Yay~! Chapter 2 update! Pertama, Makasih buat Iin-chan cka you-nii ma diangel yang udah review fanfic ini, udah aku balas lewat PM!

Di chap ini Mamori bakal OOC sangat!

Enjoy~

. . .

Title : Mamori's Wish

Chapter 2 : The 'Target'

Story by : Hikari/T094 8145 always forever 13

Idea by : Hikari/T094 8145 always forever 13

Disclaimer : Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata

Alex's Wish by Elcy Anastasia

Pairing : HiruMamo (still far and main pair)

Genre : Fantasy, Romance.

Warning : Sebagian besar AU, GAJEness, ambil konsep cerita dari teenlit, misstypo (buat jaga – jaga), Mamori OOC (sangat mungkin), Yamato kumasukin di Deimon High School, beberapa OC, romance-nya gak kerasa karena romance-nya belakangan.

Saran : Siapkan mental sebelum membaca, setelah membaca fic ini, silakan banting hp atau laptop atau komputer yang digunakan untuk membaca fic aneh ini, silakan tekan tombol 'Back' untuk kembali ke hal sebelumnya.

Pesan : Semoga anda suka

Don't like don't read

=XXX=

Pemandangan navy blue terlihat di atas langit kota Deimon. Seorang gadis berambut auburn yang tadi tertidur mulai membuka matanya yang berwarna biru sapphire. Ia mengucek kedua matanya dengan kedua punggung tangannya. Ia melihat ke jam yang berada di samping tempat tidurnya. Pukul 05.40. Waktu yang cukup pagi untuk bangun tidur bagi para pelajar yang masuk sekitar pukul 07.30. Tapi, mungkin tidak bagi gadis ini.

Setelah melihat jam itu, ia langsung keluar dari kamarnya. Menuruni tangga dengan mengendap – endap, mungkin agar tak diketahui oleh para penghuni rumah. Ia lalu mandi dengan waktu yang cukup cepat untuk seorang gadis, 10 menit. Ia segera mengganti seragamnya tanpa menimbulkan suara yang terlalu keras. Blazer hijau, kemeja putih, dasi merah dan rok hijau dan sebuah celana legging hitam –yang sudah pasti bukan salah satu bagian seragamnya. Ia lalu menutup pintu kamarnya dengan pelan dan menuruni tangga rumahnya dengan pelan.

Ia berjalan lewat pintu belakang. Sepatunya sudah ia tenteng dari kamar. Ia kemudian mengenakan sepatunya dan berjalan mengendap – endap menuju halaman rumahnya.

"Mamo-chan! Cepat bangun! Sudah pagi!"terdengar suara seorang wanita menggema di seluruh rumah itu. Sementara gadis tadi tak mempedulikan teriakan itu.

"Mamo-chan! Cepat bangun!"teriak wanita itu lagi. Dan hasil yang ia dapat adalah sama, nihil. Gadis tadi lalu mengambil sebuah motor sport berwarna hitam. Ia lalu perlahan mengeluarkan motor itu.

"Mamo-chan!"suara wanita tadi kini terdengar jauh. Mungkin, ia sedang berada di atas, di depan kamar putrinya, Mamori.

Mamori sambil menuntun motor sport itu, ia melirik ke jendela ruang makan. Ia melihat seorang gadis berambut hitam panjang dengan mata biru yang sama dengannya sedang melahap sepotong roti tawar panggang. Gadis berambut hitam tadi refleks menatap gadis berambut coklat di luar.

"Mamo-neechan, oha-"

"Sshhhttt!"desis Mamori memotong perkataan gadis tadi sambil menempelkan jari telunjuknya. Gadis tadi langsung diam.

"An-chan, kakak pergi dulu ya!"salam Mamori dengan suara pelan sambil berjalan cepat menuju gerbang rumah.

Sebelum Mamori mencapai pintu gerbang, ibunya sudah menemukannya dan meneriakinya. "Mamo-chan! Sudah ibu bilang jangan bawa motor itu ke sekolah!"teriak sang ibu. Tapi, Mamori sudah menyetarter motor itu dan pergi begitu saja.

