Chocoaddicted Present...
My Psycho Student
Naruto © Masashi Kishimoto
Inspirited by Shiiba Nana Gorgeous Twins
Warning!: OOC, AU, GAJE, ABAL, TYPO and MISS-TYPO (semoga gak ada…), EYD YANG TIDAK KONSISTEN, JAYUS, GARING (KRIUK KRIUK)
DON'T LIKE? DON'T READ!
Chapter 2: My unfortunate day
.
.
.
Sakura berlari menuju gedung sekolah barunya, Konoha International Senior High School. Gadis ini terlihat kebingungan mencari-cari sesuatu. Ia pun tersesat hingga berada di depan toilet. Dari dalam toilet murid laki-laki keluarlah suatu makhluk kasat mata dengan rambut jabrik warna kuning kepirang-pirangan. Dia memerhatikan tingkah laku Sakura yang sangat tidak wajar.
-BUG-
"Hey! Kamu lagi apa?" bocah yang punya tanda garis tiga dimasing-masing pipi menepuk pundak Sakura atau lebih tepatnya memukul pundak Sakura, sampai yang dipukul pun meringis kesakitan.
Pelipis Sakura berkedut karena perbuatan bocah itu, dengan kesal dia membalikkan badannya, dan aha! Yang dia lihat adalah seorang siswa yang sangat manis. Sakura dan siswa itu saling berpandangan.
Si bocah duren pun nyengir ala rubah kebanggaannya, "Kau murid baru ya? Aku Naruto. Namikaze Naruto!"
"Hai! Aku Haruno Sakura. Panggil saja Sakura!" Sakura membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.
"Yo, Sakura-chan! Sedang apa di sini?" tanya Naruto.
"A-ano... aku mencari ruang kepala sekolah," jawab Sakura.
"Kau pasti sedang tersesat," kata Naruto. Sakura diam dan mengangguk kecil, "baiklah, akan kuantarkan ke kantor kepala sekolah," lanjutnya dengan cengiran khasnya.
"Arigatou, Naruto!" sahut Sakura sambil tersenyum manis membuat wajah Naruto memerah.
Mereka berdua berjalan bersisian. Sakura mendengarkan segala apa yang Naruto bicarakan meski ia sendiri tidak begitu mengerti dengan pembicaraan Naruto. Obrolan mereka pun membuat perjalanan tidak terasa hingga mereka sampai di depan sebuah ruangan yang di atas pintu ruangannya itu ada papan yang tulisannya, 'HEADMASTER OFFICE'. Naruto mengetuk pintunya tiga kali dan keluarlah laki-laki yang mirip dengan Naruto.
"Naruto! Rapikan seragammu! Otou-san tidak mau kalau otou-san dipanggil lagi sama Anko-sensei untuk ketigabelas kalinya hanya karena kau yang tidak bisa rapih dalam berseragam!" Lelaki di depan Sakura dan Naruto ini terlihat mengomeli Naruto yang seragamnya tidak rapi.
Sakura berpikir sejenak setelah mendengar kata-kata orang yang Sakura yakin adalah kepala sekolah, ternyata kepala sekolah tersebut adalah ayah Naruto. Sakura melirik sekilas ke ruangannya dan terdapat papan kecil di atas meja kerja kepala sekolah bertulis "Kepala Sekolah: Namikaze Minato".
"Hai, hai! Nanti aku rapikan. Aku mau ke kelas dulu, jaa ne Sakura-chan!" Naruto berlari sambil melambaikan tangannya sama Sakura. Karena ia terus ngeliat ke Sakura ia tidak tahu jika di depannya ada seseorang yang sedang berjalan ke arahnya dan Naruto pun sukses menabrak orang itu yang ternyata adalah Anko-sensei.
Anko yang melihat seragam Naruto tidak rapi pun memasang wajah horror. Naruto merasakan aura yang menyeramkan, ia langsung mengambil langkah seribu. Anko pun tidak tinggal diam, ia mengejar Naruto. Sementara Minato yang menyaksikan adegan itu hanya mengelus dada dan berdoa semoga anaknya tidak tertangkap Anko supaya ia gak datang lagi ke ruang BK karena perbuatan Naruto.
