketulusan di suara Li. Dalam dua hari, ia hampir berhasil berbaur dengan seluruh pekerja. Meski Severus masih dan sepertinya akan selalu tampak seperti kelelawar tua pemurung. Yaaa, mungkin sudah bawaan dari lahirnya.

"Ya sudah, aku keluar dulu. Kau istirahat saja Harry, makan malam masih cukup lama dan keluarga yang lain juga masih beristirahat. Ah ya, jangan lupa nanti pakai seragammu, ok? Bye Harry," seru Li sambil keluar dari kamar rekannya tersebut.

Harry hanya geleng kepala melihat kelakuan Li yang hampir sama cerewetnya dengan Marlene, ditambah dengan aksen chinesenya –meski tak terlalu kentara- membuat gadis itu mudah dikenali. Matanya terarah ke jam klasik di atas meja, baru jam tiga sore, masih lama sekali sebelum makan malam.

'Mungkin aku bisa bermain dengan Alpha' dengan pikiran demikian, Harry keluar dari kamarnya menuju kandang besar Siberian kesayangan Tuan Muda. Untungnya ia memakai pakaian biasa, jadi tak perlu takut mengotori seragamnya.

Suara salakan anjing besar itu menyambutnya ketika berdiri tak jauh dari kandang besar dihadapannya. Tak perlu menunggu lama, seekor Siberian husky langsung "menyerangnya" hingga jatuh rata dengan tanah dan menjilati wajahnya penuh kehangatan.

"Ho, ho, ho. Sepertinya mood mu sedang baik kan, Alpha? Apa karena tuanmu sudah kembali, boy?" tanyanya sambil mengusap telinga anjing besar dihadapannya yang disambut salakan bersemangat.

Well- ada keuntungannya ia punya bakat menjinakan binatang.

-0-

Dari balik jendela tinggi lantai tiga manor tersebut, seorang pemuda berambut platina dan mata abu-abu yang hampir mendekati warna silver, baru saja terbangun dari tidur siangnya. Dialah Draco Lucius Malfoy, atau tepatnya Tuan Muda Draco. Sebenarnya ia masih mau mengistirahatkan tubuhnya setelah menempuh perjalanan jauh kemarin, tapi suara gonggongan anjing kesayangannya sukses membuatnya terbangun.

Segera saja ia bangkit dan membuka pintu besar yang mengarah ke balkon kamarnya. Ia jarang mendengar Alpha menyalak sedemikian kerasnya, menandakan anjing itu sedang senang. Hal yang jarang terjadi saat ia tak ada.

Matanya terbelalak melihat pemandangan dihadapannya. Disana, tepat ditempatnya biasa bermain dengan Siberian kesayangannya itu, seorang pemuda berambut hitam yang luar biasa berantakan tampak asik bermain lempar tangkap tanpa ada rasa takut sama sekali. Semakin aneh karena Alpha bukan binatang yang mudah dijinakan. Tapi, orang asing itu? Siapa dia?

Iris silvernya menajam berusaha mengamati lebih jelas sosok tersebut. Yang ia dapatkan hanya anak itu kemungkinan lebih muda tiga atau empat tahun darinya, memakai kacamata dan pakaian yang agak kebesaran dari ukurannya.

'Apa dia pelayan baru tersebut? Hebat sekali sudah bisa menjinakan Alpha'

Draco masih memperhatikan pemuda tersebut bermain dengan peliharaannya, sebuah pemandangan yang justru membuatnya merasa damai dan adanya kehangatan lain yang menjalar di benaknya, entah apa nama perasaan itu. Lama sekali rasanya ia melihat ada pelayan yang lebih muda darinya di Manor. Terutama pelayan laki-laki, bukan karena ia ada kelainan, tidak, Draco masih normal. Hanya saja, ia kadang ingin bertukar pendapat dengan seseorang yang lebih muda darinya.

Mungkin tak ada salahnya ia mencari tau tentang anak itu dari pelayan yang lain. Dan Draco pun masuk kembali ke kamarnya untuk berganti baju dan menemui salah satu pekerjanya.

-0-

Severus Snape, kepala pelayan keluarga Malfoy sejak lima belas tahun terakhir belum pernah mendapat kejutan seaneh ini selama bekerja disini. Bukan hanya pelayan baru disini baru lulus sekolah, tapi, ada banyak hal aneh lainnya dalam diri Potter itu.

Ia masih ingat ketika pertama kali melihatnya masuk ke ruang kerjanya. Auranya yang terkesan tenang, kelewat tenang malah untuk seusianya justru menimbulkan misteri tersendiri tentang pribadinya. Ditambah kemampuannya beradaptasi dengan pekerja yang lain, meski ia pelayan termuda disini juga semakin membuatnya berbeda. Dan jangan lupakan yang terpenting, kemampuannya untuk menjinakan bukan hanya satu tapi ketiga binatang kesayangan Tuan Mudanya sekaligus.