"Mamo-chaaan!"pekik ibunya lagi di depan rumah. Tapi sayang, Mamori sudah tak terlihat di ujung jalan.

"Huuuft! Dasar anak itu! Cewek kok naiknya motor sport! Kereta saja, bisa kan?"ucap sang ibu yang kesal melihat tingkah putrinya itu. Sementara, sang adik yang dipanggil An-chan tadi, mulai bersiap berangkat.

"Mamo-neechan memang seperti itu."ucap gadis itu. Sang ibu lalu berbalik menatap putri keduanya itu. Mata biru milik beliau menatap gadis itu sedih.

"Sejak saat itu, dia berubah. Kamu nggak pa – pa, kan, berangkat sendiri, An-chan?"tanya ibunya.

"Nggak apa – apa kok bu! An-chan sudah biasa seperti ini! An-chan pergi dulu ya!"salam gadis yang bernama lengkap Angeli Anezaki itu.

Yah, Angeli Anezaki, gadis bermata biru dan berambut hitam panjang. Terlahir dengan nama itu karena tempat kelahirannya dulu memang di Amerika dan sejak empat tahun lalu pindah kembali ke Jepang. Sering disapa An-chan, Ri-chan, atau Ange-chan, tentu dengan ejaan Jepang, An dan ge. Dan ia bersekolah di SMA Negeri Sukeito dan duduk di kelas yang sama dengan Suzuna Taki.

Gadis yang terlihat seperti boneka itu sangat sayang kepada sang kakak. Dan ia sadar, kini kakaknya telah berubah. Sejak pertengkaran orang tua mereka, Mamori menjadi anak yang bandel dan tak bisa diatur. Meskipun begitu, nilai – nilai gadis itu merupakan yang bagus, minus Seni Rupa, yang selalu saja nilainya tak lebih dari 7—yang notabene semua nilai – nilainya termasuk di atas rata – rata.

Meski begitu Angeli tetap sayang kepada kakaknya. Ia tetap menganggap kakaknya gadis yang baik dan cerdas. Tidak seperti anggapan orang lain, yang kini suka mencemooh dan mencap buruk kakaknya, meski kakaknya itu tak peduli. Mungkin, keterbiasaan mampu membuat Mamori tak peduli.

=XXX=

Mamori kini tengah mengendarai motor sportnya. Ia melaju cukup kencang untuk gadis seusianya. 65km/jam. Meski jalanan sudah cukup ramai, tapi Mamori tetap tak menurunkan kecepatannya. Tiba – tiba dari samping, sebuah motor sport lain berwarna biru mendahuluinya. Gadis tadi langsung tercengang. Bisa – bisanya ia didahului oleh pemilik motor biru itu.

"Tch!"decak Mamori kesal. Ia lalu mulai menambah kecepatan motornya untuk menyusul motor itu, meski ia tahu, ia akan berhenti beberapa menit kemudian dan akan melihat wajah sang pemilik motor yang akan diparkir di tempat yang sama dengannya.

Gerbang bertuliskan "SMA Deimon" mulai terlihat di depan mata. Mamori dan motor sport biru tadi memasuki gerbang sekolah itu. Motor sport biru tadi lalu berhenti di tempatnya, begitu pula Mamori. Si pemilik motor biru itu lalu melepas helmnya. Terlihat sesosok berambut hitam ikal dengan sorot mata tajam. Mamori menatap tajam sosok itu. Mukanya menampilkan raut kesal.

Lelaki itu lalu menoleh ke arah Mamori. Sejenak ia kaget, tapi sedetik kemudian ia memandang gadis itu kesal. Entah, mimik mukanya menjadi sebal dan benci. Mamori segera pergi berlalu saja dari tempat itu dan secara tidak sengaja ia menabrak sesorang, atau mungkin tiga orang.

"Ah! Maaf.."kata Mamori pelan.

