Leeteuk tersenyum lembut pada seluruh dongsaengnya. Dilihatnya Ryeowook dan Kibum yang berjalan ke arahnya dan Heechul. Mengerti maksud kedua magnae itu, mereka berdua pun mengucap sebuah permintaan sebelum meniup lilin di kue tart tersebut.

Leeteuk menutup kedua matanya setelah Ryeowook menjauh. Hari ini ia benar-benar merasa lelah. Kepalanya juga terus berdenyut sejak tadi. Ah, Leeteuk baru ingat, belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalam perutnya sejak pagi.

"Hyung, ayo, dimakan kuenya."

Suara Donghae membuat Leeteuk membuka matanya. Baru beberapa saat Leeteuk membuka matanya, ia merasakan sekelilingnya berputar. Setelahnya hanya gelap yang Leeteuk lihat.

Sapphire Blue House

Chapter 2

Genre : Brothership

Rating : Fiction T

Cast : Ryeowook, Yesung, Leeteuk, Eunhyuk, Sungmin and other Member.

Disclaimer : All them belong to themselves and GOD.I own only the plot.

Warning : Typos, Geje , Don't like it? Don't read it please.

Summary : "Kita akan bersama-sama menjaga Leeteuk Hyung."/ Namun belum sampai tangannya meraih ponsel tersebut, ada sesuatu yang terasa mendesak keluar dari perutnya./ "Leeteuk Hyung!"/ "Mianhae, Hyung, kejutan yang kami berikan malah berakhir dengan terbaringnya Hyung disini."

"Ya! Hyung, irreona! Kau harus memakan kue ini baru kau boleh kembali tidur," Donghae berucap sambil mengguncang pelan bahu Leeteuk.

Yesung yang melihat hal tersebut langsung menghampiri salah satu dongsaeng childishnya itu.

"Ada apa, Donghae-ah?"

"Sepertinya Leeteuk Hyung tertidur. Padahal kan aku ingin Leeteuk Hyung mencicipi kue ini terlebih dahulu," Donghae berkata sambil mempout bibirnya.

Yesung tersenyum kecil dan mengacak pelan rambut Donghae.

"Kau ini. Wajar kan kalau Leeteuk Hyung tertidur. Kau sendiri tahu selelah apa Leeteuk Hyung. Apalagi sejak kemarin kita sudah membuatnya pusing. Biarkan Leeteuk Hyung beristirahat. Sebaiknya kau berkumpul kembali dengan yang lain. Aku akan membawa Leeteuk Hyung ke kamarnya."

Donghae menurut. Ia berjalan menghampiri penghuni Sapphire Blue House lainnya. Membiarkan Yesung menggendong tubuh Leeteuk dan membawanya ke kamar. Yesung sedikit mengernyit saat tak mendapati pergerakan apapun yang ditunjukkan Leeteuk. Tapi Yesung langsung menepis semua praduga yang ia rasakan. Mungkin Leeteuk Hyung sangat lelah, pikirnya.

Setelah yakin Leeteuk merasa nyaman, Yesung meninggalkan ruangan yang penuh dengan nuansa putih tersebut. Warna favorit Leeteuk.

"Kemana perginya yang lain?"

"Kembali ke kamar, Hyung. Sudah dini hari, mereka memutuskan untuk langsung istirahat."

Yesung mengangguk mendengar penjelasan Sungmin. Ia pun berjalan menghampiri Sungmin dan Ryeowook yang tengah membereskan sedikit kekacauan yang mereka buat.

"Apa Leeteuk Hyung baik-baik saja, Hyung?"

Yesung mengarahkan pandangannya pada Ryeowook. Ia tersenyum kecil dan mengangguk.

"Ne, kau tenang saja, Ryeowook-ah. Sepertinya Leeteuk Hyung hanya kelelahan."

"Syukurlah jika memang seperti itu. Aku tak ingin Leeteuk Hyung jatuh sakit."