"Err… Minato-sensei, kelasku di mana ya?" tanya Sakura.
Minato menghela napas, "Ayo ikuti aku, Haruno," Sakura mengangguk dan mengikuti Minato berjalan.
o.O.o.O.o
Sakura dan Minato pergi menuju kelas barunya Sakura. Saat di depan sebuah kelas, tepatnya kelas sebelas IPS satu, Minato mengetuk pintu dan keluarlah seorang guru berambut putih dan memakai masker.
"Ada apa, Minato-sensei?" tanya guru tersebut kepada Minato sambil membawa sebuah buku berwarna oranye.
"Aku mengantar murid baru dan bla bla bla…" mereka berdua malah mengobrol panjang lebar sampai membuat Sakura menguap untuk yang ketiga kalinya.
Sakura mengintip lewat celah-celah pintu ternyata kelas tersebut sudah seperti kapal pecah. Ada siswa yang main kejar-kejaran, mengobrol, makan dan masih banyak lainnya.
"Ya sudah Kakashi, aku kembali ke kantorku," Minato menepuk bahu Sakura pelan dan pergi dari depan kelas itu.
"Ayo kita masuk Sakura," Kakashi membuka pintu kelas yang sedikit tertutup itu dan Sakura mengekorinya dari belakang. Seketika itu juga kelas langsung diam.
"Anak-anak, kalian mendapatkan teman baru. Nah, perkenalkan dirimu!" perintah Kakashi pada Sakura, lalu ia duduk lagi di bangku guru dan membaca buku yang dia baca dengan serius dan kadang-kadang dia ketawa sendiri. Sakura dibuat sweatdrop melihat tingkah laku gurunya.
"Perkenalkan aku Haruno Sakura! Aku suka bahasa inggris dan ingin kuliah di Harvard University. Sekian perkenalan dariku!" seru Sakura dan membungkukkan badannya dengan semangat.
"Salam kenal Sakura!" seru semua murid di kelas itu dengan semangat pula.
"Nah, Sakura kau duduk di belakang Yamanaka Ino," yang bernama Yamanaka Ino pun mengangkat tangannya dan Sakura berjalan menuju tempat duduk yang ada di belakangnya.
"Salam kenal, Sakura. Aku Yamanaka Ino, panggil Ino saja," Ino menghadap ke arah meja Sakura.
"Hai! Salam kenal, Ino," Sakura tersenyum lebar.
o.O.o.O.o
Bel pulang sekolah pun sudah berbunyi, Sakura dan Ino langsung beranjak menuju ke depan gerbang sekolah untuk pulang.
Sakura langsung dekat dengan Ino, mereka seperti sahabat lama yang baru bertemu lagi. Mereka jadi dekat begini karena mereka punya beberapa kesamaan, sama-sama suka menggosip walaupun Sakura gak separah Ino, sama-sama suka bahasa inggris dan ini yang sangat Sakura sukai dari Ino, dan mereka sama-sama ceroboh, untuk bagian ini tidak ada yang bisa di banggakan.
Sampai di tempat parkir, Ino berpamitan sama Sakura karena ia mau pulang bersama pacarnya. Dan dapat Sakura lihat Ino berjalan ke sebuah motor besar yang di atasnya ada seorang murid laki-laki berkepala nanas yang sedang tidur.
"Shika-kun!" seru Ino dan berlari kecil menuju pacarnya itu, tapi ia malah tersandung batu yang lumayan besar dan mendorong motor pacarnya yang sedang distandar dua, lalu motor itu jatuh dengan menindih si pemilik motor dan Ino menindih si motor itu.
"Hahahaha!" Sakura tertawa melihat kecerobohan teman barunya.
Ino mencoba membantu pacarnya itu untuk berdiri dengan mengangkat stir motor itu, "Gomen, Shika-kun tapi kau sudah bangun kan?"
"Cih! Merepotkan," begitulah jawaban pacarnya Ino.