"Kalo jalan, hati – hati!"kata orang yang ditabrak oleh Mamori. Terlihat tiga orang gadis yang sedang menatapnya. Sakura Ariyama, Miki Kojima dan Reina Azuzawa. Yeah, tiga gadis populer di sekolah itu.

Mamori hanya memandang mereka datar. Mamori lalu segera berjalan berlawanan dengan tiga gadis itu. Buat apa berada lama – lama disana? Membuat hati lebih panas dan muak, kan?

"Mamori-chan!"

Terdengar suara yang memanggil dirinya. Terlihat dua orang gadis. Yang satu berambut panjang yang satu lagi diikat dua dan memakai kacamata.

"Sara, Ako,"ucap Mamori menyebut nama kedua temannya itu. Kedua gadis itu lalu berlari ke arah Mamori. Mereka kemudian berhenti tepat di depan gadis itu.

"Ohayou, Mamori-chan!"kata Ako ceria.

"Ohayou mo, Ako-chan,"jawab Mamori seadanya.

"Mamori, kau bawa motor lagi?"tanya Sara saat melihat sahabatnya itu memakai legging hitam. Mamori hanya mengangguk pelan.

"Ya ampun, Mamori! Masa' naik motor lagi?"kata Sara tak percaya.

Mamori hanya menghela nafas pelan dan menerawang kosong. Entah, pikirannya kini tengah melayang kemana. Yang pasti, ia tak begitu mendengar ucapan sahabatnya itu.

"Ya udah deh, Mamori, kita ke kelas yuk!"ajak Ako kemudian. Tapi Mamori masih menatap pemilik motor sport biru yang kini tengah berbincang dengan para cewek populer tadi. Wajahnya memandang mereka kesal.

"Kau liat siapa siiih?"tanya Sara kemudian sambil menoleh ke arah lelaki yang kini tengah bercanda ria dengan tiga cewek itu.

"Yamato Takeru ya?"kata Sara menyebut nama pemilik rambut hitam itu. Mamori langsung terkesiap. Ia lalu menoleh ke arah Sara dengan tatapan kaget dan kesal. Tampak ketidaksenangan Mamori mendengar nama itu.

Yeah, Yamato Takeru, si pemilik motor sport biru tadi. Berwajah tampan dengan rambut hitamnya yang sedikit ikal. Selalu menebarkan senyum kepada setiap orang yang menyapanya dan terkadang (sering )kata – katanya kerap terjadi hingga disebut "Perkataan absolute Yamato".

"Cowok yang kalah balapan dari kamu itu kan?"kata Ako menambahkan. Mamori malah menampilkan wajah yang tambah sebal. Memang, suatu sore menjelang malam, diadakan sebuah lomba balap liar dan Mamori ikut dalam balap itu. Waktu itu ia melawan Yamato. Yamato mengatakan bahwa ia akan memenangkan balapan itu dengan perkataan "absolute"-nya, tapi, malah gadis itu yang memenangkan balapan itu. Sejak saat itu, Yamato dan Mamori bermusuhan. Mereka tidak saling sapa dan seolah tidak mengenal. Selalu terjadi keributan jika mereka bertemu.

Tapi, dalam hati Mamori, ia bersedih. Sebenarnya, di dalam hatinya, ia menyukai lelaki itu. Dan ia tahu, lelaki itu membencinya karena sudah membuat harga diri lelaki itu hancur. Tiap hari, tiap pagi dan sore, Mamori selalu melihat Yamato yang sedang berlatih Amefuto di lapangan. Ingin sesekali ia menyapa cowok itu, berbicara tanpa canggung dan marah serta bercanda tawa dengannya. Tapi, hanya pertengkaran yang ada jika mereka bertemu. Pertengkaran, pertengkaran dan pertengkaran.