Serta, mata emerald itu. Perpaduan warna hijau yang tampak…asing. Tak terlalu terang maupun gelap, hanya saja, mata itu terkesan dalam dan menusuk. Mata yang selama ini dianggap sebagai gerbang dalam pribadi seseorang, indra yang paling mudah terbaca terutama oleh sosok Severus yang punya bakat observan tinggi. Justru tampak seperti peti besi yang menyembunyikan berbagai rahasia sang pemilik. Untuk kali ini, Severus tak bisa menebak sama sekali apa yang ada di pikiran pemuda itu.

Aneh. Sangat … misterius.

"Severus, kau sibuk?" suara berat yang amat familiar memutuskan obeservasinya atas sosok Potter tadi.

Ia berbalik dan mendapati anak tunggal keluarga Malfoy berdiri tak jauh darinya.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?" tanyanya formal.

"Jelaskan tentang anak baru itu." Perintahnya singkat.

Meski nadanya tenang, ia tau mana perintah yang harus langsung dilaksanakan dan mana yang bisa menunggu. Dan ia tau persisi siapa yang dimaksud oleh Draco. Jadilah ia, Severus Snape, menceritakan garis besar tentang sosok Harry Potter pada majikannya tersebut. Tanpa menyuarakan pendapatnya sendiri tentunya.

Draco mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Severus. Harry Potter ternyata namanya. Dan ia tak salah duga ketika ia menebak selisih umurnya, anak itu baru delapan belas tahun dan baru lulus sekolah. Tinggal bersama keluarga adik almarhum ayah baptisnya dan kehilangan kedua orangtuanya saat masih kecil.

Anak malang, batin Draco. Tapi, disaat bersamaan juga ia tak bisa menghilangkan perasaan aneh saat mengamati sosok Potter tersebut. Sama seperti Severus, baru kali ini ia menemui seseorang yang sulit dibaca bahkan dari bahasa tubuhnya.

".. dia akan hadir saat makan malam nanti untuk diperkenalkan secara resmi dihadapan Tuan Lucius dan Nyonya Cissa. Ada lagi yang bisa saya bantu?"

Draco menggeleng kepalanya singkat dengan tatapan datarnya, meski Severus tau ada ucapan terimakasih di sepasang silvernya itu. Ia pun berbalik dan kembali ke kamarnya, membunuh waktu dengan membaca buku tak ada salahnya kan?

-0-

"Jadi, kau baru lulus sekolah?" tanya Malfoy Sr. setelah membaca tuntas data diri Harry.

Harry, yang diapit Severus dan Marlene merasa agak tak nyaman karena keduanya yang lebih tinggi darinya menjaga kontak mata dengan sang majikan. Tak sedikitpun menunjukan ekspresi takut atau gugup.

"Iya Tuan Lucius."

"Kau kenal dengan keluarga Black?" tanyanya, ada nada kaget dalam suaranya.

"Sirius Black adalah ayah baptis saya. Setelah kematiannya saya tinggal dengan Regulus, adiknya," ungkap Harry tenang.

Keluarga Black dikenal sebagai pengusaha kelas menengah dengan produksi utamanya, furniture berkualitas tinggi. Usaha keluarga itu sempat terpuruk setelah kematian sosok Sirius sebelum mulai bangkit kembali. Dan biarpun sebenarnya kehidupan Harry terjamin ditangan pamannya, yang ia sandang adalah nama keluarga Potter. Ia mungkin sudah lama tinggal dibawah asuhan keluarga Black, kalau ia memulai usaha tetap nama Potter yang ia bawa. Karena itu ia rela kalaupun harus memulai dari bawah. Sebagai pelayan manor ini, misalnya.

"Potter ya? Apa kau tak bisa melepaskan kacamata mengerikanmu itu?" cibir Lucius.

"Maaf Tuan, saya sudah memakainya sejak kecil. Penglihatan saya sama buruknya dengan kelelawar tanpa kacamata ini,"

Penjelasan Harry disambut tawa pelan satu-satunya wanita di keluarga Malfoy –Narcissa Malfoy- yang ada diruangan tersebut dan suara tersedak dari pemuda di sisi kiri Malfoy Sr. Harry menatap dua seniornya dan agak terkejut melihat rona merah tipis diwajah pucat seorang Severus Snape. Sebelum ia bisa meminta penjelasan, suara berat lainnya meski lebih ringan dibanding Malfoy Sr masuk ke pendengarannya.

"Jadi, kau yang akan mengurus binatang peliharaanku?" tanya pemuda di sisi kiri Lucius, Draco.

"Iya Tuan Muda,"

Draco yang sedari tadi fokus ke folder yang tadi dipegang ayahnya pun mengangkat wajahnya dan mendapati dua iris terhijau menatapnya dengan tenang. Bukan hanya ketenangan yang terpancar disana, tapi juga aura misterius yang sama kentaranya.

Ia mengamati Potter dengan pandangan penuh perhitungan. Rambut hitam yang ternyata lebih berantakan setelah dilihat dari jarak dekat, kacamata bulat tebal, mata hijau cemerlang sewarna emerald dan badan yang memang kecil untuk remaja seumurnya. Makin menguatkan kesan anak bawang pada dirinya.