Dan ternyata Ino tidak kuat mengangkat motor besar itu dan dia malah terjatuh lagi di atas motor itu dan membuat pacarnya terjatuh lagi. Sakura yang melihat hal itu tidak mampu menahan tawa (lagi).
"Huahahahaha!" Ino memandang sebal pada Sakura, bukannya membantu temannya, Sakura malah menertawakan dia.
"Jidat lebar! Jangan menertawakan orang yang kena musibah! Nanti kau kualat!" Ino mencak-mencak pada Sakura.
"Ahahahaha, abisnya kalian berdua lucu sekali! Ya sudah pig, aku pulang duluan ya, Jaa!" Sakura melambaikan tangannya dan mengayuh sepedanya keluar dari sekolah.
Sakura tidak langsung pulang ke rumah tapi ia datang ke alamat rumah yang ditempel di pamflet kemarin waktu dia pulang dari toko servis komputer, dia memutuskan akan bekerja di rumah itu sebagai guru privat bahasa inggris.
Di sepanjang perjalanan Sakura terus tertawa mengingat kejadian bodoh Ino dengan pacarnya di parkiran sekolah tadi. Sampai-sampai ada nenek-nenek tua dan anak kecil yang mengira ia gila, tapi ia tidak peduli dan terus cengengesan sambil mengayuh sepeda, namun ia tidak fokus pada jalanan dan akhirnya…
-BRUG, SYUUUUNG, DUG, MEONG, GUK GUK-
Sakura nyungsep di tempat sampah yang terbuat dari beton, untung saja tempat sampah itu kosong jadi hanya jidat lebarnya saja yang benjol.
Sakura memegang jidatnya yang benjol, "Ittai!" Sakura meringis kesakitan.
Sakura segera berdiri dan melanjutkan perjalanan panjangnya, dan setelah dua puluh menit ia mengayuh sepeda, akhirnya Sakura sampai di sebuah rumah yang sangat besar sekali dan lebih mirip seperti sebuah istana dengan gambar kipas berwarna merah dan putih di pagar rumahnya. Sakura jawsdrop memandang rumah itu.
o.O.o.O.o
Sakura memencet bel yang ada disamping pagar. Lalu terdengar sebuah suara dari mesin penjawab di atas bel itu.
"Siapa?" tanyanya pada Sakura. Dan itu suara laki-laki.
"Aku liat pamflet di jalanan terus aku berminat untuk jadi guru privat bahasa inggris di sini," sahut Sakura sambil mendekatkan mulutnya di depan mesin penjawab itu.
"Silakan masuk…" dan pintu gerbang pun terbuka lalu Sakura masuk ke dalam rumah itu.
Mata Sakura memandang kagum dan juga aneh pada rumah ini. Di halaman parkir dekat garasi ada tiga buah mobil mewah berwarna hitam dan silver. Ada jalanan setapak yang menghubungkan ke rumah yang megah itu. Tapi yang membuat Sakura memandang aneh adalah sebuah air mancur yang ada di tengah-tengah taman bunga di depan rumah megah itu tapi patung air mancur itu adalah tiga buah tomat yang ukurannya dari kecil-sedang-besar. Padahal biasanya kan patung air mancur itu seperti patung little angel, ikan, atau bahkan dewi-dewi.
Sakura sampai di depan pintu dan ia mengetuk pintu itu dan muncullah seorang wanita berambut biru pendek dengan bunga kertas di rambutnya, "Kamu pasti yang mau ngelamar jadi guru privat itu kan?" Sakura mengangguk, "ayo masuk!"
Sakura masuk ke dalam rumah itu dengan megekori wanita tadi. Mereka sampai di sebuah ruangan besar dengan sofa berwarna cokelat. Di ruangan itu ada sebuah rak besar yang berisi buku-buku tebal, di sampingnya ada jendela besar yang terbuka lebar sehingga udara dapat masuk dengan mudah ke ruangan itu.
Seorang laki-laki berambut hitam yang diikat satu sedang menghadap ke jendela itu sehingga membelakangi Sakura.
"Itachi, nih orangnya udah dateng," kata wanita tadi dan menghadap Sakura, "namaku Konan, kamu?"