Sungmin mengangguki perkataan Ryeowook. Biar bagaimanapun, Leeteuk sudah mereka anggap seperti Hyung mereka sendiri. Tak ada satupun dari mereka yang ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Leeteuk.

"Kita akan bersama-sama menjaga Leeteuk Hyung."

Sungmin dan Ryeowook mengangguk. Mereka bertiga pun kembali melanjutkan kegiatan mereka. Setelah semua selesai, mereka kembali ke kamar mereka masing-masing.

~SBH~

Seorang namja terlihat bergerak gelisdah di atas tempat tidurnya. Keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya. Bahkan piyama yang ia kenakan pun sudah terlihat basah.

Suara erangan pelan terdengar keluar dari bibir pucat itu saat merasakan sakit yang teramat di perutnya. Kedua tangan namja itu bergerak mengcengkram perutnya. Bermaksud mengurangi rasa sakit yang ia rasakan.

Kedua mata namja itu terbuka secara perlahan. Ia menggigit pelan bibir bawahnya ketika rasa sakit itu kian mendera bagian perutnya. Nafasnya tersengal-sengal menahan sakit yang ia rasakan. Parasnya pun semakin terlihat pucat.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, namja itu bermaksud meraih ponselnya yang tergeletak di meja nakasnya. Namun belum sampai tangannya meraih ponsel tersebut, ada sesuatu yang terasa mendesak keluar dari perutnya.

"Huuueeekkk."

Kedua bola mata namja itu membesar sejenak saat melihat warna merah yang menodai telapak tangan serta selimutnya putihnya. Belum lagi perutnya yang terasa semakin sakit.

Semua yang ia lihat menjadi buram dan samar-samar. Kepalanya terasa begitu sakit seperti ditusuk jarum. Pandangannya semakin kabur. Sebelum akhirnya semua kembali menjadi gelap. Kedua mata yang baru beberapa saat lalu terbuka kembali menutup.

Bruuukkk!

Meninggalkan suara berdebam yang cukup keras.

~SBH~

Bruuukkk!

Ryeowook yang baru saja akan melangkahkan kakinya menuju dapur tersentak kaget saat mendengar suara benda terjatuh. Ia melirik ke arah salah satu kamar, tempat suara itu berasal. Dengan langkah pelan Ryeowook menghampiri kamar tersebut. Begitu sampai di depan pintu kamar, Ryeowook mengetuk pintu kamar tersebut pelan.

"Hyung," panggil Ryeowook.

Hening. Tak ada jawaban yang terdengar. Dengan sedikit gemetar, Ryeowook meraih kenop pintu kamar tersebut. Saat pintu terbuka, Ryeowook langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dan Ryeowook hampir berteriak saat melihat sosok yang sangat dikenalinya berada di sisi tempat tidur dengan kondisi yang terlihat mengkhawatirkan.

"Leeteuk Hyung!"

Ryeowook berlari ke arah Leeteuk. Wajah Leeteuk terlihat seputih kertas. Terdapat noda darah pada piyama yang ia kenakan. Selain itu, wajahnya pun dipenuhi oleh keringat yang sepertinya tak henti keluar. Ditambah dengan tubuhnya yang terasa begitu dingin.

"Hyung, irreona, Hyung," Ryeowook berkata dengan suara parau. Ia sangat khawatir dengan keadaan Hyung tertuanya itu. Ia merasa takut. Air mata mengalir deras dari kedua mata Ryeowook.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ryeowook meraih ponsel di saku celana yang ia kenakan. Mendial nomor salah seorang yang ia yakin dapat membantunya.

"Hyung... Leeteuk Hyung..."

"..."

"Aku ada di kamar Leeteuk Hyung."

"..."

"Ppalli, Hyung. Aku takut."

"..."

Ryeowook langsung memutuskan sambungan telponnya. Tidak sampai 10 menit, orang yang Ryeowook hubungi telah sampai di kamar Leeteuk.

"Ada apa, Ryeowook-ah? Apa yang terjadi dengan Leeteuk Hyung?"

"Aku tak tahu, Hyung hiks. Saat aku melihatnya, Leeteuk Hyung sudah seperti ini."