"Udah deh, ngapain juga ingat hal itu! Kita ke kelas aja dulu!"ajak Sara kemudian sambil menarik tangan Mamori agar ikut juga. Sedangkan Mamori, masih menatap lelaki itu. Tiba – tiba mata mereka bertemu dan spontan Mamori mengalihkan pandangannya. Meski sebenarnya, Mamori ingin lelaki itu terus memandangnya, tanpa pandangan sinis dan... benci.

=XXX=

Istirahat siang, waktu yang tepat untuk merilekskan tubuh dari pelajaran – pelajaran yang sedari tadi memenuhi pikiran dan otak. Mamori menutup bukunya dan memasukkannya ke meja. Ia lalu melihat ke arah lapangan, dimana ada sebuah kelas yang sedang melakukan olahraga.

Mata biru sapphire milik gadis ini tiba – tiba menangkap bayangan seorang lelaki yang sedari pagi memenuhi pikirannya. Siapa lagi kalau bukan Yamato Takeru. Lelaki itu kini tengah memegang bola basket karena mungkin pelajarannya adalah basket. Mata biru Mamori memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Hingga mata hitam Yamato melihat ke arahnya, mimik wajah Mamori tiba – tiba menjadi kesal, begitupun Yamato. Mamori lalu segera berbalik arah menuju bangkunya dan mengemasi buku – bukunya.

"Mamori-chan, kau mau kemana?"tanya Sara bingung.

"Mau pulang,"jawab Mamori singkat.

"Tu, tunggu! Masih ada dua jam pelajaran lagi, kau mau bolos begitu saja?"kata Ako mencoba mencegah.

"Dua jam pelajaran Seni Rupa. Aku takkan ikut,"jawab Mamori sambil menenteng tasnya dan mulai melangkah keluar. Mamori memang selalu tidak lulus dalam pelajaran itu. Ia berjalan dengan muka kesal dan benci.

"Mamori-chan!"teriak Ako dan Sara, tapi Mamori sudah menghilang di balik pintu. Bayangannya pun tak terlihat.

"Dia itu.."gumam Sara pelan. Ako hanya diam. Dia tahu, siapa yang membuat Mamori menjadi seperti itu tadi. Ia tak menyangka saja, sahabatnya itu menjadi seperti itu. Sejak 2 tahun yang lalu, perilaku sahabatnya berubah. Menjadi bandel dan tak disiplin. Ia ingin sahabatnya itu menjadi Mamori yang ia kenal dulu, saat mereka bertemu dulu, meski ia tak ingat kapan dan dimana mereka dulu bertemu. Mereka saja tak ingat, sejak kapan mereka menjadi sahabat.

Kini, Ako dan Sara hanya bisa berharap sahabat mereka itu kembali seperti dulu, dimana sahabatnya itu selalu memasang senyum kepada setiap orang, bukan wajah kesal yang –cukup bisa – memuakkan orang itu. Bukan raut wajah penuh kekesalan dan kebencian, malainkan senyum lembut yang dapat menghangatkan hati dan perasaan.

=XXX=

Mamori memacu motornya dengan kecepatan penuh. Wajahnya memandang tajam ke arah jalanan yang lurus dan sedikit ramai. Ia lalu berhenti di sebuah rumah dengan gaya modern bertingkat dua dengan cat putih susu, rumahnya. Ia kemudian memarkir motornya dan melepas helm-nya. Segera ia memasuki rumah.

"Mamori-chan, kok kamu sudah pulang?"tanya ibunya keheranan melihat putrinya sudah pulang lebih awal dari biasanya.

"Pulang pagi, bu,"jawab Mamori asal. Ia lalu pergi ke kamarnya. Ia mengganti baju seragamnya dengan sebuah jeans hitam, t-shirt putih dan jaket hitam. Ia kemudian mengambil kunci motor yang tadi diletakkannya di meja. Ia lalu keluar dari kamar dan menutup kamarnya. Melihat anaknya yang mau pergi, Mami Anezaki, ibunya Mamori lalu menanyakan tujuan kepergiannya Mamori.

"Mamori! Kau mau kemana?"tanya ibunya.