"Haruno Sakura, panggil saja Sakura, nee-chan," sahut Sakura.
"Baiklah, semoga beruntung, Sakura," Konan menepuk bahu Sakura pelan dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
Laki-laki itu membalikkan badannya menghadap Sakura. Dapat dilihat oleh Sakura sepasang mata onyx yang gelap, dan dua buah garis tegas di wajahnya yang tenang itu.
Itachi tersenyum pada Sakura, Sakura pun membalas senyumannya dengan semanis mungkin agar dirinya ini dapat dengan mudah diterima kerja sebagai guru privat di rumah itu.
"Jadi, siapa namamu?" tanyanya dengan memincingkan matanya seolah tidak percaya bahwa gadis kecil di depannya adalah seseorang yang memiliki toefl diatas lima ratus. Sakura menelan ludahnya.
"Ha… Ha… Ha…" Sakura terabata-bata menjawab pertanyaan Itachi. Itachi menautkan alisnya dan berjalan mendekati Sakura.
"Gak usah gugup begitu. Santai aja…" Itachi memegang kedua bahu Sakura dengan tersenyum lembut, "Jadi, namamu siapa, anak manis?" tanyanya lembut.
Sakura menggeleng dan berusaha melepaskan tangan Itachi dari bahunya, tapi Itachi malah makin kencang memegang bahu Sakura.
Sakura mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Itachi, "Relaks, anak manis. Jangan takut ya…" ujar Itachi dengan wibawa.
"Ha… Ha… Ha… Hatchi!" Sakura bersin tepat di depan muka Itachi sehingga menghasilkan banjir di mukanya Itachi yang tampan itu.
Hening…
Hanya dua bola mata onyx yang terus berkedip-kedip menatap Sakura. Sakura hanya terus tersenyum dengan sedikit dipaksakan. Sejenak inner Sakura menilai bahwa orang di depannya ini memiliki karismatik, tapi kenapa Sakura malah bersin di depan muka orang ini? Mungkin surat lamaran kerja Sakura nanti langsung disobek-sobek sama orang yang menatap dirinya ini.
Sakura menelan ludahnya lagi. Dia benar-benar sangat takut dan gugup sekarang. Itachi pun tidak melepas pegangannya di bahu Sakura dan belum membersihkan cipratan ingus dan saliva Sakura yang menempel di wajahnya.
"Kyaaaaa! Ternyata kau itu manis sekali!" seru Itachi sambil berhambur memeluk tubuh kecil Sakura.
Sakura sweatdrop merasakan pelukan Itachi yang bisa meremukkan badannya itu.
"Itachi nii-chan, aku gak bisa napas," muka Sakura sudah memerah karena paru-parunya seperti terjepit sehingga membuatnya kesulitan menghirup gas oksigen yang jumlahnya tak terbatas.
Itachi segera melepaskan pelukannya, matanya berbinar-binar menatap mata emerald Sakura. Sakura langsung mencabut lagi pemikirannya yang tadi menganggap orang di depannya ini mempunyai karismatik yang tinggi.
Itachi menyuruh Sakura duduk di sofa cokelat di tengah ruangan itu. Dia segera membersihkan mukanya yang disembur Sakura tadi dengan lap meja yang ada di bawah meja. Mata Itachi terus memancarkan kilauan yang berlebihan saat memandang Sakura. Sakura jadi merasa risih juga diperhatikan seperti itu.
"Ehem Itachi nii-chan, aku mau melamar—"
"—kau mau melamar adikku? Aku terima dengan senang hati! Oh senangnya jika mempunyai adik ipar semanis dirimu…" Sakura sweatdrop mendengar omongan Itachi yang meracau itu.
"Bukan Itachi nii-chan, aku mau melamar pekerjaan jadi guru privat Bahasa Inggris,"
"Bukan melamar adikku ya? Yaaah…" Itachi menunduk lesu.
Saat Sakura hendak menyerahkan sertifikat toefl-nya tiba-tiba Itachi berteriak, "Konan! Buatin minum buat Sakura-chan dong!"
Itachi kembali memandang Sakura, "Kau kelas berapa Sakura-chan?"