"Ssssttt, uljima. Lebih baik kau rapikan tempat tidur Leeteuk Hyung agar Leeteuk Hyung dapat berbaring disana. Aku akan menghubungi dokter keluarga Leeteuk Hyung."

Ryeowook menurut. Ia membereskan tempat tidur Leeteuk. Mengganti selimut Leeteuk, yang baru ia sadari terdapat noda darah. Setelah rapi, dengan bantuan Yesung ia membaringkan Leeteuk di tempat tidur. Mencari pakaian Leeteuk yang lain untuk mengganti piyama Leeteuk yang basah.

"Bagaimana, Hyung?" tanya Ryeowook yang melihat Ryeowook menyudahi kegiatannya.

"Jung uisanim akan datang dalam 30 menit. Sebaiknya kau siapkan sarapan dan juga bubur untuk Leeteuk Hyung. Biar aku yang menunggu Leeteuk Hyung disini."

Lagi-lagi Ryeowook mengangguk. Sebelum meninggalkan kamar Leeteuk, Ryeowook menghampiri Leeteuk.

"Aku berharap kau baik-baik saja, Hyung. Aku menyayangimu."

Saat sampai di pintu kamar Leeteuk, terlihat Kangin berdiri disana. Ryeowook mengerjapkan matanya melihat keberadaan Kangin.

"Ada apa dengan Leeteuk Hyung, Ryeowook-ah."

Ryeowook menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Kangin.

"Aku juga tidak tahu, Hyung. Aku tadi hanya melihat Leeteuk Hyung tergeletak dengan noda darah mengotori piyamanya."

Raut cemas langsung terpancar di wajah Kangin. Dan tanpa mengucapkan apa-apa, Kangin langsung berjalan masuk ke kamar Leeteuk.

~SBH~

"Kamsahamnida, Jung Uisanim," ucap Yesung sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Nde. Tolong untuk memperhatikan pola makan Leeteuk-ssi. Ia tidak boleh terlambat makan dan mengalami stres. Maag yang diidap Leeteuk-ssi sudah sangat kronis. Leeteuk-ssi harus benar-benar menjaga pola makannya."

"Kami akan mengingatnya, Uisanim."

"Kalau begitu, saya permisi. Jika ada apa-apa, silahkan hubungi saya."

Yesung mengangguk dan berjalan mengantar Jung uisa keluar. Meninggalkan Kangin sendiri menemani Leeteuk.

"Mianhae, Hyung, kejutan yang kami berikan malah berakhir dengan terbaringnya Hyung disini."

Kangin menggenggam tangan Leeteuk lembut. Sesekali tangannya bergerak menghapus bulir keringat yang membasahi pelipis Leeteuk.

"Kau tidak ada jadwal kuliah hari ini?"

Kangin menolehkan kepalanya ke asal suara. Dilihatnya Yesung berjalan menghampirinya.

"Aku baru ada jadwal setelah makan siang nanti, Hyung."

"Ryeowookie sudah menyiapkan sarapan, lebih baik kita sarapan lebih dulu. Jangan sampai kau juga jatuh sakit."

"Tapi Leeteuk Hyung …."

"Jung uisa sudah memberi obat pengurang rasa sakit. Kau tenang saja."

kangin menghela nafas pelan. Dengan berat hati, ia beranjak dari duduknya.

"Percayalah. Leeteuk Hyung akan baik-baik saja."

"Aku khawatir, Hyung. Hyung juga dengar sendiri kan apa yang dikatakan Jung uisa. Kondisi maag Leeteuk Hyung sudah sangat kronis. Aku takut terjadi sesuatu pada Leeteuk Hyung."

"Kita akan menjaga Leeteuk Hyung bersama. Seperti Leeteuk Hyung yang menjaga kita selama ini."

kangin mengangguk. Ia mengusap lembut tangan Leeteuk sebelum beranjak mengikuti langkah kaki Yesung.