"Apa kau tak mengenal kegiatan yang namanya menyisir rambut? Bahkan bulu Alpha masih lebih teratur dibandingkan rambutmu itu," sindir Draco tajam. Ia hampir tersedak untuk kedua kalinya ketika mendapati reaksi pemuda itu hanya tersenyum sekilas. Jika orang lain yang mendengar sindirannya tadi pasti sudah langsung menyerangnya dengan brutal. Tapi, tidak dengan Potter.

"Mohon maaf sekali lagi Tuan Muda, tapi rambut saya memang tidak pernah berteman akrab dengan yang namanya sisir. Setidaknya, saya beruntung kalau ternyata bulu Alpha jauh lebih teratur dibanding rambut saya, jadi cukup saya yang menanggung masalah ini sendiri." balas Harry enteng.

Tawa Narcissa pun pecah mendengar candaan Harry, dan siapa sangka diwajah datar Lucius Malfoy sebenarnya ia sedang menahan senyum yang mengancam keluar. Tidak setiap hari kan mereka bisa melihat pelayan membuat majikannya terdiam dan tertawa diwaktu bersamaan.

"Kau punya selera humor yang bagus, nak. Ku harap kau betah bekerja disini. Nah, sekarang kalian boleh kembali ke ruangan masing-masing," Narcissa pun akhirnya buka suara setelah berhasil mengendalikan tawanya.

Ketiga pelayan tersebut membungkuk hormat sebelum keluar dari ruang makan meninggalkan keluarga Malfoy untuk bercengkrama.

"Well, siapa sangka anak baru itu bisa tahan dengan cibiranmu Nak? Bahkan, bisa membalasnya dengan tenang," suara Narcissa masih kental akan tertawaan.

Lucius menatap putranya dengan mata berkilat jahil, suatu hal yang langka dalam sosok seorang Malfoy,"Aku setuju dengan ibumu Draco, biasanya orang lain langsung emosi atau malah menciut mendengar komentarmu itu. Ada yang aneh dengan Potter itu."

Untuk sekali ini, Draco membiarkan sisi kekanakannya muncul dihadapan kedua orangtuanya. Putra tunggal keluarga Malfoy yang biasanya menunjukkan ekspresi seminim mungkin itu berlaku childish hanya karena seorang pelayan? Anak baru pula? What's going on, here?!

"Ha ha, bukan hanya dia yang aneh. Sejak kapan Father dan Mother memilih membela seorang pelayan? Anak baru pula? Jangan-jangan dia pakai jampi pada kalian?" gerutu Draco sambil memanyunkan bibir bawahnya sedikit.

Narcissa yang baru tenang kembali meledak tawanya melihat kelakuan putranya itu,"Ayolah Nak, sedikit perubahan suasana tak ada salahnya kan?" candanya.

"Kau tau Cissa, aku juga tak keberatan dengan perubahan suasana disini. Mungkin, anak baru itu bisa meramaikan manor ini dengan selera humornya yang unik," ujar Lucius. Siapa pun dapat menangkap tanda kutip dalam kata unik yang diucapkannya tadi.

"Buktinya, ia bisa membuat Draco kita ngambek seperti anak berumur lima tahun. Sebuah rekor. Ckckck. Haruskah ku beri ia penghargaan Draco Lucius Malfoy?" tanya sang ayah penuh sarkasme.

"Terimakasih. Jika kalian tak keberatan, aku mau berkeliling manor sebelum larut. Night Father, Mother," tanpa menunggu jawaban keduanya, Draco sudah bangkit dan meninggalkan ruang makan. Melewatkan tatapan penuh arti yang tertuju pada putranya itu.

-0-

Seperti yang diucapkannya tadi, Draco memilih mengitari manor yang sudah menjadi tempat bernaungnya sejak ia lahir hingga kini. Ia hafal semua lorong yang ada disini, apa yang ada di balik setiap pintu tertutup itu, dan berbagai ornament lainnya.

Kakinya terus melangkah membawanya ke arah teras belakang manor, tempatnya berbincang dengan Severus tentang si Potter tadi. Lelah mulai merayapi tubuhnya hingga tanpa disadari ia sudah bersandar pada pagar penyangga teras yang terhubung dengan tangga pendek menuju ke halaman belakang Malfoy Manor nan luas.

Bayang-bayang sosok anak laki-laki berambut platina kecil bermain dihalaman memenuhi ingatannya. Bersama kedua orangtuanya, kadang bersama Alpha ataupun dengan pelayan yang lain. Meski kedua orangtuanya tak pernah terang-terangan menunjukkan kasih sayangnya, ia tau, tanpa sedikit pun ragu bahwa mereka amat menyayanginya. Dan saat-saat dimana mereka bisa berkumpul, menghabiskan waktu bersama terekam jelas dalam memorinya. Masih sangat jelas, dan selalu ada.

'Apa Potter ingat kapan terakhir kali bermain dengan kedua orangtuanya?' pertanyaan aneh itu menyusup masuk dalam pikirannya tanpa filter sama sekali.

Aneh. Aneh. Aneh. Kenapa ia jadi memikirkan anak itu? Ada yang salah dengan otakmu, Malfoy. Ya, ya sangat salah. Dan Potter itu penyebabnya.