"Kelas dua SMA nii-chan," jawab Sakura dengan senyum manis.
Tidak lama kemudian datanglah Konan dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya ada sebuah teko kecil dan dua buah cangkir berwarna perak. Dan meletakkannya di atas meja di depan Itachi dan Sakura.
"Diminum dulu, Sakura-chan," Sakura mengangguk dan meminum teh yang telah dituangkan Itachi ke dalam cangkirnya.
"Itachi, lu jangan seenaknya nyuruh-nyuruh gue! Lu kira gue pembantu apa?" omel Konan pada Itachi.
"Ya maaf Konan, lu kan tahu pembantu di rumah gue lagi pada liburan semua,"
Konan menghela napas panjang dan pergi lagi entah kemana.
Untuk kedua kalinya Sakura mau menyerahkan map yang berisi sertifikat toefl-nya, tiba-tiba ponsel Itachi berbunyi.
"Tunggu sebentar ya," Sakura mengangguk.
Sakura melemparkan pandangannya memandang isi ruangan itu. Sangat hangat berada di ruangan itu karena terdapat sebuah tugu perapian di sana.
Itachi sudah kembali lagi. Dia kembali duduk di depan Sakura, dan untuk ketiga kalinya Sakura mau menyerahkan map sertifikat itu, tapi Itachi tiba-tiba duduk di samping Sakura.
Sakura meremas mapnya, 'Sialan nih Itachi nii-chan, masa aku dikacangin!' inner Sakura marah-marah.
"Sakura-chan, jidatmu kenapa?" tanyanya dengan memerhatikan jidat Sakura yang benjol dan membiru.
"Tadi aku jatuh, nii-chan, tapi gak apa-apa kok," jawab Sakura selembut mungkin.
"Kisame! Kisame! WOY KISAME! BUDEK LU YE?" Itachi berteriak-teriak di samping telinga Sakura membuat Sakura dengan refleks menutup telinganya itu.
'Buset dah Itachi nii-chan gak bisa apa ya gak teriak di depan kuping orang? Dasar keriput!' inner Sakura mengomel dan merutuki Itachi.
Seorang pria yang mukanya seperti ikan hiu pun datang, "Ada apaan sih? Gue lagi sibuk tau!"
"Sibuk ngapain sih, lu?" tanya Itachi sewot/
"Ngasih makan ikan-ikan gue, lah!" sahut Kisame tak kalah ngotot.
"Itu gak penting! Sekarang lu cepat ambilin kotak obat!" perintah Itachi.
"Enak aja lu nyuruh-nyuruh gue! Lu kira gue babu lu?" tolak Kisame sambil nunjuk-nunjuk Itachi pake pedang yang tadi tersampir di punggungnya.
"Kalau kaga cepet lu ambilin, gue pecahin akuarium si Riza, ikan arwana kesayangan lu!" ancam Itcahi.
"Sialan lu maennya anceman. Oke oke, gue ambilin!" Kisame pun pergi mengambil kotak obat.
Tidak sampai lima menit Kisame mengambil kotak obat, ia sudah balik lagi dan menyerahkan kotak obat itu sama Itachi. Itachi membuka kotak obat itu dan mengobati luka Sakura dengan obat cair yang bisa mengurangi pembengkakkan dan warna biru di jidat luas Sakura.
"Arigatou gozaimasu, Itachi nii-chan," ucap Sakura. Itachi hanya tersenyum menjawabnya.
Lagi, untuk keempat kalinya Sakura hendak menyerahkan sertifikat toefl-nya pada Itachi, 'Kalau ada penghalang lagi, aku gak akan segan-segan shannaro Itachi nii-chan sampe Nagasaki,' innernya mengeluarkan dua buah tanduk berwarna merah.
"Apa ini Sakura-chan?" tanya Itachi tanpa menyentuh map itu dan hanya melihatnya.
"Sertifikat toeflku, nii-chan," ujar Sakura dengan senyum yang amat sangat teramat sungguh terlalu dipaksakan.