~SBH~

Sosok namja itu masih terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Hanya saja wajahnya sudah tak sepucat tadi. Kedua matanya masih terpejam rapat. Sesekali terdengar erangan pelan keluar dari bibir namja itu. Keringat dingin juga masih membasahi wajahnya walau tak sebanyak tadi.

"Engh."

Perlahan kedua mata yang terpejam itu terbuka. Memperlihatkan kedua manik hitam yang sejak beberapa jam ini tersembunyi. Namja itu sedikit mengernyit saat merasakan sakit di perutnya.

"Hyung sudah bangun?"

Namja itu menolehkan kepalanya ke asal suara. Dilihatnya seorang namja imut tengah berjalan ke arahnya dengan membawa sebuah nampan. Namja imut itu menyunggingkan senyumnya ke arah namja tadi.

"Bagaimana perasaan Hyung? Apa sudah jauh lebih baik?"

Namja tadi membuka mulutnya. Tapi tak ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa kering.

"Ah, Hyung mau minum? Sebentar."

Namja imut tadi meletakkan nampan yang ia bawa dan mengambilkan sebuah gelas. Namja imut itu membantunya bangun dan meminumkan sedikit air.

"Gomawo, Ryeowookie."

Ryeowook tersenyum lembut dan mengangguk.

"Cha, Hyung harus makan dan meminum obat."

Walau sedikit bingung dengan perkataan Ryeowook, namja itu hanya menganggukkan kepalanya. Memakan suap demi suap makanan yang diangsurkan Ryeowook. Ia tetap menurut saat Ryeowook memberikan beberapa butir obat untuknya.

"Tadi obat apa yang kau berikan padaku?"

Ryeowook menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Leeteuk.

"Apa Hyung lupa kalau Hyung pagi tadi tergeletak tak sadarkan diri? Belum lagi bercak darah yang terdapat di piyama serta selimut Leeteuk Hyung. Jung uisa mengatakan agar Leeteuk Hyung lebih menjaga pola makan Leeteuk Hyung."

Leeteuk -namja tadi- mengangguk pelan mendengar perkataan Ryeowook. Ia ingat pagi tadi ia sempat muntah darah sebelum akhirnya kembali tak sadarkan diri.

"Mulai saat ini kami akan mengawasi pola makan Hyung. Aku juga akan mengurangi membuat masakan pedas dan juga asam untuk Leeteuk Hyung."

Leeteuk tersenyum kecil mendengar penuturan Ryeowook.

"Gomawo, Ryeowookie."

"Ne. Sekarang lebih baik Hyung istirahat lagi."

"Aku bosan berada di kamar,. Aku ingin keluar."

"Tapi, Hyung …."

"Jebal, Ryeowookie."

Ryeowook menarik nafas pasrah. Ia pun menganggukkan kepalanya, menyetujui keinginan Leeteuk. Dengan hati-hati Ryeowook membantu Leeteuk bangun.

"Aku bisa sendiri, Ryeowookie."

"Hyung yakin?"

Leeteuk mengangguk. Ryeowook pun membiarkan Leeteuk melangkah seorang diri sedangkan dirinya membawa keluar nampan yang tadi ia bawa.

~SBH~

Hari terus berlalu. Sudah satu minggu berlalu sejak Leeteuk jatuh pingsan. Dan selama satu minggu itu seluruh dongsaengnya benar-benar memperhatikan serta mengawasi waktu makan Leeteuk.

Suka ataupun tidak, Leeteuk harus menerima perlakuan kedua belas dongsaengnya. Ah, tapi sepertinya tidak semua dongsaengnya. Mengingat ada salah satu dongsaengnya yang bersikap sedikit berbeda. Hanya saja Leeteuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia sudah berjanji untuk tidak banyak memikirkan sesuatu yang dapat membuatnya stres.

Pagi ini Leeteuk sudah terlihat rapi. Mengingat kondisinya yang sudah jauh lebih baik, Leeteuk memutuskan untuk kembali beraktivitas.

"Rapi sekali, Hyung. Apa Hyung ingin ke kampus?"