"Ke rumah teman, belajar kelompok,"jawab Mamori yang -memang- ngasal.

"Mamori, ibu tak percaya itu, tempo hari kau juga beralasan begitu, tapi kau malah ikut balapan liar! Ibu melarangmu pergi!"perintah ibunya kemudian. Tapi, seolah tak ambil pusing, Mamori sudah berada di samping rumah dengan motor di tangan. Ia lalu menuntun motornya ke depan rumah.

"Mamori! Ibu sudah melarangmu!"teriak ibunya yang merasa diabaikan dari dalam rumah. Tapi, Mamori sudah menaiki motornya dan menyetarter motornya lagi tanpa menghiarukan teriakan sang ibu dari rumah. Ia lalu mulai menarik gas dan mengendarainya.

"Mamori!"teriak ibunya sambil keluar dari rumah. Tapi, suara teriakan itu sudah pasti tak mungkin didengar putrinya yang kini melajukan motornya dengan kecepatan penuh ke suatu tempat.

=XXX=

Mamori melajukan motornya ke suatu tempat di sudut kota yang jauh dari keramaian. Terlihat sebuah bangunan kecil dengan sebuah kios –gudang, mungkin– kecil di sampingnya. Ia lalu menghentikan motornya di samping bangunan kecil itu yang ternyata adalah sebuah café. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke dalam bangunan itu dan duduk di satu kursi di dekat jendela yang besar. Sang pelayan mulai menawarkan pesanan kepada Mamori.

"Kopi manis seperti biasa saja,"kata Mamori setelah si pelayan menawarkan pesanan. Si pelayan lalu kembali ke meja dapur sedangkan Mamori menatap keluar jendela. Ia melihat kios kecil yang sebenarnya gudang reparasi kecil untuk motor yang rusak. Ia melihat berbagai orang sedang mengelas beberapa bagian motor.

"Anezaki-san!"sebuah suara lelaki mengagetkan Mamori yang sedari tadi melamun. Mamori segera memalingkan mukanya ke arah lelaki yang memanggilnya tadi. Seorang lelaki berambut hitam acak dengan mata merah menatap Mamori.

"Kouri-san?"kata Mamori menyebutkan nama lelaki itu. Lelaki bernama Kouri itu tengah bersama lelaki lain yang mungkin seumuran.

"Boleh duduk disini?"tanya lelaki itu kemudian sambil menunjuk ke arah bangku di depan Mamori.

"Terserah kau saja,"jawab Mamori datar. Kouri dengan temannya lalu duduk di depan Mamori dan mulai memesan pesanan.

"Tumben kau kesini? Kau mau balapan lagi ya? Kalau begitu, aku punya lawan balapan bagus buatmu,"tanya Kouri sambil duduk di depan Mamori.

"Maaf, aku sedang malas sekarang,"kata Mamori sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Kouri tak bicara lagi, ia kini tengah berbincang dengan temannya tadi. Mata biru Mamori menatap keluar dengan datar hingga matanya menangkap seorang lelaki berambut hitam yang sangat ia kenal tengah bercanda dengan seorang perempuan berambut krem yang dijalin ke depan. Mereka terlihat akrab dan tertawa – tawa bersama. Hati Mamori sedikit memanas melihat mereka.

'Hei, hei, apakah gadis tadi itu pacarnya?' Pikir Mamori dengan gelisah. Si lelaki itu lalu menuntun motornya pergi bersama dengan gadis tadi. Tentu saja kalian tahu bahwa lelaki itu adalah Yamato Takeru.

Setelah si lelaki tak terlihat lagi, Mamori segera beranjak dari kursinya. "Kouri-san!"katanya kemudian.

"Eh, ada apa?"tanya Kouri sambil memalingkan mukanya ke arah gadis itu. Mukanya kini terheran – heran.

"Katanya kau punya lawan bagus untuk tanding kali ini?"tanya Mamori kemudian. Matanya kini menampilkan kilat kebencian. Kebencian yang amat sangat.