"Tidak perlu, Sakura-chan. Aku percaya padamu kok. Nah ayo aku perkenalkan dengan adik-adikku, sekarang mereka sedang ada privat kesenian," ujar Itachi enteng tanpa merasa bersalah sedikit pun hingga tanpa dia ketahui Sakura sudah meremas-remas mapnya dan berniat memakan map itu saking kesalnya.
o.O.o.O.o
Seorang pria berambut emo berwarna hitam kebiru-biruan dan pria satunya lagi dengan mata yang sama namun rambutnya lebih berwarna hitam tanpa ada biru-birunya, mereka sedang duduk di depan meja putar yang di atasnya terdapat tanah liat. Mereka menginjak pegas di bawah meja dan membentuk tanah liat itu dengan telaten lewat jari-jarinya. Sementara seorang laki-laki berambut pirang yang rambutnya itu diikat kuda berdiri di depannya memperhatikan murid-muridnya bekerja.
Tok tok tok…
Terdengar pintu ruangan itu di ketuk, lalu si pria pirang itu membuka pintu dan melihat Itachi dan Sakura yang berdiri di depan pintu itu.
"Ada apa un?"
"Aku cuma mau memperkenalkan guru bahasa inggris yang baru pada adik-adikku," Itachi melirik Sakura dan pria pirang tadi langsung mengerti.
"Perkenalkan un, aku Deidara un," Deidara membungkukkan sedikit kepalanya.
'Ini cewek apa cowok? Tapi suaranya cowok. Tapi muka dan gayanya kayak cewek. Eh? Dia mirip ino! Hahahaha,' inner Sakura tertawa geli sedangkan aslinya sedang berusaha menahan tawanya.
"A-Aku Haruno Sakura, err—aku memanggilmu nii-chan atau sensei?" padahal innernya bilang, 'Nii-chan atau nee-chan?'
"Panggil saja nii-chan, yang memanggilku sensei hanya adiknya Itachi, itu juga kalau di kelas aja un," tutur Deidara, "ya sudah, kalian masuk aja un," lanjutnya.
Sakura, Itachi dan Deidara masuk ke dalam ruangan itu. Di dalam ruangan itu terdapat tiga meja dan tiga kursi. Sepasang meja-kursi terdapat di dekat white board dan dua pasang lagi di depan white board yang jaraknya agak jauh dari white board dan meja yang di dekat white board—bayangkan saja ini seperti di dalam kelas yang ada di sekolah tapi bedanya cuma ada meja guru sama meja murid yang cuma ada tiga.
Ada sebuah rak buku besar di bagian belakang ruangan. Di sampingnya ada dua buah jendela besar yang tertutup oleh gorden putih yang dilapisi warna biru. Ada beberapa lukisan yang dipajang di dinding ruangan. Ada sebuah buffet berwarna cokelat yang di atasnya ada beberapa pot bunga dan keramik-keramik berwarna-warni.
Ruangan di dalam sini sangat sejuk karena ada sebuah AC di atas jendela. Ketika masuk ke dalam ruangan ini juga gak ada satu pun sampah yang biasa kita temukan ketika kita di dalam kelas yang ada di sekolah kita, ruangan itu begitu bersih, tidak ada debu sedikit pun.
Mata Sakura menangkap sesosok laki-laki berambut raven yang sedang serius membentuk tanah liat, sepertinya dia akan membuat sebuah mug, atau pot bunga? Sakura tidak mengerti apa yang ia buat karena jujur saja Sakura tidak begitu memahami tentang seni, otaknya sudah dipenuhi verb, grammar, tenses, etc, yang ada kaitannya dengan English and English.
Sakura terus memandang sosok yang begitu menikmati kegiatannya, sampai dia tertegun melihat sosok tersebut. Bentuk wajah yang sempurna dan begitu keren dengan keseriusannya membuat sebuah mahakarya. Sakura menelan ludahnya melihat makhluk ciptaan Tuhan yang terlihat amat rupawan itu. Bahkan matanya tidak berkedip barang sekali pun.
"Sasuke-chan, Sai-chan, perkenalkan ini guru bahasa inggrismu yang baru," Itachi menepuk bahu Sakura membuat Sakura kaget.