Leeteuk tersenyum dan mengacak pelan rambut Ryeowook. Membuat si empunya rambut mempoutkan bibirnya kesal.

"Ne, aku ingin menemui dosenku. Kau kan tahu, karena sakit kemarin, aku belum sempat menemui dosenku."

"Apa Hyung yakin?"

"Ne. Kau tenang saja, Ryeowookie. Aku sudah sangat sehat."

Ryeowook hanya mengangguk mendengar penuturan Leeteuk. Ia kembali melanjutkan kegiatannya menata meja makan.

Derap langkah menuju meja makan membuat Ryeowook dan Leeteuk menolehkan kepala mereka. Terlihat Kyuhyun yang berjalan -setengah berlari- dengan terburu-buru. Pakaian yang ia kenakan pun masih terlihat sedikit berantakan. Membuat Leeteuk mengerutkan keningnya.

"Kau terlihat berantakan, Kyuhyun-ah," celetuk Leeteuk.

"Aku ada kuis pagi ini, Hyung. Dan aku hampir terlambat," ucap Kyuhyun sambil mencomot sepotong sandwich lalu menenggak segelas susu.

"Aku berangkat, Hyung," pamit Kyuhyun.

"Tunggu, Kyuhyun-ah."

Leeteuk merogoh kantung celananya.

"Pakai motorku. Kau terlambat, kan?"

"Tapi …."

"Kau akan semakin terlambat, Kyuhyun-ah."

Kyuhyun mengarahkan pandangannya pada Leeteuk. Sekilas ia memandang Ryeowook. Ryeowook tersenyum kecil dan mengangguk.

"Baiklah. Gomawo, Hyung. Aku berangkat Hyungdeul. Annyeong."

Leeteuk dan Ryeowook tersenyum kecil melihat tingkah Kyuhyun. Mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka. Sama sekali tak menyadari seseorang memperhatikan mereka sejak tadi. Dengan pandangan yang sulit diartikan. Kesal, marah, cemburu. Semua menjadi satu.

TBC

Author Note:

Annyeong. Mianhae saya baru bisa membawa lanjuutan dari ff ini. Udah lama banget, ya. Satu bula lebih. Jeongmal mianhae, chingu *bow. Nah, ini dia lanjutannya. Mian kalo pendek. Tadinya mau buat sekalian edisi bhirtday Kibum sama Yesung, tapi ternyata ga sempet. Jadi dirombak ulang deh.

Oke, saatnya bales review..

risna dayanti : mian, ne, di chap kemarin endingnya ga jelas.. saya khilaf *plak gomawo reviewnya chingu ^^

gyu1315 : ini next partnya ya.. mian bgt kalo lama *bow gomawo reviewnya ^^

as : gomawo, chingu.. saya emang buat ke brothership kok, saya ga jago bikin romance hehe.. ini next nya ya.. mian lama.. gomawo reviewnya ^^

motochika28 : ah, mungkin itu ff nya Kim YooJin-ssi, chingu, yg judulnya ELF House. Yang jelas sih ff ini beda sama yg itu. Kalo ELF House kan ada romance nya, kalo ini murni brothership. Gomawo reviewnya chingu ^^

SSungMine : hehe, mian ne, saya adalah Angels yang hobi menyiksa Teuki Oppa *dilemparAngels.. ne, ini dilanjut, gomawo reviewnya ^^

: ini udah lanjut, ya.. mian lama *bow gomawo reviewnya ^^

Raekyuminnie : ne, pasti akan dimunculin konflik utk tiap chapternya *diusahakan* gomawo reviewnya chingu ^^

sps jjm jhh : ZhouRy ya? Mungkin next bsa aku masukin.. hmm... sebenernya ini murni brothership, chingu, jd ga ada straight atau BL nya ^^

geelovekorea : tenang aja, saengie, saya jga ga suka ff sad ending, jd saya usahakan semuma ff saya happy ending ^^ tapi tetep nyiksa Teuki Oppa *plak gomawo reviewnya, saengi ^^