"Oh, kau mau tanding rupanya? Baiklah, ini temanku, Yu, yang kukatakan sebagai lawan tanding bagus,"kata Kouri sambil mengenalkan temannya tadi.

"Baiklah, kita mulai balapannya sekarang!"kata Mamori sambil melangkah menuju pintu keluar café itu.

=XXX=

Mereka bertiga kini tengah berada di depan sebuah jalanan yang cukup sepi untuk sebuah jalan di hari yang sudah hampir sore itu. Kouri tengah berdiri di tengah kedua orang itu.

"Baiklah, peraturannya begini, kalian melajukan motor kalian dari sini menuju jalan itu, berbelok di tikungan itu dan di jalan yang sebelah sana,"tutur Kouri sambil menunjuk – nunjuk jalanan di depannya. "Siapa yang berhasil duluan sampai di sini, dialah pemenangnya."kata Kouri menyudahi penjelasan aturan itu.

'Ini sih, mudah,'pikir Mamori. Ia lalu mengenakan helmnya dan mulai menaiki motornya. Begitu pula dengan Yu.

"Bersedia.."ucap Kouri mengambil ancang – ancang. Kedua orang itu lalu bersiap sambil menggenggam pedal gas.

"Siap..."ucap Kouri lagi dengan mengambil jeda hingga ia berucap,"YAK!"

Kedua motor itu lalu melaju sangat cepat. Awalnya, Yu berada di depan Mamori, tapi ketika berada di tikungan, Mamori mulai menyusul Yu. Mamori tersenyum puas. Ia memang melampiaskan rasa kesalnya dengan balapan.

Ia merasa jika ia memenangkan balapan itu, maka rasa kesalnya akan berkurang dan berubah dengan rasa kepuasan pribadi. Tapi jika tidak, maka kekesalan itu akan bertambah dan bertumpuk di hatinya. Karena hatinya kini benar – benar dan sungguh – sungguh kesal, maka dalam balapan ini, dia harus bisa memenangkannya.

Mamori lalu melajukan motornya semakin cepat. Ketika hampir mencapai garis finish, sebuah truk datang menghadangnya. Memang itu adalah jalan dua arah, sehingga darimanapun boleh dilalui. Tapi jika dilihat dari lebarnya jalan, jalan itu seharusnya menjadi jalan satu arah saja.

Mamori yang kecepatannya terlampau cepat, hendak memperlambat laju motornya, tapi ketika ia menginjak rem, motornya tak mau berhenti. 'Tidak mungkin!'pikir Mamori was-was. Ia yakin, kalau remnya tadi pagi masih baik – baik saja. Ia lalu mencoba mengeremnya dengan rem tangan. Tapi, hasilnya sama saja, motornya tak mau berhenti. Dengan kata lain, seluruh remnya blong. Mamori lalu membanting stirnya ke arah samping dan...

BRUAK!

Motor Mamori terlempar jauh dan remuk bodinya. Bersamaan itu juga, tubuh gadis berambut auburn itu juga terlempar cukup jauh dari si motor. Tubuhnya kini tengah penuh dengan luka dan darah – darah.

"Kekeke, mudah kan, membunuh orang,"sebuah tawa atau mungkin kekeh kecil terdengar dari atas langit. Sosok yang terkekeh itu kini menyeringai lebar. Ia lalu segera berbalik dari tempatnya.

To Be Continued

Yosh! Update chapter 2 setelah UAS dan Remedy yang menyiksa itu! Ahahay~ *nari – nari gaje*

Pertama, saya mau minta maaf atas ke-OOC-an Mamori disini! *ditimpuk sapu ma Mamori asli*

Habis, kalau nggak OOC, nggak seru [loh?]

Oh ya, beberapa nama tidak dikenal itu adalah OC saya. Saya bingung mau dibikin OC apa ngambil tokoh di ES21.

Saya terima kritik, saran, flame (ada alesannya), anonymous juga boleh^^

Silahkan, silahkan^^

And the last,

Mind to Review?