Sasuke dan Sai menengadahkan kepalanya ke arah depan, melihat siapa orang-orang yang ada di depan kelas kecil itu. Matanya tertuju kepada seorang gadis yang badannya kecil sedang memandangnya tanpa berkedip. Sakura pun terkesiap melihat dua orang kembar tapi beda di depannya ini. Yang satu mukanya datar tanpa ekspresi. Yang satu selalu tersenyum sampai-sampai matanya aja gak keliatan alias merem.
Akhirnya onyx bertemu emerald. Sang pemilik emerald segera mengalihkan pandangannya ke arah lain seolah-olah tidak berani menatap si onyx yang begitu tajam dan menusuk.
"Kau menyuruh anak kecil mengajariku? Yang benar saja," Sasuke berkata sambil terus melakukan kegiatannya, membentuk tanah liat menjadi sebuah mahakarya sang tuan bermata onyx.
Sakura yang mendengar bahwa dirinya disebut anak kecil tidak dapat menahan kesalnya, "Hey chicken butt! Jangan sembarangan ya kalau bicara! Bisa saja aku ini lebih tua darimu!"
Sasuke menghentikkan kegiatannya setelah mendengar dirinya dipanggil dengan panggilan yang sangat tidak keren sama sekali. Dia menatap emerald Sakura dengan tatapan horor, sedangkan Sakura menelan ludahnya saat merasakan aura menyeramkan berwarna merah yang keluar dari diri Sasuke.
"Apa kau bilang tadi, forehead?" tanya Sasuke dengan datar namun matanya menunjukkan ketidaksukaan.
"Aku punya nama, Haruno Sakura! Dan suka gak suka, aku yang akan jadi gurumu, jadi panggil aku sensei!" seru Sakura dengan kesal.
"Kita lihat saja nanti apa kau sanggup menjadi guruku?" Sasuke menyeringai.
"Ah… Sasuke, menurutku dia gak akan sanggup. Itachi-nii, kenapa anak jelek ini yang jadi guru kami?" tanya Sai dengan tersenyum palsu.
Urat kemarahan di jidat Sakura sudah berkedut-kedut. Baru hari perkenalan saja dia sudah dibikin kesal kayak begini. Gimana ke depannya?
"Hey kau mayat hidup! Jangan menghinaku ya!"
"Aku gak menghina. Aku cuma jujur," ucapnya watados.
"Sasuke-chan, Sai-chan, kalian jangan begitu sama Sakura-chan! Jangan menilai orang lain dari luarnya aja ya!" Itachi menasehati kedua adik kembarnya itu. Sakura mangguk-mangguk sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ya emang sih Sakura-chan badannya kecil dan jidatnya lebar," lanjut Itachi.
NYUT!
'Sialan nih Itachi niichan! Udah dibawa terbang tinggi eh dijatohin juga,' inner Sakura mengepalkan tangannya.
Sasuke dan Sai mendengus kesal mendengar nasehat dari anikinya, tapi namanya juga Sasuke dan Sai, kembar yang selalu membuat masalah. Mereka tidak akan menurut sama aniki-nya itu. Mereka malah tersenyum like a devil, entah apa yang direncanakannya dalam otaknya.
TO BE CONTINUE…
A/N: hosh… hosh… hosh… Yosh! Akhirnya saya bisa update chapter kedua fict ini! Mian heyo kalau masih banyak kekurangan. Maaf juga ya kalau charanya agak saya bikin nista. Apa-apaan itu masa Minato-sama jadi narsis gitu dan lebay? Saya gak maksud bashing kok, cuma buat hiburan aja. Jadi kalau ada fans yang kebetulan charanya saya nistakan, saya mohon maaf sebanyak-banyaknya *bungkuk-bungkuk sampe encok*. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat saya harapkan. Tinggal klick review dan tinggalkan kritik dan saran readers semua.
Apa ya yang direncanain Sai dan Sasuke buat Sakura? Tunggu kejutannya di chapter tiga ya! *emangnya ada yang mau baca?* krik krik krik… akhir kata, wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh! Review! Fufufu…
